Teks kita pagi ini hanya satu ayat, sebuah ayat yang sangat singkat, yaitu ayat 20 dari pasal 5, 1 Tesalonika pasal 5 ayat 20. Rasul Paulus berkata, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.” Tahukah Anda, dalam begitu banyak hal Alkitab adalah kitab yang sungguh luar biasa. Ada banyak sudut pandang yang dapat kita gunakan untuk melihat betapa menakjubkannya Kitab Suci. Izinkan saya memberikan beberapa contoh yang mungkin agak unik. Beberapa tahun yang lalu, seorang pengusaha Israel bernama Ze-el Fetterman mulai merenungkan kisah kehancuran Sodom dan Gomora. Ia membaca dalam Kitab Suci bahwa, “asap dari negeri itu naik bagaikan asap dari perapian.” Ia menduga bahwa kebakaran besar seperti itu mungkin menunjukkan adanya gas di bawah tanah, dan menurut dugaannya, jika ada gas di bawah tanah, berarti ada minyak bumi di bawahnya. Ternyata ia benar. Pada tahun 1953, sumur minyak pertama Israel mulai beroperasi di suatu tempat yang tidak jauh dari lokasi kuno Sodom dan Gomora.
Perusahaan Standard Oil telah menemukan minyak dan mengoperasikan sumur-sumur minyak di Mesir selama bertahun-tahun. Banyak orang mengetahui hal itu, tetapi alasan mengapa mereka pertama kali mencari minyak di negeri kuno tersebut tidak banyak diketahui. Dikatakan bahwa salah seorang direktur Perusahaan Standard Oil sedang membaca pasal kedua kitab Keluaran. Ayat ketiga menarik perhatiannya. Ayat itu menyatakan bahwa peti pandan yang dibuat ibu Musa untuk bayinya dilapisi dengan ter dan gala-gala. Orang ini berpikir bahwa jika ada ter, pasti ada minyak bumi, dan jika minyak bumi ada pada zaman Musa, kemungkinan besar minyak itu masih ada sampai sekarang. Karena itu perusahaan tersebut mengutus Charles Witchet, ahli geologi dan pakar perminyakannya, untuk melakukan penyelidikan. Hasilnya, minyak benar-benar ditemukan.
Ini yang paling saya sukai. Majalah World Christian Digest (Ringkasan Kristen di Dunia) pernah melaporkan bahwa seorang polisi di Haifa yang mengenal isi Alkitabnya dengan baik berhasil melacak jejak sekelompok penyelundup. Agar tidak mencolok, para penyelundup itu menggunakan kafilah atau gerobak yang ditarik keledai untuk bergerak melewati kota. Polisi itu berhasil menangkap beberapa keledai mereka, meskipun para penyelundupnya berhasil melarikan diri. Polisi itu membiarkan hewan-hewan pengangkut beban itu tanpa makanan selama beberapa hari, lalu melepaskannya. Dan tepat seperti yang ia perkirakan berdasarkan Yesaya 1:3, “lembu mengetahui pemiliknya dan keledai mengenal palungan tuannya,” hewan-hewan yang kelaparan itu langsung menuntun polisi kepada para penyelundup.
Alkitab adalah kitab yang luar biasa. Sepanjang sejarah, banyak orang memusatkan hidup mereka pada Alkitab. Kitab ini berharga sekaligus unik. Salah satu kisah favorit saya adalah kisah seorang gadis kecil di Prancis yang hidup dalam kemiskinan dan buta total. Ia mendapatkan Injil Markus dalam huruf Braille dan belajar membacanya dengan ujung-ujung jarinya. Karena kecintaannya yang begitu besar kepada Alkitab dan karena ia terus-menerus membacanya, jari-jarinya menjadi kapalan. Akibatnya, kemampuan jarinya untuk merasakan dan membedakan huruf-huruf itu semakin berkurang. Suatu hari, karena sangat ingin terus membaca Alkitab, ia mengupas kulit di ujung-ujung jarinya dengan harapan dapat meningkatkan kepekaannya. Namun yang terjadi justru saraf-sarafnya rusak. Ia merasa harus berpisah dengan kitab yang sangat dicintainya itu. Sambil menangis, demikian kisahnya, ia menempelkan bibirnya pada halaman-halaman Injil Markus dan berkata, “Selamat tinggal, selamat tinggal.” Namun betapa terkejutnya dia ketika bibirnya, yang lebih peka daripada jari-jarinya, dapat merasakan bentuk huruf-huruf tersebut. Sepanjang malam itu ia membaca Firman Allah dengan bibirnya dan hatinya meluap dengan sukacita karena kesempatan baru yang ia temukan.
Yesus merangkum semuanya ketika Ia berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Alkitab adalah kitab yang luar biasa dan tidak ada bandingannya. Bahkan menurut saya, Alkitab seharusnya diberi label peringatan. Mungkin bunyinya seperti ini: “Peringatan: kitab ini dapat menimbulkan ketergantungan. Penggunaan secara teratur dapat menyebabkan berkurangnya kecemasan, menurunnya keinginan untuk berbohong, menipu, bernafsu jahat, membenci, dan mencuri. Gejala yang muncul antara lain meningkatnya sukacita, damai sejahtera, kasih, dan belas kasihan.”
Alkitab adalah kitab yang tertinggi. Tidak ada satu pun buku yang dapat mendekati keunggulannya. Rasul Paulus memikirkan supremasi Kitab Suci ketika ia menuliskan ayat yang baru saja saya bacakan. Ketika ia berkata, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat,” atau perkataan-perkataan yang bersifat nubuat, yang ada dalam pikirannya adalah penyataan Allah. Di sini ia sedang berbicara tentang sikap kita terhadap penyataan Allah, baik yang disampaikan secara lisan maupun yang dituliskan. Ingatlah bahwa ayat 20 ini merupakan bagian dari daftar prinsip-prinsip dasar kehidupan Kristen. Pada ayat 16 ia mengingatkan kita untuk selalu bersukacita. Kemudian pada ayat berikutnya untuk tetap berdoa tanpa henti. Lalu dalam segala hal mengucap syukur. Pada pembahasan sebelumnya kita juga melihat bahwa ia berkata, “Janganlah padamkan Roh.” Sekarang ia beralih kepada satu pokok yang sangat khas dan berdiri sendiri, yaitu: “Jangan memandang rendah penyataan Allah.”
Ingat, ini semua merupakan bagian dari membangun jemaat yang sehat, yang melibatkan domba-domba memiliki hubungan yang benar dengan Sang Gembala Agung. Rasul Paulus telah berbicara tentang bagaimana gereja harus berhubungan dengan dirinya sendiri, bagaimana para pemimpin berhubungan dengan jemaat, jemaat dengan para pemimpin, sesama jemaat satu dengan yang lain, dan sekarang bagaimana jemaat berhubungan dengan Tuhan. Semua ini adalah unsur-unsur yang membentuk gereja yang efektif. Perintah-perintah terakhir ini sangat langsung dan sangat spesifik. “Janganlah padamkan Roh” adalah perintah yang jelas dan tidak mungkin disalahpahami. Ayat 21, “Ujilah segala sesuatu,” juga sangat jelas. “Peganglah yang baik,” sangat jelas. “Jauhilah segala jenis kejahatan,” juga sangat jelas. Satu-satunya yang mungkin sedikit membingungkan adalah perintah yang kedua, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.” Karena itu kita perlu melihatnya lebih dekat untuk memahami dengan tepat apa yang Paulus maksudkan.
Sebagai catatan kecil bagi Anda yang tertarik pada struktur bahasa, dalam kelima perintah yang dimulai dari ayat 19, pokok kalimatnya ditempatkan terlebih dahulu. Roh, jangan dipadamkan. Nubuat-nubuat, jangan dianggap rendah. Segala sesuatu, ujilah. Yang baik, peganglah erat-erat. Kejahatan, jauhilah. Dengan susunan seperti itu, penekanannya diberikan pada pokok kalimat tersebut. Dalam bahasa Yunani, bentuk ini menghasilkan pernyataan yang sangat kuat. Karena itu mari kita melihat beberapa unsur khusus dari ayat ini yang akan membantu kita memahami maknanya. Kata “anggap rendah” berarti meremehkan atau menurunkan nilainya. Kata itu berarti menganggap sesuatu tidak berarti atau sama sekali tidak berharga. Sedangkan kata “nubuat-nubuat” atau prophēteias adalah istilah Alkitab yang sangat penting dan memerlukan sedikit pembahasan lebih lanjut agar kita dapat memahaminya dengan benar. Pada dasarnya, kata itu berarti “apa yang telah Allah katakan” — yaitu apa yang telah Allah nyatakan.
Nah, hal itu terbagi ke dalam dua kategori: yang disampaikan secara lisan dan yang dituliskan. Saya ingin Anda memahami hal ini. Kata prophēteias, yaitu kata yang digunakan di sini, dipakai dalam Perjanjian Baru baik untuk firman yang diucapkan maupun untuk firman yang dituliskan. Ini sangat penting, karena ketika kita menafsirkan ayat ini, konteksnya sendiri tidak banyak memberikan petunjuk yang membantu. Karena itu kita harus memperhatikan arti katanya, lalu membandingkannya dengan bagian-bagian Alkitab lainnya untuk melihat bagaimana kata itu digunakan. Kadang-kadang kata itu dipakai untuk firman yang diucapkan, dan kadang-kadang dipakai untuk firman yang dituliskan.
Izinkan saya memberi beberapa contoh. Bukalah Alkitab Anda ke Roma pasal 12. Untuk membantu Anda memahami kata ini dengan lebih jelas sehingga penafsiran ini dapat dimengerti dengan baik, Anda akan menemukan dalam Roma pasal 12 daftar karunia-karunia rohani. Daftar itu mulai pada ayat 6, yang berkata, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita.” Lalu dikatakan, “Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.” Di sini kata yang sama digunakan. Dan dalam konteks ini, kata tersebut berkaitan dengan berbicara, yaitu karunia berbicara. Bahkan dalam 1 Petrus 4, karunia-karunia rohani dibagi menjadi dua kategori: karunia berbicara dan karunia melayani. Kata ini berarti “berbicara di hadapan.” Bukan dalam arti meramalkan masa depan, melainkan berdiri di depan orang banyak dan berbicara kepada mereka. Secara harfiah, artinya adalah berbicara di muka umum atau memberitakan secara terbuka. Karunia nubuat, yang diberikan kepada sebagian orang Kristen, adalah kemampuan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk memberitakan Firman Allah secara terbuka. Dengan kata lain, inilah kemampuan yang dianugerahkan Roh Kudus untuk menyampaikan Firman Allah kepada orang banyak.
Nah, kalau kita melihat Perjanjian Baru pada masa ketika karunia nubuat masih berfungsi secara penuh, kita akan menemukan dua kategori. Kadang-kadang ketika seseorang menjalankan karunia ini, apa yang ia sampaikan merupakan penyataan langsung dari Allah – bahwa itu adalah sesuatu yang belum pernah didengar sebelumnya oleh siapa pun. Kata-kata itu adalah firman yang datang langsung dari Allah. Tapi kadang-kadang tidak demikian. Kadang-kadang yang disampaikan hanyalah pengulangan atau pemberitaan kembali dari apa yang sudah pernah Allah katakan atau yang sudah pernah dituliskan sebelumnya. Jadi, kata “nubuat” sendiri tidak selalu memberi tahu kita bentuk pesannya, apakah itu penyataan baru atau sesuatu yang sudah dinyatakan sebelumnya. Kata itu hanya menjelaskan cara penyampaiannya, yaitu pemberitaan secara terbuka di depan umum.
Kadang-kadang nubuat juga dapat bersifat sangat praktis. Sebagai contoh, dalam Kisah Para Rasul pasal 11 ayat 27 dan 28, kita menemukan bentuk nubuat yang sangat praktis. Dikatakan bahwa beberapa nabi datang dari Yerusalem ke Antiokhia. Salah seorang dari mereka bernama Agabus. Ia berdiri dan, oleh kuasa Roh, menyatakan bahwa akan terjadi kelaparan besar di seluruh dunia. Di sini Allah berbicara melalui orang itu dengan suatu nubuat yang sangat praktis. Isinya bukan doktrin. Itu bukan sesuatu yang akan dicatat sebagai kitab dalam Alkitab atau bagian dari kitab Alkitab. Itu bukan uraian teologis. Itu hanyalah pemberitahuan yang bersifat praktis. Dan hal seperti ini cukup sering terjadi. Para nabi Perjanjian Baru menyampaikan Firman Allah secara langsung berkaitan dengan kehidupan dan pelayanan gereja sehari-hari. Dalam Kisah Para Rasul pasal 15 ayat 32 tertulis, “Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, banyak memberi penghiburan kepada Anda-Anda seiman itu dan menguatkan hati mereka.” Di sana kita melihat dua nabi Perjanjian Baru yang sedang berkhotbah. Mereka hanya berkhotbah. Tidak diragukan lagi bahwa mereka menyampaikan firman yang menghibur dan menasihati. Pada saat itu, apa yang mereka sampaikan bukanlah penyataan langsung yang baru, melainkan mereka meneruskan apa yang sudah Allah nyatakan untuk menguatkan orang-orang percaya. Mungkin ada unsur supranatural di dalamnya, tetapi kita tidak dapat memastikannya karena teks tersebut tidak mengatakannya secara jelas. Hal itu berbeda dengan Kisah Para Rasul pasal 11, yang secara khusus menyatakan bahwa Agabus berbicara oleh kuasa Roh.
Jadi, nubuat adalah istilah yang luas yang mengacu pada pemberitaan terbuka mengenai pesan dari Allah. Pesan itu bisa berupa penyataan baru. Setidaknya pada zaman Perjanjian Baru hal itu memang bisa terjadi, ketika Allah masih memberikan penyataan secara langsung dan berbicara melalui mulut seorang nabi. Atau bisa juga berupa pengulangan, yaitu menyampaikan secara terbuka apa yang sudah Allah katakan dan nyatakan sebelumnya. Bagian yang bersifat mujizat dari karunia itu — yaitu penyataan baru, baik yang praktis maupun yang bersifat doktrinal — merupakan sesuatu yang khas pada masa gereja mula-mula. Namun, bahkan pada masa itu pun, yang paling sering terjadi adalah bahwa karunia nubuat merupakan kemampuan untuk memberitakan Firman Allah yang sudah dinyatakan sebelumnya. Dan dalam Roma 12:6, itulah tepatnya yang sedang dikatakan Paulus. Jika Anda melihat kembali ayat tersebut sejenak, saya ingin menunjukkan sesuatu yang sangat penting. Dalam Roma 12:6 ia berkata, “Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.” Namun saya ingin menerjemahkan bagian itu dengan lebih tepat sesuai bahasa Yunani. Bunyinya adalah, “Jika bernubuat, lakukanlah menurut proporsi iman itu,” bukan “menurut imannya.” Kata ganti milik “nya” sebenarnya tidak ada dalam naskah aslinya.
Sekarang perhatikan kata “proporsi.” Ini adalah kata yang sangat penting. Dalam bahasa Yunani digunakan kata analogia, yang menjadi asal kata “analogi.” Ketika kita mengatakan bahwa sesuatu beranalogi dengan sesuatu yang lain, maksudnya adalah ada hubungan kesesuaian atau keselarasan antara keduanya. Jika saya berkata, “Kebenaran itu beranalogi dengan yang ini,” maksud saya adalah bahwa keduanya saling sesuai dan sejalan; apa yang satu katakan, yang lain juga mendukungnya. Karena itulah para Reformator sering menggunakan ungkapan analogia scriptura, yang berarti bahwa Kitab Suci selalu selaras dengan dirinya sendiri. Alkitab tidak saling bertentangan. Apa yang diajarkan di satu bagian akan sejalan dengan apa yang diajarkan di bagian lain.
Lalu apa yang Paulus maksudkan dalam Roma 12:6? Ia sedang mengatakan bahwa karunia nubuat harus digunakan dalam keselarasan yang tepat dengan iman. Ini adalah pernyataan yang sangat penting. Karunia itu harus digunakan dalam keselarasan dengan iman. Lalu apa yang dimaksud dengan “iman” di sini? Dalam beberapa bagian Perjanjian Baru, istilah “iman” dipakai sebagai sinonim untuk keseluruhan kebenaran Kristen yang diberikan Allah; yaitu ajaran, doktrin, atau kumpulan kebenaran yang telah Allah nyatakan kepada umat-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 6:7 dikatakan, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” Maksudnya adalah taat kepada ajaran, kepada kebenaran yang telah dinyatakan Allah. Demikian juga dalam surat Yudas, penulis mengingatkan pembacanya supaya “berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan iman.” Iman yang mana? Iman yang telah satu kali untuk selama-lamanya disampaikan kepada orang-orang kudus. Itulah keseluruhan penyataan Allah yang kita kenal sebagai Firman Tuhan. Kemudian dalam Yudas ayat 20 dikatakan, “Bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci.” Sekali lagi, yang dimaksud adalah kumpulan kebenaran ilahi yang telah Allah nyatakan kepada umat-Nya.
Jadi Paulus berkata dalam Roma 12:6 bahwa siapa pun yang bernubuat, yaitu yang diperlengkapi untuk menyampaikan firman bagi Allah, harus melakukannya dalam keselarasan dan keharmonisan yang sempurna dengan iman yang telah Allah nyatakan sebelumnya. Apakah Anda mengerti? Orang yang berbicara harus berbicara sesuai dengan iman itu. Begitulah kata tersebut digunakan. Karena itu, ketika Paulus berkata, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat,” dan kita bertanya, “Apa maksudnya?”, pertama-tama dapat kita katakan bahwa yang dimaksud adalah perkataan-perkataan yang disampaikan oleh orang-orang yang memiliki karunia, yang sepenuhnya sejalan dengan apa? Dengan Firman Allah. Firman Allah. Dalam kitab Wahyu pasal 19 ayat 10, menjelang akhir kitab itu, tertulis, “Aku pun sujud di depan kakinya untuk menyembah dia.” Itu adalah Yohanes. “Tetapi ia berkata kepadaku, ‘Jangan berbuat demikian! Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudara seimanmu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!’” Lalu dikatakan, “Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.” Nubuat memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus. Nubuat selalu selaras dengan penyataan Firman Allah. Kapan pun seseorang berdiri untuk menyampaikan pesan secara lisan, kita dapat menguji keabsahannya dengan melihat apakah pesan itu sepenuhnya sesuai dengan Kitab Suci. Nubuat tidak pernah boleh menyimpang dari Firman yang tertulis.
Dan perlu diperhatikan juga, dalam Roma 12, karunia nubuat tercantum dalam daftar karunia yang sama sekali tidak menyebutkan karunia-karunia mujizat. Tidak ada karunia mujizat yang disebutkan dalam Roma 12. Beberapa memang disebutkan dalam 1 Korintus 12, tetapi tidak dalam Roma 12. Karena itu kita dapat memahami bahwa karunia nubuat dapat bersifat non-mujizat, yaitu sekadar memberitakan kebenaran yang sepenuhnya sesuai dengan Firman Allah.
Sekarang mari kita pergi ke 1 Korintus pasal 12. Saya perlu membawa Anda satu langkah lebih jauh. Dalam 1 Korintus pasal 12 ayat 10, kita kembali menemukan karunia yang sama. Hanya saja kali ini karunia itu disebutkan dalam konteks pembahasan tentang karunia-karunia mujizat. Dalam 1 Korintus 12:10 Paulus berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan mujizat. Ia mengatakan bahwa kepada seorang diberikan karunia bernubuat, kepada yang lain karunia membedakan bermacam-macam roh, kepada yang lain berbagai jenis bahasa, dan kepada yang lain lagi karunia menafsirkan bahasa-bahasa itu. Di sana kita melihat beberapa karunia mujizat yang khas pada zaman para rasul. Karunia nubuat disebutkan kembali, tetapi kali ini berada di tengah-tengah karunia-karunia mujizat. Karena itu kita menyimpulkan bahwa pada masa para rasul ada saat-saat ketika karunia ini memang bersifat mujizat. Dalam keadaan seperti itu, seorang nabi benar-benar menerima penyataan langsung dari Allah yang sebelumnya belum pernah diberikan. Jadi ada masa ketika karunia ini memiliki unsur mujizat tersebut. Namun ketika masa penyataan yang bersifat mujizat itu berakhir bersama berakhirnya zaman para rasul, yang tetap ada adalah bentuk karunia yang non-mujizat, yaitu pemberitaan secara terbuka tentang kebenaran Allah yang sepenuhnya selaras dengan Firman yang telah tertulis.
Jadi, ada masa-masa ketika seorang nabi pada zaman para rasul menyampaikan penyataan langsung dari Allah. Namun ada juga masa-masa lain, dan justru itulah yang paling sering terjadi, ketika bahkan pada zaman itu mereka hanya menyampaikan kembali apa yang telah Allah nyatakan sebelumnya. Mereka mengulangi dan memberitakan kembali kebenaran yang sudah Allah wahyukan. Dan tentu saja, itulah cara karunia ini berfungsi pada masa kini.
Selanjutnya, saya ingin membawa Anda ke 1 Korintus pasal 14, karena Anda perlu memahami karunia ini. Mungkin Anda bertanya, “Mengapa?” Karena dalam pasal 12 ayat 1 Paulus berkata, “Aku tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang karunia-karunia Roh.” Dan saya juga tidak ingin Anda tidak memahaminya. Saya ingin Anda mengerti. Dalam 1 Korintus pasal 14 ayat 1 tertulis, “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.” Ini adalah pernyataan yang sangat penting, jadi dengarkan baik-baik. Perintah ini tidak ditujukan kepada seorang individu, melainkan kepada sebuah jemaat. Tidak ada seorang percaya secara pribadi yang dapat menginginkan suatu karunia rohani lalu otomatis mendapatkannya. Yang Paulus maksud adalah ketika jemaat berkumpul, mereka harus sungguh-sungguh menginginkan agar karunia-karunia Roh berfungsi di tengah mereka, terutama karunia bernubuat. Jadi perintah ini bersifat kolektif. Paulus tidak sedang mengatakan bahwa seorang percaya yang tidak memiliki karunia tersebut harus menginginkannya supaya mendapatkannya. Yang ia katakan adalah bahwa gereja sebagai satu kesatuan harus menginginkan agar karunia itu digunakan. Mengapa? Jawabannya ada pada ayat 3: “Siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.” Nubuat membangun. Nubuat menasihati atau mendorong. Nubuat menghibur. Semua itu dilakukan oleh pelayanan bernubuat. Itulah sebabnya pelayanan ini sangat penting bagi kehidupan gereja.
Pada ayat 6 ia berkata, “Jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa lidah, apa gunanya itu bagimu?” Agar perkataannya bermanfaat, ia harus berbicara melalui penyataan, pengetahuan, nubuat, atau pengajaran. Sekali lagi, Paulus sedang mengatakan bahwa nubuat termasuk dalam kategori yang dapat dimengerti, bermakna, membangun, menasihati, dan menghibur.
Sekarang perhatikan ayat 39 dari pasal yang sama. Di sana ia mengatakannya lagi, “Karena itu, Saudara-saudaraku, berusahalah memperoleh karunia bernubuat.” Lalu ia menambahkan bahwa ia tidak sedang melarang penggunaan bahasa-bahasa atau bahasa roh. Dalam penggunaannya yang benar pada masa gereja mula-mula, karunia itu memang memiliki tempatnya sendiri. Tetapi yang ia tekankan adalah: jika ada sesuatu yang harus Anda rindukan hadir dalam pertemuan jemaat, rindukanlah adanya nubuat. Mengapa? Karena nubuat membangun, menasihati, dan menghibur. Mengapa hal itu begitu penting? Karena Firman Allah-lah yang mampu membangun kehidupan Anda. Firman Allah-lah yang memanggil Anda kepada hidup yang kudus. Firman Allah-lah yang menjadi sumber penghiburan Anda. Dan setiap orang yang bernubuat sesungguhnya sedang menyampaikan penyataan Firman Allah.
Sebagai contoh, lihatlah ayat 37 dari 1 Korintus 14. Paulus berkata, “Jika seseorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar bahwa apa yang kutuliskan kepadamu adalah perintah Tuhan.” Dengan kata lain, jika seseorang mengaku sebagai nabi, maka ia harus sejalan sepenuhnya dengan segala sesuatu yang Paulus tuliskan, karena Paulus sedang menuliskan perintah Tuhan sendiri. Jadi siapa pun yang mengklaim dirinya sebagai nabi harus selaras dengan Kitab Suci.
Kembali ke ayat 24 dalam pasal 14, Paulus berkata, “Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua.” Maksudnya, jika seorang yang belum percaya datang ke dalam pertemuan jemaat dan mendengar Anda bernubuat, yaitu memberitakan Firman Allah, ia akan mendengarnya, memahaminya, dan diyakinkan oleh kebenaran yang disampaikan itu. Kemudian ayat 25 berkata, “Segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: "Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.” Jadi, ketika Firman Allah diberitakan dengan jelas dan dapat dimengerti, Firman itu menyingkapkan isi hati manusia, membawa keyakinan akan dosa, dan pada akhirnya menuntun orang untuk menyembah Allah serta mengakui kehadiran-Nya yang nyata di tengah umat-Nya.
Kembali ke ayat 23, Paulus berkata, “Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa lidah, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, bukankah mereka akan katakan bahwa kamu gila?” Hal itu sama sekali tidak akan memberikan dampak penginjilan. Karena itu, nubuat adalah pemberitaan kebenaran Allah yang sepenuhnya selaras dengan Kitab Suci. Nubuat bersifat penginjilan, membangun, menasihati, dan menghibur. Itulah nubuat. Nubuat adalah pemberitaan secara terbuka tentang kebenaran Allah. Sekarang, kita tidak hidup pada zaman para rasul. Efesus 2:20 mengatakan bahwa gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi. Kita hidup jauh setelah masa peletakan dasar itu. Tapi kita tetap memiliki karunia nubuat, yaitu memberitakan Firman Allah.
Nah, kita juga perlu memahami bahwa nubuat bukan hanya sesuatu yang diucapkan, tetapi juga sesuatu yang dituliskan. Ada beberapa kali dalam Perjanjian Baru ketika kata prophēteias digunakan untuk menunjuk kepada penyataan yang tertulis. Mari kembali ke Matius 13. Kita perlu melakukan penelaahan Alkitab ini karena ayat yang sedang kita pelajari dapat membingungkan banyak orang, dan terus terang menurut saya banyak penafsir Alkitab juga menjadi bingung karenanya. Dalam Matius 13:14 kita menemukan kata yang sama, prophēteias, dan di sana kata itu merujuk kepada Yesaya. Ayat itu berkata, “Terhadap mereka genaplah nubuat Yesaya.” Kemudian Yesus mengutip langsung dari kitab Yesaya pasal 6. Jadi di sini kata “nubuat” tidak menunjuk kepada sesuatu yang sedang diucapkan, melainkan kepada sesuatu yang telah dituliskan. Kata itu tidak merujuk pada komunikasi verbal, melainkan komunikasi tertulis. Bahkan secara khusus merujuk kepada nabi Perjanjian Lama, yaitu Yesaya.
Sekarang mari kita ke Roma pasal 16, pasal terakhir dari surat Roma. Di sana ada pernyataan yang sangat menarik dalam ayat 26. Paulus berkata bahwa Injil dan rahasia yang selama berabad-abad tersembunyi kini telah dinyatakan. Itu merujuk kepada Injil dan penyataan rahasia Allah yang disebutkan dalam ayat 25, yaitu realitas perjanjian baru. Lalu bagaimana hal itu dinyatakan? Paulus menjawab, “melalui Kitab-Kitab para nabi.” Dengan kata lain, orang-orang yang menulis Kitab Suci memiliki pelayanan kenabian. Mereka berbicara di hadapan orang banyak. Mereka menulis bagi orang banyak. Mereka menyampaikan Firman Allah kepada orang banyak, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Jadi kita mengetahui bahwa kata “nubuat” dapat merujuk kepada pemberitaan secara lisan maupun kepada Firman yang tertulis.
Sekarang mari kita ke 2 Petrus pasal 1. Dalam ayat 19 Petrus berkata, “Kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan.” Lalu dalam ayat 20 ia menjelaskannya dengan menyebutnya sebagai “nubuat dalam Kitab Suci.” Di sini istilah yang sama kembali digunakan, dan jelas menunjuk kepada Kitab Suci yang diilhamkan Allah. Ungkapan “nubuat dalam Kitab Suci” dalam ayat 20 merupakan istilah yang umum digunakan pada waktu itu untuk menunjuk kepada Perjanjian Lama sebagai satu kesatuan. Itu adalah firman yang telah dinubuatkan. Dengan demikian, Perjanjian Lama merupakan kumpulan penyataan Allah yang disampaikan melalui para nabi. Perkataan Petrus juga mencakup Perjanjian Baru, karena ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak ada nubuat, baik yang lama maupun yang baru, yang dihasilkan oleh kehendak manusia. Sebaliknya, orang-orang yang digerakkan oleh Roh Kudus berbicara dari Allah. Di sini Petrus sedang berbicara tentang nubuat sebagai Kitab Suci yang tertulis. Ia sedang berbicara tentang Firman Allah yang dituliskan di bawah ilham Roh Kudus.
Perhatikan sejenak Wahyu pasal 1 ayat 3. Anda bisa sekadar mendengarkannya jika mau. Berbicara tentang kitab Wahyu, Yohanes menulis, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini.” Di sini Yohanes menyebut kitab Wahyu sebagai “nubuat” — suatu nubuat. Dalam pasal terakhir kitab Wahyu, Yohanes tiga kali menyebut kitab Wahyu sebagai “nubuat,” yaitu pada ayat 10, ayat 18, dan ayat 19. Sekarang, setelah melihat semua ini, izinkan saya menyimpulkannya. Kadang-kadang kata prophēteias mengacu pada Firman yang disampaikan secara lisan, yaitu penyataan Allah yang datang melalui mulut seorang nabi. Namun firman yang disampaikan itu selalu harus sepenuhnya sesuai dengan Firman yang tertulis. Di lain waktu, kata “nubuat” mengacu langsung kepada Firman yang tertulis. Dalam kedua kasus tersebut, nubuat selalu berkaitan erat dengan Kitab Suci. Dengan kata lain, nubuat itu adalah Kitab Suci itu sendiri, atau sesuatu yang sepenuhnya sejalan dengan Kitab Suci. Karena itu maksud Paulus menjadi sangat jelas. Ketika ia berkata, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat,” ia sedang berkata, “Jangan memandang rendah penyataan Allah yang telah dituliskan. Baik ketika kamu membacanya maupun ketika kamu mendengarnya diberitakan, jangan menganggapnya sepele. Jangan meremehkan nilainya. Jangan mengurangi pentingnya. Jangan merendahkan atau menurunkan kedudukannya.”
Ayub berkata bahwa ia menghargai Firman Allah lebih daripada makanannya sehari-hari, sebagaimana tertulis dalam Ayub 23:12. Yeremia menikmati Firman Tuhan setiap hari dengan sukacita. Dan Anda tentu ingat nasihat yang indah dalam Yosua 1:8. Di sana dikatakan, “Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya.” Dalam kitab Ulangan, Tuhan juga memberikan petunjuk yang sangat jelas kepada umat-Nya tentang bagaimana mereka harus memperlakukan Firman Allah dengan pengabdian yang tertinggi. Ia berkata kepada mereka dalam Ulangan 6:6, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah kau taruh dalam hatimu.” Kemudian Ia melanjutkan, “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya, ketika engkau duduk di rumahmu atau sedang dalam perjalanan, ketika engkau berbaring atau bangun. Engkau harus juga mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan menjadikannya lambang di dahimu. Haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbang kotamu.” Apa yang Tuhan sedang katakan? Penuhilah hidup Anda dengan Firman Allah. Biarkan seluruh hidup Anda dipenuhi oleh Firman Allah.
Mazmur 1 berkata, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut ajakan orang fasik, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan.” Orang yang hidupnya sepenuhnya mengabdi kepada Firman Tuhan, mazmur itu berkata, “Kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan ia merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Itulah orang yang saleh. Kita tidak memandang rendah Kitab Suci. Sebaliknya, kita meninggikannya dan memuliakannya. “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,” demikian Mazmur 119 ayat 1 dan 2. “Betapa aku mencintai Taurat-Mu,” kata Daud. Karena itu, perintah ini membawa kita kepada penghargaan yang sangat serius terhadap Kitab Suci. “Jangan merendahkan Firman Allah.” Itulah maksud Paulus. Perlakukanlah Firman Tuhan dengan penghormatan yang setinggi-tingginya.
Tapi hal ini hanya mungkin dilakukan oleh orang percaya. Dalam 1 Korintus 2:10 dikatakan bahwa Allah telah menyatakan semuanya kepada kita melalui Roh-Nya. Kemudian pada ayat 14, 1 Korintus 2:14, dikatakan, “Manusia duniawi” — yaitu orang yang belum bertobat, orang yang belum percaya kepada Kristus — “tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Orang yang belum dilahirkan kembali tidak dapat meninggikan Kitab Suci dan menghargainya sebagaimana mestinya. Martin Luther pernah berkata bahwa “orang yang belum bertobat itu seperti tiang garam; seperti istri Lot; seperti sebatang kayu atau sebuah batu; seperti patung mati yang tidak memakai mata maupun mulutnya, tidak memiliki kepekaan ataupun hati, sampai ia bertobat dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus.”
Hal paling jauh yang dapat dilakukan oleh orang yang belum diselamatkan adalah menggigit kulit luar Kitab Suci tanpa pernah benar-benar mencapai intinya. Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, memberikan ilustrasi yang menurut saya sangat tepat tentang pendekatan yang salah terhadap Alkitab. Ia sedang mengamati banyak orang di dunia akademis yang menganggap diri mereka ahli Alkitab, lalu ia berkata seperti ini: “Seorang anak laki-laki akan dihukum oleh ayahnya. Ketika sang ayah pergi mengambil tongkat, anak itu memasukkan beberapa serbet meja ke dalam bagian belakang celananya. Saat ayahnya kembali dan mulai menghukumnya, anak itu tidak merasakan sakit karena serbet-serbet tersebut menyerap pukulan tongkat itu. Anak laki-laki itu melambangkan para sarjana Alkitab. Mereka melapisi diri mereka dengan leksikon, tafsiran, dan konkordansi. Akibatnya, Kitab Suci tidak pernah benar-benar menjangkau mereka sebagai Firman Allah. Mereka telah meniadakan kuasanya dengan melindungi diri mereka di balik perlengkapan akademis mereka, sehingga mereka tidak pernah mendengar Kitab Suci sebagai Firman Allah. Jika mereka mau mengeluarkan buku-buku itu dari celana mereka” — yang tentu saja tetap diperlukan dan berguna jika digunakan dengan benar — “maka Kitab Suci dapat menjangkau mereka sebagai Firman Allah.”
Membiarkan Kitab Suci yang kudus menjangkau hati kita sebagai Firman Allah adalah pekerjaan khusus Roh Kudus. Hanya mereka yang memiliki Roh Kudus yang dapat menaati perintah untuk tidak meremehkan Firman Allah. Ada orang-orang di seminari, perguruan tinggi, dan gereja-gereja di seluruh Amerika dan di seluruh dunia yang mengaku sebagai pelajar Kitab Suci, tetapi “lapisan pelindung” mereka begitu tebal sehingga Firman Allah tidak dapat menjangkau mereka. Pikiran mereka tidak memiliki pengenalan akan kebenaran karena hati mereka tidak didiami oleh Roh Kudus. Tetapi kita yang mengenal Roh, yang mengenal Allah yang hidup, dapat memahami kebenaran dan melihatnya dengan benar. Orang-orang yang menyangkal kebenaran, keaslian, otoritas, inspirasi, dan ketidakbersalahan Kitab Suci hanya menunjukkan bahwa mereka sedang melanggar perintah, “Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat” — jangan meremehkan, merendahkan, atau menganggap Firman Tuhan sebagai sesuatu yang sepele.
Sesungguhnya, Saudara-saudara yang terkasih, jika Anda meremehkan Kitab Suci, tidak mungkin Anda dapat menjalani kehidupan Kristen sebagaimana mestinya. Sebab satu-satunya peta, kompas, dan pedoman yang Anda miliki adalah Kitab Suci. Yang tersisa hanyalah usaha manusiawi — melakukan berbagai perbuatan baik untuk mencoba memperoleh jalan masuk dengan kekuatan sendiri. Jika Roh Allah tidak tinggal di dalam Anda, dan jika Anda tidak meninggikan Firman Allah, bukan hanya dalam pikiran tetapi juga dalam ketaatan, maka Anda akan meremehkan nubuat dan melanggar perintah yang sangat jelas ini.
Nah, saat kita mendekati akhir pembahasan ini — dan memang diperlukan waktu yang cukup lama untuk menjelaskannya agar Anda benar-benar memahaminya — saya ingin mengajukan dua pertanyaan. Mengapa saya tidak boleh meremehkan Kitab Suci? Mengapa saya tidak boleh melakukannya? Saya akan menjawabnya secara singkat. Pertama, karena sifat dasarnya yang sangat penting. Karena karakter hakikinya. Di awal tadi kita sudah berbicara tentang keunikan Alkitab, tetapi sekarang izinkan saya menjelaskan karakternya berdasarkan apa yang Alkitab katakan tentang dirinya sendiri. Pertama-tama, Kitab Suci memiliki otoritas. Kitab Suci itu otoritatif. Yesaya 1:2 berkata, “Dengarlah, hai langit, dan pasanglah telinga, hai bumi, sebab TUHAN berfirman.” Ketika Allah berbicara, Anda sebaiknya mendengarkan, karena Firman-Nya memiliki otoritas.
Kedua, Kitab Suci tidak mungkin salah — tidak mungkin salah. Secara keseluruhan, secara lengkap, dan secara menyeluruh, Kitab Suci tidak pernah gagal dan tidak pernah membuat kesalahan. Mazmur 19:7 berkata, “Taurat TUHAN itu sempurna.” Taurat TUHAN itu sempurna. Kitab Suci itu utuh, menyeluruh, dan sempurna. Kemudian saya juga suka menggunakan istilah “tanpa kesalahan.” Jika secara keseluruhan Kitab Suci tidak mungkin salah, maka dalam setiap bagiannya Kitab Suci juga tanpa kesalahan. Amsal 30:5-6 berkata, “Semua firman Allah itu murni.” Setiap firman, satu per satu. Sampai pada titik dan huruf yang terkecil sekalipun, yang menurut Yesus “tidak akan ditiadakan.” Firman Allah memiliki otoritas. Ketika Allah berbicara, Anda harus mendengarkan. Firman Allah tidak mungkin salah; seluruh Kitab Suci sempurna tanpa cacat. Firman Allah juga tanpa kesalahan; tidak ada satu pun kesalahan di dalamnya. Dalam naskah aslinya, setiap firman Allah adalah murni.
Keempat, Kitab Suci itu cukup. Kitab Suci itu memadai. Mazmur 19 mengatakan bahwa Firman Allah sanggup memulihkan jiwa, membuat orang sederhana menjadi bijaksana, membawa sukacita ke dalam hati, dan menerangi mata. Kitab Suci itu cukup. Firman Allah sanggup menjadikan seorang hamba Tuhan sempurna dan diperlengkapi untuk setiap pekerjaan yang baik. Firman Allah sanggup memberi hikmat yang menuntun kepada keselamatan, sebagaimana dikatakan dalam 2 Timotius 3:15-17. Firman Allah cukup untuk segala sesuatu.
Kelima, Kitab Suci itu efektif. Kitab Suci itu bekerja dengan kuasa. Anda ingat Yesaya 55 yang berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki.” Firman Allah efektif. Ketika Allah mengucapkan sesuatu, apa yang Dia firmankan pasti terjadi. Kemudian, Kitab Suci juga bersifat menentukan. Apa maksudnya? Respons Anda terhadap Firman Allah menentukan tujuan kekal Anda. “Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah. Kamu tidak mendengarkannya karena kamu bukan berasal dari Allah.” Ketika seseorang menyangkal otoritas, ketidakmungkinan salah, ketanpakesalahan, kecukupan, dan efektivitas Kitab Suci, yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menunjukkan kondisi rohaninya sendiri. Sebab jika Anda tidak mendengarkan firman Allah, Anda bukan milik Allah. Itulah yang dikatakan Yesus. Sebaliknya, jika Anda mendengarkan firman-Nya, Anda adalah milik Allah. Karena itu, Firman Allah menjadi penentu dalam menunjukkan ke mana tujuan kekal seseorang.
Jadi mengapa kita tidak boleh meremehkan Kitab Suci? Pertama, karena sifat dasarnya yang sangat penting. Kedua, karena manfaatnya yang begitu besar. Kitab Suci adalah sumber kebenaran. Dalam Yohanes 17:17, Yesus berkata, “Firman-Mu itulah kebenaran.” Betapa agung dan berharganya kenyataan itu. Firman-Mu adalah kebenaran. Kedua, Kitab Suci adalah sumber kebahagiaan. Amsal 8:34 berkata, “Berbahagialah orang yang mendengarkan aku.” Yohanes berkata dalam 1 Yohanes 1:4, “Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Lukas juga berkata bahwa berbahagialah orang yang menaati Firman, sebagaimana terlihat dalam Lukas 6:47-48 dan Lukas 11:27-28. Tema itu muncul berulang kali di seluruh Kitab Suci. Wahyu 1:3 berkata, “Berbahagialah orang yang membacakan kitab ini.” Jadi Firman Allah adalah sumber sukacita, kebahagiaan, dan berkat.
Ketiga, Kitab Suci adalah sumber kemenangan. Pemazmur berkata, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Efesus 6:17 berkata, “Ambillah pedang Roh,” yang merupakan senjata kita. Ketika Yesus dicobai, seperti dicatat dalam Matius 4:1-11, setiap kali pencobaan datang, bagaimana Dia menjawabnya? Dengan Kitab Suci. Tiga kali Dia berkata, “Ada tertulis.” Ya, Firman Allah adalah sumber kemenangan kita atas pencobaan. Firman Allah adalah sumber kebahagiaan kita. Firman Allah adalah sumber kebenaran.
Keempat, Kitab Suci adalah sumber pertumbuhan. Anda tentu ingat bagaimana kita sering mengutip 1 Petrus 2:2, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh.” Firman adalah sumber pertumbuhan kita. Spurgeon pernah menyampaikan sebuah pernyataan yang sangat baik. Ia berkata, “Firmanlah yang memangkas orang Kristen. Kebenaranlah yang menyucikannya, yaitu Kitab Suci yang dihidupkan dan diberi kuasa oleh Roh Kudus.” Itu benar. Firman membersihkan dan menyucikan, dan itulah kunci pertumbuhan rohani. Karena itulah dalam Yohanes 15, Yesus mengatakan bahwa Firman itu seperti pisau pemangkas. Firman memotong cabang-cabang yang tidak berguna sehingga tenaga pertumbuhan dapat mengalir ke bagian-bagian yang menghasilkan buah. Firman Allah adalah satu-satunya sumber kebenaran, satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya sumber kemenangan, dan satu-satunya sumber pertumbuhan.
Kelima, Kitab Suci adalah satu-satunya sumber tuntunan. Mazmur 19:8 mengatakan bahwa Firman Tuhan itu benar, dan maksudnya adalah Firman itu menunjukkan jalan yang benar. Firman itu membentangkan jalan yang benar untuk dilalui. Kemudian Mazmur 119:105 berkata, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Firman itu adalah jalan yang harus ditempuh, dan juga pelita yang menerangi jalan tersebut. Firman itu menunjukkan bagaimana kita harus hidup. Firman itu membuat kita menjadi bijaksana. Firman itu menyatakan kehendak Allah.
Keenam, Firman Allah adalah sumber pengharapan. Berulang kali dalam Mazmur 119, pemazmur berkata, “Aku berharap kepada firman-Mu, aku berharap kepada firman-Mu, aku berharap kepada ketetapan-ketetapan-Mu,” yang semuanya menunjuk kepada Kitab Suci. Jadi Firman Allah adalah sumber kebenaran, kebahagiaan, kemenangan, pertumbuhan, tuntunan, dan pengharapan. Bahkan mungkin masih banyak lagi yang bisa ditambahkan ke dalam daftar itu. Tetapi Anda sudah menangkap maksudnya. Tidak heran jika Firman Tuhan lebih layak diinginkan daripada madu, bahkan madu tetesan dari sarang lebah, dan lebih berharga daripada emas, bahkan emas yang paling murni sekalipun. Jadi mengapa kita mengejarnya? Karena sifat dasarnya yang mulia dan karena manfaatnya yang luar biasa besar.
Lalu ada satu pertanyaan terakhir: bagaimana kita harus memperlakukannya? Bagaimana saya dapat memastikan bahwa saya tidak meremehkan Kitab Suci? Jawabannya sangat sederhana. Bagaimana Anda dapat memastikan bahwa Anda tidak meremehkan Kitab Suci? Dengarkan baik-baik. Pertama, percayailah Firman itu. Percayailah Firman itu. Di situlah semuanya dimulai. Berulang kali Yesus berseru kepada orang-orang, “Percayalah kepada-Ku. Percayalah kepada apa yang Kukatakan.” Dalam Yohanes 5:24 Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum.” Percayalah kepada Firman itu. Cara lain untuk mengatakannya adalah: terimalah Firman itu. Paulus berkata kepada jemaat Tesalonika, “Aku sangat bersyukur karena ketika aku memberitakan Firman Allah kepadamu, kamu menerimanya sebagaimana adanya, yaitu sebagai Firman Allah.”
Kedua, hormatilah Firman itu. Hormatilah Firman itu. Apa maksudnya? Tinggikanlah Firman itu. Berikan tempat yang mulia bagi Firman itu. Bagaimana caranya? Dengan ketaatan. Jangan menjadi pedagang Firman, seperti yang diperingatkan dalam 2 Korintus 2:17. Jangan menggunakan Firman Allah untuk memanipulasi orang demi tujuan dan kepentingan pribadi Anda. Paulus berkata dalam 2 Korintus 4:2 bahwa ada orang-orang yang memalsukan atau mencampuradukkan Firman Allah. Tetapi Anda harus menghormatinya, meninggikannya, dan menghargainya sebagai harta yang sangat berharga.
Ketiga, kasihilah Firman itu. Daud berkata dalam Mazmur 119:97, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, “Betapa kucintai Taurat-Mu.” Kemudian ketika Anda sampai pada bagian akhir Mazmur 119, Anda akan menemukan begitu banyak pernyataan yang mengulang pemikiran yang sama. “Firman-Mu sangat teruji,” kata Mazmur 119:140, “dan hamba-Mu mencintainya.” Kasih yang mendalam, kerinduan yang mendalam — itulah yang dimaksud Petrus ketika ia berkata, “Seperti bayi yang sangat menginginkan susu,” demikianlah Anda harus merindukan Firman Tuhan.
Kemudian yang keempat, taatilah Firman itu. Taatilah Firman itu. Sesungguhnya, penghinaan terbesar terhadap Kitab Suci adalah ketika seseorang mengatakan bahwa ia percaya kepada Firman Tuhan, tetapi tidak menaatinya. Yesus berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku.” Firman Tuhan juga berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” Dan bagaimana Kristus hidup? Dalam ketaatan yang sempurna kepada Firman Allah. Anda tentu ingat kisah yang diceritakan Yesus tentang dua rumah dalam Matius 7. Satu rumah roboh ketika banjir datang, sementara yang lain tetap berdiri. Perbedaannya adalah bahwa yang satu tidak melakukan kehendak Bapa, sedangkan yang lain melakukan kehendak Bapa.
Kelima, perjuangkanlah Firman itu. Yudas ayat 3 berkata, “Tetap berjuang untuk mempertahankan iman.” Libatkan diri Anda dalam perjuangan membela Alkitab.
Keenam, pelajarilah Firman itu. Paulus berkata, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Jadilah seperti orang-orang Berea yang mulia, yang “setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah semuanya itu benar demikian.” Jadilah seperti Apolos, yang dikatakan sebagai seorang yang “sangat menguasai Kitab Suci.” “Biarlah firman Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu,” demikian Kolose 3:16.
Dan yang terakhir, beritakanlah Firman itu. Beritakanlah Firman itu. Jika dengan setia dan taat Anda mempercayai Firman, menghormati Firman, mengasihi Firman, menaati Firman, memperjuangkan Firman, mempelajari Firman, dan memberitakan Firman, maka Anda tidak akan memandang rendah Firman itu. Anda tidak akan meremehkannya. Firman itu akan menjadi bagian yang begitu menyatu dengan seluruh kehidupan Anda.
Sebagai penutup, saya membaca suatu catatan singkat tentang bagaimana Martin Luther mempelajari Alkitab. Ia berkata, “Saya mempelajari Alkitab seperti saya memetik apel. Pertama-tama saya mengguncang seluruh pohonnya supaya buah yang paling matang jatuh. Kemudian saya mengguncang setiap dahannya. Setelah setiap dahan diguncang, saya mengguncang setiap rantingnya. Lalu saya mengguncang setiap tangkai kecilnya. Setelah itu saya melihat ke bawah setiap lembar daun. Saya menyelidiki Alkitab secara keseluruhan, seperti mengguncang seluruh pohon. Kemudian saya mengguncang setiap dahan, mempelajari kitab demi kitab. Lalu saya mengguncang setiap ranting, memberi perhatian pada setiap pasal. Kemudian saya mengguncang setiap tangkai kecil, yaitu dengan mempelajari secara teliti setiap paragraf, kalimat, kata, dan maknanya.”
Firman Tuhan adalah kitab yang begitu unik. “Ketika aku lelah, Alkitab adalah tempat peristirahatanku. Ketika berada dalam kegelapan, Alkitab adalah terangku. Ketika aku lapar, Alkitab adalah roti hidup bagiku. Ketika aku takut, Alkitab adalah perlengkapanku untuk bertempur. Ketika aku sakit, Alkitab adalah obat penyembuhanku. Ketika aku kesepian, aku menemukan begitu banyak sahabat di dalamnya. Jika aku bekerja, Alkitab adalah alat kerjaku. Jika aku bermain, Alkitab adalah kecapi yang menghasilkan alunan yang indah. Jika aku tidak berpengetahuan, Alkitab adalah sekolahku. Jika aku tenggelam, Alkitab adalah tanah yang kokoh di bawah kakiku. Jika aku kedinginan, Alkitab adalah apiku. Dan jika aku berani bercita-cita tinggi, Alkitab memberiku sayap untuk terbang. Apakah kesuraman menekan diriku? Alkitab adalah matahariku. Di tengah segala keburukan, Alkitab adalah taman yang indah. Apakah aku haus? Betapa sejuk airnya mengalir. Apakah aku sesak dan tertekan? Betapa menyegarkannya udara yang diberikannya. Karena Engkau telah memberikan diri-Mu kepadaku melalui kitab ini, bagaimana mungkin aku tidak memberikan diriku kepada kitab yang agung ini?” Mari kita berdoa.
Bapa, kami tahu bahwa jika kami ingin menjadi domba-domba yang setia, dan jika jemaat-Mu ingin bertumbuh menjadi kawanan yang sehat, kami tidak boleh memandang rendah Firman-Mu, yaitu penyataan-Mu. Perkataan penyair itu begitu tepat: “Karena Engkau telah memberikan diri-Mu kepadaku melalui kitab ini, bagaimana mungkin aku tidak memberikan diriku kepada kitab yang agung ini?” Jawabannya adalah bahwa kami tidak boleh meremehkannya, tidak boleh menganggapnya sepele, tetapi harus menghargainya setinggi-tingginya; mempercayainya, menghormatinya, mengasihinya, mempelajarinya, memperjuangkannya, dan memberitakannya. Tuhan, jadikanlah kami umat yang hidup berdasarkan Firman-Mu, umat yang dengan demikian memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
