Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Matius pasal 4. Salah satu bagian paling indah dalam seluruh isi firman Tuhan, karena di sini ada pernyataan besar dari Tuhan kita: “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.”

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca The Presbyterian Journal, dan saya menemukan perumpamaan ini. Saya rasa ini adalah cara yang tepat untuk mengawali renungan kita dari Matius pasal 4 malam ini. Beginilah bunyinya: “Di sebuah pantai berbahaya, di mana kapal sering karam, ada sebuah pos penyelamatan yang sederhana dan kecil. Bangunannya hanyalah sebuah gubuk, dan hanya ada satu perahu, tetapi beberapa anggota yang setia terus berjaga mengawasi laut. Tanpa memikirkan diri mereka sendiri, mereka pergi siang dan malam tanpa lelah untuk mencari orang-orang yang hilang. Banyak nyawa diselamatkan oleh pos penyelamatan kecil yang luar biasa ini. Karena itu, tempat itu menjadi terkenal.”

“Beberapa orang yang telah diselamatkan, dan juga orang-orang lain di sekitar daerah itu, ingin bergabung dengan pos tersebut dan memberikan waktu, uang, serta tenaga mereka untuk mendukung pelayanannya. Perahu-perahu baru pun dibeli, dan tim penyelamat yang baru dilatih, sehingga pos penyelamatan kecil itu semakin berkembang. Tapi, sebagian anggota merasa tidak puas karena bangunannya masih sederhana dan kurang memadai. Mereka berpikir bahwa tempat yang lebih nyaman perlu disediakan sebagai tempat pertama bagi mereka yang diselamatkan dari laut. Jadi, mereka mengganti tempat tidur darurat dengan tempat tidur yang lebih baik dan menambahkan perabotan yang lebih bagus di bangunan yang telah diperbesar itu. Sekarang, pos penyelamatan itu menjadi tempat berkumpul yang populer bagi para anggotanya. Mereka menghiasinya dengan indah dan melengkapinya dengan perabotan yang mewah, karena mereka mulai menggunakannya seperti suatu klub.”

“Sekarang, semakin sedikit anggota yang tertarik untuk pergi ke laut dalam misi penyelamatan, jadi mereka mempekerjakan awak perahu penyelamat untuk melakukan pekerjaan itu. Tema penyelamatan masih tetap terlihat dalam dekorasi klub, dan ada sebuah perahu penyelamat simbolis di ruangan tempat klub itu mengadakan acara penerimaan anggota. Sekitar waktu itu, sebuah kapal besar karam di lepas pantai, dan para awak yang disewa membawa banyak orang yang kedinginan, basah, dan hampir tenggelam. Mereka kotor dan sakit, dan sebagian dari mereka berkulit hitam dan sebagian berkulit kuning.”

“Klub baru yang indah itu jadi sangat berantakan. Karena itu, panitia pengelola segera membangun ruang mandi di luar gedung, supaya para korban kapal karam bisa dibersihkan dulu sebelum masuk ke dalam. Pada pertemuan berikutnya, terjadilah perpecahan di antara anggota klub. Sebagian besar anggota ingin menghentikan kegiatan penyelamatan karena dianggap tidak menyenangkan dan mengganggu kehidupan sosial klub yang normal. Tapi, beberapa anggota lain tetap bersikeras bahwa penyelamatan harus menjadi tujuan utama mereka, dan mereka mengingatkan bahwa tempat itu masih disebut sebagai pos penyelamatan. Tapi pada akhirnya mereka kalah dalam pemungutan suara, dan diberi tahu bahwa jika mereka ingin menyelamatkan berbagai orang yang mengalami kapal karam di perairan itu, mereka bisa mendirikan pos penyelamatan mereka sendiri sedikit lebih jauh di sepanjang pantai. Dan itulah yang mereka lakukan.”

“Seiring berjalannya waktu, pos yang baru itu mengalami perubahan yang sama seperti yang terjadi pada pos yang lama. Tempat itu berkembang menjadi sebuah klub, dan kemudian didirikan lagi pos penyelamatan yang baru. Sejarah terus berulang, dan jika Anda mengunjungi pantai itu hari ini, Anda akan menemukan sejumlah klub eksklusif di sepanjang pesisir. Kapal karam masih sering terjadi di perairan itu, tetapi kebanyakan orang akhirnya tenggelam.”

Betapa sederhana namun sangat mengena gambaran tentang sejarah gereja itu. Namun demikian, pekerjaan menyelamatkan jiwa dan pekerjaan penginjilan tetap merupakan pekerjaan yang paling murni, paling sejati, paling mulia, dan paling penting yang pernah dilakukan oleh gereja. Pekerjaan penginjilan, yaitu seperti memancing manusia keluar dari lautan dosa. Pekerjaan menyelamatkan orang dari hempasan kebinasaan adalah pekerjaan terbesar yang pernah dilakukan gereja. Itu adalah perhatian besar yang Allah tunjukkan. Dalam 1 Yohanes 4 dikatakan, “Kita mengasihi Dia karena Dia lebih dahulu mengasihi kita.” Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan…” Pekerjaan terbesar dalam hati Allah, perhatian terbesar dalam pikiran Allah adalah penginjilan. Menjangkau orang yang terhilang adalah perhatian utama Allah. Dan itu juga merupakan perhatian utama Kristus.

Lukas 19:10 berkata, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Pekerjaan memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang adalah perhatian Allah dan juga perhatian Kristus, dan itu juga merupakan perhatian terbesar Roh Kudus. Karena Roh Kuduslah yang datang, menurut Yohanes pasal 16, untuk menyadarkan manusia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Roh Kudus juga yang datang atas gereja, dan setelah kita menerima Roh Kudus, kita dijadikan saksi. Yesus berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Perhatian besar Allah adalah penginjilan. Perhatian besar Kristus adalah penginjilan. Perhatian besar Roh Kudus adalah penginjilan, yaitu menyelamatkan yang terhilang.

Ketika kita masuk ke dalam Perjanjian Baru, kita juga melihat bahwa ini menjadi perhatian utama para rasul. Dan tentu saja, hal itu nyata dalam diri Paulus. Dalam Roma pasal 1, Paulus menyuarakan apa yang merupakan hati Allah: “Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada bangsa-bangsa lain, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Kemudian, dalam surat Roma yang sama, pada pasal 9, Paulus membuka isi hatinya dengan berkata: “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Itulah yang menjadi perhatian besar dalam hidupnya.

Dalam pasal 10 ayat 1, ia berkata, “kerinduan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya mereka diselamatkan.” Dalam 1 Korintus 9:20-22, ia berkata, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka.” Dengarkan, perhatian terbesar Allah adalah membawa manusia kepada diri-Nya. Itu adalah perhatian terbesar Kristus, perhatian terbesar Roh Kudus, perhatian terbesar para rasul, dan itu juga menjadi perhatian terbesar gereja mula-mula. Ketika mereka tersebar dalam Kisah Para Rasul pasal 8, mereka pergi ke mana-mana memberitakan Yesus Kristus, berusaha memenangkan orang-orang kepada-Nya.

Bahkan dalam Perjanjian Lama pun tidak berbeda. Dalam Perjanjian Lama, hati Allah adalah hati yang penuh kepedulian, dan kepedulian itu tertuju kepada mereka yang terhilang. Bahkan dalam Amsal 11:30, kita menemukan pernyataan yang luar biasa ini: “Dan siapa,” apa? “bijak, mengambil hati orang.” Jika kita memahami arti kata “bijak” dalam kitab Amsal, kita tahu bahwa istilah itu sebenarnya sinonim dengan hidup benar. Orang yang sungguh hidup benar, orang yang benar-benar hidup dengan pengertian, orang yang bukan hanya tahu tetapi juga melakukannya, adalah orang yang memenangkan jiwa. Dialah yang benar-benar bijak.

Di akhir kitab Daniel, dalam pasal 12 ayat 3, dikatakan, “Orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan orang-orang yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya.” Orang-orang yang membawa orang lain kepada kebenaran adalah orang yang bijaksana, dan mereka akan bersinar seperti bintang untuk selama-lamanya. Saya rasa dari sinilah muncul nama “Starlighter,” salah satu kelas di gereja kami. Firman Tuhan sangat jelas. Ayat kita menyuarakan hal yang sama; perhatikan ini. Dalam Matius pasal 4, perkataan besar dari Tuhan Yesus Kristus di ayat 19, “Ia berkata kepada mereka: ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’” Betapa luar biasanya janji ini. Dia tidak hanya berkata, “Aku ingin kamu melakukannya.” Dia berkata, “Aku akan menjadikan kamu orang yang mampu melakukannya.”

Inilah tugas kita. Tahukah Anda bahwa istilah “menginjili,” dalam bahasa Yunani, digunakan tidak kurang dari 53 kali dalam Perjanjian Baru? Semua itu seakan dirangkum dalam Amanat Agung di Matius 28, ketika Tuhan berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” menangkan orang bagi Kristus, dan “baptislah mereka serta ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Seseorang pernah berkata, “Penginjilan adalah tangisan hati Allah. Penginjilan adalah jeritan penuh kepedihan dari Yesus ketika Dia menangisi suatu kota yang menuju kebinasaan. Penginjilan adalah seruan Paulus ketika ia berkata, seperti yang telah saya bacakan, ‘Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.’ Penginjilan adalah permohonan hati yang sungguh-sungguh dari Musa, yang berkata, ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.’ Penginjilan adalah seruan John Knox yang berkata, ‘Berikan aku Skotlandia, atau aku mati.’ Itu adalah seruan Wesley yang berkata, ‘Dunia adalah ladang pelayananku.’ Penginjilan adalah tangisan orang tua di malam hari yang menangisi anak yang terhilang.”

Inilah tugas yang terbesar, dan kita harus sungguh-sungguh mengerjakan tugas ini. Pada saat yang sama, penginjilan juga mengandung suatu paradoks. Memenangkan orang kepada Yesus Kristus itu bersifat paradoks dalam arti ini: Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Dengan kata lain, dalam menyelamatkan orang lain, kita justru kehilangan diri kita sendiri; atau ketika kita kehilangan diri kita dalam tugas ini, kita justru akan memenangkan orang lain. Bahkan, bisa dikatakan seperti ini: orang yang ingin memenangkan dunia harus siap ditolak oleh dunia. Keduanya tidak bisa dimiliki sekaligus.

Dalam Yohanes pasal 15, Yesus berkata demikian, ayat 25, “Firman yang tertulis dalam kitab Taurat mereka harus digenapi: Mereka membenci Aku tanpa alasan. Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi.” Dengan kata lain, Yesus berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku. Kamu akan pergi ke dalam dunia dan memberi kesaksian.” Lalu apa yang akan terjadi? Pasal 16 ayat 2 mengatakan, “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah.” Ia yang ingin memenangkan dunia, ia yang ingin menjangkau dunia, harus siap ditolak oleh dunia. Ia yang ingin menyelamatkan hidupnya harus kehilangannya. Dan ia yang kehilangan hidupnya akan mendapati hidup itu dipakai untuk menyelamatkan orang lain. Inilah jalan Yesus. Tuhan kita, yang menyelamatkan kita dari maut dengan mengalahkan maut, terlebih dahulu harus menyerahkan diri-Nya kepada kematian.

Jadi, di satu sisi, penginjilan adalah pengorbanan dari yang lebih besar bagi yang lebih kecil. Penginjilan adalah yang layak bagi yang tidak layak. Penginjilan adalah yang kuat rela mati supaya yang lemah dapat hidup. Ini bukanlah teori tanpa kasih tentang “yang kuat bertahan hidup,” melainkan pengorbanan dari yang paling kuat supaya yang paling lemah dapat berjalan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kita harus berkomitmen untuk hal ini; bahwa kita harus siap menghadapi dunia yang penuh dengan orang-orang tanpa Yesus Kristus, dan rela kehilangan diri kita sendiri supaya kita dapat memenangkan mereka.

Minggu ini saya sedang membongkar-bongkar satu buku lama, dan saya memang senang melakukan itu, karena saya sering menemukan bahwa hal-hal yang kita anggap begitu baru, begitu luar biasa, dan seolah baru ditemukan oleh generasi orang percaya yang peka saat ini, namun sebenarnya sudah tersimpan sebagai harta berharga dari masa lalu. Roh Kudus Allah selalu menyatakan kebenaran-kebenaran besar ini kepada umat-Nya sepanjang zaman. Saya menemukan satu buku lama yang ditulis pada tahun 1877. Di dalamnya saya menemukan satu catatan kecil, dan saya merasa itu sangat menarik. Penulisnya sedang berusaha mendorong orang untuk menginjil. Orang tua yang dipakai Tuhan ini, siapa pun dia—tidak disebutkan namanya, kemungkinan besar adalah seorang pengkhotbah—sedang dengan penuh semangat memohon agar orang-orang pergi dan memenangkan jiwa bagi Kristus. Mungkin ia sedang berkata kepada gereja, “Jadilah tim penyelamat, bukan sekadar klub.” Inilah kata-katanya, dan saya merasa ini sangat menarik.

“Jika kita anggap jumlah penduduk dunia saat ini adalah 1,6 miliar,” yaitu perkiraan pada tahun 1877, “dan itu pun mungkin berlebihan, lalu dari jumlah yang begitu besar itu hanya ada satu orang Kristen sejati. Dan orang itu, dalam tangan Roh Kudus yang diberkati, dipakai selama satu tahun ke depan untuk membawa hanya dua orang lain bertobat kepada Kristus. Lalu masing-masing dari dua orang yang baru bertobat itu juga dipakai untuk membawa dua orang lainnya kepada Kristus dalam tahun pertama kehidupan rohani mereka. Dan jika proses ini terus berlangsung, di mana setiap orang yang baru bertobat membawa dua orang lainnya kepada Kristus dalam waktu satu tahun sejak pertobatannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dimulai dari satu orang Kristen saja, untuk membawa seluruh 1,6 miliar orang kepada Kristus? Jawabannya mungkin akan mengejutkan banyak pembaca, tetapi jika kita mengikuti perhitungan ini, seluruh dunia akan dijangkau dalam waktu kurang dari 30 setengah tahun, bahkan dalam waktu kurang dari satu generasi.”

“Apakah pekerjaan seperti ini terlalu besar bagi Roh Allah untuk melakukannya, atau terlalu berat bagi gereja untuk diperjuangkan? Tetapi mari kita ubah sedikit keadaannya. Daripada menganggap seperti tadi, bahwa hanya ada satu orang Kristen sejati di seluruh dunia, mari kita ambil perkiraan yang lebih mendekati kenyataan, yaitu setidaknya ada 20 juta orang. Ini pun kemungkinan masih jauh di bawah jumlah sebenarnya. Jika setiap dari 20 juta orang Kristen ini membawa satu jiwa saja kepada Kristus dalam satu tahun ke depan, maka jumlah itu akan menjadi dua kali lipat sebelum akhir tahun 1877. Jika hasil yang diberkati seperti itu terus terjadi melalui doa dan usaha pada tahun 1878, dan berlanjut dari tahun ke tahun, di mana setiap orang percaya dipakai melalui doa dan usaha pribadi untuk membawa satu jiwa saja setiap tahun kepada keselamatan, maka jauh sebelum tahun 1883 berakhir, paduan suara yang besar akan terdengar di surga: kerajaan-kerajaan dunia telah menjadi milik Tuhan kita dan Kristus-Nya.”

Anda mau tahu sesuatu? Mereka tidak melakukannya. Ya, mereka tidak melakukannya. Mau dengar sesuatu yang menarik? Jika satu orang di Gereja Komunitas Grace melatih dua orang lain bagaimana menyampaikan Injil Yesus Kristus, lalu masing-masing dari mereka membawa satu orang kepada Kristus; dan proses ini terus berlanjut setiap enam bulan, maka dalam waktu enam setengah tahun seluruh San Fernando Valley akan bertobat kepada Kristus, dan sisa wilayah Los Angeles dalam enam bulan berikutnya. Saya katakan hal ini bukan untuk memperdebatkan apakah Allah ingin seluruh kota Los Angeles diselamatkan atau tidak, tetapi untuk menunjukkan bahwa hal ini bukan suatu yang mustahil. Amanat itu tidak pernah berubah. Semua harus dimulai dari suatu tempat. Dan itu bisa dimulai dari kita.

Penginjilan harus dimulai dari tempat Anda berada, bukan hanya dari sini. Sirene kabut di satu tempat memang ada gunanya, tetapi tidak pernah ada orang yang diselamatkan dari laut karena sirene yang hanya diam di tempat. Saya bisa datang ke sini setiap hari Minggu, terus berbicara dan berseru, tetapi yang benar-benar dibutuhkan adalah tim penyelamat yang terlatih dengan baik, yang turun langsung ke luar sana untuk menarik jiwa-jiwa dari lautan, dan benar-benar menjadi penjala manusia.

Henry Ward Beecher, seorang pengkhotbah besar, pernah berkata: “Semakin lama saya hidup, semakin saya percaya pada khotbah-khotbah di mana satu orang menjadi pelayan dan satu orang menjadi jemaat, di mana tidak ada keraguan kepada siapa yang dimaksud ketika pengkhotbah berkata, ‘Engkaulah orang itu.’” Penginjilan adalah perwujudan pada waktu yang tepat dari rencana penebusan Allah yang kekal. Penginjilan pribadi adalah untuk memenangkan orang kepada Yesus Kristus. Saudara yang terkasih, semuanya ini dimulai dalam Matius 4:18-22. Mari kita melihatnya.

“Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’  Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.”

Inilah tim penyelamat pertama yang pernah dibentuk dalam Perjanjian Baru, kelompok pertama yang dilatih untuk penginjilan guna memulai penggenapan Amanat Agung. Semuanya dimulai dari sini. Sekarang mari kita lihat kembali konteksnya. Matius sedang memperkenalkan kepada kita Sang Raja, yaitu Raja Yesus. Itulah tema yang ia tekankan sepanjang 28 pasal Injilnya, dan di seluruh Injil ini kita akan melihat kemuliaan kerajaan Yesus Kristus. Kita akan melihat Dia sebagai Raja. Saya sudah katakan bahwa dalam Matius 4:12-25, seluruh bagian ini sebenarnya adalah satu kesatuan. Dalam Matius 4:12-25, fokusnya adalah pada pelayanan resmi Sang Raja. Di sinilah pelayanan kerajaan Kristus secara resmi dimulai, dan kita menyebutnya “Terangnya mulai bersinar.” Akhirnya, Sang Raja datang. Setelah bertahun-tahun persiapan, setelah pelayanan Yohanes Pembaptis, setelah baptisan, setelah pencobaan, akhirnya Yesus memulai pelayanan-Nya secara resmi. Terang itu mulai bersinar di Galilea. Semuanya berada dalam tatanan yang sempurna. Semuanya sudah siap.

Saat pelayanan Yesus dimulai, Anda tentu masih ingat kerangka yang sudah kita bahas. Itu juga ada di buletin jika Anda ingin mengingatnya kembali. Dia memulai pelayanan-Nya di bagian ini, dari ayat 12 sampai 25, dan kita telah melihat beberapa poin penting. Pertama, dalam ayat 12 kita melihat bahwa Dia memulai pelayanan-Nya di waktu yang tepat. Kedua, dalam ayat 13 sampai 16, di tempat yang tepat, yaitu di Galilea. Ketiga, dengan pemberitaan yang tepat. Anda ingat di ayat 17? “Sejak waktu itulah Yesus mulai memberitakan: ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!’”

Dengarkan, Yesus berjalan sesuai dengan waktu ilahi, kalender ilahi, bergerak sepenuhnya menurut rencana Allah. Dia memulai pelayanan-Nya di waktu yang tepat, yaitu ketika Yohanes dipenjarakan; di tempat yang tepat, yaitu di Galilea wilayah bangsa-bangsa lain, di mana Dia akan paling didengar, di mana ada keterbukaan yang besar, potensi yang besar, dan kebutuhan yang sangat besar; dan dengan pemberitaan yang tepat. Ada sebuah Kerajaan yang akan datang, tetapi seseorang harus bertobat untuk dapat mengambil bagian di dalamnya.

Allah memiliki suatu Kerajaan, kata Yesus, dan jika Anda ingin menjadi bagiannya, Anda harus bertobat dan mengalami pertobatan yang sejati. Jadi, Dia memulai di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan pemberitaan yang tepat, dan—sekarang kita masuk ke ayat 18—dengan rekan-rekan yang tepat. Yesus tidak pernah bermaksud melakukannya sendirian. Tidak pernah. Memang, Dia bisa saja melakukannya sendiri. Tentu saja bisa. Dia memiliki kuasa. Dia memiliki hak. Tetapi itu bukan rencana-Nya. Dia tidak pernah bermaksud melakukannya sendirian. Dan perhatikan ini, Dia juga tidak pernah bermaksud melakukannya hanya dengan berkhotbah saja. Harus ada tindakan nyata, yaitu dengan menjala manusia.

Dr. Duryea pernah berkata bertahun-tahun yang lalu, “Jiwa yang sakit membutuhkan lebih dari sekadar penjelasan tentang obat. Ia membutuhkan resep yang pribadi.” Yesus membutuhkan orang-orang yang tidak hanya menyampaikan penjelasan, tetapi juga membawa “resep pribadi” kepada jiwa-jiwa yang mereka temui. Kita tidak tahu persis bagaimana semua dua belas murid dipanggil untuk membentuk tim penyelamat pertama itu, tetapi kita tahu bahwa mereka semua dipanggil secara pribadi oleh Yesus Kristus. Kita mengetahui keadaan sekitar tujuh dari mereka. Lima yang lainnya, kita tidak mengetahui detailnya, tetapi kita tahu bahwa Yesus sendiri yang memanggil mereka. Dia memilih tim-Nya sendiri. Dia memilih orang-orang yang Dia kehendaki untuk pergi dan mengambil bagian dalam kesempatan yang luar biasa ini, yaitu menjala manusia. Dengarkan, Allah selalu memilih rekan-rekan-Nya dengan sangat hati-hati.

Anda bisa melihat kembali di Perjanjian Lama, dan membaca bagaimana Allah memilih Israel untuk menjadi rekan-Nya dalam menginjili dunia. Mereka dipanggil untuk menjadi penyambung suara-Nya. Dalam Yesaya 49, Dia berkata, “Engkaulah hamba-Ku, hai Israel, dan melaluimu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Dia memilih bangsa Yahudi sebagai rekan-Nya dalam Perjanjian Lama. Lalu dari antara mereka, Dia memilih orang-orang khusus seperti Yeremia, Yesaya, Yehezkiel, dan banyak lagi yang lainnya. Lalu kita masuk ke Perjanjian Baru dan Yesus juga memilih rekan-rekan-Nya dengan sangat hati-hati. Dalam Yohanes 15:16, Yesus memandang kedua belas murid itu dan berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.” Kamu tidak memilih Aku; Aku yang memilih kamu. Yesus memilih rekan-rekan-Nya dengan sangat hati-hati.

Dalam Yohanes 6:70, Ia berkata, “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini?” Dalam Yohanes 13:18, “Aku tahu siapa yang telah Kupilih.” Lukas 6:13 menyatakan hal yang sama, “Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang.” Ketika Yesus memilih rekan-rekan-Nya, Dia memilih dengan sangat hati-hati. Mungkin Anda berkata, “Apakah Dia juga memilih saya untuk menjadi penjala manusia?” Oh ya. Setiap orang yang ada di dalam Kristus memiliki panggilan itu. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi. Kita semua dipanggil untuk memberitakan Kristus. Kita semua dipanggil untuk berbicara tentang Kristus. Kita semua dipanggil untuk bekerja di ladang yang sudah menguning dan siap dituai, kita semua. Anda bisa melihatnya dalam kitab Kisah Para Rasul, bagaimana semuanya berkembang, bagaimana gereja bertumbuh, dan setiap orang menjadi bagian dari tim penyelamat itu.

Jadi, kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, kepada para rasul dan murid dalam Perjanjian Baru, ditambahkan juga setiap orang yang datang kepada Yesus Kristus. Ini adalah tugas kita semua. Dalam Lukas 24:46 dikatakan, Kata-Nya kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,” perhatikan ini, “dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini.”

Apakah Anda melihat bahwa pertobatan dan pengampunan dosa harus diberitakan dalam nama-Nya kepada segala bangsa, dan itu baru dimulai dari Yerusalem? Itu harus terus meluas jauh melampaui itu. Kita semua adalah bagian dari kelanjutan itu.

Itulah sebabnya dalam Kisah Para Rasul 1:8 dikatakan lebih lanjut, “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria.” Dan seterusnya. Itulah sebabnya dalam 2 Korintus 5:20, Paulus berkata, “Kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Petrus juga menyuarakan hal yang sama dalam 1 Petrus 2:9, “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.” Semua ini dimulai dari dua belas murid. Lalu meluas kepada gereja mula-mula di Yerusalem, kemudian ke Yudea, lalu ke Samaria, lalu ke seluruh dunia, dan sampai kepada kita sekarang. Inilah pekerjaan kita. Kita pun dipanggil untuk mengikuti Yesus dan menjadi penjala manusia.

Saya rasa ini adalah penekanan yang kuat bagi kita di Gereja Grace, karena inilah masa dalam kehidupan gereja di mana kita benar-benar perlu memberi perhatian khusus pada hal ini. Seseorang berkata kepada saya beberapa waktu lalu, “Mengapa sepertinya Anda sedang menekankan penginjilan sekarang? Seperti ada penekanan pada kedalaman dan dimensi baru dalam kehidupan rohani?” Saya menjawab, “Sebenarnya, bagi saya, saya hanya sedang mengikuti arus dari apa yang Kristus sedang lakukan di sini.” Saya tidak merencanakan semuanya secara detail. Saya tidak duduk dan berkata, “Sekarang saya harus melakukan ini dan itu, menekankan ini dan itu.” Memang, sampai batas tertentu kita perlu merencanakan, tetapi saya melihat bahwa ini adalah gereja Kristus. Dialah yang membangunnya, dan saya hanya ikut dalam arus pekerjaan-Nya. Kadang-kadang saya sendiri bahkan tidak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi sampai ada orang lain yang menunjukkannya. Mereka berkata, “Apakah Anda sadar bahwa akhir-akhir ini Anda banyak berbicara tentang penginjilan?” Oh ya? Mungkin benar juga. Itulah indahnya menjadi bagian dari apa yang Roh Allah sedang kerjakan.

Bukan saya yang mengarahkan semuanya ke suatu tujuan tertentu. Saya hanya berjalan mengikuti alurnya, percaya bahwa Tuhan yang memimpin. Saya rasa ini adalah waktunya bagi Gereja Grace untuk melihat kembali tentang penginjilan. Kita sudah menikmati persekutuan yang indah. Kita sudah belajar banyak kebenaran yang luar biasa. Kita bisa saja begitu larut dalam kekayaan rohani yang kita miliki, sampai lupa akan orang-orang yang terhilang. Kita bisa begitu sibuk menyanyikan lagu kita sendiri, sampai lupa bahwa mereka juga perlu mendengar lagu itu. Kita bisa begitu nyaman berada di sini, sampai lupa bahwa ada dunia di luar sana.

Dahulu ada seorang bernama Luigi Tarisio. Ia ditemukan meninggal suatu pagi di rumahnya, hampir tanpa kenyamanan apa pun di seluruh tempat itu. Tetapi yang mengejutkan, ada 246 biola yang sangat indah yang tersembunyi di rumah Luigi, yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya dan disimpan di loteng; bahkan yang terbaik di antaranya disimpan di laci paling bawah dari suatu lemari tua yang rapuh. Dalam kecintaannya yang besar terhadap biola, Luigi justru telah merampas dunia dari musiknya. Selama ia menyimpan biola-biola itu, dunia tidak pernah mendengar suaranya. Orang-orang sebelum dia pun pernah melakukan hal yang sama. Tahukah Anda bahwa biola Stradivarius terbaik yang pernah dibuat, baru pertama kali dimainkan ketika usianya sudah 147 tahun, karena seseorang menyimpannya begitu saja?

Saya bertanya-tanya, berapa banyak orang Kristen yang seperti Luigi Tarisio itu? Dalam kasih kita kepada gereja, dalam kasih kita kepada harta firman Tuhan, kita bisa menjadi begitu larut di dalamnya sampai dunia tidak pernah mendengar “musik”-nya. Sungguh tragis.

Seseorang pernah menyampaikan statistik yang sebenarnya sulit untuk saya percaya. Katanya, 95 persen orang Kristen tidak pernah membawa satu orang pun kepada Yesus Kristus. Sembilan puluh lima persen dari “biola rohani” yang luar biasa di dunia ini tidak pernah dimainkan. Anda boleh memegang erat hal-hal yang Anda kasihi di dalam gereja, tetapi Anda juga harus menjangkau keluar.

Saya suka cerita yang sering diceritakan oleh Dwight L. Moody. Ia berkata bahwa suatu kali ia mengunjungi suatu galeri seni di Chicago, dan ia berdiri di depan suatu lukisan berjudul “Rock of Ages,” seperti yang tadi dimainkan oleh Ruth. Lukisan itu menggambarkan seseorang yang dengan kedua tangannya berpegang pada satu salib yang tertanam di dalam batu karang. Sementara ombak besar menghantam batu itu, orang tersebut tetap berpegang pada salib itu. Moody berkata, “Saya pikir itu adalah lukisan paling indah yang pernah saya lihat.” Lalu ia berkata, “Bertahun-tahun kemudian, saya melihat lukisan yang serupa. Kali ini digambarkan seseorang dalam badai yang memegang salib dengan satu tangan, sementara tangan yang lain terulur untuk menolong orang yang sedang tenggelam.” Moody berkata, “Yang ini lebih indah lagi.” Kita begitu kaya di Gereja Grace. Saya berharap kita tidak melupakan mereka yang sangat membutuhkan apa yang kita miliki.

Dalam salah satu bukunya, S. D. Gordon menggambarkan Gabriel yang sedang berdialog dengan Kristus sesaat setelah kenaikan-Nya. Malaikat itu bertanya kepada Kristus tentang rencana penginjilan, dan Yesus berkata, “Aku telah meminta Petrus, Yakobus, Yohanes, Andreas, dan beberapa yang lain untuk menjadikannya sebagai tujuan hidup mereka, yaitu memberitakan kepada orang-orang. Lalu mereka yang lain akan memberitakan kepada yang lain lagi, dan akhirnya seluruh dunia akan mendengar cerita itu dan merasakan kuasanya.” Dalam kisah itu, Gabriel bertanya, “Tetapi bagaimana jika mereka tidak memberitakan kepada orang lain? Lalu bagaimana?” Yesus menjawab dengan tenang, “Aku tidak punya rencana lain. Aku mengandalkan mereka. Aku tidak punya rencana lain.”

Apa artinya menjadi penjala manusia? Mari kita lihat. Ayat 18, “Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.” Yesus berjalan di tepi Danau Galilea. Gary sempat menyinggung betapa indahnya daerah itu. Saya pernah makan ikan yang sekarang disebut “Ikan Santo Petrus.” Itu adalah ikan yang hanya berasal dari Danau Galilea. Penampilannya tidak terlalu menarik, tetapi rasanya sangat enak. Beberapa dari Anda pernah ke sana dan tahu tentang hal itu, dan tentang betapa indahnya tempat tersebut. Itulah salah satu daerah paling indah di seluruh dunia. Danau Galilea itu sebenarnya seperti danau kecil. Pada titik terlebarnya sekitar 12 km. Pada panjang terjauhnya sekitar 22 km. Jadi, kira-kira hanya 12 km kali 22 km, tidak terlalu besar. Bentuknya oval, bagian atas lebih lebar daripada bagian bawah, dan letaknya sekitar 188 meter di bawah permukaan laut. Tempat ini berada di bagian lebih tinggi dari lembah yang memanjang sampai ke Laut Mati, yang letaknya lebih dari 610 meter atau hampir 610 meter di bawah permukaan laut. Inilah salah satu daerah yang paling subur dan paling produktif di dunia.

Pada zaman Yesus, mungkin menarik untuk Anda ketahui, pada masa ketika peristiwa ini terjadi, ada sembilan kota besar yang ramai di sepanjang tepi danau itu. Pada tahun 1930, hanya tersisa satu desa kecil, Tiberias. Dan sampai hari ini, hanya ada satu kota yang tersisa, yaitu Tiberias. Di zaman Yesus, danau itu benar-benar dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan. Bahkan, Yosefus menulis tentang satu armada penangkapan ikan yang berjumlah 240 perahu. Itu jumlah yang sangat banyak untuk sebuah danau yang hanya sekitar 12 km kali 22 km. Di tempat itulah Yesus berjalan dan menemukan dua orang bersaudara. Siapa mereka? Tertulis bahwa mereka adalah Simon, yang kemudian disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya.

Nah, inilah panggilan mereka, tetapi saya ingin Anda memperhatikan sesuatu. Ini adalah tahap kedua dari panggilan mereka. Saya akan memberikan sedikit penjelasan yang mungkin membantu Anda dalam mempelajari Injil. Ada beberapa momen panggilan yang berbeda terhadap para murid di dalam Injil. Setiap penulis Injil, sesuai dengan tujuannya masing-masing, memilih untuk menuliskan salah satu di antaranya. Ada suatu urutan peristiwa. Dengan kata lain, setidaknya ada lima waktu berbeda ketika Yesus memanggil mereka, dan setiap panggilan itu membawa mereka ke tingkat yang berbeda, mirip seperti pengalaman Anda. Anda pernah dipanggil kepada keselamatan, bukan? Lalu mungkin ada masa dalam hidup Anda ketika Anda dipanggil ke tingkat komitmen yang lebih dalam. Kemudian, mungkin ada saat ketika Anda dipanggil untuk melayani Yesus Kristus secara khusus. Lalu mungkin juga ada waktu ketika Anda dipanggil ke tempat tertentu, seperti ke Gereja Grace, atau ke pelayanan tertentu. Dengan kata lain, cara Tuhan memimpin kita sering kali melalui beberapa tahap, dan hal itu juga terjadi dalam kehidupan para murid.

Panggilan yang pertama ada dalam Yohanes pasal 1. Anda bisa mempelajarinya sendiri, kita tidak akan membahasnya sekarang. Ini adalah panggilan mereka kepada keselamatan. Andreas, Yohanes, Simon, Filipus, Natanael, dan Yakobus dipanggil kepada keselamatan. Ini adalah panggilan awal, dan Anda ingat, itu terjadi ketika Yohanes Pembaptis berkata, “Jangan lagi mengikuti aku. Ikutlah Dia.” Maka mereka pun pergi mengikuti Yesus Kristus, dan itulah panggilan kepada keselamatan.

Sekarang, inilah tahap kedua dalam Matius 4:18. Ini adalah panggilan untuk menjadi penjala manusia. Mereka mulai mengikuti Yesus, tetapi pada tahap ini sifatnya masih sementara. Tahap ini belum merupakan keputusan untuk meninggalkan segala sesuatu secara total dan final. Untuk saat itu, mereka mengikuti Dia. Untuk momen itu, untuk hari itu, untuk waktu itu, mereka dipanggil untuk memenangkan jiwa. Mereka dipanggil untuk menjala manusia. Mereka dipanggil untuk datang dan mengikuti Dia.

Ada panggilan yang ketiga. Lukas mencatatnya dalam pasal 5. Ini terjadi setelah yang di Matius; jadi berbeda. Memang ada beberapa kesamaan, tetapi juga ada perbedaan yang jelas. Kalau Anda melihat Lukas pasal 5 sejenak, Anda akan melihatnya. Saya akan menunjukkan tingkat panggilan yang terjadi di sini. Dalam Lukas 5, Yesus datang, dan situasinya sedikit berbeda. Mereka masih sedang menangkap ikan, yang menunjukkan bahwa pada tahap kedua itu mereka belum meninggalkan pekerjaan mereka secara permanen. Mereka hanya mengikuti Dia untuk sementara waktu. Sekarang, panggilannya menjadi lebih tegas. Dia tidak lagi hanya berkata, “Aku mau kamu menjadi penjala manusia,” secara umum. Dia berkata, “Aku mau kamu menjadi penjala manusia saja.” Ini adalah langkah berikutnya. Kali ini Dia berdiri di tepi Danau Genesaret, yang merupakan nama lain dari Danau Galilea. Lukas tentu menyebutnya danau, seperti yang sudah saya katakan, karena ia seorang yang sudah banyak bepergian. Ia telah melihat perairan yang jauh lebih besar, jadi yang ini tidak dianggap sebagai laut baginya.

Yesus melihat dua perahu di tepi danau, dan para nelayannya sedang turun dari perahu itu, dan seterusnya. Lalu Dia naik ke salah satu perahu, yaitu milik Simon, dan di sini ada perbedaan. Tiba-tiba kita berada di atas perahu, berbeda dengan situasi di Matius. Dia berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu,” lalu terjadilah mukjizat penangkapan ikan yang luar biasa. Ini adalah kisah yang benar-benar berbeda. Sebenarnya, ini adalah momen di mana mereka harus menghadapi komitmen yang lebih nyata, dan Yesus menegaskannya kembali di ayat 10. Di situ ada Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi rekan Simon. Dan Yesus berkata kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang…” tidak masalah lagi kalau kamu tidak bisa menangkap ikan seperti dulu. Anda ingat ceritanya? Mereka tidak bisa menangkap ikan dengan kekuatan mereka sendiri - tidak tanpa Tuhan. Dialah yang berkuasa atas ikan-ikan itu.

Dia berkata, “Kamu mau ikan? Tebarkan jalamu di tempat yang Aku tunjukkan, dan kamu akan mendapatkannya. Tanpa Aku, kamu tidak akan mendapat apa-apa. Jangan khawatir apakah kamu bisa menangkap ikan tanpa Aku. Mulai sekarang kamu akan,” apa? “menjala manusia.” Ketika mereka membawa perahu-perahu itu ke darat, mereka meninggalkan semuanya, lalu mengikut Dia. Anda lihat, ini adalah tingkat komitmen yang berbeda, yang lebih dalam.

Saya rasa ini juga bagian dari hidup kita, bukan? Di suatu titik, Anda datang kepada Kristus, dan tidak lama kemudian seseorang berkata kepada Anda, “Kamu dipanggil untuk menjala manusia.” Tetapi mungkin butuh waktu yang lama setelah itu, dan bagi banyak orang mungkin tidak pernah sampai ke titik itu, di mana seseorang benar-benar meninggalkan segalanya untuk menjala manusia.

Dalam Markus pasal 3, ada panggilan yang lain lagi. Mereka bukan hanya akan menjala manusia, tetapi mereka akan menjadi rasul-rasul secara resmi. Dalam ayat 14, Markus 3:14, “Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.” Sekarang mereka menerima kuasa yang luar biasa. Mereka juga diberi kuasa untuk menyembuhkan penyakit. Jadi, mereka bergerak dari panggilan keselamatan, ke panggilan umum, lalu ke komitmen penuh yang khusus, dan sekarang kepada kuasa yang bersifat ajaib.

Kemudian akhirnya, tahap kelima dicatat dalam Matius pasal 10 ayat 1. “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.” Lalu Dia berkata, “Pergilah,” dalam ayat 7, dan Dia menjelaskan kepada mereka bagaimana mereka harus pergi. Dia mengutus mereka, dalam ayat 16, “seperti domba di tengah-tengah serigala,” dan mereka pun pergi untuk memberitakan.

Nah, apakah Anda melihat urutan ini, Saudara? Seharusnya demikian juga dengan kita. Semuanya dimulai pada suatu titik ketika kita bertemu dengan Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Juruselamat. Lalu, tidak lama kemudian, Roh Allah mulai mendorong kita untuk menjala manusia. Kemudian, di tahap berikutnya, diharapkan kita sampai di titik di mana kita meninggalkan segalanya dan mengarahkan hidup kita untuk tujuan itu. Lalu akan tiba waktunya ketika, di tengah semua itu, kita mengalami kuasa Allah, dan kita melangkah keluar sebagai orang yang diutus secara nyata untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Nah, ini baru tahap kedua, tetapi ini adalah sebuah awal. Dia bertemu dengan dua orang ini, Simon dan Andreas. Apa yang sedang mereka lakukan? Dikatakan, “Mereka sedang menebarkan jala ke dalam danau, karena mereka adalah penjala ikan.” Pada zaman itu, ada tiga metode menangkap ikan. Metode yang pertama adalah dengan menggunakan tali pancing, semacam joran sederhana; hanya saja mereka memakai tongkat dengan tali yang diikatkan padanya. Jadi mereka menangkap ikan dengan cara memancing.

Metode kedua adalah yang disebut jala tarik. Jala tarik ini digunakan dari perahu, atau lebih baik lagi dari dua perahu. Jala itu ditebarkan ke dalam air dengan tali pada keempat sudutnya, dan bagian bawahnya diberi pemberat supaya tenggelam ke dalam air. Kemudian, saat perahu didayung, jala itu akan menyapu dan menangkap ikan-ikan. Setelah itu, mereka menarik tali di bagian atas hingga kencang, dan jala pun penuh dengan ikan. Alkitab juga menyebutkan tentang jala tarik ini dalam Matius pasal 13.

Jadi, ketika perahu-perahu itu didayung, jala tersebut akan membentuk seperti kerucut besar di dalam air. Karena ada pemberat di bagian ujungnya, jala itu akan turun dan membentuk kerucut, lalu menyapu ikan-ikan. Kemudian para nelayan akan menarik tali di bagian atas hingga rapat, dan ikan-ikan pun tertangkap. Lalu ada juga yang disebut jala tebar, dan itulah yang mereka gunakan di sini. Mereka sedang menebarkan jala, bukan sagēnē, yaitu jala tarik. Jala yang mereka pakai ini berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 2,7 meter, dan mereka sangat terampil menggunakannya. Mereka tahu bagaimana melemparkannya dari tepi danau. Seseorang bisa berdiri di air setinggi lutut, dan jala itu memiliki pemberat di sekeliling pinggirannya, biasanya berupa batu-batu kecil atau benda lain. Saat dilempar, jala itu akan tenggelam dan mengelilingi ikan-ikan, lalu mereka menarik talinya dan mengangkatnya kembali.

Itulah yang sedang mereka lakukan. Anda mungkin bertanya, “Mengapa semua itu dijelaskan?” Saya rasa itu menarik. Kata yang digunakan di sini adalah amphiblēstron, yang menjadi asal kata “amphibious,” yang berkaitan dengan berdiri di darat lalu melempar sesuatu ke dalam air, seperti dua arah sekaligus. Namun yang menarik bagi saya adalah ini: Yesus berkata, “Kamu akan menjala manusia.” Dia memakai gambaran itu. Cara mereka menangkap ikan adalah dengan melempar jala besar dan mendapatkan banyak ikan sekaligus, dan saya menyukai gambaran itu. Saya senang bahwa mereka tidak hanya menangkap satu ikan saja. Saya juga suka bahwa Yesus mengatakan, “Akan ada banyak yang tertangkap.”

Tuhan kita, ketika memikirkan tentang penginjilan, Dia memikirkan banyak orang. Jadi Dia memanggil mereka, Simon dan Andreas, tetapi lihat juga ayat 21, “Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka.” Sekarang Dia punya empat orang, dan Dia punya rencana bagi mereka. Mereka ini seperti permata yang masih kasar. Saya ingin Anda mengerti itu. Mereka adalah orang-orang yang keras, tangguh, dan terbiasa hidup di alam terbuka. Tidak diragukan lagi ada sisi kasar dalam diri mereka. Kita tahu itu jelas ada dalam diri Petrus, dan kemungkinan juga ada pada yang lainnya. Mereka memiliki banyak kelemahan. Mereka kurang memiliki pengertian rohani. Apa pun yang Yesus katakan selama bulan-bulan pertama pelayanan-Nya, mereka belum benar-benar memahaminya.

Dia sering berbicara kepada mereka dengan apa yang oleh orang Ibrani disebut mashal, yaitu perkataan yang terselubung, dan mereka hanya menggaruk-garuk kepala mereka, “Apa maksud-Mu? Kami tidak mengerti.” Pengertian mereka tentang hal-hal rohani sangat terbatas. Perumpamaan-perumpamaan dalam Matius pasal 13 seakan berlalu begitu saja tanpa mereka tangkap. Mereka tidak mengerti maksudnya. Yesus terus berbicara dengan istilah-istilah yang tidak mereka pahami, dan mereka lama sekali berusaha memahaminya. Yesus harus menjelaskan semuanya satu per satu. Mereka masih harus banyak belajar. Mereka juga sangat kurang memiliki rasa simpati. Mereka benar-benar sekelompok orang yang kurang peka terhadap orang lain.

Jika Anda membaca, saya rasa itu dalam Matius 14:15, “Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, ‘Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.’” Singkatnya, “Suruh saja mereka pergi, nanti mereka lapar, dan kita harus memberi mereka makan.” Jelas ini bukanlah contoh keramahan yang terbaik. Mereka kurang memiliki rasa simpati.

Mereka juga sangat kurang rendah hati. Mereka adalah sekelompok orang yang cukup sombong, dan mungkin karena mereka dekat dengan Yesus, mereka merasa lebih baik daripada orang lain. Dalam Matius 18, ketika seorang anak kecil datang, mereka berkata, “Singkirkan anak itu. Kami tidak punya waktu untuk anak-anak.” Mereka juga bukan orang-orang yang mudah mengampuni. Petrus pernah berkata, “Tuhan, kalau seseorang bersalah kepadaku, berapa kali aku harus mengampuninya?” Lalu Tuhan menjawab, “Empat ratus sembilan puluh kali.” Dan itu membuatnya terkejut.

Mereka juga sangat buruk dalam hal doa. Mereka terus saja tertidur. Mereka tidak punya banyak keberanian. Ketika gembalanya dipukul, domba-domba ini tercerai-berai, bukan? Sungguh kelompok yang luar biasa! Tidak punya pengertian rohani, tidak punya simpati, tidak punya kerendahan hati, tidak punya sikap mengampuni, tidak bisa bertahan dalam doa, dan penuh ketakutan. Tapi Yesus berkata, “Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Ini menunjukkan apa yang Tuhan bisa lakukan dengan Anda dan saya. Dia luar biasa dalam mengolah “bahan mentah” yang tampaknya hampir tidak memiliki potensi. Ini juga menjadi pelajaran yang sangat baik.

Saya tahu satu hal. Yesus pasti melihat sesuatu dalam diri mereka, bukan? Dia melihat sesuatu di sana. Dia tahu apa yang sedang Dia lakukan. Dia melihat potensi di dalam mereka. Saya sempat berpikir, saat mempelajari bagian ini, fakta bahwa Dia memilih para nelayan sebenarnya seperti teguran terhadap seluruh sistem Yahudi pada waktu itu, bukan? Maksud saya, mengapa Dia tidak memilih para rabi untuk menjadi tim-Nya? Para rabi yang hebat, cerdas, berpengetahuan luas, atau para pemimpin besar Israel? Tapi nelayan? Apa yang mereka tahu? Mereka tidak pernah sekolah. Mungkin mereka bahkan tidak bisa membaca. Namun Yesus mengandalkan sesuatu yang lebih baik, bukan? Lebih dari sekadar hikmat dunia, lebih dari pengaruh manusia, lebih dari agama yang formal, lebih dari pendidikan, lebih dari ritual. Seperti yang dikatakan Paulus, “Tidak banyak yang terpandang, tidak banyak yang berkuasa.” Dia memilih hal-hal yang dianggap bodoh oleh dunia, hal-hal yang hina di mata dunia.

Matthew Broadus, seorang penafsir Alkitab yang besar, yang menulis karya yang luar biasa tentang Injil Matius, berkata, “Mereka mungkin tidak terlalu dipengaruhi oleh kesesatan tradisi Farisi, sehingga lebih siap untuk menerima dan menyampaikan ajaran yang baru; dan mereka benar-benar adalah orang-orang biasa. Kemungkinan besar, semua dari kedua belas murid itu adalah orang-orang dengan kehidupan yang sederhana, tanpa pendidikan dari sekolah-sekolah rabi.” Dalam Kisah Para Rasul 4:13, orang-orang berkata, “Siapakah orang-orang ini, dan apa yang mereka tahu?” Mereka hanyalah orang Galilea.

Lihat ayat 19, “Yesus berkata kepada mereka, ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’” Saudara, sering kali kita sebagai orang Kristen justru melewatkan inti dari hal ini. Kita sering berkata, “Oh, kalau saja orang terkenal itu jadi Kristen, bayangkan berapa banyak orang yang bisa dimenangkannya.” Tahukah Anda, Tuhan tidak memilih orang-orang seperti itu sejak awal. “Kalo si ini bertobat, pasti pengaruhnya besar sekali!” Tetapi justru bukan mereka yang dipilih. Dia tidak datang lalu memilih tim terbaik seperti atlet Olimpiade. Bukan berarti ada yang salah dengan mereka, tetapi bukan itu cara-Nya. Dia juga tidak memilih para jenius besar. Dia memilih nelayan-nelayan yang sederhana. Mereka adalah orang biasa dari kalangan masyarakat, dan Allah selalu berpihak kepada orang-orang biasa, kepada mereka yang sederhana, termasuk mereka yang miskin secara rohani.

Sekarang perhatikan ayat 19. Saya sangat menyukai bagian ini. “Yesus berkata kepada mereka, ‘Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’” Bukankah itu janji yang luar biasa? Aku akan menjadikanmu penjala manusia. Artinya, Aku tidak meminta kamu melakukan sesuatu tanpa Aku sendiri berkomitmen untuk mengerjakannya di dalam kamu. Mereka sudah menjadi orang percaya, seperti yang kita lihat dalam Yohanes pasal 1, dan sekarang ini adalah tahap kedua dalam hidup mereka. Ada tugas yang diberikan, “Kamu harus menjadi penjala manusia.” Dan mereka langsung mengerti maksudnya. Gambaran itu begitu jelas bagi mereka; mereka tahu persis apa yang Yesus maksudkan.

Pernahkah Anda memikirkan bagaimana prinsip menangkap ikan bisa diterapkan untuk “menjala manusia”? Saya sendiri tidak terlalu tahu soal memancing, apalagi dengan jala. Tetapi pernahkah Anda berpikir bagaimana keterampilan itu bisa diterapkan dalam memenangkan orang? Nelayan yang baik memiliki beberapa kualitas. Yang pertama, kesabaran. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak tahan memancing,” biasanya itu tanda orang yang tidak sabar. Nelayan belajar menunggu; begitu juga kita kalau kita mau berhasil menjala manusia. Kita harus sabar. Yang kedua, nelayan memiliki ketekunan. Ini luar biasa. Mereka melakukannya berulang-ulang, terus mencoba lagi dan lagi. Mereka pergi, lalu kembali, “Hari ini tidak dapat apa-apa, tapi kita coba lagi.” Terus seperti itu. Ketekunan.

Hal ketiga yang dimiliki para nelayan adalah keberanian. “Perahuku begitu kecil, dan laut begitu luas,” seperti ungkapan itu. Tapi mereka tetap berani menghadapi laut demi mendapatkan ikan.

Nelayan juga biasanya punya kepekaan terhadap waktu yang tepat. Kalau Anda berbicara dengan nelayan yang berpengalaman, mereka tahu kapan dan di mana harus menangkap ikan. Begitu juga dengan orang yang memenangkan jiwa, ia memilih waktu dan tempat dengan bijaksana. Pernahkah Anda perhatikan, nelayan yang baik selalu mengatakan supaya tetap tidak terlihat? Saya ingat waktu kecil, saya pernah memancing dengan Paman Charlie di daerah timur. Saya sering menjulurkan badan keluar dari perahu, lalu dia berkata, “Jangan condong keluar dari perahu.” Saya terus melihat ke luar perahu, dan dia khawatir ikan-ikan itu akan melihat saya dan menjadi takut. Dia berkata, “Jangan condong keluar. Kamu tidak boleh terlihat. Kalau mau menangkap ikan, kamu harus tetap supaya mereka tidak melihatmu.” Saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tetapi itu adalah ilustrasi yang bagus.

Seorang pemenang jiwa yang baik tidak menonjolkan dirinya sendiri. Ia akan menyembunyikan dirinya, bahkan “bayangannya,” dan memastikan bahwa perhatian orang tertuju kepada Yesus Kristus.

Jadi Yesus berkata, “Kalian sudah tahu tentang kesabaran. Kalian tahu tentang ketekunan. Kalian tahu tentang keberanian. Kalian punya kepekaan terhadap waktu yang tepat, dan kalian tahu bagaimana tidak menonjolkan diri untuk mencapai tujuan. Karena itu Aku memilih kalian untuk menjala manusia.” Lalu Dia berkata, “Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Tahukah Anda? Itu adalah komitmen dari Yesus sendiri untuk melatih mereka, untuk mengajar mereka.

Sebenarnya hanya ada satu cara untuk mengajar seseorang memenangkan jiwa, yaitu dengan membawa mereka langsung melakukannya. Itulah sebabnya saya melihat pelayanan seperti “Ledakan Penginjilan” sangat luar biasa, karena mereka membentuk orang lain menjadi penjala manusia. Anda tidak bisa hanya berdiri dan berkata, “Oke, sekarang semua pergi dan jadilah penjala manusia.” Tidak bisa begitu. Harus diajarkan. Harus dilatih. Ada yang belum tahu bagaimana caranya “memasang umpan.” Ada yang belum tahu bagaimana cara “menariknya.” Ada yang belum tahu bagaimana cara “melempar jala.” Yesus berkata, “Aku akan menjadikanmu penjala manusia.” Artinya, Aku akan mengajar kamu bagaimana melakukannya. Dan memang, Dia melakukannya.

Tahukah Anda berapa lama Dia melatih mereka? Berapa lama? Tiga tahun, tiga tahun. Luar biasa, bukan? Pertama, Dia menghabiskan waktu bersama mereka, membentuk mereka, mempersiapkan mereka. Lalu Dia mengutus mereka pergi berdua-dua, seperti dalam Matius 10. Mereka pergi, lalu kembali. Pergi lagi, lalu kembali lagi. Selalu kembali untuk memberi laporan. Mereka diutus berdua-dua, lalu kembali. Diutus lagi, lalu kembali lagi. Sampai akhirnya, dalam Matius 28, Dia berkata, “Aku akan pergi, sekarang kamu yang melanjutkannya.” Mereka sudah siap. Metode pelatihan Yesus adalah seperti ini: Dia memanggil mereka kepada-Nya, memperkenalkan tugas mereka, lalu mengutus mereka keluar dan kembali untuk memberi laporan. Mereka datang kembali dan berkata, “Ini yang terjadi, itu yang terjadi.” Lalu Dia mengutus mereka lagi. Mereka kembali lagi. Akhirnya, mereka benar-benar siap, dan kemudian Dia pergi.

Bagaimana cara Yesus melakukannya? Pernahkah Anda menganalisis bagaimana Yesus melatih orang untuk memenangkan jiwa? Izinkan saya memberi beberapa gambaran singkat. Waktu kita hampir habis. Pertama, perhatikan ini. Kalau Anda melihat Perjanjian Baru, inilah yang Anda temukan. Bagaimana Yesus memenangkan orang? Mereka melihat Dia. Dia tidak memberikan 45 ceramah. Dia langsung melakukannya, dan mereka melihat lalu belajar.

Pertama-tama, inilah metode yang Yesus gunakan secara singkat. Yang pertama, Dia selalu tersedia. Ketika saya mempelajari kehidupan Kristus, saya melihat bahwa Dia selalu berada di tengah orang banyak. Pernahkah Anda menyadarinya? Dia selalu berada di tempat di mana kerumunan berada. Dia selalu berada di tempat di mana orang-orang berdosa ada. Bahkan, orang-orang berkata tentang Dia, “Engkau selalu bergaul dengan orang berdosa.” Dia memang ada di sana, dan para murid menangkap pesan bahwa di situlah mereka juga seharusnya berada.

Yang kedua, Dia tidak pilih kasih. Dia tidak hanya bergaul dengan orang-orang terpandang. Dia tidak hanya bersama orang kaya. Dia tidak hanya bersama orang terkenal. Dia tidak hanya bersama orang-orang religius. Status sosial tidak menjadi soal bagi-Nya. Memang, Dia bisa menjangkau seorang kaya seperti Yairus, tetapi Dia juga mau meluangkan waktu bersama seorang perempuan berdosa. Dia tidak membeda-bedakan. Dia selalu tersedia, dan Dia tidak pilih kasih.

Hal ketiga yang saya lihat dari cara Yesus memenangkan orang adalah Dia sangat peka. Dia bisa mengenali hati yang terbuka dengan sangat cepat. Bisakah Anda seperti itu? Sudahkah Anda belajar melihat hati yang terbuka? Anda ingat dalam Markus pasal 5, ketika Yesus berada di tengah kerumunan, dan orang-orang berdesakan sehingga Dia hampir tidak bisa bergerak? Dia benar-benar terhimpit oleh orang banyak. Lalu Alkitab berkata Dia berbalik dan bertanya, “Siapa yang menjamah Aku?” Mungkin Anda berpikir, “Serius? Siapa yang menjamah?” Tetapi Dia berkata, “Siapa yang menjamah Aku?” Ada seorang perempuan yang mengalami pendarahan, yang menjangkau dan menyentuh salah satu rumbai pada jubah-Nya. Yesus tahu ada hati yang merespons dengan iman. Dia memanggil perempuan itu keluar dari kerumunan, menyembuhkannya, dan dari hatinya keluar pengakuan iman kepada-Nya.

Dia sangat peka. Dia bisa melihat satu orang di tengah kerumunan yang hatinya terbuka. Dia peka terhadap Roh Allah. Tahukah Anda bahwa Anda juga bisa seperti itu? Jika Anda hidup dipimpin oleh Roh Allah, saya percaya Roh Allah akan menuntun Anda kepada orang tersebut.

Dia selalu tersedia. Dia tidak pilih kasih. Dia peka. Keempat, seperti yang sudah saya singgung, Dia membawa orang kepada pengakuan yang terbuka. Dia tidak membiarkan orang begitu saja pergi tanpa respon yang jelas. Saya ingat perempuan dalam Markus pasal 5 itu. Dia membuat perempuan itu menyatakan imannya secara terbuka. Ia tidak bisa begitu saja pergi. Ia sudah menyentuh jubah Yesus dan disembuhkan, tetapi itu belum cukup. Ngomong-ngomong, Markus mencatat bahwa perempuan itu sudah sangat menderita. Ia telah mengalami banyak hal di tangan banyak tabib. Markus menuliskan itu. Lukas tidak mencatat bagian tersebut, dan kita bisa mengerti alasannya.

Murid-murid berkata kepada-Nya, “Apa maksud-Mu, siapa yang menyentuh-Mu? Tidak lihatkah Engkau orang banyak ini?” Tetapi Yesus menarik perempuan itu keluar dari kerumunan. Ia berkata, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu.” Dia membawa perempuan itu kepada pengakuan iman. Dan kita juga perlu melakukan hal yang sama. Untuk benar-benar menjangkau orang, kita perlu menolong mereka sampai pada titik di mana mereka dengan mulut mereka sendiri mengakui Dia sebagai Tuhan secara terbuka.

Hal lain tentang Yesus, Dia menggunakan kasih dan kelembutan. Saya memikirkannya dalam begitu banyak cara. Lihat apa yang Dia lakukan dalam Yohanes pasal 8 terhadap perempuan berdosa itu, seorang perempuan yang telah diperlakukan begitu buruk oleh banyak pria, seorang pelacur dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Bagaimana dengan Maria Magdalena? Bagaimana dengan semua peristiwa dalam Injil Matius? Misalnya dalam Matius pasal 8—tahukah Anda bahwa Yesus menjangkau dan menyentuh seorang kusta? Dia menunjukkan kelembutan kepada orang berdosa.

Lalu satu hal lagi. Dia selalu meluangkan waktu. Dia selalu menyediakan waktu. Ini sangat menegur saya secara pribadi. Saya sering terburu-buru, selalu harus pergi, selalu ada proyek besar, selalu ada pertemuan yang harus dihadiri. Saya punya banyak waktu untuk “pelayanan,” tetapi justru tidak punya waktu untuk orang-orang. Tetapi Yesus selalu meluangkan waktu. Di tengah kerumunan besar dalam Markus pasal 5, Yairus datang kepada-Nya, dan Yesus tetap meluangkan waktu. Yairus menceritakan panjang lebar tentang anaknya. Banyak orang di sekitar-Nya, tetapi Dia tetap menyediakan waktu.

Selama tiga tahun, Yesus melatih orang-orang-Nya bagaimana untuk selalu tersedia, bagaimana untuk tidak pilih kasih, bagaimana untuk peka, bagaimana untukmembawa orang kepada pengakuan iman yang terbuka, bagaimana untuk menggunakan kasih dan kelembutan, dan bagaimana untuk meluangkan waktu. Dia juga mengajarkan mereka untuk memakai semua yang sudah mereka ketahui sebagai nelayan: kesabaran, ketekunan, keberanian, kepekaan terhadap waktu yang tepat, serta kemampuan untuk tidak menonjolkan diri di tengah semua itu. Saya rasa benar apa yang pernah dikatakan seseorang, bahwa “penginjilan bukan hanya diajarkan, tetapi lebih banyak ditangkap,” seperti halnya banyak hal lain dalam kehidupan Kristen.

Jadi, mereka belajar. Dia melatih mereka, dan itulah yang menjadi kerinduan kita juga. Beberapa tahun yang lalu, kami menghadirkan—saya rasa Anda semua mengenal Jim George yang ada di tim kami. Sebenarnya kami bisa saja merekrut satu orang untuk melakukan pelayanan kunjungan, untuk pergi keluar dan menginjil. Tapi tahukah Anda apa yang kami lakukan? Kami memilih untuk mendukung seseorang yang melatih orang lain untuk menginjil. Jika kami hanya merekrut satu orang untuk menginjil, tahu tidak apa yang akan terjadi lima tahun kemudian? Kami hanya akan punya satu orang yang menginjil. Tapi sekarang, kami memiliki antara 200 sampai 300 orang yang sudah dilatih untuk menjala manusia. Dan itulah yang Yesus lakukan.

Apa respons mereka? Inilah penutupnya. “Mereka segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.” Lalu ayat 22 berkata tentang yang lain, Yakobus dan Yohanes, “Dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.” Saya sangat menyukai bagian ini. Ketaatan yang langsung. Seperti yang dikatakan Jerry, ini menunjukkan otoritas. Ketika seseorang berjalan di tepi danau, lalu berkata kepada orang-orang ini, “Ikutlah Aku,” dan mereka langsung mengikuti—itu menunjukkan sesuatu tentang siapa Dia, bukan? Setiap kali saya melihat gambaran Yesus sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya, dan seolah tidak memiliki wibawa, itu bukan gambaran Kristus yang kita lihat di sini.

Anda datang kepada orang-orang yang kuat dan keras seperti itu, lalu berkata, “Ikutlah Aku,” dan mereka meninggalkan semuanya, bahkan ayah mereka, lalu mengikuti Anda? Jelas ada sesuatu yang luar biasa di situ, dan memang mereka melakukannya—inilah ketaatan. Anda mungkin bertanya, “Apakah mereka sudah punya beban besar untuk jiwa-jiwa?” Saya rasa tidak, bahkan sangat mungkin mereka belum punya gairah yang besar untuk apa pun. Lalu mengapa mereka melakukannya? Dengarkan ini: jika Anda ingin memiliki beban untuk jiwa-jiwa, mulailah dengan taat, karena di situlah semuanya dimulai. Saya bisa katakan seperti ini, ketaatan adalah percikan yang menyalakan api gairah; cara untuk memiliki hati yang terbakar bagi jiwa-jiwa yang terhilang adalah dengan taat kepada Tuhan dan melangkah keluar, lalu melihat bagaimana Tuhan mengambil percikan kecil dari ketaatan itu dan mengobarkannya menjadi api yang besar.

David Brainerd, seorang misionaris besar kepada suku Indian yang meninggal di usia muda, berkata, “Oh, seandainya aku menjadi api yang menyala bagi pekerjaan Tuanku.” Henry Martyn berkata, “Biarlah aku terbakar habis bagi Tuhan.” Alexander MacLaren, sang pengkhotbah besar itu berkata, “Ceritakan kepadaku seberapa dalam belas kasihan seorang Kristen, maka aku akan memberitahukan seberapa besar kegunaannya.” Lalu dari mana semuanya itu dimulai? Dari mana datangnya gairah seperti itu? Dari mana datangnya keinginan untuk hidup menyala bagi Tuhan? Dari mana asalnya? Semua itu berasal dari percikan kecil yang disebut ketaatan.

Dr. Cortland Myers, dalam bukunya How Do We Know? (Bagaimana Kami Mengetahuinya?), menuliskan tentang Robert Murray M'Cheyne, salah satu pengkhotbah terbesar di Skotlandia yang meninggal pada usia 29 tahun. Inilah yang dikatakan Myers, “Ke mana pun ia melangkah, Skotlandia terguncang. Setiap kali ia membuka mulutnya, kuasa rohani menjalar ke segala arah. Ribuan orang mengikuti dia datang kepada Kristus.”

“Seorang pengunjung yang ingin melihat tempat Robert Murray M'Cheyne pernah berkhotbah pergi ke suatu kota di Skotlandia dan menemukan gereja lamanya. Seorang penjaga tua berambut abu-abu bersedia mengajaknya berkeliling. Ia membawanya ke ruang belajar M’Cheyne. ‘Duduk di kursi itu,’ kata penjaga itu. Pengunjung itu ragu sejenak, lalu duduk. Di meja di depannya terbuka sebuah Alkitab. ‘Tundukkan kepalamu di atas kitab itu dan menangislah. Begitulah pendeta kami melakukannya sebelum ia berkhotbah,’ kata orang tua itu. Kemudian ia membawa pengunjung itu ke mimbar, di depan Alkitab yang terbuka. ‘Berdirilah di sana,’ katanya, ‘dan tundukkan kepalamu di tanganmu, biarkan air matamu mengalir. Begitulah cara pendeta kami selalu lakukan sebelum ia mulai berkhotbah.’”

Jadi, Cortland Myers berkata, “Dengan beban hati yang begitu besar bagi jiwa-jiwa yang terhilang dan membutuhkan, tidak heran Roh Kudus memberikan kepada Robert Murray M'Cheyne suatu daya tarik rohani yang kuat, yang menarik begitu banyak orang kepada Juruselamat.”

Lalu dari mana semuanya dimulai? Anda mungkin berkata, “Itu terasa sangat jauh dari saya.” Dari mana mulainya? Semuanya dimulai dari percikan kecil ketaatan. Itulah api kecil yang menyalakan segalanya. Jadi dengarkan, Tuhan membutuhkan orang-orang khusus untuk dipakai-Nya. Dia membutuhkan tim penyelamat yang terlatih dengan baik di Gereja Komunitas Grace. Dia tidak membutuhkan sekadar tempat yang nyaman seperti sebuah klub. Dia tidak membutuhkan itu. Gereja sudah terlalu sering menjadi seperti itu. Yang Dia butuhkan adalah tim penyelamat yang terlatih. Dia membutuhkan penjala manusia. Anda mungkin bertanya, “Apakah saya bisa melakukannya?” Ya, bisa. Lalu bagaimana? Dengarkan, yang pertama, jadilah seorang percaya. Anda tidak bisa menjadi bagian dari tim ini kalau Anda sendiri belum menjadi bagiannya.

Yang kedua, jadilah tersedia. Belajarlah bagaimana memenangkan orang kepada Kristus. Jika itu berarti Anda perlu terlibat dalam pelayanan penginjilan, maka terlibatlah. Jika itu berarti membaca Perjanjian Baru dan menandai semua bagian tentang penginjilan, lalu mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, lakukanlah. Jadilah seorang percaya dan jadilah tersedia.

Yang ketiga, milikilah kepedulian. Mungkin itu berarti membaca beberapa buku. Yang pasti, itu berarti bertemu dengan orang-orang yang belum percaya. Semuanya dimulai dari ketaatan, jadi taatilah. Pergi dan lakukanlah. Bahkan jika Anda belum merasakan gairah itu, tetap lakukan. Jangkau tetangga Anda. Ucapkan kata-kata yang selama ini ingin Anda sampaikan tetapi belum pernah Anda katakan. Lalu, sadari bahwa Yesus adalah teladan Anda. Pelajari bagaimana Dia melakukannya. Setelah itu, temukan seseorang yang bisa Anda ikuti, dan biarkan dia menjadi contoh bagi Anda.

Jadilah seorang percaya, jadilah tersedia, milikilah kepedulian, hiduplah dalam ketaatan, ikutilah Yesus, dan belajarlah dari teladan. Jadi, Yesus memulai pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dengan pemberitaan yang tepat, dan dengan rekan-rekan yang tepat. Terang itu telah terbit, Saudara, dan kita dipanggil untuk membawanya ke seluruh dunia.

Saya akan menutupnya dengan ini. Ketika saya masih kuliah, saya bersama Dave Hocking dan Bruce Peterson, yang adalah diaken di gereja kami—Dave Hocking adalah pendeta Gereja Grace Brethren di Long Beach—lalu ada Ed Byrd, pendeta pembantu di Gereja Baptis Kalvari di Los Gatos, dan Lenny Seidel, yang sekarang melayani di bagian timur. Kami semua membentuk sebuah kuartet. Kami memiliki lagu tema, dan judul lagu itu mungkin sudah pernah Anda dengar, “Let the Lower Lights Be Burning.” (Biarkan lampu-lampu bagian bawah tetap menyala.) Anda ingat lagu itu? Kami sering sekali menyanyikannya. Bahkan, saya begitu hafal bagian baritonnya, sampai-sampai saya rasa saya tidak terlalu ingat melodinya. Itulah lagu tema kami.

Saya sebenarnya tidak terlalu mengerti apa artinya. Kami sering menyanyikan, “Biarkan lampu-lampu bagian bawah tetap menyala,” lalu ada orang yang datang setelah itu dan bertanya, “Apa itu lampu-lampu bagian bawah?” Kami hanya tersenyum dan berkata, “Lagunya enak didengar.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan lampu-lampu bagian bawah? Tahukah Anda bahwa seluruh lagu itu berasal dari sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Dwight L. Moody? Inilah kisahnya.

Moody menceritakan bahwa ada sebuah kapal yang sedang masuk ke pelabuhan Cleveland pada malam yang sangat gelap dan penuh badai. Supaya kapal itu tahu posisinya, ada dua set lampu di pelabuhan: satu set berada di atas tebing yang tinggi, dan satu set lagi berada di sepanjang garis pantai. Dengan begitu, di tengah kegelapan, mereka bisa melihat posisi mereka berdasarkan lampu yang di atas dan yang di bawah. Namun pada malam itu, sang pilot melihat bahwa lampu yang di atas tebing menyala, tetapi lampu yang di bawah tidak. Karena itu, pilot bertanya kepada kapten apakah sebaiknya mereka kembali ke danau, supaya tidak masuk terlalu jauh dan menabrak karang. Tetapi kapten begitu takut dengan badai di danau, sehingga ia memutuskan untuk tetap mencoba masuk ke pelabuhan.

Dwight L. Moody berkata bahwa kapal itu memang berhasil masuk, tetapi mereka hancur, dan banyak orang tenggelam, semuanya karena lampu yang di bawah padam akibat badai. Lalu Moody berkata, dengarkan ini, “Lampu yang di atas, di surga, tetap menyala terang seperti biasanya. Bagaimana dengan lampu yang di bawah?”

Bapa, kami bersyukur kepada-Mu. Terima kasih atas panggilan yang Engkau berikan kepada kami untuk melakukan pekerjaan ini bagi-Mu. Kami memuji Engkau dan memohon agar Engkau menjadikan kami orang-orang yang menjadi penjala manusia, demi nama Yesus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize