Kita telah menjalani sebuah rangkaian pembahasan tentang Roh Kudus yang lahir dari keprihatinan saya yang mendalam, melihat betapa mengerikannya cara Roh Kudus sering kali tidak dihormati—bahkan dilecehkan—atas nama kekristenan Injili pada masa kini. Gerakan Karismatik, bisa dikatakan, berada di barisan terdepan dalam penyalahgunaan terhadap Roh Kudus: mendukakan-Nya, menghina-Nya, bahkan menghujat-Nya. Dan semua itu tampak berlangsung tanpa kendali dan tanpa henti—sebuah pelecehan yang terus-menerus ditimpakan kepada Roh Kudus. Seperti yang saya sampaikan sejak awal seri ini, dosa yang tidak terampuni yang Yesus sebutkan dalam Injil Matius adalah mengaitkan pekerjaan Roh Kudus dengan pekerjaan Iblis. Dan menurut saya, pada masa kini justru terjadi kebalikannya: pekerjaan Iblis dikaitkan dengan Roh Kudus. Hal ini sangat marak di dunia kita, dan penyalahgunaannya begitu jelas untuk kita semua saksikan.
Pada masa kini, sangat populer untuk mengatakan apa saja tentang Roh Kudus—mengaitkan kepada Roh Kudus apa pun yang diinginkan—demi memperoleh kuasa atas orang lain. Mendukakan dan tidak menghormati Roh Kudus seakan-akan telah menjadi semacam “pertandingan yang terbuka.” Ada juga serangan-serangan terhadap Allah Bapa. Open theism (Teisme terbuka) adalah salah satu serangan teologis itu, yang pada dasarnya mengatakan bahwa Allah tidak mahatahu, bahwa Dia tidak mengetahui segala sesuatu, bahkan tidak mengetahui masa depan. Itu adalah serangan teologis terhadap natur Allah. Ada pula serangan terhadap Allah Anak. Salah satunya adalah apa yang disebut Pauline perspective (Perspektif Paulus), yang menyangkal kematian Kristus yang sungguh-sungguh sebagai korban pendamaian di kayu salib. Pandangan ini menyerang natur Allah—seperti halnya Teisme terbuka —dan menyerang hakikat karya Kristus, serta merupakan serangan terhadap doktrin penebusan, tuduhan, dan pembenaran.
Sejak dulu selalu ada serangan-serangan teologis dari dalam gereja yang diarahkan kepada Allah Bapa dan Allah Anak. Namun serangan terhadap Roh Kudus, meskipun bersifat doktrinal, sering kali tidak tampak sebagai ajaran doktrin. Serangan-serangan itu tidak mudah dikenali sebagai masalah teologi. Mereka hadir dalam bentuk pengalaman—hal-hal yang terus-menerus dikaitkan dengan Roh Kudus. Dan secara tragis, semua itu sebenarnya merupakan serangan terhadap Allah sendiri, Allah yang mulia, yang esa dalam tiga pribadi. Gerakan Karismatik, pada hakikatnya, telah menolak identitas Roh Kudus yang sejati, menolak karya Roh Kudus yang benar dan mulia, lalu menggantikannya dengan ilah yang palsu. Ada “allah” palsu yang disebut sebagai Roh Kudus, padahal ia bukan Roh Kudus yang sejati. Ia adalah ilah buatan manusia di dalam gereja masa kini—seperti anak lembu emas—sebuah penyalahgambaran terhadap Allah Roh Kudus.
Dan gerakan ini dengan bebas mengabaikan kebenaran tentang Roh Kudus, dan dengan kebebasan yang sembrono mendirikan suatu roh berhala di dalam rumah Allah, menghujat Roh Kudus dengan memakai nama-Nya sendiri; dan begitu banyak contoh dari hal ini sehingga orang hampir tidak sanggup mengikutinya, salah satunya adalah sebuah buku baru yang saat ini menjadi buku terlaris dan berada di puncak daftar The New York Times, sebuah buku yang berasal dari dunia Kristen yang berjudul Surga Itu Nyata, yang mengisahkan—katanya—perjalanan seorang anak berusia empat tahun ke surga saat ia menjalani operasi usus buntu, ia dikatakan pergi ke surga lalu kembali lagi; seharusnya kita berpikir bahwa buku seperti itu bahkan tidak layak turun dari rak, apalagi ada orang yang mengambilnya dan membelinya, namun lima juta eksemplar terjual hanya dalam sembilan bulan pertama, lima juta buku yang berisi kisah seorang anak berusia empat tahun tentang apa yang ia lihat di surga ketika ia “berkunjung” ke sana saat menjalani operasi usus buntunya.
Ia berkata bahwa ia melihat Bapa, yang memiliki sayap seperti Gabriel. Ia melihat Yesus, yang bermata biru dan tingginya hanya setengah dari Mikael serta lebih pendek dari Gabriel, tetapi meskipun Dia sangat pendek, Dia lebih berkuasa daripada yang lain dan menunggangi seekor kuda pelangi dimana hanya Dia yang bisa menungganginya. Dia juga melihat Roh Kudus, dan Roh Kudus itu digambarkan sebagai kabut biru transparan yang melayang-layang di sana dan memancarkan kuasa ke arah bumi. Lima juta buku seperti itu terjual dalam sembilan bulan? Dari sinikah kita mendapatkan pandangan kita tentang Roh Kudus, tentang Allah Anak, Allah Bapa, dan tentang surga? Dari sebuah tipuan? Penipuan? Dari seorang anak berusia empat tahun yang imajinasinya—tanpa diragukan lagi—dipicu dan dikembangkan oleh orang tuanya?
Roh Kudus telah diubah menjadi semacam mainan transformer terbaru; Dia bisa menjadi apa saja yang orang inginkan. Dalam bentuk apa pun yang kita mau, apa pun yang membuat kita nyaman, apa pun yang menarik bagi kita, apa pun yang memungkinkan kita memanipulasi orang lain demi kepentingan kita sendiri, semuanya bisa saja kita kaitkan dan kita salahkan pada Roh Kudus. Ini adalah bentuk penghujatan dan penghinaan. Kita telah membahasnya dalam beberapa minggu terakhir—hal seperti ini tidak layak bagi seorang Kristen sejati dan jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan Kitab Suci, entah itu berupa ajaran sesat yang serius tentang Roh Kudus atau pengalaman yang dangkal dan penyajian yang keliru. Bagaimanapun juga, apa pun bentuk penyimpangannya, apa pun ketidakbenarannya, semuanya mendatangkan kehinaan bagi Roh Kudus, yang sesungguhnya layak menerima segala hormat, segala pujian, dan segala kemuliaan.
Jadi, kita berusaha untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang siapa Roh Kudus itu dan apa pelayanan-Nya, supaya kita dapat menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran; dan sebagai titik awal seri ini, secara tekstual, kita telah pergi ke Roma pasal 8, karena itu silakan sekarang membuka Alkitab Saudara di Roma 8. Saya sangat dikuatkan oleh respons terhadap seri ini—Anda telah memberikan tanggapan yang luar biasa bahwa pengajaran ini telah menjadi berkat bagi Anda, bahwa Anda melihat hal-hal dengan cara yang segar dan baru, dan bahwa hal ini sedang mengubah cara Anda memandang Roh Kudus serta cara Anda menyembah-Nya, bahkan cara Anda beribadah secara keseluruhan, yang memang sangat-sangat sentral dalam kehidupan Kristen kita.
Ketika kita sampai pada pasal 8 kitab Roma, tentu kita ingat bahwa kitab Roma berbicara tentang Injil; lima pasal pertama membahas Injil itu sendiri—dua pasal awal berbicara tentang kebutuhan akan Injil, yaitu keberdosaan manusia, lalu mulai dari pasal 3 ayat 21 sampai akhir pasal 5 ayat 21 dibahas keselamatan yang ditawarkan di dalam Kristus untuk menjawab kebutuhan tersebut; jadi ini memang kitab tentang Injil, di mana pasal pembuka memperkenalkan Injil Allah pada ayat 1 sampai 17, kemudian disusul dengan gambaran tentang keberdosaan manusia, lalu solusi yang dinyatakan melalui kematian pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus yang ajaib, sehingga ketika kita sampai pada akhir pasal 5, menjadi sangat jelas bahwa keselamatan adalah oleh anugerah melalui iman kepada Kristus, bukan oleh perbuatan, dan hal itu ditegaskan dengan sangat kuat, sehingga jalan keselamatan pun telah dijabarkan dengan jelas.
Ketika kita masuk ke pasal 6 dalam kitab Roma, pembahasannya mulai beralih pada manfaat-manfaat dari Injil, dan pembahasan itu berlanjut sampai pasal 8 ayat 39. Jadi pasal 6, pasal 7, dan pasal 8 semuanya berbicara tentang manfaat Injil. Secara sangat umum, kita bisa mengatakan begini: pasal 6 dan 7 membahas manfaat Injil dalam sisi negatif, sedangkan pasal 8 membahas manfaatnya dalam sisi positif. Pasal 6 dan 7 disebut “sisi negatif” dalam arti ini—bagian “tidak lagi”: kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, tidak lagi menjadi hamba atau budak dosa, tidak lagi berada di bawah kutuk, tidak lagi mati karena kita telah hidup, dan tidak lagi menjadi korban dari daging kita sendiri. Jadi pasal 6 dan 7 menyajikan aspek-aspek negatif itu—yang sebenarnya berdampak sangat positif—namun diungkapkan dalam bentuk negatif: yaitu kebebasan dari hukum, kebebasan dari dosa, kebebasan dari hukuman, dan kebebasan dari maut.
Ketika kita masuk ke pasal 8, kita mulai melihat aspek-aspek yang positif, dan pekerjaan pengudusan oleh Roh Kudus menjadi tema utama pasal ini. Inilah semua yang Roh Kudus kerjakan di dalam kita, bagi kita, dan bersama kita. Dan kita mendapati bahwa pasal 8 ini bukan sekadar satu teks yang berdiri sendiri, melainkan sebuah titik awal yang membawa kita menjelajahi seluruh Perjanjian Baru untuk menemukan bagian-bagian pembanding yang memperluas apa pun yang dikatakannya. Kita tidak akan melakukan ini secara berlebihan—dan kita berusaha menahan diri untuk menelusuri pasal 8 ini secara runtut—namun demikian, kita tetap melihat betapa luasnya kebenaran-kebenaran tentang Roh Kudus yang dinyatakan di sini, dan bagaimana semuanya dapat dijelaskan lebih lanjut melalui bagian-bagian lain, khususnya dalam Perjanjian Baru.
Jadi, kita sedang melihat bagian tentang manfaat-manfaat yang dibawa oleh keselamatan, dan di sinilah pekerjaan Roh Kudus mulai benar-benar menjadi jelas bagi kita. Bapa merancang rencana itu, Anak membuat rencana itu menjadi mungkin, dan Roh Kudus membuat rencana itu bekerja. Oke? Bapa yang merancangnya, Bapa yang memprakarsai keselamatan, Anak yang mengesahkan keselamatan itu, dan Roh Kudus yang menerapkan realitas keselamatan tersebut. Bapa adalah Pribadi yang memilih kita, Anak adalah Pribadi yang menebus kita, dan Roh Kudus adalah Pribadi yang menguduskan kita. Pemilihan adalah pekerjaan Bapa, pembenaran adalah pekerjaan Anak, dan pengudusan adalah pekerjaan Roh Kudus. Tritunggal terlibat sepenuhnya dalam realitas keselamatan yang begitu ajaib ini.
Jadi, ketika kita masuk ke pasal 8 dan memandang pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya—bagaimana Dia secara positif menguduskan orang percaya—intinya adalah ini: kita sedang bergerak dari anugerah menuju kemuliaan. Oke? Kita tidak lagi berada di bawah penghukuman; itulah yang dinyatakan ayat 1. Kita tidak lagi berada di bawah vonis maut oleh hukum Taurat. Kita telah dilepaskan dari hukum dosa dan maut. Kita telah menerima hidup yang baru, kita telah dilahirkan kembali, kita telah diperanakkan ulang. Sekarang kita mulai mengalami pelayanan Roh Kudus yang penuh kuasa dan terus berlangsung, saat Ia membawa kita dari anugerah menuju kemuliaan. Dan ini sangat penting untuk kita pahami, karena di sinilah kita hidup.
Pemahaman yang benar tentang pelayanan Roh Kudus mutlak diperlukan agar kita dapat menyembah Roh Allah atas hal-hal yang memang sedang Dia kerjakan dalam hidup kita saat ini. Seseorang tidak mungkin menyembah Roh Kudus dengan benar—dan kita memang harus menyembah-Nya—jika kita tidak memahami apa yang sedang Dia lakukan dan apa yang membuat-Nya begitu layak untuk disembah.
Jadi, di dalam pasal 8 inilah kita menemukan hal-hal ini: pada ayat 2 dan 3, Dia membebaskan kita dari dosa dan maut; pada ayat 4, Dia memampukan kita untuk menggenapi hukum Taurat—bukan lagi sisi negatif berupa kebebasan dari kutuk hukum, melainkan sisi positif berupa kemampuan untuk menggenapi hukum itu. Pada ayat 5 sampai 11, Dia mengubah natur kita; pada ayat 12 dan 13, Dia terus-menerus memberi kita kuasa untuk hidup dalam kebenaran; pada ayat 14 sampai 16, Dia meneguhkan pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah. Dan semua itu membawa kita sekarang ke ayat 17, di mana kita menemukan pelayanan Roh Kudus yang terakhir yang dapat diidentifikasi dalam pasal ini: Dia menjamin atau mengamankan kemuliaan kekal kita di masa depan. Dia menjamin atau mengamankan kemuliaan kekal kita di masa depan, dan itulah—tentu saja—karunia Allah yang tertinggi, yaitu keselamatan yang tidak dapat diganggu gugat.
Kita memiliki jaminan akan kemuliaan kekal. Inilah bagian terbaik tentang keselamatan, sebab apakah artinya keselamatan jika itu bisa hilang? Dan seperti yang sering saya katakan, jika keselamatan itu bisa hilang, kita pasti akan kehilangannya. Jika keselamatan itu bergantung pada kita dalam bentuk apa pun, kita pasti akan kehilangannya, karena tidak seorang pun dari kita mampu melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengamankan keselamatan dari Allah berdasarkan jasa kita sendiri. Karena itu, satu-satunya pengharapan kita akan kemuliaan kekal—bagian akhir dari keselamatan kita, pasal terakhirnya—adalah bahwa semuanya diamankan oleh Allah yang sama yang telah memilih kita, memanggil kita, membenarkan kita, dan yang suatu hari nanti akan memuliakan kita.
Maka, Roh Kuduslah yang, sementara Dia menguduskan kita, pada saat yang sama juga mengamankan kita. Jadi kita dapat mengatakan bahwa dua pekerjaan Roh Kudus adalah pengudusan dan kepastian. Sampai ayat 13, kita bisa mengatakan bahwa kita sedang dikuduskan oleh Roh Kudus; mulai ayat 14, ketika kita masuk pada pengangkatan sebagai anak-anak Allah—yang merupakan hubungan yang permanen—dan kita dapat berkata bahwa pekerjaan Roh Kudus adalah mengamankan kita. Dia secara bertahap membentuk kita sesuai dengan standar kebenaran, yang dimodelkan dengan sempurna oleh Yesus—dan kita telah melihat hal itu—dan Dia mengamankan kita, Dia memelihara kita. Itulah yang dimaksud Efesus 1:13 ketika dikatakan bahwa kita dimeteraikan oleh Roh. Meterai itu tidak dapat dipecahkan. Kita memiliki meterai Roh. Kita memiliki jaminan Roh. Kita memiliki garansi Roh. Atau seperti yang dikatakan di ayat 23 di sini, kita memiliki buah sulung Roh; artinya, Allah memberi kita buah sulung sebagai tanda dari panen penuh yang akan datang dalam kemuliaan. Itulah jaminan kita akan kemuliaan di masa depan.
Jadi, Roh Kudus melakukan dua pekerjaan ini di dalam kita: menguduskan kita—yaitu membentuk kita agar serupa dengan Kristus, yang menjadi teladan. Ingat, kita pernah mengatakan bahwa Kristus hidup selama 33 tahun untuk menetapkan teladan seperti apa kehidupan yang dikuduskan itu, teladan yang sedang kita tuju untuk kita serupakan melalui kuasa Roh Kudus. Karena itu, Dia sedang bekerja membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus, suatu proses yang baru akan disempurnakan ketika kita melihat Dia muka dengan muka. Tapi di bagian ini, kita akan melihat bahwa Dia juga mengamankan kita menuju kemuliaan kita di masa depan.
Siapa pun yang mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang, sebenarnya tidak memahami apa itu keselamatan. Siapa pun yang berkata bahwa seseorang bisa memiliki keselamatan lalu kehilangannya, ia tidak mengerti keselamatan. Keselamatan adalah karunia yang diberikan oleh Allah sebelum dunia dijadikan, dan setiap orang—seperti yang akan kita baca sebentar lagi—yang termasuk dalam kategori dipilih oleh Allah pasti akan dimuliakan; sebab mereka yang ditentukan-Nya dari semula, dipanggil-Nya, dan mereka yang dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya, dan mereka yang dibenarkan-Nya, dimuliakan-Nya. Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan Aku tidak akan kehilangan seorang pun dari mereka, tetapi akan membangkitkannya pada hari terakhir,” Yohanes 6. Karena itu, kita berhutang kepada Roh Kudus yang mulia, yang telah melahirkan kita kembali, memberi kita hidup, lalu menguduskan kita dan mengamankan kita sampai hari ketika Dia sendiri mengubah kita. Kita akan dibangkitkan ke dalam keadaan kekal oleh kuasa Roh Kudus yang sama yang telah melahirkan kita kembali pada saat pertobatan kita. Ini adalah pekerjaan yang dirancang oleh Bapa, diteguhkan oleh Anak, dan dikerjakan oleh Roh.
Sekarang perhatikan ayat 17 dan seterusnya. Kita masuk ke bagian tentang pelayanan Roh Kudus yang mengamankan dan menjamin kita, sehingga kita dapat memiliki keyakinan bahwa kita akan mencapai kemuliaan kekal. Izinkan saya membacakannya, mulai dari ayat 17: “Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Dengan kalimat terakhir itu, Paulus memperkenalkan konsep tentang kemuliaan kekal. “Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.”
Semua bagian ini berbicara tentang kemuliaan di masa depan. Pembahasannya dimulai dari pernyataan terakhir ayat 17, yang sudah kita bahas, yaitu dimuliakan bersama dengan Dia. Ayat 18 berbicara tentang kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Ayat 19 berbicara lagi tentang penyingkapan anak-anak Allah dalam kemuliaan. Ayat 21, pada bagian akhirnya, berbicara tentang kemerdekaan dalam kemuliaan anak-anak Allah. Ayat 23 diakhiri dengan pernyataan bahwa kita sedang menantikan penebusan tubuh kita. Ayat 24 dan 25 berbicara tentang pengharapan kita akan kemuliaan yang masih akan datang, yang dengan tekun kita nantikan.
Jadi sekarang kita diperkenalkan pada satu kategori pelayanan Roh Kudus, yaitu pelayanan yang mengamankan kita menuju kemuliaan di masa depan. Ayat 23 menunjukkan bahwa inti dari semuanya ini adalah pemberian Roh Kudus sebagai uang muka atau jaminan awal dari kemuliaan yang akan datang. Kita juga belajar dari ayat 26 dan 27 bahwa Roh Kudus sedang berdoa syafaat bagi kita, yang sekali lagi merupakan bagian dari pekerjaan-Nya untuk mengamankan kita—yaitu doa syafaat yang terus-menerus bagi kita.
Satu kata yang langsung menonjol ketika kita membaca bagian ini adalah bentuk dari kata “mengeluh” atau “mengeluh dengan rintihan.” Ada banyak rintihan dalam bagian ini. Ciptaan sedang mengeluh dalam bagian ini, seperti yang terlihat pada ayat 19; terjemahan ini menyebutnya “kerinduan yang sangat” dari ciptaan, tetapi terjemahan versi Authorized berbicara tentang rintihan ciptaan. Lalu pada ayat 23 kita menemukan bahwa kita sendiri, yang memiliki buah sulung Roh, juga mengeluh. Dan kemudian pada ayat 26 kita melihat rintihan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa ciptaan, kita, dan Roh Kudus sedang melalui rintihan-rintihan tertentu, pergumulan-pergumulan tertentu, sampai terwujudnya kemuliaan yang terakhir. Itulah inti dari seluruh bagian ini. Roh Kudus tinggal di dalam kita sebagai uang muka dari kemuliaan kita di masa depan, dan Roh Kuduslah yang membawa kita sampai kepada kemuliaan itu. Itulah pelayanan-Nya. Tidak ada karunia yang lebih besar yang Allah dapat berikan kepada kita daripada ini. Seperti yang telah saya katakan, apa artinya keselamatan jika itu bisa hilang? Pasti kita akan kehilangannya, karena kita tidak memiliki kuasa di dalam diri kita untuk mengamankan keselamatan kita sendiri dalam arti apa pun.
Jadi, di bagian ini ciptaan mengeluh pada ayat 19 sampai 22, orang percaya mengeluh pada ayat 23 sampai 25, dan Roh Kudus mengeluh pada ayat 26 sampai 27. Dan semua rintihan itu merupakan tanda adanya suatu realitas yang belum tergenapi. Seluruh ciptaan merasakan ketidaktergenapan itu. Orang percaya merasakan ketidaktergenapan itu. Bahkan Roh Kudus yang mulia pun mengalami ketidaktergenapan tersebut. Ini adalah kebenaran yang luar biasa. Begitu banyak hal yang terkandung di sini sehingga terasa berat bagi saya untuk mencoba merangkum semuanya dalam satu pagi, dan memang kita tidak akan mampu melakukannya, tetapi saya akan membawa Anda sejauh yang saya sampaikan kepada jemaat di ibadah pertama—itulah selalu yang menjadi patokan bagi Anda semua.
Mari kita melihat rintihan ciptaan—mari kita perhatikan rintihan ciptaan itu. Ayat 19: “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan.” Ciptaan sedang mengeluh pada ayat 19. Ciptaan disebutkan pada ayat 20. Ciptaan disebutkan lagi pada ayat 21. Dan ciptaan disebutkan lagi pada ayat 22. Jadi, dalam keempat ayat tersebut, ciptaan adalah subjeknya. Ciptaan sedang mengeluh. Apa yang sedang dibicarakan di sini? Dan dalam pengertian apa ciptaan itu mengeluh?
Saya pikir para pembaca—jika mereka orang Yahudi—akan memiliki pemahaman tertentu tentang hal ini. Ini berbicara tentang rintihan penantian, rintihan karena ketidaktergenapan. Ini semacam kondisi penderitaan yang sedang menunggu janji untuk digenapi, dan orang-orang Yahudi pasti mengenalnya, karena mereka berbicara tentang dua zaman dalam sejarah penebusan: zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Ini sangat sederhana. Ada zaman sekarang dan ada zaman yang akan datang. Zaman sekarang adalah zaman dosa, penderitaan, kebinasaan, kerusakan, kejatuhan, dan dosa. Sedangkan zaman yang akan datang adalah zaman langit yang baru dan bumi yang baru, kebenaran, kemurnian, kekudusan, kebajikan, kemuliaan, serta tidak adanya maut, kerusakan, dan penyakit. Itulah yang dinyatakan dalam Yesaya 65:17: “Sebab Aku akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.”
Orang-orang yang mengenal firman Allah dan menantikan penggenapan janji ini memahami apa artinya hidup di dalam dunia yang merintih. Bahkan alam pun digambarkan sedang merintih. Di sini alam dipersonifikasikan. Ayat 19 berkata: “Sebab rintihan”—atau seperti yang diterjemahkan NAS (New American Standard) sebagai “kerinduan yang sangat”—“dari ciptaan dengan sungguh-sungguh menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.”
Nah, ketika kita berbicara tentang “ciptaan” di sini, sebenarnya apa yang dimaksud? Dalam pengertian apa ciptaan itu mengeluh? Dan seperti yang saya katakan, hal ini disebutkan terus sampai ayat 22. Bagian ciptaan yang mana? Apakah malaikat? Mereka memang makhluk ciptaan. Tidak. Mereka tidak mengeluh. Malaikat-malaikat kudus tidak mengeluh karena bagi mereka keadaan tidak akan pernah menjadi lebih baik, bukan? Mereka sudah berada di sekitar takhta Allah, hidup dalam kesempurnaan dan kekudusan yang kekal. Mereka tidak berada di bawah kerusakan dan tidak pernah berada di bawah kerusakan; karena itu, mereka tidak memiliki pengharapan akan sesuatu yang lebih baik, sebab tidak ada keadaan yang bisa lebih baik daripada yang mereka alami sekarang.
Bagaimana dengan roh-roh jahat? Apakah yang dimaksud di sini adalah malaikat ciptaan yang jatuh dan menjadi setan? Tidak. Mereka juga tidak mengeluh dalam pengharapan akan pembebasan, karena bagi mereka tidak ada pembebasan, tidak ada keselamatan, tidak ada kelepasan, tidak ada pengampunan, dan tidak ada masa depan yang lebih baik—yang ada hanyalah lautan api.
Baiklah, mungkin yang dimaksud adalah orang-orang percaya. Tidak, bukan itu, karena di sini dibuat pembedaan yang jelas antara ciptaan dan orang-orang percaya. Perhatikan ayat 19: ciptaan menantikan penyingkapan anak-anak Allah; jadi ciptaan itu berbeda dari anak-anak Allah. Lalu ayat 23 mengatakan bahwa ciptaan ingin dibebaskan dari perbudakannya kepada kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Jadi ciptaan yang mengeluh, merintih, menunggu, dan dengan rindu menantikan itu jelas dibedakan dari orang-orang percaya.
Lalu, apakah yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak percaya? Apakah itu yang dimaksud? Tidak juga, karena orang-orang yang tidak percaya tidak menaruh pengharapan di dalam Kristus, tidak menantikan kemuliaan, tidak berharap atau mengharapkan sesuatu yang lebih baik dari surga. Mereka tidak memiliki pemahaman tentang hal itu dan tidak memiliki kerinduan ke arah sana. Selain itu, jika Anda melihat ayat 20, dikatakan bahwa ciptaan itu ditaklukkan kepada kesia-siaan bukan dengan kehendaknya sendiri. Ini tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak percaya. Mereka adalah orang berdosa yang rela. Mereka dengan sukarela memelihara dan menuruti kerusakan mereka sendiri.
Intinya, ciptaan yang merintih itu bukan bagian dari ciptaan yang rasional—bukan bagian dari ciptaan yang berpribadi dan berakal. Yang tersisa adalah ciptaan yang tidak rasional, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa. Jadi yang kita lihat di sini adalah suatu personifikasi dari ciptaan: langit jasmani, bumi jasmani, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya—langit dengan semua benda di dalamnya, bumi, air, daratan, rumput, bunga, binatang, serangga, ikan, sungai, dan aliran air—segala sesuatu yang termasuk dalam ciptaan yang bernyawa dan tidak bernyawa, yang tidak berpribadi dan tidak berakal. Ciptaan diberi identitas di sini; ia dipersonifikasikan dalam bentuk yang bersifat puitis.
Sebagai contoh, dalam Yesaya 35:1, Yesaya berkata, “Padang gurun dan padang kering akan bergirang.” Bagaimana mungkin padang gurun dan padang kering memiliki kesadaran? Ini jelas personifikasi. Atau lebih jelas lagi dalam kata-kata yang indah dan sangat dikenal dari Yesaya 55:12: “gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.” Dan saya jamin, jika suatu hari Anda benar-benar mendengar gunung bernyanyi dan pohon bertepuk tangan, orang akan membawa Anda pergi dengan jas putih—jadi ini jelas bukan gambaran harfiah, melainkan suatu bentuk personifikasi puitis.
Ciptaan—yang tidak rasional, tidak berpribadi, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, yang mencakup makhluk hidup dan benda mati, batu-batu dan binatang—ciptaan itu digambarkan sedang merindukan dengan sangat, mengharapkan dengan sungguh-sungguh, dan menantikan dengan penuh kerinduan. Itulah rintihan ciptaan. Dan bahasa yang digunakan di sini sangat kuat. Ungkapan “kerinduan yang sangat” itu berasal dari sebuah kata kerja Yunani yang secara harfiah merupakan gabungan yang agak unik; maknanya adalah “mengamati dengan kepala yang terjulur ke depan.” Gambaran ini menyiratkan seseorang yang seakan-akan menjulurkan kepalanya, berdiri berjinjit, memandang ke masa depan, ke kejauhan, kepada sesuatu yang belum bisa dilihat saat ini, sambil menantikan dengan penuh kerinduan apa yang sedang ditunggu.
Jadi ini adalah suatu bentuk pengharapan yang penuh penantian. Seolah-olah ciptaan sedang berdiri berjinjit, memandang ke depan, menantikan sesuatu yang sangat dirindukannya. Dan siapakah yang dinantikannya? Pribadi-pribadi—yaitu penyingkapan anak-anak Allah, tersingkapnya anak-anak Allah. Itulah saat ketika kita semua dimuliakan. Peristiwa itu akan terjadi pada akhir seluruh sejarah manusia, pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, ketika langit yang baru dan bumi yang baru ditegakkan. Ciptaan sedang menantikan saat itu. Pada ayat 21 hal ini dinyatakan demikian: “kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah.” Ketika semua anak Allah dimuliakan, ciptaan pun akan menerima dampaknya, bukan? Karena akan ada langit yang baru dan bumi yang baru.
Jadi, seluruh ciptaan digambarkan seolah-olah berdiri berjinjit, dengan penuh kerinduan memandang dan menantikan penyingkapan anak-anak Allah. Ini adalah pernyataan yang luar biasa—sebuah pernyataan kosmologis dengan skala yang sangat besar—di mana ciptaan yang bernyawa maupun tidak bernyawa digambarkan berdiri berjinjit untuk menangkap kilasan pertama dari pribadi-pribadi yang sangat dirindukannya, menantikan pembukaan, penampakan, penyingkapan anak-anak Allah dalam kemuliaan mereka yang penuh. Dan hal itu pasti akan terjadi. Daniel 12:3 berkata bahwa mereka akan bercahaya seperti bintang-bintang, dan Matius 13:43 berkata bahwa mereka akan bercahaya seperti matahari—suatu kemuliaan yang menyala-nyala. Seluruh ciptaan sedang menantikan peristiwa itu dengan penuh kerinduan.
Mengapa? Mengapa ciptaan melakukan hal itu? Kembali sebentar ke ayat 20. Karena ciptaan telah ditaklukkan kepada kesia-siaan. Ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan—atau kehampaan; kata Yunani mataiotēs berarti tanpa tujuan, kosong, tidak berguna, sia-sia, tidak mampu mencapai sasaran, tidak mampu menggenapi maksudnya. Ciptaan tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya ia inginkan. Padahal seluruh ciptaan pada mulanya adalah baik, bukan? Ketika Allah mencipta dalam Kejadian pasal 1, semuanya baik—Anda ingat? Dia melihat semuanya dan berkata bahwa itu baik. Bahkan pada akhirnya, dalam Kejadian 1:31, Dia berkata bahwa semuanya itu “sungguh amat baik.” Namun kemudian ciptaan itu ditaklukkan kepada kesia-siaan. Ia tidak lagi dapat menggenapi tujuannya. Ia tidak lagi menjadi seperti yang seharusnya, seperti yang semestinya, seperti yang seharusnya bisa terjadi.
Dan perlu dicatat, ketika ayat 20 mengatakan “ditaklukkan,” kata kerja yang dipakai menunjukkan bentuk lampau. Terjemahan NAS menerjemahkannya dengan tepat. Ini menunjuk pada suatu titik waktu tertentu di masa lalu. Ada satu peristiwa yang jelas dalam sejarah, ketika ciptaan beralih dari keadaan yang bertujuan dan sempurna menjadi tidak bertujuan dan sia-sia. Ciptaan ditaklukkan kepada kerusakan, kebinasaan, frustrasi, maut, dan kehancuran.
Nah, apakah kita bisa menyalahkan ciptaan? Apakah ini sekadar karena ada sesuatu yang salah dalam siklus evolusi? Apakah itu yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi?
Kembali lagi ke ayat 20. Dikatakan bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan bukan dengan kehendaknya sendiri—bukan dengan kehendaknya sendiri. Ciptaan tidak bersalah. Apa pun yang menaklukkan ciptaan kepada kehampaan, apa pun yang menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan membuatnya tidak mampu menjadi mulia seperti tujuan awal penciptaannya, itu bukan kesalahan ciptaan. Ciptaan adalah korban yang tidak memiliki pilihan. Ada pihak lain yang melakukan hal itu terhadap ciptaan. Siapa? Teruskan membaca: “bukan dengan kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya.” Siapakah Dia itu? Allah. Allahlah yang menaklukkan ciptaan kepada kesia-siaan. Allah, menurut Kejadian 3:17, 18, dan 19, mengucapkan kutuk atas ciptaan. Mengapa? Karena dosa Adam dan Hawa.
Ketika Adam dan Hawa berdosa, suatu tulah menimpa mereka—tulah yang mematikan, tulah yang begitu menular sehingga tidak ada satu pun manusia yang pernah hidup di planet ini yang dapat luput darinya. Tulah yang begitu menular sehingga tak seorang pun dapat menghindarinya. Keadaannya seperti hidup di tengah sebuah kota yang dilanda Wabah Hitam pada Abad Pertengahan. Tulah itu bukan hanya ada pada orang-orangnya, tetapi juga menguasai seluruh lingkungan mereka. Tulah itu bukan hanya ada pada orang yang terbaring sekarat di dalam rumah, tetapi ada di mana-mana di dalam rumah itu. Bukan hanya di dalam rumah, tetapi juga di jalan-jalan, di seluruh kota, hingga ke pedesaan, dan tidak ada jalan keluar karena lingkungan itu sendiri berada di bawah kerusakan. Demikianlah keadaannya ketika Adam berdosa: tulah itu menyebar ke seluruh planet dan terus berlangsung sampai hari ini. Kerusakan, bencana, pencemaran, kekacauan, kemerosotan—semua itu bukanlah hasil dari suatu kebetulan evolusi atau anomali, atau mutasi buruk seperti yang dikatakan para penganut evolusi, yang mengharapkan segala sesuatu justru semakin membaik. Keadaan dunia seperti sekarang ini adalah karena Allah mengutuk seluruh ciptaan. Dia mengutuknya supaya manusia harus menghadapi, dalam setiap saat di hidupnya, realitas dosa yang mematikan, merusak, dan membinasakan.
Seperti yang dikatakan Yesaya 24:6, “sumpah serapah akan memakan bumi,” dan seperti yang dinyatakan Yeremia 12:4, “negeri ini menjadi kering.” Nasib alam tidak dapat dipisahkan dari nasib manusia; dan karena manusia berdosa serta jatuh ke dalam kondisi yang rusak, maka wilayah kekuasaan manusia pun berada di dalam belenggu atau perbudakan kebinasaan. Lihat ungkapan itu di ayat 21: bahwa ciptaan itu sendiri berada dalam perbudakan kepada kerusakan. Ada keterkaitan yang sangat erat antara dosa manusia dan kebinasaan yang menimpa seluruh alam semesta.
Para pemerhati lingkungan tidak akan mampu membalikkan keadaan ini; mereka tidak akan dapat mengatasinya atau menguranginya. Usaha yang baik, tetapi tidak akan berhasil. Energi surya tidak akan menyelesaikannya. Menghilangkan jejak karbon tidak akan menyelesaikannya. Menghapus bahan bakar fosil tidak akan menyelesaikannya. Pendidikan pun tidak akan menyelesaikannya. Ini adalah kutuk ilahi. Kita bukan sedang bergerak ke arah yang semakin baik; kita sedang bergerak turun dari kesempurnaan. Dengarkan ini: kita sedang bergerak turun dari kesempurnaan menuju kehancuran total, dan tidak ada titik penghentian di antaranya. Inilah pandangan dunia yang alkitabiah, karena ketika manusia berdosa, ia dihukum dengan tidak lagi diizinkan menikmati kemurnian—karena ia memilih dosa—dan bahkan tidak lagi diizinkan menikmati manfaat dari lingkungan yang sempurna sebagai raja atas bumi. Ia kini adalah seorang raja yang kehilangan mahkotanya dan mencoba memerintah atas ciptaan yang liar, rusak, membusuk, dan mematikan. Allah mengutuk seluruh lingkungannya.
Anda tahu, Yesaya memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan tentang hal ini sehingga saya hampir tidak bisa menahan diri untuk membacakan beberapa di antaranya. Namun saya akan menahan diri sedikit dan hanya menyebutkan salah satunya. Yesaya 24:4 berkata, “Bumi berkabung dan layu, dunia merana dan layu; langit dan bumi merana bersama. Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan, dan mengingkari perjanjian abadi. Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit.” Kemudian Yesaya melanjutkan dengan menggambarkan unsur-unsur yang bahkan lebih menghancurkan tentang usaha manusia untuk hidup dan bertahan di dunia ini; dalam pasal 34 Yesaya mengatakan lebih banyak lagi tentang hal itu; pasal 33 juga berbicara bahwa seluruh ciptaan berada di bawah kutuk. Jadi prinsip kebinasaan ada di mana-mana. Karena itu ciptaan sedang merintih, sebab ia telah ditaklukkan kepada kesia-siaan—bukan oleh kehendaknya sendiri, melainkan sebagai suatu penyesuaian yang perlu terhadap kutuk Allah atas Adam dan Hawa serta atas seluruh umat manusia—dan ciptaan itu tidak mampu melakukan apa pun untuk membalikkan perbudakannya kepada kerusakan. Ini adalah tindakan Allah.
“Tetapi,” Anda berkata, “mengapa ciptaan berdiri berjinjit?” Lihat Roma 8:21: “dalam pengharapan”—ya, dalam pengharapan—“karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan.” Ini gambaran yang indah. Seluruh ciptaan digambarkan berdiri berjinjit, merindukan untuk kembali menjadi seperti ketika Allah pertama kali menciptakannya, sambil mengetahui bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi sampai ada penyingkapan yang mulia dari anak-anak Allah, sampai tercapainya kemerdekaan dalam kemuliaan anak-anak Allah, sampai keadaan kekal yang terakhir. Itulah yang sedang dinantikan oleh seluruh ciptaan. Ciptaan sedang menantikan masa depan yang lebih baik.
Inilah jenis dunia tempat kita hidup. Kita hidup di dunia yang sangat sulit. Saya sedang mengerjakan sebuah buku yang akan terbit beberapa bulan lagi, judulnya Dua Belas Pahlawan Tak Terduga. Tampaknya orang suka membeli buku yang ada kata “dua belas” di judulnya, jadi saya pikir saya akan terus menulis buku dengan kata “dua belas” di judulnya— Dua Belas Pria Biasa, Dua Belas Wanita Luar Biasa —jadi sepertinya mereka suka angka “dua belas,” maka lahirlah Dua Belas Pahlawan Tak Terduga. Salah satu tokoh pahlawannya adalah Henokh. Ketika kita melihat Henokh, kita mungkin berkata, “Tunggu dulu, seorang pahlawan seharusnya punya dampak besar bagi banyak orang, sementara Henokh tampak seperti sosok yang cukup menyendiri.” Ia berjalan bersama Allah—hanya mereka berdua. Ia terus berjalan, dan suatu hari ia berjalan langsung ke surga tanpa mengalami kematian, ingat itu? Henokh, sama seperti Elia, diangkat ke surga—Elia dengan kereta berapi. Itu adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi. Tetapi apa yang membuat Henokh menjadi seorang pahlawan? Mengapa kita menyebut Henokh sebagai pahlawan? Seberapa besar pengaruhnya? Sejauh apa jangkauan pengaruhnya? Apa yang begitu heroik dari dirinya? Ia adalah seorang yang benar, yang berjalan begitu intim dengan Allah sehingga suatu hari Allah membawa perjalanan itu langsung masuk ke surga. Apa yang membuatnya begitu istimewa?
Akan saya jelaskan. Tahukah Anda bahwa seluruh generasi tempat Henokh hidup akhirnya ditenggelamkan oleh air bah, kecuali delapan orang? Tahukah Anda betapa langkanya sosok seperti Henokh? Tahukah Anda seperti apa rasanya menjadi satu-satunya orang yang berjalan dengan Allah di dunia ini? Jika pernah ada seorang pahlawan, dialah pahlawan itu. Ia adalah seorang yang hidup melawan arus budaya yang begitu rusak, sehingga Allah membinasakan jutaan orang dalam satu tindakan penghakiman. Itulah sebabnya ia disebut heroik. Bagi Henokh, keheroikannya terletak pada satu hal: ia berjalan dengan Allah. Dan bagi kita, bagaimana kita bertahan hidup di dunia yang rusak ini? Dengarkan baik-baik: turunkan ekspektasi Anda terhadap dunia. Benar, turunkan ekspektasi Anda terhadap dunia—terhadap pendidikannya, politiknya, struktur sosialnya—turunkan saja semuanya. Turunkan sampai ke titik seperti dalam kitab Kejadian, ketika Allah melihat dunia dan mendapati bahwa kejahatan manusia itu terus-menerus. Turunkan ekspektasi Anda sampai ke sana, maka Anda akan baik-baik saja. Dan setelah itu, berjalanlah dengan Allah.
Allah melindungi Henokh di tengah dunia yang rusak, dan itulah pekerjaan Roh Kudus. Dan Allah masih melakukan hal yang sama sampai hari ini—bukan dengan berjalan bersama kita secara lahiriah, tetapi dengan tinggal di dalam kita—dan Roh Kuduslah yang menguduskan kita di tengah dunia yang rusak ini. Paulus bahkan menyebutnya sebagai angkatan yang bengkok dan sesat. Itulah pelayanan Roh Kudus. Seluruh ciptaan sedang menantikan kelepasan itu, yaitu kemerdekaan dalam kemuliaan anak-anak Allah, saat ciptaan itu sendiri juga akan dibebaskan dari perbudakan kepada kebinasaan yang telah mengutuknya.
Bagaimana hal ini akan terjadi? Bagaimana itu akan terjadi? Pemazmur sudah membicarakannya dalam Mazmur 102—sebuah pernyataan yang luar biasa yang bisa saja terlewat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Mazmur 102 ayat 25 berkata, ditujukan kepada Allah: “Ya Allahku,” lalu dikatakan, “Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada; dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama.” Engkaulah yang menciptakannya, ciptaan itu akan berlalu dan sesuatu yang baru akan datang—itulah Mazmur 102. Dan hal ini dijelaskan dengan sangat rinci dalam 2 Petrus pasal 3. Di sana dikatakan, “Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat”—tepat seperti yang dikatakan pemazmur—“ dan unsur-unsur dunia akan hangus oleh nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Itulah kehancuran total ciptaan alam semesta, sebuah ledakan dahsyat dari seluruh alam ciptaan yang tersusun dari atom-atom.
Dan ayat 12 melanjutkan dengan penjelasan yang lebih jauh: “langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.” Dunia, bumi, dan langit seperti yang kita kenal sekarang akan lenyap dari keberadaannya—saya menyebutnya sebagai uncreation, pembongkaran ciptaan—dan sebagai gantinya akan datang langit yang baru dan bumi yang baru; itulah yang dikatakan Petrus, dan hal yang sama ditegaskan dalam Wahyu pasal 20, 21, dan 22, sehingga jelas bahwa seluruh ciptaan sedang menantikan suatu regenerasi kosmik.
Sesungguhnya, ketika kita memandang ke masa depan, tidak ada pengharapan akan perubahan apa pun dalam ciptaan dari keadaannya sekarang sampai tibanya kemerdekaan yang mulia dari anak-anak Allah. Perhatikan ini: ciptaan jatuh bersama kejatuhan manusia, dan ciptaan itu akan dipulihkan kembali dalam pemuliaan manusia. Dalam tiga pasal pertama kitab Kejadian, kita melihat ciptaan yang terkutuk—terkutuk karena manusia telah rusak oleh dosa. Dalam tiga pasal terakhir kitab Wahyu, kita melihat ciptaan yang baru, dalam kesempurnaan dan kebenaran, karena umat manusia telah dimuliakan. Dan di antara keduanya terbentang sejarah panjang dan menyedihkan tentang dosa dan kebinasaan. Keduanya terikat erat. Apa yang terjadi pada manusia di Taman Eden terjadi juga pada ciptaan. Dan apa yang akan terjadi pada manusia dalam kemuliaan akan terjadi juga pada ciptaan. Ciptaan itu akan dibebaskan. Karena itu seluruh ciptaan merintih, menantikan saat itu terjadi.
Ayat 22 merangkum semuanya: “Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Seluruh ciptaan—semuanya—mengeluh karena semuanya berada di bawah kutuk, dan menderita sakit seperti sakit bersalin. Kata kerja yang dipakai di sini menunjuk pada sakit melahirkan. Dan rasa sakit melahirkan adalah rasa sakit yang bersifat positif, bukan? Maksud saya, rasa sakit itu menghasilkan sesuatu yang baik. Ada rasa sakit yang berakhir negatif—Anda merasa semakin buruk dan akhirnya mungkin mati. Tetapi rasa sakit melahirkan adalah jenis rasa sakit yang mengantisipasi sesuatu yang indah, sebuah peristiwa besar, sesuatu yang diberkati. Dan itulah jenis rasa sakit yang dirasakan oleh ciptaan.
Anda tidak perlu merasa bertanggung jawab untuk menyelamatkan ciptaan ini, Saudara-saudara—boleh saya katakan sekali lagi, saya sudah mengatakan ini sebelumnya. Injaklah rumput, berburulah rusa, lakukan apa yang perlu Anda lakukan; Anda tidak perlu melindungi ciptaan ini seolah-olah nasibnya ada di tangan Anda. Bukan berarti Anda harus bertindak bodoh atau jahat, tetapi Anda harus memahami bahwa ini adalah ciptaan yang berada di bawah kutuk. Namun demikian, ciptaan ini masih diizinkan Allah untuk menghasilkan kekayaan dan berkat bagi kita. Allah sendiri yang akan memelihara ciptaan-Nya sampai tiba waktunya Dia membinasakan semuanya. Jadi jangan berlebihan dalam upaya mempertahankan ciptaan ini dalam kondisinya yang sekarang. Justru keadaan Anda akan jauh lebih baik ketika ciptaan ini tidak ada lagi. Dan tentu saja, Anda tidak bisa mempercepat atau menundanya—semuanya itu ada di dalam rencana Allah.
David Martyn Lloyd-Jones berkata, “Saya bertanya-tanya apakah fenomena musim semi memberi kita sebagian jawabannya. Alam, setiap tahunnya, seolah-olah berusaha memperbarui dirinya, menghasilkan sesuatu yang permanen. Ia keluar dari kematian dan kegelapan yang begitu nyata pada musim dingin. Pada musim semi, alam tampak berusaha menghasilkan suatu ciptaan yang sempurna, seakan-akan mengalami semacam sakit bersalin dari tahun ke tahun. Namun sayangnya, ia tidak pernah berhasil, karena musim semi hanya berujung pada musim panas, musim panas berujung pada musim gugur, dan musim gugur kembali ke musim dingin. Alam yang malang itu setiap tahun mencoba mengalahkan kesia-siaan, prinsip maut, kerusakan, dan kehancuran yang ada di dalam dirinya, tetapi ia tidak mampu melakukannya. Setiap kali ia gagal. Tapi ia terus mencoba, seolah-olah ia merasa bahwa segala sesuatu seharusnya berbeda dan lebih baik, tetapi ia tidak pernah berhasil, sehingga ia terus merintih dan bersusah payah dalam penderitaan. Dan hal itu telah dilakukannya selama waktu yang sangat, sangat lama.”
Jadi sudah sangat lama keadaannya demikian, tetapi ciptaan itu tetap muncul kembali dan memperbarui usahanya setiap tahun. Maka bersikaplah bijak—jangan menyalahkan rumput Anda, jangan menyalahkan bunga-bunga Anda; itulah sifat alam itu sendiri. Alam, katanya, mencoba dengan sungguh-sungguh setiap musim semi. Ciptaan merintih menantikan kemuliaan.
Kedua—dan ini hanya singkat saja, beberapa menit saja—orang-orang percaya juga merintih menantikan kemuliaan, seperti yang dikatakan dalam ayat 23: “Bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.”
Kita memahami rintihan ciptaan dalam ketidaksempurnaannya karena kita sendiri adalah bagian dari ciptaan dan kita hidup dalam ketidaksempurnaan. Kita merintih di dalam diri kita sendiri, meratapi kondisi kita yang berada di bawah kutuk. Paulus berkata, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” dalam Roma 7:24. Anda juga ingat 2 Korintus 5:4, ketika Paulus berkata, “Selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup.” Daud juga merintih dalam Mazmur 38:9: “Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu.” Kita tahu apa artinya merintih. Karena kita pun sedang merintih.
Lalu, apa yang sedang kita nantikan? Apa yang kita rindukan hingga kita merintih? Paulus menjawabnya pada ayat 23: “pengangkatan sebagai anak.” Mungkin Anda berkata, “Tunggu dulu, bukankah kita sudah diangkat menjadi anak? Bukankah Anda mengatakan itu pada ayat 14 sampai 16 dalam pasal ini, bahwa kita telah diangkat?” Benar, kita memang sudah diangkat, tetapi kita belum menerima warisan kita. Betul? Dan warisan kita itu terkait dengan apa? Lihat akhir ayat 23: penebusan apa? Tubuh kita. Kita sudah secara resmi diangkat ke dalam keluarga Allah. Kita adalah anak-anak Allah. Kita sekarang dipimpin oleh Roh Kudus—ayat 14. Kita memiliki Roh Kudus, Roh pengangkatan, di dalam diri kita, yang olehnya kita berseru, “Abba, Bapa.” Kita merasakan keintiman itu dengan Allah. Roh Kudus bersaksi bersama roh kita—ayat 16—bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jadi, kita memang sudah diangkat, tetapi kita belum menerima warisan kita.
Anda ingat 1 Petrus 1:3–4? Kita memiliki suatu warisan yang tidak dapat binasa, yang disimpan di surga bagi kita—belum kita terima sekarang, dan baru akan kita terima pada saat kemerdekaan yang mulia dari anak-anak Allah. Karena itu kita merintih. Kita merintih menantikan hari ketika yang fana ini akan mengenakan yang tidak fana, ketika yang dapat binasa ini akan mengenakan yang tidak dapat binasa, ketika maut akan ditelan oleh hidup—bukan? Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15. Kita merindukan pengalaman itu. Kita rindu dikenakan tubuh surgawi, yang serupa dengan tubuh kemuliaan-Nya, seperti yang dinyatakan dalam Filipi pasal 3. Paulus bahkan menyebut tubuh kita ini sebagai tubuh yang hina—tubuh daging, keberdosaan, dan kemanusiaan kita yang jatuh. Kita tidak sabar menantikannya. Kita bersyukur atas anugerah, tetapi kita tidak sabar untuk bergerak dari anugerah menuju kemuliaan—dari anugerah menuju kemuliaan.
Apakah kita akan sampai ke sana? Ya,—seperti yang dikatakan ayat 23—karena kita telah memiliki buah sulung Roh. Ini bukan berarti sesuatu yang dihasilkan oleh Roh, bukan buah sulung dari Roh, melainkan buah sulung dari janji masa depan Allah, yaitu Roh itu sendiri. Roh Kudus adalah buah sulung itu—Dia adalah buah sulung dari janji yang akan datang. Dia adalah cicilan pertamanya. Buah sulung adalah bagian kecil dari hasil panen yang dipetik petani lebih dulu, bagian awal yang muncul sementara sisanya masih menuju kematangan penuh. Petani mengambil yang pertama itu, dan dari situ ia tahu seperti apa hasil panen yang akan datang. Demikian juga Roh Kudus adalah buah sulung dari panen penuh yang telah Allah sediakan bagi umat-Nya. Ia adalah cicilannya, uang mukanya, arrabōn, cincin pertunangan, meterai, jaminan—semua istilah itu digunakan oleh Paulus dalam tulisannya. Dan Dia adalah Roh perjanjian. Itulah pengharapan orang-orang yang telah ditebus. Seperti yang dikatakan dalam Kolose 1:27: “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.”
Maka kita pun merintih sampai semuanya itu digenapi. Dan semakin bertambah usia, semakin banyak kita merintih, bukan? Benar-benar demikian—kita merintih lebih banyak karena kita hanya bisa melakukan lebih sedikit; kita merintih lebih banyak karena semakin banyak hal yang bisa dirintihkan. Bukan hanya secara pribadi di dalam tubuh kita sendiri, tetapi juga karena apa yang terjadi di sekeliling kita. Dulu, ketika saya masih jauh lebih muda, saya tidak terlalu merintih melihat keadaan dunia seperti sekarang; saya tidak terlalu merintih melihat hilangnya nyawa dan berbagai pergumulan hidup. Di sela-sela ibadah tadi, saya duduk dan berdoa bersama John James, yang istrinya mengalami stroke dan pendarahan di otak, lalu setelah 62 tahun pernikahan, ia dipanggil ke surga minggu ini secara tiba-tiba. Saya duduk dan merasakan rintihan serta kepedihan hatinya ketika ia mencoba menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan istri yang telah menemaninya begitu lama. Mereka telah berjemaat di gereja ini sejak tahun 1972, dan ia menceritakan betapa besar arti gereja bagi mereka. Hidup ini adalah hidup yang penuh rintihan, dan semakin lama kita menjalaninya, semakin banyak pula rintihan yang kita kumpulkan. Kita semua hidup di dalam pengharapan, tetapi pengharapan itu justru semakin menyala ketika kita bertambah tua dan semakin banyak mengalami hidup di dunia yang rusak dan jatuh ini. Saya tidak sedang mencoba memperbaiki dunia ini; saya hanya menantikan hari ketika Tuhan mengakhirinya dan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru. Kita hidup dalam pengharapan. Seperti yang dikatakan ayat 24: “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?”
Dengan kata lain, kita diselamatkan oleh iman, tetapi kita juga diselamatkan di dalam pengharapan, bukan? Karena keselamatan kita belum sepenuhnya tergenapi. Sekarang kita sudah lebih dekat—Roma 13 mengatakannya—lebih dekat kepada keselamatan; keselamatan kita sekarang lebih dekat daripada ketika kita pertama kali percaya, yaitu aspek masa depannya. Karena itu kita hidup dalam pengharapan akan apa yang belum kita lihat. Dan jika kita berharap akan apa yang tidak kita lihat, dengan ketekunan kita menantikannya.
Lalu apa yang menjaga ketekunan kita tetap kuat? Apa yang membuat pengharapan kita tetap menyala? Itu adalah pelayanan Roh Allah di dalam kita, yaitu buah sulung Roh Kudus sebagai jaminan awal. Dialah yang memimpin kita, Dialah yang meneguhkan pengangkatan kita sebagai anak, Roh pengangkatan yang olehnya kita berseru, “Abba, Bapa.” Dialah yang bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dialah yang memegang kita, mengamankan kita, dan membuat kita memiliki pengharapan yang tekun, sehingga kita menantikan kedatangan Kristus dan menantikan kemuliaan kita di masa depan. Jadi ciptaan merintih dan orang percaya pun merintih.
Pada ayat 26 dan 27, Roh Kudus juga merintih. Namun bagian itu begitu kaya dan mendalam sehingga saya akan menyimpannya untuk pembahasan berikutnya, karena bagian itu mengalir langsung ke pernyataan bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan, ayat 28, yang tentu sangat kita kenal. Sungguh indah ketika kita dengan jujur dan benar memandang pelayanan Roh Kudus yang mulia dalam hidup kita, dan melampaui kebodohan serta kekanak-kanakan imajinasi tentang Roh Kudus yang diberkati, ajaib, dan agung. Mereduksi Dia menjadi sekadar “fenomena” adalah kebodohan, sebuah penyimpangan, dan sama sekali tidak mencerminkan maksud yang benar dari pemahaman kita tentang Dia.
Dan saya menyebut hal itu sebagai anak lembu emas, karena hal itu mengubah Allah menjadi semacam gambaran visual. Dan kita tidak pernah boleh memikirkan Roh Kudus dengan cara visual. Kita juga tidak pernah boleh memikirkan Allah dengan cara visual. Kita memang boleh memikirkan Yesus Kristus sebagai manusia. Keselamatan mencakup iman yang menoleh ke belakang kepada karya Kristus yang telah selesai, dan juga mencakup pengharapan yang menoleh ke depan kepada karya Kristus yang belum diselesaikan. Keselamatan adalah perjalanan iman, dan sekaligus juga perjalanan pengharapan.
Bapa, kami bersyukur atas kebersamaan kami hari ini, atas semua musik indah yang kami nikmati dan ikut ambil bagian di dalamnya, atas persekutuan yang berharga dengan orang-orang di sekitar kami, dan juga persekutuan yang terus berlanjut setelah ibadah ini selesai dan sepanjang hari ini. Terima kasih atas kesempatan untuk kembali lagi malam ini untuk pelayanan Firman, untuk menyembah dan memuliakan Engkau. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Roh Kudus yang terberkati, atas segala yang Engkau kerjakan di dalam kami untuk menguduskan kami dan mengamankan kami menuju kemuliaan kekal. Terima kasih kepada-Mu, ya Kristus, atas karya yang Engkau sediakan di kayu salib yang membuat semuanya ini menjadi mungkin. Dan kami bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, atas rencana ajaib yang Engkau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Terima kasih kepada Juruselamat kami yang mulia karena telah mengutus Roh Kudus untuk melakukan karya pengudusan dan pengamanan itu di dalam kami sampai tiba hari ketika kami dimuliakan di langit yang baru dan bumi yang baru. Kami merindukan kenyataan itu, bukan hanya demi kepentingan kami sendiri, tetapi demi Tuhan Yesus Kristus yang layak menerima segala hormat, demi Roh Kudus, dan demi Allah Bapa yang layak disembah untuk selama-lamanya. Dan itulah surga—penyembahan yang sejati kepada Tritunggal untuk selama-lamanya. Kami bahkan tidak sanggup memahaminya, tetapi kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau menolong kami untuk setia dalam pengharapan, menantikan hari itu ketika Engkau akan mengejutkan kami setiap saat sepanjang kekekalan dengan kemuliaan dan kebaikan-Mu. Terima kasih karena Engkau telah memanggil kami, terima kasih karena Engkau telah membenarkan kami, dan terima kasih karena Engkau telah berjanji untuk memuliakan kami. Dalam nama Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
