Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Kita sedang mempelajari pasal 53 dari kitab Yesaya. Kitab Yesaya adalah sebuah nubuat dalam Perjanjian Lama. Jika Anda memiliki Alkitab, bukalah Yesaya pasal 53, dan itulah pasal yang akan kita pelajari. Beberapa orang menganggap ini adalah pasal terhebat dalam Perjanjian Lama. Dan tidak diragukan lagi, pasal ini adalah nubuat paling rinci tentang Mesias yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Pasal Ini sangat kuat, yang harus dipelajari secara frase demi frase, bahkan kata demi kata, karena pengaruhnya yang besar dan kebenarannya yang dalam.

Selagi kita belajar bersama pasal 53 ini, saya ingin Anda menjadi sangat akrab dengannya sehingga Anda bisa mengingatnya dengan mudah. Jadi, selagi kita mempelajarinya, bagian ini adalah pesan nomor empat hari ini, dan kita akan sampai pada ayat 2 dan 3. Jadi akan memakan waktu agak lama sebelum kita menyelesaikan seluruh pasal ini. Tetapi dalam prosesnya, saya ingin Anda menjadi sangat mengenal pasal ini sehingga itu menjadi bagian dari kehidupan Anda, yang kemudian akan membuat Anda menyembah Tuhan dengan cara yang segar, baru, kaya, dan menjadi berkat bagi Anda. Selain itu, Anda juga akan mampu mengkomunikasikan kemuliaan Juruselamat kita dari pasal ini kepada siapa saja yang bertanya. Mari kita dengarkan pembacaan dari pasal ini, Yesaya 53.

“Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar dan kepada siapakah kuasa tangan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan atau tampak mulia untuk dipandang, dan tidak punya rupa yang membuat kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Orang pun menutup muka ketika melihat dia; demikianlah ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan. Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan disakiti Allah.”

“Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilurbilurnya kita disembuhkan. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri disakiti dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah ditahan dan dihukum ia digiring pergi, siapa yang peduli akan apa yang terjadi padanya? Sungguh, ia terputus dari negeri orangorang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah.”

““Orang menempatkan kuburnya di antara orangorang fasik, dan makamnya di antara orang kaya, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulutnya. Namun, TUHAN berkehendak meremukkan dia, membuat dia sakit. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; oleh pengetahuannya, hambaKu, orang benar itu, akan membenarkan banyak orang, dan kejahatan mereka dipikulnya. Sebab itu, Aku akan membagikan kepadanya rampasan diantara orang-orang besar, dan ia akan membagikan jarahan bersama orangorang kuat, karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut; juga karena ia terhitung di antara pemberontak, padahal ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontakpemberontak.”

Saya ingin memulai dengan serangkaian pertanyaan dan memberikan gambaran umum tentang pasal ini. Kita akan membahasnya dengan cara yang berbeda, sebagai pengantar. Untuk pagi ini, saya akan mengajukan serangkaian pertanyaan yang akan membantu kita mendapatkan gambaran besar dari pasal ini. Apa tema dari nubuat ini? Apa tema dari pasal ini? Tema dari pasal ini adalah penderitaan, penderitaan yang mengerikan, penderitaan yang sangat buruk, penderitaan yang traumatis, penderitaan yang menyakitkan, penderitaan yang menyiksa, dan penderitaan yang mematikan. Penderitaan jelas menjadi tema utamanya.

Ayat 3, “Ia adalah manusia yang penuh kesedihan, yang mengenal penderitaan.” Ayat 4, “Penderitaan itu sendiri Ia tanggung, dan kesengsaraan itu dibawanya. Ia tertimpa pukulan, diserang oleh Allah, dan ditindas.” Ayat 5, “Ia ditikam karena pemberontakan kita, dihancurkan karena kejahatan kita, Ia dihukum dan disiksa.” Ayat 6, “Allah menjadikan kesalahan kita semua jatuh kepada-Nya.” Ayat 7, “Ia ditindas dan sengsara, tetapi tidak membuka mulut-Nya, Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.” Ayat 8, “Ia dianiaya dan dihakimi, Ia dipisahkan dari negeri orang-orang hidup.” Semua itu menunjukkan bahwa ini adalah pengalaman penderitaan yang sangat mengerikan. Ayat 10 mengulangi bahwa Dia dihancurkan dan sangat berdukacita. Ayat 11 berbicara tentang kesengsaraan yang sangat berat dari penderitaan-Nya. Siapa yang dapat menanggung penderitaan seperti itu, penderitaan yang sangat besar?

Anda mungkin berkata, “Saya rasa pasti ada seseorang di suatu tempat yang pantas mengalami penderitaan seperti itu.” Tapi hal itu membawa kita pada pertanyaan kedua. Apakah penderitaan itu pantas diterima? Apakah orang yang menderita yang digambarkan di sini pantas mengalami penderitaan yang tiada henti seperti itu? Jawabannya adalah tidak. Tidak, penderitaan itu tidak pantas diterima oleh orang yang menderita. Kembali ke ayat 9 sejenak, di akhir ayat ini dikatakan, “Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulutnya.” Apa yang keluar dari mulut mencerminkan apa yang ada di hati, karena dari limpahan hati kita, mulut kita berbicara. Jadi tidak ada kejahatan atau penipuan di mulut-Nya karena tidak ada hal-hal itu di hati-Nya.

Bahkan, lebih jauh lagi, Dia diidentifikasi dalam ayat 11, orang yang menderta ini, disebut sebagai Orang Benar. Ini adalah nubuat tentang seorang yang menderita dengan penderitaan yang mengerikan, sangat mengerikan. Apakah penderitaan itu pantas dia terima? Tidak. Jadi, itu membawa kita pada pertanyaan ketiga. Apakah Allah mencoba melindungi orang benar yang menderita itu? Jawabannya adalah tidak. Ayat 10 berkata, “TUHAN berkehendak meremukkan dia, membuat dia sakit.” Ini adalah kisah yang luar biasa, penderitaan yang tiada banding, penderitaan yang tidak pantas diterima oleh seorang yang benar, yang tidak dilindungi oleh Allah yang benar. Yang membawa kita ke pertanyaan keempat. Apakah itu kegagalan dari pihak Allah? Apakah itu tidak sesuai dengan sifat Allah yang benar, yang tidak melindungi seorang yang benar dari penderitaan seperti itu? Apakah itu konsisten dengan sifat benar Allah untuk membiarkan orang ini menderita?

Jawabannya adalah ya, ya karena apa yang kita baca mulai dari ayat 5, “Dia ditikam oleh karena pelanggaran kita, Dia dihancurkan oleh karena kejahatan kita. Hukuman itu untuk kebaikan kita, Dia disiksa supaya kita disembuhkan.” Ayat 6, “Allah menjadikan kesalahan kita semua jatuh kepada-Nya.” Akhir ayat 8, “Dia dipisahkan dari negeri orang-orang hidup karena pelanggaran umat-Ku.” Itu semua karena mereka. Ayat 11, “Dia akan memikul kesalahan mereka.” Ayat 12, “Dia menanggung dosa banyak orang.” Jadi, Dia adalah penderita yang mewakili orang lain. Dia adalah penderita pengganti. Dia menderita bukan untuk dosa-Nya sendiri, tetapi untuk dosa orang lain.

Yang membawa kita pada pertanyaan berikutnya: mengapa seorang manusia melakukan hal itu? Mengapa ada orang yang benar, menderita dengan begitu mengerikan, tidak dilindungi oleh Allah, lalu menderita sebagai pengganti untuk dosa-dosa yang tidak Dia lakukan, tetapi karena dosa-dosa orang lain? Jawabannya adalah: karena Dia rela. Karena Dia ingin melakukannya. Ya, ayat 10 berkata, “Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah.” Dia memberikan diri-Nya sebagai persembahan bagi yang bersalah. Ya, ayat 12, “Dia menyerahkan nyawa-Nya sampai mati.” Betapa luar biasanya Pribadi ini—menderita sedemikian dalam, menderita tanpa layak menderita, menderita tanpa perlindungan dari Allah yang benar walaupun Dia sendiri benar, menderita sebagai pengganti, dan menderita dengan sukarela. Mengapa? Itulah pertanyaan berikutnya: mengapa Dia melakukan ini? Apa hasilnya?

Pertama, di ayat 11, dengan melakukan semua ini, Dia akan membenarkan banyak orang. Artinya, melalui penderitaan-Nya, Dia akan membuat banyak orang menjadi benar. Dan Dia akan ditinggikan. Sebagai hasil dari kesengsaraan-Nya, ayat 11 mengatakan, “Dia akan melihat terang.” Itu maksudnya—Dia akan melihat terang, Dia akan melihat kehidupan, Dia akan dipuaskan. Dan ayat 12, “Dia akan mendapat bagian bersama orang-orang besar, Dia akan membagi jarahan dengan orang-orang kuat.” Dengan kata lain, Dia akan diberi upah. Dia akan ditinggikan. Seberapa tinggi Dia akan ditinggikan? Kita ingat, bukan? Kembali ke pasal 52 ayat 13, “Dia akan berhasil, Dia akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan.” Ayat 15, “Dia akan membuat banyak bangsa tercengang, raja-raja akan menutup mulut mereka karena Dia, sebab mereka akan melihat apa yang belum pernah mereka dengar, dan mereka akan menyaksikan kemuliaan yang akhirnya akan datang kepada-Nya.”

Siapa ini? Siapa pribadi yang sedang dibicarakan di sini? Tidak mungkin itu siapa pun selain siapa? Tuhan Yesus Kristus. Tidakkah dunia bisa melihat itu? Tidakkah dunia bisa melihatnya? Ini ditulis sekitar 700 tahun sebelum Yesus lahir—dan itu sendiri sudah menjadi bukti yang cukup bahwa Allah adalah penulis Alkitab, karena hanya Allah yang mengetahui masa depan secara rinci. Dunia, bagaimana mungkin mereka bisa melewatkan hal ini? Sosok ini pasti Yesus Kristus. Semua detail ini digenapi dalam diri-Nya. Tapi lalu, sekali lagi, dunia tidak memiliki Alkitab, tidak membaca Alkitab, dan tidak mengenal Alkitab. Jadi ketika kita melihat, misalnya, bangsa-bangsa non-Yahudi, para bangsa di dunia, kita… kita tidak bisa secara otomatis berharap bahwa mereka akan percaya kepada Yesus Kristus. Mereka tidak mengenal kitab Yesaya, tidak mengenal Yesaya 53, tidak mengenal Perjanjian Lama, tidak mengenal kebenaran Perjanjian Baru, tidak mengenal tulisan-tulisan tentang kehidupan Yesus.

Lalu bagaimana dengan orang-orang Yahudi? Bagaimana dengan mereka? Mereka tahu kisah tentang Kristus—jika bukan karena alasan lain, maka mereka ingin memastikan bahwa semua orang tahu kalau mereka menolak Dia. Ini sudah menjadi bagian dari identitas Yahudi di dunia: memastikan bahwa mereka secara jelas menolak bahwa Yesus adalah Mesias, bahwa Yesus bukan Juruselamat. Tapi mengapa orang Yahudi tidak percaya kepada Yesus? Bagaimana mungkin mereka tidak mengambil Yesaya 53, membandingkannya dengan kitab-kitab Injil—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—dan berkata, “Ini hanya mungkin menunjuk kepada Yesus”? Mengapa mereka tidak melakukannya?

Salah satu dari mereka, seorang yang mengasihi Tuhan Yesus, bernama Mitch Glaser, memiliki pelayanan yang disebut Pelayanan Orang-Orang Terpilih, dan dia telah menulis sebuah artikel dalam buku terbaru berjudul Injil Menurut Yesaya 53, yang sangat menarik. Memang benar, hanya sekitar sepuluh persen dari populasi Yahudi di dunia—yang berjumlah sekitar 14 juta orang—yang termasuk golongan Ortodoks. Artinya, hanya sekitar sepuluh persen yang benar-benar meneliti Kitab Suci dan memiliki pemahaman mendalam tentangnya. Sementara 90 persen sisanya, dalam berbagai tingkat, bersikap cukup acuh tak acuh terhadap Kitab Suci dan penafsiran yang cermat atas isinya. Jadi, seperti yang dikatakan Mitch Glaser, sebagian besar orang Yahudi bahkan tidak tahu apa pun tentang Perjanjian Lama, tentang kitab Yesaya, apalagi Yesaya pasal 53. Mereka tidak tahu tentang itu semua.

Lebih lanjut, dia mengatakan, “Sebagian besar dari mereka tidak percaya pada nubuat Alkitab. Mereka tidak percaya pada dosa. Mereka tidak percaya pada kebejatan—yaitu kondisi dosa yang tidak dapat diperbaiki yang melekat pada manusia. Mereka tidak percaya pada penebusan. Mereka tidak percaya pada kurban pengganti. Mereka tidak percaya bahwa darah harus ditumpahkan untuk pengampunan. Mereka tidak percaya pada inkarnasi. Mereka tidak percaya pada penolakan terhadap Mesias. Mereka tidak percaya pada Perjanjian Baru, jadi mereka tidak percaya kepada Yesus.” Jadi, Anda tidak bisa mengasumsikan bahwa ketika Anda berbicara kepada orang Yahudi tentang Tuhan Yesus Kristus, mereka akan memiliki pemahaman, atau bahkan sedikit pun keakraban dengan Yesaya 53. Komponen-komponen luar biasa dalam pasal ini sama sekali tidak memiliki tempat dalam cara berpikir mereka. Itulah sebabnya pasal ini dimulai dengan pernyataan, “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar?” Dan mereka akan mengakui bahwa mereka tidak mempercayainya.

Ini benar-benar hal yang mengejutkan. Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak percaya. Bangsa-bangsa, secara umum, tidak percaya. Mereka tidak percaya pada berita tentang Yesus Kristus. Agama-agama di dunia—selain kekristenan sejati—tidak percaya pada pesan tentang Kristus. Padahal, betapa luar biasanya pesan itu. Orang Yahudi yang tahu pesannya pun, seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 10, “Itu... itu ada di mulutmu, itu dekat padamu.” Mereka tahu kisahnya. Mereka tahu pernyataan-pernyataan Yesus. Tapi mereka tidak percaya. Bayangkan—mereka tidak percaya pesan ini, kabar baik dari surga, bahwa kasih Allah menggerakkan Dia untuk menyelamatkan orang berdosa dari neraka melalui kematian Anak-Nya. Mereka tidak percaya itu.

Mereka tidak percaya pesan ini: kabar baik bahwa Allah yang tidak kelihatan telah mengutus Juruselamat yang tidak kelihatan kepada generasi ini yang tidak melihat Dia, untuk menyediakan berkat-berkat yang tidak kelihatan di surga yang tidak kelihatan, yang hanya bisa diterima melalui iman yang juga tidak kelihatan. Mereka tidak percaya kabar baik tentang keselamatan dan pengampunan bagi orang-orang berdosa dari dosa, murka, dan penghakiman. Mereka tidak percaya kabar baik tentang Juruselamat yang disalibkan sebagai jalan menuju keselamatan itu. Mereka tidak percaya kabar baik bahwa ada kebenaran ilahi, yang memungkinkan orang berdosa yang bersalah berdiri tanpa takut dan dalam kekudusan di hadapan Allah, dibungkus dalam kebenaran-Nya sendiri. Mereka tidak percaya kabar baik tentang pengampunan, yang diberikan dari surga, kepada si pendosa yang telah divonis dan dipenjara, yang dapat menerima pengampunan itu melalui iman kepada Kristus.

Mereka tidak percaya kabar baik bahwa ada satu Tabib yang menyembuhkan semua orang yang datang kepada-Nya—secara sempurna dan untuk selama-lamanya—dari segala penyakit jiwa. Dia melakukannya dengan cuma-cuma dan tidak menolak siapa pun. Mereka tidak percaya kabar baik bahwa ada perjamuan tanpa batas bagi jiwa-jiwa yang lapar, yang telah disiapkan dan terbuka bagi siapa saja yang mau datang. Kristus sendiri adalah tuan rumah sekaligus hidangan dalam perjamuan itu. Mereka tidak percaya kabar baik tentang harta tak ternilai yang tidak bisa dibeli, karena telah dibayar lunas dan kini ditawarkan sebagai anugerah—sebuah karunia yang terdiri dari berkat-berkat yang tidak ada habisnya dan sukacita yang tidak pernah pudar, baik sekarang maupun selama-lamanya, bagi siapa pun yang menerimanya. Mereka tidak percaya kabar baik tentang kemenangan yang telah diraih oleh Yesus Kristus atas Iblis, atas maut, dan atas dunia—sebuah kemenangan yang terbuka bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya untuk masuk dan turut ambil bagian. Mereka tidak percaya kabar baik tentang pendamaian kekal dengan Allah, yang dibeli dengan darah Kristus bagi orang-orang berdosa yang tidak layak dan telah menyinggung kekudusan-Nya.

Sungguh luar biasa... betapa dahsyatnya pesan yang tidak mereka percayai. Tapi memang, mereka tidak mempercayainya. Dan di dalam Yesaya 53, seperti yang Anda tahu, terdapat sebuah pengakuan dari bangsa Yahudi. Kata-kata dalam Yesaya 53, dari awal hingga ayat terakhir, adalah kata-kata dari generasi Yahudi di masa depan—bangsa Israel—yang suatu hari akan membuat pengakuan ini dan berkata, “Kami tidak percaya.” “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar?” Sangat sedikit. Sangat sedikit yang percaya. Tapi siapa pun yang percaya—baik Yahudi maupun non-Yahudi—di waktu kapan pun, akan diselamatkan. Tapi kami tidak percaya. Itulah pengakuan mereka kelak. Ingatlah, kita sedang berbicara tentang kenyataan bahwa pasal ini ditulis dalam bentuk lampau. Semua kata kerjanya memakai bentuk waktu lampau.

Kebanyakan orang mengira bahwa Yesaya 53 sedang memprediksi apa yang akan terjadi kepada Yesus. Dan memang, pasal itu melakukan hal tersebut karena menggambarkan dengan sangat rinci penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan pemuliaan-Nya. Namun semua itu ditulis dalam bentuk lampau—kata kerja waktu lampau. Artinya, pasal ini bukan hanya sedang melihat ke depan, tapi melompati peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Yesus dan melihat ke belakang dari akhir sejarah manusia ketika bangsa Israel akhirnya memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, menangisi Dia seperti seorang yang menangisi anak tunggal, menyadari bahwa mereka telah menolak Mesias mereka. Dan saat itu, sebuah mata air penyucian akan terbuka bagi mereka, dan keselamatan akan datang atas bangsa Israel. Sementara itu, sampai pertobatan nasional itu terjadi, siapa saja—siapa pun—dapat datang kepada Kristus dan diselamatkan. Tapi suatu hari kelak, bangsa itu akan bertobat dan diselamatkan. Dan kesadaran itu, seperti dikatakan oleh nabi Zakharia, akan datang pada saat yang sangat gelap—ketika bangsa-bangsa di dunia berkumpul untuk membinasakan Israel, ketika mereka dikepung dan berada siap untuk dilenyapkan. Pada saat itulah, Tuhan akan datang sebagai pembela mereka, dan mereka akan diselamatkan.

Dalam pasal 59 kitab Yesaya, kita mendapatkan gambaran tentang hal itu. Saya akan merujuknya saja secara singkat. Di sana digambarkan bangsa Yahudi berkata, “Kami dalam masalah, pelanggaran kami semakin banyak, tidak ada keadilan di negeri ini.” Ke mana kami harus pergi? Apa yang harus kami lakukan? Itu adalah gambaran tentang Israel di masa depan—Israel yang sedang berada dalam tekanan besar. Israel masa kini mungkin berkata, “Bagaimana kami bisa bertahan? Dunia sedang mengejar kami. Allah tidak turun tangan membela kami.” Dan lalu dikatakan dalam Yesaya 59: “Tidak ada seorang pun yang menolong mereka.” Tidak ada pemimpin manusia yang bisa menyelamatkan Israel dari hukumannya karena telah menolak Kristus, yang masih berlangsung bahkan sampai hari ini.

Dunia sedang mengancam keberadaan Israel dengan kekuatan nuklir. Dan dikatakan bahwa Allah melihat keadaan itu—dalam Yesaya 59—dan tidak ada satu pun manusia yang bisa menyelamatkan. Lalu muncullah bahasa yang sangat indah, bagaimana Allah menanggapi kenyataan bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan Israel. Dengarkan Yesaya 59:16: “Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendirilah yang menolong Dia.” Siapakah tangan-Nya sendiri itu? Sang Mesias—“tangan TUHAN yang dinyatakan.” Maka tangan-Nya sendiri—Mesias itu sendiri—yang membawa keselamatan. Itu adalah momen yang sangat dramatis.

Kita melihat Sang Mesias—Tuhan Yesus—mengenakan kebenaran seperti baju zirah, meletakkan ketopong keselamatan di atas kepala-Nya, mengenakan pakaian pembalasan, dan menyelubungi diri-Nya dengan semangat seperti jubah. Dan Dia datang—Dia datang untuk membalaskan murka kepada para musuh umat-Nya, memberi ganjaran kepada lawan-lawan-Nya, supaya mereka takut akan nama Tuhan dari barat dan kemuliaan-Nya dari tempat matahari terbit. Dia akan datang seperti arus deras yang didorong oleh angin Tuhan.

Inilah kedatangan Kristus untuk menyelamatkan Israel dari pemusnahan—pada saat Dia datang untuk membela mereka dari bangsa-bangsa yang berkumpul melawan mereka. Apa yang akan terjadi? Dia akan menghukum orang-orang fasik, dan seperti dikatakan dalam ayat 20, “Ia akan datang sebagai Penebus untuk Sion dan untuk keturunan Yakub yang bertobat dari pemberontakannya.” Itulah saat keselamatan mereka. Dialah sang Penebus itu. Dan ini akan terjadi karena Tuhan sendiri telah berjanji, seperti tertulis dalam ayat 21: “Inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN.”

Itulah keselamatan bagi bangsa Israel—keselamatan melalui perjanjian yang baru. Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam. Mereka akan meratap. Dan mereka akan diselamatkan. Tuhan sendiri akan menjadi pejuang yang membela mereka pada saat itu, ketika Dia mengutus Mesias bukan hanya untuk menyelamatkan mereka secara rohani, tetapi juga untuk membela mereka secara nyata dari kehancuran. Ketika saat itu tiba—di masa depan—itulah momen ketika mereka akan menoleh ke belakang dan berkata: “Kami tidak percaya. tangan Tuhan—Mesias itu sendiri, kuasa Allah—telah dinyatakan melalui Dia, dan kami tidak percaya. Kami tidak percaya.” Mereka akan membuat pengakuan terbuka tentang kengerian yang dialami oleh generasi-generasi ketidakpercayaan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, dan mari kita gunakan pertanyaan ini sebagai titik masuk ke dalam teks Yesaya 53: Mengapa mereka menolak Yesus Kristus? Mengapa? Mereka akan membuat pengakuan itu. Mereka akan... mereka akan memberi tahu kita alasannya. Mereka akan memberi tahu Allah alasannya. Dan pengakuan yang akan mereka buat di masa depan, dan yang juga harus dibuat oleh siapa saja yang datang kepada Kristus sekarang, ada dalam ayat 2 dan 3: "Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan atau tampak mulia untuk dipandang, dan tidak punya rupa yang membuat kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Orang pun menutup muka ketika melihat dia; demikianlah ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan."

Itulah penjelasannya. Itulah penjelasan mengapa orang-orang Yahudi selama beberapa generasi menolak Yesus Kristus. Itulah pengakuan yang akan dibuat oleh generasi di masa depan yang akan berbalik kepada-Nya. Dan ingat, Tuhan akan menyaring orang-orang pemberontak dari bangsa itu, kata Zakharia, dan sepertiga dari orang Yahudi di dunia—pada saat itu, mungkin sekitar empat atau lima juta orang—akan mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan mereka akan berkata, “Inilah alasan mengapa selama beberapa generasi kami telah menolak Dia.”

Tiga alasan disebutkan di sini, tiga alasan. Itu adalah alasan-alasan yang diakui. Yang pertama—dan semuanya berkaitan dengan rasa hina yang mereka miliki terhadap-Nya. Yang pertama, Dia berasal dari asal-usul yang hina. Dia berasal dari asal-usul yang hina. Dia tumbuh di hadapan-Nya seperti tunas yang lemah atau taruk dan seperti akar dari tanah yang kering. Dia tumbuh di hadapan-Nya, artinya di hadapan Allah, Dia sepenuhnya berada dalam pandangan Allah, yang sepenuhnya berkenan kepada-Nya, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Allah melihat setiap momen dalam hidup-Nya dan memperhatikan-Nya saat Dia bertumbuh dalam hikmat dan pertumbuhan fisik serta dalam kasih karunia di hadapan Allah dan manusia, seperti yang dikatakan dalam Lukas 2:52. Allah memberikan perhatian penuh, mengamati pertumbuhan Putra-Nya yang menjelma menjadi manusia. Jadi, Dia tumbuh di hadapan Allah. Tetapi ketika kami melihat Dia—dan di hadapan Allah berarti dalam kesenangan Allah, seperti yang dikehendaki Allah, sesuai dengan rencana Allah. Tetapi dari sudut pandang kita, Dia seperti taruk. Dia seperti akar yang tumbuh dari tanah yang kering.

Izinkan saya jelaskan, mereka ini adalah masyarakat agraris—mereka bekerja di ladang, menanam, memiliki pohon dan kebun, dan mereka menanam di tanah. Jadi, ilustrasi yang digunakan pun berasal dari dunia pertanian. Ketika dikatakan bahwa Dia seperti taruk, itu berarti Dia seperti cabang pengisap; dalam bahasa Ibrani disebut yoneq, yang berarti cabang pengisap. Cabang pengisap ini muncul begitu saja, tanpa penanaman, tanpa harapan. Dan hal yang biasa dilakukan pada cabang pengisap ini agar tidak menyerap kehidupan dan menghambat pertumbuhan serta hasil dari cabang utama adalah dengan memotongnya. Cabang ini sifatnya berlebih, kecil, tidak diperlukan, tidak relevan, tidak berarti, dan muncul secara acak. Cabang pengisap tidak dirancang, tidak dirawat, tidak diharapkan, tidak dibutuhkan—dan karena itu, dipotong.

Beberapa penafsir suka menganggap bahwa pohon tempat cabang pengisap itu tumbuh adalah referensi metaforis atau alegoris terhadap sesuatu seperti keturunan Daud, atau semacamnya. Tapi itu sebenarnya penafsiran yang terlalu jauh dan tidak perlu. Bahasa yang digunakan di sini sangat sederhana. Kata ini hanyalah cara untuk mengatakan bahwa awal mula-Nya dianggap tidak penting. Tidak berarti, tidak signifikan, tidak ada nilainya—Dia bukan siapa-siapa, dari keluarga yang juga bukan siapa-siapa, dan dari tempat yang tidak dikenal. Ketika kita melihat Yesus, apa yang kita lihat? Keluarga yang tidak dikenal: Yusuf dan Maria. Kota yang tidak penting: Nazaret, tempat terpencil yang jauh dari jalur utama. Lahir di tempat yang tidak dikenal, di penginapan, di kandang, dibaringkan di palungan. Yang hadir saat kelahiran-Nya hanyalah para gembala—orang-orang dari strata sosial paling rendah. Tidak ada kelahiran kerajaan, tidak ada status sosial, tidak ada keturunan bangsawan, tidak ada pendidikan formal. Tiga puluh tahun Dia hidup sebagai tukang kayu di Nazaret. Tidak memiliki hubungan dengan siapa pun yang dianggap penting, tidak punya koneksi dengan kaum elit atau pun orang-orang penting.

Dia… Dia seperti cabang pengisap, tidak relevan. Atau Dia seperti akar dari tanah yang kering. Di wilayah Timur Tengah, saat matahari menyengat, tanah menjadi kering dan tandus. Ketika tanah menyusut karena air menguap, beberapa akar mulai muncul ke permukaan—akar yang kotor, cokelat, di tanah yang gersang, tanpa perawatan. Akar itu menggambarkan akar dari pohon yang tidak dipedulikan, karena kalau memang ada yang peduli, pohon itu pasti akan disiram. Sekali lagi, ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa Dia dianggap tidak penting, tidak diinginkan, tidak berharga, tidak mengesankan—tidak ada nilainya. Tidak lebih penting dari cabang pengisap atau akar kering di tanah gersang yang tak ada yang mengolah, tak ada yang merawat, dan tak ada yang menyiramnya. Awal yang menyedihkan. Bahkan mereka sampai berkata, “Adakah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Dia tidak memperoleh apa pun dari asal-usul keluarganya. Dia tidak memperoleh apa pun dari status sosial-Nya. Dia tidak memperoleh apa pun dari kondisi ekonomi keluarganya. Dia tidak memperoleh apa pun dari para pengikut-Nya. Mereka bukan orang-orang cerdas, bukan orang terpelajar, bukan orang berkuasa, bukan orang berpengaruh, dan bukan orang penting. Tidak ada satu pun yang merupakan rabi, orang Farisi, Saduki, imam, atau ahli Taurat. Tidak ada yang dianggap penting. Mereka hanyalah sekelompok nelayan biasa, orang-orang yang tak dikenal, dengan beberapa sosok yang “nyeleneh” seperti pemungut cukai dan seorang teroris. Mereka tidak punya kedudukan. Mereka tidak punya uang. Dan mereka bergabung dari awal dengan sesuatu di benak mereka bahwa mungkin jika mereka tetap setia, mereka akan mendapat bagian besar atau semacam lotere, jika Kerajaan itu benar-benar datang.

Tak satu pun dari mereka memiliki prestasi yang berarti. Dan orang-orang Yahudi melihat semua itu dan berkata, “Tunggu dulu, ini tidak mungkin Mesias. Karena Mesias tidak akan datang dengan cara seperti ini.” Ini tidak sesuai dengan profil Mesias yang sudah sangat dikembangkan selama berabad-abad oleh orang-orang Yahudi—profil kedatangan Mesias yang penuh kemuliaan. Dalam Markus pasal 6, Yesus berada di Nazaret, di kota asal-Nya, di mana semua orang mengenal-Nya. Lalu pada hari Sabat, Dia mulai mengajar di rumah ibadat, dan orang-orang takjub dengan apa yang Dia katakan. Mereka berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hal-hal itu?” Atau bisa juga dibuat penekanannya seperti ini: “Dari mana orang ini—si orang yang tidak penting ini, si cabang pengisap ini, si akar kering ini—memperoleh semua itu? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya? Bagaimanakah mukjizat-mukjizat yang demikian dapat diadakan oleh tangan-Nya?”

Mereka mengakui hikmat-Nya. Mereka mengakui ajaran-ajaran yang Dia sampaikan. Mereka mengakui mukjizat-mukjizat yang Dia lakukan. Tapi kemudian mereka berkata, “Bukankah Dia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Bukankah saudara-saudara perempuan-Nya ada di sini bersama kita?” Dan mereka tersinggung karena Dia. Mereka tersinggung terhadap setiap klaim yang pernah Dia buat bahwa Dia adalah Mesias mereka, meskipun mereka telah melihat kuasa dan mukjizat-mukjizat yang Dia lakukan. Jadi, mereka memandang rendah asal-usul-Nya, memandang hina awal mula-Nya. Yang kedua, mereka juga memandang hina kehidupan-Nya—apa yang Dia jalani dan sebagai apa Dia saat itu. Dia memiliki masa dewasa yang dipandang hina. Dia menjalani kehidupan yang dianggap hina. Kembali ke ayat 2: “Ia tidak tampan atau tampak mulia untuk dipandang, dan tidak punya rupa yang membuat kita menginginkannya.” Tidak ada keagungan, tidak ada penampilan megah, tidak ada daya tarik luar yang membuat orang tertarik kepada-Nya. Bagi mereka, hidup-Nya tak mengesankan, penampilan-Nya biasa saja, tidak layak untuk dihormati apalagi diikuti.

Mereka sangat mementingkan penampilan luar—itulah sebabnya mereka memilih Saul sebagai raja pertama mereka, bukan? Dia lebih tampan dari siapa pun dan lebih tinggi. Sepertinya itu masih menjadi formula sukses sampai sekarang. Tapi dengan Yesus… tunggu dulu, mungkin Dia tidak cukup tinggi, tidak cukup tampan, tidak cukup berwibawa, tidak cukup megah. Lagi-lagi, tidak banyak kemajuan sejak 1 Samuel pasal 9, saat mereka memilih Saul. Tidak ada kesan kerajaan dari Yesus. Tidak ada sesuatu yang megah, tidak ada keagungan, tidak ada hal yang “tinggi” secara duniawi dari diri-Nya. Bahkan pemikiran bahwa Dia adalah seorang raja terdengar sangat aneh dan menjijikkan bagi mereka. Mereka begitu membenci klaim itu, hingga ketika Pilatus—yang saat itu sudah di ujung tanduk setelah terus ditekan dan dimanipulasi oleh orang-orang Yahudi dalam kasus Yesus—akhirnya menyerah. Mereka mengancam bahwa jika Pilatus tidak menyalibkan Yesus, mereka akan melaporkannya kepada Kaisar, dan Pilatus tahu, dia tidak akan selamat bila ada satu laporan buruk lagi kepada Roma.

Mereka memeras Pilatus. Dan sebagai balas dendamnya—pelampiasan amarahnya terhadap orang-orang Yahudi—Pilatus menuliskan di atas salib Yesus: “Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi.” Itu adalah bentuk balas dendam Pilatus karena dia tahu bahwa klaim itu adalah hal yang paling membuat mereka muak. Meskipun Yesus menunjukkan kuasa ilahi, hikmat ilahi, kebenaran ilahi, kasih karunia ilahi, dan kekudusan, mereka tidak melihat apa pun yang mulia atau berwibawa dalam diri-Nya. Tidak ada daya tarik kerajaan pada-Nya. Mereka menghina asal-usul-Nya dari awal. Mereka menghina hidup-Nya di tengah perjalanan-Nya.

Dan yang ketiga, Dia memiliki akhir yang hina. Untuk itu, lihatlah ayat 3: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan biasa menderita kesakitan. Orang pun menutup muka ketika melihat dia; demikianlah ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan.” Akhir hidup-Nya terlihat jelas di dua baris pertama ayat ini. Mereka bukan hanya merendahkan asal-usul dan kehidupan-Nya, tapi terlebih lagi, mereka menghina kematian-Nya. Ingat, mereka ini tidak berpikir bahwa mereka membutuhkan seseorang untuk mati bagi dosa-dosa mereka. Mereka percaya pada kebenaran diri sendiri. Mereka berpikir bisa menyenangkan Allah dengan menjadi orang baik, religius, dan melakukan banyak perbuatan. Lalu datanglah Dia—yang mengaku sebagai Mesias dan Raja—tapi bukan dengan kemenangan. Bukannya mengakhiri perjalanan-Nya dengan kemuliaan, keagungan, kemenangan, dan pengangkatan, Dia malah dihinakan dan ditinggalkan manusia. Semuanya berakhir dalam kesedihan dan penderitaan.

Mereka seharusnya bisa melihat kematian Yesus, dengan segala kengerian dan penderitaannya, dan berkata, “Inilah kurban yang selama ini kita nantikan. Inilah kurban yang digambarkan ketika Abraham menemukan domba jantan di semak-semak sebagai pengganti anaknya, menarik kembali pisaunya untuk tidak membunuh Ishak, dan membunuh domba itu sebagai gantinya. Inilah penggenapan dari penyembelihan Anak Domba Paskah, dan penempatan darah di ambang pintu dan tiang pintu, sehingga luput dari murka Allah karena seekor anak domba telah dikorbankan. Inilah… inilah kurban yang terakhir, satu-satunya kurban sejati yang menyelamatkan, yang telah dilambangkan dalam jutaan kurban yang mereka persembahkan hari demi hari sepanjang sejarah mereka—ketika hewan-hewan disembelih sepanjang zaman mereka.”

Mereka seharusnya bisa menyadarinya. Tapi mereka tidak melihat diri mereka sebagai orang berdosa. Mereka tidak merasa butuh kurban, tidak butuh penebusan, dan tidak butuh Juruselamat. Jadi, ketika mereka melihat Mesias yang mengaku diri-Nya sendiri itu sebagai Pribadi yang penuh penderitaan dan kesedihan, dan ketika hidup-Nya berakhir dengan cara yang hina seperti itu, bagi mereka itu menjijikkan. Mereka menolak Dia saat itu, dan karena itulah mereka tetap menolak Dia sekarang. Mereka menolak Yesus karena mereka memang telah menolak Yesus. Dia dihina—kata yang sangat kuat—artinya diperlakukan dengan penuh penghinaan. Mereka memperlakukan-Nya dengan penghinaan…dan mereka masih melakukannya. Sampai hari ini. Nama Yesus dalam bahasa Ibrani adalah Yeshua. Tapi, para rabi selama bertahun-tahun telah mengubah nama itu dengan menghapus huruf akhir -a, dan menyebut-Nya Yeshu. Yeshu adalah sebuah akronim yang berarti: "Biarlah Nama dan Ingatannya Dihapuskan." Ini adalah cara rabinik masa kini untuk mengatakan hal yang sama seperti yang diteriakkan oleh massa saat penyaliban terjadi: “Kami tidak mau orang ini memerintah atas kami.”

Dia disebut oleh para rabi sebagai "Sang Pelanggar" (The Transgressor). Dia juga disebut "HaTolui"—yang berarti "Yang Digantung." Dalam hukum Taurat tertulis, "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib." Mungkin salah satu hal yang paling menyedihkan dan menghujat adalah identifikasi Yesus dengan tokoh ben Stada dan ben Pandira—yang menjadi sebuah hujatan terang-terangan. Menurut para rabi, kisah sebenarnya tentang Yesus—yang mereka sebut Yeshu—bukanlah seperti yang diberitakan dalam Injil, melainkan kisah seorang pria bernama ben Pandira dan seorang wanita bernama Miriam ben Stada. Ben Pandira dikatakan sebagai ayah-Nya, dan ben Stada adalah ibunya. Ibunya—dalam versi mereka—adalah seorang wanita bernama Miriam ben Stada, seorang penata rambut yang menjalin hubungan gelap dengan Yosef ben Pandira, seorang tentara bayaran Romawi. Dari hubungan inilah lahir Yeshu. Jadi, menurut mereka, Yesus adalah anak haram dari seorang penata rambut dan serdadu Romawi. Lalu mereka menambahkan bahwa Yeshu (Yesus) pergi ke Mesir untuk mempelajari ilmu-ilmu sihir dan kemudian menyesatkan banyak orang. Itu semua tertulis di Talmud.

Para rabi menyebut Injil-Nya bukan "evangel" (kabar baik), tetapi "avon-gillajon", seolah tulisan seorang penginjil yang menceritakan kisah yang benar, namun arti dari istilah itu adalah tulisan yang berdosa. Mereka memiliki penghinaan terhadap Yesus yang diwariskan dari generasi ke generasi, dalam berbagai tingkatan, tentu saja, Dia akhirnya dihina. Hal ini dikatakan di awal ayat 3, dan dikatakan lagi di akhir ayat 3, dua kali. Dia dihina. Dan ini terus berlanjut. Lalu dikatakan bahwa Dia ditinggalkan orang. Saya ingin Anda memperhatikan hal itu. Ini mungkin tidak sesederhana kelihatannya. Ditinggalkan orang di sini bukan dalam arti umum, yaitu ben adam, ben adam. Kata itu berarti manusia pada umumnya. Tapi yang digunakan di sini adalah ben ish. Itu berarti para tuan, penguasa, pemimpin, orang-orang terkemuka. Jadi, apa yang dikatakan oleh orang banyak? Lihat, asal-usul yang hina, hidup yang hina, akhir yang hina, dan tidak ada satu pun orang penting yang mengakui Dia. Kami melihat kepada para pemimpin kami—dan merekalah yang berteriak menuntut darah-Nya.

Dalam Yohanes 7, ada sebuah kesaksian penting yang menunjukkan hal ini. Di Yohanes 7, Anda bisa mulai dari ayat 45: “Kemudian penjaga-penjaga itu kembali kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu, "Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!" Lalu jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, "Apakah kamu juga disesatkan?” Perhatikan ini. Yohanes 7:48: “Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?” Tidak ada satu pun orang penting yang percaya kepada-Nya.

Jadi ketika orang-orang Yahudi kelak melihat kembali dari masa depan, mereka akan berkata, “Lihatlah, kami melihat awal hidup-Nya, pertengahan hidup-Nya, akhir hidup-Nya, dan tidak ada apa pun di dalamnya yang membuat Dia menarik, dan itu tidak sesuai dengan gambaran kami. Lalu kematian-Nya begitu mengerikan, Dia ditolak, dihina, tidak ada orang penting yang membela-Nya. Apa yang seharusnya kami lakukan? Kami hanya mengikuti para pemimpin kami.” Tidak ada satu pun dari kalangan elit yang dekat dengan-Nya, tidak ada yang mendukung-Nya, dan tidak ada yang percaya kepada-Nya. Beberapa orang yang seharusnya percaya kepada-Nya justru mundur karena harga yang harus dibayar terlalu tinggi. Dan hanya ada beberapa murid rahasia yang muncul belakangan. Namun orang-orang yang berpangkat tidak terkesan. Tokoh-tokoh utama bangsanya—mereka yang berdiri tinggi di atas orang banyak. Dan memang itu adalah sebuah hierarki—sebuah struktur kekuasaan yang kaku dan tegas—dimana rakyat berada jauh di bawah, dan para pemimpin memiliki kuasa dan wewenang. Dan para tokoh besar itu menjauh dari-Nya. Dia tidak memiliki satu pun orang terpandang di pihak-Nya.

Dan itu masih berlaku hingga hari ini di dunia. Masih tetap berlaku. Karya dan kuasa Yesus dianggap berasal dari Setan; para pemimpinlah yang mengatakan bahwa Dia melakukan segala sesuatu dengan kuasa neraka, Beelzebul, roh-roh jahat. Mereka pun menganiaya dan membunuh para pengikut-Nya. Mereka menyebut para rasul sebagai orang murtad dan mengatakan bahwa mereka lebih buruk daripada orang kafir. Dan pada tahun-tahun awal, berkembang sebuah doa yang berbunyi seperti ini: “Semoga para pengikut Yesus dibinasakan secara tiba-tiba tanpa harapan dan dihapuskan dari kitab kehidupan.” Begitulah dalamnya penolakan dan penghinaan terhadap-Nya. Dan Dia pun berakhir sebagai manusia yang penuh kesengsaraan (ayat 3), dan akrab dengan penderitaan. Jika Anda melihat kehidupan-Nya, tampaknya begitu menyedihkan. Kehidupan seperti itu tidak mungkin Mesias.

Alih-alih menimpakan penderitaan, alih-alih menimbulkan kesedihan kepada musuh-musuh Israel dan bangsa-bangsa, seperti yang dikatakan para nabi bahwa Dia akan melakukannya, Dia justru adalah seorang yang penuh kesedihan, dimana secara harfiah berarti penderitaan—tapi bukan penderitaan lahiriah. Dalam bahasa Ibrani, kata itu menunjuk pada kesedihan hati dalam segala bentuknya. Lalu dikatakan bahwa Dia terbiasa dengan kesakitan, yaitu kesedihan jiwa. Dia adalah pribadi yang sedih. Dia sedih di dalam batin-Nya. Anda bisa melihatnya seperti ini: mereka menganggap Dia menyedihkan… sangat menyedihkan, dalam duka yang mendalam. Dia menangis, Dia meratap—dan tidak ada satu pun catatan dalam Perjanjian Baru yang menyebutkan bahwa Dia pernah tertawa. Jadi, di mana pemimpin besar mereka, yang penuh kemenangan, berjaya, penuh sukacita, gairah, dan semangat?

Siapakah orang ini, yang patah hati, menangis, sedih, dan menderita? Dan tentu saja, di atas semua itu, ada penderitaan fisik yang nyata. Dan penderitaan itu begitu buruknya, sehingga ayat 3 mengatakan bahwa Dia seperti orang yang darinya orang menyembunyikan wajah mereka. Saat Dia sampai di kayu salib, penampilan-Nya telah rusak lebih dari siapa pun, seperti dikatakan dalam pasal 52 ayat 14. Sebuah mahkota duri dihancurkan di atas kepala-Nya, darah mengalir di tubuh-Nya, lalat mengerubungi tubuh telanjang-Nya yang tergantung di bawah terik matahari di atas salib, paku menembus tangan-Nya, bekas cambukan dan pukulan membekas di tubuh-Nya, ludah mengering di wajah dan tubuh-Nya, dan ada sejumlah memar akibat pukulan di wajah dan hantaman oleh tongkat.

Realitas penderitaan-Nya sama sekali tidak sesuai dengan gambaran tentang seorang Mesias. Ingat, mereka tidak merasa membutuhkan seorang Juruselamat. Dan Yesus berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kalian, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar kepada pertobatan." Dia benar-benar tidak dapat diterima. Maka Dia menjadi seperti seseorang yang darinya orang-orang menyembunyikan wajah mereka—seseorang yang begitu mengerikan, begitu cacat, begitu buruk rupa, begitu menjijikkan, sehingga Anda bahkan tidak mau menoleh untuk melihatnya. Terlalu memalukan, terlalu memuakkan, terlalu menyakitkan, terlalu mengerikan, terlalu tak terlupakan. Anda tidak ingin gambaran itu ada di hadapan Anda. Itulah sikap Israel yang terus berlanjut terhadap Yesus. Dia tampak menjijikkan bagi mereka sebagai seorang Mesias—sangat hina.

Jadi, di akhir ayat 3 dikatakan, “Ia dihina dan bagi kita ia tidak masuk hitungan.” Frasa terakhir itu— bagi kita ia tidak masuk hitungan —terdengar sangat ringan dalam bahasa Inggris, namun maksud sebenarnya adalah: kami menganggap Dia bukan siapa-siapa, kami menganggap Dia tidak ada. Itulah bentuk penghinaan paling dalam—Dia adalah bukan siapa-siapa bagi kami. Itulah pandangan historis orang Yahudi terhadap Yesus. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa banyak orang Yahudi, satu per satu, yang datang kepada Kristus sepanjang zaman gereja ini, dan melihat Dia sebagaimana Dia sebenarnya. Dan bukankah ini kabar baik, bahwa suatu hari nanti bangsa itu akan berbalik dan melihat Dia, lalu mengucapkan pengakuan ini? Saya tahu ada sebagian orang yang mungkin berkata, “Bukankah ini terdengar seperti anti-Yahudi?” Tidak, ini bukan pengakuan dari bangsa-bangsa lain—ini adalah pengakuan dari orang-orang Yahudi di masa depan, ketika mereka melihat ke belakang dan menyadari apa yang telah mereka lakukan.

Ini bukan penilaian orang non-Yahudi terhadap ketidakpercayaan orang Yahudi—ini adalah penilaian dari orang Yahudi sendiri. Ini adalah pertobatan. Ini adalah kata-kata yang akan diucapkan oleh bangsa itu dalam pengakuan yang hancur hati atas dosa paling mengerikan yang bisa dibayangkan, yaitu menolak Kristus. Dan ini adalah kata-kata yang juga perlu Anda ucapkan jika Anda telah menolak Yesus Kristus. Anda perlu mengatakan kata-kata yang sama sekarang, entah Anda orang Yahudi atau bukan, siapa pun Anda, supaya sumber pengampunan dan penyucian dapat dibukakan bagi Anda. Sampai tiba waktunya mereka percaya kelak—mungkin dalam waktu dekat—kita ingin mengatakan ini: Roma 1:16, “Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.”

Saya ingin menutup dalam satu atau dua menit terakhir dengan mengajak Anda membuka Kisah Para Rasul pasal 3, ayat 17. Ini adalah khotbah Petrus, setelah khotbah di hari Pentakosta, pada saat gereja mula-mula. Sebuah khotbah yang luar biasa. Ayat 13, Petrus berkata: “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia.  Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu”—Barabas. “Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang ini”—yang baru saja mereka sembuhkan—“ yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua.” Dia berkata, “Kamu telah menolak-Nya. Kamu harus bertanggung jawab atas penolakan dan pembunuhan terhadap Perintis Kehidupan itu.”

Dan kemudian ayat 17, ini sangat penting: “Nah, Saudara-saudara,” ia berbicara kepada orang-orang Yahudi ini sebagai saudara-saudaranya, “aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu.” Aku tahu. “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita.” Ke mana arah pembicaraannya? Sangat mungkin merujuk pada Yesaya 53. “Karena itu sadarlah dan bertobatlah.” Bukankah itu kabar baik? Anda baru saja membunuh Perintis Kehidupan, dan Allah berkata kepada Anda: Sadarlah dan bertobatlah. Dan ketika Anda melakukannya, “dosamu akan dihapuskan.” Itulah yang secara harfiah dikatakan Yesus ketika Ia sedang sekarat di kayu salib: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kalian tidak tahu, kalian melakukannya dalam ketidaktahuan, dalam ketidakpercayaan. Sadarlah, bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Dan kemudian apa yang akan terjadi? Ketika Anda berpaling dan bertobat dan dosa Anda dihapuskan, masa kelegaan akan datang. Itulah Kerajaan Allah. Itulah Kerajaan-Nya.

Karena Dia akan mengutus Yesus, Sang Mesias yang telah ditetapkan bagimu. Itulah Kedatangan-Nya yang Kedua, untuk menegakkan Kerajaan-Nya. Surga harus menerima Dia sekarang, sampai tiba waktunya pemulihan segala sesuatu, seperti yang telah difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus sejak dahulu kala. Itulah Kerajaan Allah—janji dalam Perjanjian Abraham, Perjanjian Daud, yang ditegaskan kembali oleh para nabi: keselamatan dan semua janji kerajaan itu akan digenapi ketika Kristus datang kembali. Kristus akan datang kembali pada waktu pemulihan, waktu pemulihan segala sesuatu, waktu kelegaan—ketika kamu bertobat, ketika kamu bertobat.

Ayat 24 berkata, “Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini,” yaitu zaman Kerajaan. “Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya”—itulah sebutan dari Yesaya 53 untuk-Nya—“dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” Kamu telah membunuh Mesias, tetapi Allah belum selesai denganmu. Hari itu akan datang ketika Dia akan memalingkan kamu dari dosa-dosamu dan mengutus Anak-Nya untuk mendirikan Kerajaan-Nya dan menggenapi janji-Nya. Allah belum selesai dengan Israel. Arahkan perhatian Anda kepada Israel. Keselamatan mereka dijamin oleh janji Allah. Sementara itu, keselamatan terbuka bagi siapa saja yang berseru kepada-Nya.

Bapa, kami datang kepada-Mu sekarang di akhir waktu penyembahan yang luar biasa ini dengan hati yang penuh syukur. Begitu banyak kebenaran dalam pasal ini—benar-benar tak habis-habisnya. Namun bahkan hanya dalam dua ayat saja, kami dapat memahami sejarah dengan cara yang baru, pemahaman menyeluruh tentang penolakan terhadap Kristus yang berlangsung berabad-abad dan turun-temurun. Sekarang kami mengerti mengapa hal itu terjadi. Namun kami juga tahu bahwa akan datang suatu hari ketika semua janji yang Engkau berikan kepada Israel akan digenapi pada saat keselamatan mereka, ketika Engkau menjadi Penebus mereka. Kami menantikan hari itu. Tetapi sementara itu, Injil—pesan yang ketika dipercaya menjadi kuasa Allah untuk keselamatan, baik bagi orang Yahudi maupun bukan Yahudi—masih terus diberitakan. Kiranya Engkau berkenan, ya Tuhan, menjangkau dan menarik beberapa jiwa kepada hati-Mu bahkan pada hari ini.

Sementara Anda masih dalam sikap doa, inilah keputusan dari segala keputusan, komitmen dari segala komitmen—ini menyangkut kekekalan Anda. Ini adalah surga, bukan neraka. Untuk menerima apa yang telah Kristus lakukan bagi Anda, Anda membutuhkan seorang Juruselamat. Anda tidak cukup baik. Anda tidak bisa sampai ke sana hanya dengan kebaikan atau agama Anda. Anda akan gagal. Anda membutuhkan seorang Juruselamat. Anda membutuhkan seseorang yang membayar dosa-dosa Anda, dan Anda perlu menerima pembayaran yang telah Dia lakukan, agar Allah menerapkannya atas diri Anda dan dosa-dosa Anda diampuni sepenuhnya saat itu juga, dan Anda dijamin akan masuk surga yang kekal. Betapa luar biasanya pesan ini. Apakah Anda percaya? Apakah Anda percaya cukup untuk menerima Kristus sebagai Tuhan? Itulah pertanyaannya.

Bapa, kami mengucap syukur sekali lagi atas pekerjaan yang akan Engkau lakukan di dalam hati kami, karena Firman-Mu tidak akan kembali dengan sia-sia, tetapi selalu mencapai tujuan yang Engkau kehendaki. Kiranya itulah yang terjadi hari ini, bagi kemuliaan-Mu, kami berdoa dalam nama Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize