Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Mari kita kembali membuka Firman Tuhan dalam Matius pasal 7, bagian penutup dari khotbah Yesus yang agung di bukit. Khotbah di bukit adalah sebuah khotbah yang bersifat penginjilan—yang bertujuan untuk meruntuhkan kepercayaan orang-orang Yahudi terhadap sistem agama mereka yang salah, dan untuk membawa mereka kepada kebenaran di dalam Kristus. Di bagian akhir khotbah itu, Tuhan Yesus memberikan sebuah undangan yang sebenarnya dimulai dari ayat 13. Kita akan melihat bagian tersebut, tetapi secara khusus kita akan berfokus pada ayat 21 sampai 23. Izinkan saya membacakannya untuk Anda.

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!"

Tidak mungkin ada konferensi yang membahas gerakan karismatik tanpa menyinggung bagian ini. Jelas bagi siapa pun yang membacanya bahwa klaim orang-orang ini—bernubuat, mengusir setan, dan melakukan mujizat—memiliki kemiripan dengan apa yang terlihat dalam gerakan karismatik. Karena itu, di sini kita melihat Yesus memberikan peringatan terakhir yang sangat penting.

Ada sebuah lagu rohani lama yang berkata, “Tidak semua orang yang berbicara tentang surga akan masuk ke sana.” Kebenaran ini sudah ada sejak zaman Perjanjian Baru. Dalam Amsal 30:12 dikatakan, “Ada keturunan yang menganggap dirinya tahir, tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri.” Dan dalam Roma 10:2 tertulis tentang Israel, “Mereka bahwa mereka sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi tanpa pengertian.”

Kekristenan yang hanya tampak dari luar—yang hanya sebatas pengakuan—mencakup jutaan orang yang merasa diri mereka orang Kristen. Mereka diyakinkan bahwa mereka adalah orang percaya, dan hidup dengan harapan akan masuk surga dan terluput dari neraka, tetapi pada akhirnya mendapati bahwa mereka keliru. Ada jutaan orang yang mengaku percaya kepada Yesus, memakai nama-Nya, memanggil Dia “Tuhan,” dan yakin akan masuk surga—namun pada akhirnya justru menghadapi kebinasaan.

Tuhan Yesus sudah melihat hal ini sejak awal pelayanan-Nya. Dalam Yohanes 2:23 dikatakan bahwa ketika Dia berada di Yerusalem saat perayaan Paskah, banyak orang percaya kepada-Nya karena mereka melihat tanda-tanda yang Dia lakukan. Mereka tertarik oleh mujizat, lalu percaya kepada-Nya. Tetapi dikatakan bahwa Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Dia mengenal hati semua orang. Dia tidak membutuhkan kesaksian siapa pun tentang manusia, karena Dia sendiri tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Dia tahu bahwa iman mereka dangkal - Iman yang hanya bergantung pada pengalaman dan mujizat. Iman yang hanya bersifat lahiriah. Dan itulah sebabnya Yesus dengan jelas mengatakan bahwa akan ada banyak orang yang berkata, “Tuhan, Tuhan,” tetapi tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Nah, biarlah ini menjadi jelas. Tidak seorang pun akan masuk ke dalam Kerajaan Surga tanpa mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Roma 10:9-10 mengatakan, “Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan.” Mengaku Yesus sebagai Tuhan adalah hal yang penting dalam keselamatan. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 12:3 dikatakan, “Tidak seorang pun dapat berkata: ‘Yesus adalah Tuhan,’ selain oleh Roh Kudus.” Artinya, siapa pun yang tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan tidak dapat diselamatkan. Tetapi yang mengejutkan adalah: ada orang-orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan, namun tidak diselamatkan. Mereka menyebut “Tuhan, Tuhan” dengan lantang dan berulang-ulang—namun tetap berada di jalan menuju kebinasaan.

Undangan di akhir khotbah di bukit ini memaksa setiap orang yang membacanya untuk memilih. Kontrasnya sangat jelas—antara iman yang palsu dan iman yang sejati, antara iman yang tidak menyelamatkan dan iman yang menyelamatkan. Hanya ada dua jalan, dua pilihan, dan sampai hari ini pun, itu tetap sama.

Mungkin Anda bertanya, “Di dunia dengan begitu banyak agama, bagaimana mungkin hanya ada dua pilihan?” Karena pada akhirnya, hanya ada dua arah: jalan yang menuju hidup kekal, atau jalan yang tidak menuju ke sana. Meskipun bentuknya bisa bermacam-macam, ujungnya tetap sama—menuju tujuan yang sama.

Pada akhirnya, hanya ada dua jenis “agama” di dunia ini. Yang pertama adalah agama yang berpusat pada usaha manusia—semua sistem yang menawarkan keselamatan melalui perbuatan baik, moralitas, ritual, dan upacara keagamaan. Yang kedua adalah jalan yang berpusat pada karya Tuhan—yang menyatakan bahwa keselamatan diberikan kepada mereka yang menyadari bahwa mereka tidak bisa memperolehnya dengan usaha sendiri. Yang pertama bergantung pada usaha manusia—perbuatan, kekuatan diri, jasa, dan ritual—dan pada akhirnya tidak membawa kepada keselamatan, apa pun labelnya. Yang benar adalah jalan iman, anugerah, dan karya Roh Kudus.

Perbedaan utamanya sederhana: yang satu bergantung pada apa yang manusia lakukan, yang lain bergantung pada apa yang Tuhan sudah lakukan. Jika seseorang mencoba mendapatkan keselamatan melalui usaha sendiri, berarti ia datang melalui hukum. Dan seperti yang dikatakan dalam Roma 3:20, “Tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.” Tidak ada harapan melalui jalan itu.

Jika seseorang mencari surga dengan cara Tuhan, maka ia datang melalui kasih karunia. Dan di dalam kasih karunia, tidak ada sistem usaha untuk mendapatkan keselamatan. Tidak ada cara untuk memperolehnya dengan usaha sendiri. Justru di sanalah ada pengharapan, dan kutuk itu diangkat.

Pada zaman Yesus, orang-orang Yahudi berada dalam sistem agama yang berpusat pada usaha manusia. Mereka mencoba mendekat kepada Tuhan melalui perbuatan baik mereka sendiri, kebenaran mereka sendiri, dan aktivitas keagamaan mereka sendiri. Namun dalam Roma 11:28, Paulus menyebut mereka sebagai “musuh Injil.” Dan dalam Roma 10 dijelaskan bahwa mereka “tidak mengenal pembenaran oleh Allah, dan berusaha mendirikan kebenaran diri mereka sendiri.”

Jadi ada jenis agama yang berusaha datang kepada Tuhan dan mencapai surga melalui usaha sendiri—melalui jasa pribadi, keterlibatan religius, moralitas, upacara, perasaan yang baik, sikap tertentu, dan pengalaman rohani sendiri.

Namun di sisi lain, ada jalan keselamatan yang benar—di mana manusia berdosa tidak membawa apa pun. Itulah yang sedang Tuhan kita jelaskan di sini. Dia menggambarkannya dengan serangkaian kontras yang sangat jelas: Ada dua pintu: yang lebar dan yang sempit. Ada dua jalan: yang luas dan yang sempit. Ada dua tujuan: kebinasaan dan hidup. Ada dua kelompok: banyak orang dan sedikit orang. Ada dua pohon: yang baik dan yang buruk. Ada dua jenis buah: yang baik dan yang buruk. Ada dua sikap: hanya berkata dan benar-benar melakukan. Ada dua pembangun: yang bijaksana dan yang bodoh. Ada dua dasar: batu dan pasir. Ada dua rumah: yang satu bertahan, yang satu runtuh. Ini semua adalah kontras yang sangat sederhana.

Sulit membayangkan cara yang lebih jelas untuk menggambarkan pilihan yang harus diambil setiap orang di antara dua jalan ini. Menariknya, kedua jalan itu sama-sama menjanjikan surga. Tidak ada yang menawarkan neraka. Tidak ada yang berkata, “Ikutlah kami ke neraka.” Bahkan, jalan yang lebar itu pun diberi label “surga”—padahal ujungnya adalah kebinasaan. Hanya saja, orang-orang yang berjalan di sana tidak menyadarinya. Malah lebih dari itu, ada orang-orang yang sangat aktif mengarahkan orang lain ke jalan yang lebar itu. Mereka digambarkan dalam ayat 15–20 sebagai nabi-nabi palsu—yang tampak seperti domba, tetapi sebenarnya serigala yang buas. Dan jika dilihat dengan cermat, hidup mereka akan menunjukkan siapa mereka sebenarnya, melalui buah yang buruk.

Jadi dunia ini seperti menawarkan dua jalan menuju surga. Yang satu adalah kebohongan dan berakhir dalam kebinasaan. Yang satu lagi adalah kebenaran dan membawa kepada hidup. Maka setiap orang harus memilih.

Mari kita lihat kontras ini, dimulai dari dua pintu di ayat 13: “Masuklah melalui pintu yang sempit, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Kedua jalan itu sama-sama bersifat religius. Ini bukan tentang agama versus ateisme, atau agama versus agnostisisme, atau bahkan tentang perbedaan antara monoteisme dan bentuk kepercayaan lain seperti paganisme atau animisme. Yang dibicarakan di sini adalah dua jalan religius yang sama-sama berkata, “Inilah jalan yang Tuhan kehendaki, dan ini akan membawa ke surga.” Keduanya menjanjikan tujuan yang sama. Tetapi hanya satu yang benar-benar sampai ke sana.

Sekarang di ayat 13 ada sebuah perintah: “Masuklah melalui pintu yang sempit.” Ini bukan sekadar saran—ini adalah perintah. Sebuah panggilan yang menuntut respons yang segera, bahkan tanpa alternatif yang masuk akal. Dan dari perintah itu, kita mulai memahami apa yang Tuhan sedang sampaikan. Saya akan membantu menjelaskannya dengan beberapa poin, supaya kita bisa melihat undangan penting ini dengan lebih jelas.

Pertama, Anda harus masuk. harus masuk. Jalan yang benar menuju surga sudah dijelaskan dengan jelas—yaitu jalan yang sempit. Dan Anda harus masuk ke dalamnya. Tidak cukup hanya melihat. Tidak cukup hanya mengagumi. Tidak cukup hanya mempelajari, menganalisis, atau mengkritisi. Tidak cukup hanya merasa terkesan. Ada banyak orang yang mengagumi Yesus, bahkan mengagumi khotbah di bukit, bahkan terlibat dalam gereja atau kegiatan rohani—tetapi tidak pernah benar-benar masuk. Mereka hanya melihat dari luar. Mereka mengamati. Mereka menganalisa. Tetapi tidak pernah mengambil langkah masuk. Karena itu, panggilannya jelas: engkau harus masuk sepenuhnya.

Kedua, Anda harus masuk melalui pintu ini—pintu yang sempit itu. Mengapa disebut sempit? Karena hanya ada satu jalan masuk. Pintu itu sempit karena hanya melalui Kristus dan Kristus saja. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Dalam Yohanes 10, Dia juga berkata, “Akulah pintu.” Tidak ada jalan lain. Tidak ada keselamatan di luar Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, setiap orang harus masuk melalui Dia—dengan percaya kepada-Nya. Siapa pun yang menolak Dia berada di bawah penghukuman. Seperti yang dinyatakan dalam Kitab Suci, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.”

Memang terasa aneh bahwa hal ini masih perlu ditekankan, tetapi kenyataannya memang perlu. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa ada jalan kepada Tuhan tanpa melalui Kristus—baik untuk orang Yahudi maupun bangsa lain. Namun Alkitab sangat jelas: setiap orang harus datang melalui Kristus. Karena itu, kamu harus masuk. Dan kamu harus masuk melalui pintu itu—dan pintu itu adalah Kristus, hanya Kristus. Seperti tertulis dalam Yohanes 1:12, “Semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Dan Yohanes 3 menegaskan bahwa siapa yang tidak menerima Dia akan binasa. Jadi panggilannya tetap sama: Anda harus masuk, dan Anda harus masuk melalui Kristus—Kristus yang sejati dan Injil yang benar.

Yang ketiga, Anda harus masuk melalui pintu ini seorang diri. Karena ini adalah pintu yang sempit, jadi ini bukan upaya kelompok. Pada titik ini, seseorang harus meninggalkan kerumunannya dan datang sendiri. Inilah salah satu hal yang sangat mengkhawatirkan tentang histeria massal yang terjadi dalam gerakan karismatik. Ini adalah jenis histeria massal yang sama yang terjadi pada konser musik rock, hanya saja kata-katanya berbeda. Kata-kata Yesus, tetapi pada banyak kasus, histeria emosional, euforia, dan di luar kendalinya sama.

Ketika seseorang masuk melalui pintu ini, pintunya sangat sempit—seperti pintu putar yang hanya bisa dilewati satu orang pada satu waktu. Artinya, ini bersifat eksklusif dan sangat pribadi. Bahkan bisa berarti seseorang harus mengambil keputusan yang berbeda dari orang-orang terdekatnya—dari ayah Anda, dan ibu Anda, saudara perempuan Anda, saudara laki-laki Anda, semua teman dan keluarga Anda, juga semua orang yang Anda kenal. Ini bukan keputusan bersama-sama sebagai kelompok. Setiap orang harus merespons secara pribadi. Intinya sederhana: setiap orang datang sendiri. Satu jiwa pada satu waktu.

Sepanjang hidup ini, manusia sering terbawa arus—berusaha menjadi bagian dari kelompok, mengikuti apa yang dilakukan banyak orang. Bahkan ada bentuk kekristenan yang seolah berkata, “Ayo datang bersama-sama, ajak juga yang lain,” dan dalam suasana emosi yang tinggi, orang bisa terbawa oleh gelombang massa. Namun yang ditekankan di sini berbeda. Anda harus menyangkal diri Anda sendiri—bahkan jika itu artinya harus berbeda dari keluarga, teman, dan semua yang selama ini Anda kenal. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Anda harus berhenti mengikuti arus. Berhenti terbawa oleh kerumunan dan Anda datang sendiri.

Pesan seperti itu jarang terdengar. Saya rasa orang-orang tidak memahaminya. Dan saya pikir ini hanyalah manipulasi massal, tetapi Anda harus datang sendirian.

Keempat, Anda harus masuk, Anda harus masuk melalui pintu ini, Anda harus masuk sendiri, dan Anda harus masuk dengan kesulitan. Mengapa sulit? Karena di akhir ayat 14 dikatakan, “sedikit orang yang mendapatinya.” Mengapa sulit menemukan pintu itu? Mengapa hanya sedikit yang menemukannya?

Saya beri tahu mengapa pintu itu sulit ditemukan—lihat ayat berikutnya: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu.” Mereka ada di mana-mana. Dan apa yang mereka lakukan? Mereka mengarahkan orang ke pintu yang lain. Itulah sebabnya hanya sedikit yang menemukannya.

Dan setelah seseorang menemukan pintu itu, ia masuk dengan perjuangan yang sungguh-sungguh. Dalam Lukas 13:24, Yesus berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!” Kata “berjuang” di situ menggambarkan usaha yang serius—pergumulan yang dalam. Karena Yesus juga berkata, “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Kata agōnizomai yang dipakai di ayat ini memiliki arti perjuangan yang hebat, penderitaan yang luar biasa. Bahkan, dalam Matius 11:12, Yesus mengatakan, “Kerajaan Surga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya.” Menjadi seorang percaya adalah hal yang penuh pergumulan. Masuk melalui pintu yang sempit itu bukan hal yang ringan. Dalam Lukas 16:16, Yesus bahkan mengatakan bahwa “setiap orang memasukinya dengan paksa.”

Mengapa begitu sulit? Mengapa begitu susah? Pertama-tama, karena sulit untuk menemukannya. Misalnya seseorang di Los Angeles berkata, “Saya ingin menemukan pintu yang sempit.” Berapa banyak tempat yang harus ia datangi sebelum ia bisa menemukannya? Berapa banyak tempat yang harus ia lewati sebelum akhirnya benar-benar menemukan pintu itu? Dan setelah ia menemukannya, masuk ke dalamnya akan menjadi pengalaman yang penuh pergumulan. Mengapa? Karena menuntut pertobatan yang total dan penyangkalan diri.

Yesaya 55:6-7 berkata, “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya.” Jika Anda mau datang, Anda harus bertobat—tinggalkan jalan Anda yang jahat, tinggalkan hidup Anda yang tidak benar. Dan itu tidak mudah, karena itulah satu-satunya cara hidup yang selama ini Anda kenal.

Yeremia menyampaikannya dengan cara yang lebih positif. Yeremia 29:13 berkata, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” Artinya, ini menguasai seluruh hidup Anda. Anda tidak menginginkan yang lain. Tidak ada yang tersisa selain ini. Begitu sempitnya jalan itu. Sulit untuk menemukannya, dan setelah ditemukan, masuk ke dalamnya menjadi pengalaman yang penuh pergumulan, karena Anda harus meninggalkan semua yang selama ini Anda kenal di luar. Pintu ini hanya dimasuki oleh mereka yang sungguh-sungguh. Hanya oleh mereka yang bersemangat. Hanya oleh mereka yang sepenuh hati. Hanya oleh mereka yang hatinya hancur. Ini bukan suatu pesta.

Ketika melihat gerakan karismatik seperti ini dengan segala fenomenanya, kadang terasa sulit membedakan antara seorang pengkhotbah dan seorang komedian. Padahal ini adalah hal paling serius dalam hidup seseorang. Ini sangat menentukan, sangat mendalam. Mengapa begitu sulit? Karena manusia berdosa cenderung mencintai dosanya. Tapi inilah jalan untuk datang: dengan meninggalkan apa yang selama ini mengikat.

Yang kelima: Anda harus masuk. Anda harus masuk melalui pintu ini—yaitu Kristus. Anda harus masuk sendiri, karena ini bukan peristiwa bersama-sama, melainkan keputusan pribadi. Anda harus masuk dengan pergumulan, karena itu berarti Anda bertobat dan meninggalkan segala sesuatu yang selama ini Anda cintai. Dan Anda harus masuk tanpa membawa apa-apa. Anda tidak bisa melewati pintu sempit sambil membawa beban. Ini adalah pintu bagi mereka yang sudah melepaskan segalanya. Seperti yang dikatakan dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya.” Seberapa dalam penyangkalan itu? Yohanes 12:25 mengatakan bahwa seseorang harus melepaskan bahkan hidupnya sendiri—tidak lagi menjadikannya sebagai pusat, tetapi menyerahkannya sepenuhnya.

Dalam dua perumpamaan singkat di Matius 13:44-46, Yesus berkata ada seorang yang menemukan harta terpendam di ladang. Ketika ia menemukannya, ia menjual semua yang dimilikinya untuk membeli ladang itu. Ada juga seorang yang menemukan mutiara yang sangat berharga, dan ia menjual semua yang dimilikinya untuk mendapatkan mutiara itu. Kedua kisah ini sederhana, tetapi pesannya jelas: ketika seseorang menemukan Kristus, ia rela melepaskan segalanya. Kalimat yang berulang dalam kedua perumpamaan itu adalah: ia menjual semuanya. Itulah gambaran dari panggilan untuk menyangkal diri—seperti yang diajarkan dalam Lukas 9 dan juga Matius 10.

Apa maksudnya “datang tanpa membawa apa-apa”? Artinya, Anda tidak membawa kebenaran Anda sendiri. Tidak membawa pencapaian Anda. Tidak membawa prestasi atau usaha religius Anda. Anda datang dengan sikap seperti yang Yesus ajarkan di awal khotbah-Nya—sikap “berbahagia,” yaitu menjadi “miskin di hadapan Allah.” Apa artinya itu? Menyadari bahwa secara rohani kita tidak punya apa-apa. Bangkrut secara moral dan spiritual. Ketika seseorang menyadari hal itu, ia tidak lagi datang dengan membawa apa pun dari dirinya sendiri—tidak ada prestasi, tidak ada usaha, tidak ada kinerja rohani. Ia datang dengan kosong. Ia melepaskan semuanya.

Anda seperti yang digambarkan dalam Lukas 18. Seperti pemungut cukai di Bait Allah yang memukul dadanya sambil berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Ia tidak membawa apa-apa. Di sebelahnya ada seorang Farisi yang berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu karena aku tidak seperti orang ini. Aku berpuasa, aku memberi persepuluhan, aku melakukan ini dan itu.” Dan Yesus berkata, justru orang yang memukul dadanya itu—yang datang tanpa membawa apa-apa—yang dibenarkan, bukan yang satu lagi.

Lalu ada juga kisah orang muda yang kaya dalam Matius 19. Yesus menguji apakah ia mau meninggalkan semuanya. Ia diminta menjual semua miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Tetapi ia pergi dengan sedih, meninggalkan Yesus, karena itu terlalu berat baginya.

Sejak awal, Yohanes Pembaptis dan Yesus memberitakan pertobatan. Yesus selalu menekankan kesadaran akan kebangkrutan rohani—bahwa kita kosong di hadapan Tuhan. Ia memanggil orang untuk berdukacita atas dosa, hancur hati, rindu berbalik dari dosa, rindu diselamatkan dari hukuman, dan sadar bahwa tidak ada yang bisa ditawarkan dari diri sendiri. Itulah yang diajarkan dalam ucapan bahagia: orang yang masuk ke dalam Kerajaan adalah mereka yang menyadari bahwa mereka miskin secara rohani. Karena itu mereka berdukacita atas keadaan mereka. Karena itu mereka menjadi lemah lembut dan hancur hati. Karena itu mereka lapar dan haus akan kebenaran yang mereka tahu tidak mereka miliki.

Saya tidak melihat jenis khotbah seperti itu. Saya tidak melihat undangan seperti itu dalam gerakan karismatik. Yang sering terdengar adalah, “Ayo ikut, rasakan suasananya. Dapatkan kesembuhan. Dapatkan berkat. Dapatkan nubuat. Biarkan Yesus berbicara kepadamu. Jadilah bahagia.” Itu sangat berbeda dari apa yang Tuhan kita ajarkan.

Anda harus masuk. Anda harus masuk melalui pintu ini. Anda harus masuk sendiri. Anda harus masuk dengan pergumulan. Anda harus masuk tanpa membawa apa-apa. Dan Anda harus masuk dengan tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Beberapa tahun yang lalu saya menulis sebuah buku berjudul Slave (Budak), dan itulah gambaran dari apa yang terjadi—seseorang menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Ini bukan pesan yang mudah, apalagi di dunia yang menghargai kebebasan. “Inilah Injilnya: Anda dipanggil untuk menyerahkan hidup Anda sepenuhnya kepada Tuhan. Artinya, Anda harus siap menempatkan Dia di atas segala sesuatu—bahkan di atas keluarga, diri sendiri, dan semua yang kamu miliki. Anda harus rela melepaskan apa pun yang menjadi penghalang, meninggalkan segala sesuatu, dan tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.

Sangkal diri Anda, pikul salib Anda. Apa artinya “memikul salib”? Apakah itu pengalaman mistis? Bukan. Artinya: siap untuk mati. Apakah ini begitu penting? Apakah cukup penting sampai Anda bersedia mati untuk itu? Jika seseorang berkata kepada Anda, “Jika kamu datang kepada Yesus dan mengaku Dia sebagai Tuhan, kami akan membunuhmu,” apakah Anda tetap akan datang? Itulah yang Yesus maksudkan. Apakah Anda bersedia mati untuk ini? Orang yang sungguh percaya akan berkata, “Tentu saja.” Karena mereka sadar bahwa tanpa Kristus, mereka tetap akan mati dalam keadaan berdosa dan menghadapi kebinasaan. Ini berbicara tentang kesadaran akan kekosongan diri, kesedihan atas dosa, kerinduan untuk meninggalkan dosa, dan kerinduan untuk diselamatkan dari penghakiman—apa pun harganya.

Itu sangat berbeda dengan gambaran yang mengatakan bahwa Yesus ada untuk memenuhi semua keinginan kita—seolah-olah kita bisa “menciptakan” hidup yang kita mau, dan Yesus hanya akan mewujudkan semua impian kita. Pandangan seperti itu perlu dipikirkan ulang. Dalam Lukas 14, Yesus sendiri memberikan peringatan. Ia berkata, pikirkan baik-baik sebelum datang kepada-Nya. Jangan seperti orang yang mulai membangun menara tetapi tidak sanggup menyelesaikannya, sehingga menjadi bahan ejekan. Atau seperti raja yang pergi berperang dengan 10.000 prajuritnya tanpa menyadari bahwa ia tidak cukup kuat menghadapi musuh yang lebih besar.

Hitunglah harga yang harus dibayar. Dan berapa harganya? Segalanya. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Bayangkan jemaat mula-mula, berjalan dari satu tempat ke tempat lain di dunia non-Yahudi, memberitakan Injil—mengajak orang untuk menjadi budak dari seorang yang disalibkan. Itu bukanlah pesan yang mudah diterima.

Pada masa itu, pesan ini jauh lebih sulit diterima daripada sekarang, karena konteks perbudakan sangat nyata. Tapi pesannya tetap sama. Mengikut Yesus berarti menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya—seumur hidup. Ketika seseorang masuk melalui pintu itu, ia meninggalkan segalanya di luar. Semua yang ia butuhkan secara rohani kini bergantung kepada Tuhan. Ia belajar percaya kepada-Nya—untuk pemeliharaannya, perlindungan, dan penggenapan janji-janji-Nya. Ini adalah tindakan iman yang sangat dalam—sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia tanpa benar-benar datang kepada titik itu. Inilah arti menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia.

Sebagai kontras dari pintu yang sempit itu, ada pintu yang lebar. Pintu itu lebar. Apa artinya? Tidak ada batasan. Silakan datang bersama rombongan. Datang bersama teman-teman Anda. Biarkan suasana menarik Anda. Biarkan pengalaman itu membawa Anda masuk. Semua orang bisa ikut—tanpa kesulitan, tanpa penyangkalan diri. Bawa saja semua yang Anda punya—kesombongan, dosa, apa pun itu. Jangan kuatir soal pertobatan.

Sekelompok besar orang yang religius berjalan melalui pintu yang lebar itu, membawa semua beban, keinginan, dan kepentingan mereka. “Saya datang kepada Yesus supaya saya menjadi kaya. Saya datang supaya saya sembuh. Saya datang supaya pernikahan saya diperbaiki. Saya datang supaya hidup saya berhasil. Saya datang supaya saya merasa puas.” Seolah-olah Yesus hanya dilihat sebagai jalan untuk memenuhi keinginan daging ini. Dan banyak orang datang dengan motivasi seperti itu—berbondong-bondong melalui pintu yang lebar itu.

Itu tentang dua pintu. Sekarang tentang dua jalan—dua jalan yang sangat berbeda. Ada jalan yang lebar, seperti di ayat 13, dan ada jalan yang sempit di ayat 14. Jalan yang lebar itu luas, memberi ruang bagi berbagai macam ajaran. Di sana, orang bisa percaya apa saja yang mereka mau. Sering terdengar ajakan seperti, “Jangan memperdebatkan ajaran. Jangan terlalu kaku. Yang penting semua diterima.” Pendekatan seperti itu menggambarkan jalan yang lebar—di mana segala sesuatu dianggap sama saja, dan apa pun yang diyakini dianggap tidak masalah.

Itulah mengapa 120 juta dari 500 juta kaum karismatik adalah Katolik Roma dengan doktrin yang murtad, sesat, dan korup. Dua puluh lima juta dari mereka adalah kaum Pentakosta yang menyangkal Tritunggal. Sembilan puluh persen dari mereka percaya pada Injil kemakmuran yang menyatakan bahwa Yesus ingin membuat Anda kaya dan sehat. Sebagian besar dari orang-orang ini bukanlah orang percaya. Tetapi begitulah cara kerja jalan yang lebar. Begitulah cara kerjanya. Begitulah cara Anda menjualnya. Itulah mengapa—saya berbicara dengan seorang pendeta dari Nigeria pagi ini, dia berkata, “Dulu saya berada di gereja karismatik. Jemaatnya sekitar seribu orang. Saya melihat kebenaran. Saya meninggalkan gereja karismatik. Sekarang saya mengajarkan kebenaran, saya memiliki seratus orang.” Itulah jalan yang lebar. Dan seperti yang disebutkan dalam ayat 15–20, ada juga peringatan tentang nabi-nabi palsu—orang-orang yang pandai mempengaruhi dan mengarahkan banyak orang, sehingga banyak yang mengikuti jalan yang lebar itu.

Sebaliknya, jalan yang sempit itu benar-benar sempit. Setelah seseorang masuk, jalannya tetap sempit. Apa maksudnya? Artinya terbatas dan terarah. Apa yang membatasinya? Firman Tuhan. Seperti dalam Amanat Agung: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Itulah cara hidup di jalan yang sempit.

Nah, ada pendekatan yang cukup populer yang mengatakan bahwa pertumbuhan rohani cukup dengan “melihat salib,” merenungkannya, tergeraklah secara emosional, dan bersyukur. Mereka menyebutnya pengudusan yang berpusat pada salib. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa jika seseorang taat karena kewajiban, itu dianggap berdosa. Ini dianggap sebagai teologi yang buruk. Memang kadang saya taat karena kasih. Kadang saya taat karena rasa syukur. Dan sejujurnya, kadang saya taat karena takut. Tetapi yang penting, saya ingin selalu hidup dalam ketaatan. Dan takut akan Tuhan tidak berarti saya tidak mengasihi-Nya. Justru itu adalah bagian dari bagaimana saya mengasihi Dia sesuai dengan siapa Dia sebenarnya.

Itulah jalan yang sempit. Artinya, kita tidak bisa percaya apa saja sesuka hati. Kita juga tidak bisa hidup semaunya. Kita tidak mendukung kemaksiatan. Kita tidak mendukung homoseksualitas. Kita tidak mendukung materialisme. Kita tidak mendukung keduniawian di jalan yang sempit.

Jadi, Anda perlu benar-benar menghitung harganya. Injil yang sejati tidak menjanjikan kesembuhan. Tidak menjanjikan hidup yang selalu nyaman. Tidak menjanjikan pernikahan yang sempurna. Tidak menjanjikan kekayaan. Yang dijanjikan adalah pengampunan, berkat dari Tuhan, dan kuasa untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Injil menjanjikan hal-hal yang surgawi, bukan yang duniawi.

Dan ada dua tujuan, dua tujuan yang berbeda. “Jalan yang lebar,” ayat 13, “menuju kebinasaan.” Itu adalah neraka. Pintu masuknya memang seolah-olah bertuliskan “surga,” tetapi sebenarnya tidak menuju ke sana. Ujungnya adalah kebinasaan—hukuman kekal, ratap dan tangis, penderitaan yang tidak berakhir. Sedangkan “jalan yang sempit,” ayat 14, “menuju kepada hidup.” Yaitu hidup yang kekal, sukacita yang mulia di dalam surga.

Lalu yang keempat, ada dua kelompok. Di jalan yang lebar, “banyak orang” yang berjalan di sana. Ayat 13 diakhiri dengan kata itu: banyak. Sedangkan di jalan yang sempit, hanya sedikit—sedikit yang menemukannya. Sering muncul pertanyaan seperti ini: bagaimana mungkin sesuatu dianggap bukan dari Tuhan kalau begitu banyak orang yang terlibat di dalamnya? Namun jika kita melihat apa yang dikatakan Yesus, justru gambaran-Nya berbeda. Jalan yang lebar memang diikuti oleh banyak orang—jalan yang tidak menuntut, yang tidak menekankan kebenaran secara jelas, dan yang menawarkan apa yang memang diinginkan oleh manusia pada umumnya. Sebaliknya, jalan yang sempit itu hanya sedikit yang menemukannya.

Dalam Lukas 13, sepertinya ayat 23, para murid mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Mesias sudah datang. Mereka punya harapan besar. Yesus melakukan mujizat, mengajar, dan mereka mengasihi serta percaya kepada-Nya. Tetapi mereka melihat tidak banyak orang yang benar-benar mengikut Dia. Lalu mereka bertanya dalam Lukas 13:23, "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Dan Yesus pada dasarnya menjawab bahwa banyak orang berusaha masuk, tetapi tidak bisa—karena mereka tidak mau melepaskan hal-hal yang mereka pegang erat dalam hidup mereka.

Dalam sebuah perumpamaan di Matius 22, Yesus berkata, “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Ketika Yesaya mendapat penglihatan besar tentang Tuhan dalam Yesaya pasal 6, di bagian akhirnya Tuhan mengatakan bahwa akan ada sisa—seperti sepersepuluh, seperti tunggul, seperti tunas yang kudus. Di jalan yang lebar, jumlahnya banyak—sangat banyak. Dan menariknya, “banyak” itu juga muncul lagi di ayat 22, yaitu mereka yang berkata, “Tuhan, Tuhan, ini kami.”

Di sini kita melihat dua jenis perilaku: yang hanya berkata-kata, dan yang sungguh-sungguh melakukan. Pengakuan yang palsu sebenarnya adalah bentuk kesalahan yang serius—seperti menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Ini melanggar perintah dalam Keluaran 20. Orang-orang yang tidak sungguh-sungguh hanya mengucapkan kata-kata kosong, dari hati yang kosong. Tidak ada pertobatan yang nyata. Tidak ada iman yang sejati. Tidak ada kasih yang sungguh. Tidak ada ketaatan. Mereka berkata, “Tuhan, Tuhan.” Ada semangat di situ. Ada emosi. Ada penghormatan secara lahiriah. Bahkan tampak benar secara doktrin sampai tingkat tertentu. Lalu mereka berkata, “Bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” Mereka berbicara tentang hal-hal spektakuler. Tetapi mereka tidak berkata, “Bukankah kami bertobat? Bukankah kami taat?”

Tiga kali di ayat 22 dikatakan, “Dalam nama-Mu, dalam nama-Mu, dalam nama-Mu.” Anda bisa menyebut nama Yesus berkali-kali. Anda bisa menyanyikan nama-Nya 50 kali dalam satu lagu. Itu hal yang biasa. Itu hal yang umum. Dan seperti kaum karismatik, Yesus pasti memikirkan masa depan, termasuk hari ini, dimana mereka berpikir bahwa bukti mereka adalah milik-Nya itu terletak pada nubuat mereka, pengusiran setan dan berbagai mukjizat yang mereka lakukan.

Apakah mereka benar-benar melakukannya? Dalam pandangan ini, tidak. Karena Tuhan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Dia tidak memberi kuasa kepada orang-orang yang bahkan tidak berada di dalam kerajaan-Nya untuk melakukan mukjizat, mengusir Setan, atau mengungkapkan kebenaran-Nya melalui nubuat. Yang mereka katakan adalah klaim palsu, klaim bohong. Mereka terdengar seperti kaum karismatik modern. “Kami bernubuat. Kami mengusir setan. Kami melakukan mukjizat.” Tetapi mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Tuhan. Mereka pikir, takdir kekal mereka akan ditegaskan oleh tanda-tanda palsu ini.

Tapi sayangnya, neraka akan dipenuhi dengan orang-orang yang terlibat dalam nubuat, pengusiran setan, dan melakukan mukjizat. Mereka mengaku sebagai penyembah. “Tuhan, Tuhan,” lalu mereka mengulanginya lagi, “Tuhan, Tuhan.” Sekali di ayat 21, sekali di ayat 22. Mereka ikut dalam ibadah, menyanyikan lagu, merasakan suasananya, dan berada di tengah pengalaman emosional yang kuat.

Tetapi ketika mereka datang pada hari itu—hari penghakiman terakhir—ayat 22 mengatakan bahwa Tuhan akan berkata kepada mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu.” Bukan berarti dulu mengenal lalu berubah. Tidak. “Aku tidak pernah mengenal kamu.” “Enyahlah dari hadapan-Ku”—menuju penghukuman—“kamu yang melakukan kejahatan.” Intinya ada pada apa yang mereka praktikkan. Bukan pada pengalaman-pengalaman yang bisa saja muncul secara emosional atau tampak rohani. Dalam bahasa aslinya, penekanannya sangat kuat: “Aku sama sekali tidak pernah mengenal kamu.” Tidak pernah.

Keadaan rohani seseorang yang sesungguhnya terlihat dari hidupnya—dari bagaimana ia hidup dalam hubungannya dengan kehendak Tuhan. Pengakuan yang palsu tidak ada nilainya. Bahkan bisa dianggap sebagai penyalahgunaan nama Tuhan—menyebut nama-Nya dengan sia-sia. G. Campbell Morgan, seorang penafsir Alkitab pernah berkata bahwa penyimpangan yang terjadi di tempat ibadah justru bisa lebih serius daripada yang terjadi di luar, karena dibungkus dengan hal-hal yang tampak rohani. Seperti ciuman Yudas—yang berkata, “Tuhan, Tuhan,” tetapi hidupnya tidak taat.

Intinya adalah: “Aku tidak mengenal kamu.” Kalau dipikir-pikir, ini adalah hal yang menyedihkan karena ada orang-orang yang merasa sudah benar, tetapi pada akhirnya mendengar kata-kata itu. Beberapa waktu lalu, Jeff O’Hara menulis seperti ini: “Mengapa kamu memanggil Aku ‘Tuhan, Tuhan,’ tetapi tidak melakukan apa yang Aku katakan? Kamu menyebut Aku ‘jalan,’ tetapi tidak berjalan di dalam-Ku. Kamu menyebut Aku ‘hidup,’ tetapi tidak hidup di dalam-Ku. Kamu menyebut Aku ‘Tuan,’ tetapi tidak taat kepada-Ku. Jika Aku menghukum kamu, jangan salahkan Aku. Kamu menyebut Aku ‘roti,’ tetapi tidak datang kepada-Ku. Kamu menyebut Aku ‘kebenaran,’ tetapi tidak percaya kepada-Ku. Kamu menyebut Aku ‘Tuhan,’ tetapi tidak melayani Aku. Jika Aku menghukum kamu, jangan salahkan Aku.”

Ada dua pintu, dua jalan, dua tujuan, dua kelompok, dua pengakuan, dan akhirnya dua dasar. Sekarang kita masuk ke ayat 24-27. Ini adalah ilustrasi yang sangat kuat. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya”—artinya taat, atau dengan kata lain, ia datang melalui jalan yang telah Kukatakan, melalui pintu sempit, menuju jalan yang sempit.—“maka ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya”—atau tidak taat—“ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Ini berbicara tentang penghakiman terakhir. Dan penghakiman itu datang kepada keduanya. Badai yang sama menghantam kedua rumah. Kedua rumah itu dibangun di tempat yang sama, dan dari luar terlihat sama. Kalau kita melihat sebuah rumah, kita tidak bisa langsung tahu apakah fondasinya kuat atau tidak. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak bisa sembarangan membedakan siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang tidak, karena dari luar sering kali terlihat sama.

Namun ada penghakiman yang datang. Kedua kelompok ini sama-sama “membangun rumah”—membangun kehidupan yang tampak religius. Dari luar, hampir tidak bisa dibedakan. Mereka mungkin pergi ke gereja, terlibat dalam berbagai kegiatan, menyebut nama Yesus, dan membangun seluruh “struktur” kehidupan rohani mereka. Keduanya tampak sama, bahkan berada di tempat yang sama—karena keduanya dihantam oleh badai yang sama. Sangat sulit membedakannya dari luar. Tetapi sebenarnya ada perbedaan yang sangat besar: yang satu dibangun di atas batu, yang lain di atas pasir.

Apa yang dimaksud dengan batu? Ketaatan. Ketaatan kepada perkataan Yesus. “Yang mendengar perkataan-Ku ini.” Taat kepada jalan yang Ia tunjukkan: masuk melalui pintu yang sempit, melalui Kristus saja, dengan hati yang bertobat dan menyangkal diri. Orang seperti itu membangun di atas batu. Bahkan dalam Lukas 6:47-48 dikatakan bahwa ia “menggali dalam-dalam.” Ia menaruh dasar yang kuat, sampai fondasinya benar-benar kokoh.

Sebaliknya, ada orang-orang yang memilih jalan yang mudah—semuanya serba cepat, penuh emosi, terbawa suasana, dan mencari jalan pintas. Tidak ada waktu untuk pergumulan hati, tidak ada waktu untuk kehancuran hati karena dosa, tidak ada waktu untuk pertobatan yang sungguh-sungguh. Tidak ada waktu untuk pengorbanan, tidak ada kerelaan untuk meninggalkan segalanya. Tidak ada kesadaran yang mendalam tentang dosa, tidak ada pemahaman yang benar tentang kekudusan, dan tidak ada kesungguhan untuk benar-benar mengikuti Kristus. Dan ketika badai penghakiman datang—penghakiman terakhir—rumah yang dibangun di atas pasir itu runtuh. Hancur. Pada saat itu, keadaan yang sebenarnya akan terlihat dengan jelas.

Saya menyukai hymne ini: “Pengharapanku hanya pada darah dan kebenaran Yesus. Aku tidak berani bersandar pada apa pun yang lain, selain nama Yesus. Di atas Kristus, Sang Batu Karang yang teguh, aku berdiri. Segala dasar yang lain adalah pasir yang mudah runtuh.”

Bagaimana kita tahu kalau seseorang berada dalam kondisi seperti ini—merasa benar, tetapi sebenarnya tersesat? Beberapa cirinya bisa terlihat seperti ini: Mereka memiliki rasa “aman” karena berada dalam kelompok. Lingkungan sekitar memperkuat perasaan bahwa mereka sudah benar. Tidak ada keinginan untuk menguji diri sendiri. Padahal 2 Korintus 13:5 berkata, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.” kehidupan rohani lebih banyak diisi aktivitas luar—sibuk dengan kegiatan, tetapi tidak menyentuh hati yang terdalam. Yang dicari adalah pengalaman, perasaan, berkat, kesembuhan, hal-hal yang spektakuler dan bukan Kristus itu sendiri. Lalu, ada sikap yang kurang peduli terhadap ajaran yang sehat, dan cenderung menyalahgunakan konsep kasih karunia sebagai alasan untuk hidup tanpa batas yang jelas.

Dan apa pesannya bagi mereka? Ujilah dirimu sendiri—apakah kamu sungguh berada di dalam iman. Lalu bagaimana jika seseorang bertanya, “Saya tidak yakin apakah saya benar-benar orang Kristen. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya bisa keluar dari jalan yang lebar dan masuk ke jalan yang sempit melalui pintu yang sempit?”

Kembali ke ayat 7 dalam pasal ini. Apa kata yang pertama? Apa itu? “Mintalah.” “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Apa yang harus kamu lakukan? Mintalah. “Ya Allah, ya Allah, tunjukkan kepadaku pintu yang sempit itu. Izinkan aku masuk.” Carilah, maka kamu akan mendapat. Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. “Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu akan dibukakan.” Apakah ini sudah cukup jelas?

Yesus berkata, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah Kutolak.” “Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang—apa?—meminta kepada-Nya.” Mintalah, mintalah, mintalah.

Bapa, sekali lagi kami diperkaya dan diberkati dengan luar biasa melalui ibadah kami pagi ini. Dan seperti biasa, puncak dari penyembahan itu adalah kebenaran-Mu—kebenaran yang membentuk penyembahan kami. Kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau menanamkan pesan ini dalam hati setiap orang, mendorong mereka untuk meminta, mencari, dan mengetok dengan keyakinan bahwa Engkau akan menjawab.

Kami berdoa, Tuhan, kiranya Engkau menyelamatkan jiwa-jiwa dari api yang menyesatkan ini—menolong mereka yang tersesat dan tertipu, yang adalah jiwa-jiwa yang kekal. Kiranya Engkau juga mau memakai kami dengan cara-cara yang belum kami pahami, sebagai alat-Mu, karena Engkau telah memilih untuk memanggil orang-orang kepada-Mu melalui kami.

Pakailah apa yang telah terjadi minggu ini untuk menjangkau banyak orang di seluruh dunia, untuk menyelamatkan mereka dari kebinasaan. Dan sekali lagi kami kembali pada satu hal: memuliakan Engkau, karena kami boleh menerima bagian dalam karya keselamatan melalui darah Sang Juruselamat. Kasih yang ajaib, kasih yang ajaib—bagaimana bisa Engkau, Allah kami, mati bagi kami?

Kami memuji nama-Mu dan meninggikan nama-Mu. Kami berdoa, kiranya Engkau bekerja di dalam hati setiap orang. Biarlah Roh Kudus menggerakkan hati banyak orang untuk meminta, mencari, dan mengetok.

Bapa, kami bersyukur karena Firman-Mu tidak pernah sia-sia ketika diberitakan. Firman-Mu tidak kosong. Firman-Mu penuh kuasa, lebih tajam dari apa pun, dan selalu menggenapi tujuan yang Engkau tetapkan. Dengan keyakinan itu dan dengan janji-Mu, kami telah menyampaikannya sekali lagi. Dimuliakanlah nama-Mu, dihormatilah Engkau, dan tariklah orang-orang kepada pintu yang sempit itu, masuk ke dalam jalan yang sempit yang membawa kepada kehidupan. Dan kami akan memberikan segala pujian hanya kepada-Mu. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize