Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Pagi ini, seperti yang Anda ketahui kalau Anda hadir di sini pada waktu yang lalu, kita akan sedikit menyimpang dari teks kita di Efesus 5:18. Dalam kelanjutan pembelajaran kita tentang kitab Efesus, minggu lalu kita sampai pada ayat 18, dan ayat ini memperkenalkan kepada kita topik tentang kemabukan, dan itu membawa kita kepada topik tentang minum minuman beralkohol. Dan karena ada begitu banyak pertanyaan tentang hal yang sangat penting ini, banyak dari Anda yang bertanya – Apakah itu benar? Seharusnyakah seorang Kristen minum minuman beralkohol? Apa yang Alkitab ajarkan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya – maka kita memutuskan untuk berhenti sejenak di sini dan membagikan beberapa pemikiran tentang hal ini.

Seseorang bercerita kepada saya bahwa ketika mereka datang ke gereja pagi ini, mereka melihat papan iklan baru yang bertuliskan: “Apa arti Natal tanpa Jim Beam (sejenis minuman Whiskey)?” Mungkin itu mencerminkan sesuatu tentang betapa sakitnya masyarakat tempat kita hidup. Iklan itu memang memperkenalkan kepada kita sebuah masalah yang benar-benar merupakan masalah. Efesus 5:18 berkata, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Ini adalah perintah langsung untuk tidak mabuk. Roh Allah berkata bahwa kita tidak boleh mabuk.

Kita bisa mengatakan bahwa Amerika memiliki masalah yang sangat serius dengan minuman beralkohol, dan saya rasa kita tidak terlalu terkejut dengan hal itu. Kita bisa menduga bahwa masyarakat yang sombong, hidup untuk memuaskan diri sendiri, penuh dosa, dan tergila-gila pada kesenangan, yang kemudian dipenuhi rasa bersalah, kecemasan, frustrasi, dan depresi, akan mencoba bersenang-senang sekaligus melupakan semuanya dengan minum. Kita sama sekali tidak terkejut dengan hal itu. Tapi yang mungkin sedikit lebih aneh bagi kita adalah kenyataan bahwa orang-orang Kristen, yang menurut definisi Tuhan kita adalah orang-orang yang lemah lembut, tidak mementingkan diri sendiri, sudah sepenuhnya diampuni, dihibur oleh Roh Kudus, dan dipenuhi dengan sukacita Tuhan, justru mencari penghiburan dan sukacita mereka dari sebotol minuman. Ini adalah persoalan yang sangat penting, dan banyak diskusi serta kebingungan terjadi dalam perdebatan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa orang Kristen sama sekali tidak boleh minum, sama sekali tidak boleh, itu dilarang, itu salah, itu dosa. Yang lain mengatakan bahwa orang Kristen boleh minum, ya, asalkan dalam jumlah yang wajar, itu tidak masalah, terutama karena Alkitab menunjukkan bahwa umat Allah minum anggur, dan kalau dilakukan dengan tidak berlebihan, itu tidak masalah.

Saya pernah bersama orang-orang Kristen di negara ini, di Eropa, Amerika Latin, dan di tempat-tempat lain. Ada yang minum dan ada yang tidak. Ada yang pergi makan malam dan tidak terpikir sedikit pun untuk memesan anggur, sementara yang lain memesan anggur terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan makan malam. Saya pernah bertemu orang-orang di berbagai ladang misi yang menyuruh saya tinggal di tempat tertentu karena anggurnya paling enak di sana. Tapi di sisi lain, saya juga pernah bertemu orang-orang yang sudah bertahun-tahun berada di suatu lingkungan ladang misi dan sama sekali tidak pernah minum anggur. Jadi, sepertinya ini bukan soal apakah Anda berada di sini secara geografis atau di tempat lain, tapi memang ada banyak perasaan dan pandangan yang berbeda mengenai apakah minum itu benar atau tidak.

Saya pernah didatangi orang-orang yang berkata kepada saya, “Kapan Anda akan berkhotbah menentang minum minuman beralkohol?” Dan ada juga yang datang kepada saya dan berkata, “Anda tidak akan berkhotbah menentang minum minuman beralkohol, kan?” Anda pasti akan senang kalau kemarin berada di rumah saya dan mendengar berbagai percakapan melalui telepon yang saya terima. “Kami hanya menelepon untuk bertanya – Anda tidak akan mengatakan hal seperti ini besok, kan?” Saya akan menjawab, “Datang saja dan lihat sendiri.” Saya tahu banyak orang yang merasa khawatir tentang hal ini, dan hal terakhir yang ingin saya lakukan adalah membuat semua orang merasa sangat bersalah. Hal terakhir yang juga ingin saya lakukan adalah membuat Anda berpikir bahwa apakah Anda minum atau tidak minum merupakan simbol atau tanda dari kerohanian Anda. Kerohanian adalah siapa diri Anda. Apa yang Anda lakukan hanyalah merupakan perwujudan dari kerohanian itu.

Nah, ingatlah hal ini. Dalam pembahasan terakhir kita tentang Efesus 5:18, kita sudah menjelaskan bahwa minum digunakan sebagai kontras dengan kepenuhan Roh Kudus karena yang Paulus lihat bukan terutama soal sosial, melainkan soal teologis. Tentu saja, orang-orang dalam masyarakat pada zaman itu – sama seperti dalam masyarakat kita dan dalam setiap masyarakat lain di seluruh dunia sepanjang sejarah manusia – minum untuk melupakan masalah mereka, minum untuk membangkitkan sukacita, dan minum untuk mendapatkan suatu rasa nyaman. Memang benar, ada unsur sosial di dalamnya. Tapi apa yang Paulus maksudkan jauh lebih luas dari itu, dan ini berkaitan dengan hal teologis.

Anda tahu, anggur digunakan untuk membuat orang mabuk dalam agama-agama kafir, dalam penyembahan kepada dewa-dewa oleh orang Yunani dan Romawi, dengan tujuan mencapai apa yang mereka anggap sebagai tingkat kesadaran rohani yang lebih tinggi. Mereka percaya bahwa semakin mabuk mereka, semakin tinggi tingkat kesadaran yang mereka capai untuk bersekutu dengan dewa-dewa mereka. Inilah tepatnya yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 10 ketika ia berkata bahwa kamu tidak dapat minum dari cawan roh-roh jahat dan juga dari cawan Tuhan. Kamu tidak dapat pergi dan minum dari cawan yang membuatmu mabuk supaya bisa bersekutu dengan dewa-dewa, lalu datang dan minum dari cawan Perjamuan Kudus, yang melaluinya kamu bersekutu dengan Yesus Kristus. Persekutuan kita dengan Tuhan menuntut kita menggunakan sepenuhnya kemampuan pikiran dan kesadaran kita, yang digerakkan oleh kepenuhan Roh, dan itu berbeda dengan persekutuan mereka, yang justru membuat kemampuan pikiran dan kesadaran mereka tidak berfungsi karena pengaruh alkohol dalam minuman yang mereka minum.

Ingat saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa Iblis telah memalsukan seluruh Injil, bukan? Kita pernah membahas tentang dewa Zeus yang bisa dikatakan sebagai tiruan palsu dari Allah Bapa - semacam versi palsu dari Allah Bapa. Dan Zeus memiliki seorang anak laki-laki yang kemudian dicabik-cabik tubuhnya dan dilahirkan kembali, yang merupakan gambaran kebangkitan palsu. Anda ingat bahwa anak itu pada awalnya dikandung tanpa Zeus pernah bertemu dengan ibunya, jadi seperti sebuah kelahiran dari seorang perawan? Dan Anda ingat bahwa Zeus kemudian memutuskan untuk menjadikan anak itu sebagai penguasa bumi, sekali lagi menunjukkan gambaran yang palsu itu? Jadi, anak Zeus yang dilahirkan kembali ini menjadi penguasa bumi. Namanya Dionysus, dan dia dikenal sebagai dewa anggur. Mengapa? Karena agama kafir dilakukan dengan mabuk-mabukan. Itu semua merupakan bagian dari sistem tersebut.

Jadi ketika Paulus berkata, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,” dia sedang mengatakan bahwa cara penyembahan agamawi yang lama sudah berakhir, dan yang baru sudah dimulai, yaitu melalui Roh Kudus, bukan melalui mabuk-mabukan. Jadi, itulah dasar dari perbandingan yang dia buat. Itulah dasar dari kontras yang dia tunjukkan. Ini jauh lebih dari sekadar masalah sosial; dia sedang berbicara tentang hal yang berkaitan dengan agama. Dia mengatakan bahwa kalau kamu mau hidup sesuai dengan panggilan Tuhan, kamu harus hidup dalam kerendahan hati dan kesatuan, dan kamu harus hidup berbeda dari cara hidup orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Kamu harus hidup dalam kasih, dalam terang, dan dalam hikmat. Maka kamu tidak akan mencoba membangun persekutuanmu dengan Tuhan melalui mabuk-mabukan, tetapi melalui kepenuhan Roh Allah.

Intinya adalah bahwa mabuk itu dilarang karena merupakan perwujudan dari cara hidup yang lama, yang tidak sesuai dengan kehidupan yang baru, ya? “Janganlah kamu mabuk oleh anggur” adalah sebuah perintah. Mabuk dilarang dalam Kitab Suci. Mabuk adalah pola hidup yang menjadi bagian dari kehidupan yang lama. Dalam Roma pasal 13, hal ini dijelaskan dengan sangat jelas dalam ayat 13: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan.” Dalam Galatia pasal 5 ayat 21, kita menemukan hal yang sama. Kembali ke ayat 17, di sana dibicarakan tentang keinginan daging; dalam ayat 19, tentang perbuatan daging; dan kemudian dalam ayat 21, tercantum hal-hal ini: kedengkian, bermabuk-mabukan dan sebagainya. Semua ini bukan bagian dari kehidupan kita yang baru. “Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kulakukan dahulu — bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal demikian tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:10 mengatakan hal yang sama: “Pemabuk tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Petrus pasal 4 ayat 3 berkata: “Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan apa yang suka dilakukan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam berbagai hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum ….”

Itulah bagian dari kehidupan kita yang dulu. Sudah cukup dengan semua itu. Biarkan semuanya tetap di masa lalu, karena memang di sanalah tempatnya, dan itu sudah selesai. Semua itu adalah bagian dari kegelapan masa lalu. Kita tidak lagi hidup seperti itu – 1 Tesalonika 5:6 berkata: “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam.” Intinya, kemabukan adalah bagian dari kehidupan malam yang dulu kita jalani. Tapi sekarang kita sudah masuk ke dalam siang bersama Yesus Kristus, dan tidak ada tempat lagi bagi kemabukan.

Jadi, Alkitab memperingatkan kita tentang bahaya kemabukan. Seorang percaya tidak boleh mabuk. Dan orang selalu bertanya, “Lalu, apa yang dimaksud dengan mabuk?” Mabuk bisa diartikan sebagai keadaan ketika alkohol mulai memengaruhi atau mengambil alih bagian apa pun dari kemampuan kita untuk berpikir dan mengendalikan diri. Itulah kemabukan. Memang, tingkat pengaruhnya bisa berbeda-beda, dan saya tidak tahu persis di mana batasnya bagi setiap orang. Tapi setiap kali kita mulai menyerahkan kendali atas pikiran dan kemampuan kita, dalam bentuk apa pun, kepada alkohol, saat itulah kita sudah berada dalam kondisi mabuk.

Nah, Alkitab banyak berbicara tentang hal ini. Saya ingin menunjukkan beberapa di antaranya kepada Anda. Amsal pasal 20 ayat 1 berkata: “Anggur itu pencemooh, minuman kerasitu pembuat onar, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.” Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya. Intinya, orang yang meminumnya sampai mabuk adalah orang bodoh, karena dia tertipu dan mengira bahwa minuman itu memberikan sesuatu yang baik atau positif bagi dirinya. Itu adalah tipu daya Iblis; anggur menjadi pencemooh. Anda mengira minuman itu sedang melakukan sesuatu yang baik bagi Anda, padahal justru pada saat yang sama minuman itu sedang mencemooh Anda. Amsal – saya ingin Anda membuka bersama saya pasal 23, salah satu gambaran tentang kemabukan yang paling menarik dalam seluruh Alkitab. Amsal 23 ayat 19.

Kitab Amsal, tentu saja, adalah kitab yang dulu diajarkan oleh para ayah kepada anak-anak mereka. Jadi, di sepanjang kitab Amsal, kita sering mendengar seorang ayah berbicara kepada anak laki-lakinya. Dan di pasal 23 ayat 19, kita mendengarnya lagi: “Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar.” Dengan kata lain, kalau Anda adalah anak Kerajaan, anak Sang Raja, kalau Anda adalah bagian dari dunia Allah dan berada dalam wilayah kekuasaan-Nya, kalau Anda hidup dalam terang dan sudah berada di jalan yang benar, maka tetaplah berada di jalan itu. Arahkanlah hati Anda untuk tetap berjalan di jalan yang benar. Di ayat 20 dia berkata, “Janganlah engkau ada di antara peminum anggur.” Dengan kata lain, kehidupan Anda yang baru tidak sesuai dengan kehidupan mabuk-mabukan yang dulu Anda jalani. “Janganlah engkau ada di antara peminum anggur,” dan, ngomong-ngomong, “ataupun pelahap daging.” Kita bisa membahas hal itu di lain kesempatan. Tapi dikatakan, “Karena si peminum dan si pelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping.”

Orang yang akhirnya menjadi pecandu alkohol akan berakhir dalam keadaan compang-camping. Anda bisa melihatnya sendiri kalau minggu ini Anda mengikuti berita dan melihat apa yang terjadi dengan berbagai penusukan di kawasan kumuh, Anda pasti tahu seperti apa keadaan orang-orang itu. Saya sudah berkali-kali berkhotbah di berbagai pelayanan misi. Bahkan ketika saya masih sangat muda, saya sering pergi ke Third Street malam demi malam untuk berkhotbah di tempat pelayanan misi, dan saya melihat orang-orang berpakaian compang-camping karena kemabukan mereka. Betapa menipunya minuman keras itu. Anda tahu, minuman itu tidak membuat seseorang menjadi orang yang terpandang. Sebaliknya, minuman itu justru membuat orang berakhir dalam keadaan compang-camping, dan itu terlihat dengan sangat jelas. Anda hanya perlu melihat sebentar saja ke kawasan itu, dan Anda bisa melihatnya sendiri.

Sekarang, dia sampai pada ayat 29 dan di sini dia menggambarkan seperti apa keadaan seseorang yang mabuk. Ngomong-ngomong, di bagian tengah dia berbicara tentang percabulan karena kemabukan dan percabulan sangat erat kaitannya. Dia berbicara tentang perempuan sundal di ayat 27 karena hal seperti itu biasanya juga menyertai kemabukan. Tapi di ayat 29, dia menggambarkan keadaan orang yang mabuk. Saya ingin Anda melihatnya. “Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh kesah? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya? Mereka itu yang duduk-duduk dengan anggur sampai jauh malam, mereka yang datang mengecap anggur campuran.” Sekarang, mari kita lihat sebentar. Siapa yang banyak mengaduh, siapa yang mengalami sakit hati dan kesedihan, siapa yang suka bertengkar, siapa yang banyak bicara tanpa kendali, siapa yang mengalami luka tanpa sebab? Siapa yang – tanpa alasan yang jelas – menabrak pembatas jalan di jalan tol, menabrak hidran pemadam kebakaran, tiang telepon, menabrak tembok, atau jatuh menembus jendela? Siapa? Siapa yang matanya menjadi merah, siapa yang terus membawa dirinya sendiri ke dalam masalah, kesedihan, pertengkaran, dan bicara tanpa kendali? Itulah orang yang mabuk. Itulah mereka yang pergi mencari anggur campuran.

Nah, untuk menghindari jatuh ke dalam lubang seperti ini, dia berkata, “Jangan melihat anggur hanya karena merah warnanya, berkilau dalam cawan, dan mengalir masuk dengan nikmat.” Dengan kata lain, jangan mulai tertarik dengan melihatnya, karena hal itu memang sangat menggoda. Anda melihatnya – dan Anda tahu iklan-iklan itu, kan? Pernahkah Anda melihatnya? Mereka mengangkat gelasnya, lalu cahaya disorot melewati anggur itu, mereka melihatnya, kemudian menuangkannya perlahan dalam gerakan lambat, sampai anggur itu mengalir dengan indah. Ada juga orang-orang yang memang ahli minum anggur dan mencicipi anggur. Semua itu sebenarnya sedang memainkan sesuatu yang memang dirancang untuk menarik dan menggoda. Dan tentu saja, di ayat 32 dia berkata, Pada akhirnya anggur itu kelihatan begitu menarik dan begitu mudah diminum, “tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. Lalu matamu akan melihat hal-hal yang aneh.” Saya tidak akan meminta semua orang yang pernah mengalami hal itu untuk berdiri dan menceritakan kesaksiannya – kita bisa menganggap bahwa kita sudah tahu seperti apa itu. “Dan hatimu mengucapkan kata-kata yang kacau.” Anda melihat hal-hal yang aneh, seperti gajah-gajah berwarna merah muda dan segala macam hal lainnya, dan hati Anda mulai mengucapkan hal-hal yang pantas.

Anda akan seperti orang yang berbaring di tengah laut, berbaring di atas tiang kapal. Ayat ini menggambarkan sebuah kapal yang berada di tengah laut, dan ketika Anda mabuk, Anda seperti orang yang mencoba tidur di atas tiang kapal. Kalau Anda tahu sedikit saja tentang kapal, jelas bahwa gerakan yang terjadi di bagian bawah kapal akan terasa jauh lebih kuat di bagian atas. Jadi, orang yang berada di atas tiang kapal akan terombang-ambing seperti ini. Dan minggu ini saya berbicara dengan seseorang yang mengatakan bahwa dia sering mengalami mabuk, dan menurutnya, ini adalah gambaran yang paling tepat tentang pengalaman itu yang pernah dia dengar seumur hidupnya.

Tapi tahukah Anda apa yang paling menakjubkan dari semua ini? Dia akan berkata, “Orang memukul aku, tetapi aku tidak merasa sakit; Orang menghajar aku, tetapi tidak kurasa. Bilakah aku siuman? Aku akan mencari anggur lagi.” Luar biasa. Setelah mengalami semua masalah itu, lalu apa yang kamu lakukan ketika bangun? Kamu kembali lagi mengejarnya. Salah satu ahli tafsir Perjanjian Lama yang terkenal, Delitzsch, berkata, “Penulis dalam teks ini beralih dari dosa percabulan dan kenajisan kepada dosa kemabukan karena keduanya sangat erat kaitannya. Kemabukan membangkitkan nafsu kedagingan, dan untuk menenggelamkan diri dalam kenikmatan hawa nafsu, seseorang yang diciptakan menurut gambar Allah harus terlebih dahulu merendahkan dirinya menjadi seperti binatang melalui semacam mabuk-mabukan.”

Jadi, Alkitab sangat jelas berbicara tentang kemabukan. Dalam Yesaya pasal 5 ayat 11 dikatakan: “Sungguh celaka orang yang bangun pagi-pagi dan langsung mencari minuman keras, lalu duduk-duduk sampai malam hari, mabuk terbakar oleh anggur!” Salah satu ciri khas pecandu alkohol adalah mereka minum sejak pagi. Celakalah mereka yang mulai minum sejak pagi dan terus minum sampai malam. Dan ngomong-ngomong, seperti yang akan kita lihat nanti, pada zaman itu orang memang harus minum sebanyak itu untuk bisa mabuk karena kadar alkohol dalam minuman mereka sangat rendah. Anda benar-benar harus minum sepanjang hari, kecuali tentu saja Anda minum minuman keras seperti yang disebutkan di sini. Kalau Anda hanya minum anggur biasa, Anda membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadi mabuk karena jenis anggur mereka berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Kita akan melihatnya sebentar lagi.

Tapi orang yang bangun pagi lalu minum sepanjang hari akan mengalami celaka. Dalam Yesaya pasal 28, dan masih banyak bagian lainnya – saya hanya akan memberikan beberapa contoh. Dalam Yesaya pasal 28, Allah menyampaikan teguran yang sangat keras kepada Efraim, umat Tuhan. Dia berkata, “Orang-orang di sini pun” – Yesaya 28:7 – “pening karena anggur dan pusing karena arak.” Dengan kata lain, minuman keras telah membuat mereka kehilangan pandangan yang benar tentang Allah. Perhatikan ini: para imam dan para nabi telah tersesat karena minuman keras.

Nah, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda. Seorang imam sama sekali dilarang minum. Dan kita akan melihatnya pada kesempatan berikutnya. Mengapa? Karena seorang imam berada dalam posisi mewakili Allah. Kalau dia mabuk lalu membuat penilaian yang salah atau memberikan gambaran yang keliru tentang Allah, dia bisa menyeret seluruh kelompok orang bersamanya. Dan di sini, imam dan nabi Allah dalam keadaan mabuk. Mereka telah tersesat, mereka mengatakan hal-hal yang tidak benar, dan mereka dikuasai oleh anggur. Mereka kehilangan arah karena minuman keras, mereka keliru dalam penglihatan dan tersandung dalam mengambil keputusan. Mereka mengatakan hal-hal yang salah dan menyesatkan orang lain. Dan ayat 8 menunjukkan betapa parahnya keadaan mereka: “Sungguh, segala meja penuh dengan muntah, kotoran, sehingga tidak ada tempat yang bersih lagi.” Mereka muntah dan buang air di tempat mereka minum. Luar biasa buruknya perilaku imam dan nabi itu, padahal Allah telah memanggil mereka untuk menjalankan tugas yang dipercayakan-Nya kepada mereka. Tidak heran kalau Allah menghukum mereka.

Dalam Yesaya pasal 56, kita kembali menemukan hal yang serupa di ayat 11 dan 12. Bagian ini berbicara tentang orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga Israel, orang-orang yang seharusnya memperhatikan dan menjaga umat Tuhan. Dikatakan, “(Mereka adalah) anjing-anjing pelahap yang tidak kenal kenyang. Mereka itu gembalagembala yang tidak punya pengertian! Semua mengambil jalannya sendiri, masing-masing mengejar laba, tanpa terkecuali. "Datanglah," kata mereka, "aku akan mengambil anggur, baiklah kita minum arak sebanyak-banyaknya; besok sama seperti hari ini, bahkan lebih hebat lagi!’” Kita akan terus mabuk. Dan Anda tahu, Allah benar-benar menegur dan menghukum orang-orang ini. Setiap kali seseorang berada dalam posisi yang memiliki tanggung jawab rohani lalu dia minum sampai mabuk, Allah memandangnya sebagai sesuatu yang sangat serius dan memberikan teguran yang keras. Dalam Hosea pasal 4 ayat 11 dikatakan: “Anggur dan air anggur menghilangkan akal sehat.” Di sini kita melihat Allah menghubungkan minum dengan perzinahan, minum dengan percabulan dan pelacuran.

Baiklah, sekarang kita berhenti sampai di sini sebentar, ya? Saya rasa Anda sudah bisa melihat bagaimana Allah memandang kemabukan. Anda sudah melihat betapa buruk dan mengerikannya akibat kemabukan dalam kitab Kejadian, ketika akibatnya adalah hubungan incest yang mengerikan. Kita tahu bahwa Allah melarang kemabukan. Hal ini ditegaskan berulang kali, lagi dan lagi. Tidak pernah ada keadaan dalam kehidupan seorang percaya di mana dia boleh menyerahkan kendali atas pikiran dan kemampuannya kepada alkohol. Kita semua adalah imam bagi Allah. Kita semua memiliki tanggung jawab rohani, dan kita semua dipanggil untuk mengatakan perkataan yang tepat, memberikan gambaran yang benar tentang Allah, dan melakukan segala sesuatu yang benar-benar mencerminkan Allah setiap saat. Karena itu, kita tidak boleh kehilangan kendali atas diri kita kapan pun, bahkan dalam keadaan mabuk yang dianggap ringan sekalipun, karena hal itu tetap berarti kita melanggar standar Allah untuk hidup selaras dengan Roh-Nya.

Tapi di sisi lain, tahukah Anda bahwa anggur juga dipuji dalam Alkitab? Beberapa dari Anda mungkin berkata, “Oh, tidak, saya sudah merasa nyaman dengan bagian yang pertama tadi.” Tapi anggur memang juga dipuji dalam Alkitab, dan kita harus melihatnya secara adil. Memang begitu. Tahukah Anda bahwa dalam Keluaran 29 dan Imamat 23, umat Tuhan diperintahkan untuk membawa persembahan curahan ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan? Dan persembahan curahan itu adalah anggur. Dalam Hakim-hakim 9:13 dan Mazmur 104:15 juga dikatakan bahwa ada jenis anggur tertentu yang menyukakan hati dan membuat orang bersukacita. Dan dalam Yesaya 55:1-2 – ini mungkin mengejutkan – Yesaya menyamakan anggur dengan keselamatan. Dia berkata, “Datanglah dan belilah anggur,” dan sebenarnya dia sedang memberikan undangan untuk menerima keselamatan.

Tuhan Yesus Kristus minum anggur dan menetapkan Perjamuan Kudus, meja perjamuan Tuhan. Paulus juga memberitahu Timotius dalam 1 Timotius pasal 5 ayat 23 untuk minum sedikit anggur demi kesehatan perutnya. Dan jelas bahwa baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, minuman yang umum dikonsumsi orang pada waktu itu adalah anggur. Dan ngomong-ngomong, ketika Orang Samaria yang Baik Hati melewati jalan dan menemukan orang yang tergeletak di pinggir jalan, Lukas 10:34 mengatakan bahwa setelah dia merawat orang itu, dia menuangkan anggur ke luka-lukanya. Dan dalam Amsal 31 dikatakan bahwa ketika seseorang sudah tua, sangat sakit, dan hampir meninggal, berikanlah kepadanya anggur sebagai penenang, untuk meredakan rasa sakit seperti obat bius.

Jadi, Anda bisa melihat bahwa dalam Alkitab, anggur digambarkan sebagai sesuatu yang bisa menghancurkan, sebagai pencemooh, sebagai sesuatu yang membuat orang kehilangan kendali dan menyebabkan kemabukan, yang dilarang oleh Allah. Tapi di sisi lain, di banyak bagian Alkitab, anggur juga disebut sebagai sesuatu yang boleh digunakan dan diterima. Lalu Anda mungkin bertanya, “Jadi, apa sebenarnya yang mau Anda katakan?” Yang ingin saya katakan adalah, hal ini sama seperti segala sesuatu yang lain. Buah anggur kecil yang bergantung pada pokok anggur itu memiliki potensi untuk membawa kebaikan, tapi juga memiliki potensi untuk membawa kejahatan. Sekarang Anda mungkin bertanya, “Jadi, apakah kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita bisa tahu apakah kita seharusnya minum atau tidak? Apakah Alkitab mengatakan sesuatu yang bisa membantu kita?” Ya, Alkitab memang mengatakannya, dan saya akan menjelaskannya kepada Anda.

Inilah yang saya sebut sebagai “Daftar Pertimbangan Anggur bagi Orang Kristen”. Saya akan memberikan delapan pertanyaan yang perlu kita pertimbangkan. Saya tidak tahu apa yang sudah menjadi anggapan atau pandangan awal Anda, dan saya ingin Anda tahu bahwa saya mengasihi Anda semua. Saya tidak bermaksud untuk terus-menerus mengkritik atau menghakimi Anda. Saya akan mengajukan delapan pertanyaan ini kepada Anda, dan Anda harus memikirkannya bersama saya. Hari ini kita akan membahas dua pertanyaan pertama dan sedikit masuk ke pertanyaan yang ketiga, ya? Dan saya sungguh percaya bahwa semua ini akan membantu Anda mengambil keputusan. Nah, saya ingin mengatakan ini kepada Anda: Alkitab tidak melarang minum anggur. Nah, jangan berkata, “Amin.” Jangan lakukan itu, karena orang di sebelah Anda mungkin akan terkejut, ya. Alkitab tidak melarang minum anggur. Kalau memang Alkitab melarangnya, saya tinggal membacakan ayatnya, berdoa, lalu kita pulang. Saya harus berkhotbah tentang hal lain lagi, bukan? Karena semuanya sudah selesai. Tapi Alkitab tidak mengatakan seperti itu. Alkitab tidak mengatakan bahwa anggur itu dilarang. Tapi Alkitab memang mengatakan beberapa hal yang membantu kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan.

Nomor 1, dan ini adalah pertanyaan pertama yang muncul di pikiran saya. Apakah sama? Apa maksud saya? Apakah minum anggur pada zaman sekarang sama dengan pada zaman Alkitab? Lebih tepatnya, apakah anggur yang kita minum sekarang sama dengan anggur pada zaman itu? Alasan saya menanyakan hal ini adalah karena orang-orang Kristen yang minum anggur biasanya sangat mengandalkan hak mereka untuk minum berdasarkan Alkitab. Mereka berkata, “Yesus minum anggur, para rasul minum anggur, orang-orang pada zaman Perjanjian Lama minum anggur, orang-orang pada zaman Perjanjian Baru juga minum anggur. Berarti tidak mungkin ada yang salah dengan minum anggur.” Dan saya memikirkan hal itu. Saya berpikir, “Ya, itu bagus. Maksud saya, mereka ingin menggunakan dasar Alkitab. ‘Orang-orang di dalam Alkitab melakukannya, jadi apa masalahnya?’” Lalu mereka berkata, “Lagipula, pada waktu itu mereka belum punya lemari pendingin, jadi anggurnya pasti mengalami fermentasi, dan mereka meminumnya dalam keadaan sudah difermentasi, sama seperti kita yang meminumnya sekarang. Jadi, apa masalahnya?” Jadi saya langsung mulai berpikir, “Saya ingin tahu apakah anggur yang kita minum sekarang memang sama dengan anggur pada zaman itu.” Selama tiga minggu terakhir, saya mencoba mencari tahu soal ini, untuk melihat apakah memang sama, dan saya menemukan beberapa informasi yang luar biasa. Saya akan membagikannya kepada Anda, jadi simak baik-baik.

Saya ingin memberi Anda beberapa istilah untuk kita mulai. Ini adalah istilah-istilah yang digunakan dalam Alkitab, lalu nanti saya akan menghubungkannya dengan pembahasan kita. Apakah anggur yang mereka minum sama dengan anggur yang kita minum sekarang? Kalau kita mau menjadikan kebiasaan mereka minum sebagai dasar bagi kebiasaan kita minum, berarti anggurnya harus sama. Kalau ternyata tidak sama, berarti dasar itu tidak bisa kita pakai, dan kita harus mencari dasar yang lain. Baiklah, pertama-tama, kata yang paling umum digunakan dalam Perjanjian Baru adalah oinos, O-I-N-O-S, kata Yunani oinos. Kata ini secara sederhana menunjuk pada sari buah anggur. Ini adalah kata yang sangat umum, sering digunakan, dan merupakan kata yang biasa dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menyebut anggur.

Sekarang, padanan kata oinos dalam Perjanjian Lama adalah yayin, Y-A-Y-I-N. Itulah kata dalam bahasa Ibrani. Kata ini digunakan sebanyak 141 kali dalam Perjanjian Lama. Dan kata yayin – perhatikan ini – menunjuk pada anggur yang dicampur. Ya, dicampur. Bukan dicampur dengan anggur lain, tapi biasanya dengan air. Kadang-kadang dengan madu, kadang-kadang dengan rempah-rempah, dan kadang-kadang dengan mur, tapi selalu dicampur. Bahkan kalau dicampur dengan madu, mur, dan rempah-rempah, anggur itu juga bisa dicampur lagi dengan air. Jadi, mereka memiliki berbagai macam campuran minuman.

Nah, ngomong-ngomong, yayin berarti anggur yang dicampur. Saya menemukan hal itu dalam Ensiklopedia Orang Yahudi tahun 1901. Jadi, ini bukan tafsiran Kristen, dan bukan sesuatu yang baru saja kami pikirkan. Orang-orang Yahudi sendiri, ketika melihat teks Ibrani mereka dan mempelajari bagaimana kata itu digunakan, mengatakan bahwa yayin berarti anggur yang dicampur. Ada dua kata lagi yang perlu kita pertimbangkan. Gleukos, dari kata inilah kita mendapatkan kata “glukosa”, yaitu sesuatu yang berbahan dasar gula. Gleukos berarti anggur baru. Anggur baru. Kata ini digunakan dalam Kisah Para Rasul 2:13 ketika orang-orang berkata tentang para rasul pada hari Pentakosta, “Mereka penuh dengan anggur baru.” Ini adalah anggur yang masih segar, tapi perhatikan: anggur ini tetap mengalami fermentasi. Hanya dalam beberapa hari saja anggur bisa mulai mengalami fermentasi. Bahkan anggur yang masih segar, baru saja diperas dari buah anggur, tanpa proses pendinginan, akan mengalami fermentasi dengan sangat cepat. Jadi, meskipun relatif masih segar dan belum sepenuhnya mengalami proses pematangan, anggur itu tetap berpotensi memabukkan. Itulah sebabnya dalam Kisah Para Rasul 2:13 mereka berkata, “Orang-orang ini mabuk oleh anggur baru.” Jadi, fakta bahwa anggur itu masih baru bukan berarti anggur itu tidak bisa memabukkan. Anggur itu tetap akan mengalami fermentasi dengan cepat.

Sekarang, kalau Anda baru saja memeras buah anggur lalu langsung meminumnya, tentu saja minuman itu belum tentu mengalami fermentasi. Tapi yang disebut gleukos, atau anggur baru, bisa saja baru beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan sejak benar-benar segar, dan anggur itu masih akan terus mengalami fermentasi. Ngomong-ngomong, kata dalam Perjanjian Lama untuk anggur seperti ini adalah tirosh, T-I-R-O-S-H, dan tirosh juga berarti anggur baru. Sebelumnya saya sudah membacakan Hosea 4:11, dan di sana disebut anggur baru, yaitu tirosh. Dan perhatikan ini: di ayat yang sama dikatakan bahwa kemabukan berkaitan dengan anggur baru. Jadi, anggur baru, tirosh, dan anggur baru, gleukos, dalam kedua kasus tersebut tetap bisa menyebabkan kemabukan. Jadi, fakta bahwa anggur itu masih baru bukan berarti anggur itu tidak bisa membuat orang mabuk.

Baiklah, sekarang saya ingin memberikan satu istilah lagi. Istilah lain yang perlu Anda ketahui dalam Perjanjian Lama adalah shakar, dan shakar berarti minuman keras, yaitu minuman yang tidak dicampur. Kata dalam Perjanjian Baru adalah sikera, yang juga berarti tidak dicampur. Jadi sekarang kita punya tiga kelompok. Pertama, oinos dan yayin adalah anggur yang dicampur, yaitu anggur yang dicampur dengan air. Itulah penggunaan yang paling umum. Lalu ada gleukos dan tirosh, yaitu anggur baru yang masih segar, yang ngomong-ngomong, menurut catatan sejarah, juga dicampur dengan air. Ketiga, ada shakar dan sikera, yaitu anggur yang tidak dicampur, langsung dari buah anggur ke dalam gelas, lalu ke mulut, tanpa campuran apa pun. Nah, berdasarkan istilah-istilah ini – dan saya ingin memberikan beberapa penjelasan dari sejarah dan hal-hal lainnya, semuanya akan saling berkaitan, dan saya rasa Anda akan menemukan ini sangat menarik – kesimpulan saya adalah ini. Saya akan memberikan kesimpulannya terlebih dahulu supaya Anda tahu ke mana arah pembicaraan saya: anggur pada zaman Alkitab belum tentu sama dengan anggur yang kita kenal sekarang.

Anggur yang diminum orang sekarang tidak dicampur dengan air. Itu adalah anggur murni. Tapi anggur pada zaman Alkitab tidak seperti itu, dan saya akan menunjukkan alasannya. Pertama-tama, sebagian anggur pada zaman Alkitab sama sekali tidak memabukkan. Anggur itu tidak mengalami fermentasi. Jadi, sama sekali tidak memabukkan. Profesor Samuel Lee dari Universitas Cambridge mengatakan demikian. Dia mengatakan bahwa yayin, yaitu anggur yang dicampur, atau oinos dalam istilah Perjanjian Baru, tidak hanya menunjuk pada minuman beralkohol yang dihasilkan melalui fermentasi, tapi lebih sering menunjuk pada semacam sirup atau selai kental yang tidak memabukkan, yang dihasilkan melalui – perhatikan ini – proses perebusan agar bisa disimpan lebih lama. Ini menunjukkan bahwa pada waktu itu sangat umum bagi mereka untuk mengambil sari buah anggur yang baru diperas, lalu merebusnya. Proses ini akan menguapkan cairannya dan menghilangkan kemampuan cairan tersebut untuk mengalami fermentasi. Hasilnya adalah semacam pasta kental yang bisa disimpan, lalu mereka memasukkannya ke dalam tempayan. Nah, ini tidak berbeda dengan apa yang dilakukan para ibu atau perempuan zaman sekarang ketika mereka mengawetkan makanan dengan cara memasukkannya ke dalam wadah untuk disimpan. Mereka juga mengawetkan sari buah anggur yang kental dan seperti sirup ini. Ngomong-ngomong, sari buah anggur yang tersisa setelah proses perebusan tidak dapat mengalami fermentasi dalam kondisi seperti itu. Kemudian sari buah anggur tersebut disimpan di dalam kantong kulit anggur yang baru.

Ada saat-saat dan tempat-tempat tertentu ketika mereka benar-benar ingin menghilangkan kandungan alkohol atau kemampuan untuk mengalami fermentasi dari apa yang mereka gunakan. Jadi, tidak cukup hanya mengatakan bahwa mereka minum minuman beralkohol karena pada waktu itu belum ada lemari pendingin. Mereka mengatasi masalah itu dengan cara seperti ini. Dan, ngomong-ngomong, sirup kental yang mirip selai anggur itu sangat sering mereka oleskan di atas roti seperti selai. Apakah Anda tahu itu? Dan ketika mereka ingin meminumnya, mereka akan mengambil sirup itu lalu mencampurnya. Menurut Plinius, sejarawan Romawi, mereka bisa mencampurnya dengan sampai 20 bagian air. Kalau bentuknya pasta kental, mereka harus menambahkan kembali air yang hilang karena penguapan, bukan? Lalu mereka mencampurnya kembali dan meminumnya, sehingga minuman itu tidak mengalami fermentasi dan sama sekali tidak memabukkan. Dan ngomong-ngomong, sejauh yang bisa saya simpulkan dari penelitian saya, itulah jenis anggur yang paling disukai untuk diminum. Itulah sebabnya Samuel Lee mengatakan bahwa cara tersebut merupakan cara yang paling umum untuk menyimpan dan menyiapkan anggur. Dan bukankah jelas bahwa cara seperti itu juga lebih mudah untuk menyimpannya daripada menyimpannya dalam bentuk cair? Karena kalau dalam bentuk cair, apa? Terlalu banyak tempat yang dibutuhkan. Jadi, itulah cara yang umum dilakukan.

Nah, para penulis klasik juga pernah membicarakan hal ini, dan saya ingin menunjukkannya kepada Anda supaya Anda tahu bahwa ada sumber-sumber yang nyata. Horace, pada tahun 35 SM – ini sudah sangat lama – berkata, “Kalian bisa meneguk, di bawah tempat yang teduh, cawan-cawan berisi anggur yang tidak memabukkan.” Jadi, mereka mengakui bahwa jenis anggur seperti itu memang ada. Plutarch, pada tahun 60 M, menulis bahwa anggur yang sudah disaring tidak membakar otak, tidak mengganggu pikiran maupun emosi, dan jauh lebih menyenangkan untuk diminum. Dengan kata lain, Plutarch berkata, “Saya suka jenis anggur yang tidak mengandung alkohol, yang tidak membakar pikiran atau apa pun. Jauh lebih menyenangkan untuk diminum.” Aristoteles berkata, “Anggur dari Arcadia begitu kental sehingga perlu dikerok dari kantong kulit tempat anggur itu disimpan, lalu kerokan tersebut dilarutkan dalam air.” Virgil, pada tahun 30 SM, juga berbicara tentang jenis anggur yang direbus hingga menjadi sari yang kental dan nikmat, lalu disimpan.

Homer, dalam buku kesembilan dari Odyssey, menceritakan bahwa Ulysses membawa sekantong kulit kambing berisi anggur hitam yang manis ke dalam perahunya. Dan ketika anggur itu diminum, anggur tersebut diencerkan dengan 20 bagian air. Tentu saja, karena anggur itu begitu kental, air diperlukan agar anggur tersebut bisa diminum sebagai minuman. Columella dan para penulis lain yang hidup sezaman dengan para rasul memberitahukan kepada kita bahwa di Italia dan Yunani, sudah menjadi hal yang umum untuk merebus anggur. Tentu saja, hal itu tidak akan dilakukan kalau mereka ingin mempertahankan kandungan alkoholnya. Uskup Agung Potter, yang lahir pada tahun 1674 M, dalam bukunya Grecian Antiquities, edisi Edinburgh tahun 1813, Jilid II, halaman 360, mengatakan bahwa orang-orang Lacedaemonia biasa merebus anggur mereka di atas api, lalu meminumnya kemudian. Dia merujuk pada Democritus, seorang filsuf terkenal yang melakukan perjalanan ke sebagian besar wilayah Eropa, Asia, dan Afrika, yang meninggal pada tahun 300 SM, dan juga kepada Palladius, seorang tabib Yunani, yang memberikan pernyataan serupa.

Nah, para ahli dari zaman dahulu ini menyebut sari buah anggur yang direbus itu sebagai anggur. Dan mungkin beberapa dari Anda pernah mendengar tentang anggur Opimian, yang disebutkan oleh Plinius, sejarawan Romawi. Dia mengatakan bahwa anggur itu memiliki kekentalan seperti madu. Jadi, saya hanya ingin memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa hal ini memang merupakan fakta sejarah. Profesor Donovan mengatakan dalam sebuah tafsiran Alkitab, “Untuk mengawetkan anggur mereka dalam jangka waktu yang lama, orang-orang Romawi mengentalkan sari buah anggur yang digunakan untuk membuat anggur tersebut melalui proses penguapan.” Jadi, mereka membuatnya menjadi kental dan seperti sirup. Dan ini bukan hanya dilakukan oleh orang Romawi. Orang Yahudi juga melakukannya. Mishnah, yang merupakan kodifikasi hukum Yahudi, menyatakan bahwa orang-orang Yahudi biasa menggunakan anggur yang direbus. W. G. Brown, yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Afrika, Eropa, dan Asia pada abad ke-18, menyatakan bahwa anggur di Siria sebagian besar dibuat dengan cara direbus segera setelah diperas dari buah anggur, sampai jumlahnya berkurang dan kemudian dimasukkan ke dalam tempayan atau botol untuk disimpan dan digunakan. Kemudian ada Dr. Newman, seorang profesor kimia di Berlin pada abad ke-18, yang mengatakan bahwa dapat diamati bahwa ketika sari buah yang manis direbus sampai menjadi kental, sari tersebut bukan hanya tidak mengalami fermentasi dalam keadaan seperti itu, tapi juga tidak mudah mengalami fermentasi bahkan setelah dicampur kembali dengan air. Jadi, sekalipun sari tersebut diencerkan kembali dengan air dan dibiarkan, sari itu mungkin akan mengalami fermentasi, tapi proses fermentasinya akan berlangsung sangat lambat.

Jadi intinya begini, Saudara, ada pasta kental yang digunakan dan tidak memabukkan. Sari buah anggur yang sudah dikentalkan, ngomong-ngomong, sampai sekarang masih ada dan disebut dibs, D-I-B-S. Sampai sekarang, dibs masih digunakan di perkebunan anggur di Palestina, Yordania, dan Lebanon. Dibs digunakan sebagai bumbu makanan. Bahkan digunakan untuk dioleskan pada roti, dan cara ini tidak membutuhkan lemari pendingin untuk menyimpan minuman yang tidak mengalami fermentasi. Jadi, yang ingin saya Anda pahami dari semua ini adalah: anggur yang diminum pada zaman itu belum tentu sama dengan anggur yang kita kenal sekarang. Anggur pada waktu itu bisa berupa sari buah anggur yang dikentalkan, dengan sifat fermentasi dan sifat memabukkannya sudah dihilangkan. Intinya adalah ini: Anda tidak bisa membela kebiasaan minum anggur sekarang dengan alasan bahwa orang-orang pada zaman itu juga minum anggur, kecuali Anda bisa membuktikan bahwa yang Anda minum sekarang sama dengan yang mereka minum waktu itu. Ya? Kalau Anda tidak bisa membuktikannya, berarti Anda harus meninggalkan argumen itu dan mengatakan, “Saya boleh minum anggur karena alasan lain.” Baik, kita bisa membahas alasan yang lain, tapi alasan yang tadi tidak bisa dipakai kalau memang tidak sama.

Izinkan saya menambahkan satu hal lagi. Mereka bukan hanya membuat pasta kental seperti ini, tapi dari waktu ke waktu mereka juga menyimpannya dalam bentuk cair, dan anggur dalam bentuk cair akan mengalami fermentasi. Nah, menurut Robert Stein, yang melakukan penelitian tentang hal ini pada tahun 1975 dan menerbitkannya di Majalah Christianity Today, mereka biasa menyimpan anggur dalam bentuk cair untuk digunakan sehari-hari. Mungkin mereka tidak selalu ingin mengambil pasta kental itu lalu mencampurnya setiap kali, terutama kalau mereka tidak punya waktu atau karena alasan lainnya. Mereka menyimpannya dalam tempayan-tempayan besar yang disebut amphora. Dan begini caranya: dari amphora, mereka mengambil anggur murni yang belum dicampur dengan air. Mereka menuangkannya ke dalam wadah yang disebut krater, K-R-A-T-E-R, krater atau krater. Di dalam krater itulah mereka mencampurnya dengan air. Jadi, air dituangkan ke dalam anggur untuk mencampurnya, lalu dari krater anggur itu dipindahkan ke kylix, yaitu cawan atau gelas untuk minum. Mereka tidak pernah menyajikan anggur langsung dari amphora ke kylix tanpa melewatkannya terlebih dahulu melalui krater. Dengan kata lain, mereka tidak menyajikan anggur yang tidak dicampur dengan air. Kalau anggurnya bukan dalam bentuk pasta kental, melainkan dalam bentuk cair dan sudah mengalami fermentasi, maka mereka akan mencampurnya dengan air. Dan ngomong-ngomong, dari catatan sejarah yang kita lihat, campurannya bisa mencapai 20 banding 1 atau serendah 3 banding 1 – itu adalah rasio terendah yang saya temukan. Jadi, mereka mencampur anggur dengan air dengan perbandingan mulai dari 20 banding 1 sampai 3 banding 1.

Nah, dengarkan ini: Minum anggur yang tidak dicampur bahkan dianggap sebagai tindakan orang barbar, termasuk oleh orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan. Barbar. Athanasius mengutip Menestheus dari Athena yang mengatakan: “Para dewa telah memberikan anggur kepada manusia sebagai berkat terbesar bagi mereka yang menggunakannya dengan benar, tapi bagi mereka yang menggunakannya tanpa batas, anggur justru menjadi sebaliknya.” Sekarang perhatikan: “Anggur memberikan makanan kepada mereka yang meminumnya dan menguatkan pikiran serta tubuh. Dalam pengobatan, anggur sangat bermanfaat.” Dengarkan ini: “Anggur dapat dicampur dengan cairan dan obat-obatan, dan dapat membantu orang yang terluka. Dalam kehidupan sehari-hari, bagi mereka yang mencampur dan meminumnya dengan secukupnya, anggur memberikan sukacita. Kalau Anda melewati batas, anggur akan menimbulkan kekerasan. Campurkan anggur dengan air dalam jumlah yang sama, dan hasilnya adalah kegilaan; kalau diminum tanpa campuran, akibatnya adalah tubuh yang kehilangan kendali.”

Anda lihat, orang-orang pada zaman itu mencampurnya, dan bahkan mencampur anggur dengan perbandingan 1 banding 1 pun dianggap sebagai tindakan orang barbar. Rasio terendah yang bisa saya temukan adalah 3 banding 1. Jelas bahwa pada zaman dahulu anggur dipandang sebagai obat dan, tentu saja, sebagai minuman. Dan sebagai minuman, anggur selalu dipahami sebagai sesuatu yang sudah dicampur. Anggur bisa dicampur dalam bentuk pasta kental, atau bisa juga diambil dari amphora, dicampur di dalam krater, lalu disajikan – bukan diminum tanpa campuran. Perbandingan airnya bisa berbeda-beda, tapi hanya orang barbar yang meminumnya tanpa campuran. Bahkan campuran air dan anggur dengan jumlah yang sama, 1 banding 1, dianggap sebagai minuman keras dan tidak disukai. Jadi, istilah anggur, atau oinos atau yayin, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, harus dipahami sebagai anggur yang dicampur dengan air. Dan ketika mereka ingin menyebut anggur yang tidak dicampur, mereka menggunakan istilah akratesteron. Dengan kata lain, anggur itu adalah akrater – tidak ada krater di tengah prosesnya; anggur langsung dituangkan dari amphora ke kylix tanpa dicampur.

Nah, inti yang ingin saya sampaikan, Saudara, adalah ini: anggur yang tidak dicampur ini bahkan dianggap tidak dapat diterima dalam budaya mereka. Minuman keras adalah anggur yang tidak dicampur, dan hanya orang barbar yang meminumnya. Ketika kita bergerak dari gereja Perjanjian Baru menuju gereja setelah zaman Perjanjian Baru, yaitu gereja mula-mula, kita menemukan bahwa mereka juga menulis tentang hal ini dalam sebuah karya yang disebut Tradisi Apostolik. Dalam Tradisi Apostolik dikatakan bahwa gereja mula-mula mengikuti kebiasaan yang sama, yaitu hanya menyajikan anggur yang sudah dicampur, baik yang berasal dari sirup kental maupun dari anggur dalam bentuk cair.

Sekarang Anda mungkin bertanya, “Apa pentingnya semua ini? Apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan?” Yang ingin saya katakan adalah ini: kalau Anda ingin membela kebiasaan minum anggur pada zaman sekarang dengan alasan bahwa orang-orang pada zaman Alkitab juga minum anggur, maka Anda perlu meninjau kembali apakah yang kita minum sekarang memang sama dengan yang mereka minum pada waktu itu. Dan ketika kita meneliti lebih dekat, kita menemukan bahwa mereka minum sesuatu yang sama sekali tidak memabukkan, seperti anggur dalam bentuk sirup kental, atau minuman yang begitu banyak dicampur dengan air sehingga tingkat kemabukannya sangat, sangat rendah. Mari saya berikan gambaran. Saya menghubungi Dewan Alkohol, pusat informasi mereka yang ada di perpustakaan, dan saya mendapatkan informasi ini. Bir mengandung 4 persen alkohol, anggur mengandung 9 sampai 11 persen alkohol – dan lamanya anggur itu disimpan tidak mengubah hal tersebut, karena memang kisaran alkohol yang dihasilkan adalah 9 sampai 11 persen, itulah kadar yang dihasilkan dari proses fermentasi. Brandy, yang merupakan anggur yang diperkuat dengan tambahan alkohol, mengandung 15 sampai 20 persen alkohol. Sedangkan minuman keras, apa pun jenisnya, seperti scotch, rye, dan sebagainya, mengandung 40 persen atau 50 persen alkohol. Dengan kata lain, kalau tertulis 80 proof, berarti kandungan alkoholnya 40 persen; kalau 100 proof, berarti kandungan alkoholnya 50 persen.

Nah, siapa pun yang minum sesuatu dengan kadar alkohol 15 sampai 50 persen pada zaman Alkitab pasti akan dianggap sebagai orang barbar. Jadi, saya rasa kita bahkan tidak perlu membahas apakah seorang Kristen boleh minum minuman keras. Menurut saya, sudah sangat jelas. Bahkan, Anda sadar bahwa untuk meminumnya dan tetap menjaga kesadaran, Anda harus meneguknya sedikit demi sedikit karena begitu kuat pengaruhnya. Begitu tinggi kadar alkoholnya. Dan saya bahkan tidak akan membahas faktor-faktor medis tentang apa yang dilakukan alkohol terhadap tubuh kita. Anda hanya perlu menemukan seseorang yang tergeletak di selokan, membawanya ke rumah sakit, dan melihatnya meninggal karena pengerasan hati, maka Anda akan mendapat sedikit gambaran tentang akibatnya.

Tapi mari kita gunakan perkiraan yang sangat konservatif. Katakanlah anggur mengalami fermentasi hingga memiliki kadar alkohol 9 sampai 11 persen, ya? Baik, sekarang mari kita gunakan perbandingan campuran yang paling rendah yang bisa saya temukan, yaitu 3 banding 1. Ini adalah rasio terendah yang saya temukan – belum lagi kalau perbandingannya 5 banding 1, 10 banding 1, 15 banding 1, atau yang lainnya – kita gunakan saja 3 banding 1, yang paling rendah. Baik, kalau Anda mengambil anggur yang sudah mengalami fermentasi dengan kadar alkohol 9 sampai 11 persen dari dalam amphora, lalu mencampurnya di dalam krater dengan air menggunakan perbandingan 3 banding 1, hasil akhirnya adalah sebagai berikut: kadar alkohol dalam minuman yang sudah dicampur dengan air itu menjadi 2,25 sampai 2,75 persen. Nah, itu sangat rendah. Ngomong-ngomong, suatu minuman harus memiliki kadar alkohol 3,2 persen untuk dikategorikan sebagai minuman beralkohol. Jadi, yang kita dapatkan adalah minuman dengan kadar alkohol di bawah batas tersebut. Intinya begini: untuk bisa mabuk dengan anggur yang dicampur tiga bagian air, Anda harus duduk di sana dan meminumnya sepanjang hari. Dan itulah tepatnya mengapa Alkitab berkata tentang para penatua di gereja, “Jangan terlalu lama berada di dekat anggur.”

Dengan kata lain, untuk bisa mabuk pada zaman itu dengan minum anggur, seseorang harus memang berniat untuk mabuk. Salah satu alasannya, dia harus menahan rasa ingin buang air kecil. Kalau Anda memang sudah bertekad untuk mabuk, Anda tinggal pergi dan minum banyak sekali minuman keras, bukan? Anda tidak akan mencampurnya dengan air; Anda akan bertindak seperti orang barbar. Tapi peringatan dalam Alkitab adalah ini: karena anggur pada waktu itu memiliki kadar alkohol yang sangat rendah, berhati-hatilah agar dalam situasi tertentu Anda tidak duduk dan meminumnya begitu lama sampai akhirnya memberikan efek mabuk. Tapi intinya adalah, anggur yang diminum pada waktu itu, kalau menggunakan perbandingan 3 banding 1, akan memiliki kadar alkohol sekitar 2,25 persen atau rata-rata 2,50 persen. Kadar itu begitu rendah sehingga bahkan tidak dikategorikan sebagai minuman beralkohol.

Jadi intinya begini, Saudara, entah kita berbicara tentang anggur dalam bentuk pasta kental atau anggur dalam bentuk campuran, anggur yang dikonsumsi pada zaman itu memiliki kandungan alkohol yang tidak ada sama sekali atau sangat kecil. Dan kemabukan adalah sesuatu yang memang harus diusahakan, yaitu ketika seseorang sengaja minum sampai mabuk. Orang yang melakukannya harus terus minum dalam waktu yang lama sampai akhirnya mabuk. Anda tahu? Saya pernah melihat seseorang kehilangan kendali setelah minum anggur hanya dalam waktu 45 menit, dengan hanya minum tiga atau empat gelas. Nah, hal seperti itu tidak mungkin terjadi pada zaman Alkitab. Anda harus terus minum dalam waktu yang lama untuk bisa sampai seperti itu. Jadi intinya, saudara-saudara, Anda tidak bisa menggunakan apa yang diminum orang-orang pada zaman Alkitab sebagai dasar untuk membenarkan apa yang kita minum sekarang. Mereka akan menganggap minuman yang kita minum sekarang sebagai sesuatu yang dilakukan orang barbar. Barbar. Itu bukanlah minuman yang mereka konsumsi pada waktu itu.

Jadi, pertanyaan pertama: Apakah sama? Jawabannya: Apa? Tidak. Pertanyaan kedua: Apakah perlu? Apakah perlu? Sekarang, saya menyadari bahwa pada zaman Alkitab, minum anggur dalam batas tertentu memang merupakan suatu kebutuhan. Dan mungkin ada saat-saat sekarang ini ketika hal itu juga diperlukan. Maksud saya, Alkitab tidak mengatakan bahwa Anda sama sekali tidak boleh melakukannya, karena Alkitab tahu bahwa sepanjang sejarah akan ada situasi-situasi ketika kita tidak punya banyak pilihan. Kalau Anda berada di suatu negara atau wilayah tertentu di dunia di mana hanya itu yang tersedia, dan Anda sangat kehausan atau berada dalam keadaan yang membutuhkan minuman, dan sebagainya, Anda memang tidak punya banyak pilihan selain menggunakan apa yang tersedia. Jadi, Alkitab tidak begitu saja menghapus semuanya dan berkata bahwa hal itu sama sekali tidak boleh. Karena itu, kita perlu mengajukan pertanyaan ini: Apakah hal itu memang diperlukan sekarang?

Tuhan menyediakan anggur, Tuhan berbicara tentang minum anggur, dan orang-orang menggunakan anggur dalam Perjanjian Lama karena dalam masyarakat mereka pada waktu itu, anggur memang dibutuhkan. Tapi jangan menyimpulkan bahwa anggur itu pasti sudah mengalami fermentasi, dan jangan menyimpulkan bahwa anggur itu pasti memabukkan, karena bisa saja tidak demikian. Mungkin ada saat-saat ketika mereka mendapatkan anggur dengan campuran 1 banding 1 karena itulah yang disediakan oleh tuan rumah dan hanya itu yang tersedia, sehingga mereka harus sangat berhati-hati. Mungkin ada saat-saat ketika minuman keras ditawarkan dan karena mereka sangat kehausan, mereka mengambil sedikit karena memang tidak punya pilihan lain. Mungkin ada saat-saat ketika semua jenis minuman itu tersedia. Tapi kita harus ingat bahwa pada zaman dan masa itu, dan mungkin juga di beberapa bagian dunia sekarang ini, ada keadaan ketika hal itu memang diperlukan. Itulah sebabnya Allah tidak memberikan satu pernyataan yang berlaku secara mutlak untuk semua keadaan.

Tapi intinya begini. Kalau kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya memang perlu untuk minum (anggur)?” itu adalah pertanyaan yang sangat penting. Pada zaman itu mungkin mereka punya anggur, sari buah, susu, dan air. Hanya itu. Pilihan mereka sangat terbatas. Tapi sekarang, Anda bisa minum apa saja. Maksud saya, lemari dan rak di toko-toko penuh dengan berbagai macam minuman – segala sesuatu yang bisa dibayangkan ada. Jadi kita harus bertanya begini: Apakah minum anggur memang diperlukan sekarang? Apa jawabannya? Tidak, tidak diperlukan. Jadi, minum anggur tidak lagi masuk dalam kategori kebutuhan, tetapi masuk dalam kategori pilihan, bukan? Itu harus masuk dalam kategori pilihan, sesuatu yang memang kita inginkan. Hanya itu kategorinya. Jadi, kalau Anda mengatakan bahwa Anda minum, jangan berkata, “Saya minum karena orang-orang pada zaman Alkitab juga minum.” Katakan saja bahwa Anda minum karena memang Anda mau. Itu lebih jujur. Anda memang lebih memilih anggur daripada Soda, teh, es teh, atau entah apa. Akui saja bahwa itulah pilihan Anda, dan pada dasarnya memang seperti itulah keadaan dalam masyarakat kita.

Tapi jangan gunakan alasan ini. Orang berkata, “Saya benar-benar merasa ini perlu, karena kalau saya tidak melakukannya, orang-orang akan tersinggung. Saya punya banyak teman yang belum percaya dan mereka minum, jadi saya merasa perlu minum bir bersama teman-teman atau minum sedikit bersama kelompok ini, karena saya benar-benar perlu menjadi bagian dari mereka. Saya hanya tidak ingin menyinggung mereka.” Terus terang, Saudara, itu adalah alasan paling bodoh yang pernah saya dengar. Sungguh. Itu sama sekali bukan alasan. Sama sekali bukan alasan. Maksud saya, kalau sekelompok orang berkumpul lalu mereka semua menggaruk-garuk belakang telinga kiri mereka, apakah Anda juga akan menggaruk belakang telinga kiri Anda supaya menjadi bagian dari mereka? Maksud saya, kalau semua orang di lingkungan tempat tinggal Anda tidak memakai deodoran, apakah Anda juga tidak akan memakai deodoran? Apa hubungannya? Itu sama sekali bukan alasan. Itu adalah non sequitur. Itu tidak membuktikan apa-apa. Itu konyol. Anda tahu, mungkin jumlah orang yang bukan Kristen tetapi tidak minum sama banyaknya dengan jumlah orang Kristen yang tidak minum pada zaman sekarang.

Ada banyak orang yang belum percaya yang tidak minum. Anda bisa bertemu mereka semua di satu tempat kalau Anda pergi ke pertemuan Alcoholics Anonymous. Ada begitu banyak orang yang sudah bersumpah untuk sama sekali tidak minum lagi. Anda akan sering bertemu orang-orang yang bukan Kristen tetapi tidak minum. Bahkan saya pernah berada dalam situasi bersama orang-orang Kristen dan non-Kristen, di mana orang-orang Kristennya minum, sementara yang non-Kristen tidak minum. Jadi, itu sama sekali bukan alasan. Orang tidak akan membuat kesimpulan teologis yang besar tentang ketidakmampuan Anda membangun hubungan dengan orang lain hanya karena Anda tidak minum. Mereka tidak akan berpikir seperti itu. Bahkan, ada banyak orang yang berharap kepada Tuhan seandainya mereka tidak pernah mulai minum – sangat banyak.

Jadi, saya benar-benar tidak menerima alasan bahwa Anda harus minum supaya diterima. Saya pernah berada di Amerika Selatan, saya pernah ke berbagai negara di Amerika Latin, di mana orang-orang minum, saya pernah ke Meksiko, di mana orang-orang minum. Saya juga pernah datang ke setiap pertandingan bisbol yang kami ikuti selama beberapa tahun, ketika saya pergi ke sana untuk turnamen bisbol dan kami bertanding melawan juara nasional Meksiko beberapa tahun yang lalu. Setiap kali kami pergi ke suatu tempat, setelah setiap pertandingan, mereka mengadakan pesta besar untuk kami – benar-benar pesta besar. Mereka membawa kami ke restoran setempat atau country club, entah di mana, dan saya beri tahu Anda, minuman keras terus mengalir. Saya ingat kami pernah pergi ke suatu tempat dan di depan setiap piring ada sebotol besar minuman, benar-benar besar. Saya tidak tahu isinya apa, mungkin sekitar dua liter. Botolnya benar-benar besar. Kami semua saling berpandangan lalu memesan Coke, dan mereka tetap bersenang-senang.

Maksud saya, mereka minum minuman mereka dan minuman kami juga, ya, mereka benar-benar menikmatinya. Dan bagian yang menarik adalah, kami semua bersenang-senang, hanya saja kami tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami menikmati kenyataan dari suasana itu; mereka menikmati fantasi mereka. Dan ketika semuanya selesai, mereka tetap menyukai kami, mereka merangkul kami, mereka mengundang kami untuk datang lagi tahun depan, dan semuanya terasa luar biasa – jadi itu bukan masalah. Di Meksiko, itu bukan masalah. Saya pernah berada di Israel, saya pernah di Eropa, dan saya tidak pernah melihat hal itu menjadi masalah sampai seseorang merendahkan kekristenan saya atau menganggap saya lebih rendah hanya karena saya memilih untuk tidak minum. Menurut saya, itu bukan alasan yang bisa dibenarkan. Tapi saya ingin mengatakan ini: Kalau memang itu adalah suatu kebutuhan, kalau Anda berada dalam situasi di mana hanya itu yang tersedia, hanya itu yang ada, dan Anda hampir tidak punya pilihan atau sama sekali tidak punya pilihan, maka dengan bijaksana Anda perlu menyikapinya sebagai sebuah kebutuhan. Tapi akui saja bahwa dalam masyarakat kita, itu adalah sebuah pilihan. Itu adalah sebuah pilihan.

Jadi, saya harus mengajukan pertanyaan ketiga ini kepada Anda. Saya hanya akan memperkenalkannya sekarang, lalu saya akan berhenti, dan kita akan menyelesaikannya pada kesempatan berikutnya. Saya baru memberikan dua pertanyaan kepada Anda – masih ada enam lagi. Tapi sekarang dengarkan pertanyaan ketiga ini, singkat saja: Apakah itu pilihan yang terbaik? Baiklah, akui saja, Anda memang memilih untuk melakukannya. Tapi apakah itu pilihan yang terbaik? Anda berkata, “Itu jauh lebih baik untuk Anda daripada kopi. Jauh lebih baik untuk Anda daripada Coca-Cola.” Orang lain berkata, “Saya belum pernah melihat orang minum delapan botol Coke sampai tidak bisa berjalan lurus.” Jadi, kita bisa berdebat soal itu. Apakah itu pilihan yang terbaik? Biarkan saya menunjukkan satu hal kepada Anda, lalu kita akan membahasnya lebih lanjut pada kesempatan berikutnya. Saya akan tunjukkan siapa saja yang dalam Alkitab dilarang oleh Allah untuk minum sama sekali, dan kita akan melihat apakah itu memang pilihan yang terbaik.

Tapi sebelum saya melakukan itu, sebagai penutup, Lukas 1:15. Saya ingin memperkenalkan kepada Anda orang terbesar yang pernah hidup, oke? Inilah orang terbesar yang pernah hidup – itu yang dikatakan Yesus. Sampai pada zamannya – Matius 11:11 – “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Matius 11:11, Yesus berkata bahwa sampai pada zamannya, dia adalah manusia terbesar yang pernah hidup. Sungguh orang yang sangat, sangat besar. Dan lihat apa yang dikatakan dalam Lukas 1:15: “Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan” – sekarang perhatikan – “dan ia tidak akan minum anggur” – oinos – “ataupun minuman keras” – sikera. “Ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya.” Jadi, apa yang sedang terjadi di sini? Orang terbesar yang pernah hidup adalah seorang yang sama sekali tidak minum. Allah melarang dia minum setetes pun. Mengapa? Itu untuk kita bahas lain kali. Mari kita berdoa bersama.

Bapa kami, kami tahu bahwa mudah bagi kami untuk menilai kehidupan rohani kami berdasarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, padahal itu sebenarnya bukanlah persoalannya. Kami tahu bahwa Engkau tidak melarang minum anggur, tetapi ada beberapa hal yang jelas dalam Alkitab yang akan kami coba pahami untuk membantu kami mengambil keputusan. Tapi Tuhan, kiranya kami selalu memahami bahwa bukan berarti orang yang tidak minum itu rohani, sedangkan orang yang minum tidak rohani. Sesederhana itu. Ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. Tidak melakukan sesuatu tidak pernah dengan sendirinya membuat kita menjadi apa pun. Yang menjadi persoalan adalah siapa kita sebenarnya. Dan Tuhan, di mana pun posisi kami sekarang dan di mana pun kami pernah berada dalam persoalan ini, tolong kami melihatnya seperti Engkau melihatnya, dan memahaminya seperti Engkau memahaminya. Sungguh luar biasa, Tuhan, bahwa Engkau telah memberikan begitu banyak kebenaran untuk kami pelajari, begitu banyak hal untuk melindungi kami. Kami tahu bahwa kami bukan hanya harus menghindari dosa, tetapi juga harus menghindari segala sesuatu yang bahkan dapat memicu terjadinya dosa. Jadi, tolong kami, Bapa, untuk menilai dengan benar bagi diri kami sendiri apa yang Engkau kehendaki untuk kami lakukan.

Sementara Anda merenungkan sejenak, izinkan saya menyampaikan ini sebagai penutup. Pesan seperti ini mungkin tidak biasa bagi kita, membahas sesuatu yang cukup teknis seperti ini, tapi semuanya tetap berada dalam alur Firman Tuhan. Sungguh luar biasa bagaimana Firman Tuhan menyentuh setiap bagian kehidupan. Tapi mungkin hari ini Anda datang dan berkata, “Wah, saya datang ke sini dengan harapan mendengar tentang Allah dan Yesus Kristus, dan mendapatkan jawaban bagi hidup saya, bagi masalah saya, bagi pergumulan dan persoalan di hati saya, tapi yang dibahas justru hal ini, dan rasanya tidak benar-benar menjawab keadaan saya.”

Nah, izinkan saya mengatakan ini kepada Anda: Saya akan berdoa dan membubarkan Anda dalam satu menit lagi. Di sebelah kanan saya, di bagian depan auditorium, tepat di dekat piano, ada ruang doa dan pusat konseling. Ada orang-orang di sana yang dengan senang hati akan berdoa bersama Anda dan berbicara dengan Anda. Mereka akan memberi tahu bagaimana Anda bisa mengenal Kristus, bagaimana Dia dapat datang dan memenuhi kekosongan yang mungkin selama ini Anda coba isi dengan minuman dari waktu ke waktu. Mereka akan memberi tahu bagaimana Dia dapat membuat hidup Anda penuh sukacita, menenangkan hati Anda, dan memberi damai di tengah hati Anda yang sedang gelisah. Mereka akan memberi tahu bagaimana Dia dapat mengampuni dosa Anda, menyucikan hati Anda, dan memberikan hidup yang kekal. Karena itu, kami mengundang Anda untuk datang setelah ibadah ini selesai. Tidak ada kewajiban, tidak ada paksaan, tidak ada keharusan untuk bergabung atau membeli apa pun. Kami hanya ingin berdoa bersama Anda, mengasihi Anda, dan berbicara dengan Anda. Apa pun masalah Anda, mereka akan ada di sana.

Dan kalau-kalau ada di antara Anda yang mengalami masalah dalam hal minum, mungkin ada beberapa di antara kita yang bisa disebut pecandu alkohol, yang memiliki masalah dengan minuman. Tuhan Yesus dapat mengubah keadaan itu. Anda tidak harus terus menjadi seorang pemabuk. Anda bisa datang kepada Yesus Kristus, dan Dia dapat membasuh Anda hingga putih seperti salju. Mungkin ada di antara Anda yang sudah menjadi orang Kristen tetapi masih bergumul dengan minuman; Allah sanggup menangani hal itu. Ketika Anda menyerahkan diri kepada Roh Kudus, Dia dapat mulai mengubah keinginan dan kecenderungan hati Anda, menjauhkannya dari hal itu dan mengarahkannya kepada diri-Nya. “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” Jika Allah meminta kita melakukan itu, maka Allah juga memberikan kuasa untuk melakukannya, dan Dia akan mengerjakannya dalam hidup Anda. Dia mengasihi Anda apa pun keadaan Anda. Bahkan jika Anda seorang pecandu alkohol atau pemabuk, Dia tetap mengasihi Anda, dan kami juga mengasihi Anda. Tapi Dia ingin mengubah Anda sehingga seluruh kemampuan pikiran dan kesadaran Anda dapat digunakan sepenuhnya bagi kemuliaan-Nya. Izinkan Dia melakukannya hari ini. Para konselor kami akan dengan senang hati berdoa bersama Anda mengenai hal itu.

Bapa, terima kasih untuk waktu kami hari ini, dan terima kasih karena Engkau menolong kami setidaknya mulai memahami hal ini dengan lebih baik. Kami mengasihi-Mu karena kami tahu Engkau begitu peduli kepada kami, bahkan sampai memberitahukan hal-hal seperti ini agar kami dapat menjaga hidup kami dan mengambil keputusan yang membawa kemuliaan bagi-Mu. Berkatilah setiap orang yang hadir di sini, Tuhan. Satukan kami kembali malam ini saat kami merenungkan apa artinya menjadi pembawa damai. Kami akan mengucap syukur dalam nama Kristus. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize