Mari buka Alkitab Anda di Lukas 23. Lukas Pasal 23. Saya rasa saya perlu memberi sedikit penjelasan tentang judul pesan ini. Saya yakin waktu Anda membaca buletin hari ini dan melihat judul "Komedi di Golgota," Anda pasti kaget. Judul itu memang ide yang mengejutkan dan mungkin dianggap gagasan yang tidak sopan. Bahkan, terdengar sangat kejam dan dapat dianggap sebagai suatu penghujatan karena menganggap Golgota sebagai komedi. Dan pastinya, Anda tidak pernah menganggapnya seperti itu. Waktu Anda memikirkan Golgota, yang Anda pikirkan adalah kengeriannya, kekejamannya, dan penderitaannya. Anda tidak menganggapnya sebagai komedi dan memang seharusnya tidak. Saya pun tidak menganggapnya sebagai komedi. Tapi, orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya ketika itu terjadi, merekalah yang mengubahnya menjadi komedi. Bagi mereka, Golgota ini semacam lelucon. Kamus klasik mendefinisikan komedi sebagai "Peristiwa yang konyol atau menggelikan." Definisi itu menurut kamus Webster. Dan kalau Anda ingin sinonim untuk definisi komedi ini, mungkin sinonimnya adalah satir, pertunjukan jenaka, parodi, olok-olok, vaudeville, atau Anda bisa menyebutnya sebagai menyebutnya lelucon – suatu lelucon yang agak panjang.
Nah, dari sudut pandang para penyalib Yesus, keseluruhan peristiwa ini telah diputarbalikkan menjadi suatu lelucon yang menyimpang dan berkepanjangan. Menurut mereka, peristiwa ini benar-benar suatu komedi dan Tuhan Yesus adalah sasaran leluconnya. Apa leluconnya? Leluconnya adalah bahwa Dialah Raja orang Yahudi dan ini suatu hal yang menggelikan buat mereka. Perlu kita ingat bahwa Tuhan Yesus telah dilucuti kebebasan-Nya ketika Dia ditangkap, lalu dilucuti hak-haknya ketika Dia dihukum secara tidak adil, kehilangan teman-teman-Nya ketika mereka semua meninggalkan-Nya, dan dilucuti dari pelayanan-Nya. Dia telah dilucuti pakaian-Nya, hingga hanya memakai kain cawat, tetapi itu tetap tidak cukup. Mereka hendak melucuti hidup-Nya, tetapi dalam prosesnya, mereka ingin memastikan bahwa mereka pun melucuti kehormatan-Nya dan rasa hormat apa pun yang mungkin masih dimiliki-Nya. Jadi, eksekusi Tuhan Yesus ini dirancang untuk menjadi sebuah lelucon besar – suatu sindiran yang lucu. Inikah yang disebut seorang Raja? Kitab Lukas mengatakan sangat sedikit tentang penyaliban, sangat sedikit, tetapi kitab ini mengatakan banyak tentang sikap orang-orang yang ada di sana. Cemoohan, ejekan, olokan, sarkasme, semuanya ditujukan kepada Raja orang Yahudi yang dianggap lucu ini. Jelas dari sudut pandang Tuhan bahwa apa yang para penyalib anggap sangat menggelikan dan lucu itu, sebenarnya sangat serius. Orang-orang Yahudi bergabung dalam permainan komedi ini dengan menjadikan Tuhan Yesus sebagai sasaran sarkasme dan ejekan mereka, mungkin untuk mengurangi rasa bersalah mereka. Dan tentu saja, para prajurit Romawi bergabung dalam permainan komedi ini dengan menjadikan Tuhan Yesus sebagai sasaran mereka, mungkin untuk mengurangi kebosanan mereka. Dan, kitab Lukas menggambarkan bagi kita komedi di Golgota ini. Seberapa salahkah orang-orang ini? Seberapa jauhkah mereka dari kenyataan?
Mari kita dengarkan apa yang ditulis Lukas mulai dari ayat 33 dari Lukas 23, “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. [Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."] Lalu mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Tetapi pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya, ‘Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.’ Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka menawarkan anggur asam kepada-Nya dan berkata, ‘Jika Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!’ Ada juga tulisan di atas kepala-Nya, ‘Inilah raja orang Yahudi’. Salah seorang penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya, ‘Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!’ Nah, ada tiga tindakan verbal yang tertulis di sini, yaitu mengejek, menghina, dan mencaci. Dan tindakan-tindakan tadi menggambarkan sikap orang banyak disitu, baik orang Yahudi maupun Romawi, yang semuanya mencemooh Tuhan Yesus. Ada juga tiga pernyataan yang memperkuat maksud dari ketiga tindakan itu, tiga pernyataan yang sinis, sarkastik, mengejek, dan ironis. “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri.” “Karena Engkau Anak Allah, selamatkanlah diri-Mu dan kami.” “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami.” Semuanya itu dimaksudkan sebagai sarkasme atas pernyataan menggelikan yang dilontarkan di atas kepala-Nya, yaitu “Inilah Raja orang Yahudi.”
Sebenarnya, lebih dari sekadar ejekan mereka yang menjadikan ini sebuah komedi, melainkan mereka telah merencanakan komedi ini dengan sangat hati-hati. Mereka menempatkan Tuhan Yesus di atas takhta seperti seorang raja yang dimahkotai di hadapan rakyat, hanya saja Dia ditempatkan di atas salib. Mereka meletakkan suatu mahkota di atas kepala-Nya - bukan mahkota emas, tetapi mahkota duri yang menusuk dahi-Nya, membuat darah mengalir deras di wajah-Nya. Dan kemudian dalam komedi jahat mereka, mereka menyalibkan seorang pencuri di sebelah kanan dan seorang lagi di sebelah kiri. Ini untuk memparodikan seorang raja yang memiliki dua orang bangsawan terkemuka di sebelah kanan dan kirinya, orang kedua dan ketiga yang paling terhormat di istana. Jadi mereka menempatkan dua penjahat, satu di setiap sisi sang raja ini, seolah-olah mereka adalah bangsawan yang paling dihormati, dan kemudian mereka menawarkannya anggur kerajaan tiruan, seolah-olah menjalankan tugas mereka untuk melayani kebutuhan sang raja. Tidak sampai disitu saja. Dia sudah mengenakan mahkota duri itu selama beberapa waktu, dan sebelumnya, ketika Dia berada di ruang pengadilan Pilatus, mereka telah mengenakan jubah tiruan pada-Nya – sebuah jubah kerajaan palsu – dan mereka menaruh suatu tongkat kerajaan di tangan-Nya, sebuah buluh, lalu mereka menyambut-Nya sebagai seorang raja dan kemudian mengambil buluh itu, memukul kepala-Nya dengan buluh itu, dan meludahi-Nya untuk menunjukkan penghinaan mereka terhadap gagasan bahwa Dia adalah seorang raja.
Lelucon itu sebenarnya dimulai di sana, dan kemudian semakin meningkat, dan orang-orang Romawi benar-benar mengubahnya menjadi melodrama komedi yang besar, dan diberi judul, "Inilah Raja Orang Yahudi." Sungguh menggelikan. Orang-orang Yahudi menertawakan-Nya. Bagi mereka, salib adalah batu sandungan, seperti yang dikatakan Paulus. Jadi, tidak mungkin Mesias mereka, sang anak Allah akan disalibkan. Adalah suatu lelucon untuk menganggap Dia sebagai raja mereka, sebagai Mesias mereka – Dia hanyalah seorang manusia yang disalibkan, disalibkan oleh musuh bebuyutan mereka, orang-orang Romawi yang kafir dan penyembah berhala? Bagi orang-orang Romawi pun ini sangat menggelikan, dan melihat Tuhan yang disalibkan sebagai "kebodohan," seperti kata Paulus dalam 1 Korintus 1. Mustahil untuk dipercaya. Dia mengaku sebagai raja, tapi Dia tidak memiliki pasukan. Dia mengaku sebagai raja, tapi Dia tidak memiliki pengikut. Dia mengaku sebagai raja, tapi Dia tidak memiliki wilayah kekuasaan. Dia mengaku sebagai raja, tapi Dia tidak pernah menaklukkan siapa pun. Jadi ini sungguh suatu lelucon. Sangat lucu. Lalu mereka memperluas lelucon itu menjadi sebuah parodi besar dan semuanya hanya menjadi bahan tertawaan besar. Saking kejamnya dalam komedi ini, mereka melemparkan penghinaan sarkastik di hadapan Kristus yang disalibkan. Seperti yang kita pelajari dalam teks sebelumnya, ini bukanlah saat untuk tertawa. Jika Anda kembali ke ayat 27, mereka mengikuti Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju salib, ada begitu banyak orang, dan di antara mereka ada perempuan-perempuan yang berkabung dan meratapi Dia. Mereka adalah pengiring ratapan yang dibayar untuk yang ikut serta dalam acara-acara seperti ini. Tetapi Tuhan Yesus, berpaling kepada mereka di ayat 28 berkata, "Hai putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu." Ini bukan waktunya untuk tertawa, tapi ini adalah waktu untuk meratap, dan bukan untuk meratapi Aku, tetapi menangisi dirimu sendiri karena kamu telah menolak Aku dan Allah telah menolakmu.
Saat Anda mendatangi salib, sebaiknya Anda datang dengan sikap yang benar, karena tawa Anda akan mengorbankan kekekalan Anda sendiri. Seharusnya sudah cukup bahwa Tuhan Yesus disalibkan tanpa menambah penghinaan, mengingat sifat brutal dari penyaliban itu sendiri, dan malah menjadikan diri-Nya lelucon serta mengejek-Nya saat Dia tergantung dalam penderitaan. Sekarang, kita kembali ke ayat 33. "Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya." Perlukah saya memberitahu Anda bahwa Perjanjian Baru sangat terbatas dalam menggambarkan penyaliban Tuhan Yesus? Sangat terbatas. Ada tiga kata Yunani di sana, "di situ mereka menyalibkan Dia." Empat kata dalam bahasa Inggris. Hanya itu yang tertulis. Di situ mereka menyalibkan Dia. Itu saja yang tertulis. Itu saja yang dikatakan dalam Matius. Itu saja yang dikatakan dalam Markus. Itu saja yang dikatakan dalam Lukas dan itu saja yang dikatakan dalam Yohanes. Tidak ada rincian sama sekali. Tidak ada. Tidak ada tentang palu, tidak ada tentang paku, tidak ada tentang apa pun yang bersifat fisik. Hanya tiga kata, "Di situ mereka menyalibkan Dia." Mengapa tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud? Karena bagi semua pembaca pada saat Perjanjian Baru ditulis, mereka tahu betul apa artinya disalibkan.
Penyaliban adalah hal yang umum. Kita diberitahu bahwa sebanyak 30.000 orang disalibkan di tanah Israel pada masa Kristus. Tiga puluh ribu orang. Bangsa Romawi selalu menyalibkan mereka di tempat umum, di sepanjang jalan raya dan di perbukitan agar semua orang melihat akibat dari pemberontakan terhadap Roma. Mereka sangat menyadari apa yang dimaksud dengan penyaliban. Tidak perlu menjelaskannya dan tidak perlu bagi penulis Alkitab untuk menggambarkan Tuhan Yesus dan penyaliban yang sebenarnya yang Dia alami karena itu akan sama persis dengan yang dialami oleh orang lain. Saya mungkin perlu mengingatkan Anda, meskipun ini sangat jelas, bahwa tertulis, "Mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu." Apa pun yang mereka lakukan kepada-Nya, mereka lakukan kepada mereka. Jadi penyaliban Yesus Kristus bukanlah pengalaman yang hanya dialami oleh-Nya sendiri. Sama sekali tidak. Ada puluhan ribu orang yang disalibkan di zaman kuno hingga akhirnya hukuman ini dilarang di abad ke-3 atau ke-4 M. Puluhan ribu, jika bukan ratusan ribu orang, disalibkan dengan cara yang sama atau berbeda, namun penyaliban itu dialami mereka semua. Jadi Alkitab tidak terlalu memperhatikan untuk memberi kita rincian tentang unsur-unsur fisik yang sebenarnya, karena bukan itu intinya dan hal itu sudah tidak asing lagi bagi semua orang.
Penyaliban sebenarnya sudah ada sejak 500 Sebelum Masehi (SM), abad ke-6, dan tampaknya diciptakan oleh bangsa Persia. Darius menyalibkan 3.000 orang Babilonia. Itulah pertama kali kita mendengar tentang hal itu. Alexander Agung, di Kekaisaran Yunani yang agung, menyalibkan 2.000 warga Kota Tirus sebagai pembalasan atas perlakuan mereka terhadapnya, dan menyalibkan mereka di sepanjang pantai agar dilihat semua orang. Sekitar tahun 100 Sebelum Masehi, Alexander Jannaeus menyalibkan 800 orang Farisi dan membuat istri serta anak-anak mereka menyaksikan penyaliban mereka. Bangsa Romawi berkuasa pada tahun 63 Sebelum Masehi dan menggunakan cara penyaliban ini secara luas, bahkan menyempurnakannya sebagai seni penyiksaan yang sangat efektif. Pada tahun 70 Masehi, ketika bangsa Romawi menaklukkan Israel, menghancurkan Bait Suci serta membantai orang-orang Yahudi, para sejarawan mengatakan bahwa Titus menggunakan begitu banyak salib untuk menyalibkan orang-orang Yahudi sehingga mereka kehabisan kayu. Jadi, penyaliban merupakan hal yang sangat umum dan tidak memerlukan penjelasan tentang hal itu. Tapi orang-orang Yahudi tidak dapat memahami bahwa Mesias mereka akan disalibkan. Dia seharusnya datang sebagai seorang penakluk, bukan sebagai orang yang ditaklukkan. Terlebih lagi, bahwa Dia disalibkan karena ditolak oleh pemimpin-pemimpin Israel dan kemudian dieksekusi oleh orang Romawi yang menyembah berhala. Dia ini bukanlah Mesias mereka; Dia ini adalah agen dari Iblis yang melakukan apa yang dilakukan-Nya dengan kuasa Setan dan Dia mati dengan cara yang sama seperti puluhan ribu penjahat rendahan, dan penjahat biasa lainnya karena memang penyaliban hanya diperuntukkan bagi penjahat seperti mereka.
Jadi, adalah ide yang sangat tidak mungkin kalau Tuhan Yesus itu benar-benar adalah Raja orang Yahudi. Bagi mereka itu adalah lelucon besar. Karena itu, lelucon itu masih ada setelah Golgota. Dalam beberapa kunjungan saya ke Kota Roma, saya selalu terpesona ketika saya dapat pergi ke Bukit Palatine dekat Circus Maximus, dan masuk ke tempat yang dulunya merupakan pos jaga bagi tentara Romawi. Dan di dalam pos jaga itu ada beberapa grafiti kuno yang berasal dari abad-abad awal. Gambar grafiti itu benar-benar diukir ke dalam batu, menggambarkan tubuh seorang pria yang disalibkan dengan kepala keledai. Dan di bawah pria yang disalibkan dengan kepala keledai itu ada seorang Kristen yang sedang membungkuk dan grafiti itu bertuliskan, "Alexamenos menyembah Tuhannya." Ini dianggap sebagai lelucon. Dianggap hal yang lucu. Ada Tuhan yang disalibkan. Tidak lebih daripada menyembah seekor keledai. Justin Martyr, seorang apologet Kristen, dalam pembelaannya yang pertama pada tahun 152 Masehi, merangkum pandangan orang-orang di dunia tentang Kristus dan pada dasarnya mereka menganggap-Nya sebagai suatu lelucon. Justin menulis, mereka berkata bahwa “Kegilaan kami terletak pada satu hal ini: yaitu bahwa kami memberikan kepada orang yang disalibkan tempat yang setara dengan Tuhan pencipta yang tidak berubah dan kekal.” Jadi jika Anda berpikir bahwa orang yang disalibkan adalah Tuhan pencipta yang kekal, maka Anda adalah orang bodoh dan hal itu adalah lelucon, dan adalah suatu kegilaan bagi para pembunuh Tuhan Yesus yang menganggap diri Tuhan Yesus berbeda dari orang lain yang disalibkan. Bahkan, bagi orang Yahudi penyaliban-Nya menegaskan bahwa Dia bukanlah Mesias, karena Ulangan 21:23 mengatakan, “Seorang yang digantung terkutuk oleh Allah.”
Karena itu, siapa pun yang disalibkan akan diperlakukan dengan hina, diperlakukan dengan penghinaan. Penyaliban diperuntukkan bagi penjahat terburuk dan terendah, orang-orang yang terbuang secara sosial, orang-orang yang terpinggirkan. Jadi ketika orang disalib, biasanya mereka disalib dengan disertai cemoohan, dan untuk berpikir bahwa Tuhan Yesus mengaku sebagai raja yang diurapi Allah dan Dialah Mesias, ini benar-benar hal yang menggelikan - begitu lucu, begitu aneh, begitu konyol dan begitu tidak masuk akal sehingga mereka berhasil mengubah seluruh kejadian itu menjadi sebuah melodrama komedi. Bagi mereka, seorang pria seperti Tuhan Yesus, yang mengklaim diri-Nya sebagai raja, hanya menunjukkan bahwa Dia layak berada di rumah sakit jiwa. Tapi, Dia memang adalah Raja dan ada satu orang yang mengakuinya. Lanjut ke ayat 42. Salah satu dari dua penjahat yang ditempatkan dalam posisi untuk menjadi bagian dari komedi ini berkata, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Dia bisa melihat kebenaran melalui lelucon itu. Dia bisa melihat kebenaran melalui lelucon, parodi, atau vaudeville itu. Pada saat itu, Tuhan Yesus tampak seperti raja dari orang bodoh. Tapi, betapa salahnya penilaian itu. Lihat kembali ke ayat 32. “Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak” – kita tidak tahu di mana tempat itu. Memang ada situs tradisional. Dan ada juga situs yang lebih kontemporer. Lalu ada diskusi tentang apakah tempat itu salah satunya atau mungkin situs lain. Kita tidak tahu. Tidak ada dalam Perjanjian Baru yang mengatakan itu adalah sebuah bukit, tidak ada, tetapi secara tradisional orang Romawi menyalibkan orang di tempat yang tinggi agar orang-orang bisa melihat mereka.
Orang Romawi ingin menyampaikan maksud mereka melalui penyaliban ini, jadi secara tradisional, tempat itu dianggap semacam tempat yang tinggi dan disebut Tengkorak karena mungkin memiliki semacam konfigurasi yang menyerupai tengkorak. Itu saja yang kita tahu. Kita tahu itu disebut Tengkorak, atau Golgota dalam bahasa Aram atau Ibrani, atau Kalvaria dalam bahasa Latin atau Kalvari. Beberapa orang mengatakan bahwa tempat itu disebut Tengkorak karena tengkorak orang-orang yang disalibkan tergeletak di sekitar tempat itu. Saya rasa tidak. Saya rasa orang Yahudi tidak akan memiliki tempat di mana tengkorak berserakan di mana-mana. Tetapi menarik bahwa namanya dikaitkan dengan realitas mengerikan dari apa yang terjadi di sana – yaitu kematian. "Di situ mereka menyalibkan Dia." Itu adalah frasa yang sama dalam keempat Injil. Sangat terbatas informasinya. "Mereka" berarti tentara Romawi. Anda dapat melihatnya di Markus 15 ayat 16 sampai 24. Tentara Romawilah yang menyalibkan Tuhan Yesus. Sebelum mereka menyalibkan-Nya, menurut Matius 27:34, mereka memberi-Nya minum anggur yang dicampur empedu. Apa itu? Nah, meskipun mereka sangat kejam, tapi masih ada sedikit rasa kemanusiaan dalam diri mereka sehingga mereka memberikan semacam obat penenang ringan kepada orang yang akan disalibkan; mungkin tidak cukup untuk meredakan penderitaan penyaliban, tetapi cukup untuk menenangkan mereka agar bisa dipaku di salib tanpa perlawanan. Para tentara Romawi tidak perlu menenangkan Tuhan Yesus. Karena itu setelah mencicipinya, Dia tidak mau meminumnya.
Dia akan menghadapinya dengan penuh kesadaran. Dia tidak membutuhkan obat penenang untuk dipakukan di salib. Dia akan meletakkan tangan dan kaki-Nya di sana dengan sukarela. Hanya itu saja yang kita tahu. Mereka menyalibkan-Nya dan Dia menolak obat penenang, tetapi Dia tidak disalibkan sendirian. Ada dua penjahat lainnya, di mana beberapa orang berpikir bahwa mereka bersekongkol dengan Barabas, karena Barabas, meskipun dia seorang pembunuh, tapi dia juga seorang pemberontak dan Anda tidak bisa memimpin pemberontakan sendirian. Tapi Barabas telah dibebaskan karena sudah menjadi kebiasaan untuk membebaskan seorang tahanan pada hari Paskah, dan yang mereka inginkan untuk bebas adalah Barabas, dan bukan Tuhan Yesus. Mungkin kedua orang ini adalah orang yang bersekongkol dengan Barabas, yang bersalah atas beberapa unsur pemberontakan. Mereka disebut dalam Alkitab dengan beberapa nama; penjahat dan mereka juga disebut perampok, jadi kita tidak yakin. Tetapi ketiganya disalibkan dengan cara yang sama. Lalu, kembali ke Lukas 23, "Mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu." Saya rasa terkadang kita ingin mengisolasi Tuhan Yesus dari adegan itu tetapi kita tidak dapat melakukannya. Apa pun yang Tuhan Yesus alami, mereka pun mengalaminya. Ketiganya mendapat perlakuan yang sama persis. Ketiganya disalibkan dengan cara yang persis sama, seperti ribuan orang lainnya sebelum dan sesudah mereka. Dan saya tahu ketika Anda membaca, "Di situ mereka menyalibkan Dia," Anda berharap Anda tahu lebih banyak dan Anda berhak untuk tahu lebih banyak. Sedangkan mereka yang membaca ini pada zaman aslinya memahami dengan sangat baik karena mereka mengalami realitas penyaliban hingga abad ke-4 Masehi.
Jadi mungkin sedikit ringkasan saja supaya Anda mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi yang ingin saya tekankan adalah bahwa hal ini dilakukan pada tiga orang, bukan hanya satu, dan hal itu telah dilakukan pada ribuan orang lain sebelumnya dan akan terus dilakukan setelahnya. Sepanjang sejarah, banyak penelitian yang dilakukan tentang ini. Banyak orang yang tertarik telah mempelajari penyaliban Kristus dari sudut pandang historis, alkitabiah, bahkan patologis, dan mengaitkannya dengan sejarah penyaliban lainnya, dengan bentuk-bentuk penyiksaan, dan bahkan di dunia modern, orang melihatnya dari sudut pandang medis. Mungkin penanganan yang paling ringkas dan bermanfaat muncul pada tanggal 21 Maret 1986 di JAMA, The Journal of the American Medical Association, yang merupakan suatu jurnal bergengsi. Penelitian khusus tentang penyaliban Yesus Kristus ini dilakukan oleh Departemen Patologi di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, sebuah institusi yang sangat terkemuka. Mereka mengambil pernyataan-pernyataan yang tepat dari keempat Injil, sumber-sumber sejarah yang akurat, dari pengetahuan mereka tentang patologi dan medis, lalu mereka menyusun sebuah artikel yang sangat membantu, yang mungkin ingin Anda cari sendiri. JAMA, 21 Maret 1986.
Semua penelitiannya mencakup fakta bahwa setiap orang yang disalib pasti dipukuli sebelum disalibkan. Hal ini selalu dilakukan. Tali kulit yang dikepang dengan potongan logam dan tulang domba atau tulang hewan lain yang tertanam di dalamnya digunakan untuk mencambuk korban dari bawah leher sampai ke belakang lutut. Pada saat ia dicambuk, lengannya direntangkan ke atas dan diikat ke tiang. Orang yang akan disalib ada dalam posisi membungkuk, lalu dua orang pencambuk memukulnya dengan pukulan bergantian. Kita tidak tahu apakah mereka mengikuti aturan Yahudi yang mengharuskan tidak lebih dari 40 cambukan. Kita tidak tahu berapa banyak cambukan yang diterima orang-orang ini. Tidak ada indikasinya. Namun semua hasilnya adalah tulang dan logam yang merobek daging, memar yang dalam, luka robek pada jaringan subkutan, ke dalam jaringan otot. Rasa sakit, kehilangan darah, syok peredaran darah akan terjadi. Ketiga orang yang disalib mengalami ini. Mungkin Tuhan Yesus mengalami penderitaan yang lebih parah karena dikatakan tentang-Nya bahwa ketika mereka membawa-Nya kembali ke gedung pengadilan setelah kejadian itu, mereka mengenakan jubah pada-Nya. Jubah itu merupakan jubah tua berkerak yang terbuat dari wol yang tidak akan berguna selain mengiritasi luka-luka-Nya yang terbuka. Dan kemudian mereka menancapkan mahkota duri di kepala-Nya, memukul kepala-Nya dengan tongkat dan meludahi-Nya, dan pada saat mereka merobek jubah itu, apa yang mereka lakukan akan kembali mengiritasi dan merobek luka-luka-Nya. Akan ada rasa sakit yang hebat, kehilangan darah, hematidrosis yang membuat kulit menjadi sangat sensitif, ditambah dengan kondisi kurang tidur, kurang makan, kurang minum. Dan setelah semua itu, datanglah penyaliban bagi mereka bertiga.
Bangsa Romawi tidak menciptakannya, tetapi mereka menyempurnakannya. Cara ini adalah cara kematian yang sangat kejam dengan penderitaan maksimal. Para korban membawa salib, mungkin satu salib untuk setiap orang, yang diletakkan di belakang leher dan bahu mereka, dan lengan mereka diikatkan ke salib itu. Tuhan Yesus menerima bantuan karena tampaknya Dia tidak bergerak cukup cepat atau mungkin ada alasan lain. Jadi Simon dari Kirene diminta untuk memikul salib-Nya dan dia mengambil potongan itu dari bahu Tuhan Yesus dan membawanya untuk-Nya, atau Tuhan Yesus benar-benar membawa seluruh salibnya dan Simon mengambil bagian bawahnya yang terbentur di sepanjang jalan berbatu karena Lukas mengatakan dia membawanya di belakang Tuhan Yesus. Setibanya di tempat penyaliban mereka akan ditawari obat penenang yang kemudian ditolak oleh Tuhan Yesus, kemudian mereka akan dijatuhkan ke tanah dengan telentang. Potongan salib kemudian akan ditarik di bawah bahu mereka dan lengan mereka dipaku ke potongan salib itu. Bangsa Romawi menggunakan paku. Para arkeolog telah menemukan sisa-sisa korban yang disalib sejak abad ke-1 dan sebelumnya, dan paku-paku itu adalah paku besi runcing sepanjang 12,7 cm hingga 17,8 cm, dengan diameter sekitar 1,3 cm berbentuk persegi. Paku-paku itu dipakukan di pergelangan tangan, tepat di sini, bukan di telapak tangan, sehingga bisa menahan seluruh berat tubuh yang terkulai. Jadi, saat berbaring telentang di tanah, ketiganya akan dipaku ke salib dengan paku-paku persegi besar yang ditancapkan di setiap pergelangan tangan mereka.
Korban yang disalibkan kemudian diangkat, dan bagian salib dipasang pada bagian horizontal, yang sering disebut sebagai stipes. Kaki korban kemudian dipaku, dengan lutut ditekuk ke atas. Kaki korban dipaku dengan satu paku, satu kaki diletakkan di atas kaki yang lainnya, sehingga korban bisa mendorong tubuhnya ke atas untuk bernapas, untuk menghirup dan menghembuskan napas, serta menarik tubuhnya ke atas pada luka-lukanya untuk melakukan hal yang sama. Dan apakah menarik dengan pergelangan tangan atau mendorong dengan kaki, mereka akan menarik dan mendorong melawan luka-luka tersebut. Omong-omong, kondisi tubuh terkulai dan lutut yang ditekuk begitu parahnya sehingga Anda akan kesulitan bernapas dalam posisi itu. Para prajurit dapat menyebabkan kematian dalam hitungan menit dengan mematahkan kakinya. Jika mereka mematahkan kaki dan korban tidak dapat mendorong ke atas, dia akan mati dalam hitungan menit karena ia tidak dapat bernapas. Untuk bertahan hidup, korban akan mendorong ke atas dan menarik lukanya. Serangga akan mulai menggali ke dalam luka-luka itu, ke dalam mata, telinga, dan hidung. Burung pemangsa pun akan mencabik-cabik bagian-bagian tubuh yang terbuka. Hingga akhirnya, tidak ada yang akan selamat dari penyaliban.
Untuk memastikan kematian dalam hitungan jam atau hari ketika orang Romawi merasa seseorang mungkin sudah mati, mereka akan menusuk tubuh korban dengan tombak di tempat yang tepat di daerah jantung, di mana seperti yang dijelaskan dalam Alkitab, aliran darah dan air akan keluar sebagai tanda bahwa mereka telah mati. Semua prajurit Romawi telah diajari tempat yang paling tepat dalam anatomi manusia untuk menusukkan tombaknya. Jika mereka prajurit, maka mereka adalah pembunuh. Saat orang yang disalib berupaya untuk bernapas, berarti ia harus menarik dirinya ke atas atau mendorong dirinya ke atas, yang kemudian akan menggesek lukanya yang terbuka pada salib yang kasar itu dan kemudian kembali lagi merobek dan mencabik luka-luka itu lebih dalam. Paku di pergelangan tangan akan menghancurkan atau memutuskan saraf median motorik kanan sensorik yang besar, dan ketika saraf rusak dan saraf itu tertusuk, rasa sakitnya tak terhentikan. Paku di kaki kemungkinan akan menembus saraf peroneal yang dalam – saraf plantar – dengan hasil yang sama. Jadi Anda akan mengalami nyeri saraf yang sangat hebat dan tak henti-hentinya melalui kaki dan tangan Anda. Berat tubuh yang tertahan melawan semua rasa sakit yang mengerikan dan menyiksa ini, berjuang untuk menarik tubuh ke atas, mendorong tubuh ke atas, bernapas dengan napas yang pendek. Anda tidak mendapatkan cukup oksigen. Lalu apa yang Anda dapatkan? Kontraksi tetanik, kram otot. Ditambah dengan dehidrasi, aritmia, gagal jantung kongestif, efusi jamak. Kita bahkan tidak dapat memahami betapa menyakitkannya semua itu. Ada kata untuk itu: tersiksa. Tersiksa. Itu adalah kata paling ekstrem yang kita ketahui dalam bahasa Inggris untuk menggambarkan rasa sakit dan itu berasal dari bahasa Latin excruciō – yang artinya “keluar dari salib.” Keluar dari salib. Inilah yang dialami ketiga pria itu, ketiganya, tetapi bagi salah satu dari ketiganya itu adalah takdir-Nya. Tetapi bukan hanya takdir-Nya, melainkan takdir kita juga.
Nah orang-orang Yahudi seharusnya tahu. Tetapi hal ini bukan membuktikan kepada mereka bahwa Tuhan Yesus bukanlah Mesias mereka, melainkan justru sebaliknya. Hal itu justru membuktikan bahwa Dialah Mesias. Lihatlah Mazmur 22. Mari kita pergi ke seribu tahun sebelumnya, di Mazmur 22, seribu tahun lebih awal, di zaman Daud. Tidak seorang pun pernah melihat penyaliban karena penyaliban tidak ada sampai 500 tahun sebelum Kristus. Sedangkan ini adalah seribu tahun sebelumnya. Ayat 13, Mazmur 22, "Banyak lembu jantan mengerumuni aku, banteng-banteng dari Basan mengepung aku." Apa maksudnya ini? Basan awalnya adalah tanah orang Amori - tanah orang Amori di sebelah timur Yordan dan selatan Gunung Hermon - jauh di utara Israel; tanah yang indah dan subur. Salju di Gunung Hermon mengalirkan banyak air ke utara. Ini adalah tanah penggembalaan yang diairi dengan baik. Oleh karena itu, tanah ini adalah tempat di mana ternak dipelihara. Banteng-banteng besar dan kuat tumbuh di tanah Basan. Amos 4:1 mengatakan bahwa itu adalah tanah sapi, di mana jika Anda memiliki sapi jantan dewasa atau banteng, pasti ada sapi betinanya dan karenanya ini adalah daerah yang makmur dan subur. Dulunya ini merupakan wilayah orang Amori, tetapi kemudian diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel. Hal ini melambangkan orang-orang yang kuat dan berkuasa, dan itu adalah simbol orang Yahudi, yang kuat, yang berkembang, yang kenyang, dan yang subur. “Mereka mengerumuni aku, mereka mengepung aku. Mereka mengangakan mulut terhadap aku seperti singa yang hendak menerkam dan mengaum.” Ini adalah bentuk kebencian, permusuhan, kedengkian, persis seperti yang dilakukan oleh para pemimpin Israel, yang tidak kekurangan apapun dan sejahtera itu, terhadap Tuhan Yesus saat mereka mengelilingi Dia di bawah kayu salib.
Kemudian Pemazmur mulai menggambarkan sedikit tentang apa itu penyaliban, meskipun tidak ada yang pernah melihatnya. “Seperti air aku tercurah dan semua sendi tulangku seperti terlepas. Hatiku menjadi seperti lilin, meleleh dalam dadaku; kekuatanku mengering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langitku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.” Wow. “Segala tulangku dapat kuhitung. Mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Tidak ada yang mengejutkan, Saudara. Apa yang sedang terjadi di Golgota adalah Tuhan sedang menggenapi nubuat dari seribu tahun sebelumnya. Tiga ratus tahun kemudian, pada tahun 700, seorang nabi bernama Yesaya datang dan dalam Yesaya 53, Pasal yang luar biasa dalam nubuatnya, Yesaya menggambarkan penyaliban ini sebelum ada yang pernah melihat penyaliban. Yesaya mengatakan ini dalam Yesaya 53 ayat 5, “Akan tetapi, dia ditikam karena pemberontakan kita, dia diremukkan karena kejahatan kita. Hajaran yang mendatangkan damai sejahtera bagi kita ditimpakan kepadanya, dan karena bilur-bilurnya kita disembuhkan.” Dalam ayat berikutnya dia berkata, “TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia ditikam karena pemberontakan kita.” Seorang pemazmur seribu tahun sebelumnya mengatakan dia akan tertikam. Tangan dan kakinya akan tertusuk. Tujuh ratus tahun sebelumnya, nabi Yesaya mengatakan bahwa dia akan tertikam bukan karena pemberontakan-Nya sendiri, tetapi karena pemberontakan kita. Di situlah, Saudara, apa yang membedakan Tuhan Yesus dari kedua orang lainnya itu. Mereka tertusuk oleh karena pemberontakan mereka sendiri, tetapi Dia tertusuk oleh karena pemberontakan kita.
Bukan penderitaan fisik Tuhan Yesus yang unik, tapi apa yang dicapainya yang unik. Seratus lima puluh tahun kemudian, jauh sebelum orang-orang Yahudi terpapar akan salib, datanglah seorang nabi lain bernama Zakharia. Dan Zakharia, sambil melihat ke masa depan, dia berkata, “Aku akan mencurahkan roh belas kasihan dan permohonan atas keluarga Daud,” Pasal 12, ayat 10, “dan atas penduduk Yerusalem. Mereka akan memandang Aku yang telah mereka tikam. Mereka akan meratapinya seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisinya dalam kepahitan seperti orang menangisi anak sulung. Dahulu mereka tertawa ketika mereka menombaknya, di masa depan mereka akan meratap ketika mereka melihat kembali apa yang telah mereka lakukan.” Daud meramalkan penikaman Tuhan Yesus. Yesaya meramalkan penikaman Tuhan Yesus. Lima ratus lima puluh tahun sebelum penyaliban, Zakharia meramalkan penikaman Tuhan Yesus dan waktu ketika orang Yahudi akan melihat kembali dan menyadari apa yang telah mereka lakukan. Bagaimana mereka bisa mengetahuinya? Bagaimana mereka bisa tahu Mesias akan ditikam? Penyaliban belum ada. Inilah yang menjadi tanda ke-Mesias-annya. Dengarkan Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia.” Siapakah mereka yang telah menikam Dia? Itulah orang-orang Yahudi. Suatu hari nanti mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam – jadi mereka menikam Dia dan mereka menikam pencuri di sebelah kiri dan mereka menikam pencuri di sebelah kanan. Pencuri-pencuri itu ditikam karena pelanggaran mereka sendiri sedangkan Dia ditikam karena pelanggaran kita. Bukan unsur-unsur fisik dari penyaliban-Nya yang unik, karena itu sama sekali tidak unik, melainkan tujuan dan pencapaian penyaliban-Nya yang unik. Ya, Dia dikutuk, tetapi Dia dijadikan kutuk bagi kita. Ya, Dia ditikam, tetapi Dia ditikam karena pelanggaran kita. Hal itu adalah kebodohan bagi orang-orang Yunani. Hal itu adalah batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan mereka mengubahnya menjadi lelucon, sandiwara, dan ejekan.
Suatu hari nanti, di masa depan, orang-orang Yahudi akan melihatnya dengan cara yang berbeda. Mereka tidak akan tertawa tapi mereka akan menangis. Setelah Tuhan Yesus mati dan orang-orang Yahudi berhasil berbohong dan menyuap tentara Romawi untuk berbohong tentang kebangkitan-Nya, mereka harus melakukan pembenaran atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka harus terus mempertahankan lelucon bahwa Tuhan Yesus ini adalah Raja. Mereka harus terus melakukannya. Bahkan setelah Dia pergi, setelah Dia mati dan mereka menyangkal kebangkitan-Nya, Dia naik ke surga, mereka tetap harus terus melanjutkan komedi itu. Dan coba tebak! Pada tahun 70 Masehi, lelucon itu berakhir dan itu berakhir dengan serius dan mematikan. Anda mungkin tidak menertawakan salib dan Anda mungkin tidak melihatnya sebagai lelucon. Mungkin kebanyakan orang tidak, tetapi saya jamin satu hal ini. Kebanyakan orang tidak menganggapnya cukup serius. Tapi, seberapa seriuskah salib? Tidak akan ada keselamatan, tidak akan ada pengampunan, tidak akan ada surga bagi Anda kecuali Anda menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda, dan Anda percaya pada pengorbanan yang Dia tawarkan di kayu salib untuk membayar hukuman atas dosa-dosa Anda. Anda harus menganggap salib ini dengan serius atau tragedi yang kekallah yang akan menjadi bagian Anda. Nah, di waktu berikutnya, kita akan melihat lebih dekat lagi tentang komedi ini. Seperti yang saya katakan, kebanyakan orang mungkin tidak menertawakan salib. Menertawakan salib adalah penghujatan terbesar. Dan sungguh menakjubkan bahwa ketika Anda melihat kisah itu, Anda menyadari bahwa Lukas hampir tidak mengatakan apa pun tentang penyaliban Tuhan Yesus yang sesungguhnya; kecuali hanya mengatakan, “di situ mereka menyalibkan-Nya”. Namun semua perkataannya berkaitan dengan sikap orang-orang disana saat itu karena dia menggambarkan bagi kita kemurtadan terakhir Israel, kengerian penghujatan besar yang menjadikan Anak Allah sebagai bahan lelucon. Kisah ini juga berbicara tentang kasih karunia Allah, karena dari salib itulah, di tengah-tengah komedi inilah, Tuhan Yesus berkata, "Bapa" – apa? - "ampunilah mereka." Apakah pernah ada ilustrasi kasih karunia yang lebih besar daripada ini? Saya percaya bahwa pandangan Anda tentang salib adalah pandangan yang benar, yang menyelamatkan.
Bapa, sekarang, utuslah kami untuk pergi. Tuhan, bawalah beberapa orang yang Engkau kehendaki untuk datang ke ruang doa. Tinggikanlah putra-Mu. Dalam nama-Nya kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
