Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kebenaran ilahi adalah hal yang paling penting yang ada. Melalui kebenaran itulah kita diselamatkan, dikuduskan, dan diberi pengharapan akan kemuliaan. Melalui kebenaran itu kita mengerti apa yang Allah kehendaki dari kita, dan karena itu kita mengerti apa yang harus kita taati, dan menjadi siapa kita seharusnya. Itulah jalan menuju berkat dalam hidup dan ganjaran dalam kekekalan. Jadi, kebenaran adalah lebih penting dari apa pun. Allah itu benar. Alkitab mengatakan, “Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong.” Allah tidak dapat berdusta. Kristus adalah Sang Kebenaran. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran. Dan Firman Tuhan, kata Yesus dalam Yohanes 17:17, adalah kebenaran.

Kita ada di sini untuk beribadah dalam kebenaran, sebagaimana yang Yesus ajarkan kepada kita, untuk percaya kepada kebenaran, berbicara tentang kebenaran, merenungkan kebenaran, memahami kebenaran, berjalan dalam kebenaran, mencintai kebenaran, bersukacita dalam kebenaran, dan menaati kebenaran. Semuanya tentang kebenaran. Bahkan, mungkin akan lebih cocok jika kita dinamakan “Gereja Komunitas Kebenaran” karena memang itulah inti dari segalanya. Kebenaran adalah kenyataan sebagaimana adanya. Itulah arti dari kebenaran. Kebenaran adalah realitas, dan Allah adalah sumber dari kebenaran. Dialah yang menentukan apa yang benar dan Dialah pewahyu kebenaran itu.

Nah, Alkitab, tentu saja, adalah benar. Alkitab memuat kebenaran tentang Allah yang benar, Kristus yang benar, dan Roh Kudus yang benar. Alkitab memuat semua yang perlu kita ketahui, dan merupakan sumber kebenaran yang tak pernah habis.

Saya menghabiskan 43 tahun untuk mengupas Perjanjian Baru ayat demi ayat, dan saya menyelesaikannya di Injil Markus. Beberapa tahun saya habiskan di kitab Markus, sepuluh tahun di kitab Lukas, delapan tahun di kitab Matius, beberapa tahun di kitab Yohanes, dan sisanya di seluruh bagian Perjanjdian Baru, dan satu-satunya penyesalan saya adalah bahwa saya melakukannya terlalu cepat. Saya melewatkan terlalu banyak. Masih ada begitu banyak hal di sana. Saya bisa kembali membahasnya lagi dan lagi dan lagi tanpa pernah menghabiskan seluruh kebenaran yang terkandung di dalamnya.

Namun, karena kita hanya memiliki empat hari bersama—sebagian hari ini dan hari-hari yang tersisa hingga Hari Tuhan—maka kita harus memilih satu aspek dari kebenaran untuk difokuskan. Bagi Anda yang cukup mengenal saya, Anda tahu bahwa beberapa tahun yang lalu saya menulis sebuah buku berjudul Injil Menurut Yesus. Buku itu adalah sebuah pencerahan bagi saya, dan saya tidak ingin menjelaskan terlalu banyak latar belakangnya, karena Anda bisa membacanya sendiri. Tetapi ketika saya lulus dari seminari, saya telah dilatih dengan sangat baik untuk menguasai Firman Tuhan, bahasa Yunani dan Ibrani, teologi, sejarah gereja, dan semua hal itu. Saya tahu bagaimana menangani Firman Tuhan, dan saya pikir saya tahu apa saja isu-isu yang akan saya hadapi. Saya siap memberikan pembelaan terhadap kebenaran dalam berbagai pertempuran yang sedang berlangsung pada waktu itu. Tetapi yang tidak pernah saya pahami, bahkan tidak pernah saya bayangkan, adalah bahwa saya akan menghabiskan sebagdian besar dari pelayanan saya hanya untuk menjelaskan kembali Injil kepada gereja; bukan kepada dunia, tetapi kepada gereja yang sangat bingung.

Maka saya menulis Injil Menurut Yesus. Beberapa tahun kemudian saya menindaklanjutinya dengan Injil Menurut Para Rasul, yang menjawab banyak argumen yang dilontarkan kepada saya ketika saya menulis Injil Menurut Yesus. Lalu saya menyelipkan beberapa buku lain seperti Perang Kebenaran dan yang sejenisnya untuk kembali menegaskan kebenaran Injil, juga beberapa buku lain yang membahas isu mengenai Injil. Tapi masih ada satu buku lain yang belum saya tulis, dan saya akan menuliskannya. Buku itu akan menjadi buku ketiga dalam trilogi ini, yaitu Injil Menurut Paulus, Injil Menurut Paulus. Jika Anda membuka program Anda, Anda akan melihat bahwa itulah tema untuk minggu ini. Ini adalah topik yang ditugaskan kepada saya oleh otoritas yang lebih tinggi di Grace to You. Dan ini adalah topik yang layak dibahas karena Injil Menurut Paulus sedang diserang. Anda mungkin pernah mendengar tentang sesuatu yang disebut “Perspektif Baru tentang Paulus?” Hal itu adalah penolakan terhadap apa yang ditulis Paulus dalam Perjanjdian Baru dan terhadap apa yang telah dipahami gereja selama ini tentang apa yang ditulisnya, sejak Injil dipulihkan kembali pada masa Reformasi.

Injil Menurut Paulus sedang diserang saat ini. Saya tidak akan membahas kesalahan-kesalahan itu; tidak ada gunanya. Jika saya menyampaikan kebenarannya kepada Anda, maka Anda sendiri akan bisa mengenali kesalahannya. Tapi kita akan melihat Injil Menurut Paulus, jadi kita akan berfokus kepadanya. Kita punya banyak bahan untuk dibahas. Kita memiliki banyak catatan tentang dia di dalam kitab Kisah Para Rasul, dan kita juga memiliki 13 surat yang dia tulis. Jadi, masih banyak lagi yang bisa kita bahas tentang Paulus.

Dia menyebut Injil sebagai Injil Allah. Dia menyebutnya Injil Allah yang penuh berkat. Dia menyebutnya Injil Putra-Nya, Injil Kristus, Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Dia menyebutnya Injil Anugerah. Dia menyebutnya Injil Damai Sejahtera. Dia menyebutnya Injil Keselamatan kita, tetapi yang paling luar biasa adalah ketika dia menyebutnya sebagai “Injilku.” Lalu dia memperluasnya dan menyebutnya “Injil kita.” Apa itu Injilnya? Apa itu Injil kita? Apa itu Injil anugerah, Injil damai sejahtera, Injil keselamatan, Injil Tuhan Yesus Kristus, Injil Allah yang penuh berkat? Apa itu? Kita perlu tahu apa itu karena itulah Injil yang kita beritakan.

Dalam kata-kata yang sudah tidak asing bagi kita semua, Roma pasal 1, Paulus berkata dalam ayat 15, “Aku ingin untuk memberitakan Injil.” Ayat 16, “Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setdiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Itu urutan kronologisnya. Jadi, apa sebenarnya yang dia beritakan? Apa yang begitu ingin dia sampaikan? Apa yang menjadi kewajibannya untuk dia beritakan? Apa itu Injil?

Melihatnya secara negatif sejenak, mari buka Alkitab Anda di Galatia pasal 1, dan ini hanya sebagai pengantar singkat saja. Galatia pasal 1 ayat 6 memberikan peringatan tentang bahaya yang mematikan dari memutarbalikkan Injil. Galatia 1 ayat 6: “Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain.”

Dia berkata, “Aku heran.” Kata kerja dalam bahasa Yunani di sini adalah thaumazō. Kata ini sering digunakan dalam Injil untuk menggambarkan orang-orang yang takjub atas mukjizat Yesus yang tak dapat dijelaskan. Paulus benar-benar merasa tidak masuk akal bahwa seseorang bisa meninggalkan Injil, atau tertarik pada injil yang lain. Paulus memakai kata thaumazō ini hanya untuk dua kenyataan. Salah satunya ada di sini, dan yang lainnya ada di 2 Tesalonika 1:7–10, ketika dia menggambarkan kedatangan kembali Yesus Kristus, dan betapa mengagumkannya peristiwa itu ketika Dia datang dalam api yang bernyala-nyala dan menimpakan pembalasan kepada mereka yang tidak menaati Injil.

Jadi, dia memperlakukan kata ini dengan sangat hati-hati, hanya menggunakannya dua kali saja. “Aku heran bahwa engkau begitu cepat meninggalkan, membelot dari Dia yang telah memanggil engkau.” Yang dimaksud disini adalah panggilan yang efektif, panggilan yang bersifat internal, panggilan yang nyata, dan panggilan kepada keselamatan. Jadi yang sedang dibicarakan adalah orang-orang yang dipanggil secara efektif, yaitu orang-orang yang telah bertobat, yang sedang ditarik dan disesatkan oleh injil yang lain. Mereka sedang terpesona. Mereka seperti sedang digelitik secara intelektual oleh injil lain. Lalu dia berkata dalam ayat 7, “yang sebenarnya bukan Injil,” karena memang tidak ada Injil lain; hanya ada segelintir orang yang sedang mengacaukan kalian dan ingin memutarbalikkan Injil Kristus. Dan kemudian muncul peringatan ini: “Tetapi sekalipun kami – kami,” kata ganti jamak yang sering dia gunakan untuk merujuk pada dirinya sendiri karena itu cara yang lebih rendah hati untuk menyebut diri sendiri, “tau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Anathema – dikutuk, ditetapkan untuk kebinasaan. Kata ini juga digunakan dalam 1 Korintus 16:22: “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.”

Jadi, kebenaran yang paling penting dari semua kebenaran—dan semua kebenaran itu penting, semua kebenaran itu berarti—namun kebenaran yang paling penting adalah Injil. Injillah yang paling utama. Jadi kita akan melihat Injil menurut Paulus, yaitu Injil Tuhan Yesus Kristus dan Injil Allah yang penuh berkat. Itulah Injil damai sejahtera. Itulah Injil kasih karunia. Itulah Injil keselamatan.

Nah, saya akan mencoba menguraikan ini selama beberapa hari ke depan yang kita miliki bersama. Malam ini saya akan berbicara kepada Anda tentang kemuliaan Injil, Injil yang mulia. Besok pagi saya akan menyampaikan dua sesi dengan tema yang sama, yaitu tentang Injil yang memuaskan. Pada jam pertama, kita akan membahas bagaimana Injil memuaskan orang berdosa. Pada jam kedua, kita akan membahas bagaimana Injil memuaskan Allah. Lalu besok malam kita akan berbicara tentang Injil yang mendamaikan. Dan kemudian Sabtu pagi, akan ada dua sesi lagi. Lalu pada Minggu pagi, kita akan membahas Injil yang merendahkan hati, Injil yang merendahkan hati. Dan Minggu malam, saya rasa kita akan mengadakan sesi tanya jawab bersama, dan mencoba menyimpulkan semua hal yang masih belum selesai. Kita akan mengalami waktu yang luar biasa.

Baiklah, untuk sesi ini kita akan melihat kemuliaan Injil, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya tidak sedang mencoba menyusunnya dalam urutan kronologis tertentu. Ini lebih kepada dorongan yang muncul di dalam hati saya saat saya memikirkan tentang Injil, dan saya tidak bisa melepaskan diri dari satu bagian tertentu yang selalu hidup dalam jiwa saya. Saya akui kepada Anda bahwa saya sebenarnya tidak peduli apa pun temanya, saya akan tetap berkhotbah dari pasal ini. Oke? Saya akan mencari jalan untuk sampai ke bagian ini dari mana pun saya memulainya. Semua jalan mengarah ke 2 Korintus 4. Jadi, bukalah Alkitab Anda pada 2 Korintus pasal 4.

Saya mengupas kitab 2 Korintus cukup terlambat dalam pelayanan pengajaran saya, dan saya sangat bersyukur karenanya. Jika saya harus mencoba mengkhotbahkan kitab 2 Korintus saat saya masih menjadi pendeta muda, maka saya tidak akan pernah bisa memahaminya. Anda harus mengalami puluhan tahun dipukul kehidupan untuk bisa memahami apa yang Paulus alami di dalamnya. Anda harus memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam pelayanan untuk bisa memahami isi hatinya dalam surat yang luar biasa ini. Dan jika Anda ingin mengenal hati dan jiwa rasul Paulus, izinkan saya menyarankan ini: belilah tafsiran tentang 2 Korintus dan bacalah satu pasal setiap hari, dan Anda akan mengenal pria itu luar dalam, karena dia mengungkapkan isi hatinya dalam surat yang luar biasa ini, 2 Korintus pasal 4.

Dan, Anda tahu, saat Anda memikirkan Injil, saya tahu Anda akan memikirkan kitab Galatia, Anda memikirkan kitab Roma, Anda memikirkan kitab Kolose dan bagian yang tadi kita baca. Anda mungkin juga memikirkan khotbah-khotbah lain yang Paulus sampaikan dalam kitab Kisah Para Rasul, di mana Injil dijelaskan dengan jelas. Tapi Anda akan mendapati bahwa dalam beberapa sesi yang akan kita lalui, kita akan sering melihat ke dalam surat-surat kepada jemaat di Korintus untuk memperdalam pemahaman kita tentang Injil. Surat-surat ini sering kali diabaikan dalam hal itu.

Surat 2 Korintus pasal 4 akan memberi kita wawasan tentang kemuliaan Injil. Nah, tema dari 2 Korintus ini adalah penderitaan, penderitaan. Dan inilah titik masuk yang sempurna karena menjelaskan begitu banyak hal tentang kemuliaan Injil. Jika Anda melihat ke ayat 4, Anda akan melihat sebuah frasa di akhir ayat tersebut, “Injil tentang kemuliaan Kristus, Injil tentang kemuliaan Kristus.” Itulah tema kita untuk sesi pembuka ini: Injil tentang kemuliaan Kristus. Kita sedang membahas kemuliaan Injil. Kemuliaan Injil adalah suatu pemahaman yang sangat penting. Artinya, Injil memiliki sifat penting yang melampaui segala sesuatu. Sifatnya yang melampaui segala hal. Injil adalah realitas yang meyakinkan dan Sifat pentingnya tak tertandingi. Kemuliaan Injil adalah hal yang membuat Injil melampaui segalanya—melampaui segala kebenaran lain, segala pesan lain. Dan Anda harus mengerti bahwa ketika saya mengatakan 2 Korintus berbicara tentang penderitaan, maka pertanyaan langsung yang muncul ketika Paulus mencatat semua penderitaannya sepanjang surat ini adalah: Mengapa Anda rela menanggung semua penderitaan itu? Dan jawabannya adalah: karena kemuliaan Injil. Karena tidak ada yang sebanding dengannya, tidak ada yang mendekatinya, tidak ada yang menyentuhnya, tidak ada yang menyamai prioritasnya, kedudukannya, atau kepentingannya. Ini adalah pesan yang melampaui segalanya. Ini adalah pesan yang penuh kemuliaan dan tidak memiliki tandingan. Saya pikir kenyataan ini jelas hilang dari gereja Injili yang saya lihat hari ini, di mana Injil direndahkan dan dipermurah nilainya.

Ketika Anda melihat kehidupan rasul Paulus, Anda melihat kehidupan yang penuh penderitaan, bukan? Saat ini ada banyak orang yang berhasil menciptakan “injil yang berbeda” — yang sebenarnya bukan injil yang berbeda, karena memang tidak ada injil lain — tetapi mereka membuat suatu variasi dari injil yang sebenarnya bukan injil, supaya mereka bisa menghilangkan unsur penderitaan darinya, supaya membuat injil itu dapat diterima, supaya menghapuskan unsur yang menyinggung dari injil itu sendiri. Tapi tidak demikian dengan Paulus. Seluruh pelayanan injilnya membuat orang marah, geram, memusuhinya, bahkan memperlakukannya dengan brutal, namun dia tidak pernah mengubah isi pesannya.

Ketika dia sampai di akhir hidupnya, seperti yang kita dengar dalam kata-kata perpisahannya yang sudah tidak asing lagi bagi kita dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, dia berkata demikian, pasal 4: “Aku siap. Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Dan Anda masih ingat kata-katanya ini? “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” Pelayanannya adalah pertempuran sejak awal hingga akhir, dan Anda tahu bagaimana akhirnya? Kepalanya diletakkan di atas balok, sebilah kapak berkilat di bawah sinar matahari, memisahkan kepalanya dari tubuhnya, dan dia pun bersama Tuhannya. Sebelumnya, dia telah berulang kali dipenjara. Ketika dia masuk ke sebuah kota, dia bukan menanyakan seperti apa hotelnya, tetapi seperti apa penjaranya, karena dia tahu di sanalah dia akan tinggal. “Seperti apa penjara di kota ini?”

Dan mungkin ada orang yang datang kepadanya, berulang kali, dan berkata, “Paulus, kenapa kamu tidak sedikit lebih santai saja sih? Kamu sebenarnya tidak harus selalu berakhir di penjara di setiap kota, atau diusir dari kota. Apakah kamu harus menjalani seluruh hidupmu dengan orang-orang yang berencana membunuhmu? Rencana jahat orang Yahudi, orang bukan Yahudi, orang banyak, dan para pemimpin? Sebenarnya tidak perlu seperti itu. Kamu bisa melakukan sedikit penyesuaian.”

Bagaimana dia bisa bertahan menghadapi semua ini? Jawabannya adalah karena dia memahami kemuliaan Injil. Nah, saya ingin Anda melihat pasal 4, dan saya tahu biasanya saya berjalan sangat lambat dan hanya membahas beberapa ayat. Saya ingat waktu saya mulai mengajar kitab Roma. Jemaat kami antusias. Mereka semua datang, dan kitab Roma dimulai dengan kalimat, “Paulus,” jadi khotbah pertama saya adalah tentang Paulus. Lalu mereka berpikir, “Aduh, dia akan membahas satu kata setiap kali. Waduh!” Jadi saya tahu bahwa saya sering kali menyelidiki dan menggali lebih dalam, tapi kali ini kita akan membahas beberapa pasal secara lebih luas bersama-sama.

Saya ingin Anda melihat bagaimana pasal ini dibingkai. Pada ayat 1, di akhir ayat tersebut, dia berkata, “Kami tidak tawar hati. Kami tidak tawar hati.” Lalu turun ke ayat 16, mendekati akhir pasalnya, dia mengulanginya lagi, “Sebab itu kami tidak tawar hati.” Pernyataan ini sangat penting. Sayangnya, itu bukan terjemahan yang paling tepat. Kata itu adalah kata kerja dalam bahasa Yunani, egkakeō, dan kakeō berasal dari akar kata kakos yang berarti jahat. Artinya adalah bertindak jahat. Paulus berkata, “Dengar, saya punya banyak godaan untuk berbuat jahat, untuk bertindak keliru dengan menyimpang dari kebenaran Injil demi membuat hidup saya lebih mudah. Tapi saya tidak melakukannya. Saya tidak melakukannya.”

Ikuti litaninya: pasal 1 ayat 3, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami.” Dia baru beberapa ayat masuk dalam surat ini, dan dia sudah membicarakan semua penderitaannya. Dia menggunakan kata penderitaan lagi di ayat 4. Di ayat 5 dia berbicara tentang penderitaannya, penderitaan Kristus yang melimpah atas dirinya. Ayat 6 dia berkata, “Kami menderita.” Dia juga mengatakan dalam ayat 6, “Kami dengan sabar menanggung penderitaan.” Ayat 8 dia berkata, “Kami mau, Saudara-saudara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami.” Seberapa berat penderitaannya itu? “Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami.” Secara harfiah, dia benar-benar dibawa, secara teratur, ke ambang kematian.

Ayat 9 dia berkata, “Kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.” Dengan kata lain, sejauh yang bisa dia lihat, ketika dia menilai situasinya sendiri, semuanya sudah berakhir. Musuh memiliki semua kuasa dan semua kesempatan, dan mereka tidak menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri. Mereka menaruh kepercayaan pada Allah, dan kepercayaan itu bukan karena mereka berpikir bahwa Allah akan menyelamatkan mereka, melainkan karena mereka tahu bahwa Allah akan membangkitkan mereka dari kematian bila mereka dibunuh. Dan Allah telah melepaskan mereka dari bahaya maut yang begitu besar, dan akan melepaskan mereka. Dia akan tetap melepaskan mereka. Itu adalah satu demi satu situasi mengerikan yang mereka alami.

Dalam pasal 2, dia berbicara tentang jenis kesedihan yang lain. Dia berkata, “Kamu membuat aku sedih, kamu orang-orang Korintus.” Jemaat Korintus adalah jemaat yang bisa membuat pendeta mana pun merasa sedih. “Jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira kalau bukan orang yang kubuat berdukacita itu. Justru itulah maksud suratku itu, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita karena mereka yang seharusnya membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu. Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan pedih dan dengan mencucurkan banyak air mata.” Dengan kata lain, kalian menyakitiku, lalu aku menyakiti kalian, dan semuanya adalah pengalaman yang menyedihkan. Aku tidak suka cara kalian memperlakukanku, dan kalian juga tidak suka cara aku memperlakukan kalian, dan semua ini menimbulkan kepedihan hati yang mendalam.

Dia benar-benar pergi ke sana, ke Korintus, setelah sebelumnya meninggalkan tempat itu, dan seseorang dari jemaat tersebut, menurut surat ini, berdiri dan menentangnya secara langsung, menuduhnya secara langsung, menghakiminya secara langsung di depan umum, dan tidak ada satu pun orang yang membelanya, lalu dia meninggalkan kota itu dengan hati yang hancur. Gereja bisa melakukan hal seperti itu.

Mari kita kembali ke pasal 4 ayat 8, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Dengan kata lain, kenyataannya adalah bahwa kami hidup dengan kesadaran bahwa setiap saat kami bisa mati demi Kristus.

Ayat 11, “Kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut.” Ayat 12, “Maut giat di dalam diri kami,” dan kita akan melihat lebih banyak tentang hal itu nanti. Begitulah cara dia menjalani hidupnya. Pasal 6 ayat 4, “Dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: Dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesengsaraan dan kesukaran, dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa.” Memang seperti itulah keadaannya. Ayat 8 bahkan menunjukkan beberapa kontras, “Ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang.” Itulah hidupnya.

Dalam pasal 10 dia berbicara tentang bagaimana dia diperlakukan. Ayat 10, “Kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.” Anda tahu apa artinya itu? Dia jelek dan tidak pandai berbicara. Sekarang begini, kalau Anda tampan, tidak masalah kalau tidak pandai berbicara, Anda cukup berdiri saja dan semua orang senang; atau kalau Anda jelek tapi pandai berbicara, mereka tetap akan mendengarkan. Tapi kalau Anda jelek dan tidak pandai berbicara, maka Anda tidak punya peluang. Jadi itu adalah serangan terhadap karakternya. Mereka benar-benar menjatuhkannya. Kehadirannya tidak mengesankan. Bicaranya tidak layak dihargai.

Nah, Anda tahu pasal sebelas, bukan? Pasal 11 ayat 6, “Mereka berkata aku kurang pandai dalam hal berkata-kata.” Lalu pada bagian yang cukup dikenal, ayat 23, dia berkata, “Apakah aku pelayan Kristus?” seperti rasul-rasul palsu yang sedang ia maksud. “Inilah kredensialku.” Inilah cara dia menunjukkan keabsahan kerasulannya. Bukan dengan mengatakan berapa banyak orang yang bertobat, berapa banyak buku yang ditulis, atau berapa banyak tempat yang telah dia kunjungi untuk berkhotbah—bukan. Inilah kredensialnya. Jika kalian tidak percaya bahwa aku mewakili Kristus di dunia yang memusuhi ini, maka jelaskan ini: jauh lebih banyak kerja keras, jauh lebih banyak pemenjaraan, dipukuli dengan tak terhitung jumlahnya, sering terancam mati; lima kali aku menerima 39 cambukan dari orang Yahudi. Tiga kali aku dipukul dengan rotan—yang dilakukan oleh orang Romawi. Satu kali aku dirajam dengan batu. Tiga kali aku mengalami kapal karam. Semalam suntuk aku terkatung-katung di laut. Aku sering melakukan perjalanan dan menghadapi bahaya dari sungai, perampok, orang sebangsaku, orang bukan Yahudi, di kota, di padang gurun, di laut, dan dari saudara-saudara palsu. Aku telah berjerih lelah, menderita, banyak malam tanpa tidur, lapar, haus, sering tidak mendapat makanan, kedinginan, dan tidak berpakaian layak. Dan lebih dari semua itu, yang lebih berat lagi, adalah tekanan setiap hari karena keprihatinan terhadap jemaat-jemaat.

Dia tidak sedang membicarakan soal administrasi. Saya pernah dengar seseorang berkhotbah soal ini: “Paulus terbebani karena urusan administrasi.” Apa? Bukan itu maksudnya. Dia menjelaskan maksudnya di ayat 29: “Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah?” Anda tahu apa artinya itu? Paulus adalah seorang gembala sedemikian rupa, sehingga jika ada seorang percaya yang lemah, dia akan ikut merasakan penderitaan orang itu. Lalu dia juga berkata, “Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” Hatinya hancur karena dosa-dosa jemaatnya sendiri. Inilah beban yang sangat besar untuk ditanggung oleh satu orang.

Nah, dengan mengingat semua itu, mari kita kembali ke pasal 4. Tentu saja, pertanyaan yang ingin kita arahkan perhatian kita adalah: “Apa yang sebenarnya sedang engkau lakukan sehingga semua kesulitan ini muncul, Paulus?” Engkau menghadapi masalah dengan orang-orang yang tidak percaya karena apa yang engkau katakan kepada mereka, dan engkau juga bermasalah dengan jemaat karena apa yang engkau katakan kepada mereka. Mengapa tidak mundur saja?

Saya pernah bertemu dengan seorang pemimpin dari salah satu gereja mega terbesar di Amerika—Anda semua pasti tahu gereja itu, benar-benar gereja besar. Kami duduk di kantornya—kantor yang sangat besar—dan dia berkata, “MacArthur, saya punya satu pesan untuk Anda.” Saya berkata, “Bagus, apa itu?” Dia berkata, “Santailah sedikit.” “Apa? Santai?” “Ya, ayolah, tenang sedikit. Mundurlah sedikit.”

Kalau Anda tanya siapa pahlawan saya dalam pelayanan, inilah dia—Paulus. Dia seperti selalu ada di pundak saya. Saya rasa dia tidak akan menerimanya jika hal ini dikatakan kepada dia. “Hei Paulus, ayolah, santai sedikit. Santai saja kepada orang-orang yang tidak percaya. Santai saja terhadap jemaat. Ayolah.” Tidak. Mengapa? Karena dia mengerti bahwa kebenaran ilahi tidak bisa dikompromikan. Tidak bisa disesuaikan. Tidak bisa dipinggirkan. Tidak bisa dimanipulasi. Anda hanya bisa menerimanya atau menolaknya, tapi tidak bisa mempermainkannya. Dan alasan mengapa dia rela sampai ke titik ekstrim dan menjalani seluruh hidupnya dalam penderitaan dan kesakitan, lalu akhirnya mati sebagai martir, adalah karena dia memahami kemuliaan dari Injil.

Dengan mengingat hal itu, mari kita kembali ke pasal 4, dan kita akan lihat ke mana kita bisa melangkah dari sini. Saya sendiri bahkan belum tahu apa yang akan saya katakan, saya juga penasaran. Jadi, beginilah Paulus memandang hidupnya dalam terang kemuliaan Injil. Saya akan memberikan beberapa poin kepada Anda. Bisa saja empat, bisa juga sampai sepuluh. Oke? Kita ambil saja sebanyak yang bisa kita dapatkan.

Pertama-tama, dia memahami keunggulan Perjanjian Baru. Dia memahami keunggulan Perjanjian Baru. Sebagian dari kemuliaan Injil tentu adalah bahwa Injil itu merupakan Perjanjian Baru yang telah lama dinantikan. Apakah Anda mengerti apa yang Paulus maksud dalam ayat 1 ketika dia berkata, “Karena itu, oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini”? Pelayanan apa? Apa yang sedang dia bicarakan? Untuk apa kata “Karena itu” di situ? “Karena itu” menunjukkan bahwa ini adalah pernyataan transisi yang merupakan hasil dari apa yang baru saja disampaikan, bukan? Karena itu, oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Pelayanan apa yang dimaksud? Kembali ke ayat 8, pasal 3. Anda melihat pelayanan Roh. Betapa besarnya kemuliaan pelayanan Roh itu. Pelayanan yang membawa penghukuman adalah hukum Taurat, bukan? Hukum Taurat memiliki kemuliaan, bukan? Tahukah Anda bahwa hukum Taurat memiliki kemuliaan? Dia menunjukkan hal itu dalam pasal 3 karena ketika Musa menerima hukum Taurat, kemuliaan Allah memancar dari wajahnya. Hukum Taurat memiliki kemuliaan karena hukum itu merupakan cerminan langsung dari sifat Allah. Hukum itu memiliki kemuliaan. Ayat 9, “Betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.”

Paulus berkata, “Lihatlah, orang-orang telah menyerahkan nyawa mereka demi hukum Taurat. Hukum itu memiliki kemuliaan, tetapi Perjanjian yang Baru, Perjanjian Baru, pelayanan Roh...” Dan jika Anda kembali ke ayat 6, di situ dibahas tentang pelayanan bukan dari hukum yang tertulis, tapi dari Roh; sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh memberi hidup. Pelayanan Roh, atau pelayanan pembenaran yang adalah keselamatan melalui Perjanjian Baru, memiliki kemuliaan yang berlimpah. Jika kita punya waktu untuk mempelajari pasal 3, Anda akan melihat adanya perbandingan di sana. Paulus membandingkan Perjanjian Lama dengan yang Baru. Perjanjian Baru memberi hidup, katanya di ayat 6. Di ayat 7 sampai 9, Perjanjian Baru memberikan kebenaran. Di ayat 7, 10, dan 11, Perjanjian Baru bersifat kekal. Di ayat 12, Perjanjian Baru membawa pengharapan. Di ayat 13 dan 14, Perjanjian Baru itu jelas. Di ayat 16 sampai 18, Perjanjian Baru berpusat pada Kristus, dan di ayat 17 dan 18, Perjanjian Baru diberdayakan oleh Roh Kudus.

Kita telah menerima pelayanan ini—pelayanan yang memberi hidup dan kebenaran, pelayanan yang kekal dan tidak akan digantikan seperti Perjanjian Lama, yang membawa pengharapan yang kekal, yang jelas, berpusat pada Kristus, dan dikuasai oleh Roh Kudus. Inilah keajaiban dan kemuliaan dari Perjanjian Baru.

Anda tahu bagaimana kehidupan Paulus sebelum peristiwa di jalan ke Damsyik? Apa yang dia lakukan sebagai komitmen hidupnya? Dia menganiaya orang-orang Kristen, bukan? Dia adalah seorang legalis yang sangat teliti, dia adalah seorang Yahudi lebih dari orang Yahudi, benar-benar memegang teguh sampai ke akar-akarnya. Dia seorang Farisi. Dia sangat bersemangat untuk Hukum Taurat. Dan mengenai hukum itu, secara lahiriah dia tidak bercela. Semua itu tercatat dalam Filipi 3, bukan? Dan baginya semua itu adalah keuntungan—sampai dia bertemu Kristus dan menyadari bahwa semua itu hanyalah sampah.

Menurut Anda, seberapa penting ketika dia menemukan realitas Perjanjian Baru? Apakah itu merupakan terobosan besar? Momen itu adalah pembebasan luar biasa bagi seorang legalis yang tak punya harapan. Anda tahu siapa Paulus? Ia adalah seorang petobat yang langka. Tahukah Anda berapa banyak orang Farisi yang disebut namanya dan bertobat kepada Kristus dalam Perjanjian Baru? Ya, Anda tidak bisa mengingatnya, karena mereka begitu terikat oleh legalisme. Hanya sedikit orang. Momen ini adalah fajar kemuliaan bagi rasul Paulus. Dialah sang kakak sulung yang langka dalam kisah anak yang hilang—kakak sulung yang bertobat dari kemunafikannya, bertobat dan mengakui dosanya.

Orang-orang melihat dosa dalam dosa mereka. Mereka tidak melihat dosa dalam agama mereka. Inilah fajar dari hari yang mulia, hari yang luar biasa. Dan ketika kemuliaan Perjanjian Baru menyingsing atas diri seorang Farisi dari Perjanjian Lama, dia tidak pernah sama lagi. Dan karena kita telah menerima pelayanan ini, kita tidak berdosa dengan merusak pesannya.

Jika Anda benar-benar pernah memahami kemuliaan Injil keselamatan, Anda tidak akan pernah memanipulasinya. Anda melihatnya dalam segala keagungannya, dalam segala keindahannya, dan dalam segala kepenuhannya. Kita tidak perlu memberikan kepada orang-orang pemahaman Injil yang berlebihan, yang minimalis, atau yang terpotong-potong. Mereka perlu diberikan kemuliaan penuh dari Injil.

Jadi pertama-tama, Paulus menanggung semua yang dia tanggung karena dia melihat kemuliaan Injil dan melihatnya dari sudut pandang pribadi. Dalam Filipi 3, dia berusaha membangun kebenarannya sendiri, lalu dia menyadari bahwa semua itu tidak berarti apa-apa, dan dia menemukan kebenaran Allah di ddalam Kristus. Ketika seseorang benar-benar telah dilahirkan kembali, dia mengerti bahwa inilah pesan yang harus diberitakan, berapa pun harganya.

Yang kedua, dia juga menerima pelayanan sebagai suatu kemurahan. Dia menerima pelayanan ini sebagai suatu rahmat. Ini mungkin konsep yang menarik, tetapi perhatikan ayat 1: “Oleh rahmat Allah kami telah menerima pelayanan ini.” Ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah mendapatkan hak untuk memberitakan Injil, bahwa mereka layak mewakili dan memberitakan Injil. Izinkan saya mengatakan sesuatu: saya tidak layak. Anda pun tidak layak. Tak satu pun dari kita layak untuk memberitakan Injil ini. Adalah rahmat Tuhan bahwa kita diizinkan melakukan hal ini. Dengarkan kata-kata rasul Paulus dalam 1 Timotius pasal 1: “Aku bersyukur kepada Kristus Yesus, Tuhan kita,” ayat 12, 1 Timotius 1:12, “yang menguatkan aku, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku — aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang yang ganas tetapi telah dikasihani-Nya.”

Tahukah Anda mengapa saya ada dalam pelayanan? Karena Allah itu penuh belas kasihan. Saya tidak berhak untuk melakukan ini. Saya tidak pantas mendapatkannya. “Tapi Anda sudah kuliah teologi.” Itu tidak cukup. “Anda punya karunia komunikasi.” Itu pun tidak cukup. Fakta bahwa saya bisa berdiri di sini, membuka Firman Tuhan dan memberitakan Injil Kristus yang mulia, adalah semata-mata karena belas kasihan kepada seorang pendosa yang tidak layak, dan kedudukan ini begitu luar biasa tinggi. Hak istimewanya begitu luar biasa besar.

Berita baiknya adalah: bukan karena kekuatan saya saya memperoleh hak ini, dan bukan pula karena kelemahan saya saya akan kehilangannya. Semua ini adalah belas kasihan-Nya. Saya tidak layak. Allah memberikannya sebagai belas kasihan dari-Nya. Dan meskipun saya memiliki banyak kegagalan dan kelemahan, Dia tetap memberikan belas kasihan ini kepada saya. Dan karena saya memandang pelayanan ini sebagai sebuah belas kasihan, saya tidak memiliki banyak ekspektasi tentang apa yang mampu saya capai. Bisakah Anda memahami hal itu?

Saya sering dengar tentang pendeta yang mengalami kelelahan rohani (burnout). Apa maksudnya kelelahan rohani? Apa maksudnya? Kelelahan rohani sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerja keras. Saya belum pernah lihat tukang ledeng yang kelelahan rohani. Saya juga belum pernah lihat tukang gali parit yang kelelahan rohani. Ini bukan soal upaya atau tenaga. Kelelahan rohani terjadi pada orang-orang yang ekspektasinya tidak terpenuhi. “Saya layak mendapatkan yang lebih baik dari ini. Anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini. Semua tidak berjalan sesuai harapan. Saya seharusnya tidak diperlakukan seperti ini.”

Dengar, Anda tidak akan pernah ingin diperlakukan sebagaimana seharusnya Anda diperlakukan. Tuhan saja tidak memperlakukan Anda sebagaimana Anda seharusnya diperlakukan. Orang-orang mengalami kelelahan rohani dalam pelayanan. Akhirnya mereka jadi menyimpang, menjadi letih dalam melakukan yang baik karena mereka punya ekspektasi yang tidak realistis tentang apa yang mereka pikir pantas mereka terima — karena mereka merasa sudah memenuhi syarat, karena mereka sudah mempersiapkan diri mereka, dan karena mereka telah bekerja keras.

Kenyataannya adalah, setiap hari di mana saya dan Anda masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya, itu semata-mata karena belas kasihan-Nya. Pelayanan ini adalah belas kasihan-Nya, dan saya tidak akan pernah berhenti takjub akan belas kasihan-Nya ini. Dulu, ketika saya masih di sekolah menengah, saya tidak tahu akan jadi apa saya nantinya. Ayah saya seorang pengkhotbah. Kakek saya juga seorang pengkhotbah, dan beberapa generasi sebelum mereka juga adalah pengkhotbah. Jadi bisa dibilang ini semacam turun-temurun, tapi itu tidak terlalu berarti bagi saya. Saya pikir saya ingin menjadi seorang atlet profesional. Saya sering mendapat banyak pujian ketika bola ada di tangan saya. Orang-orang bersorak, mereka menyukai saya, dan saya menjadi lebih populer.

Saya rasa saya bisa saja menempuh banyak jalan lain, tetapi Tuhan telah menetapkan ini bagi saya, dan hal itu tidak pernah berhenti membuat saya terharu - dan tidak pernah berhenti menggetarkan hati saya. Betapa besar anugerah itu sampai saya bisa melakukan ini. Saya berdiri di sini setiap hari Minggu, dan sudah melakukannya selama lebih dari 40 tahun di tempat ini. Adakah hak istimewa yang lebih besar dari ini? Adakah kehormatan yang lebih besar dari ini bagi seorang hamba yang tidak layak?

Paulus tidak pernah melupakan hal itu, tidak pernah melupakan kemuliaan Injil, dan Anda akan melihat hal itu terungkap seiring berjalannya pembahasan bagian ini. Jadi, daripada berlama-lama di sini, saya bisa membahasnya lebih lanjut nanti. Inilah kalimat yang selalu diucapkan pendeta saat dia kehabisan materi. “Saudara-saudara, kita bisa lanjutkan,” dan Anda tahu bahwa sebenarnya dia sudah tidak punya ide atau catatan lagi.

Baiklah, yang ketiga. Nomor tiga, kemuliaan Injil— kemuliaan Injil muncul dalam pemahaman Paulus tentang keunggulan Perjanjian Baru. Kemuliaan Injil juga muncul dalam pengertiannya bahwa pelayanan adalah sebuah belas kasihan. Dan yang ketiga, itu nyata dalam pemahamannya akan pentingnya hati yang murni—pentingnya hati yang murni.

Meskipun pelayanan adalah sebuah belas kasihan, tapi bukan berarti memberi ruang untuk dosa. Saya sangat menyukai apa yang dia katakan dalam ayat 2: “Kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan.” Saya tidak memiliki kehidupan rahasia. Saya tidak memiliki kehidupan rahasia. Bukankah Anda juga benci ketika ternyata seorang pendeta memiliki kehidupan rahasia? Itu mengerikan, bukan, bila seseorang memiliki kehidupan tersembunyi yang memalukan, dan tiba-tiba dia menjadi skandal, masuk acara “20/20” atau menjadi berita di koran. Paulus berkata, “Aku tidak seperti itu. Aku tidak punya kehidupan tersembunyi. Aku tidak berjalan di dua dunia.”

Dan bagaimana Anda membela diri ketika seseorang menuduh Anda seperti itu? Karena itulah yang mereka lakukan—mereka menuduh Paulus memiliki kehidupan rahasia. Bahkan, jika Anda membaca yang tersirat dalam 2 Korintus, mereka mengatakan bahwa dia melayani demi uang—dan saya pun pernah dituduh seperti itu—dan bahwa dia melayani demi mendapatkan kemurahan hati dari kaum wanita. Tapi dia berkata, “Aku tidak punya kehidupan rahasia. Aku menolak itu.” Pembelaannya ada dalam pasal pertama, ayat 12. Dia berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian.” Anda menangkap itu? Silakan tuduh saya sebanyak yang Anda mau. Hati nurani saya tidak menuduh saya.

Di situlah pertempurannya dimenangkan atau kalah, bukan? Yakobus 1 mengatakan, “Dosa mulai dari dalam, lalu pada akhirnya tampak ke luar.” Paulus berkata, “Sampaikan saja tuduhanmu, tapi kesaksian hati nuraniku adalah bahwa dalam kekudusan dan ketulusan ilahi, bukan dalam hikmat duniawi melainkan dalam kasih karunia Allah, kami telah hidup di dunia ini, khususnya di antara kamu.” Aku tidak bisa mengatakan hal lain kepada kamu yang menuduhku—dan memang ada banyak pengajar palsu di Korintus yang menyerang Paulus dengan kampanye kejam untuk menghancurkan kredibilitasnya pada saat itu. Itulah mengapa dia menulis surat ini, dan dia berkata, “Hati nuraniku bersih.”

Dia mengatakan hal itu berkali-kali. Dia mengatakannya lagi di masa akhir hidupnya dalam surat-surat pastoralnya bahwa hati nuraninya bersih, bahwa hatinya bersih. Dia sedang bergumul dengan dosa dalam hidupnya. Dia mengakuinya, dia bertobat darinya. Seperti yang dia katakan kepada jemaat Korintus dalam pasal 7, “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Kemuliaan Injil bagi Paulus nyata dalam integritas hidupnya. Bagaimana mungkin seseorang menyatakan kemuliaan Injil, menyadari bahwa pelayanan memberitakan Injil itu adalah anugerah yang luar biasa, tetapi kemudian hidup seperti seorang munafik? Jika Anda benar-benar mengerti kemuliaan Injil, jika Anda mengerti bahwa hak istimewa untuk memberitakan Injil adalah sebuah belas kasihan, maka Anda akan terdorong untuk hidup dalam kemurnian—seperti yang Paulus nyatakan sebagai kenyataan dalam hatinya sendiri.

Ketika dia memberikan kesaksiannya dalam Kisah Para Rasul pasal 23 dan 24, dia kembali berkata dua kali, “Hati nuraniku bersih. Hati nuraniku bersih.” Jika Anda benar-benar percaya akan kemuliaan Injil, Anda akan memastikan bahwa hidup Anda murni, karena Anda ingin menjadi bejana untuk dipakai bagi kemuliaan Tuhan. Apa kalimat selanjutnya? “Layak untuk dipakai oleh Sang Tuan.”

Ada poin keempat di sini. Ketika Anda mengerti kemuliaan Injil—kembali ke pasal 4—maka Anda akan berkomitmen untuk memberitakan Firman Tuhan dengan tepat, untuk memberitakan Firman Tuhan dengan benar. Saya menonton acara TV “Kristen” (dalam tanda kutip) dan Patricia hampir selalu berkata, “Kenapa kamu menonton itu lagi?” Dan saya tidak selalu punya jawaban yang bagus. Saya hanya akan berkata begini: saya merasa marah terhadap orang-orang yang melakukan apa yang tertulis di sini—memalsukan atau memutarbalikkan Firman Allah. Mungkin saya memang perlu meningkatkan “amarah kudus” saya, saya tidak tahu. Yang jelas, ketika sebagian orang mengirimkan uang kepada mereka, saya justru berdoa dengan Mazmur-mazmur kutukan atas kepala mereka, dan bertanya-tanya bagaimana Tuhan bisa membiarkan mereka begitu saja. Tahukah Anda, orang yang memalsukan Firman Tuhan melukai saya lebih dalam daripada apa pun—karena inilah hidup saya, inilah kehidupan itu sendiri, inilah kebenaran, dan Anda tidak boleh mempermainkannya.

Kembali ke ayat 17. Anda mendapatkan pelajaran di sana tentang alasan orang melakukannya. “Kami tidak sama dengan banyak orang lain yang menjajakan firman Allah.” Penipu, tukang tipu, orang munafik, penipu ulung; ada banyak dari mereka di pasar-pasar pada zaman kuno. Mereka akan mencampur anggur dengan air. Sabun yang mereka jual tidak murni. Tembikar yang mereka jual memiliki retakan yang ditutup dengan lilin. Lilin itu akan meleleh tak lama setelah Anda meletakkannya di atas api. Mereka tidak tulus. Mereka adalah kapēlos. Itulah kata untuk “memperdagangkan”—kapēlos—penjahat, palsu, penipu. Di sini, dalam pasal 4, Paulus berkata bahwa dia “tidak berjalan dalam tipu daya” (panourgdia). Panourgdia berasal dari kata ourgdia yang berarti energi untuk bekerja, dan pan yang berarti semua orang yang akan melakukan apa saja untuk menipu. “Memalsukan Firman Allah” berarti memanipulasinya, dan kata ini secara khusus digunakan untuk mencampur atau mengencerkan anggur, dan merusak pernyataan kebenaran.

Jadi, jika Anda percaya pada kemuliaan Injil, Anda tidak akan mengotak-atiknya. Anda tidak akan memalsukannya. Orang-orang yang muncul di televisi dan memutarbalikkan Injil demi mendapatkan uang dari kantong orang sakit, orang tua, orang sekarat, orang yang mencari mukjizat seperti tiket lotre, jelas tidak mengerti kemuliaan Injil. Maka Paulus berkata, “Kami tidak memalsukan Firman Allah. Sebaliknya, kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dinilai menurut hati nurani semua orang di hadapan Allah.”

Tahukah Anda? Kebenaran itu memiliki kuasa pembuktian diri. Betul-betul punya. Kebenaran punya kuasa pembuktian diri sedemikian rupa sehingga, bahkan ketika ditolak, kebenaran itu akan tetap berbicara kepada hati nurani si penolak. Dia akan melawannya.

Beberapa tahun lalu saya sering menghabiskan waktu dengan Larry King—mungkin beberapa dari Anda tahu itu. Saya sungguh menyukainya dan peduli padanya. Kami pernah punya banyak percakapan pribadi yang sangat baik. Dia mendengar kebenaran, dan saya rasa tidak pernah sekalipun dia berdebat dengan saya tentang hal itu—tidak pernah—karena kebenaran itu memang memiliki sifat yang mengena bahkan kepada orang yang menolaknya.

Di satu sisi, saya pikir dunia yang tidak percaya, yang menyaksikan para penipu di televisi itu, justru lebih tahu bahwa mereka adalah penipu dibandingkan orang-orang gereja itu sendiri. Jika Anda mengerti kemuliaan Injil, Anda tidak akan tertarik untuk mengotak-atik kebenaran. Anda akan ingin hidup murni. Anda akan mengerti betapa besar hak istimewa dari kemurahan pelayanan karena Anda merayakan kebesaran Injil Perjanjian Baru ini.

Ada orang yang berkata, “Kita harus mengubah sedikit pesannya karena kita tidak mendapatkan hasil. Kita harus menyesuaikan pesan ini karena kurang efektif.” Benarkah? Nah, poin berikutnya yang ingin saya sampaikan adalah ini: jika Anda sungguh mengerti kemuliaan Injil, Anda tahu bahwa hasilnya tergantung pada Allah. Ya? Hasilnya tergantung pada Allah. Anda ingat perumpamaan tentang penabur? Apa yang dikatakan tentang penabur itu? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Tidak disebutkan apakah dia menabur dengan tangan kiri atau tangan kanan, melempar tinggi, rendah, atau melengkung. Tidak disebutkan apa pun tentang penabur itu. Apa yang dikatakan tentang kantong yang digunakan untuk membawa benih? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Apa yang dikatakan tentang metode yang dipakai untuk menaburnya? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Itu adalah perumpamaan tentang tanah. Bahkan tidak dikatakan apa pun tentang benih, selain bahwa benih itu adalah kebenaran, Injil. Jadi, ini bukan tentang teknik Anda dalam menabur benih, tetapi tentang kondisi tanahnya. Saya tidak mengerjakan urusan tanah. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus.

Saya suka bagian di Injil Markus, perumpamaan di mana Yesus berkata bahwa petani menabur benih lalu pergi tidur karena dia tidak tahu bagaimana benih itu tumbuh. Betul sekali. Anda berkata, “Kita tidak mendapatkan hasil.” Serius? Anda pikir Anda yang bertanggung jawab atas hasil? Saya mendengar ada pembicaraan seperti ini, “Kita harus mengatasi penolakan orang-orang.” Saya doakan Anda berhasil dengan hal itu. Penolakan manusia itu disebut keberdosaan. Penolakan manusia itu berarti orang berdosa itu tidak mampu dan tidak mau, jika pilihan itu diserahkan pada dirinya sendiri.

Lihat ayat 3, ini sangat masuk akal. Seluruh penjelasan Paulus ini benar-benar logis. Alurnya mengalir seperti pola pikir kita. Sebagian dari Anda mungkin sudah berkata, “Ya, ini sangat mengecilkan hati. Paulus, engkau pergi dari kota ke kota ke kota. Gereja-gereja itu kecil. Gereja-gereja itu penuh masalah. Kotanya menolakmu. Pemimpin-pemimpin menolakmu. Orang-orang menolakmu. Mereka ingin membunuhmu. Orang-orang Yahudi mengejarmu. Sepertinya engkau tidak terlalu berhasil.”

Inilah jawabannya, “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa.” Ini adalah suatu kategori manusia. Inilah posisi bawaan seluruh umat manusia. Masalahnya bukan di saya. Lalu bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu? Ayat 4 berkata, “orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Masalahnya bukan teknik Anda, masalahnya adalah hati mereka. Ada begitu banyak orang yang mencoba menemukan cara-cara praktis untuk melakukan penginjilan yang efektif. Mereka melakukannya untuk mengatasi penolakan orang-orang agar pesan Injil lebih mudah diterima. Kita akan membahas lebih banyak tentang hal ini di bagian lain dari Alkitab.

Bayangkan Anda berada pada posisi ini—saya menulis sebuah buku berjudul Slave (Budak). Ada di antara Anda yang pernah melihatnya? Bayangkan mencoba menjual pesan itu di dunia yang penuh dengan budak. Ngomong-ngomong, seorang Yahudi yang disalibkan di Yerusalem, yang ditolak oleh bangsanya sendiri, ditolak oleh para pemimpinnya, dieksekusi sebagai penjahat biasa oleh orang Romawi, dan bangkit dari kematian. Dia adalah Allah yang benar dan hidup, satu-satunya Juruselamat, dan Dia ingin Anda menjadi budak-Nya. Oh begitu? Dan omong-omong, Anda harus menolak semua tuan yang lain, mengakui dosa Anda, bertobat, dan berbalik kepada-Nya sebagai satu-satunya sumber keselamatan.

Siapa ini sebenarnya? Seorang Yahudi yang disalibkan? Inilah yang Paulus khotbahkan kepada orang-orang non-Yahudi. Anda tidak saja perlu menaruh iman kepada-Nya, tetapi Anda juga perlu mengakui Dia sebagai Tuhan dan bahwa Anda adalah budak-Nya. Ini bukan pesan yang mudah diterima mereka. Anda tidak bisa mencegah penolakan orang non-Yahudi yang kafir ketika Anda berbicara tentang seorang Yahudi yang disalibkan kepada orang-orang non-Yahudi yang tidak memiliki latar belakang Perjanjian Lama, yang tidak memiliki pemahaman tentang sistem kurban persembahan, dan Anda meminta mereka untuk percaya bahwa orang Yahudi yang disalibkan ini adalah Allah yang berinkarnasi, satu-satunya Juruselamat, satu-satunya Allah yang benar dan hidup, satu-satunya harapan keselamatan, dan bahwa mereka harus menjadi budak-Nya. Secara manusia, pesan itu tidak akan diterima. Itulah sebabnya, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 1 dan akan kita lihat nanti, pemberitaan salib itu adalah apa? Suatu kebodohan, kebodohan.

Hasilnya bergantung pada Allah. Itulah sukacita dalam pelayanan. Tugas saya adalah menabur. Saya tidak bertugas menumbuhkan. Saya tidak bisa memberi hidup. Hanya Allah saja yang memberi hidup. Dan saya suka ini, perhatikan ayat 5, “Bukan diri kami yang kami beritakan.” Bukan metode yang kami ciptakan sendiri, bukan kisah-kisah pribadi tentang kami. “Tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan,” dan kami memanggil semua orang untuk menjadi budak demi Yesus.

Anda mungkin berkata, “Lalu bagaimana mungkin Anda berharap ada hasil sama sekali dengan pesan seperti itu?” Inilah jawabannya, ayat 6, “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Bukankah itu ayat yang sangat mendalam? Tahukah Anda apa yang dia sedang bicarakan? Dia sedang berbicara tentang penciptaan. Allah berfirman, “Jadilah terang,” dan terang itu terjadi. Itulah model keselamatan. Allah masuk ke dalam kegelapan hati orang berdosa dan menyalakan terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.

Inilah yang membuat pelayanan begitu menggairahkan. Jika Anda terlalu terpaku pada hasil, Anda akan berakhir dengan memberitakan diri Anda sendiri, teknik Anda, dan gaya Anda. Anda akan terjebak pada pakaian Anda, ciri khas Anda, musik Anda, dan penyesuaian budaya Anda. Tetapi jika Anda memahami kemuliaan Injil, Anda juga akan memahami betapa tidak pentingnya diri Anda. Jadi, apa yang sudah kita bahas? Sebagai pengulangan, jika Anda memahami kemuliaan Injil, Anda akan memahami: keunggulan Perjanjian Baru, belas kasihan dalam pelayanan, perlunya hati yang murni, fakta bahwa Firman Tuhan harus diberitakan dengan akurat, bahwa hasil rohani sepenuhnya bergantung pada Allah, dan bahwa pribadi Anda tidaklah signifikan—tidak signifikan.

Saya sudah kembali berkali-kali ke ayat tujuh ini selama bertahun-tahun. Kita memiliki harta ini. Harta apa? Harta Injil di dalam bejana tanah liat. Bejana tanah liat itu periuk tanah, periuk tanah. Oke, ikuti saya dalam hal ini. Periuk tanah—di rumah dipakai untuk apa? Ditaruh tanah, lalu tanam tanaman di dalamnya. Pada zaman kuno, bejana tanah itu rapuh, tidak menarik, dan sekali pakai. Namun mungkin wawasan terbaik tentang kegunaan bejana tanah ada di 2 Timotius 2:20, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak.” Oh, oke, perabot emas dan perak—dipakai untuk apa? Untuk menyajikan makanan. Piring dan mangkuk emas dan perak. “Melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” Apakah Anda siap untuk fakta ini? Makanan itu disajikan di atas perabot emas dan perak, tapi sampah rumah tangga dibuang menggunakan bejana kayu atau tanah liat—tong sampah, ember sampah yang dipakai untuk membuang sampah keluarga. Tahukah Anda, itulah yang mereka katakan tentang Luther: dia adalah tempat sampah.

Jadi, kembali ke ayat ini. Kita memiliki harta karun ini di dalam tong sampah. Inilah rasa kerendahan hati pribadi, bukan? Ketidaksignifikanan pribadi. Hanya sebuah bejana tanah liat. Dalam 1 Korintus, Paulus berbicara seperti ini dalam kata-kata yang bagi sebagian orang cukup mengganggu karena tampaknya mengecilkan rasa penting diri yang dimiliki oleh sebagian hamba Tuhan. Dengarkan apa yang dia katakan. Ayat 13 dari 1 Korintus 4, “Kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu.” Kata-kata itu merujuk pada sisa makanan yang menempel di dasar periuk setelah dingin dan mengeras, yang harus dikerok. Paulus berkata, dalam arti tertentu kita hanyalah sampah. Kita hanyalah sisa kerokan di dasar periuk. Kita adalah bejana tanah liat. Anda tahu, seseorang harus sangat berhati-hati ketika memahami kemuliaan Injil supaya tidak bersaing dengan Injil itu sendiri dengan cara meninggikan dirinya sendiri. Itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.

Baiklah, mengingat waktu kita yang terbatas, hanya beberapa poin lagi. Paulus menerima manfaat dari penderitaan. Jadi, jika Anda memahami kemuliaan Injil, inilah poin lainnya: Anda memahami manfaat dari penderitaan. Kalau Anda ingin menjadi lebih efektif, Anda harus lebih banyak menderita. Yakobus berkata, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, karena pencobaan itu menghasilkan ketekunan yang sempurna.” Anda tidak akan pernah memahami pelayanan dan efektivitas tanpa penderitaan. Dan secara singkat, ayat 8 sampai 12, kita sudah membacanya: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Ayat 11, hal yang sama: “Kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus,.” Ayat 12, “Maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.” Kuncinya di situ. Maut bekerja di dalam kami, tetapi hidup di dalam kamu. Semakin besar pengorbanan hidupmu, semakin banyak penderitaanmu, semakin kuat diri Anda.

Mari kita buka 2 Korintus pasal 12, karena kita tidak bisa melewatkannya. Pasal 12 ayat 7, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itud.” Paulus menerima penyataan-penyataan yang luar biasa. Anda tahu, dia pernah bertemu secara pribadi dengan Kristus yang telah naik ke surga di jalan menuju Damsyik dan juga beberapa kali lainnya, dan dia bisa saja menjadi sangat sombong karenanya. Jadi, untuk menjaganya agar tidak meninggikan diri—dan dia baru saja menceritakan perjalanannya ke surga, bukan?— dia melihat hal-hal yang bahkan tidak bisa dia ungkapkan. Dia bisa saja memakai hal-hal itu sebagai alasan untuk bermegah diri. Tetapi, supaya dia tidak meninggikan diri, dia berkata, “Aku diberi suatu duri di dalam dagingku.” Kata “duri” sebenarnya berarti tombak atau lembing, yang secara harfiah ditancapkan ke dalam dagingnya yang rentan terhadap kesombongan. Tombak ini digambarkan sebagai utusan Iblis, aggelos dari Iblis. Apa itu aggelos dari Iblis? Itu adalah setan. Apakah setan ini menyerang Paulus secara langsung? Penjelasan terbaiknya adalah bahwa ini adalah pemimpin setan dari para guru palsu yang sedang menghancurkan jemaat di Korintus, yang sangat ia kasihi, dan akibatnya menusuk hatinya sendiri karena kasihnya kepada jemaat itu. Ada guru-guru palsu yang dipimpin kuasa setan sedang merusak jemaat di Korintus, dan itu menyiksanya. Dan Tuhan mengizinkannya terjadi untuk menjaganya supaya dia tidak meninggikan dirinya.

Tuhan akan memberikan cukup banyak masalah kepada seorang pendeta untuk mencegahnya meninggikan diri, bahkan jika Dia harus menggunakan Iblis untuk menimbulkan masalah itu. Paulus berkata tiga kali, “Aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku.” Tuhan menjawab, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab,” - Apa? - “justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Semakin Anda meninggikan diri Anda, semakin Anda memaksa Tuhan untuk merendahkan Anda. Jika Anda memahami kemuliaan Injil, Anda akan mengerti manfaat dari penderitaan. Penderitaan membuat Anda menjadi alat yang lebih efektif karena di dalamnya Anda menerima kuasa yang menjadi sempurna di dalam kelemahan. Paulus menangkap maksudnya. “Aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Semakin Anda meninggikan diri, semakin Anda menjadi tidak berguna.

Tinggal dua pemikiran terakhir untuk menutup sesi kita hari ini. Memahami kemuliaan Injil berarti memahami semua hal ini. Saya tidak akan mengulanginya lagi, dan hanya ada dua hal lain untuk dipertimbangkan. Yang pertama adalah memahami pentingnya keyakinan. Memahami kemuliaan Injil—dan ini merangkum semua yang sudah kita bahas—berarti memahami pentingnya keyakinan. Sekali lagi, ini adalah bagian yang sering saya baca kembali. Ayat 13 berkata, “Karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis”—dan di sini dia mengutip Mazmur 116—“Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”

Selama bertahun-tahun orang berkata kepada saya, “Anda memang tidak pernah menahan diri, ya?” Tidak. Pernah ada seseorang memperkenalkan saya di sebuah konvensi penjual buku dengan berkata, “John MacArthur jauh lebih ramah secara pribadi daripada saat ia berkhotbah.” Dan, Anda tahu, dalam arti tertentu saya memahaminya. Saya tidak berusaha mencari masalah dengan semua orang. Saya hanya berusaha memberitakan kebenaran, dan saya paham bahwa kebenaran menciptakan musuhnya sendiri. Namun, ini tentang pentingnya keyakinan. Inilah yang disebut integritas. Anda tidak bisa memberitakan sesuatu lalu tidak peduli apakah itu dijalankan atau tidak. Anda tidak bisa berkata, “Saya percaya ini, tetapi saya tidak akan mengatakannya karena orang akan tersinggung.” Jika itu benar, maka Anda punya mandat untuk memberitakannya. “Aku percaya, maka aku berkata-kata.” Apa pun yang Anda dengar saya ucapkan, itulah yang saya yakini.

Orang-orang berkata, “Mengapa Anda begitu bersemangat tentang segala sesuatu?” Karena ketika saya sampai pada keyakinan bahwa inilah yang dimaksud Firman Tuhan, saya menjadi bersemangat karenanya karena itu adalah kebenaran. Saya percaya, maka saya berkata-kata. Inilah kedewasaan rohani, inilah artinya bertindak seperti seorang pria, inilah sifat kejantanan, yaitu berbicara dengan keyakinan.

Jadi, apa yang kita pelajari malam ini? Singkatnya, jika kita memahami seperti Paulus memahami kemuliaan Perjanjian Baru, hal itu akan membawa banyak implikasi dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi kemuliaannya yang jauh lebih unggul, dan kita akan selalu melihat pelayanan sebagai sebuah anugerah yang tidak layak kita terima. Kita akan berkomitmen menjaga hati yang murni, karena tidak ingin melakukan apa pun yang membuat kita kurang berguna dalam memberitakan Injil yang mulia ini. Kita akan bertanggung jawab untuk menafsirkan Alkitab dengan tepat dan tidak pernah memalsukannya, sambil menyadari bahwa hasilnya sepenuhnya bergantung pada Allah yang menerima kemuliaan melalui Injil. Kita akan melihat diri sendiri sebagai bejana tanah liat yang tidak berarti, merangkul manfaat penderitaan yang memunculkan kekuatan ilahi di dalam kelemahan manusia. Kita juga akan mengerti bahwa Injil ini layak diperjuangkan dengan keyakinan, layak dihidupi dengan integritas, di mana kita percaya sepenuhnya, dan memberitakannya persis seperti yang kita percayai.

Dan akhirnya, pada akhirnya, ketika kita memahami kemuliaan Injil, kita akan menempatkan ganjaran masa depan di atas kesulitan saat ini. Dalam ayat 13, 14, dan 15 dia berkata, “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata. Dan jika aku akan mati,” ayat 14, “Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Ia juga akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi karena kamu, supaya anugerah yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.” Dan dengan pandangan tentang surga itu, yang diperkenalkan di akhir ayat 15, dia sampai pada ayat 16 dan kita bergerak cepat melewatinya, “Sebab itu, kami tidak tawar hati,” seperti yang ia katakan di ayat 1, “karena kami mengutamakan yang kekal daripada yang sementara, masa depan daripada masa kini. meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbarui dari hari ke hari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal.”

Saya tidak mencari reputasi di dalam hidup ini. Saya tidak mencari keberhasilan di dalam hidup ini. Saya jauh lebih peduli tentang kemuliaan kekal yang bobotnya tak terhingga, tentang kesetiaan yang akan diberi upah di masa depan oleh Allah yang setia. Saya tidak peduli dengan penderitaan ringan yang hanya sementara, dan aku pun tidak banyak mengalaminya dibandingkan begitu banyak orang lain. Saya tidak memandang kepada hal-hal yang kelihatan, dan saya tidak ingin hidup saya dijelaskan secara manusiawi. Saya ingin hidup saya hanya dapat dijelaskan secara ilahi. Jadi Paulus memahami kemuliaan Injil.

Nah, pada pagi hari nanti, kita akan melihat apa yang membuat Perjanjian Baru ini begitu mulia ketika kita membicarakan realita Injil yang memuaskan.

Bapa kami, kami bersyukur kepada-Mu atas kebaikan-Mu yang begitu besar kepada kami dengan mengaruniakan Firman Allah yang kudus. Terima kasih karena Firman Allah memiliki nada kebenaran, dan seberapa sering pun kami membacanya, Firman itu selalu datang kepada kami dengan segar dan hidup. Terima kasih karena Firman Allah tak terbantahkan, karena Firman Allah adalah kehidupan. Terima kasih karena Firman Allah sangat jelas, dan kami memahaminya. Firman Allah memenuhi pikiran kami dengan kebenaran dan menghangatkan hati kami dengan semangat dan gairah, menggerakkan kaki kami dalam ketaatan. Dimuliakanlah dan diagungkanlah Engkau di hari-hari yang kami lalui bersama ketika kami memandang Firman-Mu. Genapilah maksud baik-Mu dalam setiap kehidupan, kami berdoa dalam nama Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize