Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Mari kita melihat bersama dari Efesus 5:18-21. Silakan Anda mengikuti di Alkitab Anda selagi saya membacanya. “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.  Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” Mari kita berdoa bersama.

Bapa, terima kasih untuk firman-Mu yang luar biasa ini. Tuhan, saya merasa tidak sepenuhnya mampu untuk membahas konsep yang begitu besar seperti kepenuhan oleh Roh ini, tapi saya tahu, Tuhan, bahwa hal ini sangat praktis dan penting, bahkan merupakan suatu perintah. Karena itu Tuhan, berikan hikmat-Mu selagi saya berbicara dan juga hikmat bagi setiap orang yang mendengarnya, supaya kami boleh taat dan mengerti sepenuhnya apa yang Engkau sampaikan kepada kami, dalam nama Kristus. Amin.

Nah, jika Anda sudah mengikuti bersama kami selama ini, Anda tentu ingat bahwa kita sedang membahas kitab Efesus ayat demi ayat, dan sudah cukup lama kita melakukannya. Kita menemukan bahwa kita dipanggil untuk hidup dengan cara yang layak, menjalani gaya hidup tertentu, karena Tuhan sudah menetapkan dengan sangat jelas bagaimana seharusnya kita hidup. Kita sudah membahas Efesus pasal 4 dan 5, dan nanti kita akan masuk ke pasal 6, dan kita melihat bahwa semua pasal ini sebenarnya menjelaskan bagaimana seorang Kristen harus hidup. Dan kunci dari cara hidup orang Kristen itu ada di pasal 5 ayat 18. Sadarkah Anda bahwa jika ayat ini tidak ada dalam kitab Efesus, maka seluruh isi kitab ini tidak akan pernah bisa dijalankan? Jika satu ayat ini dihapus, maka semuanya hanya akan menjadi sekadar aturan yang kaku. Tanpa ayat ini, Anda memang tetap memiliki gambaran besar tentang siapa Anda di dalam Kristus seperti yang dijelaskan di pasal 1 sampai 3, Anda juga tetap punya panduan hidup di pasal 4, 5, dan 6, tetapi Anda tidak akan memiliki tenaga atau kekuatan untuk benar-benar menjalani semua itu.

Anda akan hidup sepenuhnya menurut keinginan daging tanpa pernyataan indah dalam pasal 5 ayat 18 ini, yaitu “hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Inilah inti dari semuanya. Inilah tenaga yang menggerakkan hidup yang layak itu. Inilah kunci untuk menjalani hidup sebagai orang Kristen. Semuanya berakar dari sini. Anda tidak akan pernah bisa hidup dalam kerendahan hati, tidak akan pernah bisa hidup dalam kesatuan, tidak akan pernah bisa hidup berbeda dari dunia, tidak akan pernah bisa hidup dalam terang, tidak akan pernah bisa hidup dalam kasih, dan tidak akan pernah bisa hidup dalam hikmat, jika Anda tidak digerakkan oleh Roh Allah. Kehidupan Allah di dalam jiwa kitalah menjadi satu-satunya yang bisa menghasilkan kehidupan seperti itu. Kalau tidak demikian, maka orang yang belum lahir baru pun bisa hidup seperti itu.

Jadi inilah inti dari semuanya di ayat 18. Ayat ini membuka bagi kita pemahaman yang sangat luas dan mendalam. Dan sebenarnya bisa dikatakan, jika Anda tidak menaati pasal 5 ayat 18, maka Anda adalah orang yang paling bodoh. Di ayat 15 dikatakan, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Dan orang yang paling bodoh adalah orang yang mencoba hidup dalam kerendahan hati, hidup dalam kesatuan, menjalani hidup yang berbeda, hidup dalam kasih, hidup dalam terang, hidup dalam hikmat, melakukan seluruh kehendak Allah, tetapi melakukannya dengan kekuatan diri sendiri. Itu adalah kebodohan terbesar. Seorang Kristen harus menjalaninya dengan kuasa Roh Kudus.

Nah, apa artinya dipenuhi oleh Roh? Banyak orang sebenarnya bingung tentang hal ini. Ada yang mengira itu berarti mengalami semacam “sentuhan ilahi” yang tiba-tiba. Ada juga yang berpikir ini terjadi saat seseorang berbahasa roh, dan sering ada yang bertanya, “Apakah Anda sudah dipenuhi Roh?” seolah-olah membagi orang menjadi dua kelompok: yang sudah mengalami dan yang belum. Kalau seseorang pernah mengalami pengalaman yang sangat emosional atau luar biasa, dianggap sudah; kalau belum, berarti belum. Jadi ada banyak perbedaan pandangan dan perdebatan tentang hal ini. Di satu sisi, ada yang menganggap ini sebagai pengalaman yang penuh sensasi, sementara di sisi lain ada yang melihatnya secara sangat kaku, hanya sebagai fakta bahwa Roh Kudus hadir, tanpa dampak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Padahal keduanya keliru. Kepenuhan Roh bukanlah sekadar pengalaman emosional yang meledak-ledak, dan juga bukan sesuatu yang kering tanpa dampak. Kepenuhan Roh adalah suatu realitas yang sangat dalam, dan pagi ini kita ingin memahaminya sebaik mungkin.

Sekarang, mari kita lihat tiga poin sebagai kerangka untuk memahami apa yang akan kita bahas. Kita akan melihat perbandingan, perintah, dan akibatnya. Sebenarnya kita sudah membahas perbandingannya, dan nanti kita akan membahas akibatnya, tetapi hari ini kita akan berfokus pada perintahnya, yaitu “hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Itulah perintahnya. Sekarang, saya ingin mengingatkan kembali secara singkat tentang perbandingan tadi, kalau mungkin Anda sudah lupa atau belum sempat mendengarnya sebelumnya.

Pertama, perbandingannya di ayat 18, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu”—atau hidup yang tidak terkendali, rusak, dan tanpa arah—itulah akibatnya—“tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Di sini ada perbandingan antara mabuk oleh anggur dan dipenuhi oleh Roh. Dalam beberapa minggu terakhir kita sudah mencoba menjelaskan bahwa mabuk adalah salah satu cara yang digunakan dalam agama-agama kafir untuk menimbulkan apa yang mereka anggap sebagai persekutuan dengan ilah-ilah mereka. Jadi sebenarnya yang dibahas di sini bukan terutama soal sosial, walaupun itu juga benar. Sebelum Anda menjadi orang Kristen, mungkin Anda hidup dalam kebiasaan seperti itu, tetapi setelah menjadi orang Kristen, seharusnya tidak lagi demikian. Hal ini berlaku dalam konteks sosial. Tapi yang lebih ditekankan di sini adalah aspek teologis. Orang-orang kafir menjadi mabuk karena mereka percaya dengan cara itu mereka bisa mencapai tingkat kesadaran rohani yang lebih tinggi dan merasa bersekutu dengan para dewa.

Dan ketika mereka mabuk, mereka benar-benar mabuk. Bahkan mereka sampai memuntahkan apa yang sudah diminum supaya bisa minum lagi, dan dari penemuan arkeologi kita tahu ada tempat-tempat khusus yang memang dibuat untuk tujuan itu. Mereka sengaja membawa diri mereka ke kondisi kehilangan kesadaran karena mabuk, karena mereka percaya keadaan itu akan mengangkat mereka untuk bisa berhubungan dengan para dewa. Lalu rasul Paulus membuat perbandingan yang sangat jelas dengan mengatakan, “Kamu bersekutu dengan Allah bukan dengan cara seperti itu, tetapi melalui penyembahan dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani, melalui kehidupan sehari-hari, seperti istri yang tunduk kepada suami dan suami yang mengasihi istri, dan seterusnya. Semua itu kamu jalani bukan karena dorongan mabuk, tetapi karena dipenuhi oleh Roh Allah.” Jadi, sangat berbeda sama sekali.

Paulus menjelaskan bahwa kita menemukan sukacita, kita menemukan kegembiraan, kita menemukan persekutuan dengan Allah, dan kita menemukan dasar dari penyembahan kita, bahkan dorongan dalam setiap bentuk ibadah kita, semuanya berasal dari kepenuhan oleh Roh Kudus. Ibadah mereka yang jahat, penuh hawa nafsu, liar, dan rusak—dengan musik yang tidak benar, tarian yang tidak benar, dan berkaitan dengan percabulan—semuanya didorong oleh kemabukan. Tetapi penyembahan kita yang sejati, musik kita yang indah, dan persekutuan kita dengan Allah, semuanya lahir dari kuasa Roh Kudus. Jadi ada perbedaan yang sangat jelas antara penyembahan orang-orang kafir yang mabuk dan penuh hawa nafsu dengan keindahan penyembahan kepada Allah yang sejati yang dipenuhi oleh Roh. Itulah yang ada dalam pikiran Paulus, dan ia mengatakan bahwa sebagai orang Kristen, Anda harus meninggalkan semua itu dan sampai pada titik ini, yaitu hidup yang dipenuhi oleh Roh.

Nah, perbandingan seperti ini sebenarnya sering muncul dalam Alkitab. Misalnya dalam Injil Lukas 1:15, tentang Yohanes Pembaptis—dan ini sudah pernah kita bahas sebelumnya—dikatakan, “Ia akan besar di hadapan Tuhan,” dan salah satu cirinya adalah, “ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya.” Di sini terlihat perbandingan yang sama. Ia bukan seorang peminum, melainkan seseorang yang dipenuhi oleh Roh. Sikap rohaninya tidak dibentuk oleh anggur atau minuman keras, tetapi oleh Roh Allah. Apa yang memengaruhi dirinya dari dalam bukanlah minuman, melainkan Roh Allah. Ia tidak digerakkan oleh pengaruh alkohol terhadap pikirannya, tetapi oleh pekerjaan Roh Allah dalam hidupnya. Dengan kata lain, hidupnya dipimpin oleh Roh Allah, berbeda dengan banyak orang yang hidupnya dikendalikan oleh kemabukan.

Dalam Kisah Para Rasul pasal 2, kita menemukan perbandingan yang sama lagi. Pada hari Pentakosta, Anda ingat, di pasal 2 ayat 4 dikatakan bahwa mereka semua penuh dengan Roh Kudus. “Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan.” Para murid saat itu mulai berbicara dalam berbagai bahasa, bahkan di ayat 9 disebutkan bahasa-bahasa itu, lalu di ayat 10 dan 11 juga kembali disebutkan, dan mereka memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah dalam bahasa-bahasa yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya. Tuhan secara ajaib memberi mereka kemampuan untuk melakukannya, dan intinya adalah ketika mereka dipenuhi oleh Roh pada hari Pentakosta, inilah yang terjadi. Jadi, ketika mereka dipenuhi oleh Roh, mereka melakukan hal-hal tersebut.

Tetapi orang banyak berkata—di ayat 12—bahwa mereka semua tercengang dan bingung, lalu berkata, “Apa artinya ini?” Tetapi yang lain menyindir, "Mereka sedang mabuk oleh gleukos -anggur manis." Mereka menganggap ini hanya seperti pesta liar ala kafir, seperti praktik keagamaan bangsa-bangsa lain yang biasa dilakukan dengan cara mabuk. Bagi orang Yahudi, hal seperti itu tentu sangat tidak pantas, karena mereka melihat bangsa-bangsa lain sering mengaitkan ibadah dengan kemabukan. Jadi mereka mengira inilah yang sedang terjadi, seolah-olah para murid telah merendahkan diri pada cara ibadah kafir, menyembah Allah dengan cara yang tidak dapat diterima, dan karena itu mereka mengejek. Dengan kata lain, mereka menyimpulkan bahwa para murid pasti sengaja mabuk.

Gleukos adalah anggur yang masih baru. Jadi mereka berkata, “Ini masih pagi, tetapi mereka sudah mabuk oleh anggur yang baru.” Mereka sedang mengejek, seolah-olah mereka berkata, “Lihat, mereka sengaja membuat diri mereka mabuk, ini kan perilaku khas orang kafir.” Karena itu mereka meremehkan dan berkata, “Siapa yang mau mendengarkan mereka?” Lalu Petrus berdiri dan berkata di ayat 15, “Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka.” Ini bukan kemabukan, melainkan kepenuhan oleh Roh. Tetapi dunia, dalam kebodohannya, sering kali tidak bisa membedakan antara ekspresi ibadah yang palsu seperti orang kafir, dengan yang benar yang dari Allah. Itulah sebabnya perbandingan ini muncul berulang kali.

Sekarang mari kita kembali ke Efesus 5:18, dan kita melihat perbandingan yang sama lagi, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Saya yakin Paulus mengingat peristiwa di hari Pentakosta. Ia sedang memikirkan kembali saat para rasul dan murid-murid pertama kali dipenuhi oleh Roh Allah. Mereka melakukan hal-hal yang bagi orang lain terlihat seperti orang yang mabuk dan seperti menjalankan bentuk ibadah ala kafir. Jadi di sinilah terlihat perbandingan yang sangat jelas itu.

Sekarang, mari kita melihat perintahnya, dan kita akan fokus di bagian ini karena ini adalah kebenaran yang sangat luar biasa. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengetahuinya dan pernah mempelajarinya, tetapi ada juga yang belum, bahkan mungkin baru mendengar hal ini, jadi kita akan pelan-pelan membahasnya bersama. Ini adalah perintah yang sangat kaya makna. Perhatikan di ayat 18, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Yang Paulus maksudkan di sini adalah sesuatu yang dituntut, ini adalah perintah. Dalam bahasa Yunani ada yang disebut bentuk indikatif, yaitu pernyataan fakta, dan ada bentuk imperatif, yaitu perintah—dan ini adalah bentuk perintah. Artinya, “hendaklah kamu terus-menerus dipenuhi oleh Roh.” Inilah perintah bagi setiap orang percaya. Ini bukan pilihan, bukan sekadar saran. Allah hampir tidak pernah memberikan saran; Dia menyatakan fakta dan memberikan perintah. Sangat sedikit hal yang bersifat opsional di dalam Tuhan, dan ini bukan salah satunya—ini adalah perintah.

Dan hal ini sangat mengkhawatirkan saya, karena banyak orang yang disebut sebagai orang Kristen ternyata tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya dipenuhi oleh Roh. Tahukah Anda, ada orang-orang Kristen yang tidak pernah sungguh-sungguh berkomitmen pada prinsip ini. Memang, kita semua pernah gagal melakukannya dalam hidup kita, tetapi itu tidak membuat kalimat ini berhenti menjadi sebuah perintah. Dan saya benar-benar prihatin, karena saat ini ada begitu banyak ajaran, buku, dan pembahasan yang seolah-olah mengatakan bahwa seseorang bisa menjadi Kristen tanpa perlu memedulikan hal-hal ini. Seakan-akan muncul kategori baru di tengah-tengah. Di satu sisi ada manusia duniawi, yang belum diselamatkan, belum lahir baru, menuju kebinasaan. Di sisi lain ada orang Kristen rohani, yang mengasihi firman, mengasihi Tuhan, taat kepada-Nya, hidup dalam kebenaran, hidup dalam perintah-perintah-Nya, dan hidup dalam terang. Lalu di tengah-tengah ada kategori baru yang dibuat, yaitu orang yang sudah diselamatkan tetapi hidupnya biasa saja, tidak sungguh-sungguh. Seolah-olah mereka sudah diselamatkan dari kebinasaan, tetapi tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kehidupan Kristen yang seharusnya. Mereka hanya hidup tanpa komitmen.

Kemarin saya membaca sebuah artikel dari seorang teolog yang cukup dikenal, yang mengatakan bahwa ada orang-orang yang sudah diselamatkan tetapi tidak pernah hidup dalam terang. Saya sendiri sulit memahami hal itu. Kalau seseorang sudah diselamatkan dari kegelapan dan dibawa masuk ke dalam kerajaan Anak-Nya yang terkasih, dan jika kita hidup dalam terang seperti Dia ada di dalam terang, saya tidak mengerti bagaimana mungkin seseorang tetap tinggal dalam kegelapan. Tetapi itulah yang dia katakan, bahwa mereka datang, mereka diselamatkan, tetapi tidak pernah keluar dari kegelapan. Mereka sudah diselamatkan tetapi tidak ada perubahan apa pun. Lalu kita membuat semacam kategori yang nyaman: ada manusia duniawi, ada manusia rohani, dan ada manusia yang hidup menurut daging. Kita masukkan semua orang ke dalam kategori-kategori itu, lalu kita berkata, “Tidak apa-apa, kamu sudah diselamatkan, kamu pasti masuk surga. Tidak masalah kalau kamu tidak sungguh-sungguh menjalani hidup Kristen, kamu tetap akan selamat. Kamu tidak akan kehilangan keselamatan. Kamu tetap akan masuk surga, hanya mungkin tidak mendapat bagian sebesar yang lain, tapi tidak apa-apa, yang penting tetap di surga.” Dan akhirnya tercipta kategori yang terasa nyaman seperti itu, tetapi sebenarnya bukan demikian cara pandang Tuhan.

Tuhan tidak pernah berkata, “Kalau engkau mau jadi orang yang sungguh-sungguh, lakukan ini. Tapi kalau engkau mau tetap hidup dalam kedagingan, itu pilihan.” Tuhan tidak bekerja seperti itu. Ini adalah standar yang Tuhan tetapkan, dan menurut saya, ketuhanan Kristus bukanlah sesuatu yang opsional; itu adalah bagian yang penting dari iman yang menyelamatkan. Saya juga tidak mau menempatkan orang dalam kategori yang terasa nyaman seolah-olah seseorang bisa menjadi Kristen tanpa melakukan apa-apa. Dengarkan, Tuhan sudah memerintahkan kita untuk dipenuhi oleh Roh-Nya. Apa pun yang kurang dari itu adalah ketidaktaatan yang nyata dan jelas. Dan jika hidup seseorang ditandai oleh ketidaktaatan seperti itu, maka 1 Yohanes mengatakan bahwa ia bukanlah orang Kristen, apa pun yang ia pikirkan tentang dirinya. Jadi ini sangat penting. Orang Kristen yang sejati, yang imannya sungguh nyata, tidak akan merasa cukup dengan menolak ketuhanan Kristus. Mereka juga tidak akan puas jika menolak untuk hidup dalam kepenuhan Roh Allah. Mereka tidak akan merasa nyaman hidup dalam kedagingan sambil berkata, “Saya tidak mau melangkah lebih jauh.” Tidak. Ini adalah perintah, dan karena Tuhan yang mengatakannya, maka perintah ini berlaku bagi setiap orang percaya, dan satu-satunya respons yang benar terhadap perintah Tuhan adalah dengan menaati-Nya.

Sekarang, mari kita berbicara secara khusus tentang arti dari “kepenuhan.” Apa sebenarnya maksudnya? Saya akan memberikan beberapa pemikiran, dan saya rasa ini akan sangat menarik. Saya ingin Anda benar-benar memahami dasarnya dengan jelas. Jadi kita mulai dari yang paling mendasar. Poin pertama: setiap orang Kristen memiliki Roh Kudus dalam seluruh kepenuhan-Nya. Setiap orang percaya memiliki Roh Kudus sepenuhnya.

Baru-baru ini saya mendengar seseorang berkata, “Saya sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi baru sadar bahwa saya belum memiliki Roh Kudus. Lalu ketika saya meminta kepada Tuhan, Dia memberi saya Roh Kudus, dan semuanya berubah.” Ya, dia mengatakan sudah lama jadi orang Kristen tetapi tidak punya Roh Kudus. Kita bisa memahami maksud hatinya, dan saya mengerti bahwa yang sebenarnya ia alami adalah perubahan karena ketaatan, bukan karena baru menerima Roh Kudus. Intinya adalah ini: setiap orang Kristen, sejak saat ia percaya, sudah memiliki Roh Kudus. Tidak ada yang namanya orang Kristen tanpa Roh Kudus. Justru kehidupan Allah di dalam diri kita itulah yang menjadi dasar keselamatan kita. Ketika seseorang menjadi anak Allah, Allah sendiri tinggal di dalamnya melalui Roh-Nya. Jadi tidak mungkin ada orang Kristen yang tidak memiliki Roh Allah.

Mari saya tunjukkan hal itu. Lihat Roma 8:9. Saya ingin melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda, karena ayat ini sangat menarik. Perlu diketahui, sebagian besar penggunaan kata “duniawi” atau “hidup menurut daging” dalam Alkitab sebenarnya merujuk pada orang yang belum diselamatkan, bukan orang Kristen. Inilah salah satu contohnya. Di ayat 7 dikatakan bahwa “keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Lalu dikatakan, “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Di sini, “dalam daging” artinya belum diselamatkan. Jadi maksudnya, kalau seseorang hidup dalam kedagingan seperti itu, ia sebenarnya belum diselamatkan. Kadang orang berkata, “Saya ini hanya Kristen yang duniawi.” Padahal kenyataannya bisa dua kemungkinan: bisa saja seperti yang dibahas dalam 1 Korintus 3, yaitu orang percaya yang masih belum dewasa, atau bisa juga seperti dalam Roma 8, yaitu benar-benar belum diselamatkan. Jadi kalau seseorang merasa nyaman dengan hidup yang dikuasai kedagingan, ia perlu sungguh-sungguh memeriksa dirinya sendiri apakah ia benar-benar sudah diselamatkan, karena sangat mungkin ia termasuk yang dimaksud dalam Roma 8, bukan yang di 1 Korintus 3.

Memang ada orang Kristen yang kadang hidup secara duniawi, tetapi pada umumnya, kehidupan yang dikuasai oleh daging adalah ciri orang yang belum percaya. Mereka memusuhi Allah, tidak tunduk pada hukum Allah, bahkan tidak mungkin tunduk, dan tidak dapat menyenangkan hati Allah. Tetapi di ayat 9 dikatakan, “Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh.” Artinya, jika Anda seorang Kristen, Anda berada di dalam Roh. Jika Anda seorang Kristen, Anda tidak lagi hidup di dalam daging.

Sekarang perhatikan bagian akhir ayat itu, dikatakan, “jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu.” Artinya, ketika seseorang menjadi Kristen, ia ada di dalam Roh karena Roh Allah tinggal di dalam dirinya. Lalu di bagian akhir ayat 9 dikatakan, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Jadi jelas sekali, jika seseorang tidak memiliki Roh Kudus, itu bukan berarti ia hanya hidup secara duniawi atau belum menerima Roh sepenuhnya, melainkan ia memang belum diselamatkan. Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Sebaliknya, jika seseorang adalah milik Kristus, maka ia memiliki Roh Kristus. Ini pernyataan yang sangat sederhana. Di akhir ayat 9 dikatakan lagi, “jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Lalu ayat 10 menambahkan, “Tetapi jika Kristus di dalam kamu,” artinya jika Anda adalah orang Kristen dan Kristus tinggal di dalam Anda, maka Anda juga memiliki Roh Kudus.

Saya ingin Anda memahami ini sejak awal, terutama bagi Anda yang masih baru dalam iman. Sebagai orang Kristen, Anda memiliki Roh Kudus, dan Dia hadir sepenuhnya di dalam Anda, tidak setengah-setengah. Roh Kudus tidak diberikan sedikit demi sedikit. Tidak perlu berkata, “Tuhan, berikan aku lebih banyak dari Roh-Mu,” seolah-olah masih ada bagian yang kurang. Tidak ada yang kurang. Roh Kudus tidak datang dalam bagian-bagian atau ukuran tertentu. Dia hadir secara utuh. Setiap orang percaya memiliki Roh Kudus sepenuhnya.

Sekarang lihat 1 Korintus 12:13, ayat lain yang penting tentang hal yang sama. Di sini kita menemukan penekanan yang serupa, dan menarik sekali karena jemaat di Korintus dikenal sebagai orang-orang Kristen yang hidup secara duniawi. Kedagingan mereka adalah kedagingan orang percaya, artinya mereka adalah orang Kristen yang dalam banyak hal hidup tidak seperti orang Kristen, dan mungkin juga ada di antara mereka yang sebenarnya bukan orang Kristen, tapi hanya berpura-pura saja. Tapi kepada mereka, meskipun mereka berdosa, bahkan sebagai orang Kristen yang berdosa, Paulus berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Kata “dalam” sebenarnya tidak perlu terlalu ditekankan di sini. Intinya adalah kita semua telah menerima satu Roh. Semua orang percaya telah menerima Roh Kudus, dan semua orang percaya telah dibaptis menjadi bagian dari tubuh Kristus.

Dan Saudara, perlu saya tegaskan dengan jelas bahwa baptisan Roh Kudus bukanlah sebuah pengalaman yang bisa dirasakan. Baptisan Roh Kudus tidak bersifat pengalaman pribadi. Anda tidak merasakannya, Anda tidak menyadari kapan itu terjadi, dan itu bukan sesuatu yang bisa dialami secara inderawi. Secara fisik tidak ada yang terjadi ketika hal itu berlangsung, karena di sini dikatakan bahwa oleh satu Roh kita semua dibaptis menjadi satu tubuh. Baptisan Roh Kudus adalah tindakan di mana Roh Kudus menempatkan Anda ke dalam tubuh Kristus pada saat Anda percaya. Ini adalah kenyataan teologis, bukan pengalaman yang bisa dirasakan. Ini adalah tindakan di mana Kristus sebagai Pembaptis, melalui pekerjaan Roh, menempatkan Anda ke dalam tubuh-Nya. Jadi ketika Anda diselamatkan, Anda dimasukkan ke dalam tubuh Kristus, dan di bagian akhir ayat dikatakan bahwa Anda “diberi minum dari satu Roh,” artinya Anda menerima Roh Kudus. Setiap orang percaya, seperti yang tertulis dengan jelas, telah dibaptis dan telah menerima satu Roh. Tidak ada orang Kristen yang tidak menerima Roh Kudus. Tidak ada. Kita semua memiliki Roh Kudus.

Sekarang kembali ke 1 Korintus 6:19. Di sini Paulus sedang menegur jemaat Korintus tentang kehidupan mereka yang tidak bermoral. Mereka melakukan percabulan, berhubungan dengan pelacur, dan melakukan hal-hal yang jahat dan memalukan. Lalu Paulus berkata, “Apa?!” Seolah-olah kita mengira ia akan berkata, “Kalian perlu menerima Roh Kudus supaya hidup kalian berubah.” Tetapi ia tidak mengatakan itu. Ia tidak berkata, “Kalau saja kalian memiliki Roh Kudus, kalian tidak akan hidup seperti ini.” Justru sebaliknya, ia berkata, “Tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu?” Jadi ia tidak berkata, “Kalian perlu mendapatkan Roh Kudus,” melainkan, “Kalian harus berhenti hidup seperti itu karena kalian sedang mencemari Roh Kudus yang sudah ada di dalam kalian.” Jadi jelas, bahkan ketika seorang Kristen hidup dalam dosa, Roh Kudus tetap ada di dalam dirinya. Itulah poinnya. Roh Kudus tetap ada, tetapi Dia didukakan oleh kehidupan yang berdosa itu. Seperti juga dikatakan dalam Efesus 4:30, “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah,” dan dalam 1 Tesalonika 5:19, “Janganlah padamkan Roh.” Artinya, kita bisa memadamkan pekerjaan Roh, kita bisa menyiramkan dosa kita sehingga memadamkan api kekudusan-Nya, dan kita bisa mendukakan Roh Kudus.

Perlu diingat juga bahwa Roh Kudus adalah “Dia,” bukan “itu.” Dia adalah Pribadi, bukan sekadar kekuatan atau sesuatu yang tidak berpribadi. Dia bisa berduka, bisa merasa sedih, dan merasakan kepedihan karena dosa kita. Dan ketika bait-Nya, yaitu tubuh kita, dicemari oleh dosa, Roh Kudus yang ada di dalam kita pun turut berdukacita dan terluka.

Jadi Anda bisa melihat bahwa setiap orang percaya memiliki Roh Kudus, karena “jika seseorang tidak memiliki Roh, ia bukan milik Kristus.” Setiap orang percaya telah dibaptis menjadi bagian dari tubuh Kristus dan telah menerima Roh Allah. Setiap orang percaya adalah bait Roh Kudus. Dalam Galatia 2:20 hal ini dijelaskan dengan cara lain, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup”—di mana?—“di dalam aku.” Jadi Roh Kristus hidup di dalam saya. Sekarang lihat Yohanes pasal 7.

Ketika saya pertama kali memahami ajaran ini, itu benar-benar terasa seperti kebenaran yang sangat sulit dibayangkan, bahwa Allah semesta alam, Allah yang sejati, Allah sendiri yang berdaulat, mahakuasa, dan mulia, mau tinggal di dalam tubuh saya. Itu sesuatu yang hampir tidak terpikirkan. Tetapi itulah kebenaran Perjanjian Baru. Dalam Yohanes 7:37 dikatakan, “Pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru, "Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Lalu siapa yang menerima aliran air hidup itu? Yaitu setiap orang yang percaya, siapa saja yang datang dan berkata, “Aku haus dan aku ingin minum,” dan menerima Kristus, ia akan menerima aliran itu. Dan apakah yang dimaksud dengan aliran air hidup itu? Ayat 39 menjelaskan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya.”

Berhenti dulu di sini. Siapa yang menerima Roh? Mereka yang apa? Yang percaya. Jadi, melalui iman yang sederhana kepada Kristus, seseorang menerima Roh Kudus. Roh Kudus menjadi seperti aliran air hidup di dalam dirinya dan tinggal secara tetap dalam hidupnya. Dan itu tidak akan pernah hilang. Roh Kudus adalah Pribadi yang tinggal menetap dalam kehidupan setiap orang percaya. Karena itu—perhatikan baik-baik—dari sekian banyak perintah dalam Perjanjian Baru, tidak ada satu pun perintah untuk dibaptis oleh Roh. Tidak pernah ada. Memang ada beberapa kali disebutkan tentang baptisan Roh dalam Perjanjian Baru, tetapi tidak satu pun yang berbentuk perintah. Kita tidak pernah diperintahkan untuk dibaptis oleh Roh, karena baptisan Roh adalah saat kita ditempatkan ke dalam tubuh Kristus, dan itu terjadi pada saat kita diselamatkan.

Yang kedua, Anda juga tidak pernah diperintahkan di mana pun dalam Perjanjian Baru untuk didiami oleh Roh. Tidak pernah. Itu adalah janji yang sudah pasti diberikan. Anda juga tidak pernah diperintahkan untuk dimeteraikan oleh Roh atau dijaga dalam keselamatan, karena itu semua adalah pemberian dari Tuhan. Dalam Efesus 1 dijelaskan bahwa Anda sudah dimeteraikan, sudah dibaptis, dan sudah didiami oleh Roh. Hal-hal itu tidak pernah diberikan sebagai perintah. Tetapi perintahnya adalah ini, dalam Efesus 5:18, “hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Ini berbeda. Bukan tentang didiami, dibaptis, atau dimeteraikan, tetapi tentang dipenuhi. Lalu pertanyaannya, “Apa artinya itu?”

Pertama-tama, ini adalah kebalikan dari aktivitas dan ekstasi keagamaan orang kafir. Kata kerjanya sendiri, kalau kita lihat secara harfiah, berarti “hendaklah kamu terus-menerus dipenuhi oleh Roh.” Bentuknya adalah pasif, artinya “biarlah kamu terus dipenuhi,” bukannya mengisi diri kita sendiri. Dan bentuk waktunya menunjukkan sesuatu yang berlangsung terus-menerus, jadi maksudnya adalah “teruslah berada dalam keadaan dipenuhi.” Ini bukan sesuatu yang terjadi sekali lalu selesai untuk seumur hidup. Bukan seperti pengalaman sesaat yang terjadi sekali atau sesekali saja. Tetapi ini adalah sesuatu yang berlangsung terus, dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, dari saat ke saat. Jadi bukan satu pengalaman besar lalu selesai, melainkan terus-menerus, setiap saat. Dan karena bentuknya pasif, artinya kita tidak mengisi diri kita sendiri, tetapi kita menerima tindakan itu. Yang memenuhinya adalah Roh Allah. Jadi maknanya adalah kita terus-menerus berada dalam keadaan dipenuhi oleh Roh Allah, secara berkelanjutan, setiap saat.

Anda memang sudah dibaptis ke dalam tubuh Kristus, sudah didiami oleh Roh, dan sudah dimeteraikan oleh Roh Allah sampai hari penebusan, tetapi Anda tetap bisa menjalani hidup Kristen dengan penuh kekalahan jika tidak memahami apa artinya mengalami kepenuhan Roh secara terus-menerus dari saat ke saat. Ini berbicara tentang karya yang berlangsung terus-menerus, setiap waktu. Ini bukan pengalaman kedua yang sekali terjadi lalu cukup untuk seumur hidup. Kepenuhan Roh lima menit yang lalu tidak cukup untuk saat ini. Kepenuhan Roh besok tidak berguna untuk hari ini. Ini adalah pengalaman yang terjadi terus-menerus, dari saat ke saat.

Ketika kita mendengar kata “dipenuhi,” biasanya kita membayangkan seperti gelas yang diisi, atau kotak yang dimasukkan sesuatu, atau wadah yang dituangi isi. Tetapi bukan itu maksudnya di sini. Saya ingin memberi Anda tiga gambaran untuk memahaminya. Kata pleroo digunakan untuk menggambarkan angin yang memenuhi layar kapal, mengembungkan layar itu, dan mendorong kapal bergerak maju. Jadi ketika kita mengatakan layar kapal dipenuhi angin, itulah gambaran yang dimaksud. Ini memberi kita pemahaman awal bahwa hidup kita digerakkan, didorong, dan dibawa oleh sesuatu. Dibawa terus ke depan. Ini adalah sebuah gambaran yang indah. Artinya, seluruh arah hidup kita, tenaga hidup kita, dan dorongan hidup kita berasal dari kuasa Roh Allah. Dengan kata lain, kita tidak lagi berjalan dengan kekuatan sendiri, tidak dengan keinginan daging, bukan dengan ide atau rencana kita sendiri, bukan dengan kehendak kita sendiri, tetapi kita dibawa oleh “angin” Roh Allah. Kita digerakkan mengikuti arah yang Dia tentukan. Dalam arti yang sangat nyata, ini mirip seperti para penulis Kitab Suci yang digerakkan oleh Roh Allah.

Seolah-olah Anda hanyalah sebatang kayu di aliran sungai. Anda pernah melihatnya? Waktu kecil, kita melempar kayu ke sungai lalu berlari mengikuti arusnya. Kayu itu terbawa begitu saja oleh arus. Demikian juga hidup kita, dibawa oleh Roh Allah. Seperti perahu layar yang didorong angin. Itulah salah satu gambarannya. Jadi dipenuhi oleh Roh berarti hidup kita dibawa terus dari hari ke hari, dari saat ke saat, dari satu aktivitas ke aktivitas lain, dari satu pikiran ke pikiran berikutnya, dari satu perkataan ke perkataan lain, dari satu tindakan ke tindakan berikutnya, semuanya oleh kuasa dan dorongan Roh Allah. Jadi di dalamnya ada gambaran tentang dorongan yang kuat, yang membawa kita berjalan di dalam kehendak Tuhan.

Ada gambaran kedua, yaitu tentang peresapan. Kata pleroo juga digunakan untuk sesuatu yang meresap ke seluruh bagian. Contoh yang mudah adalah garam. Garam meresap, bahkan kalau cukup banyak, bisa mengawetkan. Tetapi ketika kita menaburkan garam pada makanan, garam itu memberi rasa karena meresap ke seluruh bagian makanan itu. Dulu saya juga sering memakai ilustrasi minuman tablet berbuih atau dikenal dengan Fizzie, dan jika Anda telah membaca buku kecil saya yang berjudul Found: God’s Will, Anda pasti telah membaca tentang prinsip Fizzie ini. Fizzie ini seperti permen yang berasa—ada rasa anggur, jeruk, root beer, ceri, dan sebagainya. Kita masukkan satu tablet ke dalam segelas air, lalu langsung berbuih dan larut, dan seluruh air itu berubah rasa. Kalau kita masukkan rasa anggur, seluruh gelas itu akan terasa seperti jus anggur. Itu terjadi karena rasa tersebut meresap ke seluruh air. Dan kata pleroo juga digunakan dengan pengertian seperti itu.

Ada pengertian bahwa Roh Allah ingin meresapi hidup kita sehingga hidup kita memiliki “rasa” seperti Roh Allah. Sehingga ketika orang lain dekat dengan kita, yang mereka rasakan adalah karakter Allah dalam hidup kita, seolah-olah berada dekat dengan kita itu seperti berada dekat dengan Tuhan. Jadi ada gambaran dorongan yang menggerakkan kita maju, dan juga peresapan yang membuat hidup kita memancarkan karakter Allah. Tetapi menurut saya, terutama jika dibandingkan dengan penggunaan dalam Injil, makna yang paling utama dari kata pleroo adalah tentang penguasaan, tentang kendali yang penuh. Itulah inti utamanya. Ada unsur digerakkan, ada unsur diresapi, tetapi yang paling utama adalah bahwa hidup kita berada di bawah kendali yang sepenuhnya.

Coba saya jelaskan dengan sebuah ilustrasi. Dalam Injil, ketika penulis ingin menggambarkan seseorang yang benar-benar dikuasai oleh suatu emosi, ia memakai kata pleroo, seperti yang digunakan di sini. Misalnya dalam Yohanes 16:6 dikatakan, “Hatimu berdukacita.” Artinya, dukacita itu begitu kuat sampai tidak bisa lagi diimbangi oleh sukacita, sehingga orang itu benar-benar dikuasai sepenuhnya oleh rasa sedih.

Sekarang, coba saya beri ilustrasinya supaya lebih jelas. Biasanya dalam hidup ini, kita masih bisa menjaga keseimbangan, kan? Misalnya soal kesedihan. Di satu sisi ada kesedihan, di sisi lain ada kebahagiaan. Kita menjalani hidup dengan kadang sedih, lalu kita mencoba memikirkan hal yang menyenangkan. Atau kita berkata, “Di rumah rasanya kurang enak, saya ke kantor saja, mungkin lebih baik.” Lalu kalau di kantor tidak enak, kita berpikir, “Saya pulang saja.” Kita terus mencoba menyeimbangkan keadaan. Kita bicara hal yang sedih, lalu berkata, “Sudahlah, mari kita bicarakan yang menyenangkan.” Tetapi ada saat-saat tertentu ketika keseimbangan itu tidak bisa dipertahankan. Misalnya ketika orang yang paling kita kasihi meninggal, tiba-tiba semuanya jatuh ke sisi kesedihan. Tidak ada yang bisa menghibur, tidak ada yang bisa menghapus rasa itu. Itulah yang dimaksud dengan “dipenuhi.” Artinya sesuatu itu menguasai sepenuhnya, mendominasi seluruh diri kita.

Sebaliknya, kita bisa saja sedang menjalani hidup dengan keseimbangan antara suka dan duka, lalu tiba-tiba mendapat kabar bahwa kita menerima sesuatu yang besar dan tidak terduga—dan langsung saja semuanya bergeser ke sisi sukacita. Hal-hal lain seolah tidak terlalu berarti lagi karena kita begitu dipenuhi rasa senang. Itulah gambaran dari kata tersebut, yaitu ketika seseorang benar-benar dikuasai oleh satu hal tanpa perlu lagi keseimbangan. Apa pun yang menyedihkan di sekitarnya seolah tidak terlalu memengaruhi, karena kita sedang dipenuhi oleh sukacita. Begitulah hidup ini berjalan. Ada hal-hal yang membuat kita merasa aman, ada juga yang menimbulkan ketakutan, tetapi ketika segala sesuatu terasa berjalan baik—misalnya keadaan keluarga baik, pekerjaan berjalan lancar, anak-anak dalam kondisi baik—kita merasa tenang dan seolah dipenuhi dengan rasa aman itu.

Di sisi lain, ketika terjadi sesuatu yang buruk, tiba-tiba kita bisa dipenuhi ketakutan. Misalnya tengah malam dan terdengar ada orang mengintai di luar jendela—langsung saja kita merasa sangat takut. Itulah gambaran dari pleroo, yaitu ketika seseorang dikuasai oleh suatu emosi sampai tidak lagi bisa menjaga keseimbangan. Kita kehilangan kendali, dan pikiran serta perasaan kita sepenuhnya dikuasai oleh hal yang memengaruhi kita saat itu.

Nah, hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan Kristen kita. Biasanya hidup kita seperti ini: di satu sisi ada diri kita sendiri, di sisi lain ada Roh Kudus. Lalu kita membagi-bagi—sedikit untuk diri sendiri, sedikit untuk Roh Kudus, lalu kembali lagi untuk diri sendiri. Kita mencoba menyeimbangkannya. Tetapi di satu titik, kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Roh Allah, dan saat itu diri kita tidak lagi memegang kendali, melainkan kita dipenuhi oleh Roh Allah. Segala sesuatu berada di bawah kendali-Nya—emosi kita, kehendak kita, cara kita berpikir. Itulah artinya dipenuhi oleh Roh. Inilah inti utamanya. Ada unsur digerakkan, ada unsur diresapi sehingga hidup kita memancarkan karakter Kristus, tetapi juga ada unsur kendali penuh—bahwa hidup kita benar-benar berada di bawah kuasa dan kendali Roh Kudus.

Coba perhatikan ilustrasi ini. Dalam Matius 4:1 dikatakan, “Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Di sini kita melihat Roh Kudus bekerja dalam hidup Yesus, dan Roh Kudus menuntun Dia. Sekarang kita lihat Lukas 4:1, peristiwa yang sama tentang pencobaan. Tetapi di sini dikatakan, “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.” Jadi dalam kondisi seperti apa Roh Allah menuntun Yesus? Dia penuh dengan Roh Kudus. Jadi, apa artinya dipenuhi oleh Roh? Artinya adalah dipimpin oleh Roh, dikendalikan oleh Roh.

Sekarang kalau kita melihat Markus pasal 1, peristiwa yang sama tentang pencobaan Yesus kembali dicatat. Dalam Markus 1:12 dikatakan, “Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.” Kata yang dipakai di sini sangat kuat, artinya benar-benar mendorong atau bahkan menggerakkan dengan kuat. Dengan kata lain, Yesus berada sepenuhnya di bawah kuasa Roh Allah, sehingga Roh Allah membawa Dia ke tempat yang Dia kehendaki. Yesus hidup di bawah kendali Roh Allah. Itulah sebabnya ketika orang-orang datang kepada-Nya dan berkata, “Engkau melakukan semua ini dengan kuasa Iblis,” Yesus menjawab bahwa mereka bukan sedang menghujat Dia, tetapi Roh Kudus. Mengapa? Karena Dia telah menyerahkan seluruh hidup-Nya di bawah kendali Roh Allah. Dia penuh dengan Roh, dan karena itu Dia digerakkan oleh Roh.

Dengarkan baik-baik. Dipenuhi oleh Roh berarti hal yang sama seperti itu. Artinya hidup kita digerakkan oleh Roh Allah, dibawa oleh Roh Allah, diresapi oleh Roh Allah, dan dikendalikan oleh Roh Allah. Itulah intinya. Yang sedang kita bicarakan adalah hidup yang berada di bawah kendali Roh Allah. Roh Kudus sudah ada di dalam kita, tetapi jika kita tidak hidup di bawah kendali-Nya, maka kita mendukakan Dia di satu sisi dan memadamkan pekerjaan-Nya di sisi lain. Kita mendukakan Dia secara pribadi, karena Dia merasakan kesedihan, dan kita memadamkan Dia karena kita menghambat apa yang ingin Dia lakukan. Jadi kita sedang meresponi secara negatif baik terhadap Pribadi-Nya maupun terhadap tujuan-Nya. Dan perlu diingat, jika seseorang tidak hidup dipenuhi oleh Roh Allah, maka hidupnya tidak akan efektif sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Saya dulu sering memakai ilustrasi sarung tangan. Kalau ada sarung tangan tergeletak di sini lalu saya berkata, “Sarung tangan, mainkan piano,” apa yang terjadi? Tidak ada. Sarung tangan itu tetap diam. Tetapi kalau saya masukkan tangan saya ke dalam sarung tangan itu lalu mulai bermain piano, apa yang terjadi? Ya, mungkin tidak terlalu bagus, tetapi setidaknya sarung tangan itu bergerak. Intinya, sarung tangan itu hanya bisa bergerak ketika ada tangan di dalamnya. Sarung tangan tidak berpikir sendiri, tidak meminta petunjuk, dan juga tidak melawan. Sarung tangan hanya mengikuti gerakan tangan yang ada di dalamnya.

Nah, sebagai orang Kristen, Anda seperti sarung tangan itu. Anda bisa saja hanya “tergeletak” sepanjang hidup Anda, tetapi Anda tidak akan memberi dampak apa pun bagi Tuhan sampai Anda dipenuhi oleh Roh-Nya. Karena sarung tangan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tangan, kita pun tidak bisa melakukan apa pun tanpa kuasa dari kepenuhan Roh. Semua yang kita usahakan dengan kekuatan sendiri hanyalah pekerjaan daging dan tidak bernilai kekal - paling hanya seperti jerami, bukan emas, perak, atau batu permata. Jadi yang Alkitab ajarkan di sini adalah bahwa kita perlu dipenuhi oleh Roh Allah agar hidup kita efektif. Untuk menjalani hidup yang berkenan, hidup dalam kasih, dalam terang, dalam hikmat, untuk melakukan apa pun bagi Tuhan, kita harus dipenuhi oleh Roh Allah, kita harus diresapi oleh pribadi-Nya, digerakkan oleh kuasa-Nya, dan hidup di bawah kendali hadirat-Nya.

Sekarang perhatikan ini. Jika seseorang tidak hidup seperti itu, ia tidak akan berguna bagi Tuhan. Artinya, Tuhan tidak bisa memakai hidup yang berjalan dalam kekuatan sendiri; hidup itu tidak menghasilkan apa-apa. Hidup dalam daging tidak membawa hasil yang bernilai. Setiap kali Tuhan ingin melakukan suatu pekerjaan, Dia selalu memakai orang yang dipenuhi oleh Roh. Dalam Kisah Para Rasul 6:5, ketika mereka membutuhkan orang untuk tugas khusus, apa kriterianya? “Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus.” Dia dipilih karena penuh iman dan penuh Roh Kudus. Lalu di Kisah Para Rasul 7:55 dikatakan, “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”

Dipenuhi oleh Roh benar-benar mengangkat hidup seseorang melampaui keadaan dunia ini. Ketika seseorang dipenuhi oleh Roh Allah, ia melihat Allah dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi terikat pada sistem dunia ini. Ia tidak lagi terlalu memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, selama Tuhan dimuliakan. Itulah yang terjadi pada Stefanus, ia memandang ke atas dan melihat kemuliaan Allah. Ini adalah pengalaman yang melampaui keadaan biasa, melampaui situasi hidup, melampaui pergumulan dan kesulitan, sehingga fokusnya tertuju kepada Allah. Setiap kali Tuhan memilih seseorang untuk suatu tugas, Dia mencari orang yang dipenuhi oleh Roh, karena bisa saja tugas itu membawanya pada penderitaan besar, bahkan kematian, dan tanpa kepenuhan Roh, seseorang tidak akan sanggup menjalaninya.

Kemudian di pasal 9, Tuhan membutuhkan seorang untuk dipakai. Ia memilih Saulus, seorang yang sebenarnya sangat keras dan bahkan menganiaya jemaat. Tetapi Tuhan menjamah hidupnya, dan ada satu hal utama yang Tuhan tetapkan baginya di Kisah Para Rasul 9:17. Dikatakan bahwa Ananias datang, meletakkan tangannya atas Saulus, dan berkata, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Artinya, sebelum Saulus memulai pelayanannya, ia harus dipenuhi oleh Roh Allah. Tanpa itu, semua yang ia lakukan hanya akan berasal dari kekuatan diri sendiri. Jadi dipenuhi oleh Roh berarti hidup dari saat ke saat di bawah kendali Roh Kudus. Sederhananya, ini tentang penyerahan diri. Tentang mengosongkan diri kita supaya Dia yang memenuhi.

Lalu kita lihat lagi di pasal 11 ayat 22, Tuhan membutuhkan seorang bernama Barnabas untuk menolong Paulus. Ketika Tuhan memilih Barnabas, ada kriteria tertentu. Dikatakan bahwa Barnabas diutus, dan di ayat 24 dijelaskan alasannya: karena ia seorang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Memang harus demikian. Apa lagi yang Tuhan cari selain itu? Di pasal 13 ayat 9 dikatakan, “Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia,…” Ini menunjukkan bahwa bahkan setelah beberapa waktu, ia tetap hidup dalam kepenuhan Roh. Lalu di pasal 13 ayat 52 dikatakan, “Murid-murid tetap penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.” Apa yang terjadi setelah itu? Mereka pergi ke Ikonium, masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, dan berbicara sedemikian rupa sehingga banyak orang, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, menjadi percaya.

Bukankah itu luar biasa? Ketika Tuhan ingin seseorang melayani jemaat-Nya, ketika Tuhan ingin seseorang membuka pelayanan baru, ketika Tuhan ingin seseorang memenangkan jiwa bagi Kristus, Dia mencari orang yang dipenuhi oleh Roh-Nya. Orang yang hidupnya digerakkan oleh kehendak Allah melalui dorongan Roh-Nya, yang kehidupannya dipenuhi dengan karakter Kristus, dan yang sepenuhnya berada di bawah kendali kuasa Roh Kudus. Itulah standar yang Tuhan tetapkan.

Mungkin Anda bertanya, “Kalau itu arti dari kepenuhan, lalu bagaimana caranya? Bagaimana saya bisa dipenuhi oleh Roh?” Saya jawab dengan sederhana. Menariknya, banyak orang berdoa supaya dipenuhi Roh, padahal ini bukan permohonan, ini adalah perintah. Kita tidak perlu berkata, “Tuhan, aku ingin dipenuhi,” sementara Tuhan sudah berkata, “Hiduplah dipenuhi oleh Roh.” Jadi ini bukan soal meminta, tetapi soal meresponi perintah itu. Jika Tuhan memberi perintah, berarti Dia juga sudah menyediakan kemampuan untuk melakukannya. Kuncinya adalah mengosongkan diri kita dari diri sendiri, yaitu melalui pengakuan dosa dan penyerahan hidup. Secara sederhana, ini berarti menyerahkan kehendak kita, pikiran kita, tubuh kita, waktu kita, talenta kita, semua yang kita miliki, ke dalam kendali-Nya. Ini artinya mematikan keinginan diri, menyalibkan ego, menghentikan kehendak pribadi kita, dan menundukkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika kita “mati” terhadap diri kita sendiri, Dia yang akan memenuhinya. Ketika kita mengosongkan diri dari diri kita sendiri, Dia akan memenuhi hidup kita sepenuhnya.

Sekarang saya beri ilustrasi. Lihat kembali Efesus pasal 5. Di ayat 18 ada perintah, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Lalu apa yang terjadi ketika seseorang dipenuhi oleh Roh? Inilah hasilnya. Di ayat 19, ia akan berkata-kata dengan mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Di ayat 20, ia akan menjadi orang yang penuh dengan ucapan syukur, selalu mengucap syukur atas segala sesuatu. Di ayat 21, ia akan hidup dalam sikap saling merendahkan diri. Di ayat 22, istri yang dipenuhi Roh akan tunduk kepada suaminya. Di ayat 25, suami yang dipenuhi Roh akan mengasihi istrinya. Lalu di pasal 6 ayat 1, anak-anak yang dipenuhi Roh akan taat kepada orang tua. Di ayat 4, ayah yang dipenuhi Roh tidak akan membangkitkan amarah anak-anaknya. Di ayat 5, hamba yang dipenuhi Roh akan taat, dan di ayat 9, tuan yang dipenuhi Roh akan memperlakukan hambanya dengan benar.

Perhatikan hal ini. Menarik sekali, bukan? Kepenuhan oleh Roh ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang sensasional atau luar biasa secara lahiriah, tetapi justru menghasilkan hal-hal yang sederhana: bernyanyi, mengucap syukur, saling merendahkan diri, dan membangun hubungan yang benar dengan orang lain. Tidak ada yang tiba-tiba mengalami sesuatu yang aneh atau kehilangan kendali. Tidak ada yang jatuh atau mengalami pengalaman yang tidak wajar. Lalu apa yang terjadi? Sederhana. Semua hubungan menjadi benar. Hubungan kita dengan Tuhan menjadi benar karena kita memuji dan mengucap syukur. Hubungan kita dengan orang lain menjadi benar karena kita hidup dalam kerendahan hati dan saling tunduk, baik dalam pernikahan, keluarga, maupun pekerjaan. Semuanya sangat praktis dan jelas. Kepenuhan Roh terlihat dari bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, dan dengan orang lain menjadi selaras.

Sekarang perhatikan ini. Lihat Kolose pasal 3. Ini adalah bagian yang sejajar dan sangat menarik. Di ayat 16 bagian tengah dikatakan, “mengajar dan menegur seorang akan yang lain,” lalu disebutkan lagi hal yang sama seperti di Efesus 5, yaitu mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Kemudian di ayat 17, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur.” Lalu pola yang sama muncul lagi: istri yang tunduk kepada suami, suami yang mengasihi istri, anak-anak yang taat kepada orang tua, ayah yang tidak membangkitkan amarah anaknya, hamba yang taat kepada tuannya, dan di pasal 4 ayat 1, tuan yang memperlakukan hambanya dengan adil dan benar.

Sekarang Anda lihat? Urutannya sama persis. Ada nyanyian, ucapan syukur, sikap saling merendahkan diri, lalu hubungan dalam keluarga—istri, suami, anak, ayah—kemudian hamba dan tuan. Semuanya sama. Di Efesus 5 kita tahu bahwa semua itu dihasilkan oleh kepenuhan Roh. Lalu di sini, apa yang menghasilkan hal yang sama? Perhatikan ayat 16, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu.” Nah, perhatikan baik-baik. Dipenuhi oleh Roh ternyata sama dengan membiarkan firman Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Mengapa? Karena hasilnya sama.

Banyak orang berkata, “Kepenuhan Roh itu sesuatu yang mistis.” Tidak. Kepenuhan Roh itu berarti membiarkan firman Kristus yang telah diberikan kepada kita tinggal di dalam hati kita. Kalau Anda ingin dipenuhi oleh Roh Allah, bukan dengan duduk di suatu tempat lalu hanya memohon tanpa arah. Jika Anda ingin dipenuhi Roh, penuhilah diri Anda dengan firman Kristus. Ketika Anda terus menerima firman, dan firman itu tinggal dengan limpah plousiōs di dalam Anda—atau dengan kaya dan penuh—maka Anda akan mulai hidup di bawah kendalinya. Siapa penulis firman Kristus? Roh Kudus. Jadi ketika firman itu memenuhi hidup Anda, Roh Kudus memakai kebenaran itu untuk mengarahkan dan memimpin hidup Anda. Seperti yang pernah dikatakan oleh Charles Spurgeon, “Darahmu akan menjadi seperti Alkitab.” Maksudnya, firman itu begitu memenuhi hidup seseorang. Jadi sebenarnya ini hal yang sederhana, tidak perlu dibuat rumit. Dipenuhi oleh Roh berarti membiarkan firman Tuhan menguasai hidup kita. Jika Anda ingin mengerti apa artinya hidup dipenuhi Roh, maka penuhilah diri Anda dengan firman Tuhan, karena ketika firman itu ada di dalam Anda, Roh Kudus memiliki dasar kebenaran untuk menuntun dan mengarahkan hidup Anda.

Sebagai ilustrasi penutup—dan ini sering saya pakai—Petrus selalu ingin berada dekat dengan Yesus. Ia ingin selalu ada di mana Yesus berada. Seolah-olah ke mana pun Yesus pergi, Petrus pasti ikut. Kalau Yesus berhenti di jalan, mungkin saja Petrus hampir menabrak dari belakang karena terlalu dekat. Kalau Yesus naik ke gunung, Petrus ikut naik. Ketika Yesus berkata, “Apakah kamu juga mau pergi?” Petrus menjawab, “Kepada siapa kami akan pergi?” Petrus selalu ada di dekat-Nya. Dan kita tahu alasannya. Karena ketika ia dekat dengan Yesus, ada tiga hal yang terlihat dalam hidupnya: ia melakukan hal-hal yang luar biasa, ia mengatakan hal-hal yang luar biasa, dan ia memiliki keberanian yang luar biasa.

Hal pertama, ketika kita pertama kali melihat Petrus, ia ada di dalam perahu di tengah danau, dan situasinya menegangkan. Ada badai, mereka sendirian, dan mereka takut berada di tengah Danau Galilea. Tiba-tiba mereka melihat dari kejauhan, Yesus berjalan di atas air. Lalu Petrus berpikir, “Saya di sini, Dia di sana, ini tidak bisa. Saya harus mendekat.” Ia ingin berada bersama Yesus. Padahal sepanjang hidupnya ia adalah nelayan, tinggal di tepi danau itu, dan setiap kali ia masuk ke air, pasti tenggelam. Ia tahu itu. Tidak pernah berbeda. Tetapi saat itu ia tetap melompat keluar dari perahu dan mulai berjalan di atas air. Ketika sudah agak jauh, mungkin ia mulai sadar dan berpikir, “Lho, aku sedang berjalan di atas air.” Tapi sebenarnya ia tidak terlalu memikirkan itu, karena dorongan untuk bersama Yesus begitu kuat sehingga mengalahkan segalanya. Ia hanya ingin berada di tempat Yesus berada. Lalu ia mulai tenggelam, dan Tuhan mengulurkan tangan, mengangkatnya, dan mereka berjalan kembali ke perahu bersama-sama. Bisa dibayangkan, mungkin saat berjalan kembali menuju perahi, Petrus merasa luar biasa, seolah berkata dalam hatinya, “Lihatlah kami, teman-teman!”

Saya selalu tertawa karena ada seorang penulis yang mengatakan bahwa sebenarnya mereka berjalan di atas gundukan pasir di bawah air. Penulis yang sama juga mengatakan bahwa tidak ada ikan besar yang menelan Yunus, melainkan itu hanya nama perahu kecil yang ditarik di belakang kapal. Lalu pertanyaan saya sederhana: siapa pernah mendengar perahu kecil yang bisa memuntahkan orang? Tetapi ya, itu hanya selingan saja.

Jadi Petrus dan Yesus berjalan kembali ke perahu, dan kita harus mengakui bahwa ketika Petrus dekat dengan Yesus, ia bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Ia tidak bisa berjalan di atas air dengan kekuatannya sendiri, tetapi ia bisa melakukannya ketika ia dekat dengan Yesus. Lalu dalam peristiwa lain, ketika mereka berkumpul bersama para murid dan Yesus bertanya, “Menurut orang, siapakah Aku?” mereka menjawab, “Ada yang mengatakan Elia, Yeremia, atau salah satu nabi.” Lalu Yesus bertanya, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku?” dan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Mungkin dalam hatinya ia juga heran, dari mana jawaban itu datang. Mulut Petrus selalu siap—kadang dipakai untuk hal yang salah, bahkan tidak lama setelah itu Yesus harus menegurnya dengan berkata, “Enyahlah Iblis.” Tetapi di saat itu, Allah memakai mulutnya untuk menyatakan kebenaran yang luar biasa. Yesus berkata bahwa itu bukan dari manusia, melainkan dari Bapa di surga. Jadi tidak heran Petrus ingin selalu dekat dengan Yesus, karena di sanalah ia bisa melakukan dan mengatakan hal-hal yang luar biasa.

Hal ketiga, Petrus memiliki keberanian yang luar biasa. Di taman Getsemani, ketika para prajurit datang untuk menangkap Yesus, Yesus berkata, “Siapa yang kamu cari?” dan mereka semua jatuh tersungkur. Petrus melihat itu dan mungkin berpikir, “Ini akan mudah.” Ia berdiri dekat Yesus, dan semakin lama semakin tersulut. Akhirnya ia mengambil pedangnya dan menyerang orang pertama di barisan. Ia bermaksud menyerang semuanya, mungkin ada sekitar 500 orang dari Benteng Antonius. Lalu ia memotong telinga Malkhus—sebenarnya kemungkinan ia mengincar kepalanya, tetapi Malkhus menghindar. Dan Petrus siap menghadapi seluruh pasukan. Lalu kita bisa bertanya, dari mana keberanian sebesar itu datang? Jawabannya sederhana. Ia berada dekat dengan Yesus. Ia tahu bahwa dengan Yesus, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Jadi ketika Petrus dekat dengan Yesus, ia bisa melakukan hal-hal luar biasa, mengatakan hal-hal luar biasa, dan memiliki keberanian yang luar biasa. Tidak heran ia selalu ingin dekat dengan Yesus. Tidak heran ketika Yesus berkata, “Apakah kamu juga mau pergi?” ia menjawab, “Kepada siapa kami akan pergi, Tuhan?” Tetapi perhatikan apa yang terjadi berikutnya. Ketika ia terpisah dari Yesus—Yesus sedang di dalam diadili, sementara Petrus di luar—Alkitab mencatat bahwa ia menyangkal Yesus tiga kali. Betapa menyedihkan. Ternyata, yang dibutuhkan hanyalah jarak antara Petrus dan Yesus, dan ia langsung jatuh. Di sini ada prinsip yang besar. Ketika ia jauh dari Yesus, bahkan tidak terlalu jauh, ia merasa takut dan akhirnya gagal. Lalu ketika Yesus naik ke surga, mungkin orang berpikir, “Selesai sudah dengan Petrus. Kalau jarak sedikit saja ia gagal, apalagi sekarang Yesus di surga.” Tetapi ternyata tidak demikian.

Lalu apa yang ia lakukan? Ia berdiri pada hari Pentakosta dan berkata, “Hai orang-orang Yahudi dan semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah hal ini dan dengarkanlah perkataanku.” Kemudian ia memberitakan bahwa Yesus yang mereka salibkan adalah Tuhan dan Mesias. Ia menyampaikan khotbah yang luar biasa, dan Allah kembali memakai mulutnya dengan kuasa ilahi. Setelah selesai, orang-orang itu tersentuh hati mereka dan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Lalu Petrus berkata, “Bertobatlah dan hendaklah kamu dibaptis untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima Roh Kudus.” Dan sekitar tiga ribu orang menjadi percaya. Jadi kita melihat Petrus kembali mengatakan hal-hal yang luar biasa—ia membuka mulutnya, dan Allah yang berbicara melaluinya.

Lalu berikutnya kita melihat Petrus bersama Yohanes pergi ke bait Allah untuk beribadah, dan di sana ada seorang pengemis yang lumpuh. Petrus berkata kepadanya, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunya, kuberikan kepadamu. Dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah.” Orang itu langsung berdiri, melompat, dan berjalan sambil memuji Tuhan di dalam bait Allah. Jadi Petrus bukan hanya mengatakan hal-hal yang luar biasa, ia juga melakukan hal-hal yang luar biasa. Karena itu para pemimpin agama tidak suka, lalu mereka menangkapnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama, dan memerintahkan mereka untuk berhenti memberitakan Injil. Tetapi Petrus menjawab, “Kamu sendiri yang menilai, apakah benar di hadapan Allah kami harus taat kepada kamu atau kepada Allah.” Setelah itu mereka dilepaskan, dan Petrus bersama yang lain justru berkumpul untuk berdoa meminta keberanian yang lebih lagi, lalu mereka keluar dan memberitakan firman Tuhan dengan semakin berani.

Perhatikan ini. Sangat luar biasa bahwa ketika Petrus bersama Yesus, ia bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, mengatakan hal-hal yang luar biasa, dan memiliki keberanian yang luar biasa. Lalu setelah Yesus sudah naik ke surga, ia tetap bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, mengatakan hal-hal yang luar biasa, dan memiliki keberanian yang luar biasa. Lalu apa penghubungnya? Sebelum ia berdiri dan berkhotbah di hari Pentakosta, Kisah Para Rasul 2:4 mengatakan bahwa mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus. Jadi kesimpulannya adalah ini: dipenuhi oleh Roh berarti hidup seolah-olah Anda berdiri di samping Yesus Kristus. Dipenuhi oleh Roh berarti membiarkan kehadiran Kristus menguasai hidup Anda. Ini bukan sesuatu yang mistis. Ini tentang memenuhi diri dengan firman Tuhan sehingga kebenaran Kristus menguasai cara berpikir kita. Lalu Roh Kudus, ketika kita menyerahkan diri pada kebenaran itu, akan menuntun kita untuk melakukan, mengatakan, dan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Kita akan lanjutkan lagi pada kesempatan berikutnya. Mari kita berdoa.

Bapa, saya berdoa agar Engkau membawa mereka yang Engkau kehendaki datang ke ruang doa dan ruang konseling. Bawa kami kembali malam ini, ya Bapa, untuk berjumpa dengan-Mu secara khusus. Terima kasih untuk Roh Kudus yang tinggal di dalam kami dan yang ingin memenuhi kami dari waktu ke waktu ketika kami menyerahkan diri kepada kehadiran Yesus Kristus. Tolong kami untuk terus hidup menyadari kehadiran-Nya, memikirkan Yesus dari pagi sampai malam, sambil kami memenuhi diri dengan firman-Nya, sehingga Roh dapat memimpin kami dan kami dapat dipakai oleh-Mu dalam rencana-Mu, demi kemuliaan-Mu. Dalam nama Yesus, amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize