Seperti yang Anda ketahui, kita sedang mempelajari 2 Timotius, dan saya ingin mengajak Anda kembali ke 2 Timotius pasal 3 sebagai titik awal untuk pesan kita pagi ini. Apa yang ingin saya bagikan pagi ini sebenarnya merupakan pengembangan dari bagian ini, tetapi tetap didasarkan pada kebenaran yang ditegaskan oleh teks ini.
Anda ingat, pada Hari Tuhan yang lalu, kita melihat ayat 16 dan 17, yang mengatakan, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Kita sudah membahas kedua ayat itu cukup mendalam dalam konteks pasal ini. Dan saya sempat mengatakan minggu lalu bahwa saya tidak bisa meninggalkan bagian Firman ini tanpa melihatnya dengan sedikit lebih luas, khususnya tentang kebenaran bahwa Alkitab kita diilhamkan oleh Allah. Jadi, jika saya sedikit menyimpang dari bagian ini dan melihat beberapa bagian Firman lainnya, saya melakukannya supaya kita semua semakin diperkaya dalam memahami apa artinya memegang Firman dari Allah yang hidup di tangan kita.
Saya berharap Anda memiliki penghargaan terhadap Firman Tuhan. Saya berharap Anda menghargainya, bukan sebagai sesuatu yang dipuja secara berlebihan, tetapi karena inilah harta terbesar yang kita miliki selain Allah sendiri. Ini adalah Firman-Nya, penyataan diri-Nya sendiri. Ketika orang bertanya kepada saya mengapa saya mengajar secara sistematis dari satu kitab ke kitab yang lain, mengapa saya memberi begitu banyak perhatian pada setiap detail, pada setiap ayat dan setiap frasa, bahkan pada setiap kata, itu karena saya memahami bahwa semuanya adalah firman Allah yang dinyatakan kepada kita dari diri-Nya sendiri. Saya tidak akan meragukan bahwa setiap kata itu perlu disampaikan, diajarkan, dan dipahami oleh kita semua.
Di sini, di Gereja Komunitas Grace, kami berkomitmen pada pelayanan yang berlandaskan pada Alkitab, pada metode pemberitaan ekspositori, karena kami percaya bahwa ini adalah Firman dari Allah yang hidup. Allah telah menyatakan diri-Nya melalui kitab-Nya. Ketika Anda membaca Alkitab, Anda sedang membaca kata-kata yang keluar dari mulut Allah dan ini adalah sebuah kenyataan yang luar biasa. Fakta ini memberi keyakinan dalam segala sesuatu yang kita lakukan, sekaligus juga mengikat kita untuk taat dan tunduk pada semua yang diajarkan oleh Kitab Suci. Mari kita bahas sedikit tentang apa artinya bahwa seluruh Kitab Suci, atau setiap bagian Kitab Suci, diilhamkan oleh Allah. Apa sebenarnya yang terkandung dalam pemikiran ini? Izinkan saya membawa Anda melihat beberapa bagian Firman untuk memperkaya pemahaman tersebut, lalu saya akan masuk ke beberapa hal lain yang ada di hati saya untuk saya bagikan kepada Anda.
Silakan buka Alkitab Anda di Ibrani pasal 1, dan mari kita lihat bagian awal dari ayat 2. Ibrani pasal 1. Bagian ini dimulai seperti ini, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dengan berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi, maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya.” Nah, pernyataan inilah yang ingin saya tekankan. Saya tidak bermaksud membahas semua implikasi dari pernyataan ini, tetapi dalam kesederhanaannya, pernyataan ini sangat jelas sekaligus sangat mendalam.
Bagian ini memberikan kepada kita inti dari wahyu. Perhatikan kata itu. Wahyu dalam arti sederhana berarti menyatakan, menyingkapkan, membuat sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui menjadi diketahui; membuat sesuatu yang sebelumnya tidak dimengerti menjadi dimengerti; membuka kebenaran yang belum pernah diketahui sebelumnya. Allah telah menyatakan diri-Nya, dan di sini Anda melihat sebuah pernyataan tentang wahyu. Allah telah berbicara pada zaman dahulu, dan Allah juga telah berbicara pada zaman akhir ini. Penulis Ibrani pada dasarnya sedang mengatakan bahwa Allah berbicara dalam dua kesempatan. Dia berbicara dahulu kala, dan Dia berbicara pada zaman akhir ini melalui Anak-Nya.
Nah, saya rasa kita wajar memahami bahwa yang dimaksud di sini adalah wahyu Perjanjian Lama dan wahyu Perjanjian Baru. Allah telah berbicara pada zaman dahulu kepada para leluhur orang Yahudi. Mereka adalah para nabi Perjanjian Lama, yaitu orang-orang yang menerima Firman Allah di masa lalu di bawah perjanjian yang lama. Ia berbicara kepada para leluhur itu melalui para nabi dalam banyak bagian, polumerōs, artinya dalam banyak kitab, banyak bagian, dan Anda tahu itu. Ada kitab-kitab Taurat, ada kitab-kitab nabi, ada kitab-kitab sejarah, dan juga kitab-kitab puisi. Dalam begitu banyak bagian dan dalam begitu banyak kitab, Allah berbicara. Dia berbicara kepada para leluhur orang Yahudi. Dia juga berbicara melalui para nabi.
Seperti dikatakan, Dia juga berbicara dengan berbagai cara, atau polutropōs. Artinya melalui penglihatan, nubuat, perumpamaan, gambaran, simbol, upacara, dan penampakan ilahi, bahkan kadang melalui suara yang terdengar, dan IDia juga pernah menulis dengan jari-Nya di atas batu. Ada begitu banyak cara Allah menyampaikan begitu banyak hal, yang kemudian dikumpulkan dalam berbagai tulisan dan disusun dalam banyak kitab, dan Dia berbicara kepada orang-orang pada zaman dahulu melalui para nabi. Ini adalah sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Perjanjian Lama sesungguhnya adalah Allah yang sedang berbicara.
Nah, izinkan saya menjelaskannya sejelas mungkin kepada Anda: Perjanjian Lama bukanlah kumpulan hikmat dari manusia zaman dahulu. Perjanjian Lama bukan kumpulan pemikiran keagamaan terbaik. Perjanjian Lama juga bukan kumpulan renungan baik dari orang-orang saleh. Perjanjian Lama adalah Firman Allah. Itu bukan hasil pemikiran manusia mana pun; baik manusia yang baik, manusia saleh, maupun manusia dari zaman dahulu. Itu adalah Firman Allah. Penulis Ibrani berkata, “Allah telah berbicara.” Allah telah berbicara. Perjanjian Lama adalah Allah yang berbicara kepada para leluhur melalui para nabi.
Pada zaman akhir ini, sejak kedatangan Kristus, Allah kembali berbicara, dan Dia berbicara melalui Anak-Nya. Kitab-kitab injil mencatat Allah berbicara melalui Anak-Nya; Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan Allah berbicara melalui kelanjutan pemberitaan tentang Anak-Nya. Surat-surat rasuli memperlihatkan Allah berbicara melalui pemahaman yang dalam dan penuh makna tentang kehidupan dan pelayanan Sang Anak. Bahkan kitab Wahyu menjadi puncaknya, ketika Sang Anak datang kembali dalam kemuliaan, sebagai penyempurnaan dari penyataan Allah kepada dunia ini.
Jadi, Perjanjian Lama adalah Allah yang berbicara dan menyatakan diri-Nya. Perjanjian Baru adalah Allah yang berbicara dan menyatakan Anak-Nya. Perjanjian Lama adalah penyataan diri Allah, dan itulah tema utama Perjanjian Lama. Dari Kejadian sampai akhir Perjanjian Lama, yaitu Maleakhi, dan semua yang ada di antaranya, tokoh utamanya adalah Allah. Perjanjian Lama adalah penyataan tentang Allah, tentang siapa Dia. Apa saja sifat-sifat-Nya? Bagaimana sikap-Nya? Bagaimana Dia merespons setiap situasi manusia? Seperti apa Dia? Apa yang Dia lakukan? Itulah Perjanjian Lama. Itu adalah penyataan tentang Allah. Itu bukan cerita tentang manusia, bukan cerita tentang bangsa Israel. Memang kisah-kisah itu ada, tetapi semuanya adalah sarana untuk menyatakan Allah, dan kita melihat Allah dinyatakan melalui manusia, melalui sejarah, melalui bangsa Israel, melalui segala sesuatu yang terjadi. Sifat-sifat Allah kadang dinyatakan dengan sangat jelas, seperti dalam kitab Mazmur. Di sisi lain, kadang kita melihat sifat-sifat-Nya dengan sangat jelas meskipun nama-Nya tidak disebutkan, seperti dalam kitab Ester, di mana tidak ada penyebutan tentang Allah, namun Dia tetap menjadi kuasa utama dan tokoh yang paling dominan di sepanjang kitab ini.
Perjanjian Lama adalah penyataan Allah untuk menunjukkan kepada manusia seperti apa Allah itu, siapa Dia, apa yang Dia izinkan dan apa yang tidak Dia izinkan, bagaimana Dia menghendaki kekudusan dan menghukum dosa. Lalu, Perjanjian Baru adalah Allah yang dinyatakan melalui Anak-Nya, melalui kehidupan Anak-Nya, melalui pesan Anak-Nya, melalui pemahaman akan karya Anak-Nya, dan melalui penggenapan ketika Anak-Nya datang untuk mendirikan kerajaan-Nya yang kekal. Namun dalam kedua hal ini, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah yang berbicara. Apa yang kita miliki benar-benar adalah Firman Allah. Ini bukan perkataan manusia. Para penulis Perjanjian Baru menuliskan Firman Allah.
Yesus berjanji, “Aku akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan. Aku akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. Aku akan menuntun kamu ke dalam seluruh kebenaran. Aku akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Melalui janji itu, Dia memberikan kepada para rasul, dan juga kepada para penulis Perjanjian Baru lainnya, jaminan tentang ilham ilahi; bahwa seperti para nabi Perjanjian Lama, mereka juga akan menuliskan Firman Allah. Jadi apa yang kita pegang di tangan kita, saudara-saudara yang terkasih, bukanlah perkataan manusia. Ini bukan perkataan orang-orang religius. Ini bukan perkataan orang-orang bijak dan saleh. Ini adalah Firman Allah, Firman Allah.
Ibrani 1:1-2 berbicara tentang wahyu, yaitu penyataan Allah. Lalu, proses apa yang Allah pakai untuk menyatakan diri-Nya? Mari kita lihat bagian lain, yaitu 2 Petrus 1. Sekarang kita masuk pada proses yang Allah gunakan untuk menyatakan diri-Nya, dan proses itu dikenal sebagai ilham, atau inspirasi. Dalam 2 Petrus 1:20 dikatakan, “Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci.” Kata “nubuat” di sini memiliki arti yang umum, bukan sekadar ramalan tentang masa depan, tetapi berarti pesan. “Nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,” epilusis. Perhatikan ini, tidak ada satu pun pesan Kitab Suci yang berasal dari epilusis seseorang. Lalu, apa artinya? Kata itu bisa berarti pelepasan, dan itu mungkin adalah arti yang paling mendekati dari istilah tersebut.
Tidak ada satu pun pesan dari Kitab Suci yang berasal dari penafsiran diri seseorang. Ada yang berpendapat bahwa cara terbaik untuk menerjemahkannya adalah “inspirasi,” karena memang itulah maksudnya. Tidak ada pesan Kitab Suci yang berasal dari inspirasi seseorang. Artinya, Kitab Suci tidak muncul dari manusia yang “terinspirasi,” dalam arti memiliki tingkat kejeniusan religius tertentu. Bentuk tata bahasa di sini menunjukkan bahwa Petrus sedang berbicara tentang sumber atau asal-usul Kitab Suci, bukan tentang penafsiran Alkitab dalam arti menjelaskan maknanya. Jadi maksudnya bisa dinyatakan seperti ini: “Tidak ada nubuat Kitab Suci yang berasal dari pikiran manusia sendiri.” Tidak ada pesan Kitab Suci yang muncul dari sumber manusia mana pun. Itulah intinya.
“Sebab,” ayat 21 mengatakan, “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia.” Kitab Suci bukanlah hasil karya manusia. Ini bukan hasil dari kehendak manusia, tetapi manusia yang digerakkan oleh Roh Kudus, yang berbicara dari Allah. Sangat jelas dan sangat penting. Tidak ada pesan yang pernah dihasilkan. Bentuk kata kerjanya menunjukkan tindakan yang terjadi, dari kata pherō. Artinya membawa, mengangkut, menggerakkan, menyampaikan, menghasilkan, atau membawa keluar. Tidak ada pesan yang pernah disampaikan, dibawa, dihasilkan, atau muncul dari kehendak manusia, tetapi manusia – dengan kata yang sama, pherō – digerakkan, dibawa, dan diarahkan oleh Roh Kudus untuk berbicara dari Allah. Roh Kudus memenuhi mereka. Gambaran yang dipakai seperti layar kapal yang tertiup angin dan terdorong maju oleh hembusan angin itu. Roh Allah menggerakkan mereka, mendorong mereka terus berjalan.
Nah, ini menjelaskan prosesnya. Isi Alkitab adalah wahyu. Proses bagaimana isi itu dituliskan disebut ilham atau inspirasi. Ini bukan hasil dari tingkat kemampuan manusia yang tinggi. Bahkan bukan juga hasil dari aktivitas religius manusia yang tinggi. Memang manusia terlibat dalam prosesnya, tetapi asalnya bukan dari mereka. Itu tidak muncul dari keinginan atau kehendak mereka. Mereka dipakai ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus dan dimampukan untuk berbicara dari Allah. Mereka menyampaikan firman ilahi. Allah memakai mereka. Kepribadian mereka tetap ada, latar belakang mereka, sebagian pemahaman mereka, pengalaman mereka, dan cara pandang mereka, tetapi setiap kata tetap adalah Firman Allah. Itulah mukjizat dari inspirasi.
Manusia dipakai, digerakkan oleh Roh Kudus, dan mereka berbicara dari Allah. Itulah yang dikatakan Kitab Suci. Jadi ketika Anda membuka Alkitab, Anda tidak sedang membaca perkataan manusia. Anda sedang membaca Firman Allah yang dituliskan oleh manusia yang digerakkan dalam proses itu oleh kuasa Roh Kudus, bukan terlepas dari kepribadian mereka, bukan terlepas dari pengalaman mereka, bukan terlepas dari kosa kata mereka, dan bukan terlepas dari hati, semangat, serta dorongan mereka. Tapi semuanya itu dipadukan di dalam kuasa Roh Allah, tanpa pernah mengurangi kebenaran bahwa setiap kata berasal dari Allah. Ini adalah sebuah mukjizat yang besar dan mulia. Begitu penting.
Jadi, Allah telah berbicara dalam Perjanjian Lama kepada para leluhur melalui para nabi, dengan berbagai cara dan dalam banyak bagian. Allah juga telah berbicara dalam Perjanjian Baru melalui Anak-Nya di dalam Injil, dan kemudian tentang Anak-Nya dalam bagian-bagian lain dari Perjanjian Baru. Proses bagaimana Allah memberikan wahyu itu disebut inspirasi atau ilham. Inspirasi adalah ketika Allah menaruh wahyu-Nya, seakan-akan, ke dalam tangan manusia untuk dituliskan. Pertama-tama untuk disampaikan dan diberitakan, lalu kemudian dituliskan ketika mereka digerakkan dan didorong oleh Roh Kudus. Manusia memang dipakai, namun tidak satu pun Firman Allah dilanggar atau berubah. Seluruh Kitab Suci, pasa graphē, semua isi Kitab Suci, setiap bagian Kitab Suci adalah theopneustos, dihembuskan oleh Allah. Inilah napas Allah, inilah penulisan Firman Allah.
Keseluruhan Kitab Suci itu, menurut Roma 3:2, disebut sebagai firman Allah. Ketika Paulus berbicara tentang keistimewaan Israel, apa yang mereka miliki yang membedakan mereka dari bangsa-bangsa lain? Ia merujuk pada Perjanjian Lama, yang ia sebut sebagai firman Allah, yaitu perkataan Allah, kata-kata Allah. Yeremia adalah contoh yang baik dari proses ini. Yeremia dipanggil oleh Allah bahkan sebelum ia dilahirkan. “Firman Tuhan datang kepadaku,” ayat 4 pasal 1, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Lalu aku berkata, “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya aku tidak pandai bicara, sebab aku masih muda,” lalu ayat 9, “Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku. Tuhan berfirman kepadaku, ‘Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan- perkataan-Ku ke dalam mulutmu.’” Betapa luar biasanya pernyataan itu. “Aku menaruh perkataan-Ku ke dalam mulutmu.” Itulah janji bagi para penulis Kitab Suci.
Seluruh Kitab Suci dihembuskan oleh Allah. Semua tulisan kudus berasal dari Allah. Kita mengakui hal itu. Kita mengakui keunikan ilahi dari Kitab Suci. Gereja mula-mula juga mengakuinya. Memang baru sekitar tahun 393 dan 397, melalui Konsili Hippo dan Konsili Kartago, gereja secara resmi menetapkan kanon Kitab Suci secara menyeluruh. Namun, orang-orang percaya sudah mengenalinya jauh sebelum itu. Gereja tidak menciptakan kanon Kitab Suci, sama seperti Newton tidak menciptakan hukum gravitasi. Newton menemukan gravitasi yang sudah Allah tetapkan, dan gereja sejak awal menemukan dokumen-dokumen yang diilhamkan, yang sebenarnya ditulis oleh Allah sendiri. Walaupun butuh waktu sebelum ada penetapan resmi dari gereja, bagi gereja mula-mula sudah sangat jelas mana yang merupakan Firman Allah dan mana yang bukan. Ada banyak tulisan yang keliru yang tidak dimasukkan, tetapi apa yang adalah Firman Allah tetaplah Firman Allah. Allah adalah Penulis Kitab Suci.
Bahkan, di dalam Kitab Suci, sering kali Allah dan istilah “Kitab Suci” dipakai secara bergantian. Dalam Galatia tertulis, “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi berdasarkan iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’” Kitab Suci berkata, “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jika Anda kembali ke Kejadian 12, Anda akan melihat bahwa Allah yang mengatakan hal itu. Allah berkata, Kitab Suci berkata, itu sama saja. Apa yang dikatakan Kitab Suci, itulah yang Allah katakan. Apa yang dikatakan Kitab Suci, itulah yang Allah katakan.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 13, ada catatan yang sangat menarik dalam khotbah rasul Paulus. Ia berkata dalam ayat 32, “Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah menjadi Bapa-Mu pada hari ini.” Dan mengenai fakta bahwa Dia telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, sehingga tidak akan kembali kepada kebinasaan, Dia telah berfirman demikian: “’Aku akan memberikan kepadamu janji-janji kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada Daud.’ Sebab itu Ia mengatakan juga dalam mazmur yang lain, ‘Engkau tidak akan membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.’” Dengan kata lain, Allah sedang berbicara di dalam kitab Mazmur, dan itulah yang ditegaskan oleh rasul tersebut. Ketika Mazmur berbicara, Allah berbicara.
Dalam Kitab Roma—saya sempat teringat tadi—pasal 9 ayat 17, dikatakan bahwa Kitab Suci berkata kepada Firaun, “Itulah sebabnya Aku mengangkat engkau,” dan seterusnya. Padahal, di Perjanjian Lama bukan Kitab Suci yang secara langsung berbicara, melainkan Allah yang berkata demikian. Namun ketika Allah berbicara, itulah Kitab Suci. Dan ketika Kitab Suci berbicara, itulah Allah yang berbicara. Karena itu, istilah-istilah ini sering dipakai secara bergantian. Sebagai catatan tambahan, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa para penulisnya yang diilhamkan. Paulus tidak mengatakan itu. Petrus juga tidak mengatakan itu. Yang diilhamkan adalah Kitab Suci. Para penulisnya sendiri tidak diilhamkan dalam arti mereka memiliki kemampuan supranatural yang bisa mereka gunakan kapan saja untuk menghasilkan Kitab Suci. Satu-satunya waktu mereka mengalami ilham adalah ketika Allah memberikan Firman-Nya kepada mereka. Di luar itu, mereka berbicara seperti biasa, tanpa ilham tersebut.
Jadi, Alkitab sebenarnya tidak mengenal konsep manusia yang diilhamkan secara teknis, melainkan hanya kata-kata yang diilhamkan, yaitu kata-kata yang dihembuskan oleh Allah. Bukan Yesaya, bukan Daud, bukan Paulus, bukan Yohanes, atau penulis Alkitab lainnya yang diilhamkan sebagai pribadi sehingga mereka bisa menulis Kitab Suci kapan saja mereka mau. Tidak. Hanya pada momen-momen khusus dalam hidup mereka, ketika Allah secara langsung memberikan Firman-Nya untuk dituliskan, mereka menerima ilham itu. Di luar itu, apa yang mereka tulis adalah tulisan mereka sendiri. Jadi, bukan manusianya yang diilhamkan, melainkan Kitab Sucinya. Allah menghembuskan Firman-Nya ke dalam mereka, dan mereka menuliskannya kata demi kata sesuai dengan apa yang Allah hembuskan. Proses ini lebih dari sekadar pendiktean. Mereka bukan hanya mendengar suatu suara lalu menulisnya secara mekanis kata demi kata. Firman itu mengalir melalui hati, jiwa, pikiran, emosi, dan pengalaman mereka, tetapi yang keluar setiap kata tetap adalah Firman Allah.
Ketika Allah menghembuskan pesan-Nya ke dalam mereka, dan mereka digerakkan oleh Roh Kudus, mereka menyampaikannya dan sebagian dari mereka menuliskannya. Ini adalah proses yang ajaib, supranatural, dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, yang menghasilkan bagi kita Firman Allah.
Nah, izinkan saya menjelaskannya dari sudut pandang yang berbeda untuk menegaskan inti utamanya. Saya tadi mengatakan bahwa tidak ada konsep tentang manusia yang diilhamkan di dalam Kitab Suci, dan yang ingin saya tekankan adalah bahwa ketika kita mengatakan Alkitab itu diilhamkan, kita tidak sedang mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan manusia yang sangat tinggi, semacam orang religius yang jenius. Dunia ini memang penuh dengan orang-orang seperti itu. Ada jenius dalam bidang musik, yang sangat produktif, sangat mendalam, jauh melampaui orang kebanyakan, bahkan mungkin melampaui orang-orang terbaik sekalipun. Ada juga yang jenius dalam bidang sastra, jenius dalam prosa, jenius dalam puisi, pria dan wanita hebat dengan kemampuan luar biasa, yang sering kita sebut sebagai penyair yang terinspirasi, musisi yang terinspirasi, penulis yang terinspirasi, atau pemikir yang terinspirasi, dan sebagainya.
Tapi ketika kita berbicara tentang inspirasi Alkitab, kita tidak sedang membicarakan tingkat pencapaian manusia yang tinggi. Bukan itu maksudnya. Kita juga tidak sedang berbicara tentang orang-orang yang, karena kejeniusannya secara rohani, bisa menulis Kitab Suci kapan saja mereka mau. Tidak. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melakukan itu. Mereka hanya bisa melakukannya ketika Allah memberikan kepada mereka apa yang harus dikatakan atau dituliskan, dan itu pun di bawah karya Roh Allah. Lagi pula, mereka tidak menghasilkan banyak tulisan lain di luar itu. Jika Petrus memang “terinspirasi” sebagai pribadi, mengapa tidak ada begitu banyak tulisan lain dari Petrus yang beredar dan kita kumpulkan? Mengapa mereka tidak menulis buku-buku yang lain? Mengapa mereka tidak terus menulis lagi dan lagi, tanpa henti, jika itu hanya soal kemampuan manusia yang luar biasa?
Para penulis Alkitab sendiri menyatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah apa yang Allah tuliskan. Mereka tidak menulis dari diri mereka sendiri. Menarik bagi saya bahwa mereka memiliki keyakinan yang kuat ini tanpa ragu. Mereka berkata bahwa mereka menulis untuk Allah, dan mereka tidak terlihat ragu akan hal itu. Kalau kita perhatikan, sebagian besar penulis Alkitab adalah orang-orang sederhana dan tidak terpelajar. Namun mereka memiliki keyakinan yang sangat teguh bahwa mereka menuliskan Firman Allah. Bahkan, sekitar 4.000 kali dalam Alkitab, para penulis menyatakan bahwa mereka sedang menyampaikan Firman Allah. Dan mereka tidak pernah menunjukkan keraguan. Seolah-olah kita mungkin membayangkan bahwa di suatu titik mereka akan berkata, “Ini adalah Firman Allah. Saya tahu mungkin sulit bagi kalian untuk percaya bahwa ini benar-benar Firman Allah, tapi percayalah, ini sungguh-sungguh benar.” Tetapi mereka tidak pernah berbicara seperti itu. Mereka tidak pernah merasa perlu membela diri. Mereka hanya menyatakannya dengan keyakinan penuh.
Tidak ada yang seperti itu. Tidak ada pernyataan seperti, “Aku tidak tahu mengapa kalian harus mempercayai ini, tetapi aku katakan kepada kalian bahwa ini benar-benar dari Tuhan. Dia menyuruhku menyampaikan ini.” Tidak ada nada pembelaan diri. Tidak ada usaha untuk mempertahankan diri. Padahal, sebagian besar dari mereka tidak memiliki pendidikan tinggi dan secara manusia tidak berada pada posisi untuk menjadi seorang jenius dalam bidang sastra. Namun mereka menuliskan hikmat yang begitu dalam, luas, dan bersifat supranatural, termasuk nubuat tentang masa depan dan hal-hal yang akan terjadi, yang terbukti sangat tepat.
Mereka menulis tentang sifat dan karakter Allah. Mereka menulis tentang rencana ilahi Allah yang sedang digenapi di dunia ini. Mereka benar dalam setiap hal yang mereka katakan. Mereka semua menyatakan bahwa apa yang mereka tulis berasal dari Allah, namun mereka tidak pernah menunjukkan keraguan atau kesadaran diri yang berlebihan atas klaim tersebut. Sungguh luar biasa. Mereka begitu saja meyakini bahwa itu adalah Firman Allah, dan mereka menuliskannya demikian.
Yakobus menggambarkan otoritas Kitab Suci ketika ia berkata dalam pasal 4 ayat 5, “Janganlah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata demikian?” Artinya, Kitab Suci memiliki otoritas. Paulus juga mengatakan bahwa hukum Allah itu “kudus, adil, dan baik,” dan yang ia maksud adalah hukum Allah yang dinyatakan, yaitu Perjanjian Lama. Para penulis Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa mereka menuliskan Firman Allah, sama seperti para penulis Perjanjian Lama. Ada sekitar 320 kutipan langsung dari Perjanjian Lama di dalam Perjanjian Baru, dan sekitar 1.000 rujukan yang tidak langsung. Para penulis Perjanjian Baru jelas percaya bahwa Perjanjian Lama itu diilhamkan. Mereka juga percaya bahwa tulisan mereka sendiri, yaitu Perjanjian Baru, juga diilhamkan, seperti yang sudah kita lihat sebelumnya. Mereka sadar bahwa mereka sedang menuliskan Firman Allah, dan itu bukan sekadar hasil dari kejeniusaan manusia. Mereka digerakkan oleh Roh Allah untuk melakukan sesuatu yang secara manusia tidak mungkin mereka lakukan.
Yang kedua, ada sebagian orang yang mengatakan, “Ya, Alkitab memang diilhamkan, tetapi hanya konsepnya saja, bukan kata-katanya.” Selama bertahun-tahun saya mencoba menanggapi pandangan seperti ini, yaitu orang-orang yang berpikir bahwa para penulisnya hanya menerima ide-ide rohani yang besar dari Allah, lalu mereka menuliskannya dengan kata-kata mereka sendiri. Jadi menurut mereka, kita sebenarnya tidak memiliki kata-kata Allah secara langsung, sehingga tidak perlu terlalu fokus pada setiap kata. Cukup tangkap saja konsep besarnya, ikuti ide dan alurnya. Tidak perlu memikirkan kata-katanya, karena itu dianggap hanya detail yang malah menghambat. Sering juga kita mendengar orang berkata, “Roh memberi hidup, tapi tulisan mematikan,” atau pernyataan-pernyataan semacam itu.
Nah, saya ingin bertanya, bagaimana mungkin seseorang bisa menyampaikan ide tanpa kata-kata? Saya tidak mengerti itu. Bagaimana mungkin Allah menyampaikan suatu ide kepada seseorang tanpa kata-kata? Itu tidak masuk akal. Sewaktu Musa ingin menghindar dari tugas berbicara bagi Tuhan karena merasa tidak pandai berbicara, Allah tidak berkata, “Aku akan menyertai pikiranmu dan mengajarkanmu apa yang harus engkau pikirkan.” Dia berkata, “Aku akan menyertai — apa? — mulutmu, dan mengajarkanmu apa yang harus engkau katakan.” Yesaya berkata, “Aku mendengar suara Tuhan berkata, ‘Pergilah dan katakanlah kepada bangsa ini.’” Yeremia berkata, “Firman Tuhan datang kepadaku, demikian.” Yehezkiel berkata, “Firman-Nya kepadaku, ‘Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel. Perhatikanlah dan berikanlah telingamu kepada semua perkataan-Ku yang akan Kusampaikan kepadamu, lalu pergilah dan katakanlah kepada mereka.’” Jadi, yang diberikan itu adalah kata-kata, bukan sekadar pikiran tanpa kata-kata, entah bagaimana bentuknya.
Amos berkata, “Aku bukan nabi, dan aku tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemetik buah ara. Tetapi, TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggembalakan kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: ‘Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.’” TUHAN berfirman kepadaku. Dalam pengalaman pertobatan Paulus yang luar biasa, ia berhadapan dengan Ananias. Ia mencatatnya dalam Kisah Para Rasul 22, “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.” Allah menetapkan Paulus untuk mendengar Dia dan kemudian menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
Yohanes berkata, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh, dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, ‘Apa yang engkau lihat, tuliskanlah dalam sebuah kitab. Tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.’” Bahkan Kristus sendiri, Sang Firman yang menjadi manusia, mengatakan bahwa Dia menerima pesan-Nya dari Bapa-Nya. Yesaya berkata tentang Kristus, “TUHAN telah membuat mulut-Nya seperti pedang yang tajam. Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid.” Bahkan Dia diajar apa yang harus dikatakan.
Anda tidak bisa memiliki pikiran tanpa kata-kata. Konsep seperti itu tidak masuk akal. Sama saja seperti berbicara tentang lagu tanpa nada, atau musik tanpa melodi. Sama seperti membicarakan matahari tanpa cahaya, atau penjumlahan tanpa angka, atau geologi tanpa batu, atau antropologi tanpa manusia—begitu juga pikiran tanpa kata-kata. Sebaliknya, mari kita lihat sejenak 1 Petrus. Saya ingin menunjukkan sesuatu yang menarik, 1 Petrus 1:10-11. Bagian ini menggambarkan sebuah prinsip. Petrus sedang menulis tentang para nabi Perjanjian Lama ketika mereka mencatat kebenaran tentang Mesias. Ia berkata, “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang anugerah yang diuntukkan bagimu. Mereka pun meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka.” Dengan kata lain, para nabi Perjanjian Lama digerakkan oleh Roh Kudus untuk berbicara dan menulis tentang Mesias. Tapi ketika mereka menyampaikan atau menuliskan hal itu, mereka sendiri berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami apa yang sebenarnya mereka katakan.
Intinya adalah ini: bukan saja Alkitab tidak mengajarkan bahwa ada pikiran tanpa kata-kata, tetapi Alkitab justru mengajarkan bahwa kadang-kadang Allah memberikan kata-kata tanpa pemahaman penuh dari pihak penulisnya. Bukan berarti mereka menulis secara mekanis tanpa kesadaran, tetapi ada banyak hal yang ditulis oleh para penulis Perjanjian Lama yang mereka sendiri tidak sepenuhnya mengerti. Jadi, ini bukan soal mereka menuliskan hasil dari kejeniusaan rohani mereka. Ini adalah soal mereka menuliskan kata-kata yang Allah berikan kepada mereka, entah mereka memahaminya sepenuhnya atau tidak. Itulah sebabnya dalam Matius 24:35 dikatakan, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Bukan pikiran-Ku, tetapi perkataan-Ku.
Lalu ada juga orang yang berkata, “Ya, Alkitab itu diilhamkan, tetapi hanya ketika berbicara tentang hal-hal rohani; bukan ketika berbicara tentang hal-hal duniawi seperti sains, sejarah, geografi, dan sebagainya.” Pandangan seperti ini memang sering muncul. Ada yang mengatakan, “Sejarah dalam Alkitab itu salah; geografinya salah; perhitungannya salah. Pernyataan ilmiahnya keliru. Tapi tidak masalah, karena inspirasi hanya menjamin hal-hal rohani, bukan hal-hal yang sekuler.” Pemikiran seperti itu sebenarnya sama saja dengan mengatakan, “Allah itu benar dalam hal-hal rohani, tetapi dalam hal lain Dia butuh bantuan, karena tidak terlalu akurat dalam hal data lainnya.” Nah, banyak orang yang mencoba menyerang Alkitab dengan cara seperti itu.
Izinkan saya memberi beberapa ilustrasi, yang cukup menarik. Salah satu yang mungkin sudah Anda kenal terdapat dalam Yosua 10, sekitar ayat 12 dan seterusnya. Di sana dikatakan bahwa di tengah-tengah pertempuran, matahari—apa?—berhenti. Selama bertahun-tahun, para pengkritik menertawakan hal itu dan berkata, “Matahari berhenti? Seberapa ilmiahnya itu? Kalau hubungan antara bumi dan matahari tetap, maka seharusnya yang berhenti itu bumi, bukan matahari. Itu baru ilmiah,” kata mereka. “Alkitab itu tidak ilmiah.”
Namun faktanya, jika Anda ada di sana pada hari itu, Anda akan melihat seolah-olah matahari itu berhenti. Bahkan orang yang mengkritik Alkitab itu mungkin adalah orang pertama yang bangun pagi, yang melihat ke luar jendela, lalu berkata, “Wah, indah sekali matahari terbit!” Padahal sebenarnya bukan matahari yang terbit. Tetapi tidak ada orang yang berkata, “Wah, indah sekali bumi sedang berputar!” Tidak ada yang berbicara seperti itu, baik pagi maupun malam hari. Kita sering menggunakan ungkapan seperti ini. Kita mengatakan, “Orang-orang di Australia tinggal di bawah.” Di bawah apa? Itu tidak lebih “di bawah” dibandingkan kita di sini, tetapi itu hanya cara mengungkapkannya. Kita juga berkata, “Kami sudah mencari sampai ke empat penjuru bumi.” Penjuru yang mana? Ada banyak hal yang kita ungkapkan dari sudut pandang manusia, yang tidak dimaksudkan sebagai pernyataan teknis ilmiah.
Lalu ada juga catatan dalam 2 Raja-raja pasal 18, tentang Sanherib dan peristiwa yang terjadi dengan Hizkia. Di sana disebutkan bahwa Hizkia memberikan 30 talenta emas dan 300 talenta perak. Sekilas ini tidak tampak menjadi masalah, sampai para arkeolog menemukan catatan Asyur tentang transaksi yang sama antara Hizkia dan Sanherib. Bahkan, mereka menemukan catatan milik Sanherib sendiri, dan dalam catatan itu tertulis 800 talenta perak, bukan 300 talenta. Para pengkritik langsung berkata, “Nah, ini bukti bahwa Alkitab salah, karena tidak teliti dalam hal angka-angka kecil.” Namun penelitian arkeologi lebih lanjut menunjukkan bahwa standar perhitungan emas di Yehuda dan Suriah memang sama, tetapi standar perhitungan perak berbeda. Talenta versi Yehuda dan talenta versi Suriah memiliki nilai yang berbeda, sehingga diperlukan 800 talenta Suriah untuk setara dengan 300 talenta Ibrani. Dan itulah yang sebenarnya dicatat dalam Kitab Suci. Alkitab menggunakan standar Ibrani, sementara catatan Sanherib menggunakan standar Suriah.
Izinkan saya menunjukkan satu lagi contohnya. Ada banyak kasus seperti ini, di mana Alkitab dianggap salah, padahal sebenarnya tidak, jika kita melihatnya dengan lebih teliti. Salah satu contoh yang cukup menarik ada di Bilangan 11. Coba buka bagian itu. Itu adalah kitab keempat dalam Perjanjian Lama. Anda bisa menemukannya. Bilangan 11:31. Ini menurut saya cukup menarik. “Lalu bertiuplah angin yang berasal dari TUHAN.” Pada waktu itu, bangsa Israel sedang mengembara di padang gurun Sinai. Mereka perlu diberi makan, dan Tuhan akan memelihara mereka. Cara Tuhan memberi makan mereka cukup menarik. Dikatakan bahwa angin itu membawa burung puyuh dari laut. Angin itu menghembuskan burung-burung puyuh hingga masuk ke dalam perkemahan. Dikatakan bahwa burung-burung itu datang di sekitar perkemahan, kira-kira sejauh satu hari perjalanan ke satu arah, dan satu hari perjalanan ke arah yang lain.
Jadi bukan saja burung-burung itu ada di sana, tetapi jumlahnya sangat banyak dan tersebar di area yang sangat luas. Dikatakan bahwa bukan hanya satu hari perjalanan di sisi yang satu dari perkemahan, dan satu hari perjalanan di sisi yang lain, semuanya dipenuhi burung puyuh, tetapi juga setinggi kira-kira dua hasta. Dua hasta itu kira-kira dari siku sampai ujung jari, sekitar 45 cm lebih atau kurang, jadi kira-kira satu meter lebih sedikit. Itu ukuran perkiraan. Seorang pengkritik lalu mencoba menghitungnya. Ia mengatakan bahwa ini adalah salah satu hal paling tidak masuk akal yang pernah ia baca. “Maksudnya, dalam jarak satu hari perjalanan ke satu arah dan satu hari perjalanan ke arah lainnya, seluruh area di sekitar perkemahan Israel dipenuhi burung puyuh setinggi sekitar satu meter?”
Lalu ia mulai menghitung. Hasilnya, menurut perhitungannya, ada 19.538.468.306.672 ekor burung puyuh—sembilan belas triliun lebih. Tentu saja, hal itu langsung menjadi bahan tertawaan. Bayangkan, sembilan belas triliun burung puyuh menumpuk di sana. Tapi sebenarnya, yang ia tunjukkan justru adalah ketidaktahuannya sendiri.
Teks Ibrani tidak mengatakan bahwa burung-burung itu menumpuk dari tanah ke atas. Yang sebenarnya ditunjukkan dalam teks Ibrani adalah bahwa Allah meniupkan burung-burung puyuh itu dari wilayah Lembah Nil ke padang gurun, dan burung-burung itu datang terbang pada ketinggian sekitar dua hasta di atas tanah. Itulah maksudnya. Biasanya burung puyuh tidak datang dan melayang pada ketinggian seperti itu, tetapi kali ini mereka ditiup oleh Tuhan. Hal itu justru memudahkan orang-orang untuk menangkapnya. Mereka tinggal meraih saja dan memilih, “Yang mana yang kamu mau?” “Saya ambil yang itu.” Lalu dengan mudah mereka menangkapnya. Burung-burung puyuh itu terbang pada ketinggian tersebut dan berada di area itu sampai semua orang mendapatkan sebanyak yang mereka inginkan.
Perhatikan, ketika Alkitab berbicara tentang sains, ketika Alkitab berbicara tentang sejarah, ketika Alkitab berbicara tentang matematika, apa pun yang dibicarakan Alkitab, itu adalah Firman Allah. Allah tidak mungkin salah, dan Firman-Nya juga tidak mungkin salah. Para pengkritik mungkin ingin mengejek Kitab Suci, tetapi Alkitab itu akurat secara ilmiah dan memuat prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan. Ambil contoh sains dalam bentuk yang paling dasar. Unsur-unsur utama dalam sains mencakup: waktu, tenaga, tindakan, ruang, dan materi. Herbert Spencer, yang meninggal pada tahun 1903, merangkum segala sesuatu ke dalam kategori-kategori tersebut: waktu, tenaga, tindakan, ruang, dan materi. Ia mengatakan bahwa seluruh alam semesta dapat dijelaskan melalui kategori-kategori itu. Itulah kerangka dasar dari keberadaan.
Jadi, pada tahun 1903, ia meninggal dengan reputasi sebagai orang yang sangat brilian karena menemukan hal itu. Namun yang tidak ia sadari adalah bahwa hal itu sudah ada di ayat pertama Alkitab. “Pada mulanya (itu waktu) Allah (itu tenaga) menciptakan (itu tindakan) langit (itu ruang) dan bumi (itu materi).” Kerangka dasar keberadaan itu sudah ada di ayat pertama. Alam semesta adalah suatu kesatuan dari waktu, tenaga, tindakan, ruang, dan materi, dan yang satu tidak bisa ada tanpa yang lain. Karena itu, seluruh kesatuan ini harus sudah ada secara bersamaan sejak awal. Semuanya harus dimulai bersama-sama. Ilmu pengetahuan sendiri harus berada dalam kerangka itu. Tidak satu pun unsur dari kerangka tersebut bisa hilang, karena jika satu saja tidak ada, maka tidak mungkin kita memiliki realitas seperti yang ada sekarang ini.
Setelah alam semesta diciptakan, seluruh proses di dalamnya dirancang untuk berjalan secara teratur. Semua energi dan materi dipelihara melalui keterkaitannya satu sama lain, sehingga tidak perlu lagi ada penciptaan baru. Begitu waktu, tenaga, tindakan, ruang, dan materi ada—itu sudah cukup; tidak perlu ada tambahan apa pun lagi. Kejadian 2:2 mengatakan, “Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya.” Dia telah melakukannya dan selesai. Dia menciptakan semuanya sekaligus, seluruh kerangka itu. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi penciptaan, karena memang tidak diperlukan lagi. Penghentian total dari aktivitas penciptaan ini dalam dunia sains dikenal sebagai Hukum Termodinamika Pertama, atau hukum kekekalan massa dan energi, yang juga banyak dibahas oleh Einstein. Inilah salah satu prinsip ilmiah yang paling dasar, paling universal, dan paling pasti, dan semuanya itu sudah dinyatakan dalam Firman Allah. Dia berhenti dari pekerjaan yang telah Dia lakukan. Semuanya sudah selesai. Dia menciptakan semuanya sekaligus, dan sejak itu, segala sesuatu berjalan dan bertahan sesuai dengan sifat alaminya sendiri.
Hukum Termodinamika Kedua adalah hukum yang menyatakan bahwa segala sesuatu cenderung menuju ketidakteraturan, bahwa seluruh sistem dalam kerangka itu sedang mengalami kemunduran, terurai, dan pada akhirnya menuju pada kematian. Hal ini kita lihat dengan sangat jelas. Dalam Roma 8 dikatakan, “Seluruh ciptaan sama-sama mengeluh dan merasa sakit bersalin,” menantikan saat kutuk itu dipulihkan. Ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan—perhatikan ini—mengapa Hukum Termodinamika Kedua itu terjadi. Mereka tidak tahu mengapa segala sesuatu terus bergerak menuju ketidakteraturan dan akhirnya menuju kehancuran. Alkitab adalah satu-satunya tempat yang memberikan penjelasan, dan penjelasannya adalah satu kata sederhana: dosa. Tanpa memahami dosa, seseorang bahkan tidak bisa menjelaskan dengan benar hakikat dari keberadaan alam semesta ini.
Alkitab itu akurat dalam segala hal yang dibicarakannya. Alkitab mengatakan bahwa Allah “menggantungkan bumi pada kehampaan.” Entah Anda berbicara tentang geologi, geodesi, meteorologi, fisiologi, biologi, antropologi, astronomi, atau hidrologi—apa pun bidangnya—ketika Alkitab berbicara, itu akurat.
Lalu kita melihat hal-hal dalam Alkitab seperti nubuat. Sebagai contoh, mungkin kita punya waktu untuk melihat satu saja. Coba lihat Yehezkiel pasal 28, dan saya akan memberikan satu gambaran singkat yang sangat luar biasa untuk menunjukkan keakuratan Kitab Suci secara historis. Yehezkiel 26-28. Kita mulai dari pasal 26. Di sini ada nubuat yang datang kepada Yehezkiel tentang kehancuran kota Tirus. Tirus adalah benteng bangsa Fenisia. Kota ini cukup besar dan penting, terletak di pesisir Fenisia, yang sekarang dikenal sebagai wilayah Palestina. Firman Tuhan datang kepada Yehezkiel dalam ayat 2 pasal 26, memberitahukan tentang kehancuran kota tersebut.
"Hai anak manusia, karena Tirus berkata mengenai Yerusalem: Syukur! Sudah rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku menjadi penuh, tetapi ia menjadi reruntuhan, oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, hai Tirus. Aku akan membuat banyak bangsa bangkit melawan engkau, seperti lautan menimbulkan gelombang-gelombangnya. Mereka akan memusnahkan tembok-tembok Tirus dan meruntuhkan menara-menaranya. Debunya akan Kubuang sampai bersih darinya dan dia akan Kujadikan gunung batu yang gundul. Ia akan menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Ia akan menjadi jarahan bagi bangsa-bangsa. Anak-anaknya perempuan yang tinggal di daratan akan ditewaskan oleh pedang. Maka mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Sebab, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membawa Nebukadnezar, raja Babel dari utara, raja segala raja, untuk melawan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan tentara yang banyak. Ia akan membunuhg anak-anakmu perempuan di daratan dengan pedang, mendirikan benteng pengepungan, menimbun tanah menjadi tembok pengepungan, dan memasang perisai melawan engkau. Hantaman alat pendobraknya akan ditujukan kepada tembok-tembokmu, dan menara-menaramu akan dirobohkan dengan beliung-beliungnya. Kudanya begitu banyak, sehingga engkau akan ditutupi oleh debu. Karena derap pasukan berkudanya dan kertak roda keretanya, tembok-tembokmu akan bergetar ketika ia memasuki pintu-pintu gerbangmu seperti orang memasuki kota yang sudah terbuka karena pendobrakan. Dengan kaki-kaki kudanya ia akan menginjak-injak semua jalanmu. Ia akan membunuh rakyatmu dengan pedang, dan tugu-tugu andalanmu akan roboh ke tanah. Mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang daganganmu. Mereka akan meruntuhkan tembok-tembokmu dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; lalu membuang batu, kayu dan debumu ke dalam laut. Aku akan mengakhiri keramaian nyanyianmu dan denting kecapimu tidak akan terdengar lagi. Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul dan dengan demikian engkau akan menjadi penjemuran pukat sehingga engkau tidak akan dibangun kembali, sebab Aku, TUHAN yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Nah, ini sangat rinci, saudara-saudara. Ini bukan nubuat yang umum atau samar, tetapi sangat spesifik. Ini adalah kota besar bangsa Fenisia. Sejak abad ketujuh sebelum Masehi, kota ini menguasai wilayah Fenisia. Kota ini memiliki tembok yang sangat kuat, sekitar 45 meter tingginya—dan itu sangat tinggi—dan tebalnya sekitar 4–5 meter. Kota ini sudah berkembang pesat, bahkan ketika Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. Raja pertamanya yang terkenal adalah Hiram. Ia membantu Daud membangun istananya, dan menurut 1 Tawarikh 22, ia juga membantu Salomo membangun Bait Allah.
Tiga tahun setelah nubuat diberikan, Nebukadnezar datang dan mengepung kota itu selama 13 tahun. Pada waktu itu, kota-kotanya dilindungi oleh tembok, jadi jika pasukan tidak bisa masuk, yang dilakukan adalah memutus semua akses masuk, sampai akhirnya penduduk di dalamnya kelaparan. Pengepungan itu berlangsung dari tahun 585 sampai 573 SM. Dan akhirnya, kota itu menyerah karena penduduknya hampir mati kelaparan. Nebukadnezar merobohkan tembok dan menara, menghancurkan kota itu, dan melakukan tepat seperti yang telah dinubuatkan oleh Yehezkiel. Tentu saja, Nebukadnezar tidak membaca kitab Yehezkiel ketika ia melakukan semua itu. Tapi ketika ia masuk ke dalam kota, ia tidak menemukan harta rampasan yang ia harapkan. Ternyata, penduduk telah menggunakan armada kapal mereka untuk memindahkan semua harta ke sebuah pulau yang terletak sekitar setengah mil dari pantai. Dan memang, dalam pasal 29, Yehezkiel telah mengatakan bahwa Nebukadnezar tidak akan memperoleh rampasan. Itulah yang benar-benar terjadi. Nebukadnezar tidak memiliki kekuatan laut untuk mengejar ke pulau itu. Pulau tersebut kemudian menjadi kota yang baru, dan berkembang selama sekitar 250 tahun. Jadi, sebagian dari nubuat itu sudah digenapi—bagian tentang Nebukadnezar menghancurkan kota, merobohkan tembok, membinasakan penduduk, dan tidak mendapatkan rampasan. Tapi belum semuanya digenapi. Reruntuhan kota yang lama masih tetap ada di lokasi semula, dan puing-puingnya masih berserakan.
Setelah 250 tahun, datanglah seorang pemuda berusia 24 tahun bernama Alexander Agung. Ia memiliki 33.000 pasukan infanteri dan 15.000 pasukan berkuda. Ia baru saja mengalahkan Persia dan sedang dalam perjalanan menuju Mesir. Nah, karena ia membutuhkan banyak persediaan, ia mendatangi kota Tirus, lalu mengirim pesan, “Aku ingin kalian menyediakan kebutuhan untuk seluruh pasukan dan kudaku.” Tapi mereka menolak dan berkata, “Tidak bisa. Engkau tidak punya angkatan laut, dan kami berada di pulau. Kami tidak akan membantu.” Jawaban itu membuat Alexander marah, dan itu bukanlah hal yang baik. Karena ia tidak memiliki armada laut, ia harus mencari cara untuk mencapai pulau itu. Maka ia melakukan persis seperti yang telah dinubuatkan oleh Yehezkiel. Dikatakan bahwa tempat itu akan dikerok hingga menjadi seperti batu yang gundul, dan semua puing-puingnya akan dibuang ke dalam laut.
Tidak ada penakluk yang waras yang mau melakukan hal seperti itu. Untuk apa membuang waktu setelah menaklukkan suatu kota, lalu mengumpulkan semua batu dan puing-puingnya hanya untuk dibuang ke laut? Tetapi justru itulah yang harus terjadi sesuai dengan nubuat itu, dan Alexander melakukannya. Ia mengambil seluruh puing-puing kota lama itu dan membangun sebuah jalan penghubung sepanjang sekitar 600 meter dengan lebar sekitar 60 meter, yang menghubungkan daratan ke pulau tersebut, dan semuanya dari reruntuhan kota lama itu.
Pulau itu juga sudah diperkokoh dengan tembok-tembok yang sangat kuat, bahkan sampai ke tepi laut. Nah, ketika Alexander semakin mendekat, ia menyadari bahwa ia harus menembus tembok-tembok itu. Jadi, untuk menembusnya, ia membangun menara-menara raksasa yang disebut Heliopolis, tingginya sekitar 160 kaki, atau kira-kira setara gedung 20 lantai. Di dalamnya ada alat-alat perang dan juga jembatan yang bisa diturunkan. Menara-menara itu didorong di sepanjang jalan yang telah dibangun tadi, lalu dari atasnya mereka menyerang kota. Ketika sudah mencapai tembok, mereka menurunkan jembatan dan langsung masuk ke dalam. Sepanjang proses itu, tentu saja penduduk kota terus menyerang dari atas tembok, melemparkan berbagai benda dan menembakkan senjata. Untuk melindungi para pekerja yang membangun jalan itu, pasukan Alexander juga menggunakan alat pelindung seperti cangkang besar, yang disebut “tortoises,” yang melindungi mereka selagi bekerja.
Butuh waktu tujuh bulan baginya untuk akhirnya masuk ke kota itu dan membunuh 8.000 orang dalam beberapa bulan, mengeksekusi 7.000 orang lagi, dan menjual 30.000 orang sebagai budak. Dengan ini, setiap detail dari nubuat tersebut digenapi. Sementara kota Yerusalem telah dibangun kembali berkali-kali, Tirus tidak pernah dibangun kembali seperti sebelumnya. Dan ini tepat seperti yang Tuhan katakan, “Engkau tidak akan dibangun lagi.” Dan tahukah Anda apa yang ada di sana sekarang? Jika Anda pergi ke sana hari ini, Anda akan melihat bahwa tempat itu digunakan untuk menjemur jala ikan—persis seperti yang telah dinubuatkan. Apa kemungkinannya semua itu terjadi hanya kebetulan? Sangat kecil, bahkan hampir tidak mungkin terjadi hanya karena kebetulan.
Sebagai tambahan, ada juga kota saudara dari Tirus, yaitu Sidon, yang menerima nubuat. Dalam Yehezkiel 28:22 dikatakan, “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku menjadi lawanmu, hai Sidon, dan Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku di tengah-tengahmu. Maka mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku menjatuhkan hukuman atasnya dan menunjukkan kekudusan-Ku terhadap dia. Aku akan mendatangkan sampar atasnya dan darah akan mengalir di jalan-jalannya. Orang-orang akan mati rebah di tengah-tengahnya oleh pedang yang datang dari sekitarnya melawan dia. Mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
Hmm, jadi kota ini akan menjadi tempat pertumpahan darah. Sidon sendiri adalah pusat penyembahan Baal, yang terletak sekitar 30 kilometer di utara Tirus. Nubuatnya mengatakan akan ada darah di jalan-jalan dan pedang di mana-mana, tetapi tidak ada nubuat tentang kehancuran total. Dan memang itulah yang terjadi. Darah di mana-mana, dan peperangan terus-menerus. Kota itu berkali-kali diserang dan dikepung, lagi dan lagi, tetapi tidak pernah benar-benar dimusnahkan. Sampai hari ini, kota itu masih ada. Sekarang dikenal dengan nama Sidon, dan kota ini tetap berdiri.
Pada tahun 351 SM, kota itu berada di bawah kekuasaan Persia. Saat terjadi pemberontakan, kota itu direbut kembali. Harapan untuk menyelamatkan kota itu hampir tidak ada. Ketika diserang oleh Persia, sekitar 40.000 orang memilih mati daripada tunduk pada kekejaman Persia, sehingga mereka membakar diri mereka sendiri bersama rumah-rumah mereka. Darah kembali mengalir di jalan-jalan, seperti yang telah dinubuatkan. Kota itu, Sidon, juga pernah direbut tiga kali oleh tentara Salib dan tiga kali oleh pasukan Muslim. Pada tahun 1840, kota itu dibombardir oleh gabungan kekuatan Inggris, Prancis, dan Turki. Namun sampai hari ini, kota itu tetap ada, karena Allah tidak pernah mengatakan bahwa kota itu akan dimusnahkan sepenuhnya. Dan memang, kota itu masih berdiri hingga sekarang.
Anda bisa mempelajari Alkitab, dan Anda akan melihat bahwa Alkitab menubuatkan hal-hal dalam sejarah dengan sangat tepat. Yehezkiel 30 menubuatkan kehancuran Mesir. Nahum 1 menubuatkan kehancuran Niniwe. Yesaya 13 menubuatkan kehancuran Babel. Hosea 13 menubuatkan kehancuran Samaria. Yehezkiel 25 menubuatkan kehancuran Moab dan Amon. Seorang ahli matematika bernama Peter Stoner mengambil 11 nubuat dengan semua detailnya, lalu menghitung kemungkinan semua itu terjadi secara kebetulan. Hasilnya adalah 1 banding 5,76 dikali 10 pangkat 59. Anda mungkin bertanya, “Apa artinya itu?” Jujur saja, itu angka yang begitu besar sampai sulit untuk dibayangkan.
Bagaimana cara menghitung angka seperti itu? Bagaimana kita bisa memahaminya? Ia mencoba menggambarkannya seperti ini: seandainya seluruh alam semesta berisi 2 triliun galaksi, dan setiap galaksi memiliki 100 miliar bintang, lalu semua bintang itu diibaratkan sebagai koin perak, yang jumlahnya akan menjadi angka yang luar biasa besar, hampir tidak bisa dibayangkan. Intinya, peluang sebesar itu pada dasarnya tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang sains, geografi, sejarah, atau hal apa pun, itu akurat. Ini adalah Firman Allah. Lalu apa manfaatnya bagi kita? Mari kita kembali ke teks awal kita, 2 Timotius 3. Apa manfaatnya? “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” Betapa luar biasanya hal ini!
Kita bukan hanya memiliki Firman Allah, tetapi kita memiliki Firman Allah yang sanggup memperlengkapi kita sepenuhnya untuk setiap perbuatan baik. Ini bukan sekadar Firman yang indah untuk didengar, tetapi Firman yang mengubah hidup. Lalu apa respons kita? Pertama, percayai Firman itu. Kedua, pelajari Firman itu. Ketiga, hormati Firman itu. Allah meninggikan Firman-Nya. Kasihilah Firman itu. “Betapa kucintai Taurat-Mu,” kata Daud dalam Mazmur 119:97. Taatilah Firman itu, lakukan apa yang diperintahkannya. Perjuangkan Firman itu, seperti dalam Yudas 3, “Berjuanglah untuk mempertahankan iman.” Dan beritakanlah Firman itu, seperti dalam 2 Timotius 4:2, “Beritakanlah Firman.”
Tahukah Anda bahwa sepanjang hidup Anda, kemungkinan besar Anda akan mengonsumsi sekitar 150 ekor sapi? Bahkan mungkin lebih. Anda juga akan makan setidaknya 3.000 ekor ayam, sekitar 225 ekor domba muda, 26 ekor domba, dan sekitar 310 ekor babi dalam bentuk bacon dan ham saja. Anda akan mengonsumsi hasil dari sekitar 26 hektar gandum, dan juga sekitar 50 hektar buah serta sayuran. Izinkan saya mengingatkan Anda pada apa yang Yesus katakan: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Saudaraku, di tengah semua yang kita konsumsi itu, jangan lupa menyediakan waktu untuk Firman ini. Mari kita berdoa bersama.
“Setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Betapa luar biasanya pernyataan itu. Bapa, betapa kami bersyukur karena kami tahu bahwa itulah Alkitab kami—firman yang keluar dari mulut-Mu, Allah yang bukan saja mengetahui sejarah, tetapi juga menuliskannya; yang bukan saja memahami ilmu pengetahuan, tetapi menciptakannya; yang bukan saja mengerti dimensi rohani, tetapi adalah realitas itu sendiri. Ya Tuhan, betapa berharganya harta ini. Tolonglah kami untuk mengasihi Firman-Mu, menghormati Firman-Mu, mempercayai Firman-Mu, mempelajari Firman-Mu, mempertahankan Firman-Mu, dan memberitakan Firman-Mu. Jadikan kami orang-orang yang hidup dari Firman, yang di tengah segala kebutuhan hidup ini tidak melupakan bahwa kami benar-benar hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut-Mu.
Bapa, tolong kami untuk mengambil komitmen yang perlu kami ambil, untuk memperbarui kembali kesetiaan kami kepada Firman-Mu, karena di dalamnya Engkau menyatakan diri-Mu. Kami sangat rindu untuk mengenal Engkau. Biarlah kami menyadari bahwa mengenal Engkau terjadi melalui Firman-Mu dan melalui setiap pergumulan serta pengalaman hidup di mana kami menerapkan Firman itu. Penuhilah setiap kebutuhan di dalam setiap hati. Dalam nama Kristus, Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
