Saya menyambut Anda pagi ini di gereja kami dan dalam persekutuan yang indah dari umat Allah di tempat ini. Persekutuan kami berpusat pada Firman Allah, dan saat ini kami sedang berada dalam suatu rangkaian pengajaran yang membahas kehidupan orang percaya yang dipengaruhi oleh Roh Kudus. Dalam rangkaian yang relatif singkat ini, kita telah mengatakan bahwa Roh Kudus mungkin adalah anggota Tritunggal yang paling tidak terlihat dalam cara orang berpikir dan dalam pengetahuan mereka. Kita semua memahami cukup banyak tentang Allah; ada penekanan yang sangat besar pada sifat-sifat Allah dan karya-karya Allah. Kita tentu menekankan Kristus serta seluruh karya-Nya, pribadi dan karakter-Nya, dan kehidupan-Nya. Dan sebagai penyeimbang, dengan memahami bahwa setiap anggota Tritunggal sama-sama layak dengan anggota Tritunggal yang lain, saya ingin menolong Anda untuk menyembah Allah Tritunggal dengan cara yang lebih utuh, dan menolong Anda memahami pekerjaan Roh Kudus yang sejati.
Tetapi bukan hanya itu. Seperti yang telah saya katakan kepada Anda, bukan sekadar bahwa kita kurang memberikan fokus atau perhatian pada pribadi Roh Kudus, meskipun Dia layak menerima pujian yang sama. Masalahnya adalah bahwa apa yang sering diatribusikan kepada Roh Kudus justru sama sekali tidak layak bagi nama-Nya. Ada penghujatan terhadap Roh Kudus yang terus berlangsung sepanjang waktu. Orang-orang jauh lebih enggan menghujat Allah Bapa atau bahkan Kristus Sang Anak, tetapi seolah-olah ada jalan yang terbuka untuk menghujat Roh Kudus.
Jika Anda melihat media Kristen sebagai seorang pengamat awam yang tidak tahu apa-apa dan mencoba menyusun suatu teologi tentang Roh Kudus hanya dengan menonton televisi Kristen, inilah kira-kira kesimpulan yang mungkin Anda tarik: bahwa Roh Kudus, apa pun itu, adalah semacam kekuatan. Kekuatan yang menjatuhkan orang-orang, menjatuhkan mereka ke lantai dan membiarkan mereka tergeletak di sana dalam keadaan tertegun. Kekuatan yang, anehnya, bekerja melalui ayunan tangan seorang manusia atau dengan menekan kepala seseorang dengan tangan. Apa pun kekuatan ini, apa pun roh ini, ia juga membuat orang-orang menggumamkan kata-kata yang tidak jelas dan tidak bermakna. Ia juga membuat orang-orang mengangkat tangan mereka ke udara, memutar bola mata ke belakang, dan berusaha menjaga keseimbangan sambil terhuyung-huyung mengikuti musik. Itulah kesimpulan yang mungkin Anda ambil. Roh Kudus, apa pun Roh itu, adalah suatu kekuatan yang membuat seseorang kehilangan kendali atas tubuhnya, mulutnya, dan pikirannya, lalu jatuh ke dalam perilaku emosional yang aneh dan tidak rasional. Itu bukan Roh Kudus. Itu adalah penghinaan terhadap Roh Kudus.
Anda berkata, “Lalu fenomena apakah itu?” Itu adalah kuasa sugesti, kuasa ekspektasi kelompok, kuasa manipulasi. Semua itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Roh Kudus. Apakah Roh Kudus akan menyebabkan hal-hal seperti itu dengan hadir di tempat-tempat yang tidak menghormati Dia, yang salah menafsirkan Alkitab yang justru Dia tulis sendiri? Apakah Dia akan hadir untuk membenarkan teologi yang buruk dan guru-guru palsu, dan justru absen di tempat-tempat di mana Roh Kudus dihormati dan Firman-Nya dihormati? Saya rasa, jika fenomena semacam yang Anda lihat di televisi atau dalam pertemuan-pertemuan seperti itu benar-benar berasal dari Roh Kudus, maka Anda semua akan jatuh tersungkur dan menggumamkan kata-kata yang tidak jelas sepanjang waktu, karena Roh Kudus bergerak di tengah orang-orang yang menghormati Kristus dan menghormati Firman-Nya.
Apakah pekerjaan sejati Roh Kudus? Apa yang sebenarnya Dia lakukan? Apa yang dikerjakan oleh kuasa-Nya? Izinkan saya menolong Anda dengan sedikit penjelasan linguistik. Ada satu kata untuk Roh dalam Perjanjian Lama, yaitu ruach, dan padanannya dalam Perjanjian Baru adalah pneuma. Keduanya adalah kata onomatope (atau kata-kata yang meniru bunyi asli dari bendanya). Baik pneuma maupun ruach adalah kata-kata yang dalam pengucapannya sendiri mengandung unsur udara yang bergerak. Dan itulah maksud dari kata “roh”; ia berbicara tentang gerak, tentang daya, tentang tenaga. Makna dasar dari ruach, kata Perjanjian Lama untuk Roh, adalah kuasa, energi, daya, kehidupan. Sepertiga dari kemunculan kata itu dalam Perjanjian Lama—dan kata itu muncul sangat banyak—sepertiganya merujuk kepada Allah, kepada Roh Allah. Namun penekanan dari kata ruach, Roh, dan kata pneuma dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru bukanlah pada ketidakberwujudan. Bukan semata-mata untuk menekankan bahwa Pribadi dalam Tritunggal ini tidak berwujud materi. Bukan itu pokoknya. Kata itu berarti kuasa, energi, daya. Penekanannya ada di sana. Jadi ketika Anda mengatakan ruach Yahweh, Roh Allah, Anda sedang berbicara tentang kuasa Allah, energi Allah.
Mikha 3:8 memberi kita ilustrasi yang baik tentang hal ini. Dalam Mikha 3:8 dikatakan, “Aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh TUHAN.” Dipenuhi oleh Roh TUHAN berarti dipenuhi dengan kuasa. Sekali lagi, hal ini tidak menunjuk pada ketidakberwujudan. Itulah sebabnya terjemahan lama bahasa Inggris Holy Ghost sangat tidak memadai. Kata ghost (roh) hanyalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang tidak berwujud, dan bahkan, sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ada. Tetapi kata yang dipakai adalah Spirit, Roh, dan penekanannya bukan pada ketidakberwujudan melainkan pada energi yang melampaui segalanya. Bahkan, saya mau katakan, kuasa Allah yang dahsyat. Dan kuasa Allah itu memang dahsyat. Seorang penulis mengatakan, “Ruach TUHAN adalah hembusan Allah, kuasa yang tak tertahankan, yang olehnya Dia menggenapi maksud-maksud-Nya, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif.” Ketika Anda berbicara tentang Roh Allah, Anda sedang berbicara tentang Pribadi yang pada hakikatnya adalah pernyataan dari kuasa Allah yang dahsyat, energi ilahi, kuasa yang begitu besar, tak terbatas, dan tak berhingga seperti Allah sendiri yang besar dan tak terbatas.
Roh Allah, kuasa Allah yang dahsyat melalui Pribadi ketiga dari Tritunggal, itulah yang menciptakan bala tentara sorga, Mazmur 33:6: “Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh napas mulut-Nya segala tentaranya.” Roh itu adalah kuasa. Pada satu saat tidak ada apa-apa, bahkan tidak ada alam semesta, apalagi alam semesta yang dipenuhi oleh benda-benda yang bergerak dalam orbitnya, dan dalam sekejap mata semuanya ada. Itulah kuasa Roh Allah, ruach. Itulah kuasa yang memberi tenaga kepada para hakim, seperti Otniel dan Simson dalam Hakim-Hakim pasal 3 dan Hakim-Hakim pasal 14. Ruach TUHAN adalah kuasa yang menangkap para nabi-Nya, mengangkat mereka, membawa mereka ke suatu tempat, dan menurunkan mereka di tempat lain, Yehezkiel 3, Yehezkiel 11, 1 Raja-Raja 18. Kita sedang berbicara tentang kuasa yang sangat dahsyat.
Orang-orang yang dihadapkan dan diperlengkapi oleh karya-karya Roh Allah mengalami kuasa supranatural. Roh Kudus tidak membatasi kuasa-Nya hanya pada penciptaan. Dia juga tidak membatasi kuasa-Nya hanya pada penghancuran, meskipun Alkitab memberikan bukti tentang keduanya. Namun sejauh menyangkut kita sebagai orang percaya, kita perlu melampaui ekspresi kuasa ilahi yang sifatnya material, yang tadi saya bicarakan—yaitu kuasa untuk mencipta, kuasa untuk mengerjakan karya supranatural yang unik melalui orang-orang tertentu di bumi, kuasa untuk mengangkat para nabi dan memindahkan mereka ke tempat lain—dan masuk ke dalam pemahaman bahwa kuasa kreatif ruach yang agung itu sedang bekerja di dalam kehidupan manusia. Kuasa-Nya ada di dalam diri kita. Kuasa itu bukan untuk menjatuhkan kita ke lantai, membuat kita mengoceh tanpa arti, atau meledak dalam trauma emosional, melainkan suatu kuasa yang pada umumnya tidak kelihatan, bahkan memang tidak kelihatan pada dirinya sendiri.
Sebuah gambaran tentang kuasa ini dapat diambil dari Mazmur 51. Daud telah berbuat dosa besar—dosa yang mengerikan. Ia mengingini seorang perempuan yang bukan istrinya, bernama Batsyeba. Ia mengambilnya dalam perzinahan, lalu, karena ingin memilikinya secara permanen, ia mengatur agar suaminya, seorang prajurit yang setia, ditinggalkan di tengah panasnya pertempuran sehingga ia mati di tangan musuh. Dosanya sangat berat—pembunuhan dan perzinahan—dan Daud mencurahkan isi hatinya dalam Mazmur 51, memohon agar Allah mengampuninya. Ia memohon agar Allah membasuhnya. Ia memohon agar Allah mengangkat rasa sakit dari rasa bersalah dan ketakutannya. Dan seakan-akan sebagai puncaknya, pada ayat 13 Mazmur 51, ia berkata demikian: “Janganlah mengambil ruach-Mu yang kudus dariku.” Janganlah mengambil Roh-Mu dariku. Ia tidak sedang berbicara tentang kehilangan keselamatannya, karena pada baris berikutnya ia berkata, “Pulihkanlah kepadaku kegirangan karena keselamatan dari-Mu.” Ia tidak kehilangan keselamatannya, tetapi ia kehilangan sukacitanya.
Apa yang ia maksudkan dengan, “Janganlah mengambil Roh-Mu dariku”? Saya tahu apa yang ia maksud. Ia memiliki sesuatu yang sangat spesifik dalam pikirannya: Saul. Saul. Ia memahami dengan baik sejarah itu. Sebelum dirinya, hanya ada Saul, jadi sejarah para raja masih sangat singkat. Allah telah mengambil Roh-Nya dari Saul dalam suatu pengertian yang khusus.
Di Israel kuno, pada masa perjanjian lama, Roh Kudus turun ke atas raja-raja, imam-imam, dan nabi-nabi dengan cara yang unik. Namun itu bukan satu-satunya pekerjaan-Nya. Tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa Roh Kudus, bahkan di Perjanjian Lama. Tidak seorang pun dapat dikuduskan tanpa Roh Kudus, bahkan di Perjanjian Lama. Roh Kudus sedang melakukan pekerjaan-Nya pada waktu itu, berjuang dengan hati manusia untuk menghasilkan pertobatan di dalam mereka. Roh Kudus menggerakkan para penulis Kitab Suci untuk menuliskan Kitab Suci yang kudus. Roh Kudus sedang bekerja pada waktu itu. Memang, pekerjaan-Nya tidak sejelas seperti di Perjanjian Baru dan tidak selengkap seperti di Perjanjian Baru, tetapi Roh Kudus tetap bekerja, atau tidak akan ada seorang pun yang diselamatkan dan tidak seorang pun yang dikuduskan. Namun selain pekerjaan normal Roh Kudus itu, Roh Kudus datang secara khusus atas raja-raja, imam-imam, dan nabi-nabi, dan tinggal atas mereka dengan kuasa supranatural. Ketakutan Daud adalah bahwa apa yang terjadi pada Saul akan terjadi juga pada dirinya, sehingga doa pribadinya kepada Allah adalah agar Allah mempertahankan kehadiran Roh atas dirinya, karena tanpa itu ia tidak akan memiliki kuasa untuk memerintah sebagaimana yang seharusnya ia lakukan. Kuasa untuk memerintah, kuasa untuk kepemimpinan rohani, dan kuasa untuk hikmat rohani.
Dalam Perjanjian Baru, pekerjaan Roh Kudus itu diperluas. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya di ruang atas mengenai Roh Kudus, Dia berkata, “Dia telah menyertai kamu, dan Dia akan diam di dalam kamu.” Tentu saja Dia telah menyertai mereka, sebab tanpa Dia tidak akan ada apa-apa yang terjadi. mereka tidak akan bertobat, mereka tidak akan percaya, mereka tidak akan bertumbuh secara rohani, mereka tidak akan diterangi untuk memahami Kitab Suci. “Dia telah menyertai kamu, tetapi Dia akan diam di dalam kamu.” Ini bukan soal ketiadaan dan kehadiran, melainkan soal tingkat atau kadar. Ada kepenuhan Roh sekarang atas semua orang percaya. Pikirkanlah seperti ini: kita semua adalah raja, kita semua adalah imam, kita semua adalah nabi, bukan? Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil. Kita semua adalah raja dan imam. Karena itu pengurapan dalam kepenuhan Roh turun atas kita semua untuk memperlengkapi kita, seakan-akan, sebagai mereka yang memerintah dalam kerajaan Tuhan, mereka yang membawa manusia menghadap Allah seperti para imam, dan mereka yang berbicara bagi Allah kepada manusia seperti para nabi.
Jadi inilah kepenuhan pelayanan Roh Kudus yang sekarang dicurahkan atas semua orang percaya, saat Dia—seperti yang kita baca dalam 1 Korintus 12—menempatkan kita ke dalam tubuh Kristus, memperlengkapi kita dengan segala kemampuan untuk melakukan setiap pelayanan yang Dia percayakan kepada kita, dan kemudian kita semua minum dari Dia, yang berarti Dia mengambil tempat tinggal yang permanen di dalam diri kita. Terhadap mereka yang hidup sebelum kedatangan-Nya pada hari Pentakosta, Dia menyertai mereka; sekarang Dia diam di dalam kita. Ini bukan soal ada atau tidak ada, melainkan soal kepenuhan, kelengkapan, dan kekayaan. Dan apa yang Dia kerjakan? Apa yang Dia lakukan dalam pelayanan ini? Tidak ada lagi penciptaan secara material. Dunia materi telah diciptakan. Pekerjaan penciptaan-Nya sekarang adalah penciptaan rohani. Dia menciptakan hidup rohani, pertobatan, kelahiran baru. Dia menguduskan, memperlengkapi, memberikan karunia, memanggil, menghasilkan buah, dan menyediakan kuasa. Dan ketika saya berbicara tentang kuasa, yang saya maksudkan adalah kuasa yang dahsyat.
Dan saya tidak yakin kita sering memikirkan hal ini, tetapi kuasa yang dinyatakan oleh Roh Kudus, kuasa yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam hidup Anda, adalah kuasa yang dahsyat. Jika Anda memahami kondisi Anda sebelum diselamatkan, Anda akan mengerti betapa dahsyatnya kuasa itu. Mati di dalam pelanggaran dan dosa, buta terhadap kebenaran Allah, dan kita akan melihat lebih jauh tentang hal ini di Roma 8. Terjadi kerusakan yang mendalam sampai ke intinya. Benar-benar mati, mayat yang berjalan—itulah diagnosis bagi semua manusia sebelum mereka datang kepada Kristus. Suatu kuasa yang dahsyat datang atas yang mati dan memberinya hidup, lalu kuasa pengudusan dilepaskan untuk melawan dan meruntuhkan kerusakan itu. Dan suatu hari, kuasa yang sama itu akan menciptakan kembali diri Anda yang baru, yang layak untuk hidup kekal di surga. Ini adalah kuasa yang luar biasa.
Dan kuasa Roh Kudus juga berada di balik penulisan Kitab Suci. Seluruh isi Kitab Suci diilhamkan oleh Allah—dihembuskan oleh Allah—pneuma dari Allah—yang menunjuk pada karya Roh Kudus sebagai pengarangnya. Petrus berkata bahwa orang-orang digerakkan oleh Roh Kudus untuk menulis. Izinkan saya menjelaskan apa artinya itu. Seorang manusia duduk untuk menulis; ia memiliki gagasannya sendiri, pikirannya sendiri, kecenderungannya sendiri, praanggapan-praanggapannya sendiri. Ia memiliki hal-hal yang menarik dan penting baginya, dan ia hendak menulis. Lalu tiba-tiba Roh Kudus datang dan menerobos pikirannya, benar-benar menghancurkan segala sesuatu kecuali apa yang Roh Kudus kehendaki untuk ia tuliskan. Itulah kuasa yang dahsyat yang mengatasi semua pikiran manusia itu, semua harapan, ambisi, dan keinginannya, dan dalam dirinya tidak tersisa apa-apa selain kesadaran yang sepenuhnya menguasai bahwa ia harus menulis satu hal saja, yaitu apa yang Roh Allah kehendaki untuk ia tuliskan. Itulah kuasa. Kuasa untuk menaklukkan kebodohan manusia dan menuntun mereka ke dalam kebenaran. Kuasa untuk menaklukkan prasangka-prasangka mereka, kuasa untuk menaklukkan preferensi-preferensi mereka, sehingga apa yang Anda peroleh dalam Alkitab adalah firman Roh Kudus melalui para penulis yang sedang menulis apa yang mereka ingin tulis, tetapi apa yang mereka ingin tulis itu disingkirkan oleh suatu tindakan yang sangat dahsyat atas pikiran mereka, yang dilakukan oleh Roh Kudus, yang menyingkirkan segala sesuatu yang lain—segala sesuatu yang lain.
Itulah sebabnya kata-kata terakhir Daud dalam 2 Samuel 23:2 adalah: “Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku.” Setiap penulis Kitab Suci pada akhirnya hanya menyampaikan apa yang Roh Kudus ingin sampaikan, dengan mengatasi keterbatasan pengetahuan manusia, hikmat manusia, pengertian manusia, lalu menetapkan secara tepat apa yang Roh kehendaki untuk disampaikan. Jadi pekerjaan yang sama, yang begitu dahsyat dan penuh kuasa, yang dilakukan Roh Allah dalam pengilhaman Kitab Suci, juga dikerjakan oleh Roh Allah dalam kehidupan orang percaya, di mana Dia berdiam, sebagaimana Kitab Suci ini adalah firman Roh Allah. Karena Kitab Suci merupakan ekspresi yang sempurna dari pikiran-Nya, demikian pula dalam hidup orang percaya, Roh Allah memiliki pikiran dan kehendak yang sepenuhnya sejalan dengan kehendak Bapa—dan kita akan melihatnya nanti dalam Roma pasal 8—dan Dia bekerja untuk menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi penggenapan maksud dan kehendak itu. Jadi ada unsur kedahsyatan di dalamnya, meskipun kita tidak mengalaminya sebagai sesuatu yang menyiksa atau yang memutarbalikkan kita. Ada saat-saat ketika kita sadar bahwa kita sedang berada dalam suatu peperangan, dan daging kita melawan pekerjaan Roh Kudus ketika kita bergumul melawan pencobaan.
Dalam Perjanjian Baru, Pribadi Roh Kudus dinyatakan dengan lebih lengkap. Kita tidak mendapatkan gambaran yang utuh di dalam Perjanjian Lama; gambaran yang utuh itu kita miliki di dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, pelayanan Roh Kudus yang penuh dinyatakan, seperti yang telah saya katakan, di dalam kehidupan orang percaya. Dan, omong-omong, hanya kepada mereka yang mengenal Kristus saja. Hanya kepada mereka yang mengenal Kristus.
Mengapa orang-orang mengaitkan begitu banyak hal yang kacau kepada Roh Kudus? Karena mereka tidak mengenal Kristus. Mereka tidak mengenal Kristus. “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,” kata Yesus dalam Yohanes 16:13, “Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku. Ia akan mengambil dari apa yang ada pada-Ku dan memberitakannya kepadamu.” “Ia,” kata Yesus lagi, “mengambil dari apa yang ada pada-Ku dan memberitakannya kepadamu.” Jika engkau adalah milik Kristus, Roh Kudus akan menjadi Pengajarmu. Engkau akan memahami Dia dengan benar dan memahami Kristus dengan benar. 1 Yohanes 2:20 mengatakan bahwa Dia adalah pengurapan yang mengajarkan kepadamu tentang segala sesuatu, sehingga engkau tidak memerlukan manusia untuk mengajar kamu, karena Dialah Pengajarmu. Dia menyingkirkan kebodohanmu. Dia menyingkirkan prasangka-prasangkamu. Dia menyingkirkan kecenderungan-kecenderunganmu. Inilah ruach TUHAN.
Seperti yang sedang saya katakan, dalam Perjanjian Baru semuanya menjadi jelas, bahwa keselamatan adalah sesuatu yang diprakarsai oleh Bapa, diteguhkan oleh Anak, dan diaktifkan oleh Roh Kudus. Dialah yang melahirbarukan orang-orang pilihan. Dialah yang memberi hidup. Dialah yang menguduskan mereka. Dialah yang memindahkan mereka dari satu tingkat kemuliaan ke tingkat kemuliaan berikutnya, lalu ke tingkat berikutnya lagi—2 Korintus 3:18—dan suatu hari nanti Dia akan memuliakan kita semua—ayat 11, yang akan kita lihat nanti—Dia akan membangkitkan tubuh kita yang fana dari kematian dalam bentuk akhir yang dimuliakan. Jadi Roh Kudus adalah kuasa ini, Pribadi berkuasa dalam Tritunggal yang melahirkan kita kembali, menguduskan kita, dan suatu hari akan memuliakan kita. Dengan demikian, kita diberikan suatu penyataan yang luar biasa dan kaya tentang kuasa-Nya yang penuh anugerah, dahsyat, dan meledak-ledak, yang pada dasarnya menciptakan kita kembali, memperlengkapi kita dalam kebenaran, dan pada akhirnya memperlengkapi kita untuk kemuliaan yang kekal.
Jadi, di mana kuasa Roh Kudus dinyatakan, hal itu tidak akan menghasilkan tindakan bodoh dan tanpa akal yang dilakukan di lantai, ocehan tak jelas yang bertele-tele, sensasi kegembiraan yang kosong, atau ledakan-ledakan emosi sesaat. Semua perilaku itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Roh Kudus. Itu adalah ejekan terhadap karya-Nya yang sejati. Ketika Roh Kudus bergerak dengan ruach TUHAN, orang-orang akan diselamatkan, dikuduskan, dipersatukan, diperlengkapi, diberi karunia, dan dikuatkan untuk beribadah, melayani, dan taat kepada Firman Allah yang kudus. Mereka akan bersikap utuh, rasional, berpikir dengan jernih, teratur, dan setia kepada Firman, karena itulah pekerjaan-Nya.
Sekarang, mari kita buka Roma 8. Saya selalu suka memberi Anda sedikit pengantar. Ngomong-ngomong, jika Anda—setidaknya menurut definisi saya sendiri—buku yang disebutkan dalam buletin Grace Today, yaitu Charismatic Chaos (Kekacauan Karismatik), akan memberi Anda banyak materi yang tidak saya bahas dalam seri tentang gerakan Karismatik ini. Sebenarnya saya bisa memperbarui buku itu, tetapi yang akan saya lakukan hanyalah mengganti ilustrasi-ilustrasinya, bukan teologinya, oke? Jadi jika Anda ingin mendapatkan salinan Charismatic Chaos, buku itu akan mengisi banyak kekosongan informasi bagi Anda.
Nah, selagi kita masuk ke Roma pasal 8, kita masuk ke pasalnya Roh Kudus. Kitab Roma, bisa dikatakan, terbagi menjadi beberapa bagian—dan saya kira Anda bisa mengatakan bahwa bagian tentang Allah adalah yang pertama, pasal 1, 2, dan 3, di mana seluruh umat manusia dinyatakan bersalah di hadapan Allah, berada di bawah penghakiman ilahi-Nya. Lalu datang bagian tentang Kristus, pasal 3, 4, 5, 6, dan 7, di mana kita sampai pada karya Yesus Kristus di kayu salib yang menyediakan keselamatan yang kita perlukan dari murka Allah, dari penghakiman Allah, karena dosa kita yang diuraikan dalam pasal-pasal pembuka. Dan sekarang kita tiba pada pasal tentang Roh Kudus. Jadi kita telah melihat bagian yang sangat kuat tentang Allah, tentang seluruh umat manusia yang berada di bawah penghukuman dan penghakiman ilahi; lalu penyediaan yang penuh anugerah dan indah melalui Kristus; dan sekarang pengaktifan penebusan yang diprakarsai Allah dan diteguhkan oleh Kristus itu terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus. Seperti yang kita baca dalam 1 Korintus 12:3, tidak seorang pun dapat mengaku, “Yesus adalah Tuhan”—yang merupakan pengakuan orang yang diselamatkan, karena jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa “Yesus adalah Tuhan,” kamu diselamatkan—tidak seorang pun dapat mengatakannya kecuali oleh kuasa Roh Kudus, karena kita tidak sanggup melakukannya kecuali Dia, dengan kuasa-Nya yang dahsyat, mengalahkan kejahatan kita dan memampukan kita untuk mengatakannya.
Mari kita mulai dari ayat 1: “Oleh sebab itu, sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Itulah ringkasan dari Kabar Baik. Hal itu ditegaskan kembali di akhir pasal ini. Akhir pasal ini sepenuhnya berbicara tentang hal itu—ayat 34—tentang siapakah yang akan menghukum, lalu ada daftar panjang berbagai kemungkinan dan opsi serta kemungkinan-kemungkinan yang teoritis. Tidak satu pun dari semuanya itu dapat memisahkan kita; kita berada dalam status tanpa penghukuman yang permanen dan kekal. Kita benar-benar telah dipindahkan dari penghukuman dalam pasal 1, 2, dan 3 oleh karya Kristus dalam pasal 4, 5, 6, dan 7. Kita memahami hal itu. Tidak ada penghukuman. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana hal ini diaktifkan di dalam diri kita? Kita tahu Allah merencanakannya. Kita tahu Kristus melaksanakannya di kayu salib, tetapi bagaimana hal itu diterapkan kepada kita? Jawabannya adalah: Roh Kudus—Roh Kudus.
Sekarang kita masuk ke dalam pekerjaan Roh Kudus dalam menempatkan kita ke dalam kondisi keselamatan ini, status tanpa penghukuman ini. Hal pertama yang telah kita lihat, dan itu ada tepat di ayat 2 dan 3, adalah bahwa Dia memberi kita hidup dari kematian. Dia menghidupkan kita. Hukum Roh yang memberi hidup di dalam Kristus Yesus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan maut. Kata “hukum” yang digunakan di sini berarti prinsip. Bahkan bisa disebut sebagai suatu paradigma, suatu kekuasaan, suatu wilayah atau domain.
Kita hidup dalam semacam kematian yang masih berjalan. Kita berada di bawah prinsip dosa dan kematian yang mendominasi. Kita mati di dalam pelanggaran dan dosa kita, seperti yang Paulus katakan dalam Efesus 2, lalu datanglah Roh yang memberi hidup dan memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut. Itulah pekerjaan pertama Roh Kudus. Itulah pekerjaan kelahiran baru. Itulah artinya dilahirkan kembali, lahir baru, diberi hidup dari kematian. Itulah pekerjaan Roh Allah. Engkau harus dilahirkan dari Roh, kata Yesus kepada Nikodemus dalam Yohanes 3. Dan tentu saja, yang membuat hal itu mungkin adalah ayat 3, bahwa Kristus Yesus, Anak Allah, menyerahkan diri-Nya sebagai korban untuk dosa. Dia mengambil tempat kita. Dia mati menggantikan kematian kita. Dia membayar hukuman itu sepenuhnya dan dengan demikian menghukum dosa. Hukum Taurat dapat menghukum orang berdosa, hukum Taurat tidak dapat menghukum dosa, tetapi Kristus dalam kematian-Nya menghukum dosa di dalam daging manusia-Nya sendiri sebagai manusia yang menjelma. Karena karya Kristus dalam ayat 3 itulah kita dapat diberi hidup. Tetapi hal itu tidak terjadi secara otomatis dan tidak didasarkan pada kehendak manusia; hal itu didasarkan pada pekerjaan Roh Kudus yang memberi kita hidup dari kematian. Oke, itulah hal pertama yang kita lihat tentang pekerjaan Roh Kudus. Dia memberi hidup, kelahiran kembali.
Kedua, karena hidup ini, Dia memampukan kita untuk menggenapi hukum Allah. Dia memampukan kita untuk memenuhi hukum Allah. Inilah inti dari apa yang Paulus sampaikan di sini, dan saya ingin supaya Anda benar-benar menangkapnya. Perhatikan ayat 4: “Supaya—karena sekarang kita memiliki hidup, yang dimungkinkan oleh pengorbanan Kristus bagi kita—dalam ayat 3—dosa telah dihukum di dalam daging Kristus yang mati sebagai korban penghapus dosa—maka tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita.”
Sekarang dengarkan. Apa yang akan terjadi ketika Anda dilahirkan kembali, dan itu adalah untuk pertama kalinya dalam hidup Anda, Anda akan menggenapi tuntutan hukum Allah—bukan dengan sempurna, tetapi sampai tingkat tertentu. Mengapa demikian? Mengapa sekarang, setelah dilahirkan kembali, saya akan menggenapi hukum Allah? Mengapa sekarang saya akan menaati hukum Allah dalam sikap dan tindakan? Mengapa? Karena ayat 4 mengatakan, “kita tidak hidup menurut daging, melainkan menurut Roh.” Itu adalah sebuah fakta, saudara-saudara. Itu adalah sebuah fakta. Itulah arti menjadi seorang Kristen.
Tidak ada yang dapat berkata, “Saya seorang Kristen, saya telah diberi hidup dari kematian oleh kuasa Roh Kudus, tetapi saya tidak memiliki ketertarikan untuk menggenapi hukum Allah.” Tunggu sebentar—itu tidak mungkin. Hal-hal ini berurutan sifatnya. “Supaya” — ini adalah klausa tujuan. Anda telah dilepaskan dari kematian kepada hidup supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita — atau Efesus 2:10. Anda telah diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita hidup di dalamnya. Anda telah mengalami suatu kebangkitan yang nyata, secara rohani. Sekarang Anda hidup — sekarang Anda hidup, itulah kehidupan sehari-hari, seperti yang kita lihat terakhir kali — sekarang Anda hidup bukan menurut daging, melainkan menurut Roh. Hidup adalah istilah untuk perilaku sehari-hari. Perilaku sehari-hari Anda selaras dengan Roh yang adalah kuasa, energi, kekuatan yang dahsyat di dalam diri Anda. Kuasa itu, Roh Kudus, secara harfiah datang ke dalam kondisi kematian rohani Anda dengan suatu ledakan dan membawa hidup, dan sekarang kuasa yang sama itu, kuasa Roh Kudus yang sama, yang menguasai, mengendalikan, dan mendominasi, mendorong Anda ke arah ketaatan kepada hukum Allah. Sifat Anda diubah. Pikiran Anda diubah. Kehendak Anda diubah. Kasih sayang Anda diubah. Ini adalah suatu transformasi total.
Sekarang mari kita kembali melihat ayat 4. Di dunia ini hanya ada dua jenis manusia—hanya dua, tidak lebih. Ada orang-orang yang hidup menurut daging dan ada orang-orang yang hidup menurut Roh. Tuhan tidak pernah membedakan manusia berdasarkan budaya, ras, pendidikan, jenis kelamin, status sosial, atau uang. Tuhan hanya mengenal dua jenis manusia: mereka yang hidup menurut daging dan mereka yang hidup menurut Roh. Itulah orang-orang yang tidak percaya dan orang-orang yang percaya, mereka yang belum dilahirkan kembali dan mereka yang sudah dilahirkan kembali, orang-orang yang berjalan sebagai orang mati dan orang-orang yang berjalan sebagai orang hidup. Hanya itu saja—tidak ada yang lain.
Nah, di titik ini, rasul Paulus menggali sangat dalam sampai ke akar penyakit kejatuhan manusia, penyakit kerusakan akibat dosa. Biasanya, jika Anda adalah seorang pelajar Alkitab dan ingin membahas tentang dosa dan kebobrokan manusia, Anda akan pergi ke Roma pasal 3, membaca Roma 3, dan mendengar rasul Paulus mengutip semua ayat Perjanjian Lama itu: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak,” “tidak ada seorang pun yang mencari Allah.” Lalu Anda membaca dari Roma 3:10 sampai ayat 20 dan menemukan seluruh daftar tentang apa yang terjadi dan apa yang tidak terjadi dalam diri manusia berdosa. Dan itu memang merupakan gambaran yang sangat kuat tentang kejatuhan manusia, tetapi gambaran ini bahkan lebih kuat lagi. Inilah, menurut saya, uraian yang paling tajam dan paling menembus tentang kondisi manusia yang jatuh dalam seluruh tulisan rasul Paulus. Apa yang ia katakan di sini adalah bahwa orang-orang ini tidak hidup menurut Roh, melainkan menurut daging. Mereka hidup menurut daging.
Ia tidak berhenti sampai di situ. Lihat ayat 5: “Mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal yang dari daging.” Lihat ayat 6: “Karena keinginan daging adalah maut.” Lihat ayat 7: “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Lihat ayat 8: “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Nah, di sini kita melihat suatu gambaran yang sangat mendalam dan nyata tentang kondisi orang-orang yang belum dilahirkan kembali. Ini sungguh luar biasa. Mereka hidup menurut daging karena pikiran mereka tertuju pada hal-hal yang dari daging. Mereka mati. Mereka memusuhi Allah. Mereka tidak dapat menaklukkan diri kepada hukum Allah—mereka bahkan tidak sanggup melakukannya. Dan mereka tidak dapat berkenan kepada Allah.
Sekarang, apakah Anda mengerti bahwa dari kondisi seperti itulah Anda telah dilepaskan? Sekarang, oleh karena karya Roh Kudus, Anda telah diberi hidup. Selain karya Roh Kudus yang melahirkan kembali—yang terjadi ketika Anda diselamatkan—ada juga karya pengudusan yang terus berlangsung. Karya pengudusan Roh Kudus ini adalah suatu gerakan yang terus-menerus dan penuh kuasa dari Pribadi ketiga Tritunggal dalam hidup Anda, yang mengarahkan dan mendorong Anda ke arah yang Dia kehendaki. Sekarang Anda hidup menurut Roh. Hidup Anda benar-benar digerakkan dan diarahkan oleh hal-hal yang dari Roh, oleh pikiran yang peka dan tertuju kepada Roh, yang tidak lagi memusuhi Allah, yang sanggup melakukan hukum Allah, dan yang sanggup berkenan kepada Allah.
Inilah karya besar kelahiran baru dan pengudusan. Ini bukan hal yang kecil. Ada orang-orang yang hidup menurut daging—itulah perilaku mereka—karena pikiran mereka tertuju pada hal-hal yang dari daging—dan itulah cara mereka berpikir—dan akibatnya mereka mati—itulah kondisi mereka. Sebaliknya, ada orang-orang yang hidup menurut Roh—itulah perilaku mereka—pikiran mereka tertuju pada hal-hal yang dari Roh—itulah cara mereka berpikir—dan mereka menikmati hidup dan damai sejahtera. Itulah alur pemikiran Paulus. Kemampuan untuk melakukan hukum Allah berasal dari kuasa Roh Kudus yang melahirkan kembali dan karya pengudusan-Nya yang terus berlanjut. Tiba-tiba Anda memiliki kasih terhadap Firman Allah, ketertarikan pada Firman Allah, dan kerinduan yang mendalam akan Firman Allah. Anda ingin mengenal Allah, ingin semakin mengasihi Allah. Anda mengasihi firman-Nya, ingin mendengar firman-Nya, ingin memahaminya, dan ingin menaati firman-Nya.
Prinsip dasarnya sangat sederhana. Ada dua jenis manusia: mereka yang hidup menurut daging, yang pikirannya tertuju pada hal-hal yang dari daging—mereka mati. Mereka adalah orang-orang mati yang masih hidup. Mereka tidak sanggup melakukan hukum Allah, tidak sanggup berkenan kepada Allah, sama sekali tidak memiliki kemampuan. Itulah kebobrokan manusia. Orang yang belum diselamatkan, yang secara terus-menerus dikendalikan oleh kemanusiaannya yang belum dilahirkan kembali dan telah rusak oleh dosa, membenci Allah dan membenci hal-hal yang dari Allah. Pada tingkat tertentu, kebencian itu akan tampak dalam hidupnya. Namun di dalam hatinya, ia membenci hal-hal yang dari Allah dan sama sekali tidak mampu melakukannya.
Izinkan saya menggali sedikit lebih dalam bagian ini, karena saya rasa ini akan sangat menolong kita. Lihat ayat 5: “Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging.” Kata Yunani yang dipakai di sini adalah phroneō—phroneō—yang berarti memiliki kecenderungan, memiliki arah hati; condong atau terbentuk ke suatu arah tertentu. Bentuk katanya sebagai kata benda adalah phrēn. Terkadang phrēn menunjuk pada pusat dari seluruh perasaan dan kemampuan mental, dan dapat menggambarkan segala bentuk aktivitas batin—baik emosi, kehendak, maupun gabungan dari emosi dan kehendak. Ini bukan kata yang berarti “akal” atau “pikiran.” Kata untuk “pikiran” adalah nous, seperti dalam 1 Korintus 2:16, “Kita memiliki pikiran Kristus.” Tetapi di sini bukan itu katanya. Ini adalah kata yang menunjuk pada disposisi batin, pada kecenderungan arah hidup, pada “kecondongan.” Kata ini menggambarkan ke mana arah hidup seseorang berjalan. Bahkan, menurut saya, cara terbaik untuk menerjemahkannya adalah pola pikir yang disengaja dan terencana.
Orang yang belum diselamatkan dikuasai oleh suatu pola pikir yang disengaja dan sadar, yang dikendalikan oleh daging. Lalu, apakah yang dimaksud dengan daging? Daging bukan sekadar tubuh fisiknya. Bukan hanya sesuatu yang dapat disentuh dan dilihat. Daging adalah kemanusiaannya yang telah jatuh dalam dosa. Bukan hanya tubuh jasmaninya, melainkan pola-pola pikir yang tidak kelihatan di dalam pikirannya, yang mengarahkan dan membentuk perilaku tubuh itu. Itulah kondisi kejatuhannya—dan itu tidak dapat diperbaiki. Tidak bisa diperbaiki. Tidak bisa diperbaiki dengan pendidikan; itu bukan jawabannya. Daging adalah suatu kekuatan internal yang menguasai, kekuatan kejatuhan dan kerusakan—itulah daging.
Perjanjian Baru banyak berbicara tentang daging: tentang hawa nafsu daging, kepercayaan pada daging, perbuatan-perbuatan daging, dan keinginan-keinginan daging. Ia juga berbicara tentang agama menurut daging, doa-doa menurut daging, ibadah menurut daging, allah menurut daging, dan kerusakan daging. Semua itu pada dasarnya menunjuk pada kondisi manusia yang telah jatuh dalam dosa tanpa Allah. Anda adalah orang mati yang masih berjalan, namun dalam keadaan yang rusak. Itulah orang-orang yang, seperti dikatakan Yohanes, mengasihi dunia dan apa yang ada di dalam dunia, dan kasih Bapa tidak ada di dalam mereka. Dan setiap orang yang belum ditebus adalah seperti itu. Mereka menuruti dan memuaskan daging dalam keinginannya yang rusak. Itulah yang dikatakan Petrus: mereka menuruti daging dalam hawa nafsunya yang cemar. Itulah kenyataannya. Dan mereka tidak sanggup melakukan hukum Allah. Mereka terus-menerus melanggar hukum Allah, dan upah dari dosa itu apa? Upah dosa adalah maut.
Sebaliknya, ada “patologi” yang lain di sini. Kembali ke ayat 5: mereka yang hidup menurut Roh—sekali lagi tersirat kata phroneō—menaruh kecenderungan hati dan pikirannya pada hal-hal yang dari Roh. Ayat 6 mengatakan, “keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Ini benar-benar kondisi yang sama sekali berbeda. Sekarang kita tidak lagi memusuhi Allah, kita dengan rela menundukkan diri kepada hukum Allah, kita sanggup melakukannya oleh pertolongan Roh Kudus, dan bahkan kita dapat berkenan kepada Allah.
Seberapa besar sebenarnya kita bisa berkenan kepada Allah? Saya akan memberi tahu Anda: pikirkan tentang Henokh. Seberapa besar Henokh berkenan kepada Allah? Ia begitu berkenan kepada Allah—padahal ia adalah manusia dengan kelemahan yang sama seperti kita—sampai suatu hari ia berjalan bersama Allah, lalu Allah langsung membawanya masuk ke surga. Dan tahukah Anda sesuatu tentang Henokh? Ia berjalan bersama Allah—coba bayangkan ini—selama 365 tahun. Lalu kita sering berkata, “Oh, susah sekali jadi orang Kristen, saya sudah 12 tahun jadi Kristen, benar-benar susah.” Anda mungkin berkata, “Ya, tapi Henokh hidup di dunia yang sempurna.” Apa? Dua generasi setelah Henokh, apa yang terjadi? Allah menenggelamkan seluruh bumi. Jadi bagaimana mungkin seseorang hidup benar di hadapan Allah selama 365 tahun? Ia berjalan bersama Allah, dan suatu hari Allah berkata, “Aku akan membawamu bersama-Ku saja, mari kita terus berjalan.” Dan ia pun berjalan langsung masuk ke surga.
Apa artinya berjalan dengan Allah? Artinya berkenan kepada Allah. Artinya taat kepada apa yang ia ketahui sebagai kehendak Allah. Artinya hidup dalam persekutuan dengan Allah. Sekarang, bagi kita, tiba-tiba ada kecenderungan yang baru, disposisi yang baru, arah yang baru, dan pengaruh pengendali yang baru dalam hidup kita, yaitu kuasa Roh Kudus. Pribadi yang sama yang menjadi Penulis Kitab Suci yang harus kita taati itu tinggal di dalam kita—dan Dia bukan hanya tinggal di dalam kita untuk mengajar, tetapi juga untuk memberi kuasa agar kita mampu menaati apa yang diajarkan-Nya. Karena itulah, seperti dikatakan ayat 5, kita memikirkan hal-hal yang dari Roh. Hal-hal yang dari Roh adalah hal-hal yang berharga bagi Roh, yaitu hal-hal yang memuliakan Kristus dan Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Firman Tuhan. Sekarang kita memiliki kuasa pengendali yang baru. Kita tidak lagi berada di bawah kuasa daging, yang berujung pada maut, melainkan—seperti dikatakan ayat 6—di bawah kuasa Roh Kudus. Kita memiliki pola pikir yang dikuasai oleh Roh; itulah cara kita berpikir, karena kita hidup dalam dunia yang penuh dengan hidup dan damai sejahtera—hidup dan damai sejahtera yang sejati. Kita hidup bagi Allah dan berdamai dengan Allah. Bahkan, kita secara nyata digerakkan oleh kuasa Roh Kudus yang sama, dengan dorongan yang kuat, menuju segala sesuatu yang memuliakan Allah.
Daging? Itu tidak lain hanyalah maut. Itulah sebabnya apa pun yang dilakukan oleh orang yang belum dilahirkan kembali disebut dalam Ibrani 9:14 sebagai “perbuatan-perbuatan yang mati atau sia-sia,” karena mereka memang mati. Dalam 1 Timotius 5:6 dikatakan, “Seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.” Tetapi kita telah diberi hidup rohani, dan sekarang kita memiliki hidup itu karena kita telah berdamai dengan Allah. Itulah persekutuan dengan Allah, pendamaian dengan Allah, berakhirnya keterasingan, dan seluruh hidup yang mengalir dari sana. Inilah pemahaman yang sangat mendalam tentang karya Roh Kudus yang begitu dahsyat di dalam diri kita: persekutuan yang manis dengan Allah, kasih karunia-Nya yang terus dicurahkan kepada kita, rahmat-Nya yang tidak pernah berkesudahan, kasih-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita, sukacita yang kekal, keyakinan batin bahwa semuanya baik-baik saja, kasih kepada Allah, kasih kepada firman Allah, kasih kepada ketaatan, dan kerinduan untuk memberi makan jiwa kita dengan kebenaran-Nya.
Lalu, apakah ini berarti kita sudah sempurna? Tidak—tidak. Kita masih bergumul dengan daging karena secara residual, daging itu masih ada. Namun kita tidak lagi hidup di dalam daging. Kita tidak lagi menaruh pikiran pada hal-hal yang dari daging—itu bukan lagi pola pikir kita. Kita tidak hidup menurut daging, tetapi daging masih mengejar kita dan masih melekat. Itulah “tubuh maut” dalam Roma 7 yang masih melekat. Namun kuasanya telah sangat dilemahkan oleh kehadiran Roh Kudus. Sekarang cara berpikir kita telah berubah: kita tidak lagi memusuhi Allah seperti yang digambarkan dalam ayat 7. Kita menundukkan diri kepada hukum Allah, kita sanggup menaati hukum itu oleh kuasa Roh, dan bahkan—seperti dikatakan ayat 8—kita dapat berkenan kepada Allah.
Sekarang Anda melihat suatu kuasa yang nyata, kuasa yang mengalahkan kerusakan yang begitu dalam dan begitu parah dalam diri setiap manusia. Roh Kudus telah mengalahkan kerusakan itu dan memampukan kita untuk menaati hukum Allah, dan ketaatan itu dimulai dengan mengasihi Allah serta hidup untuk berkenan kepada-Nya.
Ada satu pelayanan lagi yang ingin saya tunjukkan di sini, dan kita akan perlahan-lahan sampai ke sana. Mari kita lihat ayat 9 dan 10, bahkan mungkin ayat 11. “Kamu tidak hidup dalam daging”—ini merangkum semua yang telah ia katakan—dan itu menunjuk pada keadaan anugerah, keadaan keselamatan. Apa bukti yang menentukan itu? Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Ini sangat mendasar, bukan? Perhatikan: Roh Allah, Roh Kristus—itu sama. Anda tidak hidup dalam daging, tidak memikirkan hal-hal yang dari daging, tidak berjalan menurut daging, tidak berada dalam keadaan maut—semua itu dirangkum di sini. Sebaliknya, Anda hidup dalam Roh, berjalan menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh, dan memiliki hidup serta damai sejahtera. Semua ini benar jika memang Roh Allah diam di dalam Anda. Tanda keselamatan yang sejati adalah kehadiran Roh Kudus.
Tidak ada yang namanya orang percaya tanpa Roh Kudus. Ini adalah kesalahan besar lain dalam kalangan Karismatik, yaitu anggapan bahwa seseorang bisa diselamatkan tetapi belum memiliki Roh Kudus. Di luar karya Roh Kudus, seseorang tidak mungkin menjadi apa pun selain seorang pendosa yang malang dan rusak. Dan karya Roh Kudus itu bukanlah pekerjaan satu kali lalu selesai sehingga kita harus mencari-Nya lagi; ini adalah karya yang terus berlangsung. Jadi, bukti dari perubahan hidup itu adalah Roh yang diam di dalam kita. Kata oikeō berarti tinggal di dalam sebagai sebuah rumah. Roh Kudus telah menetap di dalam diri Anda. Dalam 1 Korintus 3:16 dikatakan bahwa Anda adalah bait Allah—bait Allah, tempat Roh Kudus berdiam. Dan 1 Korintus 6 juga menyatakan hal yang sama.
Dan kebalikannya dikatakan pada akhir ayat 9: “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Ungkapan Roh, Roh Kristus, dan Roh Allah menunjukkan bahwa Roh Kudus memiliki hubungan yang sama dengan Pribadi kedua Tritunggal seperti dengan Pribadi pertama, dan masing-masing saling terkait satu sama lain. Inilah tanda seorang percaya yang sejati. Dan karena Roh Kudus diam di dalam diri Anda, hal itu mengubah cara Anda berpikir, mengubah cara Anda bertindak, mengubah apa yang Anda kasihi, mengubah apa yang Anda lakukan, bahkan mengubah cara Anda berbicara, karena kuasa-Nya mengatasi dan menaklukkan kondisi kejatuhan Anda. Jadi kita melihat bahwa Roh Kudus hadir untuk memberi kuasa bagi karya kelahiran baru dan juga memberi kuasa bagi karya pengudusan.
Ada satu hal terakhir, dan ini akan menjadi poin penutup untuk saat ini. Dia membangkitkan kita kepada ketidakbinasaan, yaitu pemuliaan. Aspek terakhir dari keselamatan kita—yang sekarang lebih dekat daripada sebelumnya—adalah pemuliaan kita. Apakah itu juga karya Roh Kudus? Mari kita lihat ayat 10. “Jika Kristus di dalam kamu,” atau karena Kristus ada di dalam kamu, “meskipun tubuh memang mati karena dosa”—dengan kata lain, Paulus ingin memperjelas: kita tidak sedang mengatakan bahwa kamu sudah sempurna. Kita tidak mengatakan bahwa kamu tidak akan mati, ya. Kamu akan mati, dan kamu tahu itu. Jika Kristus ada di dalam kamu, meskipun tubuh itu mati—ada unsur kematian di dalam tubuhmu, ada prinsip kematian di dalam tubuhmu karena dosa—itu tidak akan berubah. Hal itu tidak diperbaiki dalam tubuh fana ini. Memang begitulah keadaannya. Tetapi rohmu hidup oleh karena kebenaran. Rohmu telah diselimuti oleh kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadamu; manusia batinmu—dirimu yang sejati yang tinggal di dalam tubuh itu—hidup dengan hidup yang kekal. Namun tubuhmu tidak akan dipulihkan di sini. Sekali lagi, inilah tubuh maut itu. Satu-satunya pengharapanmu adalah dibebaskan dari tubuh maut ini beserta segala akibatnya, termasuk dalam pikiranmu yang telah jatuh. Karena itu kita membaca ayat 11: “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang tinggal di dalam kamu.”
Berapa kali lagi ia harus mengatakannya kepada kita? Di mana Roh itu tinggal? Di dalam Anda, di dalam Anda, di dalam Anda, di dalam Anda, di dalam Anda, di dalam Anda, di dalam Anda. Mengapa? Karena tanpa kuasa-Nya, Anda tidak akan mampu hidup satu saat pun yang berkenan kepada Allah. Tanpa kuasa-Nya, Anda tidak akan sanggup mengalahkan kerusakan dosa dalam diri Anda. Roh Kudus bukan hanya mengerjakan kelahiran baru dan pengudusan, tetapi di sini kita melihat bahwa Allah—yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati—juga akan melakukan hal yang sama bagi kita. Kita tahu bahwa Allah membangkitkan Kristus, karena itulah yang dinyatakan dalam Roma 1:1–4: Allah Bapa membangkitkan Kristus untuk mengesahkan dan membenarkan pelayanan-Nya. Dan itulah juga yang akan Allah lakukan terhadap kita. Dia akan menghidupkan tubuh kita yang fana melalui Roh-Nya yang tinggal di dalam Anda.
Kita semua akan mati. Salah satu sahabat dekat saya baru saja meninggal. Minggu ini saya sempat menghabiskan waktu bersamanya. Kanker telah menggerogoti kepalanya. Ia adalah sahabat yang sangat berharga, dan kami tahu waktunya tidak lama lagi, sehingga saya berdoa agar Tuhan membawanya masuk ke dalam hadirat-Nya minggu ini. Itu adalah pemandangan yang sangat mengerikan. Saya belum pernah melihat kanker benar-benar melahap tubuh seseorang dari luar sampai hampir tidak ada apa-apa yang tersisa. Itulah tubuh maut ini. Memang begitulah keadaannya. Mungkin tidak selalu terlihat sedrastis itu dalam setiap kasus, tetapi tubuh ini pasti akan mati.
Namun kebenarannya adalah, hari kematian kita lebih baik daripada hari kelahiran kita, karena pada kelahiran yang pertama kita lahir ke dalam dosa, sedangkan pada kematian kita akan dilahirkan kembali ke dalam kesempurnaan—kesempurnaan yang kudus. Sekalipun tubuh mati, roh hidup untuk selama-lamanya. Dan suatu hari, ketika kita mati, roh kita langsung pergi ke surga—tidak lagi di dalam tubuh, tetapi hadir bersama Tuhan. Jauh lebih baik berangkat dan diam bersama Kristus. Apakah Anda menangkap hal itu? Anda tidak akan pergi ke ruang tunggu, tidak ke api penyucian, tidak ke tempat penantian apa pun. Anda tidak akan terjebak menunggu “kereta berikutnya” ke surga di rel yang tak berujung. Begitu meninggalkan tubuh ini, Anda langsung hadir bersama Tuhan. Seketika itu juga, Anda akan melihat Tuhan.
Namun sampai kebangkitan terakhir, Anda akan berada sebagai roh tanpa tubuh. Dan pada kebangkitan terakhir itu, seperti yang dikatakan rasul Paulus, Tuhan Yesus akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh kemuliaan-Nya. Luar biasa—Dia akan memberikan kepada kita tubuh seperti tubuh kebangkitan-Nya, seperti tubuh-Nya yang naik ke surga, seperti tubuh-Nya yang dapat menembus dinding. Bagaimana Dia akan melakukannya? Dengan kuasa yang telah Dia nyatakan. Kuasa apakah itu? Roh Kudus. Itulah yang dikatakan dengan jelas di ayat 11: “oleh Roh-Nya, yang tinggal di dalam kamu.” Suatu hari, Roh Kudus akan mencipta ulang diri Anda.
Anda mungkin berkata, “Apakah Dia akan turun ke kubur? Bagaimana kalau tubuh ini sudah hancur semua ketika saat itu tiba?” Itu tidak menjadi masalah. Dia memiliki ‘formulanya’. Dia tahu dengan tepat seperti apa diri Anda yang tidak sempurna, karena Dia telah lama tinggal di dalam diri Anda. Dan Dia juga memiliki pemahaman yang sempurna serta rancangan yang sempurna untuk menciptakan diri Anda yang sempurna—yang memang akan memiliki kaitan tertentu dengan diri Anda sekarang, meskipun tidak sama. Dia akan mencipta ulang Anda. Itulah kuasa. Bukankah itu kuasa? Mencipta ulang setiap orang yang percaya ke dalam tubuh yang tidak dapat binasa—semua orang kudus sepanjang sejarah. Inilah karya Roh Kudus. Inilah karya yang membuat Dia layak ditinggikan: membebaskan kita dari dosa dan maut, memampukan kita untuk melakukan hukum Allah, mengubah natur kita, dan memberi kita tubuh yang dimuliakan untuk tinggal selama-lamanya di surga.
Saat saya merenungkan tentang Roh Kudus—dan masih banyak lagi yang akan dibahas—saya mulai mencari beberapa kidung pujian, khususnya himne-himne lama tentang Roh Kudus. Beberapa dari Anda juga mengirimi saya buku-buku; saya sudah lebih dari cukup—Anda semua luar biasa, sungguh, Anda telah mencukupkan saya dengan sangat baik. Lalu saya menemukan sebuah himne lama. Menarik sekali melihat bagaimana orang-orang memikirkan Roh Kudus sekitar 160 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1850. Penulisnya menulis demikian: “Roh Allah, turunlah ke dalam hatiku, lepaskanlah dari kecintaannya pada dunia; gerakkanlah seluruh denyut kehidupannya; tunduklah pada kelemahanku, walau Engkau Mahakuasa; dan buatlah aku mengasihi-Mu sebagaimana seharusnya aku mengasihi.” Di sana terlihat seorang percaya yang sedang berdoa melalui bait itu, memohon agar Roh Kudus memberinya kasih yang lebih besar—bahkan kepada Roh Kudus itu sendiri.
Bait kedua—saya suka yang ini: “Aku tidak meminta mimpi, tidak pengalaman ekstatis seorang nabi, tidak juga tersingkapnya tabir tubuh secara tiba-tiba”—dengan kata lain, bukan pengalaman transenden—“tidak kunjungan malaikat, tidak langit yang terbuka”—tidak perjalanan ke surga—“tetapi singkirkanlah kekaburan jiwaku, tolonglah aku melihat kebenaran.” Lalu bait terakhir: “Ajarlah aku mengasihi-Mu seperti para malaikat-Mu mengasihi-Mu, satu hasrat kudus memenuhi seluruh keberadaanku; nyala api dari merpati surgawi itu menyala, hatiku menjadi mezbah dan aku mengasihi nyala itu.” Roh Kudus rindu menyalakan Anda dengan api untuk mengasihi Dia, mengasihi Sang Anak, dan mengasihi Sang Bapa. Ini bukanlah omong kosong—inilah karya Roh Kudus yang sejati. Masih akan ada lagi yang akan kita bahas nantinya.
Bapa, kami mengucap syukur kepada-Mu atas waktu kami pagi ini. Terima kasih untuk konsistensi firman-Mu yang berharga yang kami buka, dan bagaimana ke mana pun kami membacanya, gema kebenaran itu terdengar begitu jelas dan kuat—tegas, pasti, dan tidak terbantahkan. Terima kasih karena Engkau telah memberikan kepada kami penyataan yang indah ini tentang segala hal yang perlu kami ketahui. Dan apa yang telah kami pelajari, kami rindu untuk mempraktikkannya dalam hidup kami dan mengekspresikannya dalam penyembahan, ketika kami menghormati dan melayani Allah Tritunggal kami: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dengarkanlah doa kami, kami mohon. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
