Mari kita buka Alkitab kita di Mazmur 19, Mazmur 19. Seperti yang Anda ketahui, minggu lalu saya mulai berbagi dengan Anda tentang pokok bahasan, Kecukupan Firman Tuhan. Dan saya ingin mengakhiri selingan singkat di tengah-tengah studi kita tentang 1 Timotius itu dengan kembali ke pokok bahasan yang sama. Hanya saja kali ini, daripada membahasnya dengan melihat banyak ayat Firman Tuhan, saya ingin kita fokus pada satu bagian yaitu, Mazmur 19.
Seperti kebiasaan saya dari waktu ke waktu, saya senang membaca tulisan-tulisan kaum Puritan, dan saya akan mengambil sebuah buku karya kaum Puritan dari rak buku saya, lalu duduk santai di kursi di ruang belajar saya dan membacanya. Dan minggu ini saya membaca bagian yang bagus tentang Firman Tuhan karya Thomas Watson, dan ada satu pernyataan darinya yang menurut saya sangat cocok untuk kita. Dia mengatakan ini, "Iblis dan para pengikutnya telah mencoba meniup terang Firman Tuhan tetapi tidak pernah bisa memadamkannya, sebuah tanda yang jelas bahwa terang itu dinyalakan oleh surga."
Minggu lalu saya sampaikan kepada Anda bahwa saya yakin sekelompok orang yang sangat tidak terduga tampaknya sedang berusaha meniup terang Firman Tuhan dan mencoba memadamkannya. Dan yang mengherankan tentang hal ini adalah bahwa serangan yang paling saya khawatirkan terhadap Firman Tuhan tampaknya tidak datang dari mereka yang menyangkalnya sebagai Firman Tuhan, tetapi justru dari mereka yang mengakuinya sebagai Firman Tuhan. Bagi saya, tampaknya salah satu ancaman yang paling halus dan berbahaya yang dihadapi Firman Tuhan datang dari dalam kategori Kristen evangelikal, oleh orang-orang yang mengaku percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, tetapi mengkhianati dengan kurang percaya pada kecukupannya lalu berbicara jahat tentang Firman Tuhan.
Membaca Firman, mengajarkan Firman, memberitakan Firman, menaati Firman, dan menghidupinya tampaknya bagi banyak orang saat ini tidak cukup untuk masalah-masalah kehidupan dan perilaku dalam dimensi rohani. Dan saya rasa, orang-orang ini sedang mengembangkan apa yang mereka pikir sebagai alat bantu yang diperlukan untuk menopang Alkitab. Mungkin mereka merasa bahwa Alkitab membutuhkan semacam transfusi untuk memberinya kekuatan yang tampaknya tidak dimilikinya. Dan saya percaya, seperti yang saya tunjukkan sebelumnya, bahwa ini adalah dosa besar terhadap Tuhan dan terhadap Firman-Nya dan menunjukkan ketidakpercayaan yang serius terhadap kecukupan Firman Tuhan.
Seperti yang saya tunjukkan sebelumnya, hampir seluruh pergeseran dalam gereja Injili menuju psikologi digunakan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah manusia, pencarian metodologi untuk pertumbuhan gereja dengan pola bisnis dan struktur korporat duniawi, tuntutan akan kekuasaan politik sebagai kunci kebangkitan seperti yang dikatakan sebagian orang, seruan untuk mukjizat, tanda-tanda, keajaiban, pewahyuan baru dan kegiatan supranatural, penyimpaangan dari Injil yang sederhana dan Firman Tuhan yang benar menjadi semacam Injil pop tentang kemakmuran, pemanjaan, sensualitas dan kesuksesan yang disebarkan oleh para selebriti yang seharusnya memiliki kemampuan hebat untuk menjangkau orang-orang yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh Firman Tuhan yang sederhana, dan semuanya itu bagi saya menunjukkan bukan hanya keduniawian yang mengerikan dalam gereja, tetapi pandangan yang sangat lemah terhadap Firman Tuhan. Dan hal ini memaksa saya untuk mengajukan pertanyaan: apakah Alkitab benar-benar cukup untuk hal-hal kehidupan rohani? Apakah Alkitab cukup untuk umat Tuhan dan semua sumber daya yang diperlukan untuk hidup sepenuhnya dalam kehendak Tuhan? Atau apakah kita perlu mengakui bahwa Alkitab memiliki beberapa keterbatasan yang cukup mencolok yang hanya dapat diatasi dengan hikmat dan teknik yang dikembangkan oleh orang-orang yang bermaksud baik yang ingin sedikit membantu Tuhan?
Nah, untuk menjawab pertanyaan tentang kecukupan Firman Tuhan, saya ingin Anda melihat Mazmur 19, yang saya yakini sebagai pembahasan yang paling ringkas dan langsung tentang kecukupan Firman Tuhan dalam seluruh Alkitab. Dan omong-omong, kita akan membandingkannya dengan Mazmur 119 karena ada banyak kesamaannya. Izinkan saya katakan di awal bahwa Daud, yang adalah penulis Mazmur 19, adalah seorang pria yang memahami memahami batas-batas, kebutuhan, perubahan, pergumulan, ujian, masalah, dan penderitaan hidup sampai pada tingkat yang hanya sedikit orang yang mengalaminya.
Dia tahu bagaimana rasanya hidup yang terus-menerus terancam. Dia tahu bagaimana rasanya jatuh ke dalam dosa besar. Dia tahu bagaimana rasanya mengkhianati amanat suci yang sangat penting. Dia tahu bagaimana rasanya anak-anaknya sendiri memberontak terhadapnya. Dia tahu bagaimana rasanya pernikahan yang kacau dan keadaan keluarga yang menyedihkan. Inilah pria yang berbicara dari kedalaman emosi manusia, namun menemukan kecukupan yang sempurna dalam Firman Tuhan.
Nah, Mazmur 19, sebagai pengantar umum, dimaksudkan untuk menyampaikan kepada kita pentingnya wahyu Tuhan. Pertama-tama, dalam ayat 1 sampai 6, kita membaca tentang wahyu Tuhan di alam. Tuhan telah menyatakan diri-Nya di surga, ayat 1 mengatakan, yang menyatakan kemuliaan-Nya, di cakrawala, semua benda langit yang menunjukkan pekerjaan tangan-Nya.
Selanjutnya dibahas tentang pergerakan matahari dan lintasannya yang menakjubkan dalam orbitnya melalui alam semesta. Dan semua itu merupakan simbol dari wahyu alami, yang selama bertahun-tahun disebut oleh para teolog sebagai wahyu umum. Tuhan dinyatakan dalam ciptaan-Nya. Hal ini sangat mirip dengan yang dijelaskan dalam Roma 1, “Hal-hal yang kita lihat menyingkapkan kepada kita bahwa ada Tuhan dan Dia sangat berkuasa.”
Akan tetapi, ada wahyu yang lebih khusus lagi dalam Firman-Nya dan pemazmur membahasnya di ayat 7. Dan di bagian kedua Mazmur, dari ayat 7 sampai 14, fokusnya adalah pada wahyu khusus, wahyu Tuhan dalam Firman-Nya yang kudus. Itulah yang ingin kita lihat, dan kita akan menemukan dalam melihat ayat 7 hingga 14 tentang kecukupan Kitab Suci.
Sebenarnya, jika boleh, saya ingin menunjukkan tiga hal pagi ini: kecukupan Firman Tuhan, nilai Firman Tuhan dan akhirnya, komitmen terhadap Firman Tuhan. Nah, izinkan saya mengatakan sebelum kita membahasnya bahwa saya ingin Anda mendengarkan dengan saksama. Tentu saja, saya akan membahas banyak materi dengan agak cepat. Saya ingin Anda terus menyimak dan merenungkannya karena saya sungguh-sungguh percaya ini adalah pesan dasar untuk komitmen kita terhadap Firman Tuhan.
Nah, untuk memulainya, mari kita perhatikan kecukupan Firman Tuhan, ayat 8 sampai 10. Ikutilah ayat-ayat itu selagi saya membaca. “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu benar, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya.”
Sekarang saya ingin Anda memperhatikan sejenak, struktur dari ketiga ayat tersebut. Ada enam baris pemikiran, dan setiap baris tersebut memiliki tiga elemen. Ada judul untuk Firman Tuhan, karakteristik Firman Tuhan dan manfaat Firman Tuhan. Judul-judulnya adalah... Firman Tuhan disebut sebagai Taurat, kesaksian, ketetapan, perintah, takut, dan penghakiman. Semua itu adalah sinonim untuk Firman Tuhan.
Karakteristik Firman Tuhan adalah sempurna, teguh, benar, murni, suci, dan benar. Enam manfaatnya adalah menyegarkan jiwa, memberi hikmat kepada orang yang tak berpengalaman, menyukakan hati, membuat mata bercahaya, tetap ada untuk selamanya, dan sepenuhnya adil. Artinya, Firman Tuhan menyediakan sumber daya rohani yang penuh. Nah, dalam ketiga ayat itu, konsisten dengan kecerdasan tak terbatas dari pikiran Tuhan yang tak terbatas, Anda memiliki pernyataan yang benar-benar luar biasa dan komprehensif tentang Firman Tuhan yang diringkas menjadi beberapa kata saja. Besarnya bagian Firman Tuhan ini melampaui kemampuan kita.
Saya ingin Anda memperhatikan elemen lain, elemen yang terdiri dari enam bagian. Enam kali dalam ketiga ayat ini kita membaca "dari Tuhan.” Taurat Tuhan, perintah Tuhan, titah Tuhan, perintah Tuhan, takut akan Tuhan, dan penghakiman, atau hukum-hukum Tuhan. Sekali lagi, kita perhatikan bahwa ini kemudian menggambarkan apa yang berasal dari Tuhan. Enam kali nama perjanjian Tuhan, Allah, digunakan untuk mengidentifikasi sumber Firman yang mencukupi. Nah, dalam Mazmur 19 ini melalui sang pemazmur, kita memiliki kesaksian Tuhan sendiri tentang kecukupan Firman Tuhan untuk segala kebutuhan rohani.
Sekarang mari kita lihat keenam hal ini. Nomor satu, di ayat 8, “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa.” Nah, sebutan pertama untuk Firman Tuhan adalah “Taurat.” Dan kata ini memberi penekanan pada Firman Tuhan. Asal kata itu adalah Torah. Torah pada dasarnya berarti ajaran alkitabiah atau ilahi. Torah mengarah pada sifat pengajaran atau didaktik dari Firman Tuhan. Torah adalah Tuhan yang mengajar manusia.
Istilah ini mengacu pada pengajaran. Istilah ini mengidentifikasi Firman Tuhan sebagai doktrin, yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Istilah ini memiliki pandangan tentang pengajaran ilahi yang berkaitan dengan kredo, yaitu apa yang kita percayai; yang berkaitan dengan karakter, yaitu siapa kita; dan yang berkaitan dengan perilaku, yaitu apa yang kita lakukan. Istilah ini merupakan penjelasan lengkap tentang pengajaran Tuhan bagi kehidupan manusia. Istilah ini merupakan pengajaran dari Tuhan untuk kehidupan.
Nah, ajaran yang datang melalui halaman-halaman Firman yang Kudus, dikatakan dalam ayat 8, adalah sempurna. Pengajaran itu sempurna. Yakobus bahkan menyebutnya hukum yang sempurna. Dan itu dipertentangkan oleh pemazmur dengan penalaran manusia yang tidak sempurna dan cacat. Sekarang, untuk memahami kata "sempurna," kita hanya perlu memahami bahwa itu adalah kata yang umum yang berarti sempurna, utuh, lengkap, atau cukup. Bahkan, seorang ahli Perjanjian Lama mengatakan bahwa makna penuh dari kata ini adalah dengan mengatakan bahwa "ada di semua sisi untuk menutupi sepenuhnya semua aspek dari suatu hal." Itu adalah kata yang menunjukkan kelengkapan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Firman Tuhan mencakup segalanya. Firman Tuhan tidak kekurangan apa-apa. Firman Tuhan tidak kekurangan apa pun. Firman Tuhan merupakan sumber pengajaran yang komprehensif dari Tuhan yang karenanya, memuat segala yang diperlukan untuk kehidupan rohani umat Tuhan. Sekarang, fokus khusus dari pernyataan awal ayat 8 adalah bahwa kesempurnaannya terkait dengan pertobatan jiwa. Dan di sana kita menemukan manfaat pertama dari enam manfaat tersebut. Firman Tuhan mengubah jiwa. Istilah Ibrani untuk mengubah dapat berarti menghidupkan kembali, memulihkan, menyegarkan, mengubah. Namun sinonim yang paling saya sukai adalah mengubahkan. Sinonim ini memiliki gagasan bahwa Firman Tuhan begitu komprehensif sehingga secara harfiah dapat mengubah kehidupan seseorang.
Firman Tuhanmemberikan kehidupan yang penuh dalam segala aspek kepada jiwa. Nah, kata jiwa, yang juga merupakan kata yang tidak asing, adalah nephesh. Kata itu berarti orang atau diri atau hati. Kadang-kadang diterjemahkan dengan semua cara itu. Intinya adalah, orang batiniah, seluruh dirinya, diri Anda yang sejati. Kata ini kemudian begitu komprehensif sehingga memiliki kemampuan untuk sepenuhnya mengubah diri sejati Anda, seluruh pribadi Anda.
Dengan demikian, Firman Tuhan cukup untuk sebuah pertobatan, untuk transformasi, untuk pemulihan, untuk kelahiran dan pertumbuhan rohani menuju kesempurnaan bagi keseluruhan pribadi seseorang. Hal ini sungguh mengingatkan kita pada surat Paulus kepada Timotius, 2 Timotius 3:15 sampai 17, di mana Paulus mengingatkan Timotius bahwa Kitab Suci mampu memberi hikmat kepada Anda, yang menuntun kepada keselamatan. Bukan hanya itu, tetapi juga membuat Anda sempurna, diperlengkapi sepenuhnya untuk setiap pekerjaan baik.
Dengan demikian, Firman Tuhan memiliki kuasa untuk transformasi total. Firman itu begitu komprehensif sehingga dapat membentuk jiwa dari seseorang yang hidup, menjadi persis seperti yang Tuhan inginkan dari orang itu. Dan itu dimulai pada saat pertobatan. Dalam 1 Petrus 1, kita membaca kesaksian yang sama, ayat 23, “dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, melalui firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Dengan kata lain, kelahiran baru, atau pertobatan, transformasi dicapai oleh Firman Tuhan. Dan dalam ayat berikutnya dia berkata, “Firman inilah Injil yang diberitakan kepada kamu.” Jadi, Firman itulah yang mengubah jiwa.
Paulus berkata, “Injil Kristus itu sendiri adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan,” dalam Roma pasal 1 ayat 16. Firman itu dengan kuasanya mampu mengubah hidup. Firman itu adalah agen kelahiran baru. Namun, hari ini menurut saya, ada orang yang tidak percaya pada kuasa Firman Tuhan. Mereka merasa Firman Tuhan, karena kekurangan atau ketidakberdayaannya, harus dibantu dengan mengemasnya, mungkin dalam penyanyi rock duniawi yang seksi yang, mengutip dari majalah Eternity, “mencampur apa yang diwakilkannya dari kisah lama dengan sedikit vulgaritas.” Ataukah Firman Tuhan begitu lemah dan tidak memiliki kuasa dalam dirinya sendiri, sehingga hanya meyakinkan apabila disebarkan oleh seorang tokoh selebritis yang sangat terkenal, yang terkenal karena ketenarannya, tetapi bukan terkenal karena kesalehannya, dan bukan terkenal karena keterampilannya yang hebat dalam Firman, melainkan terkenal bukan karena pencapaian yang besar bagi Tuhan atau karakternya yang hebat, melainkan karena media membuat mereka terkenal karena ketenarannya?
Haruskah kita percaya bahwa mereka dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh kuasa Firman? Atau, perlukah kita membuat rayuan yang menggugah emosi orang berdasarkan perasaan mereka, ego mereka yang terluka, dan kebutuhan mereka akan harga diri? Dan dengan demikian, kita mengubah Injil yang keras menjadi sesuatu yang sangat mudah agar mereka menerimanya, dan mungkin bahkan tidak tahu apa sebenarnya Injil itu. Atau apakah Injil, karena pada dasarnya lemah, harus dicemari dengan janji-janji kesuksesan materi? Mengapa penginjil di televisi harus memberi tahu kita bahwa jika saja kita mengirimkan sejumlah besar uang kepada mereka dan percaya, maka "iman benih" kita akan mendatangkan kembali lebih banyak uang daripada yang bisa kita bayangkan? Apakah perlu untuk menambahkan uang ke dalam Injil agar dapat diterima, oleh karena Injil itu sendiri tidak dapat mengubah jiwa?
Apakah Firman Tuhan tidak cukup untuk menyelamatkan sehingga kita memerlukan kongres Kristiani dan kita memerlukan kendali atas pemerintahan untuk mewujudkan kelahiran kembali suatu bangsa? Apakah memang ini rencana Tuhan bagi orang-orang yang dipanggil untuk memberitakan kekayaan Firman Tuhan yang tidak terduga, untuk meninggalkan Firman Tuhan, bukan untuk melayani tetapi untuk menjadi aktivis politik dan pelobi, dengan harapan untuk mengatasi kekurangan Firman Tuhan dengan kekuatan manusia? Apakah kita merasa bahwa Injil menjauhkan orang ketika datang langsung dari Firman sehingga harus dipadukan dalam rencana pemasaran yang canggih, yang dapat dijual, dan mudah diterima, yang pada dasarnya menunjukkan kepada calon pembeli apa yang akan didapatkan untuk dirinya sendiri?
Nah, apa yang mau kita katakan dengan semua hal ini? Bagi saya, yang kita mau katakan adalah kita tidak percaya pada kuasa Firman Tuhan yang sempurna untuk mengubah jiwa. Firman adalah lautan di mana Kristus, mutiara yang sangat berharga, ditemukan. Firman adalah ladang di mana Kristus, harta karun yang tersembunyi, dikuburkan. Dan kesaksian Mazmur 119 tentu saja menegaskan hal ini, dan kita akan terus mengulanginya. Mazmur 119 ayat 41 mengatakan, “Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, karya keselamatan-Mu sesuai dengan janji-Mu.” Keselamatan, kata pemazmur, terhubung dengan Firman Tuhan.
Dalam ayat 50, “Inilah penghiburanku dalam sengsaraku, bahwa janji-Mu memberi aku hidup.” Ayat 81, “Hatiku hancur merindukan keselamatan dari-Mu, aku berharap kepada firman-Mu.” Ayat 146 juga mengatakan, “Aku berseru kepada-Mu; selamatkanlah aku! Aku hendak berpegang pada peringatan-peringatan-Mu." Ayat 155, “Keselamatan itu jauh dari orang-orang fasik, sebab mereka tidak mencari ketetapan-ketetapan-Mu.” Dengan kata lain, keselamatan ditemukan dalam firman-Mu dan mereka tidak mencarinya. Ayat 158, “Melihat pengkhianat-pengkhianat, aku merasa muak, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu.” Ayat 174, “Aku rindu akan keselamatan dari-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu menjadi kegemaranku.” Firman Tuhan yang hidup sudah cukup. Apakah mengherankan Paulus berkata, “Beritakanlah Firman?” Firman sudah cukup untuk mengubahkan jiwa.
Kedua, pemazmur mengatakan bahwa peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Dan dia melangkah lebih jauh dalam membangun presentasi yang luar biasa tentang kecukupan Firman Tuhan ini. Ia menggunakan kata “peraturan” yang memandang Firman Tuhan bukan sebagai petunjuk ilahi, tetapi sebagai saksi ilahi, bahwa Tuhanlah yang memberikan kesaksian tentang siapa Dia dan apa yang Dia tuntut.
Jadi ketika Anda melihat kesaksian Tuhan tentang Diri-Nya dalam Firman Tuhan, Anda akan menemukan bahwa "Peraturan-Nya -" itu, kata pemazmur – adalah "teguh." Peraturan itu teguh. Sekali lagi, berbeda dengan gagasan manusia yang tidak pasti, tidak aman, ragu-ragu, berubah-ubah, goyah, tidak dapat diandalkan, dan tidak dapat dipercaya, Firman Tuhan yang hidup itu teguh. Dan kata itu berarti tidak goyah, tidak tergoyahkan, tidak dapat diragukan, layak untuk dipercaya dan dapat diandalkan.
Firman itu kemudian menyediakan landasan yang di atasnya kehidupan dan takdir kekal dapat dibangun tanpa keraguan. Saya teringat akan apa yang Petrus katakan dalam 2 Petrus pasal 1. Ia sedang menceritakan perjumpaan pribadinya dengan keagungan Kristus pada saat transfigurasi dan ia berkata, "Saya ada di sana ketika Ia berubah rupa. Saya melihat kemuliaan-Nya yang agung dalam pemandangan yang luar biasa ketika para pahlawan Perjanjian Lama ini menampakkan dirinya, dan kami berada di sana di atas gunung itu, dalam keajaiban kemuliaan supranatural.
“Dengan demikian – ” dalam ayat 19 – “kami makin diteguhkan oleh firman.” Pengalaman, pengalaman supranatural, tanda-tanda, dan keajaiban memiliki tempatnya sendiri. Petrus berkata, “Ada firman yang lebih pasti dari pada perkataan ini.” Dan firman itu adalah Firman Tuhan, Firman Tuhan yang diberikan ketika orang-orang kudus digerakkan oleh Roh Tuhan. Firman Tuhan adalah perkataan yang lebih pasti.
Berbeda dengan penalaran, renungan, dan pendapat manusia yang tidak pasti tentang Tuhan dan moralitas, kita dapat berpegang teguh pada Firman Tuhan. Dan apa manfaatnya? Perhatikan lagi, manfaatnya adalah memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Akar kata Ibrani untuk "tak berpengalaman" adalah gagasan tentang pintu yang terbuka. Orang yang tak berpengalaman adalah orang yang tidak dapat membedakan. Mereka tidak tahu kapan harus menutup pintu. Mereka tidak tahu apa yang harus ditutup. Segala sesuatu masuk. Mereka tidak memiliki hikmat. Mereka tidak terpelajar, tidak berpengalaman, bodoh, dan naif. Namun, mereka dapat dibuat bijaksana. Dan apa sumbernya? Firman Tuhan. Firman Tuhan mengambil orang yang naif, tidak berpengalaman, tidak memiliki pemahaman, dan tidak terinformasi, lalu memberikan hikmat kepada mereka. Saya suka kata "bijaksana." Itu adalah kata Ibrani yang kaya. Pada dasarnya, kata itu berarti terampil dalam seni hidup saleh, terampil dalam hal-hal praktis. Itu berarti menguasai seni kehidupan sehari-hari, yang dicapai melalui pengetahuan dan penerapan Firman Tuhan. Dan omong-omong, dalam Firman Tuhan, Tuhan selalu menjadi sumbernya. Itulah hikmat yang, seperti yang disebut Yakobus, "berasal dari atas."
Dan Perjanjian Lama benar-benar mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk membuat pilihan yang benar tentang hal-hal yang benar pada saat yang tepat dalam hidup. Dan inilah janji yang luar biasa. Firman Tuhan dapat mengambil seseorang yang naif, tidak berpengalaman, tidak dapat membedakan, tidak terinformasi, dan bodoh, dan menuntun mereka kepada hikmat sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang saleh sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini terjadi melalui Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sumber penyedia segala yang diperlukan untuk menerapkan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah kita harus percaya bahwa Firman Tuhan tidak cukup? Apakah kita harus percaya bahwa kita menemukan sumber daya manusia di sekitar kita, seperti sosiologi, psikologi, filsafat, dan kebijaksanaan manusia, dapat menutupi kekurangan Firman Tuhan? Apakah benar-benar perlu bagi para pengkhotbah untuk ke luar dari Alkitab untuk, "membuat kebenaran menjadi relevan dan praktis," seperti yang sering saya dengar? Dengarkan saya, kesaksian Tuhan sendiri adalah bahwa Firman-Nya cukup untuk membuat orang yang tak berpengalaman menjadi berhikmat dalam hal seni menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dan dengarkan lagi kesaksian yang luar biasa dari Mazmur 119, sebagai mazmur yang sangat agung tentang penghormatan kepada Firman Tuhan. Pemazmur berkata dalam ayat 27, “Buatlah aku memahami arahan titah-titah-Mu.” Dengan kata lain, dia meminta Tuhan untuk mengajarnya, karena Tuhan tahu cara yang benar untuk berjalan, cara yang benar untuk hidup. Ayat 34, “Buatlah aku mengerti, maka aku akan berpegang pada Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.” Itulah sumber hikmat. Ayat 66, “Ajarilah kepadaku pengetahuan dan pertimbangan yang benar, sebab aku percaya akan perintah-perintah-Mu.” Ayat 98 sampai 100, “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab itulah yang menyertai aku selama-lamanya. Aku lebih berakal daripada semua pengajarku” – Kita memiliki lebih banyak pengertian dari pada semua orang yang menyebarkan pengetahuan manusia – “sebab peringatan-peringatan-Mulah yang kurenungkan.” Ayat 100, “Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.” Dalam ayat 104, “Dari titah-titah-Mu kuperoleh pengertian.” Dalam ayat 125, “Aku ini hamba-Mu, berilah aku pengertian, maka aku akan memahami peringatan-peringatan-Mu.” Ayat 169, “Berilah aku pengertian sesuai dengan firman-Mu.”
Anda lihat, pemazmur tahu bahwa sumber hikmat ada dalam Firman Tuhan, yaitu Kitab Suci. Apakah itu cukup? Itu cukup untuk mengubahkan jiwa. Itu cukup untuk menghasilkan hikmat yang sempurna dalam hal kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Tuhan.
Yang ketiga, apakah Anda memperhatikan ayat 9 dari Mazmur 19? “Titah TUHAN itu benar, menyukakan hati.” Ke mana orang percaya pergi untuk menemukan sukacita? Ke mana orang percaya pergi untuk menemukan kelegaan, kebahagiaan, pembebasan dari kesedihan, kecemasan, dan depresi? Ke mana orang percaya pergi? Di mana sumbernya? Kesaksian pemazmur adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan itulah yang menyukakan hati. Istilah di sini untuk Firman Tuhan adalah kata “titah.” Kata itu berarti bukan ajaran ilahi secara langsung, meskipun dalam pengertian tertentu itu mengandung ajaran ilahi, tapi lebih kepada gagasan prinsip-prinsip ilahi, petunjuk-petunjuk ilahi, pedoman-pedoman ilahi.
Firman Tuhan penuh dengan pedoman hidup dari Tuhan. Sekarang perhatikan bahwa di ayat 9 disebutkan, “itu benar.” Artinya, titah itu menunjukkan jalan yang benar. Titah itu memberi Anda panduan yang benar. Titah tu menuntun Anda di jalan yang benar menuju pemahaman yang sejati. Sungguh hal yang luar biasa. Maksud saya, bagi kita yang telah lama menjadi orang Kristen, cobalah untuk mengingat kembali bagaimana dulu ketika Anda harus menentukan jalan Anda sendiri tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan, lalu melihat betapa besarnya warisan yang kita miliki dalam Firman Tuhan yang menunjukkan jalan yang benar.
Kita tidak dibiarkan tanpa peta dan kompas. Kita tidak dibiarkan tanpa prinsip-prinsip hidup. Kita tidak dibiarkan untuk berjalan dalam kabut opini manusia. Kita memiliki firman yang benar untuk diikuti. Dan hasilnya adalah kita berjalan di jalan yang benar yang menyukakan hati. Saya percaya sukacita sejati datang dari mengikuti Firman Tuhan, dari menerapkan prinsip-prinsipnya, dari berjalan di dalam ketetapan dan jalan-Nya.
Yeremia, di tengah-tengah tekanan manusia yang luar biasa, yang menolak pesannya, menolak pribadinya, serta bencana yang menimpa seluruh bangsanya, memberikan kesaksian yang luar biasa akan sukacita yang datang melalui Firman dalam pasal ke-15 nubuatnya, di ayat 16 ketika dia berkata, “Ketika perkataan-perkataan-Mu ditemukan, aku menikmatinya; Firman-Mu itu menjadi kesukaan bagiku.”
Dan Yohanes menulis dalam suratnya, 1 Yohanes 1:4, bahwa semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya sukacita kami menjadi - "apa? - "sempurna." Firman Tuhan memberikan kesaksian akan fakta bahwa itu adalah sumber sukacita. Dan ketika Anda berjalan dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan dan Anda bergerak di jalan yang benar, itu akan menyukakan hati.
Apakah kita harus mendengar suara dari surga, berbicara dengan malaikat serta mengalami pengalaman dan mukjizat supranatural? Dan apakah kita harus bergantung pada ilmu mistis pikiran agar dituntun oleh Tuhan menuju sukacita yang penuh? Tidakkah kita bisa mengikuti Firman-Nya? Mereka yang mungkin tertekan, cemas, takut atau ragu, tidak tahu arah yang harus dituju, jika bukan karena penderitaan dari penyakit fisik atau keluhan, tidak bisakah mereka berpaling kepada Firman Tuhan untuk mendapatkan solusi, jawaban, petunjuk dan arah yang mengubah kesedihan mereka menjadi sukacita?
Saya percaya kesaksian Firman Tuhan adalah bahwa kesenangan dan kegembiraan kita yang sejati datang karena mengikuti jalan yang ditetapkan oleh Firman Tuhan, bukan karena mencari harga diri, pemenuhan diri, dan kesenangan yang memanjakan diri secara egois. Bahkan, saya khawatir orang-orang, yang lari dari Firman Tuhan ke psikiater dunia dan ke sumber-sumber yang ditawarkan dunia dan ke semua hal-hal materi di dunia ini, justru berlari dari sukacita, bukan menuju kepada sukacita. Dan mereka menemukan lebih sedikit dari yang mereka kira dan mendapati diri mereka semakin jauh dari sumber kebahagiaan itu daripada sebelum mereka meninggalkannya. Kesaksian dari Firman Tuhan itu sendiri adalah bahwa Firman Tuhan adalah sumber, bahkan satu-satunya sumber sukacita bagi orang percaya.
Sekali lagi dalam Mazmur 119, di mana kita mencari kesaksian yang menguatkan, dalam ayat 14 sang pemazmur menulis, "Aku bergembira mengikuti peringatan-peringatan-Mu, lebih daripada memiliki segala harta." Saya berharap kita dapat berkata hari ini bahwa orang-orang sama antusiasnya tentang hal-hal dari Firman Tuhan seperti mereka bersemangat tentang hal-hal yang berhubungan dengan materi. Saya berharap kita dapat berkata bahwa kita benar-benar menyampaikan Injil dari Firman Tuhan dan bukan Injil yang menjanjikan kemakmuran.
Dalam ayat 54, kita membaca, “Ketetapan-ketetapan-Mu adalah nyanyian mazmur bagiku di bumi yang kudiami sebagai pendatang.” Salah satu ayat terindah dalam semua mazmur. “Ketetapan-ketetapan-Mu menjadi nyanyian mazmur bagiku di bumi yang kudiami.” Hidupku dipenuhi dengan nyanyian tentang ketetapan-ketetapan-Mu. Dengan kata lain, ketetapan-ketetapan itu mendatangkan sukacita yang meluap dalam alunan hatiku.
Dalam ayat 76 ia berkata, “Kiranya kasih setia-Mu menghibur aku.” Dalam ayat 111, “Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu merupakan kegirangan hatiku. Engkaulah persembunyianku dan perisaiku, aku berharap kepada firman-Mu.” Aku datang kepada-Mu, ya Tuhan, di tengah kebutuhan, kesedihan, dan dukaku. Firman Tuhan cukup sempurna untuk mengubah jiwa, cukup bijaksana untuk membuat yang orang tak berpengalaman menjadi berhikmat dan mampu membuat yang sedih menjadi penuh sukacita.
Yang keempat, Anda akan melihat di akhir ayat 9, perintah Tuhan itu murni. Terjemahan terbaiknya adalah jelas, menerangi mata. Dan di sini dia menggunakan kata perintah. Perintah adalah cara lain untuk melihat Firman Tuhan. Ya, Firman Tuhan adalah petunjuk; itu adalah instruksi; itu adalah kesaksian, tetapi Firman Tuhan juga merupakan ketetapan ilahi. Dan di sini kita menemukan penekanan pada otoritas, pada karakter Firman yang tidak opsional. Alkitab tidak penuh dengan banyak saran. Itu adalah perintah, perintah yang mengikat dan berotoritas. Inilah yang dituntut Tuhan, dan bagi mereka yang menanggapi, ada berkatnya. Bagi mereka yang tidak menanggapi, ada penghakiman.
Dan Firman Tuhan yang datang kepada kita sebagai perintah dari Tuhan, dia berkata, “itu murni, itu jelas.” Artinya, jelas. Tidak membingungkan. Tidak misterius dan membingungkan. Tentu saja, ada bagian-bagian yang tersembunyi darinya, tetapi secara umum, Firman Tuhan, seperti yang dibaca, adalah jelas. Itu mudah dipahami. Itu memberikan petunjuk yang jelas untuk hidup.
Perjanjian Lama mengatakan bahwa para pengembara dan orang bodoh pun tidak akan tersesat di atasnya. Firman Tuhan menerangi kegelapan. Ketika ada kegelapan di dunia dan Anda tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi dan Anda tidak tahu mengapa segala sesuatu terjadi terjadi seperti itu, Firman Tuhan membuat segala sesuatunya menjadi jelas, berbeda dengan pemikiran manusia yang kacau dan keruh, yang dirinya sendiri pun buta.
Untuk dapat melihat kebenaran di dunia yang gelap ini, berjuang untuk mengetahui apa itu kebenaran, untuk dapat memahami apa yang benar dan salah, untuk dapat memahami dan dihibur di saat-saat ketika kita tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi, seperti yang dialami oleh Ayub, semua pengetahuan tentang hal-hal yang tidak tampak dengan jelas diungkapkan dalam Firman Tuhan sejauh mata kita dapat diterangi dengan cukup. Sungguh kebenaran yang luar biasa. Firman Tuhan adalah wahyu yang kita butuhkan. Firman Tuhan itu jelas. Firman Tuhan itu mudah dipahami. Firman Tuhan tidak meninggalkan keraguan tentang kebenaran yang diperlukan. Amsal 6:23 mengatakan "Perintah itu pelita dan ajaran itu cahaya."
Maka kita akan bertanya: apakah Alkitab begitu tidak memadainya sehingga tidak dapat menunjukkan kepada kita segala hal ini hingga kita harus bergantung pada hikmat duniawi? Apakah kita harus pergi kepada manusia untuk meminta mereka menjelaskan apa yang sedang terjadi? Apakah kita memerlukan wahyu lebih lanjut? Apakah kita memerlukan psikoanalisis untuk masalah-masalah rohani dari sumber-sumber yang telah lama menolak Firman Tuhan sebagai sumber kebenaran? Apakah Alkitab begitu tidak lengkapnya sehingga kita harus beralih ke ilmu pengetahuan untuk menjelaskan asal usul, filosofi untuk menjelaskan kehidupan, dan sosiologi untuk menjelaskan dosa? Tidak, semua terang kehidupan ada dalam Firman Tuhan.
Dan, sekali lagi, saya membawa Anda ke Mazmur 119. Perhatikan ayat 52. “Apabila aku mengingat hukum-hukum-Mu yang dari dahulu kala, maka terhiburlah aku, ya TUHAN,” Di tengah-tengah kesusahan, aku kembali kepada Firman dan aku terhiburkan. Perhatikan ayat 59, “Aku telah memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kaki kembali kepada peringatan-peringatan-Mu.” Aku melihat jalan yang kutempuh dan kembali sejalan dengan-Mu. Dalam ayat 81 hingga 83 kita menemukan kesaksian yang sama kuatnya tentang kejelasan Firman Tuhan yang menerangi jalan, “Hancur hatiku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu. Mataku pudar merindukan janji-Mu; aku berkata: ‘Kapankah Engkau akan menghibur aku?’ Sekalipun aku menjadi kering seperti kirbat yang diasapi; ketetapan-ketetapan-Mu tidak kulupakan.” Ketika Anda tidak dapat melihat dan semuanya tertutup asap, Anda memandang kepada Firman Tuhan.
Ayat 86, “Segala perintah-Mu dapat dipercaya.” Ayat 92, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, aku telah binasa dalam sengsaraku.” Ayat 105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Ayat 130, “Firman-firman-Mu yang tersingkap memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang tak berpengalaman.”
Ayat 140, “Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya.” Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa Firman itu cukup untuk memberiku informasi yang aku butuhkan. Firman itu menerangi jalan yang gelap. Firman itu memberiku pengertian. Ya, Firman Tuhan cukup untuk keselamatan, cukup untuk keterampilan dalam hidup, cukup untuk sukacita, kebahagiaan, dan kepuasan, cukup untuk pemahaman yang jelas tentang hal-hal yang tidak mudah dipahami.
Yang kelima, ayat 10 [dari Mazmur 19], “ … suci, tetap ada untuk selamanya.” Dan di sini dia menggunakan istilah “takut” sebagai sinonim untuk Firman Tuhan. Mengapa dia melakukannya? Karena Firman Tuhan bermaksud untuk menyampaikan rasa takut atau keagungan Tuhan untuk menghasilkan rasa hormat yang mendalam, untuk menarik kita untuk menyembah. Kata itu digunakan dalam arti apa yang ingin dihasilkannya. Firman Tuhan bermaksud untuk menghasilkan rasa takut atau kekaguman atau rasa hormat atau penyembahan kepada Tuhan dan karenanya dikatakan sebagai takut akan Tuhan. Dan karena kebiasaan jiwa manusia adalah untuk menyembah, maka Firman Tuhan kemudian menginstruksikan kita kepada siapa kita harus menyembah dan bagaimana kita harus menyembah.
Dan Firman ini yang mengajarkan kita untuk menyembah Tuhan, ia berkata, “suci.” Pemikiran yang luar biasa. Kata taher adalah akar katanya. Kata itu berarti tidak adanya kenajisan, tidak adanya kekotoran, tidak adanya pencemaran, tidak adanya ketidaksempurnaan. Dan itu berarti tidak ternoda oleh dosa, tidak ada kejahatan, tidak ada kerusakan, tidak ada kesalahan.
Sekali lagi, berbeda dengan imajinasi jahat manusia, Firman Tuhan itu suci. Tidak ada sedikit pun noda kejahatan di dalamnya. Anda dapat membacanya dan mengetahui bahwa apa yang dikatakannya benar-benar murni. Kebenaran yang disampaikannya tidak memiliki noda kejahatan di dalamnya. Kesaksian pemazmur dalam Mazmur 12 ayat 7 adalah kesaksian yang luar biasa. “Janji Tuhan – ” katanya – “adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan dari tanah.” Firman itu begitu murni, suci, kudus, terpisah dari dosa.
Nah, ini bertolak belakang dengan perkataan manusia. Anda tidak selalu bisa memercayainya. Anda bisa memercayai Firman Tuhan. Dan akibatnya, Anda akan melihat, Firman Tuhan bertahan selamanya. Artinya, Anda dapat mengikutinya selalu. Firman Tuhan dapat dipercaya sepanjang waktu. Firman Tuhan adalah Firman yang hidup dan Firman yang kekal, seperti yang Petrus katakan dalam 1 Petrus 1:23, yang saya kutip sebelumnya. Firman Tuhan tidak pernah berubah. Tidak pernah berubah. Tidak peduli generasi apa pun itu. Dan ketika saya mendengar orang-orang datang dan berkata, "Alkitab itu tidak cukup canggih untuk masyarakat kita yang berteknologi tinggi," mereka hanya tidak mengerti.
Alkitab benar-benar murni, tanpa cacat, tanpa kesalahan, dan tanpa dosa. Karena itu, Alkitab tidak perlu diperbarui, disunting, dan disempurnakan. Alkitab memang sempurna. Haruskah kita tiba-tiba percaya bahwa Alkitab memiliki kekurangan, kesalahan, dan kekurangan yang perlu diperbaiki dan disunting? Haruskah kita percaya bahwa Alkitab perlu didukung oleh orang-orang yang lebih canggih daripada Roh Kudus yang menulisnya? Haruskah kita percaya bahwa Alkitab tidak dapat menyucikan hati, jiwa, dan kehidupan? Haruskah kita percaya bahwa orang-orang harus pergi ke suatu tempat untuk mempelajari formula demi menghilangkan dosa mereka, dan untuk mendapatkan kesembuhan batin, mendapatkan pembersihan jiwa oleh beberapa praktisi di suatu tempat karena Firman Tuhan tidak cukup untuk membebaskan orang dari dosa?
Apakah kita tidak lagi percaya pada kuasanya untuk memurnikan suatu bangsa sehingga kita harus beralih ke politik kekuasaan untuk mengatasi kelemahan Firman Tuhan yang kekal dan hidup? Tuhan melarang kita untuk mempercayai itu, bahkan untuk sekejap saja. Firman-Nya memadai dan cukup sebagai Firman yang murni, untuk membersihkan hati, dan untuk memurnikan hati.
Dan sekali lagi, saya mengajak Anda untuk membaca kesaksian pemazmur dalam Mazmur 119. Semuanya ada di sana. Mazmur 119, dimulai dari ayat 3 dan kita dapat melihat banyak ayat Alkitab ... atau lebih tepatnya ayat 2. Dia berkata, "Berbahagialah orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati. Mereka tidak melakukan kejahatan, tetapi hidup menurut jalan-jalan-Nya."
Orang-orang yang hidup menurut Firman adalah orang yang bersih. Orang-orang yang hidup menurut Firman adalah orang murni. Ayat 9 sampai 11, “Bagaimana orang muda menjaga kelakuannya agar tetap murni?” Bagaimana Anda menyucikan hidup Anda? Dengan memiliki penyembuhan batin? Dengan memiliki perjumpaan dengan seseorang yang dapat mengarahkan masalah Anda karena mereka memiliki kekuatan magis supranatural? Dengan menggunakan ilmu pengetahuan kontemporer tentang pikiran? Tidak, “Dengan berpegang pada firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau. Janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Dalam ayat 38, “Penuhilah bagi hamba-Mu janji-Mu yang Kauberikan kepada orang yang takut akan Engkau.” Penuhilah aku dengan firman-Mu. Ayat 67, “Sebelum aku direndahkan, aku masih tersesat, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” Firman dan ketaatan berjalan bersama. Lalu ayat 101, “Aku menahan kakiku dari segala jalan yang jahat, supaya aku berpegang pada firman-Mu.” Ayat 172, “Kiranya lidahku menyanyikan janji-Mu, sebab segala perintah-Mu adil.” Dengarkan, Firman Tuhan cukup untuk membersihkan. Firman Tuhan untuk memurnikan kehidupan. Firman Tuhan relevan selamanya. Firman Tuhan adalah semua yang diperlukan untuk membersihkan jiwa. Kita tidak membutuhkan praktisi. Kita membutuhkan Firman Tuhan.
Dan yang terakhir dan yang terpenting, ia berkata dalam ayat 10, kata yang dipakai di sini adalah “hukum – ” atau ketetapan – “Tuhan itu benar.” Dan sebagai hasilnya, semuanya adalah benar-benar adil. Kata “ketetapan” berarti vonis ilahi. Jadi kita memiliki instruksi ilahi, hukum Tuhan; saksi ilahi, kesaksian Tuhan; prinsip-prinsip ilahi, dan ketetapan-ketetapan Tuhan. Kita memiliki ketetapan ilahi dalam perintah-perintah-Nya. Kita memiliki penyembahan ilahi dalam takut akan Tuhan. Dan sekarang kita memiliki keputusan ilahi dari bangku pengadilan Sang Hakim dari seluruh bumi. Alkitab adalah penentuan pengadilan Tuhan untuk kehidupan manusia dan takdir kekal dari Hakim tertinggi yang kekal. Dan dia berkata, “Firman-Nya itu benar.” Oh, sungguh pernyataan yang luar biasa.
Tahukah Anda betapa sulitnya bagi orang-orang di masyarakat kita atau di bagian mana pun di planet bumi ini untuk menemukan kebenaran? Tahukah Anda betapa sulitnya menemukan kebenaran? Sedangkan kita memiliki Firman yang benar. Firman Tuhan itu benar, selalu benar. Oleh karena itu, Firman itu selalu dapat diandalkan, selalu relevan, selalu berlaku, dan berbanding terbalik dengan kebohongan-kebohongan manusia yang menjadi korban dari bapa mereka, yaitu iblis yang suka berbohong. Firman Tuhan selalu benar.
Dengarkan, saudara-saudara terkasih. Jika Firman Tuhan cukup untuk keselamatan, jika cukup untuk mengubah jiwa seseorang dengan sempurna, jika cukup untuk semua keterampilan hidup rohani, jika cukup untuk membawa sukacita penuh untuk mengatasi kesedihan dan pergumulan hidup, jika cukup untuk memberi pemahaman pada hal-hal gelap yang sulit dipahami, jika cukup untuk menyucikan semua dosa, dan jika dalam semua hal ini selalu benar, maka Firman itu harus menjadi sumber dari segala sesuatu dalam kehidupan rohani. Firman Tuhan sangat dapat dipercaya.
Faktanya adalah bahwa Tuhan dalam Alkitab yang kita pegang di tangan kita telah memberi kita ekspresi yang sempurna tentang kehendak-Nya yang kekal untuk menegakkan semua kebenaran yang diperlukan bagi kehidupan dan kewajiban rohani kita. Dan saya percaya itu dengan sepenuh hati karena itulah kesaksian Tuhan sendiri. Firman Tuhan dalam kehidupan seseorang yang diberdayakan oleh Roh Tuhan akan menghasilkan kecukupan yang sempurna. Mempercayai sesuatu yang kurang dari Firman Tuhan berarti menyerang integritas Tuhan yang hidup.
Sekarang, perhatikan hasil dari kebenaran Firman Tuhan dalam ayat 10 bahwa Alkitab itu sepenuhnya benar. Artinya, Firman Tuhan itu sepenuhnya benar. Dan gagasan dari frasa itu adalah untuk berbicara tentang kelengkapannya. Semuanya benar. Apakah ada kesalahan di dalamnya? Tidak. Tetapi lebih dari itu, Alkitab adalah sumber kebenaran yang lengkap, komprehensif, dan cukup.
Dan itulah sebabnya Alkitab mengatakan hal-hal seperti ini. Ulangan 4:2, “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan jangan kamu menguranginya, melainkan berpeganglah pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.” Sebaiknya Anda tidak menambahkan apa pun; sebaiknya Anda tidak mengurangi apa pun. Mengapa? Karena Firman Tuhan sepenuhnya komprehensif. Sudah lengkap. Dikatakan dalam Wahyu 22:18 dan 19, “Jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” Jangan menambahkan apa pun. Jangan mengurangi apa pun.
Dalam memberikan petunjuk tentang bagaimana seorang raja harus hidup, dalam Ulangan pasal 17, ayat 19 dan 20, Firman Tuhan mengatakan begini. “Kitab itu harus ada di sampingnya – ” yaitu sang raja – “dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya, agar ia belajar takut akan TUHAN, Allahnya, berpegang pada segala perkataan hukum dan ketetapan ini serta melakukannya. Dengan demikian, ia tidak akan bersikap tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, atau menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar ia lama memerintah, ia dan anak cucunya di tengah-tengah Israel.” Berkat yang dijanjikan datang sehubungan dengan ketaatan pada Firman Tuhan yang kudus.
Apakah kita harus percaya kalau kita membutuhkan lebih banyak wahyu? Apakah kita harus percaya kalau kita membutuhkan lebih banyak penglihatan dan kata-kata nubuat? Anda lihat betapa menggelikannya semua ini? Firman Tuhan itu sudah cukup. Firman Tuhan itu benar dan menyeluruh. Dan saya membawa Anda sekali lagi ke Mazmur 119. Ayat 76…maaf, ayat 89. Mari kita mulai dari ayat 89. “Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, firman-Mu teguh di surga.” Pernyataan yang luar biasa tentang kecukupan dan kelengkapan Firman Tuhan yang menyeluruh.
Ayat 128, “Itulah sebabnya aku hidup lurus menurut segala titah-M seutuhnya; aku membenci segala jalan serong.” Ayat 137, “Engkau adil, ya Tuhan, dan hukum-hukum-Mu benar.” Ayat 138, “Peringatan-peringatan-Mu telah Kausampaikan menurut keadilan dan dalam kesetiaan belaka.” Ayat 142, “keadilan-Mu tetap selama-lamanya, dan Taurat-Mu benar.” Ayat 151, “Engkau dekat, ya Tuhan, dan segala perintah-Mu benar.” Ayat 160, “Yang utama dalam Firman-Mu adalah kebenaran, dan segala hukum-Mu yang adil tetap untuk selama-lamanya.” Suatu kesaksian yang luar biasa, sumber kebenaran rohani yang lengkap dan menyeluruh yang diperlukan untuk kehidupan rohani dan memenuhi semua kebutuhan rohani manusia dengan sempurna. Nah, saudara-saudara terkasih, itulah upaya besar untuk menangkap dalam waktu yang singkat tentang betapa pentingnya ketiga ayat itu. Ketiga ayat itu menyajikan kecukupan Firman Tuhan.
Yang kedua, saya ingin Anda melihat nilai Firman Tuhan sebagai hasilnya. Lihatlah ayat 10 sampai 13. Saya hanya akan menyebutkannya, jadi dengarkan baik-baik. Alkitab sangat berharga sebagai sumber kehidupan yang komprehensif, tak tertandingi dalam nilainya karena yang pertama, ia menyediakan harta yang terbesar. Ayat 11, "Lebih berharga daripada emas, bahkan daripada banyak emas murni." Dengarkan. Firman Tuhan adalah harta terbesar. Memiliki Firman Tuhan itu jauh lebih berharga daripada semua logam mulia.
Oh, seandainya saja kita bisa membuat masyarakat kita menyadari hal itu. Kalau saja kita bisa membuat banyak orang di gereja evangelikal menyadari bahwa kita tidak perlu menjanjikan hal-hal materi kepada orang-orang. Firman Tuhan adalah harta yang paling berharga dan sangat berharga karena menuntun kepada jalan sukacita, mengubahkan jiwa, membuat orang yang tak berpengalaman menjadi berhikmat, dan semua hal yang telah kita lihat. Firman Tuhan adalah sumber dari harta yang terbesar.
Kedua, kenikmatan terbesar. Dalam ayat 11 ia berkata, “Lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.” Tidak ada yang semanis madu, tidak ada yang semenyenangkan madu, tidak ada yang sekaya madu, tidak ada yang lebih bermakna secara pribadi. Firman Tuhan mendatangkan hal-hal termanis di bumi. Apa yang Anda cari? Di mana Anda menemukan kenikmatan Anda? Saya dapat dengan jujur mengatakan kepada Anda bahwa tidak ada kenikmatan dalam hidup ini seperti kenikmatan dan sukacita, kenikmatan dan sukacita abadi dari waktu-waktu yang dihabiskan dalam Firman Tuhan. Anda lihat, penyelesaian semua masalah kita bukanlah hasil dari ketidakcukupan Firman Tuhan melainkan hasil dari penerapan Firman Tuhan yang memadai, serta studi Alkitab yang tekun dan memadai. Firman Tuhan adalah harta terbesar dan sumber dari kenikmatan terbesar.
Yang ketiga, Firman Tuhan adalah sumber perlindungan terbesar. Ayat 12, "Hamba-Mu juga menerima peringatan dari-Nya." Itulah sumber perlindungan. Dalam menghadapi godaan, dosa, dan ketidaktahuan, kita membutuhkan Firman Tuhan. Firman Tuhan melindungi kita. Kita menyimpannya agar kita tidak berbuat dosa.
Dan yang keempat, itulah sumber keuntungan terbesar, karena dengan menaati kebenarannya akan ada ganjaran yang besar. Ganjaran yang sejati bukanlah di sini dan sekarang, ganjaran yang sejati bukanlah pengakuan positif, visualisasi dari apa yang Anda inginkan saat ini. Ganjalan yang sejati adalah ketaatan kepada Firman Tuhan yang mendatangkan kemuliaan yang akan datang. Daripada hidup untuk apa yang dapat kita kumpulkan di sini dan sekarang, seperti obsesi ajaran Kristen akan kesehatan, kekayaan, kemakmuran, serta kesuksesan instan, lebih baik kita mengetahui berkat dari menjalani hidup demi ganjaran yang kekal.
Kitab Suci, ya, itulah satu hal yang tanpa diragukan lagi memberi kita harta terbesar, kesenangan terbesar, perlindungan terbesar, keuntungan terbesar, dan kelima, ada di ayat 12 dan 13, pemurnian terbesar. Itu adalah pemurnian. Lihatlah tanggapan pemazmur. Bahkan saat ia mengalami semua ini, ia berkata, "Siapa yang dapat mengetahui kekeliruannya sendiri?"
Di tengah pernyataan seperti ini tentang Alkitab, bagaimana saya bisa mengerti mengapa saya berdosa, bukan? Mengapa saya mau melanggar apa yang dapat mengubah saya, membuat saya bijaksana. mengisi hati saya dengan sukacita, membuat mata saya bercahaya, memurnikan hati saya, dan secara menyeluruh menyediakan semua sumber daya saya? Mengapa saya mau melanggar kebenaran seperti itu? Bagaimana saya bisa memahaminya?
Dan ketika melihat ke dalam Firman Tuhan, dia berseru, "Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari." Itulah dosa-dosa yang tidak saya rencanakan dan tidak saya sadari sebelumnya, itulah dosa-dosa yang tersembunyi. Dan bahkan mungkin saya lupa untuk mengakuinya. Dan kemudian dia berkata, "Lindungilah hamba-Mu dari sikap angkuh." Itulah dosa-dosa yang saya lihat, saya rencanakan, saya pikirkan, dan saya ketahui, dosa-dosa kesombongan. Lalu "Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Lindungilah hamba-Mu dari sikap angkuh, jangan sampai aku dikuasai olehnya! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar."
Pemazmur mau berkata, “Ya Tuhan, tahan diriku.” Istilah "pelanggaran besar" ini adalah suatu gagasan untuk membebaskan diri atau menerobos penghalang, lalu melarikan diri dari kekuasaan Tuhan, dari wilayah kasih karunia-Nya. Jadi Anda dapat melihat bahwa melihat Firman Tuhan menyebabkan suatu gelombang balik, suatu seruan untuk kemurnian di dalam hati. Ya, Firman Tuhan adalah sumber pemurnian terbesar.
Daftar pendek itu seharusnya menjadi sesuatu yang Anda simpan di suatu tempat dan ketika Anda mempelajari Firman Tuhan dan melihatnya, daftar itu akan mengingatkan Anda tentang apa yang akan dilakukan Firman Tuhan dalam hidup Anda. Firman Tuhan adalah harta terbesar karena memberi Anda apa yang dibutuhkan untuk setiap masalah kehidupan. Firman Tuhan adalah kekayaan yang mulia. Firman Tuhan adalah kesenangan terbesar yang memenuhi hati Anda dengan sukacita dalam segala situasi. Firman Tuhan adalah perlindungan terbesar karena memperingatkan Anda. Firman Tuhan adalah keuntungan terbesar yang menuntun Anda kepada ganjaran yang kekal. Dan menjadi pemurnian terbesar, karena Firman Tuhan membersihkan hati.
Kecukupan Firman Tuhan, nilainya, dan akhirnya, komitmen terhadapnya. Apa tanggapan terhadap semua ini? Jawabannya ada di ayat 15. Seperti yang diserukan oleh pemazmur, dan saya percaya Anda pun akan berseru dari hati Anda, “Kiranya ucapan mulutku dan renungan hatiku berkenan kepada-Mu, ya Tuhan, Gunung Batuku dan Penebusku.”
Yang dia mau katakan adalah, “Ya Tuhan, semoga apa yang kupikirkan dan kukatakan berkenan kepada-Mu.” Mengapa? Karena hal-hal itu konsisten dengan apa? Dengan Firman-Mu, wahyu-Mu. Dan dia berkata, “Jadikanlah aku orang yang taat pada Firman. Jadikanlah pikiranku alkitabiah. Jadikanlah perkataanku alkitabiah. Jagalah aku tetap berada di dalam Firman-Mu.” Itulah komitmen yang benar.
Saya sungguh percaya bahwa kita sedang melihat hal-hal yang menyedihkan terjadi di gereja evangelikal saat ini. Dan saya menunjukkan hal-hal itu secara terperinci. Jika Anda tidak ada di sini minggu lalu, Anda perlu mendapatkan rekaman itu dan mendengarkannya. Orang-orang meninggalkan Firman Tuhan sambil mengakui kebenarannya, lalu mengejar semua hal lainnya karena mereka merasa bahwa Firman Tuhan tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Dan itu adalah kebohongan iblis yang muncul karena mereka tidak pernah benar-benar menjalani kehidupan yang alkitabiah dan mereka tidak pernah benar-benar mulia seperti halnya orang Berea yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci. seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat Kolose, mereka ini tidak pernah membiarkan Firman Kristus berdiam di dalam mereka dengan limpahnya.
Mereka memperlakukannya secara sepintas saja dan tidak pernah menikmati kuasa dari kedalamannya. Dan oh, betapa di zaman ini kita harus memanggil gereja Kristus kembali kepada ketertarikan yang sepenuhnya mengkonsumsi mereka dengan Firman Tuhan yang hidup. Dan biarlah pesan kita bukan pesan Alkitab plus dunia, tetapi biarlah itu menjadi pesan tentang kecukupan Firman Tuhan saja. Seperti yang pernah dikatakan seorang Afrika lanjut usia di suatu suku, yang berbicara kepada sang misionaris besar, Robert Moffat. Dia mengangkat sebuah Alkitab dan berkata kepada misionaris itu, "Buku ini adalah mata air tempat saya minum dan minyak yang membuat pelita saya menyala." Semoga demikian jugalah maknanya bagi kita. Marilah kita berdoa.
Di dalam hati Anda saat ini, dapatkah Anda membuat perjanjian yang diperbaharui di hadapan Tuhan untuk menyerahkan diri Anda kepada Firman-Nya? Dapatkah Anda menyatukan pikiran Anda untuk melakukannya? Sebuah perjanjian yang ingin Anda jaga di hadapan-Nya? Maksud saya, apa yang telah kita dengar pagi ini dari Firman Tuhan adalah sesuatu yang tak tertandingi dan sangat penting dalam hidup seorang percaya.
Maukah Anda berjanji kepada Tuhan untuk menjadi pria dan wanita yang taat pada Firman, menemukan sumber daya hidup Anda di sana dan menerapkannya? Oh, Anda tidak akan pernah tahu apa yang dapat dilakukan Firman Tuhan jika Anda tidak mempelajarinya. Anda tidak akan pernah tahu apa yang dapat dilakukannya jika Anda tidak menerapkannya. Firman Tuhan adalah sumber daya rohani yang sempurna melalui kuasa Roh Kudus.
Bapa, saya berdoa untuk hidup saya sendiri dan kehidupan semua orang yang ada di sini dan yang mendengar pesan ini, agar kami dapat berkomitmen kepada Firman-Mu yang seperti yang kami baca di awal Mazmur 138, “Engkau telah meninggikan nama-Mu.” Ya Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi seperti orang-orang Berea yang mulia yang menyelidiki Firman-Mu setiap hari. Dan sama seperti orang Afrika tua itu, tolonglah kami untuk menemukan di dalamnya, mata air yang dapat kami minum dan minyak yang akan menyalakan pelita kami. Dan kuatkanlah itu dalam diri kami, Oh Roh Kudus, agar itu bukan sekedar ortodoksi yang dingin atau akademis melainkan menjadi kebenaran yang hidup demi Kristus. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
