Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Sekarang menjadi sukacita bagi kita untuk bersama-sama mempelajari Firman Tuhan. Silakan buka Alkitab Anda di 1 Tesalonika pasal 5. Kita mulai memasuki bagian terakhir dari surat Paulus yang indah kepada jemaat Kristen di Tesalonika. Kita akan melihat bagian yang dimulai dari ayat 12 sampai ayat 22. Bagian ini sebenarnya berisi rangkaian nasihat dan perintah yang cukup panjang dan semuanya berkaitan dengan kehidupan praktis di dalam gereja. Saya memberi judul bagian dan rangkaian pembahasan ini: "Membangun Jemaat yang Sehat."

Kalau Anda sudah mengikuti pembahasan kita sebelumnya, Anda tahu bahwa kita cukup lama mempelajari bagian sebelumnya yang berbicara tentang kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Mulai dari pasal 4 ayat 13 sampai pasal 5 ayat 11, seluruh bagian itu membahas tentang kedatangan Kristus kembali: kedatangan-Nya untuk jemaat yang kita sebut sebagai Pengangkatan, dan kedatangan-Nya untuk menghakimi orang-orang fasik yang disebut sebagai Hari Tuhan. Kita pun adalah gereja yang sama seperti jemaat Tesalonika, yaitu gereja yang menantikan kedatangan-Nya, yang terus menunggu kembalinya Yesus Kristus. Dalam pengertian itu, kita hidup dengan pengharapan akan masa depan. Kita menantikan apa yang akan datang. Tetapi pada saat yang sama, penantian akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali tidak boleh membuat kita menjadi acuh terhadap kehidupan kita saat ini. Hanya karena kita adalah orang yang memiliki masa depan yang mulia, kita tidak boleh menjadi orang-orang yang mengabaikan kehidupan masa kini. Karena itu, setelah pembahasan besar mengenai Pengangkatan dan Hari Tuhan, Rasul Paulus mulai berbicara tentang hal-hal praktis mengenai bagaimana kita hidup di dalam gereja pada hari ini. Bahkan, ayat 11 menjadi jembatan menuju pembahasan itu.

Anda tentu ingat, setelah membahas tentang Pengangkatan, di akhir pasal 4 Paulus berkata, "Hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini." Lalu setelah membahas penghakiman pada Hari Tuhan, di pasal 5 ayat 11, ia berkata, “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” Dengan kata lain, jangan biarkan siapa pun menjadi tawar hati ketika memandang masa depanya. Sebaliknya, hendaklah kamu dikuatkan dan dibangun oleh pengharapan tentang masa depanmu. Lalu pertanyaan yang langsung muncul adalah: bagaimana kita saling menguatkan? Bagaimana kita saling membangun? Bagaimana kita merespons pengharapan besar tentang masa depan yang kita miliki? Dan pemikiran itulah yang menjadi jembatan menuju ayat 12. Kita hidup di sini dan saat ini dengan cara yang Tuhan kehendaki, sambil menantikan kemuliaan besar yang akan dinyatakan bagi kita di masa depan.

Jadi bagian ini akan berisi petunjuk tentang kehidupan dalam gereja, dimana sangat praktis, sangat mendasar, jelas, dan langsung pada intinya. Percayalah, gereja sangat membutuhkan pengajaran seperti ini. Jika ada satu hal yang sering membuat hati saya sedih saat saya melihat keadaan di Amerika, maka hal itu adalah kenyataan bahwa ada begitu banyak gereja yang tidak sehat, begitu banyak gereja yang tidak mengalami kuasa Allah, hadirat Allah, damai sejahtera Allah, dan sukacita dari Allah; gereja-gereja yang tidak menikmati segala berkat yang Tuhan curahkan kepada mereka yang hidup menurut kehendak-Nya dan terus bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Ada begitu banyak gereja yang tidak sehat. Saya terus-menerus merasakan beban ketika berbicara dengan para pendeta yang begitu terbeban karena mereka melayani jemaat yang menunjukkan kurangnya komitmen rohani. Saya juga sedih mendengar orang-orang yang berada di gereja di mana para pemimpinnya tidak memiliki komitmen terhadap pertumbuhan dan perkembangan rohani. Negara ini dipenuhi gereja-gereja yang sibuk, bahkan ada yang besar, tetapi banyak di antaranya tidak sehat. Seorang penulis yang cukup sinis pernah melihat keadaan gereja dan berkata bahwa gereja mengingatkannya pada bahtera Nuh. Ia berkata, "Kalau bukan karena badai di luar, kamu tidak akan tahan dengan bau menyengat di dalam."

Itulah pandangan yang sinis tentang gereja. Itulah pandangan yang sudah kehilangan harapan terhadap gereja. Dan pandangan itu sangat jauh dari kenyataan tentang seperti apa seharusnya gereja, dan seperti apa gereja yang sejati itu. Gereja adalah lembaga yang paling diberkati di bumi ini; satu-satunya yang dibangun oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, satu-satunya yang Dia janjikan untuk diberkati, dan yang tidak akan pernah dapat dikalahkan oleh kuasa neraka. Bukan berarti kita mengatakan bahwa gereja tidak memiliki masalah. Tentu gereja memiliki masalah. Alasannya sederhananya adalah gereja terdiri dari manusia, dan kita semua telah jatuh dalam dosa, kita semua berdosa, kita semua tidak sempurna, kita memiliki kelemahan, dan kita menghadapi berbagai kesulitan. Gereja terdiri dari manusia yang telah jatuh dalam dosa. Gereja terdiri dari orang-orang yang lemah. Dalam banyak hal, kita dapat mengatakan bahwa gereja adalah rumah sakit. Gereja bukan tempat bagi orang-orang yang sempurna. Gereja juga bukan tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sempurna. Gereja adalah tempat bagi orang-orang yang mengakui bahwa mereka tidak sempurna dan membutuhkan pertolongan. Dan ketika gereja mengakui hal itu, di situlah gereja mulai bergerak ke arah yang benar. Tentu saja gereja memiliki kekurangan. Anda sering mendengar orang berkata, "Saya tidak mau bergabung dengan gereja. Terlalu banyak orang munafik di sana." Dan jawaban yang tepat sebenarnya adalah, "Silakan masuk, masih ada tempat untuk satu orang munafik lagi."

Ya, kita memang memiliki kelemahan. Mengakui hal itu dan menyadarinya adalah sikap awal untuk mulai bertumbuh dan bergerak ke arah yang benar. Kita harus memulai dengan pengakuan akan kegagalan dan kelemahan kita. Jadi kita mengakui bahwa gereja pasti akan menghadapi masalah. Saya belum pernah melihat gereja yang tidak memiliki masalah. Itu karena manusia memiliki masalah, para pemimpin juga memiliki masalah; akibatnya hubungan-hubungan pun mengalami tekanan, ketegangan, dan menjadi tidak mudah. Ditambah lagi ada kenyataan bahwa Iblis bekerja keras melawan gereja, begitu juga para agen rohaninya dan juga orang-orang yang dipakainya. Namun demikian, gereja yang sejati tetap jauh lebih baik daripada organisasi, perkumpulan, atau lembaga apa pun di dunia ini, karena gereja terus bergerak menuju keserupaan dengan Yesus Kristus, karena gereja mewakili Dia di dunia ini, karena hidupnya digerakkan oleh Roh Kudus, karena gereja hidup di bawah pengajaran Firman Tuhan, dan karena gereja saling menyalurkan kekuatan rohani melalui persekutuan dan pelayanan di antara anggotanya. Karena itu, gereja adalah persekutuan, organisasi, dan lembaga yang paling mulia di muka bumi ini. Tetapi kita juga mengakui bahwa gereja terdiri dari orang-orang yang sedang dalam proses. Kita belum sampai pada keadaan yang seharusnya, tetapi kita juga bukan lagi seperti dahulu. Kita sedang bergerak menuju ke sana.

Kembali ke pasal 4 ayat 1, dan ingatlah apa yang Paulus katakan di sana, yang sebenarnya merupakan ringkasan yang baik tentang kehidupan dalam gereja. Di bagian tengah ayat itu ia berkata, "Kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah." Lalu ia melanjutkan, "Memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi." Di situlah kita melihat gambaran sebuah gereja yang sedang bertumbuh. Kalian sudah berjalan dengan baik; bahkan kalian sedang berkembang. Namun saya ingin kalian bertumbuh lebih lagi. Kalian hidup untuk menyenangkan Allah, tetapi saya ingin kalian melakukannya dengan lebih sungguh lagi. Itulah ringkasan dari proses pertumbuhan rohani. Dan dalam banyak hal—saya sudah mengatakannya berkali-kali—saya merasa bahwa gereja tempat kita berada, Gereja Grace Community ini, sangat mirip dengan jemaat Tesalonika. Gereja ini bukan gereja yang sama sekali tanpa masalah, tetapi merupakan gereja yang sehat dan utuh, dipenuhi orang-orang yang berkualitas dan berkomitmen untuk hidup menyenangkan hati Allah. Pertumbuhan rohani sedang terjadi. Kita masih berada dalam proses. Kita sedang bergerak ke arah yang benar. Karena itu, ketika Rasul Paulus menguraikan bagian terakhir surat ini, saya merasa bahwa ajaran ini sangat sesuai dengan keadaan gereja kita.

Ingatlah bahwa Paulus telah memuji jemaat Tesalonika beberapa kali dalam surat ini. Kembali ke pasal 1 ayat 2, ia berkata, "Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami." Ia bersyukur untuk mereka semua. Lalu pada ayat 3 ia menjelaskan alasannya, “Kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu.” Kemudian pada ayat 6 ia berkata, "Kamu mengikuti teladan kami dan teladan Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya." Lalu pada ayat 8 ia berkata, "Firman Tuhan telah bergema dari tengah-tengah kamu." Pada ayat 9 ia mengatakan, "Kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar." Dan pada ayat 10 ia berkata, "Kamu juga sedang menantikan Anak-Nya dari surga." Kemudian lagi dalam pasal 2 ayat 13 ia berkata, "Kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya." Lalu ia menambahkan, "Kamu mengikuti teladan jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, dan kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu." Mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berdedikasi. Mereka telah mempercayai kebenaran. Iman mereka nyata, kasih mereka kuat, dan pengharapan mereka teguh.

Di ayat 17, terlihat betapa Paulus mengasihi jemaat ini. Ia sangat rindu untuk bertemu dengan mereka secara langsung. Ia sudah lama menginginkannya. Ia bahkan telah berusaha datang kepada mereka. Lalu di ayat 19 ia berkata, "Kamulah pengharapanku, sukacitaku, dan mahkota kemuliaanku." Pada ayat 20 ia menambahkan, "Kamulah kemuliaanku dan sukacitaku." Kemudian dalam pasal 3 ayat 6, Timotius kembali dari kunjungannya dan membawa "kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu." Ayat 8 menunjukkan bahwa mereka tetap teguh berdiri di dalam Tuhan. Pada ayat 9 Paulus berkata, "Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?" Mereka adalah gereja yang baik. Mereka adalah gereja yang luar biasa. Mereka adalah gereja yang sangat baik. Mereka sedang bergerak ke arah yang benar. Mereka sedang bertumbuh dalam proses rohani. Namun demikian, dalam pasal 3 ayat 10 Paulus tetap dapat berkata, "Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu." Kalian sudah berjalan dengan baik, tetapi kalian masih bisa menjadi lebih baik. Kalian sudah berada di jalur yang benar, tetapi kalian masih bisa melangkah lebih jauh dan lebih cepat.

Tapi apa pun kekurangan rohani yang masih ada di Tesalonika, kekurangan itu tidak mengancam kehidupan gereja. Kekurangannya bukanlah sesuatu yang mematikan. Yang ada hanyalah ruang untuk bertumbuh lebih lagi. Jemaat ini adalah gereja yang sungguh-sungguh telah diselamatkan. Inilah gereja yang sedang dikuduskan. Mereka sedang bergerak menuju kehidupan yang semakin kudus. Ini adalah gereja yang berserah kepada Tuhan, tunduk pada pemerintahan Kristus, dan berusaha menjalankan tanggung jawab Kristen untuk melakukan kehendak Allah dengan sebaik-baiknya. Ini juga adalah gereja yang giat memenangkan jiwa, memberitakan Injil, dan menyebarkan Firman Tuhan ke mana-mana. Inilah gereja yang hidup dalam pengharapan akan Kedatangan Kristus yang kedua kali, yang menantikan kembalinya Yesus Kristus. Jika mempertimbangkan semuanya, inilah kelompok orang percaya yang mulia. Namun mereka masih bisa menjadi lebih baik. Mereka belum sampai pada tujuan akhir. Mereka belum sempurna. Masih ada proses yang harus dijalani. Masih ada kemajuan yang harus dicapai.

Dan meskipun mereka menantikan kedatangan Kristus, menantikan saat Dia mengumpulkan jemaat-Nya, dan menantikan penghakiman pada Hari Tuhan ketika Dia datang kembali, mereka tetap harus hidup dengan setia pada masa kini, terus berjalan di jalur pertumbuhan rohani. Karena itu, dalam ayat 12 sampai 22 kita menemukan serangkaian nasihat yang sangat jelas, langsung, dan praktis tentang bagaimana mereka harus hidup di dalam gereja, di sini dan saat ini. Dan saya percaya, saudara-saudara yang terkasih, bahwa ketika kita mempelajari bagian ini dengan saksama, kita juga akan menemukan pengajaran yang sangat berharga dan dorongan yang sangat menguatkan bagi hati kita sendiri.

Bagian ini terbagi ke dalam empat kategori. Pertama, tanggung jawab terhadap para pemimpin. Kedua, tanggung jawab satu sama lain sebagai saudara seiman. Ketiga, tanggung jawab dalam penyembahan kepada Allah. Dan keempat, tanggung jawab terhadap pelayanan Roh Kudus. Keempat aspek inilah yang akan dibahas. Namun untuk saat ini, kita hanya akan mulai dengan kategori yang pertama. Dalam memberikan petunjuk tentang bagaimana mereka harus hidup di dalam gereja agar dapat menjadi kawanan yang sehat, Paulus memulai dengan hubungan antara domba dan gembala. Mari kita melihat ayat 12. "Kami minta kepadamu, Saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain." Kita berhenti sampai di situ.

Kedua ayat ini berbicara tentang hubungan antara para pendeta dan jemaat, antara para gembala dan domba yang mereka layani. Dan, saudara-saudara yang terkasih, saya ingin mengatakan bahwa di sinilah kesehatan sebuah gereja dimulai. Tidak ada yang lebih merusak kemajuan rohani sebuah gereja daripada hubungan yang tidak sehat antara gembala dan dombanya. Anda tidak mungkin memiliki gereja yang sehat jika masalah seperti itu terjadi. Jika para gembala tidak menjalankan tanggung jawab rohani mereka dengan benar terhadap jemaat, dan jika jemaat tidak menjalankan tanggung jawab rohani mereka dengan benar terhadap para gembala, maka gereja tidak akan pernah menjadi seperti yang Allah kehendaki. Kehidupan gereja tidak boleh mengalami kerusakan di tingkat hubungan yang sangat penting ini. Hubungan yang kami miliki dengan Anda, dan yang Anda miliki dengan kami sebagai para pemimpin, merupakan hal yang sangat menentukan bagi kehidupan gereja. Dan sejujurnya, kehancuran yang sangat besar sering terjadi dalam gereja-gereja ketika kepercayaan, keyakinan, kasih, dan kedekatan antara gembala dan jemaat mulai rusak. Ketika integritas hilang, kredibilitas hilang, kepercayaan hilang, keyakinan hilang, kasih hilang, dan kehangatan hubungan hilang pada titik ini, maka kehidupan gereja itu mengalami kerusakan yang sangat serius. Meskipun hanya ada dua ayat yang membahas hal ini, kebenaran yang terkandung di dalamnya tersebar di seluruh isi Perjanjian Baru. Bahkan, sebenarnya kita bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menelusuri semua kebenaran yang terkandung dalam dua ayat ini. Faktanya, kita akan memerlukan dua minggu untuk membahas kedua ayat tersebut, dan itu pun sudah merupakan penyederhanaan. Bisa saja dibutuhkan dua bulan—atau bahkan dua tahun—untuk mengupas seluruh makna yang terkandung di dalamnya.

Apa pun keindahan yang dimiliki gereja, apa pun sukacita yang ada di dalam gereja, apa pun efektivitas pelayanan gereja, dan apa pun kuasa yang dinyatakan melalui gereja, semuanya pada awalnya bergantung pada hubungan antara para gembala dan dombanya, antara jemaat dan para pemimpinnya. Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa selama lebih dari 20 tahun saya melayani di Gereja Grace Community, ada saat-saatnya ketika hubungan ini mengalami keretakan dalam kehidupan sebagian orang. Ada masa-masa ketika beberapa gembala di Gereja Grace menjadi kekecewaan besar bagi jemaat, dan kerusakan hubungan yang terjadi pada titik itu telah menjadi trauma paling berat yang pernah dialami gereja ini. Ada juga masa-masa ketika jemaat menjadi kekecewaan besar bagi para gembala, dan sekali lagi, luka yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa seperti itu merupakan pengalaman paling menyakitkan yang pernah dialami gereja.

Jika gereja kami pernah mengalami kesulitan, jika pernah ada kekacauan dalam gereja kami, sekalipun dalam tingkat yang relatif kecil—dan biasanya memang tidak besar—ketika hal itu terjadi, penyebabnya adalah karena munculnya kekecewaan dan hilangnya kepercayaan dalam hubungan yang sangat penting ini. Ketika orang-orang, apa pun alasannya, kehilangan kepercayaan kepada para gembala mereka, atau ketika para gembala, apa pun alasannya, kehilangan kepercayaan kepada jemaat yang mereka layani, maka gereja akan mengalami kerusakan yang sangat serius. Hubungan ini sangat penting. Dan sangat jelas bahwa Rasul Paulus menekankan hal tersebut sebagai pokok yang sangat penting dalam kedua ayat ini.

Nah, yang perlu kita lakukan hanyalah memusatkan perhatian pada dua pokok utama—satu untuk pagi ini dan satu lagi untuk hari Minggu depan. Untuk pagi ini, mari kita membahas tanggung jawab para gembala terhadap domba-domba mereka—tanggung jawab para pemimpin terhadap jemaat yang mereka layani. Apa yang menjadi kewajiban kami terhadap Anda? Dengan menyadari bahwa berbagai masalah yang muncul dalam gereja, dalam satu bentuk atau bentuk lainnya, sering kali dapat ditelusuri kembali kepada hubungan ini, maka kita harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadapnya.

Lalu, apakah tanggung jawab para gembala terhadap domba-domba mereka? Anda dapat melihat garis besar pembahasan yang ada dalam lembar ibadah Anda. Saya telah mencantumkan tiga poin, karena itulah yang Paulus sampaikan. Kita akan mempelajarinya bersama. Namun sebelum itu, izinkan saya memberikan sedikit latar belakang. Ketika Perjanjian Baru berkembang dan pengajaran tentang gereja semakin jelas, kita dapat melihat dengan lebih terang siapa para pemimpin gereja itu. Para pemimpin gereja dikenali melalui empat gelar utama, empat istilah atau sebutan yang digunakan dalam Perjanjian Baru. Dan Anda tentu sudah cukup mengenalnya. Yang pertama adalah istilah yang sangat umum, yaitu "penatua" atau presbuteros. Istilah ini menggambarkan seorang pemimpin gereja sebagai pribadi yang ditandai oleh—perhatikan baik-baik—kedewasaan rohani dan hikmat rohani. Para pemimpin gereja adalah mereka yang telah matang secara rohani dan memiliki kebijaksanaan rohani. Istilah "penatua" digunakan berulang kali di seluruh Perjanjian Baru. Bahkan sejak masa-masa awal gereja dalam kitab Kisah Para Rasul, salah satu prioritas utama adalah memastikan bahwa setiap gereja memiliki penatua; yaitu orang-orang yang memiliki kedewasaan dan hikmat rohani untuk memimpin jemaat. Karakter yang harus dimiliki oleh orang-orang seperti ini dijelaskan dengan sangat jelas dalam 1 Timotius pasal 3 dan Titus pasal 1. Tugas-tugas mereka juga dijabarkan dengan sangat terang di berbagai bagian Perjanjian Baru. Karena itu, kita memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan seorang penatua: seorang pria yang matang secara rohani dan bijaksana secara rohani, yang diberi tanggung jawab untuk memimpin gereja.

Ada istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan orang ini, yaitu pemimpin gereja. Istilah itu adalah "penilik" atau "pengawas," yang dalam terjemahan bahasa Inggris lama sering diterjemahkan bishop. Dalam bahasa Yunani kata yang digunakan adalah episkopos, yang berarti mengawasi atau memperhatikan dari atas. Istilah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin gereja bukan hanya ditandai oleh kedewasaan dan hikmat rohani, tetapi juga oleh tanggung jawab pengawasan rohani dan otoritas rohani. Dalam istilah ini terkandung dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu pengawasan dan otoritas. Keduanya berjalan bersama. Sebagai contoh, istilah ini digunakan dalam 1 Timotius pasal 3 dan Titus pasal 1 untuk menggambarkan para pemimpin gereja. Mereka adalah para penilik atau pengawas. Kata yang sama juga digunakan dalam Filipi 1:1 dan Kisah Para Rasul 20:28.

Kemudian ada istilah ketiga yang juga sangat kita kenal, yaitu "gembala" atau pastor. Kata ini berasal dari bahasa Yunani poimēn, yang berarti gembala. Istilah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin gereja memiliki tanggung jawab untuk memberi makan dan melindungi kawanan domba secara rohani. Di sini penekanannya ada pada tugasnya untuk memberi makanan rohani kepada jemaat dan melindungi mereka dari serangan serigala-serigala rohani. Jadi, seorang pemimpin gereja ditandai oleh kedewasaan rohani, hikmat rohani, pengawasan rohani, otoritas rohani, pemberian makanan rohani, dan perlindungan rohani.

Ada juga istilah keempat yang digunakan. Istilah itu adalah hēgoumenois, yang secara harfiah berarti "orang-orang yang memimpin kamu." Kita bisa menerjemahkannya dengan kata "pemimpin." Istilah ini menunjukkan bahwa seseorang yang bertanggung jawab sebagai penatua, penilik, atau gembala harus memiliki kepekaan rohani dan kemampuan memberikan arahan rohani. Dengan kata lain, ia efektif sebagai pemimpin karena mampu menilai kondisi jemaat dengan benar, lalu menuntun mereka menuju keadaan yang lebih baik dan membimbing mereka berjalan di jalan yang benar.

Jadi, siapakah pemimpin gereja itu? Ia adalah seorang yang memiliki kedewasaan rohani dan hikmat rohani; seseorang yang menjalankan pengawasan rohani dan memiliki otoritas rohani; seseorang yang memberi makanan rohani dan perlindungan rohani kepada jemaat; seseorang yang mampu memahami kondisi rohani mereka dan memberikan bimbingan rohani untuk membawa mereka kepada keadaan yang lebih baik. Itulah seorang pemimpin gereja.

Karena itu, menempatkan para gembala seperti ini merupakan hal yang sangat penting dalam gereja mula-mula. Itulah sebabnya dalam Kisah Para Rasul 14:23 kita membaca bahwa Paulus menetapkan penatua-penatua di setiap kota. Sangat penting bagi setiap gereja untuk memiliki gembala-gembala yang dapat memberikan hikmat, kepekaan rohani, arahan, kepemimpinan, bimbingan, pengajaran, dan perlindungan. Semua hal itu termasuk dalam tanggung jawab mereka.

Nah, ada satu catatan penting mengenai jemaat Tesalonika. Kita semua tahu bahwa gereja ini baru berusia beberapa bulan saja, sehingga sebagian besar anggotanya adalah orang-orang yang baru percaya. Dalam jemaat seperti itu, bagaimana mungkin Anda menemukan penatua-penatua yang sudah matang secara rohani, penuh hikmat rohani, mampu mengajarkan kebenaran dengan mendalam, serta sanggup memberikan arahan yang bijaksana bagi masa depan? Bagaimana mungkin menemukan orang-orang seperti itu dalam jemaat yang masih sangat muda? Jawabannya, mungkin Anda tidak akan menemukannya—setidaknya Anda tidak akan menemukan orang-orang yang sudah mencapai tingkat kedewasaan penuh. Tetapi Anda akan menemukan orang-orang yang sedang bertumbuh dalam proses menuju ke sana. Memang, dalam surat ini tidak ada penyebutan tentang penatua, tidak ada penyebutan tentang penilik, tidak ada penyebutan tentang gembala, dan tidak ada penyebutan tentang pemimpin. Namun, dalam ayat 12 jelas disebutkan adanya orang-orang yang "memimpin" atau "bertanggung jawab atas kamu." Jadi, Paulus dengan otoritas kerasulannya, dipimpin oleh Roh Kudus, telah mengenali beberapa orang tertentu dan memberikan kepada mereka tanggung jawab kepemimpinan. Mereka bisa dikatakan sebagai "penatua dalam proses." Mereka belum menyandang gelar resmi itu, tetapi mereka telah diberikan tanggung jawab dan sedang bertumbuh ke arah tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa suatu hari mereka akan dikenal sebagai penatua, penilik, gembala, atau pemimpin. Meskipun belum memiliki gelar tersebut, mereka sedang belajar menjalankan peran-peran kepemimpinan. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Saya akan menjelaskan alasannya. Mereka semua adalah orang-orang yang baru percaya. Secara umum, usia rohani mereka hampir sama. Keadaan seperti itu membuat seseorang sulit mengambil peran kepemimpinan, karena orang lain tahu bahwa dari segi lamanya mengenal Tuhan, ia tidak lebih dewasa daripada mereka. Selain itu, kemungkinan besar sebagian besar anggota jemaat ini berasal dari kalangan rakyat biasa. Bahkan mungkin banyak di antara mereka adalah budak. Kemudian, ketika karena karunia rohani yang mereka miliki mereka dipilih dan dikenali oleh para rasul—melalui pekerjaan Roh Kudus—sebagai orang-orang yang diperlengkapi Allah untuk memimpin gereja, mereka datang dari latar belakang kehidupan yang tidak pernah membiasakan mereka menjadi pemimpin. Mereka tidak dibentuk oleh budaya mereka sebagai pemimpin. Mereka tidak memiliki posisi otoritas dalam masyarakat. Karena itu, mereka harus belajar tentang kepemimpinan, belajar tentang hikmat rohani, dan belajar tentang kedewasaan rohani, semuanya dalam satu proses pertumbuhan yang sama. Jadi, itu bukanlah tugas yang mudah.

Bisa saja pada waktu itu ada ketegangan tertentu di jemaat Tesalonika. Mungkin sebagian orang mempertanyakan mengapa orang-orang tertentu diberi tanggung jawab untuk memimpin mereka, sehingga mereka kurang bersedia tunduk kepada kepemimpinan tersebut. Situasi yang agak penuh gesekan seperti itulah yang tampaknya melatarbelakangi nasihat Paulus dalam beberapa ayat ini, ketika ia mendorong mereka untuk hidup dalam damai satu dengan yang lain. Ayat 14 menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang tidak tertib, ada yang tawar hati, ada yang lemah, dan ada pula yang membutuhkan kesabaran khusus dalam menghadapi mereka. Ayat 15 menunjukkan bahwa ada orang-orang yang membalas dengan kejahatan, dan Paulus mengingatkan agar jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jadi memang ada konflik di dalam gereja. Seperti yang sudah saya katakan, konflik itu tidak sampai mengancam kehidupan gereja atau bersifat mematikan, tetapi konflik itu memang ada. Dan konflik seperti itu dapat diselesaikan jika para gembala dan jemaat sama-sama menjalankan tanggung jawab mereka dengan benar.

Saudara yang terkasih, ketika terjadi konflik di dalam gereja, dan ketika gereja-gereja terpecah belah—sesuatu yang sayangnya sering terjadi—biasanya akar masalahnya berada pada tingkat hubungan ini. Karena itu Paulus ingin persoalan tersebut segera diselesaikan. Itulah sebabnya beberapa orang telah ditetapkan sebagai pemimpin. Ngomong-ngomong, tidak diragukan lagi bahwa Paulus sendiri yang menetapkan mereka, dan ia melakukannya di bawah pimpinan Roh Kudus. Dan saya ingin menegaskan bahwa meskipun sekarang kita tidak lagi memiliki rasul-rasul yang melakukan hal itu, penatua, gembala, penilik, dan pemimpin gereja tetap harus ditempatkan oleh Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang dapat membangkitkan gembala-gembala bagi sebuah gereja. Mereka bukan orang-orang yang mengangkat diri sendiri, seperti Diotrefes yang suka mencari kedudukan terkemuka. Mereka juga bukan dipilih semata-mata melalui pemungutan suara yang populer. Sekelompok gembala yang saleh dalam sebuah gereja akan dikenali oleh jemaat karena begitu jelas terlihat bahwa mereka adalah orang-orang yang kudus, dipimpin oleh Roh Kudus, dikaruniai Allah, dan memang menjalankan fungsi kepemimpinan rohani tersebut. Kita memang tidak memiliki rasul untuk mengenali mereka pada masa kini, tetapi kita memiliki para penatua dan gembala yang dewasa secara rohani untuk mengenali orang-orang lain yang dipanggil Tuhan. Bahkan jemaat pun dapat melihat dan menilai hal itu. Karena itulah, sekali setahun kami memberi kesempatan kepada Anda untuk memberitahukan kepada kami siapa di antara jemaat yang telah menunjukkan kemampuan dan pelayanan seorang gembala.

Karena hubungan ini masih sangat baru di jemaat Tesalonika, dan karena mereka sedang bertumbuh dengan begitu baik, Paulus tidak ingin membesar-besarkan persoalannya. Ia juga tidak ingin berbicara seolah-olah ada cacat yang fatal dalam gereja itu. Karena itulah kata-kata pembuka pada ayat 12 terdengar sangat lembut. Perhatikan ayat 12, "Kami minta kepadamu, Saudara-saudara..." Sebuah ungkapan yang sangat ramah dan penuh kehangatan. Ini adalah pendekatan yang lembut dari sang rasul. Di sini tidak ada nada perintah keras yang kadang-kadang ia gunakan sebagai seorang rasul. Sebaliknya, ini lebih menyerupai permohonan seorang sahabat. Ngomong-ngomong, Paulus juga menggunakan ungkapan yang sama dalam pasal 4 ayat 1. Sekali lagi, ia tidak sedang mengancam mereka karena mereka memang sedang berjalan dengan baik. Yang ia katakan di sini pada dasarnya adalah: "Hubungan antara para gembala dan jemaat sudah berjalan dengan baik. Kalian sedang melakukannya dengan baik. Saya hanya ingin mendorong kalian untuk melakukannya dengan lebih baik lagi." Jadi yang kita temukan di sini adalah sebuah permintaan yang lembut, bukan suatu ancaman.

Sekarang mari kita melihat poin yang pertama. Apa tanggung jawab seorang gembala terhadap domba-dombanya? Atau lebih tepatnya, apa saja tanggung jawab para gembala terhadap jemaat yang mereka layani? Yang pertama: para gembala memiliki tanggung jawab untuk bekerja keras di tengah-tengah jemaat. Perhatikan ayat 12 dan frasa ini: "mereka yang bekerja keras di antara kamu." Inilah tanda pertama yang mengidentifikasi para gembala, para penatua, para pemimpin, atau para penilik yang sedang bertumbuh dalam peran mereka. Mereka adalah orang-orang yang "bekerja keras di antara kamu." Ungkapan itu sebenarnya cukup jelas dan tidak memerlukan banyak penjelasan, hanya beberapa keterangan tambahan. Di sini Paulus kembali menggunakan kata kopiaō, sebuah kata yang sangat sering ia pakai. Kata ini berarti bekerja sampai berkeringat dan kelelahan, mengerahkan tenaga dengan sungguh-sungguh, bekerja sampai benar-benar letih. Dengan kata itu Paulus menggambarkan seorang gembala sebagai orang yang bekerja dengan tekun, yang melayani sampai menguras tenaga, sampai berkeringat dan kelelahan di tengah-tengah umat yang dilayaninya. Itulah ruang lingkup pelayanannya. Tanggung jawabnya bukan berada di luar gereja atau melayani dari kejauhan. Pelayanannya harus terlibat secara dekat dan nyata dengan kehidupan jemaat. Sebagaimana seorang gembala hidup dekat dengan domba-dombanya, atau seorang ayah hidup dekat dengan keluarganya, demikian pula seorang pemimpin rohani harus hadir bersama umat yang dilayaninya. Ia berada di antara mereka, di tengah-tengah mereka, berjalan bersama mereka, dan bekerja bersama mereka dalam pelayanan rohani. Apa yang ia lakukan? Ia menjelaskan Injil. Ia mengajarkan kebenaran. Ia menerapkan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan mereka. Ia memperingatkan mereka ketika mereka berada dalam bahaya rohani. Ia menasihati mereka. Ia membimbing mereka. Ia menolong mereka. Anda tentu ingat bahwa dalam Kisah Para Rasul 20, Paulus melayani dari rumah ke rumah, dari rumah ke rumah. Ia mengajarkan perkara-perkara Allah dengan dedikasi dan usaha yang luar biasa. Ia menyentuh kehidupan pribadi orang-orang, mencurahkan hidupnya bagi kawanan domba yang telah Allah percayakan kepadanya, sama seperti yang akan dilakukan oleh setiap gembala yang setia.

Mari kita kembali sejenak ke pasal 2 ayat 9, agar kita dapat melihat lebih dalam pola pelayanan Paulus. "Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu." Ketika Paulus datang ke Tesalonika, belum ada gereja yang dapat mendukung pelayanannya. Belum ada jemaat yang bisa mengumpulkan persembahan untuk menopang kehidupannya. Ia harus bekerja dengan tangannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia harus bekerja siang dan malam untuk mencukupi dirinya sendiri dan juga rekan-rekan yang melayaninya bersama-sama. Setelah itu, ia masih harus mencurahkan seluruh tenaganya untuk merintis dan membangun sebuah gereja. Paulus tahu apa artinya bekerja keras. Ia tahu apa artinya berkorban dalam pelayanan. Ia tahu apa artinya memberikan dirinya sepenuhnya—bahkan menghabiskan dirinya sendiri—demi menjangkau orang-orang itu. Kemudian, dalam 1 Tesalonika 2 ayat 7, ia menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang menyusui dan merawat anak-anaknya dengan penuh kelembutan. Dan, saudara- yang terkasih, seperti yang kita semua ketahui, merawat bayi yang masih menyusu bukanlah pekerjaan yang mengenal jam kerja. Itu adalah tugas yang berlangsung terus-menerus, 24 jam sehari. Demikianlah Paulus memperlakukan jemaat yang dilayaninya, sama seperti seorang ibu yang menyusui bayinya sendiri.

Kemudian, dalam pasal yang sama, Paulus berbicara tentang hubungannya dengan jemaat sebagai seorang ayah. Ia membawa Firman Tuhan sampai kepada tingkat kehidupan sehari-hari mereka dan menerapkannya secara pribadi dalam kehidupan masing-masing. Lalu dalam 2 Tesalonika pasal 3, Paulus menulis dalam surat keduanya kepada mereka bahwa mereka harus menjauhkan diri "dari setiap saudara seiman yang tidak melakukan pekerjaannya dan tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan cuma-cuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti."

Seorang gembala harus bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh. Perhatikan, pada dasarnya seorang gembala meminta orang-orang yang bekerja mencari nafkah untuk juga menyerahkan hidup mereka bagi pelayanan gereja. Mereka harus melakukan keduanya sekaligus. Paulus berkata bahwa jika ia ingin mengajar mereka bagaimana cara menjalani kedua tanggung jawab itu, maka ia sendiri harus memberikan teladan dengan melakukan keduanya juga. Memang, Tuhan tidak memanggil semua orang untuk melayani dengan cara yang persis sama seperti Paulus. Namun, sekalipun kita tidak dipanggil untuk menjalani pola pelayanan seperti yang ia lakukan, kita tetap dipanggil untuk memiliki ketekunan yang sama, sehingga hidup kita dicurahkan untuk pelayanan.

Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tahu bahwa jika ia ingin menjadi pemimpin yang setia, maka ia harus memberikan teladan dalam tingkat usaha, pengorbanan, kerja keras, dan jerih lelah yang memang diperlukan dalam pelayanan. Perhatikan kembali pernyataannya yang sangat indah dalam 2 Tesalonika 3, ketika ia berkata, "Kami tidak hidup secara tidak tertib." Satu-satunya cara untuk bekerja keras dan menghasilkan buah yang nyata adalah dengan hidup disiplin. Pelayanan yang efektif menuntut kehidupan yang disiplin—kehidupan yang tertata dengan baik dan berada di bawah pengendalian diri. Kemudian dalam 2 Tesalonika 3:13, Paulus memberikan petunjuk yang sangat baik ketika ia berkata, "Janganlah jemu-jemu berbuat baik." Tetaplah menjaga semangat dan tenaga Anda. Tetaplah bekerja keras, bahkan sampai berkeringat dan kelelahan.

Untuk dapat melakukan semua itu dengan benar, seseorang harus memiliki disiplin yang sangat tinggi. Gembala yang setia bukanlah orang yang hidup tanpa disiplin lalu sekadar muncul pada hari Minggu. Gembala yang setia adalah orang yang hidupnya tertata dan terkendali, sehingga ia dapat mencurahkan seluruh hidupnya bagi kawanan domba yang telah Allah percayakan kepadanya. Prinsip ini diulang berkali-kali dalam Perjanjian Baru, tetapi mungkin tidak ada yang mengungkapkannya lebih baik daripada Paulus dalam Kolose 1:28. Di sana ia berkata, "Dialah yang kami beritakan bilamana tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus." Ini adalah tujuan yang luar biasa besar. Paulus tidak berkata, "Saya hanya berusaha supaya orang diselamatkan dengan susah payah lalu selesai. Saya hanya berusaha membawa mereka masuk ke dalam pintu keselamatan." Tidak. Ia berkata, "Saya menasihati setiap orang dan mengajar setiap orang dengan segala hikmat supaya saya dapat membawa setiap orang menjadi dewasa dan sempurna di dalam Kristus." Dengan kata lain, Paulus tidak puas hanya melihat orang diselamatkan. Ia tidak puas dengan kehidupan rohani yang setengah-setengah. Ia ingin melihat mereka bertumbuh sampai mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Di sini Paulus kembali menggunakan kata kopiaō. Ia bekerja sampai berkeringat dan kelelahan. Pelayanan baginya sesuatu yang menguasai seluruh hidupnya dan menghabiskan seluruh tenaganya.

Seorang gembala yang setia mengenal domba-dombanya. Ia menyentuh kehidupan mereka dan mencurahkan seluruh hidupnya bagi mereka. Itulah panggilannya. Itulah tugasnya. Itulah tanggung jawabnya. Namun, ada begitu banyak orang dalam pelayanan yang memberikan begitu sedikit kepada gereja yang mereka layani. Mereka lebih banyak menerima daripada memberi. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berbagai tempat dan berbagai kegiatan lain, sementara perhatian yang seharusnya diberikan kepada jemaat menjadi berkurang. Dalam 1 Timotius 4:10 Paulus berkata, "Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia." Sekali lagi ia menggunakan kata kopiaō dan agōnizomai. Kami bekerja sampai berkeringat dan kelelahan. Kami bergumul dengan sungguh-sungguh karena ini adalah perkara-perkara yang bernilai kekal.

Pelayanan merupakan pekerjaan yang menuntut usaha yang besar. Paulus berulang kali menceritakan penderitaan dan perjuangan yang menyertai pelayanannya. Ia berbicara tentang berbagai kesulitan yang harus dihadapinya. Bukan karena ia mengeluhkan tanggung jawab itu, melainkan karena ia jujur mengenai betapa beratnya tugas tersebut. Namun ada satu pernyataan yang sangat menarik dalam 1 Korintus 15:10. Setelah memikirkan semua orang lain yang telah berkhotbah dan melayani, Paulus berkata, "Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua." Tetapi kemudian ia segera memberikan seluruh kemuliaan kepada kasih karunia Allah yang bekerja di dalam dirinya. Kadang-kadang sulit menjelaskan kepada para pemuda yang sedang dipersiapkan menjadi gembala bahwa perbedaan antara pelayanan yang sangat efektif dan pelayanan yang biasa-biasa saja terletak pada satu hal: kerja keras. Tidak ada rahasia tersembunyi. Tidak ada rumus ajaib. Yang ada adalah kerja keras dan kesungguhan. Saya teringat kata-kata Amy Carmichael. Ia menulis: "Ya Allah, keraskanlah aku terhadap diriku sendiri, terhadap diriku yang pengecut, yang dengan suara memelas selalu mendambakan kenyamanan, istirahat, dan kesenangan. Diriku sendiri adalah pengkhianat terbesar terhadap diriku, sahabat yang paling kosong, musuh yang paling mematikan, beban yang menghambat setiap langkahku." Betapa benarnya kata-kata itu. Jika seseorang tidak dapat mengalahkan dirinya sendiri—melawan kecenderungannya untuk malas, acuh tak acuh, atau mencari kenyamanan—maka ia tidak akan pernah memiliki kehidupan yang disiplin. Dan tanpa disiplin, tidak akan ada pengerahan tenaga dan kesungguhan yang diperlukan untuk menghasilkan pelayanan yang sungguh-sungguh efektif.

Hal ini bukan hanya menjadi teladan, tetapi juga menjadi pola pelayanan seorang hamba yang harus menjadi ciri setiap gembala. Keberhasilan dalam kepemimpinan datang kepada mereka yang bersedia bekerja sampai kelelahan—dengarkan baik-baik—demi tujuan-tujuan yang cukup besar sehingga menuntut pengorbanan total. Jika tujuan yang hendak dicapai begitu besar dan mulia, bagaimana mungkin kita memberikan yang kurang dari seluruh diri kita? Seseorang pernah berkata, "Sebuah salib, ya, sebuah salib berdiri di jalan menuju kepemimpinan rohani; sebuah salib tempat seorang pemimpin harus rela dipakukan." Tentang seorang pemimpin lain pernah dikatakan, "Ia termasuk golongan para martir mula-mula yang jiwanya yang berkobar-kobar menjadikan tubuh jasmaninya sebagai korban bakaran yang dipersembahkan lebih awal." Richard Baxter juga benar ketika ia berkata, "Ini bukan beban yang dapat dipikul oleh bahu seorang anak kecil." Dibutuhkan seorang pria sejati—dalam arti penuh dan utuh—untuk memikul tanggung jawab berupa kerja keras yang dituntut dalam pelayanan kepada kawanan domba Allah. Dan mungkin benar jika dikatakan bahwa dunia ini dijalankan oleh orang-orang yang lelah, dan demikian juga gereja.

Tapi, tentu ada keseimbangan yang perlu dijaga. Saya teringat kisah Robert Murray M’Cheyne, seorang pelayan Tuhan dari Skotlandia. Ketika ia sedang menghadapi ajalnya pada usia 29 tahun, ia menoleh kepada seorang sahabat yang duduk di samping tempat tidurnya dan berkata, "Aku telah membunuh kudanya, dan sekarang aku tidak dapat lagi menyampaikan pesannya." Ada titik tertentu di mana seseorang mungkin melangkah terlalu jauh dan menguras dirinya secara berlebihan. Namun demikian, tugas seorang gembala di dalam gereja memang menuntut kerja keras yang melelahkan di tengah-tengah jemaat. Tanggung jawabnya adalah memberikan dirinya sebagai seorang pelayan bagi domba-domba yang dipercayakan kepadanya, memenuhi kebutuhan mereka dalam setiap bidang yang ia mampu layani. Tentu sebagian dari tugas itu melibatkan pendelegasian dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain, tetapi tetap saja pekerjaan itu harus diselesaikan.

Kedua, seorang gembala bukan hanya memiliki tanggung jawab untuk bekerja keras di tengah-tengah jemaat, tetapi juga memiliki otoritas atas jemaat. Hal itu dinyatakan dengan sangat jelas. Perhatikan kembali ayat 12: "mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan." Ungkapan "memimpin kamu" berasal dari kata Yunani proistēmi, yang berarti berdiri di depan, memimpin, mengarahkan, atau memegang tanggung jawab atas orang lain. Kata ini digunakan beberapa kali dalam 1 Timotius pasal 3, yaitu pada ayat 4, 5, dan 12, serta dalam 1 Timotius 5:17 untuk menggambarkan para penatua, gembala, dan pemimpin gereja. Maknanya jelas: memegang tanggung jawab kepemimpinan dan menjalankan otoritas. Dan itu adalah otoritas yang didelegasikan oleh Kristus. Namun sebagai para gembala bawahan—di bawah Sang Gembala Agung, sebagaimana Petrus menyebut-Nya—kami berdiri mewakili Kristus dalam tugas kepemimpinan yang telah dipercayakan-Nya kepada kami.

Kami memimpin, mengarahkan, dan membimbing Anda. Kami memiliki tanggung jawab untuk memberikan hikmat rohani, perlindungan rohani, arahan rohani, dan bimbingan rohani. Menjadi tanggung jawab para pemimpin untuk memperhatikan seluruh aspek kesehatan rohani gereja. Mereka harus membantu membentuk semangat dan moral jemaat, menetapkan nada dan arah kehidupan rohani gereja, serta mengupayakan kesatuan yang sehat dan berfungsi dengan baik. Mereka juga bertanggung jawab menangani persoalan-persoalan yang muncul dalam hubungan antarjemaat dan berbagai pergumulan hidup yang dihadapi orang-orang. Mereka harus berusaha menyelesaikan masalah dengan mengenali masalah yang ada, menilai berbagai pilihan yang tersedia, menemukan solusi yang tepat, dan memimpin proses perubahan yang diperlukan. Selain itu, mereka bertanggung jawab melakukan perencanaan yang bijaksana, menyusun strategi pelayanan, melakukan penilaian dan evaluasi, memberikan koreksi jika diperlukan, serta menemukan cara-cara yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan rohani. Singkatnya, tanggung jawab untuk menyediakan kepemimpinan rohani itu ada pada para gembala. Mereka memegang tanggung jawab kepemimpinan atas jemaat yang Tuhan percayakan kepada mereka.

Perhatikan frasa kecil yang sangat penting itu: "dalam Tuhan." Kami bukan orang-orang yang mengangkat diri kami sendiri. Kepemimpinan ini bukan hasil buatan manusia. Anda tidak memberikan otoritas itu kepada kami, dan kami juga tidak mengambilnya untuk diri kami sendiri. Otoritas itu bukan berasal dari manusia. Kami dipanggil, diperlengkapi, dan ditetapkan oleh Allah. Tugas kami adalah memimpin demi Tuhan, demi kepentingan-Nya, bukan demi kekuasaan pribadi, prestise pribadi, keuntungan pribadi, atau kemajuan karier pribadi. Frasa "dalam Tuhan" menunjukkan lingkup di mana otoritas kami berada. Otoritas kami berasal dari Dia. Dialah yang mendelegasikannya kepada kami. Kami hanya memiliki otoritas sejauh kami taat kepada Firman-Nya dan kehendak-Nya. Otoritas yang kami miliki adalah otoritas yang didelegasikan. Itu bukan milik kami sendiri, dan tidak dapat melampaui apa yang dinyatakan Tuhan melalui Firman-Nya dan melalui pekerjaan Roh-Nya. Jadi, kami memang diberikan otoritas, tetapi hanya "dalam Tuhan", tidak lebih dari itu.

Saya sudah sering mengatakan kepada Anda bahwa ketika Anda membawa saya keluar dari Firman Tuhan dan penerapannya dalam kehidupan gereja, saya tidak memiliki otoritas apa pun. Otoritas saya hanya ada "dalam Tuhan." Otoritas itu diberikan kepada saya untuk dijalankan melalui Firman Tuhan dan melalui pimpinan Roh Kudus yang menerapkan Firman itu dalam kehidupan gereja. Karena itu, kami memikul tanggung jawab pengawasan yang sangat besar. Petrus berkata dalam 1 Petrus 5 bahwa para gembala tidak boleh memerintah jemaat dengan tangan besi. Kami tidak boleh mendominasi Anda. Dalam Injil Lukas dikatakan bahwa para penguasa bangsa-bangsa lain suka menguasai orang-orang di bawah mereka. Tetapi kepemimpinan Kristen bukanlah seperti itu melainkan otoritas yang penuh kasih, lembut, dan didelegasikan oleh Allah bukan untuk melayani kepentingan pemimpin, melainkan untuk melayani jemaat; bukan bertujuan meninggikan pemimpin, melainkan membangun dan mengangkat umat Tuhan.

Jadi, tanggung jawab para gembala adalah bekerja keras di tengah-tengah jemaat untuk melayani kebutuhan mereka, dan pada saat yang sama menjalankan otoritas rohani atas mereka. Artinya, memimpin mereka ke arah yang benar, menegur dan memperbaiki ketika diperlukan, membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka, menciptakan kesatuan dan keharmonisan, mempersatukan orang-orang yang terpecah, memulihkan hubungan-hubungan yang rusak, memberikan arah yang jelas, serta menetapkan nada dan suasana kehidupan rohani gereja. Semua itu termasuk dalam tanggung jawab seorang gembala.

Dan yang ketiga, sekaligus yang terakhir—dan ketiga hal ini sangat sederhana dan langsung—di akhir ayat 12 Paulus berkata, "dan yang menegur kamu." Tanggung jawab ketiga para gembala terhadap jemaat adalah memberikan pengajaran dan nasihat kepada mereka. Jadi, ada kerja keras di tengah-tengah jemaat, ada kepemimpinan atas jemaat, dan ada pengajaran bagi jemaat. Kata ini berasal dari kata kerja Yunani noutheteō, yang dalam banyak bagian Perjanjian Baru diterjemahkan sebagai "menegur" atau "menasihati." Anda pasti sudah sering menjumpai kata "menasihati" atau "menegur" dalam Alkitab Anda. Pada dasarnya kata ini berarti memberikan pengajaran, tetapi pengajaran yang bertujuan untuk memperbaiki. Kata ini mengandung gagasan seperti ini: "Jika kamu terus berjalan ke arah itu, kamu akan mengalami masalah. Kamu perlu berbalik dan berjalan ke arah yang benar." Jadi ini bukan pengajaran yang bersifat teoritis, akademis, atau sekadar penyampaian informasi. Ini bukan hanya memberikan data atau pengetahuan. Ini adalah pengajaran yang bertujuan mengubah hidup seseorang dan membawanya kepada koreksi yang diperlukan. Saya sering mengatakan kepada para pemuda yang sedang belajar berkhotbah bahwa setiap khotbah harus bertujuan menghasilkan perubahan. Setiap khotbah harus membawa orang kepada sebuah keputusan. Setiap khotbah harus membuat seseorang berkata, "Saya berada di sini, tetapi saya seharusnya berada di sana. Inilah yang perlu saya lakukan." Itulah tujuan dari setiap pemberitaan Firman. Pada prinsipnya, setiap khotbah harus membawa orang melihat seperti apa seharusnya mereka hidup, menyadarkan mereka akan apa yang masih kurang dalam diri mereka, dan mendorong mereka bergerak menuju apa yang Allah kehendaki. Karena itu, pengajaran seperti ini selalu mengandung unsur peringatan, unsur koreksi, dan unsur pengarahan menuju kehidupan yang kudus. Kata yang sama digunakan dalam 1 Korintus 4:14 untuk menggambarkan bagaimana seorang ayah mendidik anak-anaknya yang dikasihi. Paulus berkata kepada jemaat Korintus bahwa ia mengajar mereka seperti seorang ayah yang mengajar anak-anak yang sangat dikasihinya. Ia menasihati mereka. Seorang ayah yang baik dengan lembut dan penuh kasih mengarahkan anak-anaknya menjauhi hal-hal yang akan melukai mereka dan menuju hal-hal yang akan membawa kebaikan bagi mereka. Dan tentu saja, sumber dari semua pengajaran dan nasihat itu adalah Firman Allah, bukan?

Karena itu, para gembala harus menjadi pengajar yang terampil. Nah, dari semua syarat yang disebutkan dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1, hanya ada satu keterampilan khusus yang secara eksplisit dituntut dari seorang pemimpin gereja. Di tengah begitu banyak persyaratan karakter, hanya ada satu keterampilan yang disebutkan, yaitu bahwa ia harus "cakap mengajar." Demikian yang dikatakan dalam 1 Timotius 3:2. Artinya, ia harus menjadi seorang pengajar yang terampil. Dalam 1 Timotius 4:6 dan 1 Timotius 4:16, Paulus kembali menegaskan betapa pentingnya tanggung jawab mengajar dalam pelayanan seorang pemimpin gereja. Para pemimpin dan gembala gereja harus menjadi pengajar yang terampil. Mengapa demikian? Mari kita melihat Titus 1:9. Di sana dikatakan bahwa seorang pemimpin gereja harus "berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat." Dengan kata lain, ia harus berpegang teguh pada Firman yang benar sesuai dengan doktrin yang sehat. Tujuannya jelas: supaya ia dapat mengajarkan kebenaran. Ayat itu kemudian melanjutkan, "Supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya." Anda ingin menguatkan dan mendorong orang-orang yang telah menerima kebenaran agar hidup sesuai dengan kebenaran itu. Anda juga akan menghadapi mereka yang menolak atau menyimpang dari kebenaran, dan menolong mereka meninggalkan kesalahan mereka dan menerima kebenaran Allah. Karena itulah, pelayanan pengajaran seorang gembala harus dibangun di atas pengenalan akan kebenaran Firman Tuhan serta kemampuan untuk menerapkan kebenaran itu.

Paulus berkata bahwa ada banyak orang yang memberontak, suka berbicara kosong, dan menyesatkan orang lain. Mereka harus dibungkam. Lalu pertanyaannya, siapa yang harus membungkam mereka? Para gembala yang harus melakukannya, melalui kekuatan dan kuasa Firman Tuhan, dengan kemampuan untuk menyanggah kesalahan mereka menggunakan kebenaran Alkitab. Dalam Efesus 4 dikatakan bahwa para pemimpin rohani diberikan kepada gereja untuk membangun orang-orang kudus. Lalu bagaimana orang percaya dibangun? Melalui Firman Tuhan. Kisah Para Rasul 20:32 mengatakan bahwa Firman Allah sanggup membangun atau meneguhkan kita.

Jadi, jika Firman Tuhan adalah sarana yang membangun jemaat, dan tugas saya adalah membangun jemaat, maka saya harus memberikan Firman Tuhan kepada jemaat. Saya harus terampil dalam melakukannya, sehingga Firman itu disampaikan dengan cara yang memberikan dampak yang kuat dalam kehidupan Anda. Saya juga harus mampu menyampaikan kebenaran sedemikian rupa sehingga mereka yang menolak kebenaran dihadapkan pada argumen-argumen yang tidak dapat disangkal. Dan jika ada satu hal—izinkan saya berbicara secara pribadi—jika ada satu hal dalam hidup saya yang benar-benar mendorong dan menguasai pelayanan saya lebih daripada hal-hal lain, maka itu adalah pandangan saya terhadap Kitab Suci. Karena saya percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang kudus, tidak mungkin salah, dan diilhamkan oleh Allah, maka Alkitab begitu sakral bagi saya sehingga selalu ada rasa takut yang besar dalam hati saya untuk tidak pernah menyalahartikan Firman itu atau mengabaikan satu pun dari kebenaran yang terkandung di dalamnya. Saya menyadari bahwa setiap kata di dalamnya murni. Setiap kata berasal dari pikiran Allah dan diberikan kepada kita melalui halaman-halaman Kitab Suci untuk membangun kehidupan rohani kita dengan satu cara atau yang lain. Karena itu, saya harus berkomitmen untuk mengajarkan seluruhnya. Sering kali orang bertanya, "Mengapa Anda membahas setiap ayat, setiap frasa, bahkan setiap kata?" Jawabannya sederhana: karena semuanya berasal dari Allah. Siapakah saya sehingga saya berhak menyunting apa yang Allah katakan? Saya bukan editor Allah. Bahkan, saya juga bukan penafsir yang berdiri di atas Firman Allah. Saya harus membiarkan Kitab Suci menafsirkan Kitab Suci. Saya harus membiarkan Allah menjelaskan Firman-Nya sendiri.

Jadi, hal yang mendorong dan menguasai hidup saya adalah pandangan saya terhadap Kitab Suci. Dan tentu saja, di balik itu ada pandangan saya tentang Allah sebagai Allah yang kudus, yang telah menyampaikan Firman-Nya agar Firman itu diberitakan kepada manusia. Karena itu, tugas kami bukan hanya bekerja keras di tengah-tengah jemaat dan menjalankan kepemimpinan rohani atas jemaat, tetapi juga mengajar jemaat. Dan pengajaran itu harus dilakukan dengan keterampilan yang sungguh-sungguh. Dengarkan apa yang dikatakan Richard Baxter beberapa abad yang lalu: "Untuk berkhotbah satu kali saja, betapa besar keterampilan yang diperlukan untuk menjelaskan kebenaran dengan jelas, meyakinkan para pendengar, membiarkan terang yang tak terbantahkan masuk ke dalam hati nurani mereka dan tetap tinggal di sana, serta membawa seluruh kebenaran itu sampai kepada sasarannya; menanamkan kebenaran ke dalam pikiran mereka dan menaruh Kristus ke dalam kasih mereka; menjawab setiap keberatan dan menyelesaikannya dengan jelas; membawa orang berdosa pada titik di mana mereka menyadari bahwa tidak ada harapan lain selain mereka harus bertobat atau binasa; dan melakukan semua itu dengan bahasa dan gaya yang sesuai dengan tugas kita, namun tetap dapat dipahami oleh para pendengar. Semua ini, dan masih banyak lagi yang seharusnya terjadi dalam setiap khotbah, tentu membutuhkan keterampilan rohani yang besar."

Kemudian ia melanjutkan: "Allah yang begitu agung, yang pesannya kita sampaikan, seharusnya dihormati melalui cara kita menyampaikan pesan-Nya. Sungguh menyedihkan jika dalam menyampaikan berita dari Allah yang memiliki dampak kekal bagi jiwa manusia, kita bertindak dengan begitu lemah, begitu tidak pantas, begitu tidak bijaksana, atau begitu sembarangan, sehingga seluruh tugas itu gagal di tangan kita. Akibatnya Allah tidak dihormati, pekerjaan-Nya dipermalukan, dan orang-orang berdosa justru menjadi lebih keras hati daripada bertobat. Dan semua itu terjadi karena kelemahan atau kelalaian kita sendiri." Lalu ia menambahkan: "Betapa sering orang-orang duniawi pulang sambil mengejek kesalahan-kesalahan yang begitu nyata dan memalukan dari seorang pengkhotbah. Betapa banyak orang tertidur ketika mendengarkan kita, karena hati dan lidah kita sendiri sedang tertidur, dan kita tidak datang dengan keterampilan dan semangat yang cukup untuk membangunkan mereka."

Tidak ada raja, tidak ada presiden, tidak ada politikus, tidak ada dokter, tidak ada pengacara, tidak ada hakim, dan tidak ada komandan militer di dunia ini yang memikul tanggung jawab sebesar orang yang menggembalakan umat Tuhan dengan memberikan pengajaran dari Firman Allah. Menyalahgunakan panggilan itu merupakan kesalahan yang sangat mengerikan dan menakutkan.

Jadi, apakah tanggung jawab seorang gembala terhadap jemaat? Jawabannya sangat sederhana: bekerja di tengah-tengah jemaat, memimpin mereka dengan otoritas yang diberikan Allah, menuntun mereka di jalan yang telah Allah tetapkan, dan terus-menerus memberi mereka makanan rohani berupa kebenaran Firman Tuhan yang mengajar mereka menjauhi jalan dosa dan hidup dalam kekudusan. Para gembala yang setia harus menjalankan tanggung jawab itu dengan sungguh-sungguh.

Sekarang waktu kita sudah habis, tetapi minggu depan giliran Anda. Mari kita berdoa.

Bapa, kami bersyukur untuk waktu yang boleh kami lalui bersama pagi ini dan untuk dampak dari kebenaran-Mu dalam hidup kami. Jadikanlah kami gembala-gembala yang setia bagi domba-domba-Mu yang begitu berharga ini. Dan pada hari-hari yang akan datang, bangkitkanlah lebih banyak lagi gembala yang setia, ya Tuhan, supaya kawanan-Mu menjadi seperti yang Engkau kehendaki.

Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan, bahwa gereja memang seperti bahtera Nuh. Memang demikian, tetapi bukan karena bau yang ada di dalamnya. Gereja seperti bahtera Nuh karena merupakan tempat perlindungan dan keamanan, tempat persekutuan dan pemeliharaan. Dan jika pun ada kekurangan di dalamnya, itu jauh lebih baik daripada kebinasaan yang ada di luar. Terima kasih karena Engkau telah menjadikan kami bagian dari gereja-Mu. Kiranya kami mengasihi gereja-Mu, karena Engkau sendiri telah mengasihinya dan menyerahkan hidup-Mu baginya. Kiranya kami mengasihinya sedemikian rupa sehingga kami menjadi gembala-gembala yang setia dan domba-domba yang setia sampai Yesus datang kembali. Dalam nama-Nya kami berdoa. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize