Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Mari kita buka Firman Tuhan di Injil Lukas pasal 23; Lukas 23. Dalam pembelajaran kita tentang Injil yang luar biasa ini, sekarang kita sampai pada kisah yang sangat singkat tentang kematian Yesus Kristus yang sebenarnya. Kisahnya terdapat dalam ayat 44 sampai 46; izinkan saya membacakannya untuk Anda. “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas dan kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua.  Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Sesudah berkata demikian Ia menghembuskan napas terakhir-Nya.” Sampai titik ini dalam kisah penyaliban Yesus Kristus, Anda mungkin berpikir bahwa Dia hanyalah korban ketidakadilan dan kekejaman manusia. Dalam rangkaian pengadilan penuh ejekan yang harus Ia alami, baik dari pihak Yahudi maupun Romawi, berkali-kali telah ditegaskan bahwa Ia tidak bersalah, namun tetap saja Dia dijatuhi hukuman mati. Peristiwa ini seharusnya dianggap sebagai salah satu tindakan paling tidak adil dalam sejarah, yang pernah dilakukan terhadap seorang manusia oleh pengadilan mana pun. Bahkan lebih dari itu, ini merupakan tindakan manusia yang paling tidak adil karena Kristus memang sama sekali tidak berdosa.

Apa yang terjadi adalah tindakan terburuk yang pernah dilakukan manusia - kejahatan terbesar yang pernah dilakukan umat manusia. Ketidakadilannya begitu mencolok, dan diikuti oleh kekejaman yang sama jahatnya. Yesus dijadikan bahan ejekan, yang dipermalukan dengan olok-olok bahwa Ia adalah seorang raja. Lalu para prajurit Romawi, mengikuti jejak para pemimpin agama Yahudi, mereka menekan mahkota duri di atas kepala-Nya sebagai mahkota kerajaan palsu, mengenakan jubah ungu pada-Nya, meletakkan tongkat kerajaan pura-pura di tangan-Nya, lalu mengejek-Nya dengan menyebut-Nya raja dalam nada penuh cemoohan dan sindiran. Dan ketika akhirnya Dia dibawa untuk disalibkan, mereka menyalibkan seorang pencuri di satu sisi-Nya dan pencuri yang lain di sisi satunya dengan maksud mengejek ‘inilah seorang raja dengan dua orang bangsawan yang paling mulia di sebelah kanan dan kirinya’. Dan kemudian mereka melontarkan caci maki dari mulut mereka kepada-Nya – para pemimpin melakukannya, orang banyak melakukannya, pencuri di samping-Nya melakukannya, dan para prajurit juga – mereka menghujat-Nya dengan sarkasme seolah-olah Dia adalah raja. Kita menyebutnya ‘komedi di Golgota’ karena memang dimaksudkan sebagai suatu pertunjukkan olok-olok, suatu sandiwara. Mereka memang bermaksud menjadikannya sebagai ejekan yang sangat kasar. Namun sesuatu yang dramatis terjadi di puncak komedi itu. Situasinya berubah menjadi drama. Dan saat para pemimpin Yahudi yang mengatur semua ini tampaknya sedang berada di pusat panggung, tiba-tiba seseorang lain mengambil alih pusat perhatiannya. Dalam sekejap, komedi itu menjadi hening, dan dramanya pun dimulai. Mereka yang memainkan peran utama dalam komedi itu menghilang dari sorotan dan satu Pribadi yang agung mulai mengambil alih panggung utama. Dan itu tidak lain adalah Tuhan sendiri.

Allah menampakkan diri-Nya pada hari itu di Golgota dan mengubah komedi itu menjadi drama. Kita semua memahami kematian Kristus. Kita semua memahami bahwa Kristus mati untuk menebus dosa kita. Setiap orang Kristen sejati tahu dan percaya hal itu, tetapi kita cenderung memandang salib Kristus dari aspek fisiknya, yang seperti yang saya ingatkan beberapa minggu lalu, salib para pencuri itu sama seperti salib Yesus, dan kita terjebak dalam penderitaan fisik-Nya. Atau kita cenderung memandangnya sebagai pengorbanan kasih yang besar dari Kristus, yang memang demikian adanya. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Ini adalah perkataan Yesus sendiri. Dan memang benar bahwa penderitaan fisik yang dialami-Nya perlu kita pahami, dan kasih-Nya yang besar itu perlu kita renungkan dan kita tekankan. Tapi, ada satu hal di Golgota yang sangat besar dalam pewahyuan Perjanjian Baru, tetapi seringkali diabaikan — dan itu adalah kehadiran Allah. Golgota lebih berbicara tentang murka Allah daripada tentang hal lainnya. Ya, Golgota adalah kekejaman dan ketidakadilan manusia yang terburuk. Ya, Golgota adalah ekspresi kasih pengorbanan yang paling agung. Tapi yang lebih penting lagi, apa yang terjadi di Golgota memiliki arti bagi Anda dan bagi saya oleh karena apa yang Allah lakukan di sana.

Saat Allah menampakkan diri-Nya di Golgota, saat itulah peristiwa itu benar-benar menjadi peristiwa penyelamatan. Yesus adalah menjadi korban ketidakadilan manusia. Yesus benar-benar mengalami penderitaan yang luar biasa dan menyakitkan. Yesus pun secara sukarela dan penuh kasih mengorbankan nyawa-Nya. Semua hal itu memang benar. Tapi, kita perlu melihat lebih dalam lagi. Jika boleh diibaratkan seperti kolam, kita perlu keluar dari sisi yang dangkal dan berenang ke bagian yang dalam. Dan itu terjadi ketika kita mulai melihat kehadiran Allah di Golgota. Yesus disalibkan pada pukul 9:00 pada hari Jumat pagi minggu Paskah. Selama tiga jam pertama, panggungnya dikuasai oleh manusia — yaitu orang banyak, para pemimpin agama, prajurit-prajurit Romawi, bahkan para penjahat yang disalibkan bersama Tuhan Yesus. Yang terdengar hanyalah hujatan, ejekan, cemoohan, hinaan, olok-olok. Tapi ada satu pengecualian — satu orang yang berbeda dari yang lain, yaitu salah satu dari pencuri yang tergantung di sebelah-Nya. Ia menerima terang dan hidup dari Allah, melihat kebenaran, dan diselamatkan dengan ajaib saat dia tergantung di samping Yesus. Namun sisanya — mereka terus melontarkan "lelucon" ini sebisa mungkin. Tetapi komedi itu berakhir tepat pada tengah hari. Mereka sudah menghabiskan tiga jam lalu semuanya berakhir, dan ketika semuanya berakhir, semuanya benar-benar berakhir. Lalu Allah mengambil alih panggungnya – sebelumnya adalah panggung manusia; sekarang menjadi panggung Allah. Sebelumnya, manusia adalah aktornya, dan sekarang Allah yang menjadi aktor utamanya. Ketiga ayat ini cukup sederhana, dan tidak membutuhkan kerangka yang rumit. Bahkan kalau kita mencoba membuat struktur yang terlalu teknis, maka itu akan mengganggu kesederhanaan bagian yang luar biasa ini. Bagian ini bukan bagian yang perlu dihias-hias karena akan merusak kesederhanaannya yang mendalam, jadi mari kita lihat saja ketiga ayat ini dan lihat apa yang dikatakannya.

Ayat 44, “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas.” Itu artinya tengah hari. Itu artinya tengah hari. Hari dalam kalender Yahudi pada dasarnya dimulai pukul 6:00 pagi. Sekarang ingat, mereka tidak memiliki jam seperti kita, jadi mereka tidak menghitung waktu dalam jam, menit, dan detik. Hari Yahudi dimulai sekitar pukul 6:00 pagi. Satu jam bervariasi panjangnya tergantung musimnya, tetapi jam keenam selalu berarti tengah hari – saat matahari berada di puncaknya. Ini adalah fakta yang sangat penting. Musim semi di tanah Israel, tepat tengah hari. Artinya terang benderang, kering, gersang, cerah; begitu cerahnya sehingga Anda harus menyipitkan mata Anda bahkan saat tidak melihat langsung ke arah matahari. Itulah tengah hari. Sekarang buka Yohanes 19 karena saya ingin memperjelas sesuatu untuk Anda. Kitab Yohanes, sama seperti kitab Matius, Markus dan Lukas, memiliki catatan sejarahnya tentang kematian Tuhan kita Yesus Kristus, dan catatannya benar-benar selaras dengan ketiga Injil lainnya. Tetapi, ada catatan menarik yang ditunjukkan di sini dalam Yohanes 19 ayat 14. Yesus berada di hadapan Pilatus dan dikatakan dalam ayat 14 bahwa itu adalah hari persiapan untuk Paskah. Yesus berada di kursi pengadilan, menurut ayat 13, yang disebut Trotoar atau dalam bahasa Ibrani, Gabbatha. Tuhan Yesus berada di hadapan Pilatus dan di sana tertulis "hari itu … kira-kira jam dua belas." Kita baru saja membaca di Lukas 23 bahwa saat itu adalah jam dua belas dan Tuhan Yesus sudah berada di kayu salib selama tiga jam. Itu berarti pukul 9 pagi menurut perhitungan Yahudi. Lalu bagaimana mungkin pada jam dua belas juga Yesus masih bersama Pilatus? Jawabannya sederhana. Bila Anda berada di ruang pengadilan Pilatus, di wilayah kekuasaan Pilatus, maka waktu yang digunakan adalah waktu Romawi, dan waktu Romawi dihitung mulai dari tengah malam.

Saat itu pukul 6 pagi ketika Yesus dihadapkan kepada Pilatus dan Pilatus akhirnya memutuskan, meskipun ia tahu bahwa Yesus tidak bersalah, namun karena ia berada di bawah tekanan dan manipulasi orang banyak serta intimidasi dari mereka, maka ia akan mengirim Yesus untuk disalibkan. Jadi Yohanes hanya mencatat bahwa saat itu, pukul 6 pagi waktu Romawi, Tuhan Yesus masih berada di hadapan Pilatus. Tiga jam kemudian, pada pukul 9 pagi, Ia disalibkan. Tiga jam setelah itu, komedi pun berakhir. Selama tiga jam Yesus tergantung di kayu salib - Anda dapat kembali ke Lukas 23 - selama Yesus disalibkan, Tuhan kita berbicara tiga kali. Pertama Ia berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Kedua, Ia memandang ibu-Nya, Maria, dan Yohanes, rasul yang dikasihi-Nya, dan Ia berkata, "Lihatlah ibumu. Lihatlah anakmu." Apa yang Ia lakukan adalah mempercayakan perawatan ibu-Nya kepada Yohanes. Dan yang ketiga, Dia berkata kepada penjahat yang disalibkan di samping-Nya, “Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Tiga jam, Dia hanya membuat tiga pernyataan. Atmosfer saat itu dipenuhi dengan suara-suara, tetapi yang dilontarkan orang banyak adalah ejekan, cemoohan, hinaan, dan makian terhadap Yesus yang disalibkan. Namun pada siang hari dikatakan: "kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar" – yang secara harfiah artinya "matahari gagal bersinar, padam."

Ini adalah tengah hari, tepat saat matahari berada di puncaknya di tengah langit, bersinar terang menyilaukan; dan secara tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Matahari seolah padam; dan tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Gelap gulita. Sulit membayangkan keterkejutan yang mereka alami. Sulit dibayangkan. Mereka tahu apa yang telah mereka lakukan: mengejek, menghujat, dan tiba-tiba, dalam momen yang menakutkan, mencekam, membuat panik, mengganggu rasa aman mereka, pikiran mereka yang sembrono tersadarkan. Tanpa peringatan, dunia menjadi gelap gulita. Tidak ada listrik; hanya ada lampu minyak dengan sumbu yang biasa digunakan — tapi tak seorang pun membawanya karena itu adalah siang hari. Kegelapan menyelimuti seluruh negeri. Kita tidak tahu seberapa luas itu terjadi. Golgota, Yerusalem, Yudea? Kita tidak tahu seberapa jauh, tetapi kegelapan jelas meliputi bangsa itu. Apa yang menyebabkan kegelapan ini? Beberapa orang berpendapat bahwa ini adalah gerhana alami. Tapi itu tidak mungkin, karena Paskah ditetapkan berdasarkan bulan purnama, dan gerhana tidak terjadi saat bulan purnama. Yang lain berpendapat bahwa ini adalah kehadiran Iblis yang mendatangkan kuasa kegelapan ke atas kepala Yesus. Kita tahu bahwa sebelumnya dalam Injil Lukas, Yesus pernah berkata, "Inilah kuasa kegelapan itu." Dan kita paham bahwa kerajaan Iblis memang ditandai dengan kegelapan moral dan rohani., tetapi Iblis tidak berkuasa atas dunia alami. Ya, dia berkuasa dalam hal kegelapan moral dan spiritual; tapi ini bukan salah satunya. Ini adalah kegelapan yang bersifat alami, tetapi tanpa penjelasan alamiah.

Kita hanya punya satu alternatif lain, dan itu adalah Allah. Bagaimana orang-orang Yahudi akan memandang hal ini? Apakah mereka akan berkata, “Wah, ini gerhana!”? Tidak, Itu tidak mungkin, karena saat itu bulan purnama, hari raya Paskah. Apakah mereka akan berkata, "Iblis telah datang!"? Apakah mereka akan berpikir begitu? Tidak. Tidak. Lalu apa yang akan mereka katakan? Apa yang akan menjadi pikiran pertama mereka ketika tiba-tiba kegelapan total menimpa mereka dan mereka bahkan tidak dapat melihat tangan mereka sendiri di depan wajah mereka, dan kegelapan itu berlangsung selama tiga jam penuh? Mereka tidak bisa bergerak. Mereka tidak dapat berjalan menuruni bukit. Mereka tidak dapat pergi ke mana pun. Tidak ada cahaya di mana pun. Apa yang akan mereka pikirkan? Apa yang akan terlintas dalam benak mereka? Seseorang mungkin berkata mereka tidak akan berpikir tentang Allah karena Allah adalah terang. Dalam beberapa itu benar. Tuhan memang menampakkan diri ketika memimpin Israel keluar dari Mesir sebagai terang di siang hari dan terang di malam hari—awan terang di siang hari dan cahaya api di malam hari. Dan Tuhan juga datang dalam kemuliaan Shekinah untuk diam di ruang maha kudus di tabernakel dan kemudian di bait suci. Dan memang benar bahwa Mazmur 27:1 dan mazmur-mazmur lainnya menyatakan, “TUHANlah terangku dan keselamatanku,” dan Tuhan mengasosiasikan diri-Nya dengan terang. Tapi mereka juga tahu, bahkan lebih sering, Tuhan mengaitkan diri-Nya dengan kegelapan. Mereka tahu itu dengan sangat baik. Itu bisa dilihat kembali ke Kejadian 15 di mana Tuhan datang untuk membuat perjanjian dengan Abram, dan Tuhan berkata bahwa Dia akan membuat perjanjian dengan Abram untuk memberkatinya, dan melalui dia, Allah akan memberkati seluruh dunia: itulah Perjanjian Abraham. Dan Tuhan ingin memeteraikan perjanjian itu dengan darah, jadi Tuhan memerintahkan Abram untuk menyembelih beberapa hewan, membelahnya menjadi dua bagian, dan meletakkannya berhadap-hadapan. Menaruh bangkai burung di sini dan bangkai burung di sana, dan mengatur semua potongan berdarah itu — seperti yang biasa dilakukan dalam budaya kuno. Mereka melakukan itu sebagai simbol membuat perjanjian darah. Mereka melakukan itu sebagai simbol dari perjanjian darah. Dua orang yang membuat perjanjian akan berjalan melewati potongan-potongan berdarah itu, dan itulah yang memeteraikan perjanjian tersebut.

Hanya saja dalam kasus Allah, ini adalah perjanjian sepihak dan tanpa syarat yang Allah buat dengan diri-Nya sendiri dan tidak ada syarat yang harus dipenuhi Abram, jadi Allah membuat Abram tertidur. Inilah yang dikatakan kitab Kejadian terjadi ketika Tuhan datang. “Menjelang matahari terbenam, … lalu gelap gulita yang mengerikan turun meliputinya.” Ketika Tuhan menampakkan diri, Dia hadir dalam bentuk kegelapan. Dia hadir dalam wujud penghakiman. Dalam Keluaran pasal 10, sekali lagi dengan orang-orang Israel, kegelapan dikaitkan dengan kehadiran Allah. Allah berkata kepada Musa, “Ulurkan tanganmu ke langit.” Ini terjadi di Mesir. “Supaya kegelapan meliputi tanah Mesir, sehingga kegelapan sangat terasa.” Ketika Tuhan mendatangkan kegelapan, kegelapan itu begitu pekatnya hingga bisa dirasakan. Dalam Kitab Keluaran pasal 19, setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan tiba di kaki Gunung Sinai, mereka berdiri di kaki gunung – pasal 19 ayat 17. Namun ayat 16 mengatakan, “Ada guruh, kilat dan awan tebal di atas gunung.” Ayat 18 mengatakan, “TUHAN turun ke atasnya dalam api. Asapnya membubung seperti asap dari tempat peleburan, dan seluruh gunung itu gemetar dengan hebat.” Pasal 20 mengulang drama yang sama. Tuhan datang; ada kegelapan, awan tebal, dan asap. Gambaran Tuhan seperti ini juga dapat ditemukan dalam Yesaya 8:22 dan di banyak bagian lain dalam Alkitab.

Bangsa Israel tentu tahu bahwa kehadiran Allah dapat dikaitkan dengan kegelapan yang supranatural dan tidak dapat dijelaskan. Kita tidak sedang berbicara tentang awan-awan yang bergulung-gulung di depan matahari. Kita berbicara tentang kegelapan yang pekat. Tapi, ada sesuatu yang lebih dari sekedar kegelapan, karena “sisi gelap” Allah selalu dikaitkan dengan penghakiman. Ada tema yang tidak asing dalam Perjanjian Lama, dan tema itu berpusat pada satu ungkapan yang disebut Hari Tuhan. Hari Tuhan. Terkadang dalam terjemahan Inggris bahkan ditulis dengan huruf kapital karena merupakan istilah teknis. Hari Tuhan menggambarkan penghakiman terakhir eolah-olah dikatakan bahwa hari ini adalah harinya manusia, tapi akan datang saatnya yaitu Hari Tuhan. Akan datang hari ketika Tuhan sendiri turun dalam penghakiman terakhir yang bersifat akhir zaman (eskhatologis), menghancurkan, dan dahsyat. Dan Hari Tuhan ini selalu dikaitkan dengan penghakiman, dan penghakiman dikaitkan dengan kegelapan. Nabi Yoel menulis tentang hal ini dalam Yoel 1:15, "Wahai hari itu! Sungguh, hari TUHAN sudah dekat, datangnya sebagai kuasa pemusnahan dari Yang Maha Kuasa." Apa saja tanda-tandanya? Yoel pasal 2, ayat 10: “Di depannya bumi gemetar, langit berguncang; matahari dan bulan menjadi gelap, dan bintang-bintang menyimpan cahayanya. Tuhan memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Sungguh, sangat banyak pasukan-Nya, sungguh kuat pelaksana firman-Nya. Betapa dahsyat dan mengerikan hari TUHAN itu! Siapakah yang dapat menahannya?”

Hari Tuhan adalah kehancuran, kebinasaan. Hari Tuhan itu mematikan dan tidak ada yang bisa selamat. Di akhir pasal kedua Yoel, dalam ayat 30: " Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat di langit dan di bumi," terus berbicara tentang hari Tuhan. "Darah, api, dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang dahsyat dan mengerikan." Nabi berikutnya adalah Amos. Amos pasal 5, ayat 20, "Bukankah hari TUHAN kegelapan dan bukan terang?" Amos 8:9, "’Pada hari itu’, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ‘Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap di hari cerah.'" Ayat ini cukup spesifik. Lalu Zefanya 1:14, “Hari TUHAN yang dahsyat itu sudah dekat, sudah dekat dan datangnya sangat cepat! Pada hari TUHAN terdengar teriakan pahit, pejuang pun memekik di hari itu. Hari itu hari kegeraman, hari kesusahan dan kesulitan, hari kehancuran dan kemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kekelaman.”

Mereka tahu bahwa kegelapan supranatural selalu dikaitkan dengan penghakiman ilahi. Kegelapan tidak hanya dikaitkan dengan kehadiran Allah tetapi kehadiran Allah dalam penghakiman. Dan juga bukan hanya penghakiman biasa, tapi penghakiman terakhir. Pikiran itu pasti muncul saat mereka mencemooh dan mengejek Yesus, lalu seluruh dunia mereka tiba-tiba menjadi gelap gulita dalam sekejap. Saat itu mereka mungkin sadar: komedi ini benar-benar sudah berakhir. Nah, dalam beberapa ayat kemudian ketika akhirnya mereka menuruni bukit saat terang kembali muncul, mereka memukul-mukul dada mereka, sebagai tanda kesedihan dan ketakutan. Kegelapan itu melambangkan murka Tuhan. Kegelapan pekat seperti ini, jauh lebih dahsyat daripada kegelapan yang terjadi dalam perjanjian dengan Abraham, lebih pekat daripada kegelapan yang terjadi di Gunung Sinai. Ini adalah kegelapan Hari Tuhan. Ini adalah kegelapan penghakiman terakhir itu. Apa yang dilambangkan kegelapan ini? Kegelapan ini melambangkan hadirat Allah dalam penghakiman. Itulah sebabnya saya katakan ada aktor baru di atas panggungnya. Tokoh utamanya sekarang adalah Allah, dan Dia telah menjadi pusat perhatian. Allah tiba di Golgota - bukan dalam terang, tetapi dalam kegelapan. Allah hadir untuk mencurahkan penghakiman, bukan dalam arti eskatologis di masa depan terhadap orang-orang fasik, tetapi dalam arti soteriologis terhadap orang-orang yang saleh. Jadi apa yang sebenarnya terjadi di Golgota, saudara – dan di sinilah kita masuk lebih dalam pemahaman tentang hal itu – yaitu bahwa apa yang terjadi di Golgota ini melampaui penderitaan fisik; melampaui pengorbanan Kristus.

Yang terjadi di sini adalah murka Allah sedang dicurahkan dalam bentuk akhirnya. Murka yang kekal sedang dilepaskan dan kegelapan menyelimuti semuanya. Cara lain untuk mengatakannya adalah Allah sedang mendatangkan neraka ke Yerusalem pada hari itu. Matius 8 ayat 12; Matius 22 ayat 13; Matius 25 ayat 30, Yesus menyebut neraka sebagai "kegelapan yang paling gelap," lubang hitam terakhir, tempat dimana ada tangisan, ratapan dan kertak gigi dalam kegelapan kekal yang tidak akan mereda. Neraka adalah kegelapan dari kehadiran Allah dalam penghakiman-Nya. Jadi dari tengah hari hingga pukul 3:00, neraka datang ke Yerusalem dan Yudea. Allah hadir dalam murka-Nya, dan yang menarik adalah itu bukan murka pada orang Romawi, bukan murka pada para pemimpin Yahudi, dan bukan murka pada orang banyak; itu adalah murka pada Sang Anak. Allah melepaskan seluruh murka-Nya pada Yesus Kristus. Seperti yang dikatakan Yesaya dalam Yesaya 13:9, “dengan murka yang menyala-nyala.” Neraka datang ke sana. Apakah neraka itu? Neraka adalah tempat dimana Allah menghukum orang-orang untuk selamanya. Neraka adalah tempat dimana Allah mencurahkan amarah-Nya kepada orang-orang untuk selamanya. Allah adalah kekuatan di balik hukuman di neraka. Ketika Anda mengatakan bahwa neraka adalah keterpisahan dari Tuhan, itu hanya benar dalam arti keterpisahan dari hadirat-Nya yang memberikan penghiburan, tapi bukan dari hadirat-Nya yang menghukum. Allahlah yang membinasakan jiwa dan tubuh di neraka. Dialah Raja neraka, bukan Iblis. Dan Allah, yang adalah Penghukum semua jiwa di neraka yang kekal, hadir dalam kegelapan di Golgota untuk menghukum Anak-Nya, dan Dia memberikan kepada Anak-Nya neraka yang kekal atas nama semua orang yang akan percaya kepada-Nya.

Ini adalah cawan yang begitu dihindari oleh Yesus di taman Getsemani, hingga Dia memohon kepada Bapa jika ada cara lain agar Dia tidak perlu meminumnya. Selama tiga jam itu, tidak ada komedi, Saudara. Tidak ada ejekan, tidak ada hinaan, tidak ada olok-olok, tidak ada hujatan, tidak ada cemoohan yang dicatat. Tidak ada yang berkata apa pun, bahkan Yesus pun tidak berbicara. Yesus tidak mengucapkan sepatah kata pun selama tiga jam itu. Demikian pula orang di sekitar-Nya. Dalam tiga jam itu, Yesus menanggung neraka yang kekal bagi semua orang yang akan percaya. Jadi, kegelapan itu bukanlah ketiadaan Allah, melainkan justru sebaliknya. Kegelapan adalah kehadiran Allah dalam penghakiman sepenuhnya, dalam pembalasan dan murka-Nya; murka yang tak terbatas, digerakkan oleh kebenaran yang tak terbatas, melepaskan hukuman tak terbatas atas Anak yang tak terbatas, yang dapat menyerap neraka yang kekal untuk semua orang yang akan percaya — dalam waktu tiga jam. Di sinilah Dia menanggung dosa-dosa kita di dalam tubuh-Nya sendiri. Di sinilah Dia dijadikan dosa karena kita, padahal Dia tidak mengenal dosa. Di sinilah Dia tertikam karena pelanggaran kita, diremukkan karena kejahatan kita. Di sinilah Dia dijadikan kutuk bagi kita. Inilah tiga jam murka Allah yang dicurahkan ke atas-Nya. Inilah hal yang menakjubkan untuk kita renungkan. Semua orang yang akan menghabiskan kekekalan di neraka, akan tinggal di sana selamanya karena mereka tidak akan pernah bisa membayar dosa-dosa mereka. Namun Yesus, dalam tiga jam, dapat membayar lunas semua dosa dari semua orang yang akan percaya. Bagaimana bisa? Karena murka yang tak terbatas hanya dapat diserap oleh Pribadi yang tak terbatas.

Sangat menakjubkan, Saudara. Dikatakan, “Kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga.” Pada jam tiga, kegelapan itu lenyap. Tiga jam. Saat pukul tiga sore, terang datang kembali. Kitab Markus memberi tahu kita apa yang Yesus katakan. Dia berbicara. Markus 15, ayat 33, “Pada jam dua belas” - hal yang sama dikatakan Kitab Lukas - “kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.” Pada pukul tiga, kegelapan itu lenyap. Pada pukul tiga itu, ketika kegelapan itu lenyap, “Berserulah Yesus dengan suara nyaring, "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?" yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Bagaimana kita seharusnya memahami hal ini? Para teolog telah memikirkannya, membahasnya, dan menulis banyak hal tentang hal ini. Saya tentu tidak berharap untuk memiliki pemahaman yang lebih mendalam daripada mereka, tetapi saya merasa hal ini tidak serumit yang sudah dijelaskan oleh beberapa orang. Mungkin, sebagai manusia, Yesus mengharapkan bahwa ketika kegelapan itu berakhir — ketika Dia telah sepenuhnya menanggung murka Allah demi memuaskan keadilan-Nya bagi semua orang yang akan percaya — maka akan segera ada penghiburan, bahwa akan ada kasih yang seketika dari Bapa. Bahwa Dia tidak lagi akan merasakan kehadiran Allah dalam penghakiman, tetapi akan kembali merasakan kelembutan persekutuan dan kenyamanan bersama Allah. Tetapi bukan itu yang terjadi. Allah tidak melakukannya.

Murka-Nya telah dicurahkan. Allah hadir sepenuhnya di sana. Dia tidak absen; Dia hadir untuk mencurahkan murka-Nya. Tetapi ketika kegelapan itu pergi, Allah pun pergi juga—dalam cara ilahi yang tak bisa kita pahami sepenuhnya. Saya pikir, apa yang Tuhan kita mau katakan adalah, "Di mana penghiburan itu?" Ada saat dimana setelah penghakiman berakhir, setelah Dia menanggung semua murka dari hadirat penghakiman Allah, Yesus mengharapkan penghiburan yang manis dan itu tidak ada di sana. Dan dalam kelelahan yang tak terbayangkan setelah kegelapan itu, Dia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Itu pertanyaan yang wajar. Mengapa Allah tidak segera membawa penghiburan? Mengapa tidak langsung ada persekutuan yang manis? Nah, bagi saya, inilah penderitaan terakhir di neraka - suatu pengingat bagi semua orang berdosa bahwa meskipun neraka adalah murka penuh dari pribadi Allah, Dia tidak akan pernah ada di sana untuk menghibur. Dia tidak akan pernah ada di sana untuk menunjukkan belas kasih. Dia tidak akan pernah membawa kelegaan disana. Dan jika Yesus benar-benar harus menanggung neraka sepenuhnya, maka itulah penghukuman dari Allah dan tidak adanya penghiburan disana. Inilah neraka, dan neraka itu datang ke Golgota pada hari itu dalam kepenuhannya. "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Tetapi itulah neraka. Itulah neraka, yang merupakan penghukuman tanpa kelegaan.

Ungkapan, “Allah-Ku, Allah-Ku” ini mungkin kita cenderung menganggapnya terdengar agak dingin atau kurang akrab dibandingkan dengan panggilan “Bapa.” Dan inilah satu-satunya waktu di seluruh isi Perjanjian Baru di mana Yesus menyebut Allah bukan dengan sebutan, “Bapa”. Sebelumnya selalu “Bapa”, kecuali di sini, “Allahku, Allahku.” Apakah itu menunjukkan semacam perubahan dalam sikap-Nya terhadap Allah? Apakah Dia kehilangan kasih-Nya kepada Bapa-Nya? Saya rasa, saya bisa membantu menjelaskan ini. Yesus sering menggunakan ungkapan ganda dalam beberapa kesempatan. Yang pertama adalah, “Marta, Marta.” Apakah panggilan itu menunjukkan ketiadaan kasih? Saya rasa tidak. Panggilan itu justru menunjukkan kekecewaan yang penuh kasih, bukan? “Marta, Marta.” Panggilan itu adalah ungkapan yang intim. Ungkapan kasih dengan kekecewaan di dalamnya. Bagaimana dengan ini? Panggilan itu tadi dalam Lukas 10:41. Bagaimana dengan Lukas 20:22-31? Yesus menatap Petrus dan berkata apa? "Simon, Simon." Apakah panggilan itu tanda kurangnya kasih? Tidak. Panggilan itu adalah ungkapan keintiman dengan kekecewaan di dalamnya. Bagaimana dengan Lukas 13:34? "Yerusalem, Yerusalem." Apakah panggilan itu ungkapan tanpa kasih? " Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan." Panggilan itu adalah kasih sayang dengan kekecewaan di dalamnya. Nah, begitu juga dengan, "Allahku, Allahku." Seruan itu adalah ungkapan kasih sayang yang intim lembut, penuh kedekatan—namun diliputi kekecewaan, sama seperti Daud yang berkata, "Absalom, Absalom, anakku.” Itu adalah panggilan kasih sayang yang disertai dengan kekecewaan.

Anda dapat membaliknya dan mendengar ini, dalam Matius 7, “Banyak orang akan berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan,’ dan Aku akan berkata, ‘Aku tidak pernah mengenal kamu.’” Orang-orang yang ditolak oleh Tuhan itu merasa dalam pikiran mereka bahwa mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan-Nya—namun akhirnya mereka kecewa. Ketika Yesus berkata, “Allah-Ku, Allah-Ku,” itu adalah ungkapan yang sangat pribadi dan intim—namun mencerminkan kekecewaan pada saat itu. Di mana penghiburan itu? Tapi itulah neraka yang Ia tanggung. Dan kemudian ayat 45, Allah menegaskan pekerjaan yang telah dilakukan Yesus di kayu salib. Lukas mencatat—dan ini begitu menakjubkan, namun hanya ditulis dengan sederhana—“Tabir Bait Suci terkoyak menjadi dua.”Anda membacanya dan merasa itu adalah semacam kalimat yang biasa-biasa saja. Tapi Anda harus mengerti apa yang terjadi di sini. Saat itu sudah gelap selama tiga jam, gelap gulita. Tak seorang pun bisa melihat tangannya sendiri di depan wajah mereka. Mereka sudah berdiri selama tiga jam, mencoba berkomunikasi dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pasti mengaitkan kegelapan itu dengan kehadiran ilahi dan penghakiman dari Allah. Sementara itu, para imam di Bait Suci sedang bersiap untuk memulai penyembelihan puluhan ribu anak domba dan hewan lainnya—dan ini pekerjaan berdarah yang harus mereka lakukan untuk merayakan Paskah. Sedangkan di tempat lain, orang-orang yang tidak berada di dekat Golgota—mereka yang berada di tengah kota Yerusalem—sedang berkumpul dalam jumlah ratusan ribu orang, bahkan diperkirakan mencapai jutaan. Dan mereka semua ini membeku di tempatnya masing-masing selama tiga jam. Lalu terang datang kembali, dan saya kira, jika kita hanya berfokus pada para imam di bait suci, mereka ini pasti akan mencoba untuk berkumpul, dan mengejar waktu yang hilang selama masa kegelapan tadi, sambil berkata “mari kita mulai prosesinya,” karena memang antara pukul 3:00 dan 5:00 sore adalah waktu penyembelihan anak domba Paskah.

Nah, tepat saat mereka mulai menyembelih domba-domba Paskah, mereka mendengar suara; suara yang keras, seperti sesuatu yang terkoyak datang dari dalam tempat kudus, di ruang maha kudus, saat Allah merobek tirai itu dari atas ke bawah. Kitab Matius mencatat dengan jelas bahwa robekan itu dari atas ke bawah. Kitab Lukas hanya menyatakan bahwa tabir itu terkoyak dua. Tepat di tengah, Allah merobek tirai itu. Setidaknya ada 13 tirai di bait suci, tetapi satu di antaranya adalah tirai yang paling penting, yaitu yang memisahkan tempat kudus dan ruang maha kudus. Tirai itu ada di sana karena Allah sendiri yang menetapkannya untuk ada di sana, karena jalan menuju Allah belum terbuka secara resmi. Para imam besar bisa masuk ke sana setahun sekali tapi itu saja, dan hanya para imam besar saja dan hanya untuk sesaat, untuk memercikkan darah di kursi belas kasih, lalu segera keluar lagi. Akses kepada Allah belum dibuka secara resmi. “Ruang Maha Kudus” melambangkan kehadiran Allah dan tertutup bagi siapapun, tetapi pada pukul 3:00 sore, tepat di awal atau sekitar waktu itu, terang muncul kembali dan Allah merobek tabir ruang ruang mahakudus karena Yesus Kristus telah secara resmi membuka aksesnya. Salib adalah penebusan. Tirai yang terkoyak adalah aksesnya. Dengan kematian Yesus, Perjanjian Baru disahkan. Perjanjian itu telah berlaku. Orang-orang memang telah diselamatkan sebelum itu, tetapi pengesahan dan pengaktifan resmi Perjanjian Baru itu tidak terjadi sampai Yesus mati di kayu salib, dan kemudian Allah membelah tirai itu dan membuka jalan menuju hadirat-Nya.

Ketika itu terjadi, Bait Suci menjadi usang. Imam besar menjadi usang. Semua imam menjadi usang. Semua kurban menjadi usang. Semua yang terjadi di tempat itu tidak lagi berlaku. Semuanya sudah berakhir. Semuanya adalah bayangan; semuanya adalah simbol dari apa yang akan datang. Jadi, tepat pada saat para imam mulai menyembelih binatang yang tidak dapat menghapus dosa, Allah membuka hadirat-Nya karena pengorbanan Yesus yang menghapus dosa. Sungguh suatu momen yang luar biasa! Sungguh momen yang sangat dahsyat!

Nah, beberapa hari sebelumnya, Yesus telah mengucapkan nubuat tentang kehancuran fisik Bait Suci, “tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (Lukas 21:5-6). Dan saat ini, Allah menjatuhkan penghakiman rohani atas seluruh sistem yang ada. Sistem itu, seluruh sistem Bait Suci itu, dimaksudkan untuk menyediakan cara bagi orang berdosa untuk bisa mendekat kepada Allah, tetapi tidak satu pun dari sistem itu yang pernah menggenapinya, sampai akhirnya Yesus mati di kayu salib dan Allah berkata bahwa Yesus telah melakukannya, lalu Allah merobek tirai itu. Jika Anda membaca Ibrani pasal sembilan, Anda akan membaca dalam delapan ayat pembukanya tentang bagaimana Allah sendiri yang merancang tempat ini: dimana ada tempat maha kudus, tirai pemisah dan batas yang tidak bisa dilanggar oleh siapa pun. Lalu Anda melanjutkan ke Ibrani pasal 9 dan Anda sampai ke ayat 11 sampai 14 dan tiba-tiba semuanya berubah secara dramatis. Dengarkan apa yang dikatakan dalam Ibrani 9:11, “Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia — artinya yang tidak termasuk ciptaan ini — dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah kambing jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.” Inilah pengesahan Perjanjian Baru. Lalu dalam Ibrani 10:19 dikatakan, “Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu, marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” Jadi sekarang kita dapat pergi ke hadirat Tuhan, seperti Ibrani 4:16 berkata, “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Allah telah merobek tirai itu; pekerjaan-Nya telah selesai.

Di saat yang sama, Matius 27:51 mengatakan ini: "Terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah." Pastilah itu gempa bumi yang sangat kuat karena sampai membelah batu. Kami tahu tentang gempa bumi di California Selatan. Sedangkan ini adalah gempa bumi yang sangat kuat, hingga membelah batu. Saya tidak tahu berapa skala Richter-nya—delapan mungkin? Gempa bumi dengan kekuatan seperti itu pasti menghentikan seluruh aktivitas di Yerusalem, dan pasti menjadi hari yang cukup menakutkan, jika dilihat dari semua kejadiannya. Dan Anda tahu dengan apa mereka akan mengaitkan gempa bumi itu? Saya telah membacakan kepada Anda tentang bagaimana gempa bumi dikaitkan dengan kehadiran Allah dan penghakiman pada Hari Tuhan dalam kitab para nabi. Ketika Allah turun ke Gunung Sinai, dikatakan dalam Keluaran 19:18, seluruh gunung itu gemetar dengan hebat. Mazmur 18:8 mengatakan, “Lalu goyang dan guncanglah bumi, dasar-dasar gunung bergetar dan bergoyang karena menyala-nyala murka-Nya.” Ketika segalanya menjadi gelap, itu adalah penghakiman Allah. Ketika bumi berguncang, itu adalah murka Allah. Mazmur 68:9, “Bumi berguncang dan langit mencurahkan hujan di hadapan Allah di Sinai, di hadapan Allah, Allah Israel.” Lalu nabi Nahum menulis dalam nubuat singkatnya, “Gunung-gunung berguncang di hadapan-Nya, dan bukit-bukit mencair. Bumi terungkit di hadapan-Nya, dunia serta seluruh penduduknya.” Allah ada dalam kegelapan. Allah ada dalam gempa bumi. Kitab Wahyu memberi tahu kita bahw pada akhirnya, pada penghakiman terakhir, akan ada gempa bumi seperti yang belum pernah dialami dunia sebelumnya.

Itulah murka Allah. Bukan terhadap para pemimpin agama, bukan terhadap orang Yahudi, bukan terhadap orang Romawi, bukan terhadap orang banyak itu, tetapi terhadap Anak-Nya sendiri. Allah hadir di sana dalam hadirat penghakiman-Nya. Tapi itu bukan segalanya. Ya, Dia memang hadir di sana dalam penghakiman-Nya, tetapi jangan lupa bahwa Dia juga merobek tirai itu – jadi hal-hal negatif yang ditunjukkan oleh kegelapan dan gempa bumi memang menyatakan murka-Nya, tetapi efek positif dari penghakiman itu adalah bahwa jalan yang dibuka. Ada satu lagi efek positifnya. Inilah yang dikatakan dalam Matius 27:52, “Kuburan-kuburan terbuka,” tepat setelah gempa bumi, “dan banyak orang kudus yang telah meninggal dibangkitkan. Sesudah kebangkitan Yesus, mereka keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” Wow! Apa konsekuensi dari karya Kristus di kayu salib? Akses kepada Allah dan kehidupan setelah kematian. Dan Allah memberikan gambaran dramatis akan hal itu: Dia merobek tirai, yang berarti akses kepada-Nya kini terbuka; orang-orang yang telah mati keluar dari kubur dalam tubuh yang dimuliakan. Mereka tidak menampakkan diri sampai setelah kebangkitan Kristus, agar jelas bahwa Kristus adalah yang sulung dari antara orang mati, dan mereka berkeliling dan memberikan kesaksian tentang kuasa kebangkitan Kristus. Hari itu adalah hari yang luar biasa. Ketika Allah menyatakan diri dalam penghakiman, Dia juga menyatakan diri dalam keselamatan, bukan? Penghakiman atas Anak-Nya dan keselamatan bagi kita. Seluruh murka dicurahkan pada Kristus dan jalan dibukakan bagi kita. Seluruh murka dicurahkan pada Kristus, dan kehidupan setelah kematian tersedia bagi kita.

Setelah kegelapan lenyap, setelah gempa bumi berakhir, setelah tirai terkoyak, kekacauan Yerusalem pasti tidak dapat dilukiskan, tetapi ada ketenangan yang luar biasa di salib tengah itu, ketenangan yang tenteram. Bukalah Yohanes 19, dan Yesus, pada saat ini, adalah titik tenang di tengah-tengah badai. Ketenangan yang sempurna. Yohanes 19:28, “Sesudah itu” - setelah semua hal yang telah kita jelaskan - “Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai — supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci.” Semuanya sudah berakhir. Semuanya sudah digenapi. Dia telah menanggung semuanya. Jalannya sudah terbuka. Kehidupan kebangkitan telah disediakan. Dia sudah menyelesaikannya. Dan dalam ketenangan yang lembut dan agung itu, Dia berkata, “Aku haus.” Begitu luar biasa manusiawinya Dia. Ingat bahwa Dia tidak minum apa pun di sepanjang jalan penderitaan-Nya, agar Dia merasakan sepenuhnya segala sesuatu yang harus Dia tanggung. Tapi sekarang semuanya sudah selesai. “Aku haus.” “Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Tepat sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, mari kembali ke Lukas 23 dan kita akan menutupnya di sana.

Tepat sebelum itu, setelah Dia berkata, “Aku haus,” dan setelah Dia dengan penuh kemenangan berseru, “Sudah selesai,” – satu kata dalam bahasa Yunani – tepat sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, Lukas 23:46 mengatakan, “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring.” Ini sangat penting. Matius 27:50 mengatakan hal yang sama. Markus 15:37 mengatakan hal yang sama. Adalah mustahil bagi seorang korban penyaliban untuk melakukan itu jika ia sedang sekarat secara alami, karena kematian lewat salib biasanya terjadi karena sesak napas. Tidak ada oksigen, tidak ada kekuatan, hampir tidak dapat berbisik, dan biasanya dalam keadaan tidak sadar karena trauma luar biasa dari penyaliban. Tapi Yesus begitu kuat. Dia menang. Ia berkata dalam Yohanes 10, “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Dia berkata “Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” Tak ada yang mengambil nyawa-Ku. Dan inilah buktinya. “Dia berseru dengan suara nyaring.” Dia berteriak sekuat tenaga. Apa yang Dia katakan? “Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Semua orang Yahudi yang ada di sana pasti langsung mengenali kata-kata itu. Itu adalah Mazmur 31:6, ayat yang sangat dikenal. Begitu dikenalnya, bahkan ayat itu adalah doa malam mereka sebelum mereka tidur. Doa mereka berbunyi, “Sekarang-aku-berbaring-untuk-tidur,” yang menjadi semacam versi dari “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku.” Sangat familiar bagi mereka semua. Mereka mendoakannya setiap hari. Namun ada dua perubahan yang Yesus buat dalam doa itu. Pertama, Dia menambahkan satu kata, “Bapa.” Persekutuan yang manis itu telah dipulihkan. Neraka ada di sana selama tiga jam dan kemudian itu berakhir. Hukuman telah berakhir. Penderitaan telah berakhir. Persekutuan yang manis dengan Bapa telah dipulihkan.

Lalu, Dia menghilangkan sesuatu. Mazmur 31:6 berakhir seperti ini: “Tebuslah aku, ya TUHAN, Allah yang setia,” atau, “Engkau telah menebus aku.” Nah, bukan Dia yang ditebus di kayu salib; Dia adalah sang Penebus. Luar biasa bukan ketepatan isi Kitab Suci? Dia menambahkan “Bapa” untuk memberi tahu kita bahwa hubungan ini adalah hubungan yang sangat kita harapkan. Dan Yesus menghilangkan bagian tentang penebusan karena Dia tidak ditebus melainkan Dialah sang Penebus itu. Yesus meminjam dari mazmur itu karena Mazmur 31 adalah doa seorang saleh yang menderita, yang di tengah-tengah penderitaannya dia berkata, “Yang dapat kulakukan hanyalah menyerahkan hatiku kepada-Mu, menyerahkan jiwaku kepada-Mu, menyerahkan hidupku kepada-Mu.” Dan Yesus adalah pribadi yang menderita yang sempurna, tanpa dosa, dan saleh, yang dalam kematian-Nya menyatakan kepercayaan yang sempurna pada kasih Bapa-Nya dan janji untuk menerima-Nya. Petrus berkata bahwa Dia tidak membalas, melainkan Dia menyerahkan diri-Nya kepada Sang Pencipta yang setia. Nah, Stefanus pun mengucapkan mazmur itu. Ingat saat Stefanus meninggal, dia berkata, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku,” sama seperti Yesus berkata, “Bapa, terimalah nyawa-Ku.”

Lalu, Kitab Lukas mencatat kejadian setelah itu, "Sesudah berkata demikian Ia menghembuskan napas terakhir-Nya." Ini suatu gambaran yang sederhana namun begitu dalam maknanya. Allah sendirilah yang telah menyembelih Anak Domba Paskah-Nya,dan Anak Domba Paskah itu adalah Anak Sulung-Nya sendiri. Bagaimana kita menanggapi hal ini? Nah, kita akan membahasnya di lain waktu, tetapi setidaknya mari kita pinjam ayat 47 untuk menutup bagian ini. "Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan " - Apa? Apa yang dia lakukan? Begitulah seharusnya cara meresponinya, bukan? Apa lagi respons yang layak selain memuliakan Allah? Setiap berkat dalam Perjanjian Baru adalah ungkapan pujian kepada Allah atas penebusan-Nya. Kita ingin bergabung dengan paduan suara surgawi dan menyanyikan pujian, "Layaklah Anak Domba yang telah disembelih" selagi kita menerima kuasa dan hormat dan kemuliaan dan kekayaan dan hikmat dan kekuatan! Hanya ada satu cara untuk meresponinya dan responnya adalah dengan mengatakan, "Sekiranya seluruh dunia ini milikku, itu pun terlalu kecil sebagai persembahan bagi-Mu." Saya tidak menginginkan apa pun yang ditawarkan dunia ini. Saya serahkan semuanya kepada Kristus, segala-galanya bagiku.

Bapa, kami bersyukur kepada-Mu atas gambaran yang begitu jelas dan nyata di Golgota – dimana Tuhan kami Yesus Kristus menanggung penghakiman, murka, dan hukuman-Mu. Kami tidak dapat berkata apa-apa saat ini ketika kami memikirkan betapa besar pengorbanan-Nya dan betapa besar karunia-Mu bagi kami yang sama sekali tidak layak ini. Tuhan, lakukanlah karya-Mu di dalam hati kami, dan kami akan bersyukur kepada-Mu. Kami rindu menjalani hidup yang mencerminkan rasa syukur itu. Kami berdoa untuk kemuliaan Kristus. Amin.

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize