Baik, mari kita mulai dengan melihat poin pertama dalam garis besar ini. Akan lebih baik jika Anda langsung mengeluarkan buku catatan Anda dan meletakkannya di depan, supaya Anda bisa langsung menulis catatan di atasnya tentang bagaimana mempelajari Kitab Suci. Nah, kami berasumsi bahwa Anda adalah seorang Kristen, bahwa Anda mengenal Tuhan Yesus Kristus, dan Anda telah menerima Dia sebagai Juruselamat Anda melalui iman. Anda telah membuka hati Anda dan mengundang Kristus masuk, mengambil alih hidup Anda, memerintah dalam hidup Anda, menjadi Tuhan atas hidup Anda. Anda telah mengakui dosa Anda, menyadari bahwa dengan kekuatan sendiri Anda tidak sanggup, dan Anda telah menerima Tuhan Yesus Kristus. Lalu setelah itu, apa yang harus Anda lakukan? Ini seperti langkah-langkah awal dalam pelatihan militer dasar; seperti tahap pertama untuk belajar baris-berbaris dengan benar.
Beberapa hal yang praktis, dan yang pertama adalah bagaimana cara mempelajari Alkitab. Saya rasa ini cukup jelas bagi setiap orang Kristen, bahwa Alkitab adalah penyataan Allah, bahwa Allah telah menuliskan Firman-Nya bagi kita. Alkitab adalah satu-satunya pedoman yang kita miliki untuk hidup. Ini adalah satu-satunya standar bagi perilaku kita, satu-satunya otoritas. Mungkin ada hal-hal lain yang kita pelajari dalam hidup yang bisa membantu kita menjalani hidup, tetapi semuanya tidak memiliki otoritas seperti Alkitab. Ketika Alkitab berbicara, itu adalah suara Allah. Dan karena itu, Firman itu memiliki otoritas dan menjadi standar hidup bagi kita.
Jika demikian, maka sangat penting bagi kita untuk mempelajari apa yang dikatakan Alkitab. Kita perlu bisa secara sistematis mendekati Kitab Suci dan mencari tahu apa yang dikatakannya. Bukan hanya apa yang dikatakannya, tetapi juga apa arti dari apa yang dikatakannya. Banyak orang membaca apa yang tertulis, tetapi tidak memahami maknanya. Karena itu, sangat penting dalam kehidupan Kristen untuk menyadari bahwa Alkitab adalah otoritas. Tidak ada otoritas lain yang setara dengan Alkitab.
Ada orang-orang Kristen yang membaca berbagai macam buku, tetapi justru bukan Alkitab. Kita bisa mengatakan bahwa mereka belajar tentang Alkitab, tetapi tidak benar-benar mempelajari Alkitab itu sendiri. Yang utama adalah mempelajari Firman Tuhan. Melalui Firman itulah Allah berbicara. Memang ada buku-buku lain yang baik, yang membantu menjelaskan, menerapkan, dan menafsirkan Kitab Suci, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan Alkitab. Karena itu, dalam kehidupan setiap orang Kristen, harus ada waktu di setiap hari untuk dipenuhi dan dikuatkan oleh Firman Tuhan. Ini sangat penting.
Nah, pertama-tama, Anda akan melihat dalam garis besar bahwa ada satu pemikiran tentang pentingnya mempelajari Alkitab, bahwa hal itu memang sangat diperlukan. Kita akan membahasnya sebentar. Kami sudah memberikan beberapa alasan mengapa hal itu penting. Pertama, mempelajari Alkitab itu perlu supaya kita bisa bertumbuh. Dalam 1 Petrus 2:2 dikatakan, “Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh.” Di seluruh isi Perjanjian Baru, orang Kristen digambarkan sebagai orang yang telah dilahirkan kembali. Kita menjadi anak-anak Allah. Berulang kali kita disebut sebagai anak Allah, sebagai anak atau putra Allah.
Anda telah dilahirkan ke dalam keluarga Allah; Anda telah diangkat menjadi anak Allah. Bahkan, kadang-kadang Anda disebut sebagai bayi rohani. Itu berarti ada potensi kehidupan dan pertumbuhan di dalam diri seorang Kristen yang baru, dan tentu saja itu hal yang jelas. Kita memang seharusnya bertumbuh. Dan di sini Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 2 bahwa kita harus bertumbuh oleh susu murni Firman Tuhan, seperti bayi yang bertumbuh. Jika seorang bayi tidak diberi makan, maka bayi itu akan mati—itu sudah jelas.
Ada orang yang membawa bayi keluar dari rumah sakit lalu menelantarkannya, bahkan kadang kita mendengar berita tentang bayi yang ditemukan meninggal karena tidak dirawat. Apa yang terjadi? Bayi itu tidak diberi makan, dan akhirnya mati. Itu sesuatu yang jelas. Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani. Kita adalah bayi rohani yang harus bertumbuh, dan untuk bisa bertumbuh, kita harus menerima Firman. Karena Firman itulah yang menjadi “susu” rohani kita, yang membuat kita bertumbuh.
Firman Tuhan adalah makanan kita. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Dalam 1 Korintus pasal 3 ayat 1 sampai 2, kita membaca hal yang sama. “Dan aku, Saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.”
Nah, kita ambil satu poin dari bagian ini. Rasul Paulus berkata, “Aku memberi kamu makan.” Ia ingin memberi makanan keras, tetapi tidak bisa, sehingga harus memberi susu. Tapi tetap saja, ia memberi makan. Ini menunjukkan bahwa Paulus memahami pentingnya memberi makanan rohani. Dan kita tahu apa yang ia pakai untuk memberi makan mereka, yaitu Kitab Suci. Kadang Firman bisa menjadi susu, dan kadang bisa menjadi makanan keras. Itu tidak berarti bahwa sebagian Alkitab adalah susu dan sebagian lagi makanan keras. Sebenarnya, seluruh isinya bisa menjadi susu atau makanan keras—tergantung seberapa dalam Anda menggali dan memahaminya.
Sebagai contoh, saya bisa berkata kepada Anda, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” dan jika Anda adalah orang Kristen yang baru, Anda akan berkata, “Ya, saya mengerti itu.” Bagian ini seperti susu. Tetapi jika saya mulai menjelaskan lebih jauh tentang karakter Allah, tentang kasih-Nya, bagaimana kasih-Nya bekerja, bagaimana kasih itu dijelaskan dalam Kitab Suci, dan kedalaman makna dari semua itu, maka bagian yang sama akan menjadi semakin dalam, semakin dalam, dan masuk ke bagian “makanan keras” dari kebenaran yang sama itu. Atau misalnya kita berkata, “Allah mengetahui segala sesuatu.” Ini adalah pernyataan yang sederhana, seperti susu. Tetapi jika kita mengembangkannya lebih jauh sampai menjadi sangat mendalam dan kompleks, maka itu menjadi bagian “makanan keras” dari kebenaran tersebut.
Jadi rasul Paulus menyadari pentingnya memberi makanan rohani; kadang susu, kadang makanan keras, tergantung pada situasinya, kemampuan, dan kesiapan orang yang menerimanya. Dalam Kolose pasal 2 ayat 6 dikatakan, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dala2 yom Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman.” Di sini kembali ditekankan bahwa orang Kristen harus bertumbuh—berakar dan dibangun. Dan pertumbuhan itu terjadi melalui iman, yaitu melalui isi atau kebenaran dari iman Kristen itu sendiri.
Semakin kita memahami iman Kristen, semakin kita diteguhkan, semakin kita dibangun. Dalam Yeremia, sebuah bagian Perjanjian Lama, Yeremia 15:16 berkata, “Ketika perkataan-perkataan-Mu ditemukan, aku menikmatinya. Firman-Mu itu menjadi kesukaan bagiku dan sukacita hatiku.” Jadi Yeremia “memakan” Firman Tuhan, seumpama makanan bagi dirinya sendiri. Dalam Kisah Para Rasul pasal 20 ayat 32, ketika Paulus berpamitan dengan para penatua di Efesus, ia berkata, “Aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu.”
Jadi Firman itu sangat diperlukan jika kita ingin bertumbuh. Dan pertumbuhan adalah dasar untuk bisa dipakai. Bayi pada dasarnya belum terlalu berguna. Memang menyenangkan bila ada bayi di sekitar kita—lucu, bisa digendong, dipeluk, dan dicium—tetapi kita tidak bisa banyak mengandalkan mereka. Kita tidak bisa berkata kepada seorang bayi, “Oke, sekarang pergi bersihkan kamarmu.” Mereka memang belum bisa melakukan banyak hal.
Dan ada banyak orang Kristen yang seperti itu—secara rohani masih seperti bayi. Mereka belum banyak bisa berkontribusi, bahkan kadang justru menjadi penghambat. Semakin lama seseorang tetap dalam kondisi seperti itu, semakin memprihatinkan keadaannya. Karena itu, kita berasumsi bahwa Anda ingin bertumbuh. Dalam kehidupan Kristen, di mana ada kehidupan, seharusnya ada pertumbuhan. Jadi kita rindu agar setiap orang percaya bertumbuh. Dan cara untuk bertumbuh adalah melalui Firman Tuhan. Karena itu, kita perlu mempelajari Alkitab.
Hal kedua, dan kita akan lanjutkan. Alasan kedua mengapa penting mempelajari Alkitab adalah untuk mengalahkan dosa. Kita tidak akan pernah bisa mengalahkan dosa tanpa Firman Tuhan. Dalam Efesus pasal 6, ketika berbicara tentang perlengkapan senjata rohani untuk melawan Iblis, senjata apa yang dimiliki orang percaya? Pedang Roh, yaitu Firman Allah. Yang mengalahkan godaan Iblis adalah Firman Tuhan. Ada banyak ayat yang berkaitan dengan hal ini. Dalam Mazmur 119:11 dikatakan, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Ketika seorang Kristen menyimpan Firman Tuhan dalam hatinya, Firman itu menjadi perlindungan yang mencegahnya jatuh ke dalam dosa.
Sebagai ilustrasi sederhana dari pengalaman pribadi saya, semakin banyak saya mengenal Firman Tuhan, semakin sulit bagi saya untuk berbuat dosa. Dulu, saya bisa saja berbuat dosa dan menikmatinya. Saya bisa menikmati dosa dan merasa senang melakukannya. Tetapi sekarang, bahkan ketika saya mulai mendekati dosa, langsung muncul begitu banyak ayat Firman Tuhan di pikiran saya. Baru mulai melangkah sedikit saja, sudah teringat, “Jangan…” karena kebenaran Firman itu ada dalam pikiran saya. Jika Anda tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan, Roh Kudus tidak memiliki sesuatu untuk diingatkan kepada Anda. Jadi, kemenangan atas Iblis terjadi melalui Firman Tuhan. Pedang Roh adalah pengetahuan akan Kitab Suci, yaitu prinsip-prinsip Firman Tuhan yang menjadi pertahanan kita terhadap pencobaan.
Perhatikan, dalam Mazmur 119 ayat 9 dikatakan, “Bagaimana orang muda menjaga kelakuannya agar tetap murni?” Bagaimana seseorang membersihkan hidupnya? Sering kali orang datang dan berkata, “Saya ingin hidup saya bersih, tapi hidup saya berantakan. Bagaimana saya bisa memperbaikinya?” Jawabannya: “Dengan berpegang pada Firman-Mu.” Jadi, cara untuk membersihkan hidup kita adalah dengan mempelajari Firman Tuhan sampai Firman itu menjadi hal yang menguasai pikiran kita. Kita ini seperti sebuah komputer.
Anda tahu istilah komputer: GIGO, garbage in, garbage out (sampah masuk, sampah keluar). Apa yang Anda masukkan ke dalam “komputer” Anda, itulah yang akan keluar dalam hidup Anda. Jika yang Anda masukkan adalah Firman Tuhan, maka yang akan keluar adalah kebenaran, kesalehan, dan hidup yang kudus. Perilaku seperti itu adalah hasil dari kebenaran Allah yang tertanam di dalam diri Anda.
Dalam 1 Yohanes 2:14 dikatakan, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapak-bapak, karena kamu mengenal Dia, yang ada sejak semula. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah tinggal di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.” Satu-satunya cara untuk mengalahkan yang jahat adalah dengan memiliki Firman Allah yang tinggal di dalam kita. Dan masih banyak ayat lain yang menyampaikan kebenaran yang sama.
Baik, poin “C.” Alasan ketiga mengapa kita perlu mempelajari Kitab Suci adalah untuk mempersiapkan diri dalam pelayanan. Anda akan menemukan bahwa ketika Anda terlibat dalam pelayanan kepada Tuhan, pengetahuan akan Firman Tuhan menjadi penopang Anda. Saat Anda menghadapi situasi yang sulit, Anda memiliki keyakinan karena Firman itu. Firman juga menjadi sumber informasi bagi Anda, sehingga ketika Anda berada dalam suatu situasi, Anda tahu prinsip-prinsip untuk menghadapinya. Anda tahu bagaimana melayani, Anda tahu arah yang harus diambil, dan Anda tahu bagaimana bertindak dengan cara yang menyenangkan hati Tuhan.
Sangat penting, jika Anda ingin melayani Tuhan, Anda harus mengenal Kitab Suci. Jika tidak, Anda bisa saja masuk ke dalam suatu pelayanan dengan berpikir bahwa Anda sedang melayani Tuhan, padahal justru melanggar prinsip-prinsip-Nya. Anda harus mengetahui prinsip-prinsipnya. Kitab Suci ini seperti sebuah buku petunjuk. Jika Anda masuk ke suatu pekerjaan yang sangat kompleks, lalu ditanya, “Apakah Anda punya pengalaman?” dan Anda menjawab, “Tidak, saya belum pernah melakukannya,” lalu tetap disuruh mencoba begitu saja, kemungkinan besar Anda akan melakukan banyak kesalahan. Anda membutuhkan petunjuk, Anda membutuhkan pelatihan.
Nah, Firman Tuhanlah yang mempersiapkan kita untuk pelayanan. Yosua 1:8 memberi kita gambaran tentang hal ini: “Janganlah engkau lupa menuturkan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam.” Ini juga menjadi cara yang baik untuk mengakhiri hari Anda. Anda bisa tidur sambil mengingat ayat Alkitab dan mengucapkan Firman Tuhan, karena hal itu akan terus melekat dalam pikiran Anda. “Renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak dengan saksama sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan jaya.”
Keberhasilan dalam hidup Anda sangat bergantung pada seberapa Anda memenuhi diri dengan Firman Tuhan. Firman itulah yang membawa keberhasilan. Ayat 9 mengatakan, “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.” Di sini kita melihat seorang pemuda yang akan menjalankan tugas yang sangat besar. Tanggung jawabnya luar biasa. Dan Tuhan berkata kepadanya, “Yosua, jika engkau merenungkan Firman-Ku, engkau akan sanggup menjalankan tugas itu. Firman Tuhan akan memberikan arah yang engkau butuhkan dalam hidup. Firman itu menunjukkan bagaimana Allah bekerja. Firman itu juga memberi penghiburan di engkau merasa lemah atau putus asa. Tetaplah tinggal dalam Firman, dan engkau akan mengalami keberhasilan yang sejati.
Jadi, penting sekali untuk mengenal Firman Tuhan supaya kita bisa dipakai dalam pelayanan Kristen. Tambahan untuk itu, dalam 1 Timotius 4:6 dikatakan, “Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara seiman kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus yang baik, terdidik dalam pokok-pokok iman kita dan dalam ajaran sehat.” Apa yang membuat seseorang menjadi pelayan Kristus yang baik? Kata “pelayan” di sini berarti seorang hamba.
Apa yang membuat seseorang menjadi pelayan Kristus yang baik? Seseorang yang dipelihara dan dikuatkan oleh firman iman dan ajaran yang benar. Ketika Anda mengenal Firman Tuhan, Anda akan menjadi pelayan Tuhan yang baik. Namun sering kali kita melihat banyak orang ingin melayani Tuhan, tetapi tidak cukup mengenal Alkitab. Akibatnya, mereka melayani dengan cara yang keliru, dan akhirnya mengalami banyak masalah.
Baik, sekarang poin “D” dalam catatan Anda. Kita perlu mempelajari Kitab Suci supaya kita diberkati. Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya lebih suka bahagia daripada sedih. Saya lebih memilih hidup dengan sukacita daripada hidup dalam kesusahan. Memang hidup terdiri dari masa-masa sulit dan masa-masa yang menyenangkan. Namun saya juga tahu satu hal: semakin saya mempelajari Firman Tuhan, semakin saya memiliki sukacita, apa pun keadaan yang saya hadapi. Firman Tuhan memberikan sukacita. Dan itu sangat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Anda melihat seseorang yang hidupnya penuh keluhan dan tidak ada sukacita, mungkin pertanyaan pertama yang bisa diajukan adalah: apakah hari ini ia sudah membaca Firman Tuhan? Anda mungkin bertanya, “Di mana itu tertulis?” Mazmur 1 ayat 1 berkata, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut ajakan orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk di komplotan pencemooh.” Lalu dilanjutkan, “Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Itulah orang yang berbahagia. Orang yang berbahagia adalah orang yang hidup dalam Firman Tuhan, yang mempelajari dan merenungkannya.
Saya sudah berbicara dengan banyak orang yang berkata, “Dulu hidup saya tidak terarah, tetapi ketika saya mulai mempelajari Alkitab, hidup saya berubah.” Mereka berkata, “Sekarang saya memiliki sukacita yang besar dalam hidup saya.” Dan itu memang benar. Itulah yang dikatakan Mazmur 1. Yosua 1:8-9 yang tadi kita baca juga menyampaikan hal yang sama. Anda akan mengalami sukacita ketika Anda merenungkan Firman Tuhan siang dan malam.
Baik, poin “E”. Kita juga perlu mempelajari Kitab Suci supaya bisa menolong orang lain. Anda tidak bisa benar-benar menolong orang lain jika Anda sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Allah tidak pernah menghargai ketidaktahuan. Ketidaktahuan bukan hanya membuat kita tidak bisa menolong diri sendiri, tetapi juga tidak bisa menolong orang lain. Padahal, kehidupan Kristen itu berkaitan dengan menolong orang lain, bukan? Lalu bagaimana cara terbaik menolong seseorang yang sedang mengalami masalah? Yaitu dengan cara menunjukkan solusi dari Tuhan atas masalah tersebut. Dan bagaimana kita bisa melakukannya? Yaitu dengan mengetahui apa yang Alkitab katakan tentang masalah itu, dan bagaimana cara menghadapinya menurut Firman Tuhan.
Jadi, kita bisa menolong orang lain ketika kita mengenal Firman Tuhan. Sebagai contoh, 2 Timotius 2:2 mengatakan bahwa kita harus mengajarkan kepada orang-orang yang setia, supaya mereka juga dapat mengajarkannya kepada orang lain. Satu-satunya cara kita bisa mengajar dan menolong orang lain adalah dengan terlebih dahulu mempelajari kebenaran itu sendiri. Dalam 1 Petrus 3:15 juga dikatakan, “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” Artinya, kita perlu mengetahui jawabannya.
Anda tidak bisa menolong siapa pun jika Anda tidak memiliki jawaban. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang sedang saya bimbing. Ia bercerita bahwa ia menghadapi suatu situasi di mana ada seseorang yang mengajukan banyak pertanyaan kepadanya, tetapi ia tidak bisa menjawab. Bahkan ketika ia sempat terpikir jawabannya, ia tidak bisa mengingat ayat yang mendukungnya, sehingga orang itu menganggap itu hanya pendapat pribadinya saja. Lalu ia berkata, “Lebih dari pengalaman apa pun sebelumnya, pengalaman hari itu membuat saya sadar betapa kurangnya saya mempelajari Alkitab.” Akhirnya, ia kembali membuka Alkitabnya dan mulai belajar dengan sungguh-sungguh, karena ia menyadari bahwa tanpa Firman Tuhan, ia tidak bisa menolong orang tersebut.
Nah, itu adalah beberapa hal dasar. Sekarang masuk ke poin II dalam catatan Anda, “Bagaimana caranya?” Dan jika Anda punya pertanyaan, tuliskan saja, nanti kita bahas. Bagaimana caranya mempelajari Alkitab? Pertama-tama, harus ada persiapan. Jika Anda ingin membaca dan mempelajari Firman Tuhan, ada beberapa hal dasar yang perlu dipersiapkan. Kita kembali melihat 1 Petrus 2. Ayat 2 mengatakan kita perlu Firman untuk bertumbuh. Tetapi ayat 1 mengatakan, “Buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” Artinya, semua itu harus disingkirkan terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kita bisa “merindukan susu yang murni,” yaitu Firman Tuhan.
Nah, apa artinya itu? Sebelum Anda bisa mempelajari Alkitab dengan efektif, Anda harus menyingkirkan apa? Dosa. Anda harus membereskannya. Jadi sebelum Anda datang kepada Firman Tuhan, apa langkah yang baik untuk memulai? Dengan pengakuan dosa, dengan doa. Ketika Anda membawa semuanya itu di hadapan Tuhan dan mengakuinya, Anda sedang membersihkan hati dan pikiran Anda di hadapan-Nya, sehingga Anda menjadi murid yang siap dan mampu menerima Firman Tuhan. Selama hati, pikiran, dan hidup Anda masih dipenuhi oleh dosa, Anda tidak akan bisa bertumbuh. Jadi persiapan itu mencakup pemurnian, dan itu adalah langkah awal yang sangat penting.
Dalam Yakobus 1:21 dikatakan, “Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Di sini ada prinsip yang jelas. Ketika dosa disingkirkan, kita menjadi mampu menerima Firman Tuhan. Karena itu, hal ini sangat penting. Itulah bagian persiapannya. Sebelum Anda mempelajari Firman setiap hari, luangkan waktu sejenak untuk berdoa dan mengaku dosa. Akuilah kepada Tuhan apa pun dosa yang ada, bereskan itu di hadapan-Nya, lalu barulah Anda masuk ke dalam Firman Tuhan.
Baik, sekarang poin “B.” Bagaimana cara kita benar-benar mempelajarinya? Pertama-tama, penting untuk membacanya. Jika Anda tidak bisa membaca, Anda bisa mendengarkan Alkitab dalam bentuk rekaman. Tetapi jika Anda bisa membaca, maka bacalah. Dan Anda perlu percaya bahwa hanya dengan membaca Alkitab saja sudah merupakan sesuatu yang berharga, karena Tuhan berjanji memberkati orang yang membaca Firman-Nya. Saya pernah mendengar orang berkata, “Ada bagian-bagian Alkitab yang saya tidak mengerti.”
Ada seorang yang pernah berkata kepada saya, “Saya selalu menghindari membaca kitab Wahyu. Saya tidak pernah membacanya karena terlalu aneh. Saya tidak mengerti.” Lalu saya mengutip Wahyu 1:3 kepadanya, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini.” Jadi, Anda mau bahagia? Bacalah kitab Wahyu. Itu bisa menjadi pengalaman yang membawa sukacita. Anda mungkin berkata, “Bahagia? Bagaimana bisa bahagia kalau membaca hal-hal yang mengerikan seperti itu?” Makanya Anda harus membacanya sampai selesai. Di akhir, Anda akan menemukan sukacita—karena Anda melihat bagaimana semuanya berakhir, dan Anda bersyukur karena Anda tidak termasuk dalam bagian yang penuh penghakiman itu. Kitab Wahyu bisa menjadi pengalaman yang penuh sukacita. Yohanes sendiri berkata bahwa ketika ia “memakan” firman itu, rasanya manis di mulutnya, meskipun pahit di perutnya.
Jadi kita diberkati, kita mengalami sukacita ketika kita membaca. Karena itu, membaca Firman Tuhan itu sangat penting. Ketika Paulus memberi petunjuk kepada Timotius tentang bagaimana memberitakan Firman, ia berkata, “Pertama-tama, bacalah Kitab Suci.” Kita memang perlu melakukan itu—menyediakan waktu setiap hari untuk membaca Alkitab. Nah, saya akan berbagi satu cara yang bisa dilakukan dan saya menyarankan ini dalam buku singkat saya berjudul Kehendak Tuhan Tidak Hilang. Ini adalah metode yang pernah sangat membantu saya. Dulu saya juga kesulitan dalam membaca Alkitab. Saya membacanya, tetapi keesokan harinya saya sudah lupa apa yang saya baca. Itu terus terjadi. Saya bisa menyelesaikan satu kitab, tetapi tidak benar-benar memahami isinya. Lalu saya membaca kitab lain, dan hasilnya sama saja.
Dan saya menyadari bahwa saya hanya sedang menumpuk ketidaktahuan, padahal sudah menghabiskan banyak waktu. Seolah-olah saya bekerja keras, tetapi tidak benar-benar memahami apa-apa. Lalu saya berpikir, “Ini bukan cara yang benar.” Lalu saya membaca sebuah buku berjudul Cara Menguasai Alkitab Bahasa Inggris karya James M. Gray, dan saya juga mendengar seseorang menjelaskan bagaimana ia mempelajari Alkitab. Dari situ saya mulai menyusun cara saya sendiri. Saya menyadari bahwa saya belajar paling baik melalui pengulangan. Dan ternyata itu sejalan dengan apa yang dikatakan dalam kitab Yesaya, bahwa kita belajar “baris demi baris, baris demi baris, aturan demi aturan, aturan demi aturan, sedikit di sini, sedikit di sana.”
Jadi saya menyadari bahwa satu-satunya cara untuk belajar adalah melalui pengulangan. Setiap kali saya menghadapi ujian di seminari, saya tidak hanya membaca materi itu sekali lalu selesai. Saya harus mengulanginya lagi dan lagi. Anda tahu bagaimana seharusnya belajar untuk ujian—dengan pengulangan. Kita membuat cara-cara tertentu untuk mengingat, membuat pola, tanda, atau kaitan dalam pikiran kita supaya bisa mengingatnya dengan baik. Dan pengulangan itulah yang menolong saya mengingat. Saya lalu berpikir, mungkin cara terbaik untuk membaca Alkitab juga sama—yaitu dengan cara pengulangan. Jadi saya putuskan untuk memulai dengan kitab 1 Yohanes, dan itulah yang saya lakukan.
Sekarang saya akan jelaskan bagaimana caranya. Mulailah dengan kitab 1 Yohanes; ini tempat yang baik untuk memulai. Kitab 1 Yohanes bukan kitab yang mudah. Di satu sisi sederhana, tetapi juga memiliki kedalaman yang luar biasa. Anda akan menemukan bahwa semakin sering Anda membacanya, semakin banyak “makanan keras” yang bisa Anda terima. Bukalah 1 Yohanes, lalu duduk dan bacalah seluruh isi kitab itu sekaligus dalam satu waktu. Tidak akan lama, mungkin sekitar 20–25 menit saja, karena hanya lima pasal dan tidak terlalu panjang. Jadi cukup duduk dan baca sampai selesai. Mungkin Anda juga perlu memilih terjemahan Alkitab yang Anda sukai. Saya sarankan beberapa terjemahan seperti New American Standard, King James, atau New International Version, karena itu termasuk yang baik untuk dipakai.
Jadi, Anda cukup membacanya sampai selesai. Itu saja. Baca, lalu tutup Alkitab Anda, ambil sedikit waktu bersama Tuhan, lalu lanjutkan aktivitas Anda. Hari berikutnya, lakukan hal yang sama. Hari kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh—lakukan hal yang sama selama tiga puluh hari. Setiap hari selama tiga puluh hari, Anda membaca kitab 1 Yohanes satu kali. Pada akhir tiga puluh hari itu, Anda akan benar-benar mengetahui isi kitab 1 Yohanes.
Nanti akan ada orang yang bertanya kepada Anda, “Di mana tertulis, jika kita mengaku dosa kita?” Dan Anda bisa langsung berkata, “1 Yohanes 1, kolom kanan, bagian tengah, kira-kira di situ.” Itu akan ada dalam pikiran Anda. Kalau saya bertanya sekarang, “Coba kutip Roma 12:1,” apa yang pertama muncul di pikiran Anda? Biasanya Anda melihat gambaran halaman, kolom, dan judul pasalnya, bukan? Itu karena pikiran kita membentuk gambaran. Kita tidak bisa belajar tanpa gambaran mental.
Dan yang membuat menghafal Alkitab itu sulit adalah karena semua halaman terlihat sama. Itu sebabnya saya sering memberi tanda di Alkitab saya. Dengan begitu, setiap halaman punya ciri khasnya sendiri, dan saya bisa “melihat” halaman itu dalam pikiran saya lalu mengingat isinya. Orang sering bertanya bagaimana saya bisa mengingat Firman Tuhan. Itu adalah salah satu caranya. Saya punya tanda-tanda kecil di berbagai tempat—coretan, bekas lipatan, bahkan hal-hal kecil lainnya—dan itu membantu saya mengingat. Apa pun cara yang efektif, pakailah. Dan pada akhir tiga puluh hari itu, Anda benar-benar akan mengetahui isi kitab 1 Yohanes.
Nanti ketika seseorang bertanya, “Di mana tertulis: janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya?” Dan Anda bisa langsung menjawab, “1 Yohanes 2:15, halaman kanan, kolom kanan, bagian tengah, kira-kira di situ.” Anda mulai benar-benar mengenal isi kitab 1 Yohanes. Memang, Anda belum memahami semuanya secara mendalam, belum meneliti setiap detail, tetapi setidaknya Anda tahu isi dan arah kitab itu. Sekitar hari ke-10, Anda mungkin akan merasa, “Saya sudah menguasai ini, tidak perlu lanjut lagi.” Tetapi tetaplah lanjutkan. Teruskan membaca hari demi hari. Dan pada hari ke-30, Anda justru akan menyadari bahwa Anda masih belum tahu banyak, karena semakin Anda membaca, semakin dalam maknanya. Saya sendiri waktu pertama kali melakukan ini, saya melanjutkannya sampai 90 hari, karena saya mulai begitu menikmati dan tertarik dengan kitab 1 Yohanes.
Setelah selesai dengan 1 Yohanes, lanjutkan ke Injil Yohanes. Mungkin Anda berpikir, “Tunggu dulu, itu 21 pasal, saya tidak punya waktu.” Tidak masalah. Bagi saja menjadi tiga bagian, masing-masing tujuh pasal. Lalu setiap hari selama 30 hari, Anda membaca tujuh pasal yang sama berulang-ulang. Jadi, 30 hari pertama Anda membaca pasal 1 sampai 7 terus-menerus. 30 hari berikutnya, pasal 8 sampai 14. 30 hari berikutnya lagi, pasal 15 sampai 21. Dengan cara ini, dalam 90 hari Anda sudah menyelesaikan Injil Yohanes dengan pemahaman yang jauh lebih dalam, karena Anda membacanya berulang-ulang.
Kalau seseorang bertanya, “Di mana kisah perempuan di sumur?” Anda tahu itu di pasal 4. Jika ditanya tentang Nikodemus, itu pasal 3. Tentang Roti Hidup, pasal 6. Tentang gembala, pasal 10. “Akulah pokok anggur,” itu pasal 15. Doa syafaat, pasal 17. Penangkapan di taman, pasal 18. Pasal 21 tentang pemulihan Petrus. Pasal 20 tentang kebangkitan, dan seterusnya. Saya bukan seorang ahli, saya hanya membacanya 90 kali. Tentu saja saya mengingatnya.
Nah, itulah intinya. Dalam waktu sekitar dua setengah tahun, Anda bisa menyelesaikan seluruh Perjanjian Baru dengan cara seperti itu. Dan percayalah, tidak banyak orang yang melakukannya dengan sungguh-sungguh seperti itu. Lagipula, Anda akan mempelajari Alkitab sepanjang hidup Anda. Jadi, lebih baik mempelajarinya dengan cara yang benar-benar membuat Anda mengerti dan mengingatnya. Dan hasilnya nanti, Anda akan mulai bisa menghubungkan ayat dengan ayat. Anda akan membaca sesuatu lalu langsung teringat, “Oh ya, itu juga ada di Filipi 2,” atau “Itu ada di bagian lain.” Lama-kelamaan, Anda tidak lagi tergantung pada alat bantu seperti konkordansi.
Ada orang yang berkata, “Saya tidak tahu ada di mana, coba saya cari di belakang Alkitab,” lalu tetap saja tidak ketemu. Tetapi dengan pengulangan, lama-kelamaan Anda akan mulai tahu di mana letaknya. Anda akan tahu harus pergi ke bagian mana. Dan ketika seseorang membutuhkan jawaban, Anda sudah punya jawabannya. Bayangkan saja, kalau Anda sudah mulai dua setengah tahun yang lalu—betapa luar biasanya itu. Memang bisa terasa sedikit menyesal sekarang kalau memikirkannya.
Dan izinkan saya mengingatkan kembali, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, jika Anda ingin menggunakan terjemahan Alkitab yang baik, Anda bisa memakai New American Standard, New International Version, atau King James Version. King James memang bukan terjemahan yang paling modern, tetapi sangat setia pada teks aslinya, dan dalam banyak hal memiliki keindahan bahasa yang khas. Ada semacam wibawa dan keagungan dalam bahasanya yang kadang tidak ditemukan dalam terjemahan lain.
Nah, selain membaca, penting juga untuk mempelajarinya. Anda sudah membaca, mungkin selama dua setengah tahun. Dan sebenarnya, kalau Anda hanya membaca, datang ke gereja, mendengar firman, dan mengikuti pendalaman Alkitab, itu sudah merupakan awal yang sangat baik. Tapi setelah Anda membaca seluruhnya, Anda akan mulai menyadari bahwa Anda sudah cukup mampu memahami banyak bagian, karena Alkitab paling baik ditafsirkan oleh Alkitab sendiri. Sebagian dari Anda mungkin sudah melihat bahwa inilah cara saya menjelaskan Kitab Suci. Jika saya ingin menjelaskan satu bagian, saya akan pergi ke bagian lain, atau beberapa bagian lain, untuk menjelaskan bagian tersebut.
Jadi, dengan membaca Perjanjian Baru berulang-ulang, Anda akan mulai mampu melakukan hal itu—menafsirkan Firman dengan Firman. Nah, ketika Anda sampai pada Perjanjian Lama, caranya sedikit berbeda. Anda tidak perlu membacanya dengan pola pengulangan seperti itu. Cukup baca sampai selesai, lalu ulangi lagi di waktu lain, dan terus lakukan sepanjang hidup Anda. Perjanjian Lama lebih banyak berisi sejarah dan narasi, sehingga Anda bisa memahaminya dengan cukup baik hanya dengan membacanya secara menyeluruh.
Nah, setelah Anda membaca semuanya, lalu Anda mulai masuk ke tahap mempelajari. Lalu bagaimana cara mempelajarinya? Sebagai contoh, Anda bisa memilih satu topik. Misalnya, Anda memutuskan untuk mempelajari semua doa dalam Alkitab. Itu akan menjadi studi yang sangat menarik. Memang akan memakan waktu, tetapi Anda bisa mulai dari kitab Kejadian, lalu setiap kali menemukan doa, Anda mempelajarinya. Apa yang dikatakannya? Siapa yang berdoa? Dia berdoa untuk apa? Apa jawabannya? Itu akan menjadi studi yang sangat kaya. Atau Anda bisa mempersempitnya, misalnya, “Saya mau mempelajari semua doa rasul Paulus.” Itu juga akan menjadi studi yang luar biasa. Anda bisa memilih topik apa saja.
“Saya ingin mempelajari tentang pengampunan.” Anda bisa pergi ke toko buku dan membeli buku kecil yang disebut indeks topikal. Dari situ, Anda bisa mencari kata “pengampunan,” dan buku itu akan menunjukkan semua ayat dalam Alkitab yang berbicara tentang pengampunan. Lalu Anda bisa membuka setiap ayat tersebut dan mempelajarinya satu per satu. Dari situ Anda akan mendapatkan pemahaman yang semakin dalam tentang topik tersebut. Dan itu akan menjadi pengalaman yang sangat menarik.
Saya ingin menyarankan—dan nanti saya akan berikan beberapa rekomendasi buku—supaya Anda mencatatnya, karena itu bisa sangat membantu Anda. Sebagai contoh, Anda bisa berkata, “Saya ingin memahami tentang penghakiman Allah.” Lalu Anda bisa memilih satu kitab, misalnya kitab Yesaya, dan mencari semua bagian yang berbicara tentang penghakiman. Dari situ Anda akan mulai memahami mengapa Allah menghakimi, bagaimana Dia menghakimi, dan bagaimana respons manusia terhadap penghakiman itu.
Cara lain yang sangat baik untuk mempelajari Alkitab adalah secara biografis. Anda bisa memilih satu tokoh, misalnya Elia, lalu mempelajari kehidupannya. Atau Daud—itu akan sangat menarik. Atau Yusuf. Bahkan Anda bisa memilih tokoh yang tidak terlalu umum, seperti Ahitofel, yang cukup unik. Atau Anda bisa memilih tokoh Perjanjian Baru yang tidak terlalu sering dibahas, lalu menggali semua yang Perjanjian Baru katakan tentang dia. Misalnya Andreas, yang tidak sepopuler tokoh-tokoh lainnya.
Selain itu, dalam proses belajar, bacalah juga buku-buku yang baik. Apa pun topik yang sedang Anda pelajari, carilah bahan tambahan yang mendukung—bisa berupa buku atau rekaman pengajaran. Dapatkan masukan dari luar yang bisa memperkaya pemahaman Anda. Kami memiliki perpustakaan untuk tujuan itu, dan Anda juga sebaiknya mencari perpustakaan Kristen yang baik di tempat Anda—tempat di mana Anda bisa meminjam buku atau datang untuk membaca berbagai referensi. Ada juga banyak rekaman pengajaran yang baik yang bisa membantu melengkapi studi Anda dan gunakan buku-buku yang baik sebagai penunjang.
Jangan terlalu banyak menghabiskan uang untuk membeli buku-buku Kristen yang sifatnya populer—Anda tahu maksud saya. Buku-buku yang biasanya hanya dibaca sekali, misalnya kesaksian seseorang, lalu setelah itu disimpan dan tidak dibuka lagi. Tidak salah membaca buku seperti itu—Anda bisa meminjamnya dari perpustakaan, atau sesekali membelinya jika memang ingin. Tetapi yang lebih penting adalah membangun koleksi buku yang bisa menjadi referensi, yang akan Anda gunakan berulang kali.
Sebagai contoh, sangat baik jika Anda memiliki sebuah konkordansi. Bukan yang kecil di bagian belakang Alkitab Anda, tetapi yang lebih lengkap, karena yang di belakang itu sangat terbatas. Ada tiga yang utama dan mudah diingat: Strong, Young, dan Cruden’s. Strong untuk yang “kuat”, Young untuk yang “muda”, dan Cruden’s untuk yang “sederhana.” Saya sendiri memakai yang Cruden’s, dan juga Strong. Yang penting, milikilah konkordansi yang baik sehingga Anda bisa mencari kata-kata dalam Alkitab dengan lebih lengkap. Itu sangat penting dalam studi Firman Tuhan.
Selain itu, penting juga untuk memiliki indeks topikal. Ada banyak jenisnya. Dulu ada versi buku kecil yang pernah saya pakai, karya R. A. Torrey, yang sempat dibagikan oleh Asosiasi Penginjilan Billy Graham. Ada juga Indeks Topik Monser, dan Alkitab Tematik Nave. Banyak sekali pilihan indeks topikal seperti itu. Fungsinya sederhana: Anda bisa mencari satu topik, lalu buku itu akan menunjukkan semua ayat Alkitab yang berkaitan dengan topik tersebut. Dengan begitu, Anda bisa mempelajarinya secara menyeluruh dan menemukan semua yang Alkitab katakan tentang hal itu. Ini benar-benar alat yang sangat membantu dalam studi Firman Tuhan.
Satu hal lagi yang saya sarankan adalah memiliki tafsiran Alkitab. Tafsiran adalah buku yang menjelaskan arti dari ayat-ayat Alkitab. Ada banyak yang baik. Untuk orang Kristen yang baru, salah satu yang paling sederhana dan mudah digunakan adalah Komentar Alkitab Wycliffe. Ini satu volume, dan Anda bisa mencari bagian mana pun dalam Alkitab lalu mendapatkan penjelasan dasar tentang artinya. Sangat, sangat membantu. Jadi dalam mempelajari Alkitab, Anda bisa mempelajari topik-topik tertentu, sekaligus menggunakan buku-buku pendukung. Dengan begitu, Anda belajar langsung dari Alkitab, dan juga belajar dari orang-orang yang telah meneliti dan menjelaskan Kitab Suci.
Nah, satu hal lagi yang sangat penting dalam mempelajari Alkitab adalah: selama Anda belajar, carilah seseorang untuk Anda bagikan apa yang Anda pelajari. Jika Anda seorang orang tua, mungkin itu anak Anda atau pasangan Anda. Jika tidak, bisa teman seiman, atau seseorang yang baru Anda bimbing kepada Kristus. Siapa pun itu, carilah seseorang untuk berbagi. Karena tanpa membagikan apa yang kita pelajari, biasanya kita tidak terlalu termotivasi untuk benar-benar mendalaminya.
Orang sering berkata kepada saya, “Bagaimana mungkin Anda bisa belajar sebanyak itu?” Dan saya menjawab, “Saya datang setiap hari Minggu dan ada ribuan orang yang duduk di sana menunggu saya mengatakan sesuatu. Jadi saya harus punya sesuatu untuk disampaikan.” Motivasi terbesar saya untuk mempelajari Firman Tuhan adalah tanggung jawab pelayanan. Saya harus setia kepada Tuhan untuk mengajar orang-orang yang telah Dia percayakan kepada saya.
Jika Anda tidak punya siapa pun yang Anda ajar, maka motivasi Anda sering kali hanya untuk diri sendiri, dan itu kadang sulit untuk dipertahankan. Tetapi kalau ada “anak burung” yang terus membuka mulutnya minta makan, Anda akan terdorong untuk memberinya sesuatu. Anda akan merasa bertanggung jawab. Mungkin Anda berkata, “Tapi saya masih orang Kristen yang baru.” Tidak apa-apa. Pasti ada orang Kristen yang lebih baru dari Anda, atau bahkan ada yang belum percaya sama sekali—dan Anda bisa mulai membagikan kepada mereka apa yang Anda pelajari.
Jadi, carilah seseorang yang bisa Anda ajak berbagi apa yang sedang Anda pelajari. Malah, orang itu mungkin tahu lebih banyak dari Anda. Percayalah, ada orang-orang yang mungkin tidak tahu sebanyak saya tentang keseluruhan Kitab Suci, tetapi tetap bisa mengajari saya, karena mereka memiliki sudut pandang yang segar, melihat hal-hal baru yang belum pernah saya lihat, atau menemukan penerapan baru dalam hidup mereka. Karena itu, carilah seseorang untuk Anda berbagi.
Satu hal lagi dalam belajar adalah temukan pola atau teladan yang bisa Anda ikuti. Ini sangat penting. Mungkin seseorang seperti saya, jika Anda cukup mengenal saya untuk melihat pola hidup saya. Atau mungkin guru dalam kelas Alkitab Anda. Bisa juga seorang yang sangat rohani yang Anda kenal dengan baik—seorang saudara seiman. Bisa juga salah satu gembala di gereja Anda. Siapa pun itu, temukan seseorang yang bisa menjadi teladan. Lalu upayakan untuk membangun hubungan dengan orang tersebut, sehingga Anda bisa belajar dari hidupnya, berbicara dengannya, dan memperhatikan hal-hal dalam hidupnya yang bisa Anda terapkan dalam hidup Anda sendiri.
Baik, satu hal lagi tentang bagaimana melakukannya. Ada persiapan, membaca, mempelajari, dan yang keempat adalah pengajaran. Yang dimaksud di sini adalah menempatkan diri Anda di bawah pengajaran Alkitab yang baik. Namun perlu diingat, ini tidak pernah menggantikan studi pribadi Anda. Jangan pernah berpikir bahwa karena Anda sudah datang ke gereja, mendengar khotbah hari Minggu, lalu ikut pendalaman Alkitab, maka Anda tidak perlu belajar sendiri. Kalau Anda berpikir seperti itu, Anda sebenarnya sedang kehilangan semua manfaat yang sudah kita bahas sebelumnya—dalam bentuk yang paling maksimal.
Anda memang mendapatkan manfaat dari pengajaran, tetapi manfaat yang paling besar terjadi ketika Anda menerima pengajaran sekaligus mempelajari Firman Tuhan secara pribadi. Mungkin Anda berkata, “Saya belum cukup lama menjadi orang Kristen untuk belajar sendiri.” Bahkan jika Anda baru menjadi orang Kristen sepuluh menit, itu sudah cukup untuk memulai. Mulailah saja. Jadi pastikan Anda menempatkan diri Anda di bawah pengajaran yang baik—ikutlah kelas Alkitab, hadir dalam ibadah, dan dengarkan pengajaran Firman Tuhan.
Saya melihat banyak orang Kristen baru yang arah hidup rohaninya hanya mengikuti apa yang sedang ramai. Misalnya, ada acara musik Kristen di satu tempat, mereka datang ke sana. Di tempat lain ada film Kristen, mereka pergi ke sana. Di tempat lain lagi ada kesaksian seseorang, mereka juga ikut ke sana. Akhirnya mereka seperti berpindah-pindah tanpa arah yang jelas, hanya mengikuti apa yang sedang berlangsung. Karena itu, penting sekali untuk menempatkan diri dalam pengajaran Firman Tuhan yang teratur dan sistematis di suatu tempat. Itu sangat, sangat penting bagi pertumbuhan rohani Anda.
Salah satu hal yang sering kita lihat dalam dunia Kekristenan adalah ketika seseorang bertobat dan memiliki sesuatu yang “menarik” atau bisa dijual, komunitas Kristen langsung mengangkatnya dan menjadikannya seperti komoditas. Saya pernah berbicara dengan seseorang di saat-saat terakhir hidupnya. Ia berkata bahwa kehidupannya sebagai orang Kristen justru hancur karena ia seorang figur terkenal. Ketika ia bertobat, komunitas Kristen langsung menjadikannya “selebriti yang sudah diselamatkan.” Sejak saat itu, ia menghabiskan hidupnya berkeliling menceritakan betapa luar biasanya menjadi seorang selebriti yang percaya kepada Tuhan—tetapi ia sendiri tidak pernah benar-benar belajar tentang kehidupan Kristen yang sesungguhnya.
Akibatnya, seluruh hidupnya penuh kekalahan. Ia menanggung rasa bersalah yang sangat dalam karena dosa-dosa dalam hidupnya. Di satu sisi, ia terus berdiri di depan orang-orang dan berkata betapa indahnya menjadi seorang selebritas yang telah diselamatkan, tetapi di dalam hatinya ia hancur karena tidak bertumbuh secara rohani. Dan itulah salah satu masalah dalam Kekristenan.
Saya tidak peduli apakah Anda seorang selebritas atau bukan. Anda tetap perlu menempatkan diri di bawah pengajaran yang benar, menerima makanan rohani yang keras dari orang-orang yang diperlengkapi Tuhan untuk mengajar di dalam gereja. Itu sangat penting. Baik, itu yang ingin saya sampaikan tentang bagaimana mempelajari Kitab Suci. Memang agak panjang dibandingkan bagian lain, tetapi itu karena hal ini sangat penting.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
