Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Teks kita pagi ini hanya satu ayat, yaitu pasal 5 ayat 17. Dalam Surat 1 Tesalonika 5:17 tertulis, “Tetaplah berdoa.” Rasul Paulus, melalui perintah yang sederhana dan jelas ini, memanggil orang percaya untuk menjadikan doa sebagai gaya hidup. Saya dulu sering mengatakan bahwa berdoa itu seperti bernapas, sesuatu yang normal, alami, dan menjadi bagian dari hidup kita. Kita menarik napas dan menghembuskannya, hidup dalam suasana hadirat dan kuasa Allah. Dan itu memang benar, tetapi juga benar bahwa kita yang bergantung kepada Allah, dan yang – jika benar-benar Kristen - bersekutu dengan-Nya, sering kali tidak berdoa tanpa henti seperti yang seharusnya. Saya rasa kita bersalah karena secara rohani, kita sering menahan napas. Walaupun kita mungkin berpikir bahwa tekanan dari lingkungan hadirat Allah seharusnya mendorong kita untuk berdoa, sama seperti tekanan udara membuat kita bernapas, tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Sebagai orang percaya, kita justru membatasi “tarikan napas” kita, yaitu menikmati hadirat Allah, karena dosa kita sendiri. Karena itu, muncul perintah dari rasul Paulus untuk terus berdoa, untuk berdoa setiap waktu. Doa yang terus-menerus, tekun, dan tidak berhenti adalah bagian penting dari kehidupan orang percaya, dan itu mengalir dari ketergantungan kita kepada Allah.

Saya ingin kita memahami prinsip berdoa tanpa henti ini, dan meskipun hanya dengan membacanya saja kita sudah mendapat pengertian yang cukup jelas, tapi sebenarnya masih ada banyak hal yang memperkaya makna dari pernyataan yang terdapat dalam Kitab Suci ini, dan saya ingin mencoba membagikan sebagian dari kekayaan yang Firman Tuhan katakan. Titik awal yang baik adalah melihat dua perumpamaan yang Tuhan kita berikan. Bahkan, di antara banyak perumpamaan yang Dia sampaikan, dua perumpamaan ini sangat menonjol karena keunikannya. Keduanya unik karena satu alasan yang sederhana tapi menarik. Semua perumpamaan lainnya menggambarkan Allah melalui perbandingan. Dengan kata lain, semuanya menunjukkan sesuatu yang mirip dengan Allah, atau mirip dengan Kerajaan-Nya, atau menggambarkan bagaimana Allah bekerja. Tetapi dua perumpamaan ini justru menggambarkan Allah melalui kontras. Keduanya tidak seperti Allah. Inilah satu-satunya dua perumpamaan yang pernah diajarkan oleh Yesus Kristus yang menggambarkan Allah dengan cara yang berlawanan. Dua perumpamaan ini menunjukkan contoh seseorang yang sama sekali tidak seperti Allah, dan melalui hal itu memberikan penekanan yang sangat kuat tentang pentingnya berdoa dengan tekun tanpa henti.

Mari kita melihat dua perumpamaan ini. Yang pertama kita temukan dalam Injil Lukas pasal 11. Perumpamaan ini dikenal sebagai perumpamaan tentang sahabat yang enggan. Tuhan kita menyampaikannya dalam konteks doa. Bahkan, para murid datang kepada-Nya dan berkata, seperti tertulis dalam Lukas 11:1, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Lalu Yesus Kristus menjawab mereka dengan kata-kata yang sangat kita kenal, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnyadan ampunilah kami akan dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,” yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami atau doa yang diajarkan kepada murid-murid.

Jadi dalam ayat 2 sampai 4, Yesus Kristus mengajarkan kepada mereka apa yang harus dikatakan. Dia mengajarkan, pada dasarnya, isi dari doa kita. Ketika kita berdoa, kita harus menghormati Allah dan menguduskan nama-Nya. Kita juga perlu berdoa untuk hal-hal yang berkaitan dengan Kerajaan-Nya. Kita diminta untuk memohon pemeliharaan setiap hari yang hanya dapat Dia berikan. Kita juga perlu mengakui dosa-dosa kita dan memohon pengampunan-Nya. Selain itu, kita harus meminta hikmat dari-Nya agar tidak jatuh ke dalam pencobaan. Itulah bagian-bagian utama dalam doa, itulah cara berdoa, dan apa yang seharusnya kita katakan saat kita berdoa.

Tapi lebih dari itu, Dia berkata kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: ‘Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya’; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu.’” Kita perlu ingat bahwa pada zaman itu, ketika cuaca dingin, seluruh keluarga biasanya tidur bersama dalam satu tempat tidur supaya tetap hangat, dan mereka semua sudah terlelap dengan nyaman. Dan saat itu, tengah malam, jelas bukan waktu yang tepat untuk bangun dari tempat tidur hanya untuk mengambil roti bagi seorang teman.

Ayat 8, “Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” Dengan kata lain, apa yang tidak ia lakukan karena persahabatan, akhirnya ia lakukan demi bisa kembali tidur, karena orang itu tidak akan pergi sebelum mendapatkan rotinya. Jadi Yesus Kristus sedang menggambarkan seorang yang persahabatannya saja tidak cukup untuk mendorongnya berkorban, sehingga orang yang meminta itu terus mendesaknya sampai akhirnya ia tidak punya pilihan lain. Tuhan ingin menunjukkan bahwa hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya ketekunan. Namun sebenarnya, poin utama yang ingin Dia tekankan adalah bahwa ketika kita menyadari betapa Allah sama sekali tidak seperti sahabat yang enggan itu, maka perumpamaan ini menjadi jauh lebih kuat maknanya.

Jika seorang sahabat yang enggan saja mau melakukan sesuatu karena kita terus meminta dengan tekun, bayangkan apa yang akan Allah lakukan, Dia yang tidak pernah enggan, ketika kita berdoa dengan tekun. Di situlah letak kontrasnya. Lalu Yesus melanjutkan dengan contoh seorang bapa yang diminta oleh anaknya, dalam ayat 11, meminta ikan; tentu ia tidak akan memberikan ular sebagai gantinya, bukan? Atau jika anaknya meminta telur, ia tidak akan memberikan kalajengking, bukan? Artinya, seorang bapa di dunia ini tidak akan memberikan sesuatu yang justru mencelakakan anaknya. Seorang bapa akan mendengar tangisan anaknya. Kemudian dalam ayat 13 dikatakan, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga” yang tentu tidak jahat “akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Allah itu sangat berbeda, tetapi Allah meresponi ketekunan. Jika seorang sahabat yang tidak setia, sahabat yang enggan, sahabat yang tidak peduli, yang tidak punya belas kasihan dan tidak menunjukkan kemurahan saja bisa akhirnya menjawab karena permintaan yang terus-menerus, menurut Anda apa yang akan dilakukan oleh Allah yang penuh kasih, penuh anugerah, penuh belas kasihan, dan lembut hati, ketika kita datang dengan ketekunan? Berdoa tanpa henti untuk menggerakkan tangan Allah. Jadi pertama-tama Dia mengajarkan apa yang harus dikatakan, lalu Yesus Kristus berkata, sekarang Aku ingin mengingatkan kamu untuk terus mengatakannya, untuk mengatakannya dengan tekun, karena Allah yang baik pasti mendengar dan merespons.

Dalam Injil Lukas pasal 18, ada satu perumpamaan lagi yang memakai gaya kontras yang sama. Pada ayat 1, Yesus kembali mengajar tentang doa, dan Dia menyampaikan perumpamaan untuk menunjukkan bahwa mereka harus selalu berdoa dan tidak menjadi putus asa. Jika kita tidak langsung mendapat jawaban, jika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita inginkan, jika keadaan tidak berubah secepat yang kita harapkan, jangan kehilangan semangat; kita perlu terus berdoa. Kita perlu berdoa setiap waktu, tanpa henti, terus-menerus. Lalu untuk menggambarkan hal ini, Dia berkata, “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.” Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana ia bisa menjadi hakim, tetapi begitulah ceritanya. “Di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.” Tampaknya ada seseorang yang berusaha mengambil apa yang menjadi miliknya yang sangat terbatas, dan ia memohon keadilan di pengadilan hakim itu. Ayat 4 mengatakan bahwa untuk beberapa waktu hakim itu tidak mau menolongnya. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya, “Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Seolah-olah ia berkata, “Perempuan ini benar-benar merepotkan. Apa yang tidak kulakukan karena takut akan Allah atau karena peduli pada sesama, akhirnya kulakukan demi ketenangan pikiranku sendiri.” Ia ingin mengatakan, “Aku tidak tahan lagi dengan desakan yang terus-menerus ini.”

Lalu dalam ayat 6, Tuhan berkata, “Perhatikanlah apa yang dikatakan hakim yang tidak adil itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Apakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?  Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka.” Kita melihat di sini bahwa Allah sangat berbeda dengan hakim yang tidak adil itu, dan Allah juga sangat berbeda dengan sahabat yang enggan itu. Tetapi jika sahabat yang enggan dan hakim yang tidak adil saja mau melakukan apa yang diminta karena permohonan yang terus-menerus, maka tentu Allah yang penuh belas kasihan, penuh kasih, penuh anugerah, baik, dan lembut hati akan melakukan jauh lebih daripada itu. Itulah maksud yang ingin disampaikan oleh Yesus Kristus.

Jadi, pada intinya Yesus sedang berkata, “Berdoalah, berdoalah seperti ini. Berdoalah dengan tekun, berdoalah dengan setia, berdoalah setiap waktu, jangan menyerah, jangan menjadi putus asa, teruslah mengetuk, teruslah meminta, teruslah mencari, dan Allahmu, Yahweh, yang baik, penuh belas kasihan, setia, penuh kasih, penuh anugerah, dan murah hati, pasti akan mendengar dan menjawab.”

Nah, ada yang menganggap bahwa perumpamaan-perumpamaan seperti ini bertentangan dengan ajaran lain dari Yesus. Sebagai contoh, dalam Injil Matius pasal 6, Dia mengatakan sesuatu yang sekilas tampak seperti bertentangan dan perlu dipahami dengan benar. Dalam Matius 6 ayat 7, Yesus berkata, “Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.”

Mungkin Anda bertanya, “Bukankah ini bertentangan? Bukankah Dia sedang mengatakan jangan mengulang-ulang dalam doa?” Tidak, yang Dia maksud adalah jangan mengulang secara kosong tanpa makna, itu kuncinya. Apa yang dimaksud dengan pengulangan yang tidak bermakna? Yaitu seperti doa orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka mengira akan didengar karena banyaknya kata-kata. Artinya, bukan karena ilah itu peduli pada hati mereka, bukan karena ilah itu memahami belas kasihan, kerinduan, pergumulan, dan keinginan hati mereka, tetapi karena ada semacam rumus, ritual keagamaan, upacara, mantra, nyanyian berulang, atau urutan tertentu seperti menghitung butiran, lalu pola yang diulang-ulang yang dianggap bisa memaksa ilah itu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Yesus hanya sedang mengatakan kepada mereka, “Jangan berdoa seperti itu.” Dia tidak melarang pengulangan yang penuh makna. Dia tidak melarang permohonan yang lahir dari hati. Yang Dia larang adalah ritual kosong, kata-kata tanpa hati yang hanya keluar dari mulut, seolah-olah Allah akan merespons karena banyaknya kata, bukan karena isi hati.

Jadi ketika Paulus berkata, “Berdoalah tanpa henti,” ia tidak sedang bertentangan dengan Yesus Kristus. Ia justru menegaskan prinsip yang diajarkan dalam Injil Lukas pasal 11 dan 18, bahwa doa itu harus terus-menerus. Kita tidak didengar karena banyaknya kata-kata, tetapi karena seruan hati kita. Orang yang datang ke rumah sahabatnya untuk meminta roti tidak mengucapkan doa yang berupa rumus atau ritual, ia memohon karena ada kebutuhan nyata. Demikian juga janda yang datang kepada hakim itu, ia tidak mengucapkan mantra atau rangkaian kata doa sifatnya ritual, melainkan menyampaikan jeritan hatinya untuk mendapatkan perlindungan dari seseorang yang memiliki kuasa untuk menolongnya. Dan doa yang seperti itu, yang lahir dari hati dan diulang dengan ketekunan, itulah yang menggerakkan hati Allah yang penuh belas kasihan dan kasih.

Bahkan, kita bisa mulai memahami arti berdoa tanpa henti dengan melihat kehidupan Tuhan kita sendiri, karena Dia melakukannya. Dia jelas hidup dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Bapa. Dalam Alkitab, kita melihat Dia bangun pagi-pagi untuk berdoa, dan juga menghabiskan semalam suntuk dalam doa. Pastilah ada persekutuan yang tidak terputus antara diri-Nya dengan Bapa. Kitab Ibrani menyatakan bahwa Dia mempersembahkan doa dan permohonan, disertai dengan seruan yang kuat dan air mata. Inilah gambaran yang sangat mendalam. Ada intensitas dalam doa-doa Yesus yang begitu unik dan luar biasa. Dalam beberapa kesempatan ketika Dia berdoa, ada pergumulan yang sangat dalam. Dan kita bisa memahami bahwa walaupun Alkitab tidak mencatat semua detail dari setiap doa-Nya, doa-doa itu memiliki intensitas yang sama seperti yang sempat dinyatakan kepada kita. Ketika Alkitab mencatat bahwa Dia pergi ke Bukit Zaitun dan berdoa semalam suntuk, tidak diragukan lagi ada kedalaman dan kesungguhan dalam doa seperti itu yang mungkin hampir tidak dapat kita pahami sepenuhnya.

Salah satu gambaran paling jelas tentang intensitas doa-Nya terlihat di taman sebelum Dia menghadapi kematian, ketika kita melihat Dia berdoa dengan pergumulan yang begitu dalam sampai keringat-Nya seperti darah. Dia berlutut dan berdoa, seperti yang ditulis dalam Injil Lukas pasal 22, dengan berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Lalu Lukas menulis, “Ia sangat susah dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.”

Ada suatu pergumulan yang begitu dalam dan intens di sini, sampai membuat Yesus Kristus berkeringat, bahkan seperti mengeluarkan darah, di tengah suasana doa itu. Hal ini sangat mengesankan bagi saya. Selain itu, dalam Injil Matius pasal 26 ayat 38 sampai 46, kita juga melihat bahwa Yesus mengulangi permohonan-Nya di taman itu sampai tiga kali berturut-turut. Ini adalah pengalaman doa yang berlangsung cukup lama. Bahkan kita tahu bahwa proses itu berlangsung begitu lama sampai para murid tertidur beberapa kali. Jadi melalui pergumulan doa yang panjang dan penuh tekanan ini, kita mendapatkan gambaran yang sangat unik tentang kehidupan Tuhan kita, Yesus Kristus.

Izinkan saya menjelaskan maksudnya. Yesus Kristus melakukan banyak karya yang luar biasa ketika Dia hidup di dunia. Namun dalam semua itu, tidak ada pengeluaran energi yang terlihat. Meskipun Alkitab mengatakan bahwa kuasa keluar dari-Nya, tidak ada catatan dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan adanya pergumulan berat dalam proses melakukan mujizat-mujizat tersebut, baik itu memberi penglihatan kepada orang buta, pendengaran kepada yang tuli, kemampuan berbicara kepada yang bisu, kesembuhan kepada yang sakit, atau kemampuan berjalan kepada yang lumpuh. Demikian juga ketika Dia membangkitkan orang mati, memberi makan 5.000 laki-laki ditambah perempuan dan anak-anak, sekitar 20.000 orang di tepi danau, meredakan badai, atau berjalan di atas air. Apa pun yang Dia lakukan, tidak ada catatan bahwa Dia harus bersusah payah, berkeringat, atau mengalami pergumulan berat sampai seperti mencurahkan darah untuk melakukannya. Seolah-olah tidak ada kelelahan, tidak ada usaha yang berat, tidak ada tekanan, tidak ada pergumulan yang terlihat dalam semua itu—sampai Dia berdoa. Ketika Dia berdoa, justru di situlah ada pergumulan yang dalam, ada tekanan yang mengguncang hati dan seluruh keberadaan-Nya, yang bahkan tampak secara fisik. Dia berdoa dengan pergumulan berat sampai seperti mengeluarkan darah, suatu tingkat intensitas yang jelas menggambarkan ketekunan seperti yang Dia ajarkan dalam Injil Lukas pasal 11 dan 18, dan juga seperti yang dimaksud oleh Paulus ketika ia berkata, “Tetaplah berdoa.”

Gereja mula-mula sejak awal ditandai oleh doa yang terus-menerus, penuh semangat, dan tidak pernah berhenti seperti ini. Bahkan sebelum hari Pentakosta, dalam Kisah Para Rasul 1:14, dikatakan bahwa semua orang percaya sehati dan sejiwa, dan mereka terus bertekun dalam doa. Doa yang tidak putus-putus, doa yang terus-menerus, doa yang tekun menjadi ciri khas gereja mula-mula. Ketika para rasul mulai menata kehidupan gereja agar semua pelayanan dapat berjalan dengan baik, mereka berkata, “Kami tidak mungkin mengurus semua hal ini, tetapi kami akan mengkhususkan diri dalam doa.” Mereka berkomitmen untuk bertekun dalam doa dan pelayanan Firman. Dalam Kisah Para Rasul pasal 12, kita kembali melihat gambaran gereja mula-mula. Petrus ditahan di penjara, tetapi jemaat dengan sungguh-sungguh terus mendoakannya. Doa yang sungguh-sungguh, yang tidak henti-hentinya, yang tekun, itulah yang menjadi ciri kehidupan gereja mula-mula.

Waktu kita masuk ke dalam surat-surat rasuli, baik itu Surat Roma, Efesus, Filipi, Kolose, maupun 1 Tesalonika, kita melihat bagaimana Paulus terus mendorong orang-orang percaya untuk berdoa. Bahkan, mungkin salah satu yang paling menonjol dalam menekankan pentingnya doa adalah Surat Efesus. Di Efesus 6:18 ia berkata, “Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu.” Intinya sama, berdoalah setiap waktu. Dalam surat yang sedang kita pelajari sekarang, yaitu 1 Tesalonika pasal 3 ayat 10, ia juga memberikan teladannya sendiri: “Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh.” Ini menunjukkan bahwa doa adalah gaya hidup, sesuatu yang terus-menerus, tidak berhenti, dan tidak terputus.

Dalam Surat Kolose, saya sangat menyukai kesaksian tentang Epafras, “ia seorang dari antara kamu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu,” seorang pendoa sejati. Dan dalam Kolose pasal 4 ayat 2, dikatakan, “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur.” Doa yang tidak henti-hentinya, doa yang berkuasa, doa yang tekun, doa yang terus mendesak, doa yang tidak pernah berhenti, adalah sesuatu yang sangat penting.

Mungkin Samuel Taylor Coleridge benar ketika ia berkata, “Doa adalah energi tertinggi yang mampu dilakukan oleh hati manusia, dan pencapaian terbesar orang Kristen di dunia ini.” Tetapi saya khawatir jika kita memandang doa hanya sebagai sesuatu yang penuh energi, mulia, dan luar biasa, kita justru akan membatasinya hanya pada beberapa momen besar dalam hidup. Memang doa bisa seperti itu, tetapi doa juga adalah persekutuan yang terus-menerus, yang seharusnya menjadi bagian dari keseharian hidup kita. Doa memang melibatkan intensitas, itulah esensinya. Kita ingat bahwa Allah ditemukan oleh mereka yang mencari-Nya dengan segenap hati. Pergumulan dalam doa membawa kemenangan bersama Allah. “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya,” seperti yang dikatakan dalam Surat Yakobus.

Jadi, sekalipun ada momen-momen doa yang besar, mulia, penuh energi dan pergumulan yang dalam, doa juga bagi kita adalah gaya hidup sehari-hari yang sangat nyata. Kadang memang intensitasnya berbeda-beda, tetapi tetap menjadi bagian dari hidup kita. Karena itu, “berdoalah tanpa henti” adalah perintah Allah bagi kita. Kata “berdoa” di sini adalah kata umum, proseuchomai, suatu istilah yang paling sering dipakai dalam Perjanjian Baru untuk doa. Isinya bisa berupa pujian, ucapan syukur, pengakuan dosa, permohonan, syafaat, atau penyerahan diri. Intinya adalah berdoa secara menyeluruh. Sedangkan “tanpa henti” berarti berulang-ulang, bukan berarti berbicara tanpa berhenti terus-menerus, tetapi doa yang terus muncul kembali. Seperti yang sudah dikatakan, ini adalah gaya hidup; kita dipanggil untuk terus hidup dalam doa, terus berada dalam sikap hati yang berdoa.

Mungkin Anda juga seperti saya. Saya jarang sekali tertidur di malam hari tanpa berada di tengah-tengah doa, dan saya juga jarang bangun di pagi hari tanpa sedang berdoa. Doa sudah begitu menjadi bagian dari hidup saya, sebuah persekutuan yang terbuka dengan Allah, kadang lebih intens, kadang tidak, tetapi selalu sadar akan hadirat-Nya, sehingga sering kali saya tertidur di tengah doa, lalu bangun kembali masih dalam doa itu. Alkitab memberi banyak contoh tentang orang-orang yang berdoa di pagi hari, berdoa pada siang hari, berdoa pada malam hari, bahkan ada yang berdoa tujuh kali sehari, ada yang berdoa tengah malam, ada yang berdoa semalam suntuk, ada yang berdoa sebelum fajar, ada yang berdoa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Ada yang berdoa lama, ada yang singkat; ada yang berdoa sambil berlutut, ada yang berdiri, ada yang berbaring di tempat tidur, ada yang sujud dengan wajah ke tanah; ada yang mengangkat tangan, ada yang menurunkan tangan, ada yang menadahkan tangan, ada yang menengadah, ada yang menelungkup, dan seterusnya. Dengan berbagai cara dan di segala tempat, doa dilakukan; karena itu, berdoalah tanpa henti.

Nah, kalau kita melihat kembali teks kita, kita akan melihat bahwa ayat ini seperti pasangan dari ayat sebelumnya. Dalam Surat 1 Tesalonika 5 ayat 16 tertulis, “Bersukacitalah senantiasa,” dan ayat 17 berkata, “Tetaplah berdoa.” Keduanya berjalan bersama dalam kehidupan rohani dan memiliki keseimbangan yang indah. Sepanjang hidupnya, orang percaya menyadari keterbatasannya, sehingga ia hidup dalam ketergantungan penuh kepada Allah. Jadi, selama kita menyadari keterbatasan dan ketergantungan itu, kita akan terus berdoa tanpa henti. Di saat yang sama, walaupun kita merasa tidak cukup dan bergantung, kita juga tahu bahwa kita menerima begitu banyak berkat luar biasa dari Allah. Jadi di satu sisi kita berdoa dalam ketergantungan, di sisi lain kita bersukacita karena menerima berkat-berkat Allah yang berlimpah. Karena itu kita bersukacita senantiasa, sebab Allah terus mencurahkan berkat sebagai jawaban atas doa kita yang tidak pernah berhenti.

Jika saya sebagai orang percaya hidup dalam kesadaran terus-menerus bahwa saya tidak mencukupi, dan terus menyadari bahwa saya bergantung kepada Allah, jika saya hidup dengan hati yang selalu bersyukur atas segala yang Dia lakukan bagi saya, terus bertobat atas dosa saya, dan terus menyatakan kasih kepada orang lain, maka semua itu akan mengalir menjadi doa kepada Allah, bahkan tanpa kata-kata. Dan itu juga akan membuat Allah membuka aliran berkat-Nya, yang pada akhirnya menghasilkan respons sukacita dalam hidup saya. Jadi kita bukan hanya dipanggil untuk selalu bersukacita, tetapi juga untuk menempuh jalan menuju sukacita itu, yaitu jalan doa yang tidak henti-hentinya, yang menghasilkan berkat, dan pada akhirnya menghasilkan sukacita.

Nah, bagaimana ayat 17 ini masuk dalam keseluruhan konteksnya? Ketika Paulus menutup suratnya kepada jemaat di Tesalonika, ia ingin menolong mereka menata arah gereja mereka untuk masa depan. Ini adalah gereja yang baik, gereja yang luar biasa, gereja yang mulia, dan rohani. Tapi ia tetap ingin mengingatkan mereka bagaimana bertumbuh menjadi kawanan yang sehat dan dewasa. Ini adalah gereja yang masih sangat muda, baru beberapa bulan, dan Paulus memiliki rencana pertumbuhan bagi mereka. Dalam ayat 12 dan 13 dari Surat 1 Tesalonika, pertumbuhan menuju jemaat yang sehat melibatkan hubungan yang benar antara gembala dan jemaat, serta jemaat dengan gembala. Dalam ayat 14 dan 15, pertumbuhan jemaat yang sehat menuntut hubungan yang benar antara sesama jemaat. Dan di ayat 16 sampai 22, jemaat yang sehat menuntut hubungan yang benar antara jemaat dengan Sang Gembala Agung.

Jadi gereja dibangun di atas relasi-relasi itu—pemimpin dengan jemaat, jemaat dengan pemimpin, sesama jemaat, dan jemaat dengan Allah—dan tidak ada gereja yang bisa bertumbuh melampaui kehidupan rohani dari orang-orang di dalamnya. Karena itu, hubungan kita dengan Sang Gembala Agung sangatlah penting. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah selalu bersukacita, dan yang kedua adalah terus berdoa kepada-Nya. Dengan cara itulah kita menjaga hubungan itu tetap seperti yang seharusnya, dan itu sangat penting bagi gereja yang ingin bertumbuh dan menjadi sehat. Jika kita ingin menjadi gereja yang sehat, kita harus berdoa tanpa henti, kita harus terus mengandalkan sumber ilahi, terus mengetuk pintu, dan mencari roti yang kita butuhkan. Kita harus berlutut di hadapan keadilan Allah, memohon agar perkara kita diselesaikan dengan kebenaran dan keadilan. Kita harus datang kepada Allah, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain, berdoa tanpa henti, karena melalui itulah kita mengalami dan melihat besarnya kuasa serta berkat Allah dinyatakan.

Sebenarnya tidak banyak lagi yang perlu dijelaskan tentang ayat ini. Kita sudah memahami maksudnya. Tetapi saya ingin sedikit masuk lebih dalam, dan saya ingin memberikan beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai motivasi untuk berdoa. Karena saya tahu satu hal tentang hidup Anda, sama seperti dalam hidup saya. Tidak peduli seberapa banyak saya berdoa, saya selalu merasa bahwa saya masih kurang berdoa. Apakah Anda juga merasakan hal yang sama? Saya sering hidup dengan semacam perasaan bersalah karena kurangnya berdoa.

Tidak peduli seberapa banyak saya berdoa, saya selalu merasa belum cukup berdoa. Itu sebagian karena saya memang belum berdoa sebanyak yang seharusnya, dan sebagian lagi karena saya berada pada posisi di mana begitu banyak permohonan doa datang, sampai secara manusia hampir tidak mungkin untuk menanggapi semuanya—dan itu membuat beban saya semakin berat. Karena itu saya perlu kembali bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar punya dorongan yang kuat untuk berdoa ketika saya tidak berdoa seperti seharusnya. Dan saya ingin menolong Anda untuk memahami beberapa motivasi dalam berdoa. Saya akan memberikan sepuluh hal, seperti daftar belanja sederhana, sepuluh motivasi untuk berdoa yang saya percaya dapat membentuk kehidupan doa yang tidak pernah berhenti.

Yang pertama adalah kerinduan akan kemuliaan Tuhan—kerinduan agar nama Tuhan dimuliakan. Yesus mengatakan bahwa doa seharusnya dimulai seperti ini, “Bapa kami yang di surga… dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.” Artinya, ketika kita berdoa seperti itu, kita sedang berdoa agar Allah dimuliakan, agar rencana-Nya digenapi, agar nama-Nya ditinggikan, dan agar kehendak-Nya terjadi. Fokusnya bukan pada diri kita, tetapi pada Dia. Ketika Daniel berdoa dalam pasal 9, yang menjadi salah satu contoh doa terbesar dalam Perjanjian Lama, yang mendorongnya adalah kerinduan akan kemuliaan Allah. Ia berdoa agar Allah mengampuni umat-Nya, mengampuni dosa mereka, dan menggenapi janji-Nya. Allah telah berkata bahwa Dia akan membiarkan mereka dalam pembuangan hanya untuk jangka waktu tertentu, lalu Dia akan membebaskan mereka.

Lalu Daniel sedang membaca kitab Yeremia, lalu ia menemukan janji itu, dan ia berkata, “Tuhan, aku ingin Engkau melakukannya. Aku ingin Kerajaan-Mu datang, kehendak-Mu terjadi, janji-Mu digenapi. Aku ingin Engkau mengampuni umat-Mu.” Bahkan ia berkata dalam ayat 19, “Bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” Maksudnya adalah, “Tuhan, jika Engkau melakukan ini, itu akan meninggikan nama-Mu, memuliakan Engkau, dan membuat nama-Mu semakin dikenal. Lakukanlah demi kemuliaan-Mu sendiri.” Saya percaya bahwa ini mungkin adalah motivasi tertinggi dalam doa, yaitu kerinduan akan kemuliaan Tuhan. Ketika kita berdoa agar Yesus ditinggikan, agar Allah dimuliakan, itu terjadi karena ada beban dalam hati kita, karena kita sungguh peduli. Kita seperti Daud yang berkata, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan celaan yang ditujukan kepada-Mu itu menimpa aku.” Ia berseru agar Tuhan ditinggikan. Jadi, motivasi pertama dalam doa adalah kerinduan akan kemuliaan Tuhan. Ketika hati kita rindu agar Allah dimuliakan, kita akan mendapati diri kita terus berdoa ke arah itu, terus berseru kepada-Nya tanpa henti, “Tinggikanlah diri-Mu, muliakanlah diri-Mu, nyatakanlah kehendak-Mu, bangunlah Kerajaan-Mu, dan genapilah kehendak-Mu.”

Yang kedua, motivasi untuk berdoa adalah kerinduan untuk bersekutu dengan Allah—kerinduan akan persekutuan dengan-Nya. Pemazmur menggambarkan hal ini dengan sangat indah dalam Mazmur 42 ayat 1: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup; bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Di sini kita melihat kerinduan yang dalam akan Allah. Ada hati yang berseru ingin bersekutu dengan-Nya, ada perasaan terpisah dari Allah, merasa jauh, merasa sendiri, yang kemudian berseru, “Tuhan, aku merindukan persekutuan dengan-Mu, aku merindukan hadirat-Mu, aku rindu dekat dengan-Mu.”

Dalam Mazmur 63, ada kata-kata yang begitu indah: “Ya Allah, Engkaulah Allahku, pagi-pagi aku mencari Engkau; jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku letih merindukan Engkau, seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair. Demikianlah aku mengarahkan mata pada-Mu di tempat kudus, untuk melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.” Seolah-olah ia berkata, “Aku hanya ingin melihat Engkau, aku hanya ingin bersama-Mu, aku hanya ingin mengalami kehadiran-Mu.” Lalu dalam Mazmur 84, ayat 1 dan 2: “Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan Semesta Alam! Hatiku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan; jiwa ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Berbahagialah mereka yang tinggal di rumah-Mu.” Inilah kerinduan untuk berada dalam hadirat Allah. Dan mungkin yang paling kuat di antara semuanya adalah Mazmur 27, yang berkata, “Tuhanlah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhanlah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar? Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, hanya inilah yang kudambakan: tinggal di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya.” Intinya adalah, “Aku hanya ingin berada di tempat di mana Dia berada.” Apakah Anda memiliki kerinduan seperti itu? Kerinduan untuk bersekutu, untuk menikmati persekutuan yang manis dengan Allah?

Motivasi ketiga untuk berdoa, untuk doa yang terus-menerus dan tidak berhenti, adalah kerinduan agar kebutuhan kita dipenuhi—kerinduan agar kebutuhan kita tercukupi. Bukan hanya kebutuhan kita sendiri, tetapi juga kebutuhan orang-orang di sekitar kita. “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” demikian Yesus mengajarkan kita dalam Injil Matius 6:11. Memang benar untuk berdoa agar kebutuhan kita dipenuhi. Memang tepat untuk meminta kepada Allah hal-hal dasar dalam hidup. Itu menjadi salah satu dorongan untuk berdoa. Tapi, banyak dari kita tidak terlalu terdorong oleh hal ini karena kita memiliki begitu banyak kebutuhan—sangat banyak. Tetapi di berbagai tempat di dunia ini, ada banyak orang yang setiap hari berdoa kepada Allah hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kita mungkin tidak terlalu memahami hal itu dalam budaya yang serba berkecukupan, tetapi bagi banyak saudara seiman kita, itulah realitas hidup mereka.

Bahkan, kami memiliki seorang saudara terkasih yang datang dari Afrika. Sam dan istrinya, Nora, pernah bersama kami di gereja selama sekitar enam tahun sebelum kembali melayani di Afrika. Ia datang kembali karena tidak mampu memberi makan keluarganya. Keadaannya tidak seperti di sini, bahkan ia kesulitan mendapatkan obat untuk penyakit diabetesnya. Kita hidup dalam dunia dan lingkungan di mana meminta kepada Allah untuk kebutuhan sehari-hari terasa asing. Tetapi kita tidak boleh begitu bodoh sampai berpikir bahwa karena Allah dengan anugerah-Nya sudah menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta, lalu kita menjadi tidak peduli kepada-Nya, seolah-olah semuanya itu tidak mungkin diambil dari kita.

Motivasi keempat untuk doa yang tekun adalah kerinduan akan hikmat—kerinduan untuk memiliki hikmat. Yakobus mengatakannya seperti ini: “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit.” Kalau kita berpikir bahwa kita tidak membutuhkan hikmat dari Allah, sebenarnya kita sedang tertipu. Ketika Yesus mengajarkan kita berdoa, Dia berkata, “Berdoalah seperti ini: janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Saya percaya ini adalah doa untuk kepekaan rohani, doa untuk hikmat rohani. Seolah kita berkata, “Tuhan, oleh Roh-Mu, berikan aku kemampuan untuk mengenali ketika aku sedang menghadapi pencobaan. Berikan aku hikmat untuk menyadari ketika aku sedang diarahkan kepada sesuatu yang jahat.” Kita perlu terus-menerus mendoakan hal ini. Sepanjang hidup kita, kita perlu berdoa, “Tuhan, lepaskan aku dari pencobaan, jangan biarkan aku jatuh dalam jalan yang jahat. Berikan aku hikmat, pengertian, kepekaan terhadap firman-Mu, dan pimpinan Roh-Mu, supaya aku tidak terjebak dalam tipu daya Iblis, keinginan daging, maupun godaan dunia.” Jadi apa yang mendorong doa yang tidak henti-hentinya? Kerinduan akan kemuliaan Allah, kerinduan untuk bersekutu dengan-Nya, kerinduan agar kebutuhan kita dipenuhi, dan kerinduan akan hikmat untuk menjalani hidup di dunia yang penuh jebakan ini.

Motivasi kelima adalah kerinduan untuk dilepaskan dari kesesakan—kerinduan akan pertolongan dari masalah. Banyak bagian dalam Mazmur yang berbicara tentang hal ini, tetapi bisa dirangkum dalam satu ayat, Mazmur 20:1, “Kiranya Tuhan menjawab engkau pada waktu kesesakan.” Dan memang, Dia akan menjawab. Ketika kita berada dalam masa-masa yang penuh tekanan dan kesulitan, keadaan seperti itu biasanya mendorong kita untuk berdoa tanpa henti, bukan? Semakin besar masalah yang kita hadapi, sering kali itu juga terjadi karena kita sebelumnya kurang meminta hikmat, sehingga kita jatuh dalam jebakan karena ketidaktahuan kita, dan sekarang kita membutuhkan kelepasan darinya. Dan ketika tidak ada jalan keluar dengan cara manusia, kita pun berseru kepada Allah untuk pertolongan dan kelepasan.

Hal ini mengingatkan kita pada Yunus, yang memiliki pengalaman doa yang sangat khusus. Ia mendapati dirinya berada di dalam perut seekor ikan besar, dan dalam Yunus 2:1 dikatakan, “Yunus berdoa kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu.” Bisa dibayangkan, ia tidak mulai dengan mendoakan hal-hal lain terlebih dahulu. Intinya, ia berseru, “Keluarkan aku dari sini.” Dan Tuhan melakukannya, Tuhan melepaskannya. Ia berkata, “Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku… Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur, ya Tuhan, Allahku.” Ia mengingat Tuhan di tengah keadaannya, berseru kepada-Nya, dan Tuhan melepaskannya. Demikian juga kita, ketika menghadapi masa-masa yang penuh tekanan, kesulitan, penderitaan, dan pergumulan, kita datang kepada Allah dan membutuhkan kelepasan dari-Nya. Hal-hal seperti itulah yang mendorong kita untuk berdoa tanpa henti.

Motivasi keenam adalah kerinduan untuk dilepaskan dari rasa takut dan kekhawatiran—kerinduan untuk mendapatkan ketenangan dari kecemasan. Hal ini akan mendorong kita untuk berdoa, jika kita bijaksana dan memiliki pola pikir rohani. Dalam Filipi pasal 4, kita diingatkan, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Ketika kita dipenuhi rasa takut, cemas, dan khawatir, ketika kita berada dalam tekanan atau bahkan kesedihan, apa yang harus kita lakukan? Sederhana: berhenti tenggelam dalam kecemasan, lalu datang kepada Allah dalam doa, dengan hati yang penuh syukur. Dan damai sejahtera dari Allah, yang melampaui pengertian manusia, akan menjaga hati dan pikiran kita.

Apa artinya itu? Artinya menjaga hati dan pikiran kita dari kecemasan, dari depresi, dari tekanan, dari rasa takut, dan kekhawatiran. Jika kita menginginkan solusi yang bisa dipahami secara manusia, kita bisa pergi kepada manusia. Tetapi jika kita menginginkan solusi yang melampaui pemahaman manusia, kita datang kepada Allah. Saat kita diliputi rasa takut, kekhawatiran, kecemasan, atau tekanan emosional, langkahnya sebenarnya sederhana saja: datanglah kepada Tuhan dalam doa yang terus-menerus, dengan hati yang bersyukur, dan damai sejahtera Allah yang dijanjikan itu akan menjaga hati dan pikiran kita. Mengapa kita sering mencari jalan lain selain itu? Ketika kita membutuhkan kelegaan dari rasa takut dan kekhawatiran, Allah sudah berjanji bahwa itu tersedia melalui doa. Pemazmur menuliskan dalam Mazmur 4, “Apabila aku berseru, Jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakanku Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” Seolah pemazmur berkata, “Engkau sudah melakukannya di masa lalu, sekarang lakukanlah lagi bagiku.”

Motivasi ketujuh adalah kerinduan untuk mengucap syukur atas berkat-berkat yang sudah kita terima—kerinduan untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan di masa lalu. Jika kita memiliki hati yang bersyukur, jika kita benar-benar mengingat semua yang telah Allah lakukan dalam kebaikan-Nya, itu akan mendorong kita untuk berdoa, meskipun hanya untuk satu alasan sederhana, yaitu mengucap syukur. Dalam Mazmur 44, kita membaca pemazmur berkata, “Ya Allah, dengan telinga kami sendiri telah kami dengar, nenek moyang kami telah menceritakan kepada kami perbuatan yang telah Kaulakukan pada zaman mereka, pada zaman purbakala. Dengan tangan-Mu sendiri, Engkau telah menghalau bangsa-bangsa, supaya mereka Kautanam; Engkau menghancurkan suku-suku bangsa, mereka Kaubiarkan bertumbuh. Sebab bukan dengan pedang mereka menduduki negeri, dan bukan lengan mereka yang memberi mereka kemenangan, melainkan tangan kanan-Mu dan lengan-Mu dan cahaya wajah-Mu, sebab Engkau berkenan kepada mereka.”

Itu adalah pujian, dan pujian itu bukan untuk apa yang Allah lakukan secara pribadi baginya, melainkan untuk apa yang Allah telah lakukan bagi orang-orang lain di masa lalu. Belajar untuk bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia kerjakan sepanjang sejarah penebusan, memiliki hati yang penuh rasa syukur atas segala kebaikan-Nya, bukan hanya yang kita alami sendiri, itu akan mendorong kita untuk berdoa. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Filipi dan berkata, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita, karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.” Seolah-olah ia berkata, “Aku tidak bisa berhenti berdoa, sambil mengucap syukur kepada Allah atas apa yang Dia kerjakan dalam hidupmu, apa yang telah Dia lakukan, dan yang sedang Dia lakukan.” Jika kita benar-benar bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia perbuat, itu akan mendorong kita untuk terus berdoa dalam ucapan syukur.

Motivasi kedelapan adalah hal yang sangat penting dalam doa, yaitu kerinduan untuk dilepaskan dari rasa bersalah karena dosa—kerinduan untuk dibebaskan dari beban dosa. Mazmur pertobatan yang sangat terkenal, yaitu Mazmur 32, berbicara tentang hal ini. Saya hanya memilih beberapa bagian dari sekian banyak ayat yang sebenarnya bisa digunakan, tetapi dengarkanlah bagian ini. Mulai dari ayat 3, Daud berkata, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu.” Seolah-olah ia mengalami penderitaan fisik akibat rasa bersalah. “Karena aku mengeluh sepanjang hari, sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat; sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas.” Ia menggambarkan dirinya benar-benar hancur. Seluruh kekuatan hidupnya seakan mengering, sistem tubuhnya terganggu, aliran darahnya tidak normal, tubuhnya melemah, sarafnya kacau. Ia merasa seperti orang yang sakit dan demam, terus mengeluh tanpa henti.

Dalam ayat 5, Daud berkata, “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ‘Aku akan mengakui pelanggaran-pelanggaranku kepada TUHAN,’ dan Engkau telah mengangkat beban dosaku.” Ia mengaku, dan Tuhan mengampuni. Lalu kembali ke awal Mazmur itu, ia berkata, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu.” Artinya, tidak ada lagi kepura-puraan, tidak ada lagi usaha menutupi dosa; semuanya sudah dibuka dan diakui, dan sekarang ada pengampunan, ada kebahagiaan. Jadi doa—yang terus-menerus, yang penuh pertobatan dan pengakuan—didorong oleh kerinduan untuk dibebaskan dari rasa bersalah karena dosa.

Motivasi kesembilan untuk berdoa adalah kerinduan akan keselamatan orang-orang yang terhilang—kerinduan agar mereka diselamatkan. Kita akan terdorong untuk berdoa dengan tekun ketika kita memiliki belas kasihan yang nyata terhadap mereka yang belum mengenal Tuhan. Mereka ada di sekeliling kita, di mana-mana. Jika kita benar-benar peduli dengan keselamatan mereka, maka akan muncul dorongan yang hampir tidak berhenti untuk mendoakan mereka setiap kali mereka terlintas dalam hidup dan pikiran kita. Dengarkan Surat Roma 10:1, Paulus berkata, “Saudara-saudara, kerinduan hatiku dan doaku kepada Allah ialah supaya mereka diselamatkan.” Seolah ia berkata, “Aku tidak bisa melihat orang yang belum percaya tanpa mendoakan keselamatan mereka.” Dalam Surat 1 Timotius pasal 2, Paulus juga mengatakan bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Lalu ia mendorong agar orang-orang percaya berdoa dengan mengangkat tangan yang kudus setiap waktu. Apa yang didoakan? Keselamatan bagi mereka yang terhilang, bagi mereka yang telah disediakan jalan keselamatan oleh Allah. Jadi kerinduan akan keselamatan orang-orang yang terhilang akan mendorong kita untuk berdoa. Jika kita tidak berdoa dengan tekun, mungkin ada sesuatu yang kurang dalam kepedulian kita terhadap mereka yang belum mengenal Tuhan.

Dan yang kesepuluh: doa yang terus-menerus dan tidak henti-hentinya didorong oleh kerinduan akan pertumbuhan rohani orang percaya—kerinduan agar sesama orang percaya semakin bertumbuh. Dalam Efesus 1:15, Paulus berkata kepada jemaat di Efesus, “Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Aku selalu mengingat kamu dalam doaku.” Lalu apa yang ia doakan? “Meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya.”

Aku berdoa untukmu. Lalu apa yang didoakan? Hikmatmu, pengenalanmu, pengertianmu, pengharapanmu; aku berdoa agar kuasa Allah dinyatakan dalam hidupmu. Aku berdoa untuk pertumbuhan rohanimu. Dalam Efesus 3:14, Paulus berkata, “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa.” Apa isi doanya? Ayat 16, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu.” Aku berdoa agar kamu memiliki kekuatan rohani. Ayat 17, “Sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih, … dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan, seperti tertulis dalam ayat 19, “supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” Lalu ayat 20 menyatakan bahwa “Dia dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan.” Semua ini adalah doa untuk pertumbuhan rohani.

Kita punya begitu banyak hal untuk didoakan, bukan? Apa yang mendorong Anda untuk berdoa? Ketika Anda merindukan kemuliaan Tuhan, ketika Anda merindukan persekutuan dengan-Nya, ketika Anda rindu agar kebutuhan Anda dipenuhi oleh Dia yang memiliki segala sumber, ketika Anda merindukan hikmat dan kepekaan rohani, ketika Anda rindu dilepaskan dari berbagai persoalan hidup, ketika Anda merindukan kelegaan dari rasa takut, cemas, dan khawatir, ketika Anda rindu untuk mengucap syukur atas segala berkat-Nya di masa lalu dan sekarang, ketika Anda rindu dibebaskan dari rasa bersalah dan dosa, ketika Anda rindu melihat orang lain diselamatkan, dan ketika Anda rindu melihat pertumbuhan rohani orang-orang percaya—semua itu seharusnya cukup untuk terus mengingatkan Anda agar tetap berdoa setiap waktu. Jadi cobalah melakukan evaluasi rohani dalam hidup Anda. Jika Anda tidak berdoa tanpa henti, kemungkinan ada sesuatu yang tidak beres pada tingkat keinginan, pada motivasi yang mendasari. Lalu bagaimana kita membangkitkan kembali dorongan itu?

Dari pengalaman hidup saya sendiri selama bertahun-tahun, saya hanya bisa mengatakan bahwa kehidupan doa saya sangat dipengaruhi oleh Firman Tuhan. Waktu saya dalam disiplin membaca dan mempelajari Firman Tuhanlah yang mendorong saya untuk berdoa. Tentu ada juga saat-saat di mana Roh Allah menggerakkan saya ketika saya hidup dalam ketaatan, sehingga saya terdorong untuk berdoa. Tetapi jika saya ingin memiliki kerinduan yang sungguh agar Tuhan dimuliakan, saya menyadari bahwa kerinduan itu lahir dari saya merenungkan Firman-Nya. Ketika saya melihat Firman Tuhan terbuka dan memahami rencana-Nya yang luar biasa, saya menjadi seperti Daniel; setelah saya membaca apa yang Allah rencanakan untuk kemuliaan-Nya di masa depan, kerinduan itu mulai muncul dalam hati saya agar Dia dimuliakan. Hal ini juga seperti Yohanes yang di akhir Kitab Wahyu, setelah melihat segala kemuliaan yang akan datang bagi Kristus, ia tidak bisa menahan diri untuk berseru, “Tuhan, datanglah segera”—bukan demi dirinya, tetapi demi kemuliaan Tuhan.

Jadi ketika saya memandang rencana Allah yang mulia seperti yang dinyatakan dalam Firman-Nya, hati saya dipenuhi dengan kerinduan akan Kerajaan-Nya dan kemuliaan-Nya, dan itu mendorong saya untuk berdoa ke arah itu. Ketika saya mempelajari Firman Tuhan, dan melalui itu saya bersekutu dengan-Nya saat Ia menyatakan diri-Nya, ketika saya semakin mengenal pribadi-Nya, karakter-Nya, dan kemuliaan-Nya, maka kerinduan saya untuk bersekutu dengan-Nya pun semakin besar. Saat saya membaca Alkitab dan menemukan semua janji-Nya, semua hal yang ingin Dia lakukan bagi anak-anak-Nya, bagaimana Dia memenuhi setiap kebutuhan kita, dan bagaimana Dia menyediakan segala sesuatu, itu semua mendorong saya untuk berdoa sesuai dengan hal-hal tersebut.

Dan ketika saya membaca dan mempelajari Firman Tuhan, lalu melihat kemuliaan-Nya dinyatakan melalui hikmat-Nya, pengertian-Nya yang luar biasa, dan pemahaman-Nya yang sempurna atas segala sesuatu, hal itu membuat saya merindukan agar hikmat yang sama itu juga menjadi bagian dalam hidup saya, supaya saya dapat menjalani dunia yang sulit ini dengan benar. Ketika saya membaca Alkitab dan melihat bagaimana Allah berulang kali melepaskan umat-Nya, serta janji-janji-Nya bahwa Dia akan terus melakukan hal yang sama bagi umat-Nya, hal itu mendorong saya untuk berdoa memohon kelepasan dari berbagai persoalan dalam hidup saya dan orang-orang di sekitar saya. Dan ketika saya melihat dalam Alkitab bagaimana banyak hamba-Nya yang dikasihi dilepaskan dari rasa takut, kekhawatiran, dan kecemasan—bagaimana ada yang tetap memuji Tuhan di dalam penjara, bahkan berdiri di depan dapur api sambil memuliakan Allah karena mereka begitu percaya kepada-Nya—semua itu menolong saya untuk mengalami kelegaan dari rasa takut dan kekhawatiran saya sendiri. Saya diingatkan bahwa saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya kepada-Nya, karena Dia sungguh memelihara saya dengan sempurna, dan dengan itu saya dilepaskan dari kecemasan.

Ketika saya juga mempelajari Alkitab dan melihat catatan tentang segala berkat-Nya di masa lalu, perbuatan-perbuatan-Nya yang besar, seluruh kemuliaan-Nya dalam sejarah penebusan, dan semua yang telah Dia lakukan hingga akhirnya saya bisa mengalami kemuliaan Injil Kristus, berkat Roh-Nya yang diam di dalam saya, serta harta dari Firman-Nya, semuanya itu mendorong saya untuk mengucap syukur atas berkat-Nya. Dan ketika saya melihat dalam Alkitab tentang pengampunan yang sempurna di dalam Yesus Kristus, tentang keagungan rencana penebusan, dan bagaimana semuanya dikerjakan oleh anugerah melalui iman dalam hidup saya, serta bagaimana saya memiliki akses setiap saat kepada pengampunan dan penyucian yang penuh, semua itu membawa saya untuk mengakui dosa-dosa saya. Ketika saya melihat air mata Allah dalam Kitab Yeremia pasal 13, dan air mata Yesus dalam Injil Matius pasal 23, air mata yang dicurahkan bagi mereka yang menolak keselamatan dan kebaikan Allah, hal itu menumbuhkan kerinduan dalam hati saya untuk melihat orang-orang yang terhilang diselamatkan, seperti kerinduan Allah sendiri. Dan ketika saya melihat dalam Alkitab kerinduan hati Allah bagi umat-Nya untuk bertumbuh secara rohani, panggilan yang terus-menerus dari awal sampai akhir agar umat-Nya hidup dalam ketaatan dan kekudusan, itu mengingatkan saya untuk terus berdoa bagi pertumbuhan rohani orang-orang percaya.

Jadi, jika saya ingin memiliki kehidupan doa yang tekun dan konsisten, saya perlu memiliki kerinduan-kerinduan tertentu di dalam hati yang mendorong dan memotivasi hal itu. Kerinduan-kerinduan itu muncul sebagai buah dari kesetiaan dan kesungguhan saya dalam mempelajari Firman Tuhan, yang terus membuka hal-hal tersebut dengan cara yang segar setiap kali saya mempelajarinya, dan pada akhirnya mendorong kehidupan doa saya. Sangat jarang saya selesai waktu teduh dalam Firman Tuhan tanpa memiliki komitmen baru untuk berdoa, di satu aspek atau yang lain, dengan lebih setia daripada sebelumnya. Paulus berkata, “Berdoalah tanpa henti,” dan dalam mengatakannya, ia sebenarnya telah mengatakan begitu banyak hal. Itulah yang seharusnya menjadi gaya hidup kita. Mari kita tundukkan kepala dan berdoa.

Kami bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, atas janji dalam 1 Yohanes 3:22, bahwa apa pun yang kami minta, kami menerimanya dari-Mu, karena kami menuruti perintah-Mu dan melakukan apa yang berkenan di hadapan-Mu. Karena itu kami tahu bahwa doa-doa kami berkuasa dan efektif; dan ketika kami berdoa dalam ketaatan kepada perintah-Mu serta melakukan apa yang menyenangkan hati-Mu, Engkau akan mendengar dan menjawab doa kami. Dan ketika Engkau menjawab, kami akan diberkati, dan Engkau akan menerima segala kemuliaan. Kami tahu itulah rencana-Mu. Untuk itulah kami berdoa, demi nama Yesus Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize