Grace to You Resources
Grace to You - Resource

Malam ini kita akan melanjutkan bagian ketiga dari pembahasan singkat kita tentang Iblis: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Dia? Rasul Paulus, dalam 2 Korintus pasal 2 ayat 11, berkata bahwa kita harus mengetahui tipu muslihat, rencana, strategi, atau akal licik Iblis. Kita perlu tahu bagaimana dia bekerja. Kita perlu mengenal sedikit tentang karakternya, pribadinya, dan caranya mendekati manusia. Dan karena kita memiliki Firman Allah yang menyingkapkan semua penyamaran Iblis dan mengungkapkan segala rencananya, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengetahuinya. Apa yang sedang kita lakukan dalam pembahasan ini hanyalah membuka halaman-halaman Firman Tuhan dan menunjukkan kepada Anda apa yang Allah nyatakan tentang musuh kita. Kita sudah melihat bahwa salah satu tipu dayanya yang paling cerdik adalah membuat manusia percaya bahwa dia tidak ada. Kalau tidak ada musuh, maka tidak perlu ada pertahanan. Dan kalau tidak ada pertahanan, maka kemenangan menjadi sangat mudah baginya.

Bagi orang-orang yang tetap bersikeras percaya bahwa Iblis itu ada, Iblis lebih suka menyebarkan gambaran yang salah tentang dirinya. Dia ingin orang percaya bahwa dia memang ada, tapi dia hanyalah sosok yang tidak seburuk atau tidak sebesar kenyataannya. Ada yang membayangkan dia sebagai tokoh mitologi yang hanya melambangkan kejahatan secara umum. Ada juga yang membayangkannya sebagai monster dongeng yang memakai pakaian satin merah, bertanduk, berekor bercabang, dan membawa garpu rumput. Yang lain lagi melihatnya sebagai sosok yang harus ditakuti, yang terus-menerus menyiksa orang Kristen, sehingga kita harus lari mencari tempat untuk dibebaskan darinya. Percayalah, Iblis lebih suka jika dianggap tidak ada sama sekali. Dan kalau itu tidak berhasil, setidaknya di dalam pikiran manusia, dia ingin kenyataannya tetap tidak terlihat. Karena itu dia menyamarkan dirinya, sedangkan Alkitab justru membuka penyamarannya. Menarik sekali bahwa bahkan orang-orang yang mengaku menyembah Iblis sebenarnya bukan sedang menyembah Iblis yang benar-benar ada, melainkan sosok Iblis buatan yang dipakai Iblis sendiri untuk menjebak manusia. Dia adalah penipu. Dia adalah penipu terbesar di alam semesta. Dan dalam beberapa minggu terakhir kita sudah melihat betapa pentingnya memahami hal itu dengan sungguh-sungguh.

Bagi orang-orang yang beragama, yaitu mereka yang bukan hanya percaya tentang Iblis, tetapi juga percaya kepada Allah, bahkan mungkin percaya kepada Allah yang benar, Iblis memiliki pendekatan yang lain. Dia senang jika disalahartikan sebagai Allah. Tertullian pernah berkata, "Diabolos est Dei simia," yang berarti, "Iblis adalah monyet Allah." Maksud Tertullian adalah bahwa tidak ada yang lebih disukai Iblis selain meniru Allah. Dan percayalah, ada banyak orang Kristen yang tanpa sadar mengira Allah sedang bekerja, padahal sebenarnya sama sekali bukan Allah. Selama beberapa minggu terakhir ini kita sudah berusaha menyelidiki karakternya dengan saksama, supaya berbagai mitos yang dia ciptakan untuk menyembunyikan jati dirinya bisa dihancurkan. Kita telah berusaha membuka penyamarannya. Kita telah membahas pertanyaan, benarkah dia ada, dan kita telah menyimpulkan bahwa dia memang ada. Kita juga telah membahas pertanyaan, siapakah dia, dan kita melihat bahwa dia adalah malaikat yang telah jatuh. Kita juga mulai mempelajari seperti apakah dia, dengan menelusurinya melalui nama-nama, gelar-gelar, dan berbagai sebutan yang digunakan Alkitab untuk menggambarkan dirinya.

Dan malam ini kita sampai pada poin keempat dalam kerangka pembahasan kita: bagaimana dia bekerja? Di sinilah pembahasan ini menjadi sangat praktis bagi kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana Iblis bekerja di dunia untuk mencapai tujuannya? Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang benar-benar menyentuh realitas kehidupan. Jadi, tetaplah membuka Alkitab Anda, karena kita akan melihat banyak hal yang sangat penting.

Dalam cara kerjanya, kita perlu memahami bahwa Iblis beroperasi dalam dua kelompok. Dia bekerja di dalam anak-anaknya sendiri, dan dia juga bekerja terhadap anak-anak Allah. Itulah dua wilayah di mana Iblis menjalankan aktivitasnya. Mari kita lihat terlebih dahulu kelompok yang pertama, yaitu bagaimana Iblis bekerja di dalam anak-anaknya sendiri. Saya percaya bahwa semua orang di dunia yang tidak memiliki Yesus Kristus, yang berada di luar keluarga Allah, adalah anak-anak Iblis. Dasar pemahaman itu saya ambil dari 1 Yohanes 5:19, yang mengatakan, "Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat." Yesus juga berkata kepada orang-orang Farisi dalam Yohanes 8:44, "Iblislah bapamu." Dan saya percaya bahwa perkataan itu dapat diperluas untuk mencakup setiap orang yang bukan anak Allah.

Lalu, bagaimana Iblis bekerja di dalam anak-anaknya sendiri? Secara umum saya ingin tunjukkan tiga caranya, beserta beberapa hal yang lebih spesifik di dalamnya. Yang pertama adalah pekerjaannya untuk mencegah. Iblis sangat sibuk melakukan pekerjaan mencegah. Ada beberapa hal yang bisa kita bahas mengenai hal ini. Tapi sebagai permulaan, mari kita melihat Lukas pasal 8, lalu membandingkannya dengan Matius pasal 13. Buka Lukas pasal 8. Kita akan melewati bagian awal perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus dan langsung menuju penjelasan-Nya di ayat 11, Lukas 8:11. "Inilah arti perumpamaan itu: benih itu ialah firman Allah." Tentu Anda ingat bahwa di dalam perumpamaan itu ada seorang penabur yang sedang menaburkan benih. Penabur itu menggambarkan orang yang memberitakan Firman, yang menyebarkan kebenaran. "Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan."

Perhatikan kembali ayat 5. Di sana dijelaskan bahwa pinggir jalan itu adalah tanah yang sudah diinjak-injak, sebuah jalan yang padat dan keras seperti batu. Benih jatuh di atasnya, hanya tergeletak di sana, lalu burung-burung datang memakannya. Itu adalah gambaran tentang Firman Allah yang ditaburkan ke tanah hati yang keras, yang tidak mau menerimanya. Lalu Iblis datang dan mengambil Firman itu. Iblis memang bekerja untuk mencegah, dan salah satu caranya yang pertama adalah dengan merampas Firman. Dia merampas Firman itu. Untuk memahami keseluruhan makna perumpamaan ini, kita juga perlu melihat Matius pasal 13, karena ada beberapa hal di sana yang akan menambah pengertian kita. Dalam Matius pasal 13, kita kembali menemukan perumpamaan yang sama. Ayat 19 berkata, "Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan." Di sini Iblis datang dan merampas Firman itu. Nah, dalam perumpamaan ini kita melihat ada empat jenis hati, atau empat jenis tanah. Yang pertama adalah hati yang tidak responsif, seperti dalam ayat 19, "tidak memahaminya." Firman itu tidak masuk. Sama sekali tidak ada tanggapan.

Lalu kita melihat hati yang impulsif, pada ayat 20 dan 21. Orang ini menerima benih itu, mendengar Firman, dan langsung menerimanya dengan sukacita. Tapi dia tidak berakar di dalam dirinya. Dia hanya bertahan sebentar. Ketika kesusahan atau penganiayaan datang karena Firman itu, dia langsung tersandung. Inilah hati yang impulsif, yaitu orang yang mengambil keputusan mengikuti Kristus secara emosional dan spontan, tetapi tanpa akar yang sungguh-sungguh. Ayat 22 berbicara tentang hati yang dipenuhi kesibukan. "Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." Inilah orang yang terlalu sibuk dengan sistem dunia sehingga tidak menyerahkan dirinya kepada Firman. Lalu pada ayat 23 kita melihat tanah yang baik, yaitu hati yang responsif. Jadi ada hati yang tidak responsif, hati yang impulsif, hati yang dipenuhi kesibukan, dan hati yang responsif.

Yang sedang kita bahas sekarang adalah hati yang tidak responsif. Firman Allah jatuh ke hati yang penuh sikap acuh tak acuh, hati yang keras, hati yang tidak mau menanggapi, hati yang menolak. Lalu Iblis datang dan langsung merampas Firman itu. Perhatikan hal ini. Iblis hanya bisa melakukan itu karena hati tersebut keras. Pokok persoalannya adalah kekerasan hati. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa hasil dari mendengar Injil selalu bergantung pada kondisi hati seseorang. Hanya ketika hati itu keras, Iblis dapat masuk dan merampas Firman. Dan memang itulah yang ingin dia lakukan. Sebelum orang itu sempat merenungkannya, memikirkannya, atau membiarkan Firman itu menjadi sesuatu yang berarti dalam hidupnya, Iblis segera merampasnya dengan menghadirkan berbagai daya tarik baru yang tampak lebih menarik, berbagai godaan baru yang belum pernah ditolaknya. Semua itu mengalihkan perhatiannya, sehingga Firman itu pun hilang.

Ada bagian lain yang juga membantu kita memahami pekerjaan Iblis dalam mencegah orang datang kepada kebenaran, yaitu 2 Korintus pasal 4 ayat 3. Di sini Rasul Paulus sedang berbicara tentang pelayanannya sendiri, tentang bagaimana Allah mengubah hidupnya, sehingga dia yang dahulu menyebarkan hal-hal yang penuh tipu daya, kini menjadi seorang yang memberitakan kebenaran. Lalu di ayat 3 dia berkata, "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka Injil itu tertutup untuk mereka yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini." Siapakah ilah zaman ini? Iblis. Sekali lagi, maksudnya adalah bahwa Iblis hanya dapat membutakan orang yang dengan sengaja tidak mau percaya. Bukan berarti Allah ingin Anda diselamatkan, Iblis ingin Anda binasa, lalu Andalah yang menjadi penentu akhirnya. Bukan juga berarti Anda hanyalah korban Iblis, seolah-olah sebenarnya Anda ingin memilih Allah, tetapi Anda tidak bisa karena sudah dibutakan. Maksudnya adalah bahwa karena hati itu tidak percaya, Iblis dapat masuk dan membutakan pikirannya.

Iblis memang bekerja untuk mencegah orang menerima kebenaran. Dan bagi orang-orang yang hatinya keras, Injil menjadi sesuatu yang tidak berarti. Dalam 1 Korintus 1:18 dikatakan bahwa "pemberitaan tentang salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa." Iblis datang dan merampasnya. Tapi pekerjaan Iblis di dalam anak-anaknya bukan hanya mencegah, melainkan juga memutarbalikkan kebenaran. Dia bukan hanya ingin mencegah orang mendengar kebenaran, tetapi juga ingin memutarbalikkan kebenaran, sehingga apa yang didengar orang bukan lagi kebenaran sama sekali. Dan dia melakukan hal itu dengan beberapa cara. Yang pertama adalah melalui pengajaran doktrin yang palsu. Dr. Pentecost memberikan penjelasan yang sangat membantu. Ia berkata, dan saya mengutip:

"Tentu saja Iblis lebih senang jika tidak perlu repot-repot mengambil benih yang sudah ditaburkan. Dia lebih suka menguasai orang yang sedang berkhotbah, sehingga yang diberitakan bukanlah benih yang baik, yaitu Firman Allah. Sekarang dengarkan baik-baik. Bayangkan betapa besar pekerjaan yang harus dilakukan Iblis ketika Firman Allah yang benar diberitakan. Jika ada lima ratus orang hadir, dan Firman Allah yang sejati ditaburkan ke dalam lima ratus hati, maka dia harus mengerahkan lima ratus setan untuk masuk ke dalam lima ratus kehidupan yang berbeda guna mencabut benih yang sudah ditaburkan itu. Ya, saya sendiri tidak tahu apakah memang harus lima ratus setan. Bisa saja satu setan yang sangat cepat, atau sejumlah setan lainnya. Tapi intinya jelas. Betapa jauhnya lebih efisien jika orang-orang yang datang dengan harapan mendengar Firman Allah justru mendengar kebohongan dari Iblis. Dengan begitu dia hanya perlu bekerja melalui satu orang, dan bukan lima ratus orang. Tapi karena dia tahu bahwa Firman Allah akan diberitakan dan kebenaran Allah akan dinyatakan, maka Iblis sudah siap untuk mencegah benih Firman yang baik itu jatuh ke tanah yang baik, jika dia bisa melakukannya."

Saya yakin Dr. Pentecost benar dalam hal ini: Iblis jauh lebih suka memutarbalikkan kebenaran daripada sekadar mencegah orang mendengarnya. Memutarbalikkan itu dilakukan setelah orang mendengar sesuatu. Saat ini dia terus aktif memutarbalikkan kebenaran melalui pengajaran doktrin-doktrin palsu. Percayalah, para pelayan Iblis berkhotbah setiap hari Minggu dari ribuan mimbar, bukan? Dalam 2 Korintus ada satu bagian yang sangat dikenal dan harus kita hubungkan dengan hal ini, yaitu 2 Korintus pasal 11 ayat 13. Di sana dikatakan, "Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus." Kalau Anda ingin tahu di mana Iblis paling aktif bekerja, jawabannya adalah di dalam dunia agama, dan dalam konteks kita, di dalam lingkungan agama Kristen. "Hal itu tidak usah mengherankan," jangan terkejut, "karena Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi, bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran." Iblis melakukan pekerjaannya dengan memutarbalikkan kebenaran melalui orang-orang yang dipengaruhi atau bahkan dikuasai oleh roh-roh jahat, lalu menempatkan mereka di mimbar untuk menyebarkan ajaran-ajaran palsu.

Misalnya dalam 1 Timotius pasal 4, Anda tentu mengenal bagian yang mengatakan, " Roh dengan tegas mengatakan bahwa pada waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka." Mereka terus saja menyampaikan kebohongan yang munafik, dan sepertinya hati nurani mereka sama sekali tidak lagi terganggu. Nabi-nabi palsu, dan jumlahnya sangat banyak, adalah salah satu senjata terbesar Iblis. Dalam 2 Tesalonika pasal 2 ayat 9, kita juga melihat bahwa pada masa kesengsaraan besar nanti Iblis akan melakukan hal-hal yang luar biasa. Di sana dikatakan, "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai berbagai perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu." Mereka bukan hanya mengucapkan kebohongan yang terdengar seperti kebenaran, tetapi juga melakukan perbuatan-perbuatan yang berasal dari Iblis tetapi tampak seolah-olah berasal dari Allah. Di sinilah sekali lagi kita melihat bagaimana Iblis meniru Allah. Pernahkah Anda memikirkan apa inti dari semua ajaran palsu Iblis? Izinkan saya menyampaikannya secara singkat. Seperti kata seseorang, "Kalau Anda bisa menangkap ini, berarti Anda sudah memahami intinya."

Tapi mari kita pikirkan satu hal saja. Apa sebenarnya inti dari ajaran palsu yang disebarkan Iblis? Yang pertama, dia selalu menyangkal otoritas Kitab Suci. Selalu. Sebab kalau Anda berhasil menghancurkan otoritas kitab ini, maka tidak ada lagi otoritas apa pun. Dan kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang benar-benar berarti. Segalanya menjadi serba relatif. Iblis sudah memulai hal itu sejak awal, dalam Kejadian pasal 3, ketika dia berkata kepada Hawa, "Benarkah Allah berfirman?" Apakah Allah benar-benar mengatakan itu? Dari mana kamu tahu Allah mengatakannya? Dia mulai menanamkan keraguan terhadap kebenaran Firman Allah. Itulah ciri khasnya. Dalam 2 Timotius pasal 4 kita melihat bahwa apa yang dia lakukan pada awal sejarah manusia akan terus dia lakukan sampai akhir. "Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng." Ayat 3 berkata, "Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya." Iblis selalu menyangkal otoritas Kitab Suci.

Yang kedua, Iblis selalu menyangkal keilahian Kristus. Guru-guru palsu pada akhirnya akan menyangkal bahwa Kristus adalah Allah, bahkan menyangkal Tuhan yang telah menebus mereka. Dan hal itu juga mencakup penyangkalan terhadap doktrin keselamatan. Kalau Anda meniadakan keilahian Kristus, maka Anda sekaligus meniadakan ajaran tentang keselamatan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika Kristus bukan Allah yang menjadi manusia, jika Dia bukan Allah Yang Mahakuasa yang datang dalam rupa manusia dan mati di kayu salib, maka penebusan yang Dia nyatakan tidak pernah benar-benar terjadi. Akibatnya, keselamatan pun lenyap. Dan itulah yang diinginkan Iblis, karena kebohongan besarnya dalam hal keselamatan adalah bahwa manusia tidak diselamatkan oleh iman, melainkan oleh apa? Oleh perbuatan. Hanya ada dua jalan keselamatan. Yang satu adalah agama yang bergantung pada apa yang Allah telah kerjakan. Yang satu lagi adalah agama yang bergantung pada usaha manusia. Itulah pokok utama yang dibahas Paulus dalam surat Galatia, bahwa manusia tidak diselamatkan oleh usahanya sendiri, tetapi oleh apa yang Allah telah kerjakan. Jadi, Iblis menyangkal otoritas Kitab Suci, dan dia menyangkal keilahian Kristus. Karena itu Yohanes berkata dalam 1 Yohanes pasal 4, "Ujilah setiap roh untuk mengetahui apakah mereka berasal dari Allah. Setiap roh yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, Allah yang datang sebagai manusia, adalah roh antikristus."

Hal lain yang juga selalu disangkal Iblis, selain otoritas Kitab Suci, keilahian Kristus, dan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman, adalah kedatangan Kristus yang kedua kali. Sebab kedatangan Kristus yang kedua berkaitan dengan penghakiman. Karena itu, biasanya para guru palsu memiliki pandangan tentang akhir zaman yang sangat kacau, karena mereka harus menyingkirkan kenyataan tentang penghakiman yang terakhir. Dalam 2 Petrus pasal 3, dikatakan bahwa para guru palsu dengan nada mengejek berkata dalam ayat 4, "Di mana janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapak-bapak leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." Lalu Petrus berkata, "Apakah kalian sengaja melupakan peristiwa air bah, atau memang tidak tahu? Segala sesuatu tidak berlangsung seperti yang kalian katakan." Jadi mereka terus menyebarkan ajaran-ajaran palsu, yaitu menyangkal otoritas Kitab Suci, menyangkal keilahian Kristus, menyangkal keselamatan oleh kasih karunia melalui iman, dan menyangkal kedatangan Kristus yang kedua.

Sebagai gantinya, mereka menyebarkan berbagai ajaran palsu yang lain. Misalnya, salah satu ajaran favorit Iblis adalah bahwa manusia bisa memberontak kepada Allah tanpa menanggung akibatnya. Dia sangat menyukai kebohongan itu. Seperti yang saya katakan minggu lalu, Iblis sedang berusaha membuktikan bahwa pemberontakan terhadap Allah itu berhasil. Itulah seluruh rencana yang sedang dia jalankan. Sebaliknya, Allah sedang menunjukkan bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Pemberontakan terhadap Allah tidak akan pernah berhasil. Allah ingin seluruh alam semesta mengetahui hal itu. Karena itulah Iblis dibiarkan menjalankan pemberontakannya sampai sejauh mungkin, supaya Allah dapat menunjukkan kepada setiap makhluk di alam semesta bahwa pemberontakan, sekalipun dilakukan sampai batas yang paling jauh, tetap tidak akan berhasil. Tapi Iblis ingin manusia percaya bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan dan semuanya akan tetap berakhir dengan baik. Bahwa pemberontakan itu berhasil. Itulah kebohongannya.

Saya selalu teringat pada kisah tentang Ernest Hemingway. Saya membacanya dalam sebuah artikel di majalah Playboy, yang kemudian dikutip oleh majalah Eternity. Di sanalah saya membacanya. Artikel itu ditulis tidak lama setelah kematian Hemingway. Di masa kejayaannya, banyak orang mengatakan bahwa Hemingway telah membuktikan bahwa seseorang bisa hidup dalam dosa dan lolos tanpa akibat. Dia dianggap telah menghancurkan moralitas Alkitab dengan menjalani hidup sesuka hatinya, sementara dunia seolah berada dalam genggamannya. Artikel itu menceritakan bagaimana dia memenangkan peperangan, berganti-ganti pasangan wanita, melakukan berbagai hal sesuka hati, minum minuman keras tanpa batas, dan terus memuji semua pencapaiannya, seolah-olah dia benar-benar telah meruntuhkan moralitas Alkitab. Tapi tepat sepuluh tahun kemudian, pada hari yang sama, dia mengambil sebuah senapan, menempelkannya ke sisi kepalanya, lalu mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri.

Iblis berkata bahwa Anda bisa memberontak kepada Allah tanpa menanggung akibat apa pun. Jangan percaya kebohongan itu. Itulah salah satu ajaran palsunya. Dia berkata bahwa Anda bisa berbuat dosa sebanyak yang Anda mau, dan semuanya akan tetap baik-baik saja.

Hal lain yang sepanjang sejarah terus disebarkan Iblis adalah penyembahan berhala. Menurutnya, memiliki tuhan itu adalah sesuatu yang baik. Dia senang kalau setiap orang mempunyai tuhan, asalkan tuhan itu adalah tuhan yang salah. Dia tidak terlalu ingin semua orang menjadi ateis. Dia justru lebih senang kalau semua orang menjadi orang yang beragama, tetapi menyembah tuhan yang sebenarnya tidak ada. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa ilah-ilah bangsa-bangsa adalah roh-roh jahat. Kalau seseorang ingin menyembah batu, Iblis akan membiarkannya menyembah batu itu, lalu menempatkan roh jahat untuk menyamar sebagai ilah yang dianggap tinggal di dalam batu tersebut, sehingga orang itu tetap terikat pada batu itu. Mazmur 106, kalau saya tidak salah ayat 36, berkata, "Mereka beribadah kepada berhala bangsa-bangsa, yang menjadi perangkap bagi mereka. Mereka mengurbankan anak-anak lelaki mereka dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat." Ketika mereka mempersembahkan korban kepada berhala, sebenarnya mereka sedang mempersembahkannya kepada roh-roh jahat, karena roh-roh jahat itulah yang menyamar sebagai ilah/tuhan yang mereka kira benar-benar ada. Iblis senang jika orang-orang beragama, asalkan mereka menyembah ilah yang salah. Iblis bahkan mendorong orang untuk menyembah malaikat. Bacalah Kolose pasal 2 ayat 18 sampai 23. Dia ingin orang menyembah malaikat. Bahkan sampai hari ini ada orang-orang yang melakukannya. Hal itu juga terjadi di dalam Gereja Katolik Roma. Jadi, Iblis memutarbalikkan kebenaran melalui ajaran-ajaran palsu, dengan melawan ajaran yang benar dan menggantikannya dengan ajaran yang salah.

Cara lain yang dipakai Iblis untuk memutarbalikkan kehidupan manusia adalah dengan membentuk gaya hidup yang membawa kepada kebinasaan. Bukan hanya melalui ajaran palsu, tetapi juga dengan menjebak orang ke dalam pola hidup yang menghancurkan, sehingga mereka tidak mampu lagi melepaskan diri. Kita melihat hal itu dalam Efesus pasal 2 ayat 1 sampai 3. "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini." Iblis ingin menjebak manusia ke dalam sistem dunianya, sehingga mereka hidup mengikuti jalan dunia, berada di bawah kuasa penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di dalam orang-orang yang tidak taat. Dia ingin, seperti yang dikatakan ayat 3, menjebak manusia "dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita yang jahat. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai." Iblis ingin menyeret manusia masuk ke dalam gaya hidup yang membawa kebinasaan, sehingga mereka tidak sanggup membebaskan diri. Dia tidak hanya menyebarkan teori yang salah, tetapi juga menarik manusia masuk ke dalam praktik hidup yang akhirnya mengikat mereka.

Lalu, secara lebih khusus, meskipun hal-hal tadi masih bersifat umum, Iblis bekerja di dalam anak-anaknya melalui penindasan. Itu hanya sebuah istilah umum, bukan istilah teknis, yang mencakup banyak hal, seperti kerasukan, penguasaan, penindasan, atau apa pun sebutannya. Iblis bekerja di dalam orang-orang yang menjadi miliknya melalui penindasan yang sangat nyata. Ada banyak contoh mengenai hal ini. Salah satunya melalui hawa nafsu. Ada banyak jenis roh jahat. Tahukah Anda bahwa ada di antara mereka yang lebih jahat daripada yang lain? Tampaknya memang ada tingkatan kejahatan. Dari istilah-istilah yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan mereka, terlihat bahwa sebagian memang sangat jahat. Iblis ingin mendorong manusia menyerahkan diri sepenuhnya kepada hawa nafsunya, dan dalam banyak hal dia berhasil. Kalau Anda membuka Roma pasal 1, Anda akan melihat bahwa pada umumnya dunia memang melakukan hal itu. Di ayat 24 tertulis, "Karena itu Allah menyerahkan mereka..."

Itulah jalan yang mereka pilih. Mereka menukar Allah dengan Iblis. "Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada kecemaran sesuai dengan keinginan hati mereka, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka." Lalu ayat 26 berkata, "Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar." Perhatikan bahwa dalam ayat 24 penekanannya ada pada tubuh, sedangkan dalam ayat 26 lebih kepada hati atau perasaan. Kemudian pada ayat 28 penekanannya beralih kepada pikiran. "Karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk." Jadi tubuh, hati, dan pikiran; tubuh, perasaan, dan akal budi, semuanya menjadi rusak. Lalu dikatakan bahwa "mereka penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan," dan seterusnya, dan seterusnya. Bahkan ayat 32 berkata, "Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan orang-orang yang melakukannya." Jadi, Iblis ingin menindas manusia dengan menyerahkan mereka kepada hawa nafsu mereka sendiri. Dan bukankah itulah yang kita lihat di dunia saat ini? Bukankah kita melihat begitu banyak orang yang sudah kehilangan kendali? Mereka benar-benar menyerahkan diri kepada segala macam hawa nafsu.

Cara lain Iblis menindas orang-orang yang menjadi miliknya bukan hanya melalui hawa nafsu. Saya sendiri pernah berbicara dengan orang-orang yang sudah begitu jauh diperbudak oleh hawa nafsu sehingga mereka membenci diri mereka sendiri. Bahkan ada orang yang akhirnya bunuh diri karena hal itu. Saya pernah berbicara dengan seorang gadis yang tidak sanggup melihat dirinya di cermin, karena setiap kali melihat dirinya sendiri, dia merasa muak. Tapi Iblis juga menindas orang-orangnya melalui penyakit. Di dalam catatan Injil kita menemukan kisah-kisah tentang orang-orang yang dibuat bisu sehingga tidak bisa berbicara oleh Iblis dan roh-roh jahatnya. Ada yang dibuat buta, ada yang mengalami cacat fisik, ada yang menderita epilepsi. Ada orang-orang yang benar-benar mengalami penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan Iblis dan roh-roh jahat. Lebih jauh lagi, Iblis bukan hanya menindas melalui hawa nafsu dan penyakit, tetapi juga melalui gangguan mental. Saya percaya bahwa salah satu penyebab besar gangguan mental di dunia, bahkan sampai sekarang, adalah pekerjaan Iblis. Pernahkah Anda membaca Markus pasal 5 baru-baru ini, tentang orang yang kerasukan di daerah Gerasa? Orang itu tinggal di antara kuburan-kuburan. Orang-orang berusaha mengikatnya, tetapi dia selalu memutuskan semua ikatan itu. Dia melukai dirinya sendiri dengan batu dan terus berteriak-teriak. Dia adalah sosok yang sangat mengerikan. Kegilaannya terjadi karena dia benar-benar dikuasai oleh sekumpulan roh-roh jahat. Dia adalah seorang yang mengalami gangguan jiwa karena kerasukan.

Dalam Markus pasal 9 ayat 22 kita juga membaca tentang seorang yang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dia berusaha mengakhiri hidupnya sebagai akibat langsung dari kuasa roh jahat yang menguasainya. Saya yakin bahwa bukan hanya banyak gangguan mental, tetapi juga banyak kasus bunuh diri yang merupakan akibat dari pekerjaan Iblis, yaitu penindasannya terhadap orang-orang yang menjadi miliknya. Kisah dalam Markus pasal 5 juga menunjukkan bahwa Iblis dapat menindas orang-orangnya bukan hanya melalui kegilaan dan dorongan untuk bunuh diri, tetapi juga melalui tindakan menyakiti diri sendiri, ketika seseorang terus melukai tubuhnya. Ada satu hal lagi yang mungkin jarang kita pikirkan. Tampaknya, ketika Allah mengizinkannya, Iblis juga dapat menindas orang-orang yang menjadi miliknya melalui kematian. Mungkin Anda bertanya, "Dari mana kesimpulan itu berasal?" Mari kita melihat Wahyu pasal 9. Kita mulai dari ayat 13.

"Lalu malaikat yang keenam meniup sangkakalanya, dan aku mendengar suatu suara keluar dari keempat tanduk mezbah emas yang di hadapan Allah." Inilah sangkakala yang keenam. Suara itu berkata kepada malaikat keenam yang memegang sangkakala, "Lepaskanlah keempat malaikat yang terikat dekat sungai besar Efrat itu." Lalu keempat malaikat itu dilepaskan. Mereka memang telah dipersiapkan untuk saat, hari, bulan, dan tahun tertentu, untuk membunuh sepertiga umat manusia. Jumlah pasukan berkuda itu adalah dua ratus juta orang. Yohanes berkata, "Demikianlah aku melihat dalam penglihatan ini kuda-kuda dan orang-orang yang menungganginya," lalu ia menggambarkan seperti apa mereka. Kemudian dikatakan bahwa sepertiga umat manusia dibunuh oleh ketiga malapetaka itu, yaitu api, asap, dan belerang yang keluar dari mulut mereka. Di sini kita melihat sebuah pasukan yang dipimpin oleh kuasa Iblis, pasukan yang digerakkan oleh roh-roh jahat, yang benar-benar menghancurkan sepertiga penduduk bumi. Allah memberikan kepada Iblis kuasa untuk mencabut nyawa. Jadi, Iblis dapat menindas orang-orangnya melalui hawa nafsu, melalui penyakit, melalui gangguan mental, dan bahkan melalui kematian, jika Allah mengizinkannya.

Jadi, bagaimana Iblis bekerja di dalam anak-anaknya sendiri? Dia bekerja dengan cara mencegah dan dengan cara memutarbalikkan kebenaran. Sekarang izinkan saya menyebutkan cara yang ketiga, yaitu melalui politik dan pemerintahan. Iblis bekerja di dalam orang-orang yang menjadi miliknya dengan memengaruhi pemerintah dan bangsa-bangsa. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana Iblis bisa memengaruhi pemerintah dan bangsa-bangsa?" Sekitar setahun yang lalu saya mengalami percakapan yang sangat menarik dengan seorang pemuda yang pernah terlibat cukup dalam dengan sebuah kelompok bernama Komunitas Mark Age. Kelompok ini adalah organisasi kalangan elit yang berhubungan erat dengan roh-roh jahat, praktik pemanggilan arwah, dan ilmu sihir. Mereka memiliki hubungan dengan banyak medium atau dukun pemanggil arwah. Mereka berkumpul di sebuah rumah besar di Santa Monica. Orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang kaya, dan beberapa di antaranya adalah tokoh-tokoh terkenal dalam industri musik. Pemuda itu rutin menghadiri pertemuan mereka di Komunitas Mark Age dan memperoleh berbagai informasi yang sangat mengejutkan, yang kemudian ia ceritakan kepada saya. Dari dialah saya mendapatkan berbagai informasi yang pada waktu itu tidak diketahui siapa pun di luar kelompok kecil tersebut.

Pemuda itu mengatakan kepada saya, misalnya, bahwa orang-orang dalam kelompok itu mengaku mengetahui roh-roh jahat tertentu, bahkan mengetahui roh jahat mana yang ditugaskan di wilayah tertentu. Tentu saja, apakah kita bisa mempercayai semua yang dikatakan roh-roh jahat adalah pertanyaan yang penting. Tapi apa yang dia dengar, benar atau tidak, tetap menarik untuk dipertimbangkan. Mungkin ada sebagian yang memang benar. Dia mengatakan bahwa roh jahat yang bertanggung jawab atas Amerika, yaitu yang bertugas menyebarkan pengaruh roh jahat di Amerika, berada pada posisi yang sangat tinggi di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut mereka, roh itu berdiam di dalam seorang tokoh yang memiliki kaitan dengan Amerika di PBB. Nah, itu hanya salah satu informasi yang dia sampaikan kepada saya. Saya tidak ingin menceritakan terlalu banyak, nanti Anda malah bingung. Dia juga mengatakan bahwa mereka memberitahunya lokasi markas besar pasukan roh jahat di alam semesta, konon berada di Mars dan Jupiter. Semua informasi itu, menurut mereka, diperoleh dari para medium dan roh-roh yang mereka hubungi. Dia juga mengatakan bahwa roh-roh jahat memiliki jaringan di dalam pemerintahan berbagai negara, termasuk negara kita, dan melalui jaringan itulah mereka mengendalikan negara-negara tersebut.

Nah, kalau Anda mengira hal itu adalah sesuatu yang baru, cobalah kembali membaca Daniel pasal 10. Ini sama sekali bukan hal yang baru. Roh-roh jahat sudah terlibat dalam urusan pemerintahan sejak awal. Ketika Iblis disingkapkan dalam Yesaya pasal 14 dan juga dalam Yehezkiel pasal 28, bukankah pada saat itu para nabi sebenarnya sedang berbicara kepada seorang penguasa manusia? Tapi kemudian nubuat itu menyingkapkan siapa yang berada di balik penguasa tersebut, yaitu Iblis sendiri. Dalam Daniel pasal 10 kita melihat bahwa bangsa-bangsa memang dipimpin oleh manusia, tetapi manusia-manusia itu berada di bawah pengaruh roh-roh jahat. Jadi, sejak dahulu Iblis memang aktif memengaruhi pemerintahan. Bahkan ketika dia mencobai Tuhan Yesus dalam Matius pasal 4, dengan berani dia berkata kepada-Nya, "Jika Engkau sujud menyembah aku, aku akan memberikan kepada-Mu" apa? "Semua kerajaan dunia." Tahukah Anda? Dia memang bisa menawarkan hal itu. Itulah kenyataan yang mengejutkan.

Efesus pasal 6 berkata bahwa ketika Anda memahami kenyataan kehidupan Kristen, Anda akan menyadari bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan kuasa-kuasa dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat" di mana? "Di udara." Roh-roh jahat memang bekerja memerintah wilayah di sekitar kita. Sejak peristiwa Menara Babel, Iblis telah berusaha mengendalikan bangsa-bangsa di dunia melalui pasukan roh-rohnya. Allah mengizinkan hal itu terjadi, tetapi Allah tetap memegang kendali melalui Roh Kudus yang bertindak sebagai Penahan. Meskipun demikian, Iblis tetap aktif bekerja. Jadi, dia menjalankan pekerjaannya di dalam anak-anaknya dengan tiga cara: mencegah, memutarbalikkan kebenaran, dan memengaruhi pemerintahan serta bangsa-bangsa.

Lalu, bagaimana Iblis bekerja terhadap orang Kristen? Mari kita melihatnya. Bagaimana dia bekerja dalam kehidupan kita, Anda dan saya? Nah, ini sangat penting. Saya akan menyebutkan beberapa caranya. Yang pertama, dengan menimbulkan keraguan. Salah satu hal yang paling disukai Iblis terhadap orang Kristen adalah membuat kita ragu, membuat kita bergumul dengan apa yang sebenarnya benar. Dalam dua hari terakhir saya sendiri mengalami pergumulan seperti itu. Tahukah Anda apa yang Iblis bisikkan kepada saya? "Semua tentang Kekristenan ini hanyalah omong kosong." Ya, benar seperti itu. Lalu saya berkata, "Tidak! Sama sekali tidak. Saya tidak mungkin sudah berjalan sejauh ini hanya untuk mempercayai kebohongan itu." Dan saya benar-benar bergumul. Saya menguatkan kembali keyakinan saya dengan membuka Firman Allah dan mengucapkan ayat-ayat Alkitab. "Aku tahu Penebusku hidup." "Aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." Saya mulai mengingat dan mengucapkan semua ayat yang dimulai dengan kata "aku tahu." Iblis mencobai kita semua dengan cara seperti itu. Dia sangat senang melakukannya.

Sejak awal, dalam Kejadian pasal 3, apa yang dipakai Iblis untuk mencobai Hawa? Keraguan. Ragukan Allah. Ragukan Firman Allah. Ragukan kebaikan Allah. Seolah-olah Allah telah melakukan kesalahan. Seolah-olah Allah memperlakukan Anda dengan tidak adil. Ragukan perhatian Allah kepada Anda. Ragukan pemeliharaan-Nya. Itulah sebabnya Paulus berkata di dua tempat, "Kenakanlah ketopong, yaitu pengharapan keselamatan," dan singkirkan semua keraguan itu. Kalau Allah berkata bahwa Dia telah menyelamatkan Anda, itulah yang Dia maksudkan. Dan ketika Iblis datang membawa rhomphaia, pedang besar yang melambangkan keraguan, pedang itu akan terpental dari ketopong keselamatan itu. Anda adalah milik-Nya. Anda aman di dalam Dia.

Hal kedua yang juga sangat disukai Iblis adalah menggerakkan penganiayaan. Dia bukan hanya menimbulkan keraguan, tetapi juga mendorong terjadinya penganiayaan. Kita melihat dia menanamkan keraguan dalam Kejadian pasal 3. Kita melihat dia menggerakkan penganiayaan dalam Wahyu pasal 2. Wahyu 2 ayat 10 berkata, "Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!" Ayat ini ditujukan kepada jemaat di Smirna. "Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antara kamu ke dalam penjara supaya kamu dicobai." Di sini kita melihat bahwa Iblis memang senang menganiaya gereja. Sebenarnya gereja hanya melanjutkan apa yang sebelumnya dialami Israel. Iblis selalu menganiaya Israel. Bacalah Wahyu pasal 12, semuanya ada di sana. Dia selalu menganiaya umat Allah, yaitu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu. Sekarang dia menganiaya gereja. Dalam jemaat di Smirna kita melihat contoh yang jelas. "Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antara kamu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." Memang itulah keinginan Iblis: menganiaya gereja.

Jadi, Iblis menimbulkan keraguan. Iblis juga menganiaya gereja. Karena itu, harapkan hal itu akan terjadi. Memang itulah yang akan dia lakukan. Bersiaplah menghadapinya. Yang ketiga, dan kita akan membahasnya dengan cepat jadi tetap ikuti baik-baik, Iblis senang menghalangi pelayanan. Dia terus berusaha menghambat pelayanan kita. Kadang-kadang perjuangannya sangat berat hanya untuk bisa melewati semua rintangan dan sampai ke tempat ini untuk mengajar Anda. Saya sendiri tidak tahu apakah ada kaitannya atau tidak, tetapi tadi malam saya sama sekali tidak bisa tidur. Semalaman perut saya sakit. Berkali-kali saya terbangun karena rasa sakit yang luar biasa. Saya menghabiskan waktu itu untuk berdoa, "Tuhan, saya tidak tahu apakah ini benar seperti yang saya pikirkan. Tapi kalau memang demikian, bertindaklah terhadap dia. Saya tahu dia tidak ingin saya membahas dirinya malam ini. Jangan biarkan dia menghentikannya." Lalu saya datang ke sini dan baru sadar bahwa dalam dua kebaktian sebelumnya saya lupa mengumumkan bahwa kebaktian malam ini dimulai pukul enam, bukan pukul tujuh. Saya berpikir, "Wah, nanti tidak ada yang datang." Tuhan sudah membuat saya tetap sehat, tetapi sekarang tidak akan ada seorang pun yang hadir. Tapi ternyata Anda ada di sini. Dan kami sengaja menunggu beberapa menit supaya beberapa orang lain yang memang perlu mendengar hal ini juga sempat datang.

Iblis senang menghalangi pelayanan kita. Mari saya tunjukkan satu contohnya dalam Perjanjian Baru. Buka 1 Tesalonika pasal 2 ayat 18. Seperti yang saya katakan, ini bukan dugaan saya, tetapi contoh yang diberikan Alkitab. Dalam 1 Tesalonika 2:18 kita hanya akan melihat bagian yang berkata, "Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu." Ketika Paulus meninggalkan Tesalonika, kerinduan hatinya adalah kembali ke sana. Dia benar-benar ingin kembali. Ada banyak dugaan mengapa dia tidak pernah bisa kembali. Ada yang mengatakan karena Yason telah memberikan jaminan kepada pemerintah, sehingga jika Paulus kembali, Yason akan kehilangan jaminan itu. Ada juga yang mengatakan bahwa para penguasa kota akan menjadi penghalang yang sangat besar. Apa pun penyebabnya, ayat 18 berkata, " Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu — aku, Paulus, malahan lebih dari sekali — tetapi..." apa? "... Iblis telah mencegah kami." Iblis memang bekerja untuk menghalangi pelayanan. Jadi, harapkanlah hal itu. Kalau Anda berpikir, "Saya akan mulai melayani Tuhan, dan semuanya pasti berjalan lancar," lalu begitu menghadapi rintangan pertama Anda berkata, "Kalau begitu saya berhenti saja. Mungkin memang bukan kehendak Tuhan," maka berhati-hatilah.

Periksalah dengan sungguh-sungguh. Selidikilah baik-baik. Karena yang menghalangi sering kali adalah Iblis. Itulah pekerjaannya. Dan saya yakin, semakin efektif pelayanan Anda, semakin besar pula usahanya untuk menghalangi. Rasul Paulus sendiri menjalani pelayanannya dengan sebuah penghalang yang sangat berat. Dia menyebutnya "duri dalam daging." Dan dia berkata bahwa duri itu adalah "utusan Iblis yang dikirim untuk menggocoh aku." Gangguan itu terus-menerus memukul saya. Iblis ingin membuat saya sengsara. Dia ingin saya menyerah. Tapi saya tetap melayani. Dan jika Allah mengatakan bahwa pergumulan itu baik untuk menjaga saya tetap rendah hati, maka saya menerimanya. Sebab ketika saya lemah, justru pada saat itulah saya kuat. Dan percayalah, sebesar apa pun usaha Iblis menghalangi, dia tidak pernah bisa menggagalkan rencana Allah. Yang dia lakukan hanyalah menyaring mereka yang mudah menyerah.

Yang keempat, Iblis bukan hanya menghalangi pelayanan kita, tetapi—dan ini sangat penting—dia juga menyusup ke dalam gereja. Dia sangat ahli dalam hal ini. Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana caranya, John?" Pertama-tama, melalui orang-orang Kristen palsu. Dia membuat gereja menerima orang-orang yang kelihatannya Kristen, padahal kita tidak bisa membedakan mereka, dan sebenarnya mereka adalah orang-orang milik Iblis. Setelah berada di dalam gereja, mereka mulai menimbulkan kekacauan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui gaya hidup yang tidak sesuai dengan pengakuan iman mereka. Akibatnya, dunia menjadi bingung tentang seperti apa sebenarnya orang Kristen itu. Mereka juga menjadi orang-orang yang sulit ditangani. Kita sering tidak tahu bagaimana harus menghadapi mereka. Masih banyak hal lainnya. Biasanya mereka berusaha masuk ke dalam posisi kepemimpinan, sehingga Iblis memiliki suara dan pengaruh dalam berbagai keputusan.

Dalam Matius 13:38 dikatakan, "Ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat." Satu-satunya yang benar-benar dapat memisahkan gandum dan lalang adalah Allah pada akhir zaman. Kita tidak selalu dapat membedakan mereka sekarang. Iblis menyusup ke dalam gereja melalui orang-orang Kristen palsu. Di Gereja Kasih Karunia pun ada orang-orang seperti itu. Saya tahu mereka ada, karena memang itulah yang dilakukan Iblis. Kalau saya tahu siapa mereka, kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membawa mereka kepada pengenalan yang sejati akan Tuhan Yesus Kristus. Dan jika mereka memang telah menjadi murtad, kami akan mengeluarkan mereka dari gereja. Tapi kami tidak tahu siapa mereka. Kadang-kadang ada beberapa yang akhirnya terbongkar. Cepat atau lambat, sebagian dari mereka akan tersingkap. Tapi tidak semuanya. Yang pasti kami tahu, Iblis sedang melakukan pekerjaannya. Kalau Anda adalah lalang, kami tahu Anda ada di sini. Kami hanya tidak tahu siapa Anda.

Iblis bukan hanya menyusup ke dalam gereja melalui orang-orang Kristen palsu, tetapi juga melalui guru-guru palsu. Kita sudah membahas hal ini sebelumnya. Dia senang sekali memasukkan ajaran-ajaran yang salah ke dalam gereja. Dia memakai seseorang yang mengajarkan doktrin palsu yang terdengar baik, seseorang yang tampaknya dipercaya oleh para pemimpin gereja, mengajarkan sesuatu yang kelihatannya benar, padahal sebenarnya tidak benar. Sejak dulu gereja selalu menghadapi guru-guru palsu, dan hal itu akan terus ada. Dalam 1 Timotius pasal 4, yang tadi sudah kita baca, dikatakan bahwa pada akhir zaman mereka akan "mengajarkan kebohongan dengan kemunafikan." Dalam 1 Yohanes pasal 4 juga dikatakan, "Waspadalah, karena mereka pasti ada." Lalu dalam 2 Petrus pasal 2 dikatakan, "Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat." Itulah sebabnya dalam perlengkapan senjata rohani orang percaya kita diberikan pedang Roh. Pedang Roh itu adalah apa? Firman Allah. Karena kita harus melawan penyusupan Iblis ke dalam gereja melalui ajaran-ajaran palsu.

Iblis menyusup ke dalam gereja melalui orang-orang Kristen palsu, melalui ajaran-ajaran palsu, dan ada satu cara lagi yang sangat penting, yaitu melalui perpecahan. Iblis sangat senang memecah belah gereja. Tidak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada melihat gereja terpecah. Izinkan saya memberikan satu contoh dari 2 Korintus pasal 2. Bagian ini sangat penting. Dalam 2 Korintus pasal 2 ayat 5, saya akan membacakannya berdasarkan Alkitab versi New American Standard, karena terjemahan itu membuat bagian ini lebih mudah dipahami. Dalam versi King James, bagian ini agak sulit dimengerti. Ayat 5 berbunyi, "Tetapi jika ada orang yang telah menyebabkan dukacita, sebenarnya dia bukan mendukacitakan aku, melainkan sampai batas tertentu, supaya aku tidak berkata terlalu banyak, dia telah mendukacitakan kamu semua." Maksud Paulus adalah, kalau ada seseorang yang telah menimbulkan masalah, sebenarnya dia bukan terutama menyusahkan saya, tetapi menyusahkan kalian. Lalu ayat 6 berkata, "Bagi orang seperti itu, hukuman yang dijatuhkan oleh sebagian besar jemaat sudah cukup." Di sini kita melihat seorang yang telah menimbulkan persoalan. Ada yang berpendapat bahwa dia adalah orang yang melakukan dosa percabulan dalam 1 Korintus pasal 5, walaupun hal itu masih diperdebatkan. Siapa pun orang itu, pada suatu waktu dia memang hidup dalam dosa. Paulus telah memerintahkan jemaat Korintus untuk menindak orang tersebut.

Di antara penulisan surat 1 Korintus dan 2 Korintus, tampaknya ada satu surat lain yang sekarang sudah tidak kita miliki. Kemungkinan besar dalam surat itulah Paulus kembali meminta mereka untuk menindak orang tersebut. Sekarang Paulus telah mendengar laporan dari Titus bahwa jemaat Korintus akhirnya mengambil langkah disiplin terhadap orang itu. Mungkin hanya sebagian kecil yang tidak setuju, tetapi mayoritas jemaat sepakat untuk menjalankan disiplin gereja. Pada titik ini Paulus merasa bahwa orang tersebut telah menerima disiplin yang cukup, dan tujuan disiplin itu sudah tercapai. Karena itu Paulus ingin agar mereka berhenti hanya menjadi orang-orang yang menjatuhkan hukuman, lalu beralih menjadi saudara-saudara yang mengampuni dan memulihkan. Sebab itu dia berkata, "Jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya hati beberapa orang di antara kamu. Aku tidak melebih-lebihkan hal ini. Bagi orang yang demikian cukuplah sudah hukumannya."

Lalu ayat 7 berkata, "Kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa karena kesedihan yang terlampau berat." Dengan kata lain, kalau hukuman itu terus dilanjutkan, disiplin yang seharusnya membawa pemulihan justru akan membuat orang itu putus asa. Begitu seseorang telah didisiplin sampai dia bertobat, maka dia harus dipulihkan kembali, bukan? Itulah yang diajarkan Galatia 6:1. Kalau Anda terus-menerus menyalahkan atau menghukum orang itu, disiplin itu tidak lagi membawa pemulihan, tetapi malah mendorongnya ke dalam keputusasaan dan dukacita yang mendalam. Karena itu Paulus berkata pada ayat 8, " Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia." Tunjukkanlah bahwa kalian mengasihinya. "Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. Sebab siapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga." Kalau kalian sudah mengampuni orang itu, saya juga sudah mengampuninya. Jadi jangan memperpanjang persoalan ini demi saya. Ia melanjukan dengan berkata, "Sebab jika aku mengampuni — seandainya ada yang harus kuampuni — maka hal itu kulakukan karena kamu."

Saya ingin ada kesatuan di dalam gereja. Dan untuk memiliki kesatuan, harus ada pengampunan. Kalau kalian terus memperbesar masalah ini dengan tidak mengampuni orang tersebut, terus menghukumnya, dan mempertahankan sikap yang keras dan hanya berfokus pada hukuman, maka yang akan terjadi adalah perpecahan di dalam gereja dan hilangnya semangat saling mengampuni. Karena itu ayat 11 berkata, "Kamu harus mengampuni orang itu dan mengasihinya, supaya Iblis jangan memperdaya kita, sebab kita tahu apa maksudnya." Lalu apa tipu daya Iblis itu? Dia senang memecah belah gereja. Dan menurut Paulus, tidak ada cara yang lebih ampuh untuk memecah gereja daripada ketika terjadi kasus disiplin gereja yang diwarnai dengan hati yang tidak mau mengampuni. Itulah siasatnya, yaitu menciptakan perpecahan. "Setelah orang itu didisiplin, kasihilah dia."

Dengarkan baik-baik. Apa prinsip umumnya? Dengarkan saya. Penekanan yang berlebihan pada doktrin, tetapi mengabaikan kasih, dapat membawa akibat yang sangat mematikan bagi gereja. Perhatikan betapa halusnya cara kerja Iblis di sini. Dia justru masuk setelah gereja melakukan apa yang benar secara doktrinal. Jemaat Korintus telah melakukan tindakan yang benar. Mereka menjalankan disiplin sesuai ajaran yang benar. Dan justru di situlah Iblis melihat kesempatan yang sempurna untuk masuk, memakai kebenaran itu sebagai pintu masuk bagi salah satu tipu dayanya. Seperti yang sudah sering kita katakan, gereja dibangun di atas dua hal: kasih dan doktrin yang sehat. Terlalu banyak doktrin tanpa kasih akan menghasilkan perpecahan. Terlalu banyak kasih tanpa doktrin yang sehat akan menghasilkan kebingungan.

Hal lain yang dilakukan Iblis, dan ini adalah salah satu yang paling utama, adalah mencobai kita supaya berbuat dosa. Dia mencobai kita untuk jatuh ke dalam dosa. Dia bisa melakukannya melalui kedagingan kita, melalui dunia, melalui roh-roh jahatnya, atau bahkan secara langsung. Apa pun caranya, dia adalah si pencoba. Nah, karena waktu kita sudah hampir habis, saya akan menyebutkan secara singkat beberapa jenis dosa yang menurut Alkitab paling sering dipakai Iblis untuk mencobai orang percaya. Yang pertama, dia mencobai kita untuk mengandalkan kemampuan kita sendiri. Pernahkah Anda menyadari hal itu? Dia ingin kita percaya pada kekuatan dan sumber daya kita sendiri. Pagi ini akhirnya saya bisa tidur beberapa saat. Ketika bangun, istri saya bertanya, "Bagaimana rasa sakitnya?" Saya menjawab, "Sudah agak membaik." Lalu saya berkata kepadanya, "Saya rasa sekarang saya tahu salah satu alasan mengapa Tuhan mengizinkan saya sakit tadi malam."

Dan apa yang saya sampaikan kepada istri saya, walaupun bukan dengan kata-kata yang persis sama, adalah bahwa saya merasa sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Saya memang percaya pentingnya persiapan. Tapi salah satu pencobaan yang sering saya alami adalah lebih mengandalkan persiapan saya sendiri daripada Roh Allah, karena saya memang sungguh-sungguh mempersiapkan diri. Lalu saya berkata, "Saya rasa yang perlu saya pelajari tadi malam adalah menyadari bahwa saya bahkan tidak dapat membuka mulut saya jika Allah tidak mengizinkannya." Iblis sangat senang jika Anda mengandalkan kemampuan Anda sendiri. Tahukah Anda mengapa? Karena dengan kekuatan Anda sendiri, Anda tidak akan sanggup menghadapi Iblis. Tahukah Anda itu? Anda tidak akan mampu menghadapinya.

Saya akan memberikan satu contoh. Mari kita buka 1 Tawarikh pasal 21. Pada masa itu Israel sedang sering berperang, seperti yang memang biasa terjadi dalam sejarah mereka. Mereka terus menghadapi musuh-musuh. Tentu saja Daud ingin memperoleh kemenangan. Lalu lihat apa yang terjadi pada ayat 1. "Iblis bangkit melawan Israel dan ia mempengaruhi Daud untuk..." melakukan apa? "...menghitung orang Israel." Mengadakan sensus. "Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan para pemuka rakyat, 'Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan.'" Artinya, dari ujung selatan sampai ujung utara. "'Kemudian bawalah hasilnya kepadaku supaya aku tahu jumlah mereka.'" Saya ingin tahu seberapa besar bangsa kita dan seberapa besar pasukan kita. Pergilah dan hitung semua orang. Lalu Yoab menjawab, "Kiranya TUHAN menggandakan rakyat-Nya seratus kali lipat dari yang ada sekarang. Ya Tuanku raja, bukankah mereka sekalian hamba-hamba Tuanku? Mengapa Tuanku menuntut hal ini?" Maksudnya, kalau kita semua melayani Allah, apa pentingnya mengetahui berapa jumlah kita? Wah, Yoab, hati-hati bicara seperti itu. Kamu sedang berbicara kepada raja, sekalipun kamu benar.

Ayat 4 berkata, "Namun, titah raja itu tetap harus dilaksanakan oleh Yoab." Karena itu Yoab pergi melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menaati raja, mengelilingi seluruh Israel, lalu kembali ke Yerusalem. Itu pekerjaan yang besar. Dia harus menghitung seluruh penduduk, melakukan sensus. Ayat 5 berkata, "Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Dari seluruh Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat menggunakan pedang." Itu adalah pasukan yang sangat besar. Pasukan yang kuat. "Dan dari Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat menggunakan pedang." Dan Daud mungkin berpikir, "Wah, sekarang kita benar-benar kuat. Siapa pun yang datang, kita siap menghadapinya." Lalu saya suka sekali ayat 7. Di sana dikatakan, "Di mata Allah pun titah itu jahat, sebab itu dihajarnya orang Israel." Seolah-olah Allah berkata, "Sekarang mari kita lihat apakah engkau bisa mengatasinya sendiri, Daud. Kalau engkau merasa tidak membutuhkan Aku, maka Aku juga tidak akan membiarkan engkau mengandalkan kekuatanmu sendiri." Siapa yang membujuk Daud untuk menghitung rakyat menurut ayat 1? Siapa? Iblis. Iblis sangat senang membuat Anda mengandalkan kemampuan Anda sendiri. Karena itu, ketika kita sampai pada Efesus pasal 6 ayat 10, Paulus berkata, "Hendaklah kamu kuat di dalam..." apa? "...Tuhan, dan di dalam kekuatanmu sendiri?" Apakah begitu bunyinya? Tidak. "Di dalam kekuatan kuasa-Nya." Iblis ingin Anda mengandalkan kekuatan Anda sendiri.

Hal kedua, Iblis mencobai kita supaya kehilangan iman kepada Allah. Memang itulah yang dia lakukan. Iblis ingin kita menyerah terhadap Allah. Dalam Lukas 22:31 kita kembali bertemu dengan rasul yang terkenal karena sering berbicara tanpa berpikir panjang, yaitu Petrus. Tuhan berkata kepadanya, "Simon, Simon." Mungkin Tuhan mengucapkan kata-kata itu hampir setiap hari, "Simon, Simon." Saya rasa Tuhan sangat ingin melihat Petrus bertumbuh dan dimuliakan. Lalu Tuhan berkata, "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum." Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan menampi? Gandum dilemparkan ke udara dengan sebuah tampah supaya sekamnya terpisah dari bijinya. Angin akan menerbangkan sekam, sedangkan bijinya akan jatuh kembali. "Petrus, Iblis sedang berusaha menampimu. Dia ingin melemparkanmu ke dalam angin supaya ada sesuatu yang terbang dan ada sesuatu yang tertinggal." Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan? Tuhan berkata, "Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau supaya..." apa? "... supaya imanmu jangan gugur." Saya percaya bahwa yang ingin dilakukan Iblis adalah memisahkan Petrus dari imannya. Melalui angin kesukaran, dia ingin meniup habis iman Petrus supaya Petrus tidak lagi percaya kepada Allah. "Aku telah berdoa supaya imanmu jangan gugur." Saya ingin mengatakan sesuatu. Kalau Tuhan berdoa supaya iman Petrus tidak gugur, maka imannya memang tidak gugur. Iblis ingin memisahkannya dari imannya. Dia ingin menampi Petrus supaya iman itu hilang. Iblis juga ingin memisahkan Anda dari iman Anda, supaya Anda berhenti percaya kepada Allah.

Dalam 1 Petrus pasal 5 kita menemukan gambaran yang sama. Ayat 8 berkata, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." Sekarang dengarkan baik-baik. Apa maksudnya Iblis ingin menelan Anda? Ayat berikutnya berkata, "Lawanlah dia dengan iman yang teguh." Dalam naskah aslinya tidak ada kata sandang "itu", sehingga artinya adalah "teguh dalam iman." Iblis ingin menelan Anda dalam arti menghancurkan iman Anda. Itulah sebabnya Efesus 6:16 berkata, "Dalam segala keadaan, pergunakanlah perisai..." apa? "...iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat." Jadi, Iblis ingin Anda mengandalkan kekuatan Anda sendiri, dan pada saat yang sama dia ingin memisahkan Anda dari iman kepada Allah.

Hal lain yang diinginkan Iblis adalah supaya Anda berdusta. Iblis senang jika Anda mengucapkan kebohongan. Dalam Kisah Para Rasul 5:3, dia bekerja di dalam Ananias dan Safira. Petrus memandang mereka tepat di mata dan berkata, "Mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus?" Iblis ingin Anda berdusta. Jadi, ingatlah bahwa setiap kali Anda berdusta atau memutarbalikkan kebenaran, ketahuilah dari mana asal dorongan itu. Yang keempat, Iblis ingin mencobai Anda kepada percabulan atau dosa seksual. Percayalah, dia sangat sibuk melakukan hal ini. Salah satu alat yang sekarang banyak dipakainya adalah media, di samping berbagai sarana lainnya. Salah satu ayat yang penting mengenai hal ini adalah 1 Korintus 7:5. Kadang-kadang dalam konseling saya menemui situasi seperti ini. Seorang suami datang dan berkata, "Saya harus memperbaiki hubungan dengan istri saya." Lalu saya bertanya, "Mengapa?" Dia menjawab, "Karena istri saya tidak mau lagi tidur dengan saya sampai saya berubah. Saya sudah tidak tahan lagi." Apakah itu cara yang benar? Jadi, hanya karena Anda sedang bermasalah dengan suami Anda, lalu Anda mulai menolak memenuhi kewajiban sebagai suami istri?

Lihatlah 1 Korintus 7:5. Bagian ini memberi kita penjelasan yang sangat penting. Kalau diterjemahkan lebih dekat dengan bahasa Yunaninya, bunyinya adalah, "Berhentilah saling menjauhkan diri." Kalau memang Anda sedang melakukannya, hentikanlah. Jangan lakukan itu, "kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa." Kalau memang alasannya itu, tidak masalah. Walaupun tidak banyak orang yang melakukannya karena alasan tersebut, tapi itu adalah alasan yang benar. Namun, selain dari alasan itu, hentikanlah kebiasaan tersebut, "sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama." Mengapa? "Supaya Iblis jangan mencobai kamu karena kamu tidak dapat menguasai dirimu." Kalau Anda memperlakukan pasangan Anda seperti itu, Anda sedang menempatkannya dalam keadaan di mana dia lebih mudah kehilangan penguasaan diri dalam keinginan seksualnya. Apakah Anda mengerti? Dan Iblis sangat senang mencobai orang ketika mereka kehilangan penguasaan diri. Salah satu bidang yang sering dipakai Iblis untuk mencobai orang percaya, seperti yang kita lihat di sini, adalah dosa seksual.

Ada satu hal lagi, lalu kita akan segera mengakhiri ini. Saya tahu saya sudah berbicara cukup lama, tapi tidak apa-apa, karena ini adalah kebenaran yang penting. Satu hal lagi, Iblis ingin membuat kita begitu sibuk dengan dunia ini sehingga perhatian kita sepenuhnya terserap olehnya. Kita sudah banyak membahas hal ini, jadi saya tidak akan mengulanginya panjang lebar. Cukup saya ingatkan bahwa 1 Yohanes 2:15 berkata, Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih kepada Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." Iblis ingin Anda tenggelam dalam sistem dunia ini, karena itu berarti Anda telah membelakangi Allah.

Dalam 2 Timotius 4:10 terdapat salah satu kalimat yang paling menyedihkan di dalam Alkitab. Paulus berkata, "Karena Demas telah meninggalkan aku..." Mengapa? "...karena ia telah mencintai dunia ini." Jadi, Iblis ingin mencobai Anda untuk mengandalkan kekuatan Anda sendiri, kehilangan iman kepada Allah, dipisahkan dari iman Anda seperti sekam dipisahkan dari gandum, berdusta, jatuh ke dalam dosa seksual, dan akhirnya tenggelam dalam kecintaan kepada dunia.

Iblis juga ingin mencobai Anda supaya menjadi sombong. Ya, dia sangat ingin melakukan itu. Dia memiliki banyak cara untuk melakukannya. Salah satu contohnya terdapat dalam 1 Timotius 3:6. Ketika memilih penilik jemaat, gembala, atau penatua, Alkitab berkata, "Jangan memilih orang yang baru bertobat." Mengapa? "agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman seperti yang terjadi pada Iblis." Iblis senang mengangkat seseorang terlalu cepat dan membuatnya menjadi sombong, karena setelah itu dia akan jatuh. Saya bisa mengatakan hal ini karena saya sudah melihatnya berulang kali di dalam gereja sepanjang hidup saya. Orang-orang yang baru bertobat, yang belum dewasa secara rohani, diberi tanggung jawab yang terlalu besar. Kesombongan menguasai hati mereka, lalu kejatuhan mereka pun sangat besar.

Ada satu hal lagi yang juga sangat dekat dengan kehidupan saya, dan saya yakin juga dengan kehidupan Anda. Alkitab secara khusus mengatakan bahwa Iblis senang mencobai kita dengan rasa putus asa. Dia senang melihat orang Kristen merasa lelah dan akhirnya menyerah. Dalam 1 Petrus 5:6 dikatakan, "Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya."

Iblis akan datang menyerang. Dia akan mengarahkan serangannya kepada iman Anda. Dia akan berusaha melemahkannya sedikit demi sedikit. Dia akan membawa rasa putus asa ke dalam hidup Anda. Tapi ayat 7 berkata, "Serahkanlah segala kekhawatiranmu..." kepada siapa? "...kepada Kristus." Lalu bacalah ayat 10. "Allah, sumber segala anugerah, setelah semua penderitaan itu berlalu, akan membuat kamu..." apa? "...sempurna." Karena itu, tetaplah bertahan, Saudara-saudara. Allah ada di pihak Anda. Jangan putus asa.

Inilah cara-cara Iblis menyerang kita. Dia menyerang orang-orang yang menjadi miliknya dengan mencegah, memutarbalikkan kebenaran, dan memengaruhi pemerintahan serta bangsa-bangsa. Sedangkan terhadap kita, dia berusaha menjatuhkan kita dengan membuat kita mengandalkan kemampuan sendiri, kehilangan iman kepada Allah, berdusta, jatuh ke dalam dosa seksual, mencintai dunia, menjadi sombong, dan putus asa dalam pergumulan rohani. Dengan cara-cara itulah dia berusaha memperoleh kemenangan. Tapi tahukah Anda? Kita memiliki sebuah janji yang luar biasa. Di tengah semua pencobaan itu, Saudara-saudara yang terkasih, dengarkan baik-baik. Yakobus 4:7 tidak berkata supaya kita lari. Firman Tuhan berkata, "Lawanlah Iblis, maka ia akan..." apa? "...lari dari hadapanmu." Mari kita berdoa.

Bapa, kami mengakui kuasa-Mu, keunggulan-Mu, dan kedaulatan-Mu yang mutlak. Kami tahu bahwa Dia yang ada di dalam kami lebih besar daripada dia yang ada di dalam dunia. Kami bersyukur atas kemenangan yang sudah menjadi milik kami di dalam Kristus. Bapa, kami juga bersyukur bahwa kemenangan itu tersedia bagi setiap orang yang mengakui nama Yesus Kristus. Ya Allah, malam ini kami berdoa, jika ada seorang pun di tengah-tengah kami yang belum mengakui Yesus sebagai Tuhan, yang belum keluar dari kuasa Iblis, yang belum dilahirkan ke dalam Kerajaan Allah sebagai anak, ahli waris, dan ahli waris bersama Kristus, kiranya hal itu terjadi malam ini juga. Kiranya mukjizat kelahiran baru dikerjakan oleh Roh Kudus. Ya Allah, biarlah itu terjadi malam ini.

Dan bagi kami yang sudah menjadi orang percaya, Bapa, tolonglah kami supaya tetap waspada dan berjaga-jaga. Tolonglah kami memahami cara kerja musuh kami, sehingga kami dapat membangun pertahanan pada bagian-bagian hidup kami yang paling lemah. Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah memberikan kepada kami Kitab yang begitu berharga ini. Terima kasih karena Engkau membuka pengertian kami, sehingga kami bukan hanya mengenal Engkau, tetapi juga mengenal musuh kami. Dengan demikian kami dapat terus mengikuti jejak Tuhan Yesus Kristus menuju kemenangan yang sesungguhnya sudah Dia menangkan bagi kami. Kami berdoa di dalam nama-Nya yang mulia. Amin.

SELESAI

This sermon series includes the following messages:

Please contact the publisher to obtain copies of this resource.

Publisher Information
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969

Welcome!

Enter your email address and we will send you instructions on how to reset your password.

Back to Log In

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize
View Wishlist

Cart

Cart is empty.

Subject to Import Tax

Please be aware that these items are sent out from our office in the UK. Since the UK is now no longer a member of the EU, you may be charged an import tax on this item by the customs authorities in your country of residence, which is beyond our control.

Because we don’t want you to incur expenditure for which you are not prepared, could you please confirm whether you are willing to pay this charge, if necessary?

ECFA Accredited
Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Back to Cart

Checkout as:

Not ? Log out

Log in to speed up the checkout process.

Unleashing God’s Truth, One Verse at a Time
Since 1969
Minimize