Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Saat ini, setiap kali saya mendapat kesempatan untuk berkhotbah tentang doktrin Firman Allah, selalu ada risiko besar bahwa khotbah ini bisa berlangsung sangat lama dan membuat Anda merasa seolah-olah sedang minum dari selang pemadam kebakaran yang menyala penuh, sebab inilah hasrat saya, seperti yang Anda tahu, yaitu Firman Allah. Saya mencintai kebenaran, saya hidup untuk kebenaran, dan saya memberitakan kebenaran. Tidak ada yang lebih penting daripada kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Karena itu, seperti yang telah kita mulai bahas minggu lalu tentang topik Firman Allah ini, kita akan terus melanjutkannya di banyak Minggu malam mendatang—entah berapa lama—untuk membahas doktrin agung tentang Kitab Suci.

Izinkan saya memulai malam ini dengan mengingatkan Anda pada sebuah pernyataan yang sudah tidak asing, yang muncul tiga kali dalam Alkitab: sekali di Ulangan pasal 8, sekali di Matius pasal 4, dan yang ketiga dicatat di Lukas pasal 4. Pernyataannya adalah ini: “Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kehidupan seperti apa yang dimaksud di sini? Kehidupan seperti apa yang sedang dibicarakan? Perkataan ini mengacu pada seluruh aspek kehidupan—mencakup kehidupan rohani sekaligus kehidupan jasmani dan sementara di dunia ini.

Segala sesuatu dalam hidup, setiap persepsi, setiap sikap, setiap tindakan, harus dipahami dalam terang firman Allah. Bagi kita yang percaya, kita memahami bahwa kehidupan rohani kita, yang menjadi pusat dari kehidupan jasmani dan seluruh aspek kehidupan kita, hanya dapat dipelihara oleh firman Allah. Bagi orang percaya, satu-satunya “makanan jiwa” kita adalah Firman Tuhan. Hal ini berulang kali ditegaskan di seluruh halaman Alkitab. Dalam Mazmur 1 tertulis: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”

Dalam Mazmur 19 kita membaca tentang firman Tuhan yang dikatakan lebih indah dari emas, bahkan dari banyak emas murni, dan lebih manis dari madu serta tetesan sarang lebah. Kita juga diajar untuk menjadikan “perkataan mulutku dan renungan hatiku berkenan di hadapan-Mu, ya Tuhan, gunung batuku dan penebusku.” Ini berarti bahwa agar perkataan dan renungan hati kita berkenan kepada Tuhan, keduanya harus mencerminkan firman-Nya. Hal ini ditegaskan pula dalam Yosua 1:8, “Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya.” Seluruh kehidupan kita bergantung pada firman Allah. Itulah satu-satunya makanan sejati bagi jiwa kita.

Dalam Mazmur 40:8 tertulis, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku, Taurat-Mu ada dalam lubuk hatiku.” Artinya, ada komitmen yang lahir dari hati terhadap hukum Allah. Mari kita buka Mazmur 119 sejenak. Saya ingin mengarahkan Anda ke beberapa ayat dari 176 ayat yang membentuk Mazmur tersebut, Mazmur 119. Mazmur 119 merefleksikan kembali Mazmur 1. Ayat ini dimulai dengan cara yang sangat mirip, “Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati. Mereka tidak melakukan kejahatan, tetapi hidup menurut jalan-jalan-Nya. Engkaulah yang telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Kiranya jalan-jalanku teguh dalam berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu.” Mazmur ini menegaskan kembali bahwa kebahagiaan dan keberhasilan rohani ditemukan dalam ketaatan yang penuh kasih dan ketekunan terhadap firman Tuhan.

Inilah kerinduan mendalam. Inilah seruan yang keluar dari hati seorang anak Allah karena hukum Tuhan telah tertanam di dalam hatinya. Mazmur 119 ayat 15 berkata, “Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan memperhatikan jalan-jalan-Mu.” Ayat 16, “Aku menggemari ketetapan-ketetapan-Mu, firman-Mu tidak akan kulupakan.” Ayat 27, “Buatlah aku memahami arahan titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.” Ayat 33, “Ajarilah aku arahan ketetapan-ketetapan-Mu, ya TUHAN, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.” Ayat 35, “Bimbinglah aku di jalan perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” Dan ayat 40, “Sesungguhnya aku merindukan titah-titah-Mu; buatlah aku hidup dalam keadilan-Mu.”

Dalam ayat 72 kita membaca kerinduan yang sama dari hati seorang anak Tuhan: “Taurat yang Kau sampaikan lebih berharga bagiku daripada ribuan keping emas dan perak.” Ayat 97 berkata, “Betapa aku cintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Ayat 113, “Orang yang bercabang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.” Ayat 131, “Kubuka mulutku dalam kerinduan, begitu kudambakan perintah-perintah-Mu.” Ayat 161 menambahkan, “Pembesar-pembesar mengejar aku tanpa alasan, tetapi hanya terhadap firman-Mu hatiku gentar. Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan. Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai. Tujuh kali sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. Besarlah damai sejahtera bagi orang-orang yang mencintai Taurat-Mu.” Dan akhirnya, ayat 167: “Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya.”

Ini adalah ungkapan kasih yang mendalam dari seorang anak Tuhan terhadap firman Tuhan. Dia bukanlah orang yang sempurna, sebab ayat 176 menutup Mazmur ini dengan pengakuan, “Aku tersesat seperti domba yang hilang; carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan.” Dia mengingat firman itu, mengasihinya, merindukannya, lapar akan kebenarannya, meski tidak selalu menaatinya. Hal yang pasti tentang seorang percaya sejati adalah bahwa dia mencintai firman Allah. Seorang Kristen sejati mengasihi firman Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, hal ini dinyatakan berulang kali melalui perkataan Tuhan Yesus. Misalnya, dalam Yohanes pasal 8 ayat 31, Ia berkata, “Jika kamu tetap dalam firman-Ku, jika kamu menjadikan firman-Ku sebagai tempat tinggalmu, tempat istirahatmu, tempat hidupmu, dan tempat berpijakmu, maka kamu benar-benar adalah murid-Ku.”

Murid sejati, mathētēs alēthōs, adalah mereka yang benar-benar hidup dan berdiam dalam firman karena itulah satu-satunya makanan rohani mereka. Dalam Yohanes 14:15, Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.” Artinya, kasih kepada hukum Allah selalu diiringi dengan ketaatan yang lahir dari hati, dilakukan dengan sukacita dan kesungguhan. Dalam 1 Yohanes pasal 5 tertulis, “Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari Allah. Dengan inilah kita ketahui bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” Jadi bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa dia adalah anak Tuhan? Dia akan mengasihi hukum Allah dan menaati perintah-perintah-Nya.

Bandingkan hal itu dengan 2 Tesalonika. 2 Tesalonika mengingatkan kita bahwa “ada orang-orang yang harus binasa” — pasal 2 ayat 10 — “karena mereka tidak menerima dan tidak mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.” Diselamatkan sama dengan mengasihi kebenaran; jika seseorang diselamatkan, dia pasti mengasihi kebenaran. Karena itu, orang dikatakan binasa justru karena mereka tidak mengasihi kebenaran. Dalam 1 Petrus 2:1-3, Petrus berkata bahwa kita “seperti bayi yang baru lahir yang ingin akan susu yang murni dari firman,” sama seperti bayi yang hanya menginginkan susu. Bayi tidak memiliki selera yang beragam—mereka hanya ingin susu, susu, dan susu lagi. Demikian pula dengan kita yang lahir baru, jiwa kita hanya lapar akan firman Allah.

Orang-orang percaya sejati tahu bahwa hanya firman Allah—dan firman Allah saja—yang membuat mereka tetap hidup, kuat, diberkati, penuh sukacita, berkuasa, dan efektif. Dalam Yohanes pasal 6, diceritakan bahwa sekelompok murid meninggalkan Yesus setelah mendengar ajaran yang keras dari-Nya. Lalu Yesus memandang mereka yang masih tinggal dan berkata, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Petrus menjawab dengan perkataan yang agung mewakili mereka yang tetap setia, “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal.” Kita menemukan hidup kita di dalam firman Allah; firman itu disebut Firman Hidup. Dan mereka yang hidup secara rohani akan mengasihi firman itu, senang diberi makan olehnya, dan lapar akan kebenaran Allah, karena hanya firman itulah yang memberi kepuasan sejati bagi jiwa mereka.

Ketidakpedulian terhadap Firman Tuhan bukanlah tanda dari kelahiran kembali. Ketidakpedulian terhadap Firman Tuhan bukanlah tanda keselamatan. Ketidakpedulian terhadap Firman Tuhan adalah tanda kematian rohani. Dan saya percaya bahwa di semua generasi, termasuk generasi ini, jemaat sejati Allah, yang benar-benar ditebus, mereka sangat lapar akan kebenaran. Mereka ingin diberi makan oleh Firman. Mereka ingin Firman diajarkan kepada mereka, dikhotbahkan kepada mereka. Mereka ingin Firman dijelaskan dengan segala kekayaan dan kedalamannya. Tetapi itulah yang seringkali tidak mereka dapatkan. Studi yang serius tentang Firman Allah, kerja keras yang tekun atas teks Alkitab dalam bahasa aslinya, dan penelusuran melalui analogia scriptura atau analogi Alkitab yang menjelaskan dirinya sendiri di 66 kitab, ketekunan yang dibutuhkan untuk mengungkapkan harta karun yang kaya itu bukanlah minat dari kebanyakan tokoh Kristen populer.

Bertahun-tahun yang lalu, Jim Packer menggambarkan kekristenan evangelikal dengan cara yang saya rasa tepat sekali dan masih relevan hingga hari ini. Tidak banyak yang berubah dalam beberapa dekade sejak ia menulis hal ini. Pernyataan ini ditulisnya dalam kata pengantar untuk cetakan ulang buku Christian Directory karya Richard Baxter. Inilah yang Packer katakan saat dia menggambarkan kekristenan evangelikal: “Kekristenan evangelikal itu egosentris, aneh, sederhana, degeneratif, setengahnya seperti merapal mantra magis, dan itulah yang dunia lihat ketika menonton program rohani di televisi atau melihat langsung komunitas evangelikal yang diakui.” Ini adalah bahasa yang cukup keras datang dari seorang Anglikan.

Dia juga berkata lebih lanjut, “Panduan-panduan kita tentang cara memiliki keluarga yang bahagia, seks yang memuaskan, kesuksesan finansial secara Kristen, cara menghadapi kesedihan, perjalanan hidup, krisis, ketakutan, hubungan yang mengecewakan, dan lain-lain memberi kita formula yang harus diikuti melalui serangkaian tindakan yang dianggap sederhana di pihak kita, seperti halnya melukis dengan angka.” Dia mengatakan semuanya itu sambil membandingkannya dengan karya besar seorang Puritan, Richard Baxter. Buku itu berisi lebih dari sejuta kata yang menerapkan Alkitab pada kehidupan Kristen. Dia menambahkan, “Karya Baxter adalah tingkat tinggi kebijaksanaan berbasis Alkitab, yang terintegrasi secara teologis, dengan kejelasan yang tak tergoyahkan dan sempurna, yang memukau pikiran.”

Ke mana orang-orang zaman sekarang pergi untuk mencari pengajaran tentang Firman Tuhan yang memukau pikiran mereka? Ke mana mereka mencari pengajaran Firman Tuhan yang sangat akurat, cerdas, menantang, kaya secara teologis, sehat, terintegrasi, dan jelas kebenarannya? R.C. Sproul menyatakan dalam edisi terkini Table Talk bahwa budaya kita terjebak dalam mediokritas yang membanggakan diri. Kita medioker (atau biasa-biasa saja) dan kita bangga akan hal itu. Memang masih ada para sarjana teologia yang rajin, pemikir-pemikir skolastik yang tekun dalam sains, teknologi, dan penelitian berbagai macam bidang. Masih ada mereka yang mengerjakan masalah-masalah dan tugas-tugas yang sangat menantang, dan mereka melakukan upaya yang panjang dan melelahkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tapi, mereka semakin menjadi pengecualian.

Kita tidak lagi menghasilkan orang-orang seperti itu dengan kecepatan yang dulu kita miliki dalam sistem pendidikan kita, karena budaya kita telah mendefinisikan ulang pendidikan. Secara umum, budaya kkita telah puas dengan apa yang cepat dan murah, musik sampah, seni sampah, sastra sampah, dan pemikiran sampah. Budaya kita terlalu mudah merasa puas, terlalu mudah terhibur. Keunggulan, kebenaran, dan keindahan, yang dulu merupakan tiga serangkai kebajikan manusia, telah digantikan oleh hal-hal yang lucu, keren, dan imut. Dan kita mendapatkan mediokritas dalam jumlah besar karena kita menginginkannya. Setelah menyambutnya dengan tangan terbuka, kita tidak hanya menerima mediokritas ini, kita malah mengidam-idamkannya. Menyesuaikan diri dengan budaya adalah apa yang gereja lakukan saat ini.

Kalau kalian menginginkan hal yang biasa-biasa saja, kami akan menyediakannya untuk kalian. Kami akan memberikan mediokritas, bahkan mediokritas versi evangelikal. Kami akan menghilangkan hal-hal yang luhur, menghapus yang alkitabiah, menghapus yang teologis. Kami akan menyingkirkan kebenaran Alkitab yang sangat menuntut, lalu kami akan memberi kepada orang-orang yang lapar akan hal yang dangkal ini mediokritas. Dengan begitu, kami melegitimasi mediokritas dan kesuperfisialan yang menjadi ciri budaya kita. Akibatnya, ada orang-orang yang tidak memandang serius hal-hal yang mendalam, dan mereka tidak hanya menemukan tempat dalam budaya, tapi mereka juga telah menemukan tempat di gereja.

Sekarang para pendeta lebih fokus untuk menjadi lucu, keren, dan terlihat “oke.” Mereka lebih mementingkan kepintaran, kreativitas, dan gaya, dan kurang tertarik pada kerja keras untuk menyelidiki Firman Allah serta menyampaikan kedalaman kebenaran-Nya yang mulia, karena mereka berpikir budaya hanya butuh apa yang diinginkan budaya itu sendiri. Sejauh mana kita telah jatuh? J.I. Packer menuliskan pengantar lain…dia memang sering menulis pengantar. Kali ini pengantar itu untuk Teologi Puritan.

Dia berkata begini: “Rasanya mustahil untuk menyangkal bahwa para Puritan adalah yang terkuat di bidang-bidang di mana orang Kristen evangelikal saat ini paling lemah. Di sini terdapat orang-orang dengan kemampuan intelektual luar biasa, di mana kebiasaan berpikirnya dibentuk oleh studi yang tekun dipadu dengan semangat yang membara untuk Allah dan pemahaman yang mendalam tentang hati manusia. Semua karya mereka menunjukkan perpaduan unik antara bakat dan karunia ini. Jika para Puritan menekankan ketertiban, disiplin, kedalaman, dan ketelitian, sifat kita saat ini cenderung santai, sembrono, dan tidak sabar. Kita mendambakan aksi, hal-hal baru, dan hiburan. Kita kehilangan selera untuk studi yang mendalam, introspeksi yang rendah hati, disiplin, meditasi, dan kerja keras yang sederhana namun tekun dalam belajar.”

“Sekali lagi, di mana Puritanisme menempatkan Allah dan kemuliaan-Nya sebagai pusat pemersatu, pemikiran kita justru berpusat pada diri kita sendiri seolah kita adalah pusat alam semesta.” Dan dia menulis, “Dalam memberitakan Injil, kita menyampaikan kabar keselamatan tanpa Hukum Taurat dan iman tanpa pertobatan, menekankan anugerah keselamatan dan mengabaikan harga yang harus dibayar untuk pemuridan. Tidak heran begitu banyak orang yang mengaku bertobat akhirnya meninggalkan iman mereka. “Dan kemudian,” tulisnya, “dalam mengajarkan kehidupan Kristen, kebiasaan kita adalah menggambarkannya sebagai jalan yang penuh perasaan mendebarkan daripada iman yang bekerja, serta campur tangan supernatural alih-alih jalan kebenaran rasional.”

“Dan dalam membahas pengalaman Kristen, kita terus-menerus menekankan pada sukacita, damai, kebahagiaan, kepuasan, dan ketenangan tanpa mempertimbangkan ketidakpuasan ilahi yang dicatat dalam Roma 7, pergumulan iman dalam Mazmur 73, atau beban tanggung jawab dan disiplin providensial yang menjadi bagian hidup anak-anak Allah. Keceriaan spontan dari seorang ekstrovert yang santai dianggap setara dengan kehidupan Kristen yang sehat, dan para ekstrovert ceria di gereja kita didorong untuk menjadi puas dengan kehidupan duniawi, sementara jiwa-jiwa kudus dengan temperamen yang lebih tenang hampir menjadi gila karena mereka tidak bisa mengekspresikan kegembiraan dengan cara yang ditentukan.”

Kita berada dalam keadaan yang sangat sulit. Orang-orang yang mengaku Kristen, yang mengaku penginjil, yang mencoba menjangkau masyarakat ini, justru memberikan budaya ini mediokritas yang mereka inginkan dan berpaling dari Firman Allah. Entah mereka bukan Kristen sejati, atau mereka adalah orang Kristen yang sangat terikat dengan kedagingan. Menjadi duniawi saat mempelajari Firman Tuhan itu adalah satu hal. Hal yang berbeda lagi adalah mengesampingkan Alkitab demi keduniawian. Dan saya sebenarnya melihat tren ini sebagai suatu penghakiman dari Allah.

Anda ingat beberapa minggu lalu kita membahas Roma 1, bahwa ketika Allah menghakimi, salah satu bentuk penghakiman-Nya adalah menyerahkan orang-orang kepada dosa yang mereka pilih dan membiarkan mereka hidup dengan konsekuensi dari pilihan itu? Roma 1 mengatakan, “Allah menyerahkan mereka, menyerahkan mereka, menyerahkan mereka,” diulang tiga kali. Mereka tidak menginginkan Firman-Nya. Mereka tidak menginginkan kebenaran-Nya. Dan Allah menyerahkan mereka kepada apa yang sebenarnya mereka inginkan. Inilah murka dari pengabaian Allah. Dan saya pikir salah satu bentuknya adalah ini; jika orang tidak menginginkan Firman Allah, maka Allah akan membiarkan mereka mengikuti jalan yang tidak terelakkan dari penolakan itu.

Ada ilustrasi yang sangat jelas tentang hal ini. Kembali ke Perjanjian Lama di Amos pasal 8. Amos awalnya adalah seorang gembala yang tidak terlalu penting dari Tekoa, tetapi oleh panggilan Allah dan melalui wahyu yang luar biasa, dia menjadi seorang nabi yang hebat. Di pasal 8 ayat 11, kita membaca bagian yang sangat penting dari pesannya, suatu bagian penting bagi Israel. Ayat 11, Amos 8, berbunyi: “Sesungguhnya, waktunya akan datang,” demikianlah firman Tuhan Allah, “Aku mengirim kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan untuk mendengarkan firman TUHAN. Mereka akan mengembara dari laut ke laut, dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya.”

Wah, ini sangat relevan. Kelaparan akan Firman Tuhan. Mereka mencarinya tetapi tidak akan menemukannya. Inilah hukuman Tuhan bagi orang-orang yang menolak mendengarnya padahal mereka memilikinya. Delapan abad sebelum Kristus, kerajaan utara, Israel, merasa percaya diri, bahkan sombong, merasa baik-baik saja padahal seharusnya tidak. Moral mereka telah runtuh. Bacalah seluruh nubuat Amos; semuanya ada di sana. Moral mereka telah hancur, kejujuran lenyap, penyalahgunaan terhadap orang miskin menjadi hal biasa, kelas atas korup dan jahat. Namun uang melimpah, kemakmuran tersebar luas, dan mereka tetap terlibat dalam ibadah.

Tetapi jika Anda ingin tahu bagaimana Tuhan memandang ibadah mereka, lihatlah pasal 5. “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.” Aku tidak suka ibadahmu. Aku tidak suka nyanyianmu. Aku tidak suka musikmu. Aku tidak suka persembahanmu. Aku tidak suka semuanya.

Nah, bangsa Israel mengira bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Kemakmuran menipu mereka dalam hal itu. Mereka pikir semuanya baik-baik saja. Mereka berdosa… dosa dan kejahatan merajalela… tapi mereka tetap menjalankan bentuk agama yang dangkal ini. Dan mereka mengira Tuhan di pihak mereka, sampai Tuhan menurunkan “bom” atas Israel, dan bom itu bernama Amos. Dia menerjang ke Samaria sebagai nabi yang membawa kabar malapetaka. Dia mulai berkata bahwa Tuhan akan menghakimi kalian. Tuhan akan menghakimi kalian dengan dahsyat dan dengan keras.

Pasal 2 ayat 6, “Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku.” Pasal 3 ayat 1, “Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel, tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir, bunyinya: "Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Hak istimewamu justru memperberat penghakimanmu. Di pasal 4 ayat 12 hal yang sama diungkapkan, “Sebab itu, demikianlah akan Kulakukan terhadapmu, hai Israel –” kalimat terkenal – “bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu, hai Israel.” Kamu akan segera berhadapan langsung dengan Allah Sang Hakim. Bersiaplah.

Seluruh isi kitab ini adalah pengumuman penghakiman ilahi yang digenapi ketika orang Asyur datang pada 722 SM dan menghancurkan serta menawan kerajaan utara, dan penduduknya tidak pernah kembali. Itu adalah akhir dari generasi utara itu. Di pasal 5 ayat 27 Amos berkata, “Aku akan membawa kamu ke pembuangan jauh ke seberang Damsyik," firman TUHAN, Allah semesta alam nama-Nya.” Ini sudah berakhir. Sudah berakhir. Tetapi yang paling buruk, di masa antara dimulainya penghakiman, engkau akan menghadapi masalah besar. Dan itu membawa kita kembali ke pasal 8. Engkau akan terhuyung-huyung dalam kelaparan, bukan kelaparan akan roti atau air, tetapi kelaparan untuk mendengar firman Tuhan. Engkau akan terhuyung-huyung ke sana kemari, pergi ke sana kemari mencoba mencari firman Tuhan, dan engkau tidak akan menemukannya. Engkau tidak akan menemukannya.

Betapa tragisnya hal itu. Namun itulah bentuk penghakiman ilahi—ketika Allah berkata, “Kamu tidak mau mendengarkan, maka sekarang Aku tidak akan lagi berbicara kepadamu.” Itu pernah terjadi, dan sedang terjadi lagi. Saya khawatir, seperti pada zaman Amos ketika orang-orang menolak untuk mendengar, maka akan datang waktu di mana mereka tidak lagi bisa menemukan kebenaran. Negara ini—jika kita melihat sejarahnya—pernah mengalami era pemberitaan firman yang luar biasa, sejak masa awal berdirinya, pada masa Great Awakening, hingga ke era modern ketika mimbar-mimbar masih konsisten dan Injil diberitakan. Tetapi Injil itu tidak diterima, tidak dipercaya, baik oleh mereka yang di luar Kerajaan Allah maupun oleh sebagian orang di dalamnya yang justru menyerangnya dengan berbagai cara, seperti yang sudah saya jelaskan minggu lalu.

Mereka yang dulu tidak mau mendengarkan akan mendapati bahwa sekarang tidak ada lagi firman Tuhan yang mudah diakses bagi mereka. Firman Tuhan sebenarnya telah tersedia, tetapi ketika penghakiman Allah datang, firman itu menjadi tidak lagi tersedia. Dan hari ini, bahkan di negara kita sendiri—meskipun saya tidak bisa berbicara seolah tahu pasti kapan Tuhan sedang menjatuhkan hukuman—tapi saya bisa mengatakan ini: ada begitu banyak orang yang mengaku berbicara atas nama Tuhan, sampai-sampai hampir mustahil bagi seorang yang tidak percaya untuk tahu siapa sebenarnya yang benar-benar adalah utusan Tuhan. Firman Tuhan semakin langka bagi dunia yang tidak percaya, sebab bahkan mereka yang seharusnya percaya kepada Firman itu kini takut untuk menyatakannya karena takut menyinggung orang lain—dan mereka menganggap itu strategi yang buruk.

Masyarakat saat ini menginginkan segala sesuatu kecuali Firman Tuhan, dan gereja tampaknya puas memberikan mereka segala sesuatu kecuali Firman Tuhan. Mereka yang tetap berpegang pada otoritas dan keutamaan Alkitab, yang memegang teguh doktrin yang sehat, yang sungguh-sungguh belajar dan mengajarkan wahyu ilahi dengan keseriusan, sering kali diejek oleh dunia, oleh budaya, bahkan oleh banyak orang di dalam gereja.Tapi, saya yakin bahwa orang-orang percaya sejati tetap merindukan kebenaran dan akan melakukan apa pun untuk menemukan orang-orang yang mau memberi mereka makanan rohani yang benar. Dan dari sinilah muncul pertanyaan yang ingin saya jawab malam ini: bagaimana kita bisa sampai pada keyakinan akan Alkitab? Mengapa kita percaya kepadanya?

Mengapa kita datang ke sini minggu demi minggu, setiap Minggu pagi dan malam? Mengapa kita ikut kelompok persekutuan, menghadiri kelas Alkitab di tengah minggu, mengikuti kelas Logos, atau belajar di Sekolah Tinggi Magister atau Seminari Magister untuk mendalami Alkitab? Mengapa kita pergi ke toko buku dan membeli begitu banyak buku, kaset, atau CD, hanya untuk terus menyerap Firman Tuhan? Apa yang membuat kita memiliki keyakinan sebesar itu terhadap Firman ini?

Apakah kita lebih pintar dari semua orang? Apakah kita ini golongan elit intelektual dunia? Atau mungkin ada seseorang yang pernah memaparkan bukti kebenaran Alkitab dengan begitu kuat dan tak terbantahkan sehingga kita tidak bisa menolak untuk percaya? Apakah kita sampai pada keyakinan ini karena melalui proses panjang, penuh dengan bukti rasional yang membuat kita yakin bahwa Alkitab benar? Jadi, apakah kita ini orang-orang yang paling cerdas, paling logis, atau paling banyak mendapat penjelasan paling jelas dan paling tepat tentang kebenaran Alkitab? Apakah itu alasan mengapa kita ada di sini?

Saya rasa bukan karena kita lebih hebat dari yang lain. Kita bukan golongan bangsawan, bukan orang kuat atau terpandang. Kita ini justru orang biasa, bahkan bisa dibilang “bukan siapa-siapa.” Lalu bagaimana mungkin kita bisa sampai pada keyakinan bahwa kita hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah? Mengapa kita memilih untuk ada di gereja ini, dan bukan di gereja lain yang penuh dengan hal-hal dangkal? Mengapa kita masih mau pergi ke gereja sama sekali? Mengapa kita membeli begitu banyak Alkitab, Alkitab studi, tafsiran, buku renungan, dan berbagai buku tentang Alkitab? Dari mana datangnya semua keyakinan itu? Mengapa kita ingin mempelajarinya? Mengapa kita merasa begitu penting mendengar Firman Tuhan dijelaskan dengan benar?

Izinkan saya mengutip beberapa tokoh masa lalu yang memberi kesan mendalam. Martin Luther pernah berkata, “Alkitab tidak bisa dipahami hanya dengan belajar atau mengandalkan kemampuan. Engkau harus bergantung pada pengaruh Roh Kudus.” Lalu Zwingli, seorang reformator lainnya, berkata, “Sekalipun engkau menerima Injil Yesus Kristus langsung dari seorang rasul, engkau tidak akan bisa hidup menurutnya kecuali Bapamu di surga yang mengajarkanmu.”

Dan John Calvin memiliki pandangan yang sama — bahwa Firman Allah hanya dapat dipercaya ketika Allah sendiri yang membangkitkan hati yang baru. Dengarkan apa yang ditulis Calvin: “Kesaksian Roh lebih tinggi daripada akal.” Pernyataan yang sangat penting. “Kesaksian Roh lebih tinggi daripada akal, sebab kata-kata Kitab Suci tidak akan mendapat kepercayaan penuh di hati manusia sampai firman itu dimeteraikan oleh kesaksian Roh di dalam hati kita. Firman Allah, yang membawa bukti kebenarannya sendiri, tidak menurunkan diri untuk tunduk pada pembuktian dan argumen manusia, tetapi keyakinan penuh yang seharusnya kita miliki terhadapnya semata-mata berasal dari kesaksian Roh Kudus.” Sebuah pernyataan yang mendalam — dan sepenuhnya benar.

“Musa dan para nabi,” tulis Calvin, “dengan berani dan tanpa rasa takut bersaksi tentang apa yang benar-benar terjadi — bahwa yang berbicara adalah mulut Tuhan sendiri. Roh yang sama kini juga memberi kesaksian dalam hati kita bahwa Allah telah memakai mereka sebagai hamba-Nya untuk mengajar kita. Karena itu, tidak mengherankan bila banyak orang meragukan siapa sebenarnya penulis Alkitab. Sebab, walaupun kemuliaan Allah tampak nyata di dalamnya, namun tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya kecuali mereka yang telah diterangi oleh Roh Kudus. Apa yang seharusnya bisa terlihat oleh semua orang, ternyata hanya dapat dilihat oleh mereka yang terpilih.”

Tidak ada cara bagi kita untuk dianggap sebagai kelompok intelektual elit di dunia ini. Faktanya, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah saja, kita harus menjadi seperti anak kecil. Kita bukan orang-orang terpandang, bukan yang kuat, bukan pula kaum cendekia atau golongan terpelajar. Kita bukan para filsuf atau orang bijak dunia ini. Tapi, bukan itu yang membuat seseorang memiliki keyakinan terhadap Alkitab. Seperti yang dikatakan Calvin, keyakinan itu bukan berasal dari akal manusia, melainkan dari kesaksian Roh Kudus yang jauh lebih tinggi daripada akal manusia.

Saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah dengan cara yang sama seperti saya percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, dengan cara yang sama saya percaya bahwa Allah yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Allah yang benar, Allah Tritunggal yang kudus. Saya juga percaya bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia melalui iman, dan semua keyakinan itu ada karena Allah sendiri yang menanamkan kepastian itu di dalam hati saya. Apakah keyakinan ini dapat diuji dengan akal? Ya, tetapi akal bukanlah sumber dari keyakinan itu. Sumbernya adalah kesaksian batin dari Roh Kudus di dalam hati kita. Roh itulah yang bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan Roh yang sama pula yang meyakinkan kita bahwa Firman Allah sungguh benar dan dapat dipercaya.

Dalam 1 Tesalonika 1:4-5, Paulus berbicara tentang pelayanannya sendiri dan wahyu yang disampaikan Allah melalui dirinya, “kami tahu, hai Saudara-saudara yang dikasihi Allah bahwa Ia telah memilih kamu. Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh.” Mengapa ada orang yang mendengar pemberitaan Injil dan menerimanya dengan kuasa, dengan Roh Kudus, dan dengan keyakinan yang teguh? Paulus berkata, “karena kamu adalah orang pilihan.” Artinya, Allah sendirilah yang memilih dan membuka pengertian mereka untuk memahami kebenaran ini. Dalam 1 Korintus 2:4-5, Paulus menambahkan, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”

Di sini kita melihat seorang pemberita Injil sejati. Dia berkhotbah dengan sederhana, jelas, dan langsung — bukan dengan kata-kata hikmat manusia. Dia memberitakan Kristus dan Dia yang disalibkan. Pesannya tegas dan tidak dikemas agar sesuai dengan selera budaya atau dapat diterima oleh logika manusia. Paulus berkata bahwa khotbahnya bukan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, melainkan dengan bukti kuasa Roh dan kuasa Allah. Dengan kata lain, pengajarannya yang sederhana justru membawa dampak besar — bukan karena keahliannya sebagai orator, tetapi karena kuasa Roh Kudus yang bekerja melalui pemberitaan itu. Dia menegaskan, “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Iman yang sejati tidak lahir dari argumen yang masuk akal, tetapi dari pekerjaan Roh yang meneguhkan kebenaran di dalam hati manusia.

Hal yang sama yang dapat dikatakan tentang pemberitaan Paulus juga berlaku bagi seluruh penyataan Allah. Firman itu adalah kebenaran yang objektif, benar-benar firman Allah sendiri. Firman itu tahan uji terhadap penalaran, pemeriksaan yang cermat, dan bukti sejarah. Namun, untuk seseorang bisa benar-benar mempercayainya, dibutuhkan karya besar Roh Kudus. Kita percaya kepada Firman Allah bukan semata karena logika atau bukti rasional, tetapi karena kita telah diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk melampaui batas yang dapat dijangkau oleh akal manusia.

Saya ingat suatu kali, bertahun-tahun yang lalu, ketika saya berbicara di sebuah perguruan tinggi, yaitu Whittier College. Mereka meminta saya datang selama tiga malam untuk membuktikan bahwa Alkitab itu benar. Saat itu saya masih cukup muda dan menganggap ini kesempatan yang luar biasa. Saya percaya Alkitab benar, dan saya pikir saya bisa menyusun beberapa bukti untuk mendukungnya. Jadi saya menyiapkan daftar panjang bukti-bukti: Alkitab benar karena kesatuannya — tidak pernah bertentangan dengan dirinya sendiri. Alkitab benar karena ketepatan ilmiahnya — dikatakan bahwa Allah menggantungkan bumi pada kehampaan, dan itu sangat luar biasa. Dikatakan pula bahwa bumi dibentuk seperti tanah liat yang ditekan dengan segel, berputar pada porosnya, sama seperti orang dahulu menandai tanah liat lembut dengan cap mereka.

Alkitab juga berbicara tentang lintasan matahari yang berjalan dari satu ujung langit ke ujung lainnya. Seluruh siklus hidrologi bahkan diuraikan dalam kitab Yesaya. Ada begitu banyak hal ilmiah yang bisa dibahas. Ketepatan ilmiah ini muncul di tengah dunia kuno yang masih sangat sederhana ketika tulisan-tulisan itu dibuat, dan itu sendiri menjadi kesaksian tentang kebenaran Alkitab. Setelah itu saya membahas juga tentang ketepatan historisnya, penemuan-penemuan arkeologis, dan berbagai hal lain yang mendukungnya. Saya memaparkan semua rincian itu satu per satu.

Saya juga membahas tentang mukjizat. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjelaskan mukjizat-mukjizat yang disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan orang? Mukjizat-mukjizat yang tidak memiliki penjelasan lain, peristiwa-peristiwa yang luar biasa, tindakan ilahi yang tak terbantahkan, baik dalam kehidupan Tuhan kita maupun dalam kehidupan para rasul dan rekan-rekan mereka yang menulis Kitab Suci. Saya membahas semuanya. Saya bahkan menekankan tentang pribadi Yesus Kristus yang begitu agung dan melampaui pemahaman manusia; tidak ada seorang pun yang mampu menciptakan sosok seperti Dia. Saya memaparkan semua bukti itu dengan hati-hati, dan saya benar-benar yakin bahwa buktinya sangat kuat dan tak terbantahkan. Namun, sejauh yang saya tahu, tidak satu pun dari seluruh mahasiswa yang mendengarkan menjadi percaya.

Saya pulang dari acara itu dengan satu kesadaran baru: ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar penalaran manusia. Lalu saya mulai memahami apa yang tertulis dalam 1 Korintus 2:14. Dan jika Anda mau, mari kita lihat ayat itu. Tadi semua hanyalah pengantar; sekarang kita sampai pada inti teksnya. 1 Korintus 2:14 berkata, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Di sanalah jawabannya. Ini memang mustahil.

Bukti-bukti saja tidak akan cukup. Akal manusia tidak akan mampu mencapainya. Manusia duniawi tidak menerima karena tidak mampu untuk menerima. Dia tidak percaya karena ia tidak mampu untuk percaya. Dan kata “tidak mampu” ini memiliki makna yang sangat dalam — dia memang tidak mampu, karena dia bersifat duniawi, bukan rohani. Dia tidak memiliki perangkay rohani untuk memahami hal-hal rohani. Lebih jauh lagi, ketidakmampuannya semakin parah, seperti yang dijelaskan Paulus dalam 2 Korintus 4. Ia berkata pada ayat 3, “ika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa.” Kita memberitakan Injil, tetapi tidak semua orang percaya. Dan jika Injil itu tetap tersembunyi bagi sebagian orang, dan itu karena mereka termasuk orang-orang yang sedang menuju kebinasaan.

Injil itu tertutup bagi mereka yang sedang menuju kebinasaan. Dalam hal ini, seperti tertulis pada ayat 4, “Allah zaman ini telah membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, supaya mereka jangan melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah.” Mereka tidak percaya karena mereka tidak bisa percaya. Mereka tidak bisa karena mereka bersifat duniawi, bukan rohani. Mereka tidak bisa karena mereka mati secara rohani, tidak hidup. Mereka tidak bisa karena pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah dunia ini, yaitu Iblis.

Namun masih ada lagi. Kembali ke Matius pasal 11. Untuk menunjukkan betapa parahnya keadaan mereka, betapa dalam kegelapan mereka, Yesus berkata dalam ayat 25, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Wah, itu luar biasa. Jadi, bukan hanya karena kondisi alami manusia yang membuatnya mustahil untuk percaya, bukan hanya karena Iblis yang membutakan hati manusia, tetapi juga karena penghakiman ilahi di mana Allah sendiri menyembunyikan kebenaran itu dari orang yang merasa bijak dan pandai.

Mengapa begitu? Jawabannya ada di ayat 26, dan inilah jawaban yang Yesus sendiri berikan dalam doa-Nya kepada Bapa: “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Itulah satu-satunya jawabannya. Siapkah Anda menerima itu? Tidak ada alasan lain — hanya karena Bapa menghendakinya demikian. Adalah menyenangkan hati-Nya untuk menyembunyikan hal-hal itu dari orang yang bijak dan pandai. Jadi, manusia tidak bisa sampai pada kebenaran itu lewat akal atau logika, bahkan dengan puncak kecerdasan sekalipun. Coba pikirkan — bagaimana mungkin seseorang seperti Einstein, mungkin salah satu manusia paling cerdas yang pernah hidup, bisa begitu jauh dalam pengetahuan dan pemahaman ilmiah, namun tetap tidak sampai pada pengenalan akan Allah?

Bagaimana mungkin semua cendekiawan itu, yang meneliti Alkitab dengan sangat mendalam, bisa mengkaji “Yesus secara sejarah,” menelusuri kehidupan Kristus, dan mempelajari Perjanjian Lama berulang kali — namun tetap tidak mengerti kebenarannya? Ada puluhan ribu, bahkan ratusan ribu ahli Perjanjian Lama dan rabi yang membaca Kitab Suci sepanjang hidup mereka. Begitu juga dengan banyak “sarjana” Perjanjian Baru di universitas dan seminari, para profesor di fakultas teologi dan studi agama, yang terus mempelajari Alkitab namun tetap tidak menangkap maknanya yang sejati.

Dan jawabannya adalah ini: manusia alami tidak dapat mencapainya karena hal itu berada di dimensi yang berbeda. Kegelapan manusia alami semakin diperparah oleh kebutaan rohani yang disebabkan oleh Iblis. Dia begitu tertarik pada kerajaan dosa sehingga justru lari dari kebenaran yang menyingkapkan dosanya. Lalu, di atas semua itu, Allah sendiri membatasi penyataan kebenaran-Nya — Dia menyembunyikannya dari orang-orang yang dianggap bijak dan pandai, namun menyingkapkannya kepada orang-orang yang sederhana. Hal ini begitu nyata terlihat dalam pemilihan dua belas rasul. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak dikenal: bukan rabi, bukan guru, bukan pengkhotbah, bukan pemimpin sinagoga, bukan pula orang Farisi, Saduki, atau ahli Taurat.

Tuhan sama sekali mengabaikan para cendekiawan dan kaum elit. Dari dua belas rasul, mungkin sebanyak tujuh di antaranya hanyalah nelayan, orang-orang yang bekerja dengan tangan mereka sendiri. Seorang lainnya adalah pemungut pajak yang dipandang hina dan dikucilkan secara sosial. Mengapa Allah memilih mereka? Jawabannya terdapat dalam 1 Korintus 1:26 dan kita telah menyinggungnya. “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”

Sekarang perhatikan ayat berikutnya: “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Hanya karena karya Allah-lah kita dapat percaya pada kebenaran dari pewahyuan-Nya. “Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.” Satu-satunya hal yang membuat seseorang dapat menerima hikmat ilahi adalah karya Allah di dalam hatinya. Hikmat dari Allah, kebenaran, pengudusan, dan penebusan semuanya berasal dari Dia, karena Allah telah memilih untuk memberikannya kepada kita. Sebagaimana tertulis dalam ayat 31: “Siapa saja yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Tidak ada manusia yang dapat mencapai pengenalan akan kebenaran Allah melalui proses akal budi alami.

Itulah sebabnya, ketika kita berhadapan dengan seorang yang tidak percaya, kita bisa menumpuk sebanyak apa pun bukti dan argumen yang masuk akal, namun itu tidak akan membuat mereka percaya. Kebenaran memang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan, tetapi itu saja tidak cukup membawa seseorang kepada iman. Jika seseorang ingin menjelaskan alasan mengapa Alkitab dapat dipercaya, saya ingin melakukannya setiap kali berdiri di mimbar. Namun saya tidak berdiri di sana untuk menguraikan bukti-bukti rasional tentang kebenaran Alkitab. Saya hanya membuka dan memberitakannya, karena Firman itu sendiri lebih tajam dan lebih berkuasa daripada senjata apa pun, dan di dalamnya sudah terkandung kuasa ilahi yang bekerja dengan sendirinya.

Kembali ke Matius pasal 11, dan mari kita ingat kembali bagian yang luar biasa ini. Ayat 25 berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Mengapa? Karena hal itu berkenan di hadapan-Mu. Lihat ayat berikutnya: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan-Nya.”

Satu-satunya orang yang percaya kepada Injil, satu-satunya orang yang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, adalah orang-orang yang telah Allah pilih, mereka yang kepadanya Allah menyatakan diri-Nya, dan mereka yang kepadanya Sang Anak berkenan menyatakan Bapa. Sangatlah selektif. Namun, indah sekali ayat berikutnya, karena meskipun hal ini adalah rahasia dan kita tidak tahu siapa orang-orang itu, datanglah undangan ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Di situlah keseimbangan antara kedaulatan Allah dan undangan-Nya kepada semua orang.

Sekarang mari kita lihat Matius 13, dan kita akan menyimpan teks utama kita untuk minggu depan. Matius 13 ini sebenarnya masih bagian dari pengantar. Ayat 11 berkata, “Jawab Yesus kepada mereka”—murid-murid baru saja bertanya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Perumpamaan hanyalah sebuah analogi, sebuah ilustrasi. Tetapi jika tidak dijelaskan, dan itu menjadi seperti teka-teki. “Jadi mengapa Engkau berbicara kepada orang banyak dalam perumpamaan?” Lalu Yesus menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak.”

Apakah Anda merasa istimewa? Apakah Anda merasa istimewa? Anda duduk di sini sebagai hasil langsung dari pilihan Allah yang berdaulat sejak kekekalan untuk menyatakan kebenaran-Nya kepada Anda. “Kepada mereka tidak diberikan,” kata Yesus. “Itulah sebabnya Aku berkata-kata - ayat 13 - dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” Dan inilah tepatnya yang dikatakan nabi Yesaya. Yesus mengingatkan kembali pada Yesaya 6 ketika Allah berfirman kepada Yesaya, “Pergilah dan beritakanlah, kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Tetapi, kata Yesus, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

Betapa luar biasanya hak istimewa yang kita miliki. Sementara begitu banyak orang, para rabi, tokoh agama, sarjana teologia, dan mahasiswa, berlarian ke sana kemari berusaha memahami kebenaran. Begitu banyak orang lain mencari jawaban lewat filsafat dan menafsirkan agama dengan akal mereka sendiri. Namun di sini kita, orang-orang biasa, yang tampak tidak berarti dan rendah, justru mengerti semuanya. Mengapa? Karena, seperti yang dikatakan ayat 11, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga.” Jadi, mengapa kita percaya kepada Alkitab? Karena kepada kita telah diberikan anugerah untuk percaya.

Seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya bertahun-tahun lalu, dan masih memberi pengaruh setiap kali saya membaca tulisannya, adalah Cornelius Van Til—seorang apologis besar bagi iman Kristen, namun dengan pendekatan praanggapan. Dan Praanggapan ini dasarnya berkata bahwa Alkitab itu benar. Dalam Pengantar Teologi Sistematika, (jilid 5, halaman 130), Van Til berkata, “Manusia sering berbicara seolah-olah yang dibutuhkan oleh orang berdosa hanyalah informasi yang benar. Padahal tidak demikian. Manusia memang membutuhkan penafsiran yang benar, tetapi dia juga harus dijadikan ciptaan yang baru. Dosa bukan hanya kesalahan informasi, tetapi juga kuasa yang menyesatkan jiwa.” Dengan kata lain, kita tidak bisa hanya memberinya informasi atau penafsiran—dia harus dilahirkan kembali, dijadikan ciptaan baru oleh Allah sendiri.

Van Til berkata, “Orang Kristen tahu bahwa dia akan menafsirkan kodrat secara keliru karena dosa yang ada di dalam dirinya, kecuali jika dia diterangi oleh Kitab Suci dan dipimpin oleh Roh Kudus.” Kita tahu itu benar. Dia juga menulis, “Apologetika melibatkan pertentangan tentang otoritas tertinggi, yaitu pertentangan tentang praanggapan atau standar akhir kita.” Sekarang mari kita uraikan, Anda hanya punya dua posisi: Entah Anda percaya bahwa manusia memiliki kemampuan rasional dalam dirinya sendiri untuk naik dan mencapai kebenaran firman Allah, atau Anda percaya bahwa dia tidak mampu. Jika Anda berpikir manusia bisa melakukannya sendiri, Anda memiliki pandangan yang tidak alkitabiah tentang manusia. Tetapi jika Anda memahami bahwa dia tidak mampu, maka Anda tahu bahwa kuasa bukan terletak pada bukti-bukti yang diarahkan kepada akal rasional, melainkan pada pemberitaan firman Allah itu sendiri.

Dan yang kita lihat dalam pelayanan masa kini sering kali tidak lebih dari usaha untuk meyakinkan orang dengan kepandaian, logika, atau berbagai cara manipulatif lainnya, seolah-olah di dalam hati manusia ada kemampuan untuk bangkit dari kematian rohaninya, keluar dari kebutaannya terhadap hal-hal rohani, melampaui kebutaan yang diizinkan Allah, dan dengan kekuatannya sendiri dapat percaya hanya karena kita membuatnya terlihat mudah. Itu konyol. Namun itulah yang menggerakkan begitu banyak apa yang disebut sebagai penginjilan modern. Penentangan orang berdosa terhadap firman Allah, terhadap kebenaran ilahi yang kudus, terhadap Injil, bukanlah karena persoalan intelektual yang sah tentang kebenaran atau keaslian Kitab Suci. Penentangan itu lahir dari pemberontakan jiwa yang berdosa. Dan karena ia manusia alami, bahkan pada tingkat rasional tertingginya, ia tidak mampu mencapai pengetahuan rohani ini.

Manusia bukanlah pengadilan tertinggi atas kebenaran. Jangan biarkan orang berdosa berpikir bahwa akalnya adalah faktor penentu keselamatannya. Menurut Allah, Allah sendirilah pengadilan tertinggi. Wahyu-Nya yang menentukan apa yang benar, bukan logika manusia. Selama berabad-abad, orang-orang berdosa telah menggunakan akalnya untuk menilai Alkitab dan justru menghasilkan berbagai ajaran sesat yang menyesatkan. Seperti yang ditulis Van Til, “Setiap manusia melakukan pemikirannya berdasarkan suatu posisi yang diterima melalui iman, dan iman itu entah didasarkan pada Allah atau pada dirinya sendiri dan akalnya.”

Saya tidak akan menaruh iman saya pada akal manusia, sebab itu saya tidak berkhotbah dengan cara yang memanipulasi logika manusia. Saya memberitakan Firman Allah, karena iman saya ada pada kuasa dan Firman-Nya. Maka, untuk mengenal kebenaran ilahi dan memahami Alkitab, orang berdosa harus berseru kepada Allah. Dia harus ditaklukkan oleh kebenaran Firman Tuhan. Memberitakan apa pun selain Firman Allah hanyalah membuang waktu. Orang berdosa harus mendengar kebenaran, dia harus menerima pengertian itu, dia harus memahami tafsiran yang benar.

Kita dilahirkan kembali oleh Firman Kebenaran, tetapi orang berdosa itu harus berseru kepada Allah untuk menyelamatkannya, memberinya hidup, menyingkirkan penutup matanya, mengalahkan musuh yang telah membutakannya, menyingkapkan hal-hal yang telah Allah sembunyikan darinya dan membawanya ke dalam terang. Orang berdosa harus bersujud di hadapan takhta Allah dan berseru dari kedalaman jiwanya yang gentar, “Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini. Berikan aku pengertian akan kebenaran.” Semuanya adalah karya Allah. Seperti kata Agustinus, “Aku percaya supaya aku dapat mengerti.” Mari kita berdoa.

Apa yang dapat kami katakan, ya Allah? Kata-kata tak mampu mengungkapkan apa yang hati kami rasakan saat kami datang ke hadapan-Mu dan berusaha mengucapkan syukur karena Engkau telah memilih untuk menyatakan diri-Mu kepada kami, karena Engkau telah menanamkan kasih kepada-Mu, kasih kepada Anak-Mu, kasih kepada Firman-Mu, dan kasih kepada sesama di dalam hati kami. Semua ini bukanlah kesaksian tentang kekuatan akal kami, melainkan tentang kuasa-Mu yang ilahi dan adikodrati yang memperbarui kami. Kami percaya, maka kami mengerti. Firman-Mu terbuka bagi kami, dan kami sejalan dengan kata-kata pemazmur: kesukaan kami ada dalam Taurat-Mu; di dalamnya kami merenungkannya siang dan malam. Kami mengasihi Taurat-Mu, kami menemukan sukacita dan kegirangan dalam ketetapan-ketetapan-Mu, kami lapar dan haus akan kebenaran-Mu—itulah satu-satunya makanan bagi jiwa kami.

Dan, ya Allah, kami tahu bahwa umat-Mu di seluruh negeri ini, bahkan di seluruh dunia, di banyak tempat sedang menghadapi kerinduan akan Firman-Mu. Kiranya umat-Mu yang sejati memiliki pengajar, pemberita, dan penulis yang dapat menjangkau mereka dan memberi makan hati mereka yang lapar. Dan kiranya masyarakat ini, yang begitu terpikat pada hal-hal yang sia-sia dan dangkal, mulai lapar akan sesuatu yang mendalam dan sejati. Kiranya gereja-Mu, oleh anugerah dan kebaikan-Mu, mengalami pembaruan dan kembali memberitakan Firman-Mu dalam seluruh kepenuhan dan kekayaannya. Inilah doa kami, agar Engkau dimuliakan dan dihormati, dan kami memintanya dalam nama Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize