Mari kita membuka Firman Tuhan di Roma pasal 8. Pada dasarnya, kita akan melihat dua ayat saja. Tapi, supaya alurnya jelas dalam pikiran kita, saya ingin membacakan tiga ayat, yaitu ayat 28, 29, dan 30, karena ketiganya memang saling berkaitan. Sebenarnya kita sudah cukup banyak membahas ayat 28, dan setidaknya bagian kedua dari ayat 29, tetapi saya ingin membacakannya kembali bagi kita semua.
Roma 8:28–30: “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”
Nah, seperti yang sudah kita pelajari—saya hanya ingin kembali memberikan gambaran besarnya—saya tidak ingin berlama-lama di poin ini, tetapi ini adalah poin yang sangat mendesak untuk disampaikan. Dari apa yang telah kita pelajari, karya Roh Kudus yang penuh anugerah, berkuasa, dan ajaib bagi setiap orang percaya sudah lebih dari cukup untuk mendorong penyembahan yang sepenuh hati, penuh sukacita, dan penuh ucapan syukur. Dan penyembahan adalah prioritas utama bagi orang percaya. Kita, pertama-tama dan terutama, adalah para penyembah. Bapa sedang mencari penyembah-penyembah yang benar, dan menurut rasul Paulus, kitalah orang-orang yang menyembah di dalam Roh. Kita, pertama-tama dan terutama, adalah para penyembah. Objek penyembahan kita adalah Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Secara umum, kita cukup diberitahu untuk menyembah Allah Bapa. Kita memahami sifat-sifat-Nya, kita memahami karya-karya-Nya yang besar dan berkuasa, dan kita merayakannya dalam penyembahan kita, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Kita juga cukup memahami penyembahan kepada Sang Anak Allah. Kita mengerti kehidupan dan pelayanan-Nya. Kita mengerti kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke sorga, pelayanan-Nya sebagai Pengantara, serta kedatangan-Nya kembali. Kita melakukannya dengan baik dalam menyembah Sang Anak. Tapi - setidaknya di dalam gereja Injili - kita belum sepenuhnya memahami pelayanan Roh Kudus. Akibatnya, kita tidak menyembah Roh Kudus sebagaimana seharusnya, dan oleh karena itu, kita pun tidak menyembah Allah Tritunggal dalam ukuran kepenuhan yang layak Dia terima.
Penyembahan kita kepada Roh Kudus—sama seperti penyembahan kita kepada Bapa dan kepada Anak—hanya akan sejati, hanya akan murni, hanya akan tepat, dan hanya akan luas sejauh pengetahuan kita tentang pribadi dan karya Roh Kudus itu sendiri. Dan karena hal ini merupakan masalah yang sangat nyata dan mencolok di dunia Injili saat ini, kita sedang berupaya untuk melihat dengan sungguh-sungguh pelayanan Roh Kudus, yang olehnya Dia layak untuk disembah. Dan sejak awal saya ingin menegaskan bahwa Roh Kudus sama sekali tidak lebih rendah dalam kedaulatan-Nya dibandingkan Anak maupun Bapa. Dia tidak kurang berdaulat, tidak kurang berotoritas, dibandingkan dengan anggota Tritunggal yang lain. Dia harus ditaati sebagaimana Sang Anak dan Bapa ditaati. Dia juga harus dihormati dan kita tunduk kepada-Nya, sama seperti kepada Sang Anak dan kepada Bapa.
Namun, gereja Injili secara umum pada zaman kita telah dirugikan—bahkan “dirampas”—dari pemahaman yang benar tentang Roh Kudus, baik mengenai pribadi-Nya, maupun karya dan pelayanan-Nya. Akibatnya, penyembahan kita kepada Roh Kudus menjadi kacau—atau berlangsung di dalam ketidaktahuan. Gerakan Pentakosta/Karismatik, yang dimulai di awal abad ke-20, telah menghasilkan begitu banyak kesalahpahaman tentang Roh Kudus, begitu banyak penyimpangan dalam menggambarkan Roh Kudus, serta banyak penyalahgunaan dan bahkan penghujatan terhadap nama-Nya yang kudus. Namun, demi alasan persatuan, demi kasih, dan demi penerimaan, gereja Injili telah memutuskan untuk tidak mengoreksi kesalahan yang tersebar luas ini. Ini adalah hal yang sangat serius untuk dihindari. Semua ini perlu dikoreksi; semua ini perlu disingkapkan.
Bagaimanapun juga, apa pun yang dikatakan, dalam gerakan Pentakosta/Karismatik, Roh Kudus dipersepsikan dengan cara tertentu. Dia tidak dipahami sebagai Allah yang berdaulat, bukan sebagai Roh yang berdaulat yang memerintah dan mengarahkan orang percaya, bukan sebagai Pribadi yang kepadanya kita harus tunduk dan yang firman-Nya kita taati. Sebaliknya, Roh Kudus sering kali disajikan bukan sebagai pribadi, melainkan hanyalah semacam kuasa, suatu kekuatan metafisik yang melayani orang percaya dan tunduk pada kehendak orang percaya—pada keinginan, hasrat, perkataan, bahkan, saya rasa, pada perintah orang percaya. Keinginan-keinginan pribadi, kemauan pribadi, harapan-harapan pribadi, ambisi pribadi, keinginan akan kesehatan, kekayaan, dan kemakmuran, serta kerinduan akan pengalaman-pengalaman mistis dan perasaan-perasaan esoteris, semuanya dianggap sebagai tindakan Roh Kudus yang pada dasarnya “diaktifkan” oleh tuntutan orang percaya, oleh perkataan orang percaya.
Sebagai contoh, salah satu tokoh yang mungkin paling berpengaruh dalam gerakan Karismatik adalah Benny Hinn. Berikut beberapa kutipan dari Benny Hinn. “Tidak, tidak, jangan pernah sekali pun datang kepada Tuhan dan berkata, ‘Jika itu kehendak-Mu.’” Pernyataan lainnya: “Aktivitas Roh Kudus bergantung pada kata-kata saya. Dia tidak akan bergerak sampai saya mengatakannya.” Dengan kata lain, dialah yang berdaulat, dan Roh Kudus dipandang sebagai suatu kekuatan metafisik yang bekerja sebagai respons terhadap perkataannya. Pandangan seperti ini dapat dilihat secara konsisten pada para pengkhotbah “perkataan iman” dan pengakuan positif, hingga kepada Joel Osteen, dan seterusnya. Semua ini dapat ditelusuri kembali ke titik awalnya, yaitu Kenneth Hagin, yang mengambil—atau mencuri—ide-ide ini dari E. W. Kenyon, yang telah memelintirnya dari metafisika Christian Science. Tetapi itulah sikap dasarnya: Roh Kudus hampir tidak dipahami sebagai Pribadi, melainkan hanya sebagai semacam kuasa atau kekuatan.
Benny Hinn bahkan mengatakan bahwa urapan Roh Kudus itu datang ke atas dirinya, khususnya ketika ia mengunjungi makam dua perempuan yang telah meninggal, yang adalah pengkhotbah sesat, yaitu Aimee Semple McPherson dan Kathryn Kuhlman. Ia mengklaim bahwa ketika ia berada di dekat makam mereka, urapan Roh Kudus turun ke atas dirinya. Ia mengatakan bahwa urapan itu begitu kuat atas dirinya sehingga ia bisa melepaskan jasnya, menggosokkan jas itu ke tubuhnya sehingga urapan tersebut berpindah ke dalam jas itu, lalu mengibaskan jas itu ke udara sambil berkata, “Bam, bam, bam,” dan orang-orang dalam audiens yang sangat besar pun semuanya jatuh tersungkur karena ia sedang “mengayunkan” kuasa yang disebutnya Roh Kudus. Inilah yang dimaksud dengan “dibunuh dalam Roh.” Orang-orang jatuh satu per satu; mereka juga jatuh secara berkelompok di bawah kendali kuasa yang sedang dimainkan ini. Bahkan, para penginjil seperti dia digambarkan seolah-olah begitu menguasai Roh Kudus, sampai-sampai mereka bisa menuntut agar Roh Kudus hadir di sebuah gedung pertunjukan tertentu pada pukul 7.30 malam di hari Rabu, dan mereka bisa “melempar-lemparkan” Dia sesuka hati mereka.
Inilah sistem yang palsu. Sekali lagi, ini adalah metafisika—gagasan bahwa Roh Kudus hanyalah suatu kekuatan mistis, dan bahwa ada hukum-hukum tertentu yang bekerja di alam semesta secara metafisik; jika hukum-hukum itu diaktifkan, maka Roh Kudus akan bergerak dalam kuasa. Nama Roh Kudus dipakai untuk memberi legitimasi kepada seorang pengajar palsu. Mungkin memang ada roh-roh yang bekerja di sana, tetapi itu bukan Roh Kudus. Tapi, nama Roh Kudus dipakai karena hal itu membuat si pengkhotbah tampak sah. Itu juga membuatnya terkenal, lalu membuatnya kaya. Dia yang dihormati, sementara Roh Kudus justru dinodai dan direndahkan.
Seberapa seriuskah hal ini? Dalam Keluaran pasal 20 ayat 7, di mana Sepuluh Perintah Allah dinyatakan, salah satu perintah berbunyi: “Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, untuk disalahgunakan.” Ini adalah hal yang sangat berbahaya untuk dilakukan, dan itulah tepatnya yang terjadi dalam perlakuan metafisik terhadap Roh Kudus seperti ini. Ini yang disebut “menyebut nama-Nya dengan sia-sia”. Firman itu berkata, “Sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Saya bukan pengadilan terakhir atas apa yang akan terjadi pada orang-orang ini—Allah-lah Hakimnya—dan mereka tidak akan luput dari hukuman. Seseorang hanya bisa berharap bahwa hukuman itu datang lebih cepat daripada terlambat, demi kebaikan orang-orang yang telah disesatkan.
Alkitab menyandangkan kepada Roh Kudus setiap atribut yang juga disandangkan kepada Sang Anak dan kepada Bapa. Dia sepenuhnya adalah Allah, berdaulat atas semua orang percaya. Dia tidak menaati kita, Dia tidak melaksanakan kehendak kita. Dia tidak bertindak sebagai respons terhadap hukum-hukum metafisik tertentu yang kita gerakkan. Dia tidak bergerak berdasarkan pengakuan verbal kita. Dia bukan semacam kuasa netral yang menunggu kita untuk “mengaktifkan”-Nya. Roh Kudus berdaulat atas orang percaya. Kitalah yang harus menaati firman-Nya dan tunduk kepada otoritas-Nya. Kita dipanggil untuk hidup di dalam Roh, berjalan di dalam Roh, menaati Roh, dan terus-menerus dipenuhi oleh Roh Kudus. Dialah otoritas Allah yang bekerja di dalam kita dan berkuasa atas kita.
Dan kita telah mempelajari pelayanan Roh Kudus yang sejati dalam Roma pasal 8, jadi mari kita kembali ke sana sekarang. Di bagian ini, kita sedang belajar tentang unsur-unsur karya anugerah-Nya di dalam kehidupan orang percaya. Kita bisa merangkumnya dengan cara berikut—dan saya rasa gambaran besar seperti ini penting untuk dipahami. Bapa memprakarsai rencana keselamatan sejak kekekalan yang lampau. Bapa yang memulai rencana keselamatan itu, Anak yang mengesahkannya melalui salib dan menunjukkannya melalui kehidupan-Nya. Dia memperlihatkan seperti apa kemanusiaan yang sempurna itu. Dia menunjukkan seperti apa rupa seseorang yang diselamatkan, yang sepenuhnya dikuduskan, dan bahkan dimuliakan.
Jadi, Bapa yang memprakarsai rencana keselamatan ini. Sang Anak mengesahkannya melalui salib dan menunjukkannya melalui kehidupan-Nya. Namun, Roh Kuduslah yang mengaktifkannya. Bukan kita yang mengaktifkan Roh Kudus; justru Roh Kuduslah yang mengaktifkan karya Allah di dalam kita—dan itu mencakup semuanya. Roh Kuduslah yang menuntun kita kepada pertobatan. Dialah yang menginsafkan kita akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Roh Kuduslah yang melahirkan kita kembali, yang memberi kita hidup dan pengertian sehingga kita dapat percaya. Karena itu, Roh Kuduslah yang baik menginsafkan kita akan dosa maupun yang memperbarui kita. Selanjutnya, Roh Kuduslah yang menguduskan kita. Roh Kudus juga yang memeteraikan dan menjamin kita—artinya, menjamin kemuliaan kita di masa depan. Dan pada akhirnya, Roh Kuduslah yang memuliakan kita. Dia akan membangkitkan kita oleh kuasa Roh, sama seperti Dia telah membangkitkan Yesus.
Jadi, seluruh karya keselamatan—seluruh pengaktifan dari karya keselamatan yang dimulai oleh Allah, yang disahkan dan ditunjukkan oleh Kristus—pada akhirnya dikerjakan dan diaktifkan oleh Roh Kudus. Cara lain untuk mengatakannya adalah: Bapa merencanakan untuk menyelamatkan suatu umat pilihan, Sang Anak menyediakan korban untuk memungkinkan keselamatan itu, dan Roh Kudus yang menghasilkan keselamatan tersebut. Dialah yang membawa kita kepada keyakinan, kelahiran baru, dan pengudusan, dan yang suatu hari nanti akan memuliakan kita. Dengan demikian, Roh Kudus melahirkan kembali, menguduskan, memeteraikan, dan memuliakan orang percaya. Inilah karya-Nya yang sejati.
Nah, kita telah melihat karya Roh Kudus dalam pasal yang sedang kita pelajari ini, dan kini kita sampai pada bagian ayat 28–30. Sejak kita membahas ayat 17, kita telah menyoroti satu karya khusus dari Roh Kudus, yaitu karya-Nya dalam memelihara dan menjamin kita. Kita telah membahas karya-Nya dalam melahirkan kita kembali. Kita juga telah membahas karya-Nya dalam menguduskan kita—memisahkan kita dari dosa dan maut, memampukan kita untuk menggenapi hukum Taurat, mengubah natur kita, membuat kita hidup dalam kebenaran, mengadopsi kita ke dalam keluarga Allah dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Semua ini adalah unsur-unsur pengudusan, identitas baru, dan kesatuan kita dengan Kristus.
Sekarang kita sedang melihat karya terakhir yang dipaparkan bagi kita, yaitu karya Roh Kudus dalam menjamin dan mengamankan kemuliaan kekal kita. Karya ini dibentangkan mulai dari ayat 17 sampai ayat 30. Di bagian ini, kita melihat pelayanan Roh Allah yang olehnya Dia menjamin keselamatan kekal kita, tempat kita di surga. Itulah sebabnya saya tadi sengaja membacakan dari 1 Petrus, untuk mengingatkan kita bahwa kita telah dijamin menuju warisan masa depan kita yang telah disediakan bagi kita. Warisan itu dijaga oleh kuasa Allah, yaitu Roh Kudus. Warisan itu ada di sana menanti kita—tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu—tersimpan bagi kita. Dan kita pun dijaga, sehingga suatu hari kita pasti akan sampai ke sana. Itulah karya pemeliharaan dan penjaminan Roh Kudus. Karena itu Dia disebut Roh perjanjian—atau Roh janji. Dialah jaminan, uang muka, cincin pertunangan, dan meterai Allah yang akan membawa kita kepada kemuliaan yang terakhir.
Jadi, mulai dari ayat 17, fokus pembahasan beralih dari kelahiran baru dan pengudusan kepada kemuliaan. Di ayat 17, kita mulai berbicara tentang dimuliakan bersama dengan Dia. Di ayat 18, tentang kemuliaan yang akan dinyatakan di dalam kita. Ayat 21 berbicara tentang kemuliaan anak-anak Allah. Seluruh arah pandangan kita mulai tertuju ke masa depan. Di ayat 24, kita masuk ke dalam pengharapan akan kemuliaan itu. Ayat 25 kembali menegaskan pengharapan tersebut. Dan semuanya berpuncak di ayat 30, di mana kita menemukan kata “dimuliakan.” Jadi, tema besar dari ayat 17 sampai ayat 30 adalah kemuliaan kita di masa depan, dengan penekanan khusus pada karya Roh Kudus yang menjamin kita menuju kemuliaan tersebut.
Dan di sini ditunjukkan bahwa Dia melakukan hal itu dengan cara yang sangat luar biasa, yaitu dalam ayat 26 dan 27. Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dialah Pengantara kita. Dia terus-menerus datang menghadap Bapa dalam suatu komunikasi internal Tritunggal yang tak terkatakan, suatu persekutuan tanpa kata-kata. Roh Kudus berbicara kepada Bapa tanpa kata-kata—terlalu dalam dan terlalu agung untuk diungkapkan dengan bahasa manusia. Bahasa manusia justru akan membatasi persekutuan ini. Karena itu, Roh Kudus berkomunikasi tanpa kata-kata, bersekutu dengan Bapa dalam keselarasan yang sempurna dengan kehendak Bapa. Ayat 27 mengatakan bahwa Dia berdoa syafaat bagi orang-orang kudus sesuai dengan kehendak Allah, dan Dia yang menyelidiki hati—yaitu Allah—mengetahui pikiran Roh. Jadi, kita melihat rencana Bapa yang dikenal melalui Roh Kudus, Roh Kudus yang berdoa syafaat dalam kerangka rencana tersebut sesuai dengan kehendak Allah, dan melalui pelayanan doa syafaat Roh Kudus yang begitu ajaib inilah, kita dijamin menuju kemuliaan.
Roh Kudus “mengeluh” bagi kita supaya kita mencapai kemuliaan. Ciptaan mengeluh dalam ayat 19 sampai 22. Orang-orang percaya mengeluh dalam ayat 23 sampai 25. Namun, kedua jenis keluhan itu tidak bersifat efektif. Sebaliknya, keluhan Roh Kudus adalah keluhan yang efektif—keluhan yang berkuasa—yang menjamin kita sampai kepada kemuliaan yang terakhir. Inilah yang dilakukan Roh Kudus bagi kita. Dan karena pelayanan doa syafaat Roh Allah ini, Bapa sendiri—seperti dikatakan dalam ayat 28—bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kekal kita, karena itulah tujuan-Nya dan karena Dia telah memanggil kita kepada diri-Nya untuk mengasihi Dia selama-lamanya.
Dengan demikian, kita melihat bahwa gambaran besarnya beralih kepada kemuliaan di masa depan, kepada penyataan yang mulia dari anak-anak Allah, yang memang telah Allah rencanakan sejak semula, bukan? Nah, hal ini membawa kita kepada ayat 29 dan 30, suatu ringkasan singkat. Kita sudah membahas tujuan keselamatan dalam ayat 29. Saya hanya akan menyentuhnya secara singkat. Tujuan itu adalah untuk membentuk kita. Ini adalah tujuan sekunder, tujuan sebelum yang terakhir, yaitu supaya kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya. Tujuan sekunder Allah dalam menyelamatkan manusia sepanjang seluruh sejarah penebusan adalah untuk membentuk mereka menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.
Mungkin cara terbaik untuk memahaminya adalah seperti ini: seluruh sejarah penebusan adalah tentang Bapa yang sedang mencari seorang mempelai bagi Anak-Nya. Bapa mengasihi Anak, Dia mengasihi Anak-Nya dengan kasih yang sempurna, dan Dia rindu memberikan kepada Anak-Nya suatu pemberian kasih. Pemberian itu adalah umat manusia yang telah ditebus, yang akan menjadi mempelai yang mengasihi—mempelai yang mengasihi, tunduk, dan penuh sukacita. Karena itu, sepanjang seluruh sejarah penebusan, Bapa terus menarik mempelai itu—terus menarik mempelai itu kepada Anak-Nya. Bahkan ketika kita sampai di surga, Yerusalem Baru disebut Kota Mempelai, yang turun dari surga seperti seorang mempelai yang berhias bagi suaminya. Gereja dipandang sebagai mempelai; orang-orang yang telah ditebus adalah mempelai itu. Bahkan umat Israel yang percaya pada zaman dahulu pun disebut sebagai istri dari Yahweh—yang pada akhirnya menjadi mempelai bagi Sang Anak.
Jadi, Bapa sedang mencari seorang mempelai. Dan ada harga yang harus dibayar oleh Sang Anak, sebagaimana lazimnya pada zaman dahulu. Ketika seseorang mengambil seorang mempelai, ia harus membayar harga bagi mempelai itu. Harga yang harus dibayar oleh Sang Anak adalah nyawa-Nya sendiri. Bukan perak dan emas, seperti yang dikatakan Petrus, melainkan darah yang mahal yang mengalir dalam urat-urat-Nya sendiri, ketika Dia menyerahkan hidup-Nya untuk membayar harga pembelian mempelai yang ingin diberikan Bapa kepada-Nya. Karena itu, surga kelak adalah kumpulan mempelai yang dibawa ke kota mempelai. Ketika mempelai itu telah lengkap, sejarah penebusan akan berakhir, dan seluruh mempelai akan berkumpul mengelilingi Sang Anak. Mereka akan mengasihi Dia, memuja Dia, melayani Dia, dan menyembah Dia. Dan ada satu unsur lagi: mereka akan memantulkan kemuliaan-Nya. Mereka akan menjadi serupa dengan gambar-Nya. Kita sudah membahas hal ini secara rinci, jadi kita tidak akan mengulanginya lagi. Itulah tujuan sekunder. Lalu tujuan yang utama—tujuan yang tertinggi—dinyatakan dalam ayat 29, yaitu supaya Dia, Tuhan Yesus, menjadi yang terutama di antara banyak saudara. Tujuan akhir adalah keutamaan Kristus. Pada akhirnya, Allah akan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Dan di dalam nama-Nya, setiap lutut akan bertelut.
Apakah tujuan dari seluruh sejarah penebusan? Bapa mengasihi Sang Anak, dan Dia berketetapan untuk memberikan kepada Sang Anak seorang mempelai sebagai pemberian kasih—mempelai yang akan melayani Dia, memuja Dia, menyembah Dia, mengasihi Dia, dan memantulkan kemuliaan-Nya. Dalam satu cara, pantulan kemuliaan itu justru terlihat lebih besar karena adanya penebusan. Sebab melalui penebusan itu, dinyatakan sesuatu yang tidak akan pernah terlihat tanpa kejatuhan dan pemulihan manusia, yaitu kasih karunia Allah. Agar Allah dapat menyingkapkan seluruh kekayaan sifat-sifat-Nya yang berkaitan dengan kasih karunia dan belas kasihan, Dia harus menebus orang-orang berdosa yang tidak layak. Itulah tujuan keselamatan. Pada akhirnya, kita akan memberikan segala kemuliaan kepada Kristus. Kita akan melemparkan mahkota-mahkota kita, seperti yang digambarkan dalam Kitab Wahyu, ke kaki-Nya. Kita akan mengakui Dia sebagai Tuhan, sebagai Yang Mahautama. Itulah tujuan keselamatan. Pada akhirnya, Kristus akan menjadi segalanya. Dan Anda tahu bagaimana kisah ini benar-benar berakhir. Setelah mempelai itu dipersembahkan kepada Kristus bagi kemuliaan dan kehormatan-Nya, Kristus akan membawa diri-Nya sendiri dan mempelai itu kembali kepada Bapa dalam suatu tindakan kasih yang saling membalas. Ini adalah sesuatu yang sungguh menggetarkan—bahwa kita boleh dilibatkan di dalam rencana yang sedemikian agung.
Sekarang, bagaimana dengan proses menuju tujuan itu? Itulah tujuan keselamatan. Tujuan sekundernya adalah supaya kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus; tujuan utamanya adalah supaya Dia menjadi Yang Mahautama, Yang ditinggikan. Namun, proses untuk sampai ke sana dijabarkan dengan jelas bagi kita dalam dua ayat ini, yaitu ayat 29 dan 30. Untuk membantu Anda memahami, terkadang Anda mendengar istilah teologi Reformed, atau Doktrin-Doktrin Anugerah, atau Calvinisme, dan Anda bertanya-tanya sebenarnya apa maksudnya. Singkatnya, inilah yang dimaksud—semuanya ada di sini, tepat di bagian ini. Inilah ringkasan terbaik dari Doktrin-Doktrin Anugerah, dari esensi soteriologi Reformed, dari pokok-pokok utama Calvinisme. Inilah intinya, khususnya dalam aspek keselamatan, dan semuanya terikat dalam suatu urutan, dalam suatu proses yang jelas.
Urutannya adalah seperti ini. Ayat 29 berkata: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula.” Lalu kita lanjut ke ayat 30: “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Pengetahuan sebelumnya, penentuan dari semula, panggilan, pembenaran, dan pemuliaan—itulah lima realitas utama yang membentuk tujuan besar Allah dalam keselamatan. Lima hal inilah yang menjadi inti dari karya penebusan Allah.
Sekali lagi, kita dibuat takjub dengan efisiensi kata-kata yang dipakai Roh Kudus untuk merangkum kelima hal ini dalam beberapa kalimat yang singkat. Padahal, jutaan dan jutaan halaman telah ditulis untuk membahas kelima hal ini. Tapi, mari kita melihatnya satu per satu. Mari kita berusaha memahami urutannya—jika kita boleh menyebutnya sebuah proses—karena di dalam pikiran Allah tidak ada proses seperti yang kita pahami; Allah melihat segala sesuatu secara utuh dan tuntas sekaligus. Tetapi bagi kita, ini disajikan sebagai sebuah urutan, dan itulah cara bahasa di sini menyampaikannya kepada kita.
Di manakah keselamatan dimulai? Apa titik awal dari semuanya? Ayat 29 menjawabnya: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula.” “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula.” Bagi sebagian orang, ayat ini menjadi titik “krisis” dalam menerima kedaulatan Allah dalam keselamatan. Mereka berkata, “Oh, inilah kuncinya—Dia telah mengetahui sebelumnya.” Karena Allah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, mereka beranggapan bahwa Dia melihat ke depan, melihat apa yang akan dilakukan manusia berdasarkan kehendak bebas mereka, dan karena Dia sudah tahu apa yang akan mereka lakukan, maka Dia memilih mereka untuk menjadi milik-Nya.
Apakah itu yang dimaksud dengan pengetahuan sebelumnya? Bahwa Allah sekadar melihat apa yang akan terjadi? Nah, izinkan saya menegaskan: memang benar, Allah mengetahui masa depan. Dia mengetahui akhir dari sejak awal. Dia mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi sebelum semuanya itu terjadi—itu benar. Dia memiliki pengetahuan sebelumnya, jika kita mau menyebutnya demikian. Dia memiliki pengetahuan penuh tentang apa yang belum terjadi. Tapi, apakah itu yang sedang dibicarakan di sini? Apakah Allah hanya melihat ke depan kepada manusia-manusia yang sepenuhnya independen lalu berkata, “Yang ini akan percaya dan yang itu tidak akan percaya; karena Aku sudah tahu siapa yang akan percaya, maka merekalah yang akan Kupilih”?
Nah, ada beberapa tanggapan yang perlu disampaikan. Pertama-tama, pemahaman seperti itu akan membuat kata “pilihan” atau “terpilih” menjadi tidak bermakna, karena Allah sebenarnya tidak memilih apa pun. Jika demikian, kita tidak lagi berbicara tentang doktrin pemilihan, melainkan doktrin reaksi. Saya tidak tahu apakah ada yang mau memberitakan doktrin “reaksi ilahi.” Atau mungkin yang sedang diajarkan adalah doktrin kedaulatan manusia. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: dengan kuasa apa orang-orang itu mengatasi kejatuhan mereka? Dengan kuasa apa orang-orang yang Allah “lihat” di masa depan itu—yang katanya memiliki kehendak bebas—mengatasi kerusakan total mereka, kejatuhan mereka, kematian rohani mereka, kebutaan mereka, dan kegelapan mereka? Kemudian Anda juga harus bertanya: jika Allah melihat ke depan dan tahu bahwa orang-orang tertentu tidak akan memilih Injil dan tidak akan percaya, sehingga akhirnya masuk ke dalam kebinasaan, mengapa Dia tetap menciptakan mereka? Karena, pada akhirnya, satu-satunya alasan mengapa orang mengemukakan gagasan bahwa Allah sekadar bereaksi terhadap apa yang Dia ketahui akan terjadi adalah untuk “melepaskan” Allah dari tanggung jawab atas apa yang terjadi. Mereka sedang berusaha menyelamatkan reputasi Allah—seolah-olah Allah harus dibela supaya tidak terlihat bertanggung jawab atas orang-orang yang binasa. Mereka berkata, “Kita tidak bisa menyandangkan hal itu kepada Allah, jadi Allah hanya bereaksi terhadap apa yang manusia lakukan.” Namun, jika demikian, mengapa Allah tetap menciptakan orang-orang yang Dia tahu akan melakukan hal-hal itu? Bahkan, Anda bisa mengajukan pertanyaan yang lebih sulit lagi: mengapa Dia menciptakan manusia yang memiliki potensi untuk melakukan hal itu, kecuali jika Dia memang memiliki suatu tujuan di balik terjadinya semua itu? Pada akhirnya, bagaimanapun cara Anda mencoba menghindarinya, Anda tidak akan pernah benar-benar “membebaskan” Allah dari persoalan ini. Apa yang terjadi berlangsung di dalam rencana dan tujuan-Nya.
Lalu, apa yang dimaksud dengan pengetahuan sebelumnya itu? Apa arti sebenarnya dari istilah tersebut? Kita semua memahami bahwa itu tidak berarti Allah sekadar mengetahui apa yang akan terjadi lalu bereaksi terhadapnya. Kita mengerti hal itu. Mengapa? Karena dalam Yohanes pasal 3, Yesus berkata kepada Nikodemus, “Kamu harus dilahirkan dari atas.” Kamu harus dilahirkan dari atas. Dalam Yohanes pasal 6, Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa.” Dan di akhir pasal itu, ayat 65, Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Kita memahami hal itu. Dengarkan juga Matius pasal 11 ayat 27: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan-Nya.”
Wow. Jadi satu-satunya cara seseorang benar-benar dapat mengenal Allah adalah jika Sang Anak menyatakan Dia kepadanya. Dan satu-satunya cara seseorang benar-benar dapat mengenal Sang Anak adalah jika Bapa menarik dia kepada-Nya. Dan, omong-omong, apakah Anda memperhatikan kata “mengenal” di sana? Inilah kunci pertama. “Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak.” Lalu Anda berkata, “Tunggu dulu. Kita tahu tentang Sang Anak. Kita punya informasi tentang Sang Anak. Malaikat-malaikat kudus memiliki informasi tentang Sang Anak. Roh-roh jahat memiliki informasi tentang Bapa dan Sang Anak. Apa maksudnya tidak seorang pun mengenal Sang Anak selain Bapa dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Sang Anak?” Jelas, kata “mengenal” di sini harus berarti sesuatu yang berbeda dari sekadar memiliki informasi. Benar? Kata itu pasti bermakna lebih dalam daripada sekadar pengetahuan intelektual. Karena malaikat-malaikat kudus, malaikat-malaikat yang jatuh, dan bahkan manusia pun bisa memiliki informasi tentang Bapa dan tentang Sang Anak, tetapi itu bukan “mengenal.” Lalu, apa yang dimaksud dengan “mengenal” itu?
Bagaimana dengan Yohanes pasal 10? Ini adalah bagian yang menggunakan kata yang sama. Ayat 14, Yohanes 10: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa.” Jenis “mengenal” yang bagaimanakah ini? Apakah ketika Yesus berkata, “Aku mengenal domba-domba-Ku,” Dia sedang berkata, “Aku punya informasi tentang mereka,” seolah-olah Dia tidak punya informasi tentang siapa pun yang lain? Dalam Amos 3:2, Allah berkata, “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi.” Hanya Israel yang Kukenal. Apa maksudnya? Bukankah Allah mengetahui segala sesuatu? Tapi Dia berkata, “Hanya Israel yang Kukenal.” Jelas ini adalah sesuatu yang berbeda. Dalam Yohanes 10:26 dikatakan, “Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” Luar biasa. Lalu Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka.” Aku mengenal mereka. Mengenal yang bagaimana? Apa yang sedang kita bicarakan di sini? Lihat Yohanes 17 ayat 25: “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka.” Jenis “mengenal” apakah yang dimaksud di sini?
Izinkan saya memberi sebuah analogi yang menolong. Kejadian pasal 4—tidak perlu dibuka. Dalam bahasa aslinya, Kejadian 4 mengatakan: “Kain mengenal istrinya, lalu perempuan itu mengandung dan melahirkan seorang anak.” Kain “mengenal” istrinya. Dalam bahasa Kitab Suci yang indah, terselubung, dan penuh makna itu, yang dimaksud adalah pengenalan secara jasmani—sebuah hubungan kasih yang intim. Dan itulah yang mengejutkan Maria ketika Gabriel datang dan memberitahunya bahwa ia akan mengandung, sebab ia belum pernah “mengenal” Yusuf. Ia belum pernah mengenalnya. Inilah jenis “pengenalan” yang sedang kita bicarakan. Hosea 13:5 berkata, “Akulah yang mengenal engkau di padang gurun.” Apa maksudnya? “Aku telah menetapkan kasih-Ku kepadamu. Aku menjalin hubungan kasih denganmu di padang gurun.”
Hal yang sama terlihat di banyak bagian Perjanjian Baru. “Pada hari terakhir banyak orang akan berkata kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan, bukankah kami melakukan ini, melakukan itu, dan melakukan yang lain?’” dalam Matius 7. Lalu Yesus berkata, “Enyahlah dari hadapan-Ku, Aku tidak pernah”—apa?—“mengenal kamu.” Apakah maksud-Nya Dia tidak tahu siapa mereka? Tentu saja tidak. Dia tahu siapa mereka. Yang Dia maksud adalah: Aku tidak pernah memiliki hubungan kasih yang intim dengan kamu. Itulah jenis “mengenal” yang sedang kita bicarakan di sini.
Izinkan saya menunjukkan beberapa ayat—mungkin baik jika Anda mencatatnya, karena pertanyaan tentang pengetahuan sebelumnya ini sering sekali muncul. Saya ingin menolong Anda agar dapat menjawabnya, baik dalam pemahaman Anda sendiri maupun ketika menolong orang lain. Dengarkan 1 Korintus 8:3. Sangat sederhana, tetapi mencakup semuanya: “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” Mengerti? Itulah intinya. Garisbawahi ayat itu. Jika seseorang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.
Ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan: kita mengasihi Dia karena apa? Karena Dia lebih dahulu mengasihi kita. Dia lebih dahulu mengasihi kita, lalu kita mengasihi Dia sebagai respons. Dan itu berarti kita “dikenal” oleh-Nya. Ketika Alkitab mengatakan bahwa kita dikenal oleh Allah—Anak berkata, “Aku mengenal Bapa dan Bapa mengenal Aku”—itu berbicara tentang kasih yang intim. Dalam Yohanes 17, Yesus berkata bahwa orang-orang percaya dikenal oleh Bapa dan dikenal oleh-Nya. Itulah kasih yang intim. Jadi, inilah yang dimaksud dengan “mengenal” tersebut. Lalu mengapa disebut pengetahuan sebelumnya? Karena sebelum hubungan kasih itu pernah terjadi, sebelum siapa pun pernah dilahirkan, semuanya sudah ditetapkan. Itulah sebabnya disebut pengetahuan sebelumnya. Itulah penetapan sebelumnya—ditentukan sebelum semuanya terjadi.
Galatia 4:9 menggambarkan keselamatan dengan cara seperti ini: “Sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik—” dan saya sangat menyukai ungkapan ini—“sesudah kamu dikenal Allah.” Apakah arti diselamatkan? Artinya dikenal oleh Allah. Apa artinya dikenal oleh Allah? Apakah sekadar berarti bahwa Allah tahu kita ada? Bahwa Dia memiliki informasi tentang kita? Tidak. Artinya Dia telah menetapkan dan menjalin suatu hubungan kasih dengan kita. Bahkan dalam Roma pasal 11, pasal yang sangat penting tentang isu pemilihan Allah yang berdaulat, di bagian awal pasal itu—ayat 2—dikatakan: “Allah tidak membuang umat yang telah Ia pilih sejak dulu.” Allah tidak menolak umat-Nya yang telah Dia kenal sebelumnya. Apa artinya itu? Artinya mereka yang telah Dia tentukan sebelumnya untuk dikasihi.
Kembali ke tulisan Musa. Pertanyaannya muncul: mengapa Israel? Mengapa Israel? Seperti yang pernah dikatakan Richard Wolff dengan jenaka, “Betapa anehnya Allah memilih orang Yahudi.” Mengapa Israel? Allah sendiri berkata, “Aku menetapkan kasih-Ku kepadamu bukan karena kamu lebih besar dari bangsa-bangsa lain, melainkan karena Aku memilih untuk mengasihi kamu.” Itu adalah tindakan kasih yang berdaulat, yang telah ditentukan sebelumnya, tanpa dipengaruhi apa pun. Itulah pengetahuan sebelumnya. Kita juga membacanya dalam 1 Petrus: “Sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” Kebenaran yang paling dasar dan realitas awal dalam rencana keselamatan dimulai dengan satu hal ini: suatu penetapan yang berdaulat untuk mengasihi orang-orang tertentu. Dan seperti yang dikatakan Yohanes 13, untuk mengasihi mereka sampai tuntas, sampai sepenuhnya. Itulah pengetahuan sebelumnya—suatu ketetapan untuk mengasihi yang telah ditentukan sebelumnya, ditetapkan sejak semula, dan tentu saja diketahui sejak semula.
Tadi saya memang membaca dari 1 Petrus, tetapi belum membacakan seluruh bagiannya, jadi izinkan saya membacakan kembali 1 Petrus 1:2: “Orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita,” Dengarkan ini. Masih dalam pasal yang sama, ayat 19 dan 20, penulis yang sama mengatakan demikian: “Kamu telah ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan.” Apa arti “dipilih” atau “diketahui sebelumnya” dalam kaitannya dengan Kristus? Apakah Allah sekadar melihat ke depan lalu berkata, “Oh, lihat itu—Dia akan berakhir di kayu salib. Aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu”? Tidak. Mengatakan bahwa Kristus telah “diketahui sebelumnya” sebelum dunia dijadikan, untuk dipersembahkan sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat, berarti Allah telah menentukannya, menetapkannya, dan mengokohkannya sejak semula. Dan Dia telah menyatakan diri-Nya pada zaman akhir ini demi kita. Begitulah cara kerja pengetahuan sebelumnya. Allah menentukannya di masa lalu yang kekal dan itu terjadi pada saat ini.
Satu ilustrasi lain tentang penggunaan istilah ini yang sangat menolong terdapat dalam Kisah Para Rasul 2:23. Di sana Petrus berkhotbah tentang Kristus pada hari Pentakosta. Ia berbicara tentang kematian Kristus dan tentang orang-orang yang menyalibkan Dia. Namun ia mengatakan bahwa Kristus telah diserahkan menurut rencana yang telah ditetapkan dan pengetahuan Allah sebelumnya—diserahkan kepada kamu untuk disalibkan menurut rencana Allah yang telah ditetapkan. Sekarang perhatikan ini baik-baik. Petruslah yang menulis apa yang tadi saya bacakan, dan Petrus pula yang berkhotbah di sini. Petrus memahami arti dari pengetahuan sebelumnya. Kristus ini disalibkan oleh tangan orang-orang fasik dan dibunuh, namun semua itu terjadi menurut rencana yang telah ditetapkan dan pengetahuan Allah sebelumnya. Kata “rencana” di sini adalah boulē. Dalam bahasa Yunani klasik, kata ini dipakai untuk menunjuk pada sebuah keputusan, suatu arah tindakan yang telah ditentukan berdasarkan keputusan tersebut. Kata “ditetapkan” adalah horizō, dari mana kita mendapatkan kata horizon, yaitu garis batas. Sesuatu yang telah ditetapkan berarti batas-batasnya telah ditandai, garis-garisnya telah ditentukan. Allah sendiri, melalui keputusan dan nasihat-Nya, telah menetapkan batas-batas itu. Dialah yang membuat ketetapan tersebut.
Cara lain untuk menerjemahkan kata “ditetapkan sebelumnya” adalah “ditakdirkan.” Jadi, oleh tujuan, rencana, dan keputusan Allah yang telah ditakdirkan—yang telah ditandai batas-batasnya dan ditentukan sebelumnya—semua itu terjadi. Lalu Petrus menambahkan, “dan pengetahuan Allah sebelumnya.” Kata yang dipakai di sini menjadi asal kata prognosis dalam bahasa Inggris. Ini menunjuk pada keputusan Allah yang telah ditetapkan dan ditentukan sejak semula—ditandai batas-batasnya—untuk menyelamatkan, untuk menjalin hubungan kasih dengan orang-orang tertentu. Allah menetapkan kasih-Nya atas mereka, sebagaimana Dia menetapkan kasih-Nya atas Israel, sebelum dunia dijadikan. Itulah pengetahuan sebelumnya. Itu adalah suatu fakta, suatu ketetapan yang sudah mapan.
Sekarang mari kita kembali ke Roma pasal 8. Dan saya memang ingin Anda benar-benar memahami tentang hal pengetahuan sebelumnya ini, karena istilah-istilah yang lain biasanya bisa kita tarik dari pemahaman Alkitab yang sudah sering kita bahas sebelumnya. Roma 8:29 berkata, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula.” Apa arti “ditentukan dari semula” atau predestined? Istilah ini berbicara tentang tujuan akhir, tentang destinasi. Kata Yunani yang dipakai adalah proorizō, yaitu bentuk yang diperkuat dari kata yang berarti “menandai batas.” Ini menunjuk pada tujuan final. Allah telah menetapkan sebelumnya—dan ayat itu mengatakan—bahwa kita akan menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Dia menjadi yang terutama di antara banyak saudara. Jadi, melalui suatu keputusan yang telah ditandai batas-batasnya, ditetapkan sejak semula, dan dikukuhkan dalam kekekalan yang lampau, Allah menentukan lebih dahulu suatu hubungan kasih yang intim dengan orang-orang tertentu. Dia menetapkannya melalui ketetapan-Nya, dan berdasarkan keputusan itu di masa lampau, Dia menentukan masa depan—akhirnya, tujuan finalnya. Dia telah menandai sejak awal bagaimana akhirnya nanti. Nama-nama kita tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba sejak dunia dijadikan. Wahyu 13:8 dan Wahyu 17:8 menyatakan hal itu. Segala sesuatu yang Allah maksudkan untuk dilakukan telah ditentukan sejak awal dan dipredestinasikan sampai kepada akhirnya. Itulah gambaran besar yang kita lihat di sini. Bahkan, dalam Kisah Para Rasul 4:28 kita membaca bahwa Allah melakukan segala sesuatu yang telah ditentukan oleh tangan-Nya dan rencana-Nya untuk terjadi. Apa pun yang Dia tetapkan untuk terjadi, pasti akan terjadi.
Jadi, pengetahuan sebelumnya berbicara tentang pilihan Allah—kita bisa menyebutnya pemilihan. Predestinasi berbicara tentang hasil dari pilihan itu, yaitu tujuan akhirnya. Maka, siapa yang telah Ia kenal sebelumnya, mereka itulah yang Ia tentukan dari semula. Karena itu, kita lanjut ke ayat 30: “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.” Di sini kita masuk ke dalam waktu. Kita masuk ke dalam sejarah manusia. “Mereka yang dipanggil-Nya.” Apa arti “dipanggil” di sini? Kita tidak sedang berbicara tentang panggilan seperti sebuah undangan. Bukan seperti yang sering kita baca dalam Injil: “Banyak yang dipanggil,” lalu orang-orang diundang untuk datang. Bukan jenis panggilan seperti ini yang dimaksud. Ini adalah jenis panggilan yang berbeda. Kita tahu dari ayat 28, dalam konteks yang sama, bahwa panggilan ini terkait dengan tujuan Allah. Ayat 28 berkata bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana-Nya. Di sini kita sedang berbicara tentang apa yang oleh para teolog disebut sebagai panggilan efektif—atau panggilan yang berkuasa. Saya bahkan menyukai istilah klasiknya: panggilan yang tak dapat ditolak. Ini adalah panggilan yang penuh anugerah. Namun, pada saat yang sama, ini adalah panggilan yang sungguh-sungguh efektif. Ini bukan panggilan eksternal. Bukan panggilan yang hanya sampai ke telinga lalu bisa ditolak atau diterima. Ini adalah panggilan internal—dan itulah yang membedakannya dari panggilan yang lain.
Panggilan ini sesungguhnya adalah karya besar Roh Kudus dalam seluruh lingkup kelahiran baru. Inilah panggilan keselamatan dari Allah. Dan begitulah kita sering disebut. Roma 1:7 berkata, “Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus.” “Yang dikasihi Allah, yang dipanggil.” Di situlah semuanya dirangkum. Karena Allah telah menetapkan sebelumnya suatu hubungan kasih dengan Anda, Dia memanggil Anda secara internal, melahirkan Anda kembali—sebuah panggilan yang menyelamatkan, menebus, dan melahirkan kembali.
Perhatikan ini: setiap kali Anda menemukan konsep “panggilan” dalam surat-surat rasuli dan tulisan-tulisan setelah Injil, di mana pun istilah itu muncul, istilah itu selalu merujuk kepada tindakan penyelamatan Roh Allah dalam kelahiran baru. Dan hal itu konsisten di seluruh Perjanjian Baru. Kita disebut sebagai orang-orang yang “dipanggil.” Roma 8:28 adalah salah satu contoh yang sangat jelas: “Mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana-Nya.” Ini adalah panggilan yang terikat dengan rencana-Nya. Rencana-Nya adalah menyelamatkan, dan Dia memanggil untuk menggenapi rencana itu. Bahkan, dalam Perjanjian Baru—dan sampai sekarang—kita disebut gereja. Tahukah Anda arti kata “gereja”? Kata itu berasal dari bahasa Yunani ekklesia, sebuah kata benda yang diturunkan dari kata kerja ekkaleo. Kaleō berarti memanggil, ek berarti keluar. Ekkaleo berarti “memanggil keluar.” Kita disebut gereja karena kita dipanggil keluar—keluar dari dunia, keluar dari maut, keluar dari kegelapan, keluar dari ketidaktahuan. Kita adalah orang-orang yang dipanggil. Inilah anugerah Allah bagi kita, untuk menggenapi tujuan kekal-Nya.
Dengarkan ini—saya rasa sulit untuk menyampaikannya dengan lebih baik daripada apa yang tertulis dalam 2 Timotius pasal 1, ayat 9. Ya, ayat 9: “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus.” Kuasa Allah—dan kuasa itu adalah Roh Kudus—“yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus.” Artinya, ini adalah panggilan menuju kekudusan. Ini adalah suatu transformasi yang nyata. Ini adalah kelahiran baru yang sejati—panggilan kepada kekudusan. Panggilan menuju kekudusan yang sempurna. Panggilan menuju kesempurnaan yang terakhir. Panggilan menuju kemuliaan yang kekal. Dan panggilan ini datang melalui Injil. Itu tidak terjadi terlepas dari Injil. Bukankah Anda tahu hal ini? Iman timbul dari apa? Dari pendengaran akan firman tentang Kristus. Karena itu, orang harus mendengar, harus ada pemberita firman, dan pemberita itu harus diutus. Jadi, panggilan itu datang melalui Injil.
Dengarkan 2 Tesalonika 2:13: “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, Saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan.” Saya sangat menyukai ungkapan itu: “yang dikasihi Tuhan.” Ungkapan ini berkaitan langsung dengan pemilihan Allah. Dia telah menetapkan kasih-Nya atas kita sebelum kita dilahirkan, bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan. Tetapi sekarang kita adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan, karena Allah telah memilih kamu sejak semula untuk memperoleh keselamatan. Lalu ia melanjutkan, “Untuk itulah Ia telah memanggil kamu melalui Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Semuanya ada di sana: Dia memilih Anda, lalu Dia memanggil Anda melalui Injil, dengan tujuan supaya Dia memuliakan Anda. Sekali lagi, ini adalah panggilan yang berdaulat. Ini adalah panggilan yang efektif. Inilah panggilan yang kita kenal sebagai keselamatan. “Dan mereka yang dipanggil-Nya”—kembali ke ayat 30—“mereka itu juga dibenarkan-Nya.”
Dan sekarang kita sampai pada realitas besar yang keempat, yaitu kebenaran agung tentang pembenaran. Apakah pembenaran itu? Pembenaran berarti bahwa kita dinyatakan benar di hadapan Allah. Pembenaran adalah istilah hukum. Allah menyatakan bahwa Dia puas dengan korban Kristus bagi seluruh dosa kita. Karena Allah puas dengan korban itu, maka hukuman telah dibayar lunas; keadilan ilahi telah dipuaskan. Dosa-dosa kita telah ditebus sepenuhnya, diperhitungkan kepada Kristus dalam kematian-Nya. Oleh anugerah, Allah memperhitungkan kebenaran-Nya kepada kita. Dan inilah yang menyebabkan kita dinyatakan benar. Bukan berarti kita menjadi benar di dalam diri kita sendiri, bukan berarti kita memiliki kebenaran yang melekat. Kita tidak memilikinya. Tetapi kita dianugerahkan kebenaran melalui suatu tindakan Allah, di mana Dia menyatakan kita benar berdasarkan korban Kristus yang menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan berdasarkan pengimputasian kebenaran Kristus kepada kita. Allah menutupi kita dengan kebenaran Allah sendiri di dalam Kristus. Kita sudah sangat mengenal kebenaran ini: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Itulah 2 Korintus 5:21.
Jadi, Allah mengetahui sebelumnya dalam arti bahwa Dia menetapkan terlebih dahulu suatu hubungan kasih yang intim dan kekal dengan sekelompok orang tertentu. Dia menentukan dari semula bahwa hubungan itu akan berakhir dalam kemuliaan kekal—semua itu ditetapkan sebelum waktu dimulai. Pada waktu-Nya, Dia memanggil mereka yang telah Dia pilih, dan Dia membenarkan mereka yang Dia panggil. Lalu tibalah tahap yang terakhir—ayat 30—“Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga”—apa?—“dimuliakan-Nya.” Kita semua akan sampai kepada kemuliaan, Saudara-saudara. “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa pun yang datang kepada-Ku tidak akan Kubuang,” kata Yesus. Dia berdoa syafaat bagi kita melawan segala tuduhan. Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita dari dalam diri kita sendiri dan menjamin kita sampai kepada kemuliaan kekal.
Perhatikan satu hal ini. Semua kata kerja dalam ayat tersebut berbentuk lampau. Itu mudah dipahami untuk pengetahuan sebelumnya—“Ia telah mengetahui sebelumnya,” karena itu memang terjadi di masa lampau. Begitu juga dengan penentuan dari semula, karena itu juga terjadi di masa lampau. Tetapi bagaimana dengan “dipanggil”? Bukankah seharusnya dikatakan “akan memanggil”? Bagaimana dengan “dibenarkan”? Bukankah seharusnya “akan membenarkan”? Maksud saya, semua itu belum selesai sepenuhnya. Dan bagaimana dengan “dimuliakan”? Mengapa semuanya dinyatakan dalam bentuk lampau? Di sinilah kita melihat satu nuansa kecil namun sangat indah dalam bahasa Yunani. Seorang penulis menyebutnya sebagai aorist proleptik. Ini adalah kenyataan yang luar biasa dalam Alkitab: penggunaan bentuk lampau untuk menyatakan sesuatu yang begitu pasti, begitu terjamin, sehingga dapat dibicarakan seolah-olah itu sudah terjadi. Kemuliaan Anda sama pastinya dengan predestinasi Anda. Predestinasi terjadi di masa lampau. Pengetahuan sebelumnya juga terjadi di masa lampau. Dan sejauh pandangan Allah, baik panggilan Anda maupun pembenaran Anda pasti akan menghasilkan kemuliaan yang terakhir. Karena kepastian itu, Allah dapat berbicara tentang kemuliaan tersebut seakan-akan semuanya sudah terjadi.
Saya berharap Anda sedang merasakan rasa aman itu. Lalu, apakah karya Roh Kudus itu? Karya Roh Kudus adalah menjamin kita, berdoa syafaat bagi kita, bersaksi di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, memampukan kita untuk menggenapi hukum Allah, hidup dalam kebenaran, berseru “Abba, Bapa,” menikmati status kita sebagai anak-anak-Nya dan keintiman kita dengan Allah, serta menopang kita secara supranatural.
Ketika Anda memikirkan penghiburan dari Roh Kudus, apa yang terlintas di benak Anda? Bagaimanapun juga, Roh Kudus adalah Sang Penghibur, bukan? Yesus berkata, “Apabila Aku pergi, Aku akan mengirimkan Penolong yang lain.” Lalu, dari manakah penghiburan Roh Kudus itu datang? Apakah Anda sedang mencari semacam sensasi? Apakah Anda mengharapkan suatu perasaan tertentu, sehingga ketika sesuatu tidak berjalan baik dalam hidup, Anda berkata, “Di mana Sang Penghibur itu?” Saya memang percaya bahwa Roh Kudus melayani kita dengan kasih karunia pada saat-saat seperti itu. Tapi, penghiburan yang sejati dari Roh Kudus datang dari pengetahuan akan apa yang sedang Dia kerjakan dalam hidup Anda untuk menjamin kemuliaan Anda di masa depan. Apakah itu cukup menghibur bagi Anda? Adakah sesuatu yang lebih berharga daripada mengetahui bahwa kekekalan Anda aman di dalam pemeliharaan Sang Penghibur? Itulah penghiburan terbesar Anda. Tidak ada penghiburan yang dapat menyamainya.
Penghiburan yang lain hanyalah penghiburan sementara, dan saya percaya Roh Allah memang memberikan penghiburan-penghiburan seperti itu. Saya percaya bahwa “menyerahkan segala kekuatiran kepada-Nya karena Dialah yang memelihara kamu” adalah pengalaman nyata yang dialami orang percaya. Saya percaya Roh Allah melayani kita dengan penghiburan. Namun saya juga percaya bahwa penghiburan itu tidak datang begitu saja, seolah-olah tanpa dasar. Itulah sebabnya kita membaca tentang penghiburan dari Firman Tuhan. Ketika kita memahami karya Roh Kudus—yang terhubung dengan karya Sang Anak dan selaras dengan kehendak Bapa—di situlah penghiburan kita menjadi kokoh dan pasti. Dialah Penghibur kita. Dia menghibur dengan memberi kepastian bahwa kuasa anugerah-Nya akan membawa kita kepada kemuliaan kekal. Saya tidak tahu bagaimana respons Anda terhadap hal ini, tetapi jika menurut Anda ini saja sudah luar biasa, tunggulah sampai kita masuk ke ayat 31 dan bagian selanjutnya dari pasal ini pada kesempatan berikutnya.
Nah, seperti yang sudah kita sampaikan selama beberapa minggu terakhir, saya akan berdoa, lalu kita akan memberi waktu sejenak bagi Anda untuk menanti dengan tenang dan penuh perenungan sementara organ dimainkan beberapa saat, agar semua kebenaran ini benar-benar meresap ke dalam hati kita. Tapi, saya juga ingin menyampaikan bahwa ruang doa kami terbuka di sebelah kanan saya. Kami dengan senang hati ingin melayani Anda di sana. Pusat tamu tersedia di luar, dan pusat anggota—bagi Anda yang tertarik dengan baptisan atau keanggotaan gereja—juga terbuka. Jika Anda memiliki kebutuhan rohani apa pun: keselamatan, ingin didoakan, membutuhkan seseorang untuk berdoa bersama Anda, atau memerlukan nasihat dan pertolongan rohani, mohon jangan ragu. Kami ada di sini untuk melayani Anda dalam hal-hal itu. Terutama, jika Anda belum yakin bahwa Anda memiliki Roh Kudus, belum yakin bahwa Anda berada di jalan menuju surga, kami sangat rindu untuk berbicara dengan Anda tentang keselamatan. Sekarang mari kita berdoa, lalu Anda dapat merenung sejenak dan membiarkan semua kebenaran ini menetap dan berakar di dalam hati Anda.
Bapa, kami mengucap syukur kepada-Mu atas segala sesuatu yang melampaui kemampuan kami—yang membanjiri kami dengan kemuliaan-kemuliaan besar dari rencana penebusan yang agung ini. Dan yang begitu menggetarkan adalah kenyataan bahwa kami dibawa masuk ke dalamnya bukan karena sesuatu dari diri kami sendiri: bukan karena pilihan kami, bukan karena pencapaian kami, bukan karena jasa kami. Engkaulah yang berketetapan untuk menetapkan kasih-Mu atas kami, mengasihi kami untuk selama-lamanya, dan memberi kami hak istimewa untuk mengenal Engkau secara intim, mengasihi Engkau untuk selama-lamanya, serta dikasihi oleh-Mu dan oleh Anak-Mu. Dan sekarang kami juga dikasihi oleh Roh Kudus—Roh yang mengasihi kami dan mengasihi Engkau sedemikian rupa sehingga Dia menjamin kami untuk selama-lamanya. Terima kasih atas kuasa Firman Allah yang menyampaikan kebenaran-kebenaran ini, yang menjadi penghiburan kami. Kiranya kami bersukacita di dalam penghiburan itu dan melakukan segala yang kami bisa untuk menyatakan sukacita itu dalam hidup ini—bahkan di tengah-tengah pencobaan, bahkan di dalam berbagai-bagai pencobaan, seperti yang kami baca dari Petrus, yang akan kami alami di dunia ini. Tolonglah kami untuk mengasihi kebenaran-kebenaran ini sedemikian rupa sehingga kami rela membagikannya kepada mereka yang belum mengenal penghiburan dari kemuliaan kekal yang hanya dapat ditemukan di dalam iman kepada Kristus. Pakailah kami untuk tujuan itu, kami berdoa di dalam nama Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
