Kita sedang melanjutkan sebuah seri singkat dalam ibadah pagi tentang "Allah: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Dia?" Ini hanyalah jeda sejenak dari pembahasan kita tentang kitab 1 Korintus. Pada ibadah Minggu malam, seri ini dipasangkan dengan pembahasan tentang "Iblis: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Dia?" Pagi ini, tentu saja, kita akan kembali membahas tema, "Allah: Benarkah Dia Ada? Siapakah Dia? Dan Seperti Apakah Dia?" Siapkan Alkitab Saudara, karena kita akan membuka beberapa bagian Firman Tuhan sepanjang pembahasan ini. Ada sebuah buku yang sangat baik tentang natur Allah, ditulis oleh A.W. Tozer, berjudul The Knowledge of the Holy (Pengetahuan tentang Yang Kudus). Di antara banyak hal yang ia sampaikan dalam buku itu, ada satu pernyataan yang menurut saya sangat penting. Ia berkata, "Sejarah umat manusia kemungkinan besar akan menunjukkan bahwa tidak ada bangsa yang pernah melampaui kualitas agamanya. Dan sejarah rohani manusia dengan jelas membuktikan bahwa tidak ada agama yang pernah lebih besar daripada pemahamannya tentang Allah. Penyembahan menjadi murni atau rusak, tergantung apakah penyembah memiliki pandangan yang tinggi atau rendah tentang Allah. Karena itulah, pertanyaan yang paling penting bagi gereja selalu adalah tentang Allah sendiri. Dan hal yang paling menentukan tentang seseorang bukanlah apa yang ia katakan atau lakukan pada suatu waktu, melainkan seperti apa Allah yang ia bayangkan di dalam lubuk hatinya." Maksudnya adalah, hal yang paling penting dimiliki seseorang adalah pemahamannya tentang Allah. Dan pesan yang paling penting yang dimiliki gereja untuk disampaikan adalah pengenalan akan Allah. Dan saya percaya, ia benar.
Ada dua alasan mengapa kita ingin memberitakan pengertian yang benar tentang Allah. Pertama, karena ada orang-orang yang tidak percaya kepada Allah. Mereka adalah ateis, baik secara filsafat maupun dalam praktik hidup mereka. Ada yang benar-benar percaya bahwa Allah tidak ada, dan ada juga yang hidup seolah-olah Allah tidak ada. Karena itulah kita ingin memberitakan kebenaran tentang Allah yang sejati, supaya orang-orang mengetahui bahwa Allah itu ada dan mengenal siapa Dia sebenarnya. Yang kedua, kita memberitakan Allah bukan hanya karena ada orang yang tidak percaya, tetapi juga karena ada orang yang memiliki pengertian yang salah tentang Allah. Mereka memiliki kesalahpahaman tentang Dia. Dan hal ini bahkan terjadi di dalam kekristenan. Terus terang, saya sangat prihatin melihat bagaimana sebagian orang Kristen membayangkan Allah. Kita bisa mengatakan bahwa mempercayai hal yang salah tentang Allah adalah suatu bentuk penyembahan berhala. Ketika mendengar kata "penyembahan berhala", biasanya kita membayangkan seseorang di sebuah gubuk sederhana yang meletakkan patung kecil di atas mejanya lalu menyembahnya. Atau kita membayangkan sebuah kuil kafir yang megah dan penuh hiasan, dengan banyak orang membakar dupa. Namun sebenarnya, penyembahan berhala jauh lebih luas daripada itu. Penyembahan berhala adalah ketika seseorang mempercayai sesuatu tentang Allah yang tidak benar. Itu berarti menganggap Allah memiliki sifat atau karakter yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri-Nya. Pada tingkat yang paling parah, penyembahan berhala adalah menciptakan allah yang baru. Pada tingkat berikutnya, itu berarti mengubah Allah yang sejati menjadi sosok yang sebenarnya bukan diri-Nya. Dan mungkin pada tingkat yang ketiga, yang bahkan juga dilakukan oleh orang-orang Kristen, adalah memikirkan hal-hal tentang Allah yang sebenarnya tidak benar tentang Dia.
Mazmur 50:21 berkata, "Engkau menyangka bahwa Aku ini sama seperti engkau." Allah berkata, "Kamu mengira Aku seperti dirimu sendiri." Dan memang itulah yang pada umumnya dilakukan manusia. Melalui penyembahan berhala, mereka membentuk Allah menurut rupa mereka sendiri atau menurut khayalan yang berasal dari pikiran mereka. Inti dari penyembahan berhala adalah memiliki pemikiran tentang Allah yang tidak pantas bagi-Nya, dan hal itu bisa muncul dalam berbagai bentuk. Karena itulah kita memberitakan Allah, bukan hanya karena ada orang yang tidak percaya kepada-Nya, baik secara filsafat maupun dalam praktik hidup mereka, tetapi juga karena ada orang yang memiliki pengertian yang salah tentang Allah. Itulah sebabnya kita harus memberitakan kebenaran tentang Allah, dan hal ini sangat penting. Pada pembahasan yang lalu, pertama-tama kita mengajukan pertanyaan, "Benarkah Dia ada? Apakah Allah itu ada?" Dan kita melihat bahwa akal budi, penyataan Allah, dan pengalaman manusia sama-sama memberikan kesaksian bahwa Allah itu ada.
Kemudian kita bertanya, "Siapakah Dia?" Kita menemukan bahwa Allah adalah Roh. Dia adalah Pribadi. Dia memiliki kepribadian. Dia bukan sekadar energi yang melayang-layang. Dia adalah Pribadi. Dia adalah satu Allah, namun di dalam satu Allah itu ada tiga Pribadi. Jadi, Dia adalah Roh, Pribadi, dan tiga di dalam satu. Setelah itu kita mulai masuk ke pokok ketiga, yaitu, "Seperti Apakah Dia?" Seperti apakah Pribadi yang ada, yang adalah Roh, dan yang tiga di dalam satu itu? Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat bagaimana Dia menyatakan diri-Nya di dalam kitab ini. Penyataan Allah itu kita kelompokkan ke dalam apa yang disebut sebagai atribut-atribut Allah. Atribut-atribut Allah adalah penjelasan tentang karakter Allah yang telah Dia nyatakan sendiri kepada kita melalui Kitab Suci. Sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang atribut-atribut-Nya—yang mana pada pertemuan lalu kita sudah mulai membahas salah satunya, dan pagi ini kita akan membahas beberapa lagi, tentu hanya yang paling mendasar—izinkan saya menyampaikan satu hal terlebih dahulu. Pada dasarnya, Allah tidak dapat dipahami sepenuhnya. Karena itu, apa pun yang kita mengerti tentang Allah, pemahaman kita selalu sangat terbatas. Kita hanya melihat puncak gunung es. Masih ada begitu banyak hal tentang Allah yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Kita tidak akan pernah sanggup menjangkaunya. Semua itu jauh melampaui kemampuan kita. Sebagai contoh, Allah itu tidak terbatas. Tidak ada akhir bagi Allah. Karena itu, pembahasan singkat selama setengah jam tentang satu topik saja sama sekali tidak cukup untuk menggambarkan hakikat Pribadi Allah yang sesungguhnya.
Allah tidak dapat dipahami sepenuhnya. Saya rasa itulah sebabnya kita mengajukan pertanyaan, "Seperti apakah Allah itu?" dan bukan, "Apakah Allah itu?" Sebab ketika kita bertanya, "Apakah Allah itu?" kita memasuki wilayah yang sangat sulit dijelaskan. Tetapi jika kita bertanya, "Seperti apakah Dia?" maka ada beberapa hal yang kita kenal, dan dalam beberapa hal Allah dapat digambarkan seperti itu. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kita berusaha membuat Allah terlalu mirip dengan apa yang kita pahami. Misalnya, kita melihat kasih manusia, lalu ketika kasih Allah tidak bekerja seperti kasih manusia, kita menyimpulkan bahwa Allah tidak mengasihi. Padahal, itu berarti kita menjadikan kasih manusia sebagai ukuran kasih yang mutlak dan tidak terbatas, lalu menilai Allah berdasarkan ukuran itu. Itulah cara berpikir yang keliru. Memang ada beberapa hal yang dapat menggambarkan Allah. Itulah sebabnya Alkitab berbicara tentang rupa atau penampakan-Nya. Ketika Yehezkiel menceritakan penglihatannya, ia berkata, "Yang tampak itu seperti rupa atau gambaran seorang manusia." Dengan kata lain, Allah dapat digambarkan "seperti" sesuatu, tetapi tidak persis sama.
Karena Allah tidak dapat dipahami sepenuhnya, sering kali kita hanya bisa menjelaskan Dia dengan menyatakan apa yang bukan diri-Nya. Maksud saya bukan bahwa kita berbicara secara negatif tentang Allah, tetapi bahwa untuk mendefinisikan Allah, kita sering kali harus mengatakan apa yang tidak ada pada-Nya. Sebagai contoh, ketika kita mengatakan bahwa Allah itu kudus, maksudnya adalah bahwa Dia sama sekali tidak memiliki dosa. Kita harus memahaminya seperti itu, karena kita tidak pernah benar-benar dapat membayangkan kekudusan yang mutlak. Yang kita kenal justru adalah dosa. Jadi, bagi kita, kekudusan berarti tidak berdosa. Mengerti maksud saya? Demikian juga ketika kita mengatakan bahwa Allah tidak terbatas, kita memahaminya sebagai Allah yang tidak memiliki batas apa pun. Kita memahami apa itu keterbatasan, sehingga kita hanya bisa mengatakan bahwa Allah tidak memilikinya. Karena itu, sering kali kita harus menggunakan bentuk penjelasan seperti itu, sebab kita hidup di dunia yang penuh batas, penuh keterikatan, dan sangat berbeda dengan Allah. Jadi kita hanya bisa berkata bahwa Allah "seperti" sesuatu, tetapi pada saat yang sama Dia tidak sama dengan apa pun yang kita pahami. Kalau sampai di sini Saudara merasa sedikit bingung, tidak apa-apa.
Seseorang pernah bertanya kepada saya ketika saya memulai seri singkat ini, yang sebenarnya hanya selingan dari pembahasan kita tentang kitab 1 Korintus, apakah saya akan membahas semua atribut Allah. Saya menjawab, "Tidak." Alasannya sederhana, karena saya sendiri tidak mengetahui semuanya. Orang itu lalu bertanya lagi, "Bukankah atribut Allah ada sebelas, atau tiga belas, atau berapa?" Saya menjawab, "Bukan begitu." Inilah yang saya yakini. Saya percaya bahwa Allah adalah Pribadi yang tidak terbatas, dan sangat mungkin Dia memiliki atribut yang juga tidak terbatas jumlahnya. Saya tidak yakin bahwa semua atribut Allah yang saya ketahui adalah seluruh kebenaran tentang Dia. Coba pikirkan ini sebagai contoh. Atribut Allah adalah segala sesuatu yang benar tentang karakter-Nya. Apa pun yang benar mengenai karakter Allah adalah atribut-Nya. Nah, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya dapat mengetahui semua hal yang benar tentang Allah. Jika Allah itu tidak terbatas, maka kebenaran tentang Dia juga tidak terbatas. Atribut-atribut-Nya pun tidak terbatas. Dan saya tidak memiliki kemampuan untuk memahami semua yang tidak terbatas itu. Saya juga tidak perlu memahaminya seluruhnya. Saya hanya perlu memahami sebagian darinya.
Baiklah, sekarang mari kita melihat beberapa atribut Allah yang lain. Pada pembahasan sebelumnya kita baru membahas yang pertama, yaitu bahwa Allah tidak berubah. Perhatikan bahwa ini juga merupakan ungkapan yang bersifat negatif. Ketika kita mengatakan bahwa Allah selalu tetap sama, kita menjelaskannya dengan berkata bahwa Dia tidak berubah. Kita harus menggunakan bentuk negatif seperti itu karena yang kita pahami hanyalah perubahan. Jadi, kita mengatakan bahwa Allah tidak seperti kita. Dia tidak berubah. Dalam Maleakhi 3:6 Allah berfirman, "Aku, TUHAN, tidak berubah." Yakobus 1:17 juga berkata bahwa pada-Nya "tidak ada perubahan ataupun bayangan karena pertukaran." Dan kita telah melihat bahwa kebenaran ini memberikan penghiburan, rasa aman, dan perlindungan yang besar bagi orang percaya. Namun di sisi lain, bagi orang yang tidak percaya, doktrin ini justru menakutkan. Ini adalah doktrin tentang penghakiman, tentang murka Allah terhadap dosa yang tidak pernah berubah.
Sekarang mari kita melihat atribut yang kedua sebagai pembahasan kita hari ini. Atribut kedua Allah yang ingin saya ajak Saudara renungkan—dan saat ini kita sedang membahas atribut-atribut Allah yang mutlak, yaitu sifat-sifat yang melekat pada hakikat-Nya sendiri. Minggu depan kita akan membahas atribut-atribut yang berkaitan dengan hubungan-Nya dengan kita, seperti kasih karunia, belas kasihan, dan kasih. Nah, atribut yang kedua adalah bahwa Allah hadir di mana-mana pada setiap waktu. Dalam teologi, hal ini disebut kemahahadiran Allah atau omnipresence. Allah hadir di mana-mana pada saat yang sama. Saya harap Saudara benar-benar memperhatikan, karena pembahasan ini bisa membuat pikiran kita berputar jika tidak mengikutinya dengan saksama. Beberapa pemikiran ini begitu jauh melampaui kemampuan kita untuk memahaminya, sehingga kita perlu berusaha keras untuk mengikutinya. Allah berada di mana-mana pada saat yang sama. Allah itu tidak terbatas. Tidak ada ujung bagi Allah. Keberadaan-Nya memenuhi seluruh alam semesta yang tanpa batas. Sungguh luar biasa. Dalam Yeremia 23:24 Tuhan berfirman, "Bukankah Aku memenuhi langit dan bumi?" Dalam 1 Raja-raja 8:27 dikatakan, "Benarkah Allah hendak tinggal di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit segala langit pun tidak dapat memuat Engkau." Lalu Salomo menambahkan, "Terlebih lagi rumah yang kudirikan ini." Sebagaimana Allah telah ada sebelum segala sesuatu dan akan tetap ada sesudah segala sesuatu, demikian pula Dia berada di dalam segala sesuatu dan juga di luar segala sesuatu. Dia ada di mana-mana. Tidak ada batas bagi-Nya. Allah tidak terbatas. Saudara tidak akan pernah menemukan ujung dari Allah, karena memang tidak ada ujungnya. Dia tidak memiliki batas apa pun.
Menarik sekali bahwa sepanjang sejarah, manusia sering kali berusaha membatasi Allah. Bahkan banyak orang Yahudi yang kurang memahami kebenaran, atau yang memilih untuk tetap tidak mengerti, mencoba membayangkan Allah sebagai Pribadi yang terbatas pada suatu tempat. Banyak di antara mereka mengira bahwa Allah benar-benar tinggal di dalam Bait Allah. Mereka berpikir di situlah tempat tinggal-Nya, seolah-olah Allah sama seperti dewa-dewa palsu. Itulah sebabnya Salomo berkata dalam 1 Raja-raja 8:27 bahwa Allah tidak tinggal di rumah itu. Bait Allah memang akan menjadi tempat takhta kemuliaan-Nya di bumi untuk sementara waktu. Tempat itu menjadi lambang kehadiran-Nya. Tetapi hakikat Allah sendiri tidak tinggal di sana. Ingatlah baik-baik, lambang kehadiran Allah tidak pernah menjadi penjara bagi hakikat keberadaan-Nya.
Sepanjang sejarah, orang-orang Yahudi juga pernah dituduh hanya menyembah Allah Israel sebagai dewa pegunungan. Sementara itu, orang-orang Siria percaya bahwa mereka memiliki dewa lembah. Jadi, menurut anggapan itu, orang Yahudi memiliki dewa pegunungan, sedangkan orang Siria memiliki dewa lembah. Orang Siria melakukan ibadah mereka di lembah, sementara orang Yahudi selalu pergi ke pegunungan. Bahkan orang Siria berkata, "Orang Yahudi mengira Allah mereka berada di pegunungan atau di atas pegunungan. Itulah sebabnya mereka naik ke puncak-puncak bukit untuk mempersembahkan kurban agar lebih dekat kepada-Nya, kalau-kalau Dia memang berada di atas sana." Kalau kita melihat sejarah bangsa Israel, memang benar mereka sering melakukan banyak hal di pegunungan, bukan? Ada Gunung Horeb atau Sinai, Gunung Gerizim, dan Yerusalem yang juga berada di atas gunung. Para nabi sering naik ke gunung. Yesus pun naik ke gunung untuk berdoa, dan Dia juga pergi ke Bukit Zaitun. Karena itulah sebagian pengkritik menyimpulkan bahwa bangsa Israel hanya menyembah dewa pegunungan, bukan Allah yang juga berkuasa di lembah. Menurut mereka, dewa lembah adalah dewa yang lain. Padahal anggapan itu tidak benar. Di dalam Perjanjian Lama kita juga menemukan banyak peristiwa ketika umat Allah menyembah-Nya di lembah, sama banyaknya, atau mungkin hampir sama banyaknya, dengan penyembahan yang dilakukan di pegunungan.
Ada juga orang yang beranggapan bahwa Allah tinggal di surga dan terbatas hanya di sana. Saya rasa, sadar atau tidak, banyak orang Kristen juga memiliki gambaran seperti itu. Ketika memikirkan Allah, kita membayangkan Dia berada jauh di atas sana, di suatu tempat yang dipenuhi awan, duduk di atas takhta yang besar dan bercahaya, seolah-olah berada di sebuah istana surgawi yang sangat jauh. Padahal Allah ada di mana-mana. Orang-orang Yahudi yang benar-benar memahami Firman Tuhan mengetahui hal itu, demikian juga orang-orang yang berhikmat. Allah hadir di mana-mana. Nah, bukankah hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan? Ya, memang. Dan saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertama, ada yang berkata, "Kalau Allah ada di mana-mana, berarti Dia menjadi tidak suci karena bersentuhan dengan hal-hal yang najis. Kalau Allah ada di dunia ini, bukankah Dia juga bersentuhan dengan kenajisan?" Jawaban saya adalah demikian. Allah hadir di semua tempat dan di dalam segala sesuatu. Dia ada di dalam hati orang berdosa untuk menyelidiki dan menyadarkan mereka akan dosa. Dia juga hadir di neraka melalui tindakan penghakiman-Nya, sebab Dialah yang berkuasa membinasakan jiwa dan tubuh di dalam neraka. Hakikat keberadaan Allah ada di mana-mana, tetapi tidak pernah bercampur dengan kenajisan apa pun. Sebagai gambaran, Allah dapat diibaratkan seperti sinar matahari. Sinar matahari bisa menyinari tumpukan kotoran di sebuah ladang, tetapi tumpukan kotoran itu tidak pernah dapat menularkan kenajisannya kepada sinar matahari. Demikian juga dengan Allah. Allah tetap adalah diri-Nya sendiri. Dia tidak pernah bercampur dengan apa pun, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencemarkan-Nya. Dia sendiri adalah penangkal terhadap segala kejahatan. Sebagai contoh, Yesus datang ke dunia ini dan hidup di tengah-tengah manusia. Namun ketika seluruh kehidupan-Nya selesai dijalani, Alkitab berkata bahwa "di dalam Dia tidak ada dosa." Dia hidup di tengah manusia, tetapi sama sekali tidak tercemar oleh mereka. Demikian pula Allah. Seperti Yesus, dan seperti sinar matahari, Dia dapat menjangkau apa pun tanpa pernah menjadi tercemar olehnya. Allah sendiri adalah penangkal terhadap segala kejahatan.
Lalu ada juga yang bertanya, "Kalau Allah hadir di mana-mana setiap saat, mengapa Alkitab kadang mengatakan bahwa Dia dekat dengan seseorang, sementara di bagian lain dikatakan bahwa Dia jauh dari seseorang?" Memang Alkitab mengatakan demikian. Misalnya, dalam Yesaya 55:6 dikatakan bahwa Dia dekat kepada orang yang mencari-Nya, sementara di bagian lain dalam Perjanjian Lama, mengenai bangsa Israel, dikatakan bahwa Dia jauh dari mereka. Jadi, bagaimana mungkin Allah bisa dekat sekaligus jauh? Untuk memahaminya, kita perlu melihat Allah dari dua sisi, yaitu hakikat keberadaan-Nya dan hubungan-Nya dengan manusia. Allah hadir di mana-mana dalam hakikat keberadaan-Nya, tetapi secara hubungan Dia hadir secara khusus di tempat-tempat tertentu. Dengan kata lain, kehadiran Allah ada di mana-mana dalam hakikat-Nya. Tapi secara hubungan, Dia hadir secara khusus di dalam kehidupan orang-orang yang menjadi milik-Nya. Gambaran sederhananya seperti ini. Pagi ini kita semua ada di ruangan ini. Saya juga ada di sini. Keberadaan saya memenuhi ruangan ini. Suara saya memantul ke seluruh ruangan. Kehadiran saya, dalam arti tertentu, mendominasi situasi ini. Kita semua sama-sama berada di sini. Dalam arti keberadaan, saya hadir di sini. Pagi ini Saudara sedang melihat dan mendengar John MacArthur.
Tetapi secara hubungan, saya memiliki ikatan khusus dengan tiga atau empat orang yang duduk di barisan depan—istri saya, anak-anak saya, anggota keluarga saya yang lain, dan beberapa orang di antara Saudara yang adalah kerabat atau sahabat dekat keluarga kami. Dalam hubungan itu, saya memiliki arti yang khusus bagi orang-orang tertentu. Tetapi dalam arti keberadaan, saya hadir bagi semua orang di ruangan ini. Demikian juga dengan Allah. Dalam hakikat keberadaan-Nya, Dia ada di mana-mana. Tetapi dalam hubungan-Nya dengan manusia, Dia tinggal di dalam hati anak-anak-Nya sendiri. Bukankah Perjanjian Baru juga mengajarkan hal ini? Bukankah ketika kita menjadi orang Kristen, Kristus tinggal di dalam kita? Bukankah Efesus 3 mengatakan bahwa Allah memenuhi kita dengan seluruh kepenuhan-Nya? Dan Efesus 5 berbicara tentang Roh Kudus yang memenuhi kita. Dalam kitab Kolose juga dikatakan, "Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan." Ketika Allah tinggal di dalam kita secara hubungan, itu berbeda dengan kehadiran-Nya di dalam kita dalam hakikat keberadaan-Nya. Tetapi ingatlah, Allah sudah lebih dahulu hadir dalam hakikat-Nya sebelum Dia tinggal di dalam kita melalui hubungan itu, sebab terlebih dahulu Dia harus menginsafkan kita akan dosa dan menyelamatkan kita. Jadi, Allah ada di mana-mana, setiap saat. Dia tidak perlu pergi ke suatu tempat, karena Dia memang sudah ada di mana-mana.
Mungkin ada yang bertanya, "Kalau begitu, apa maksud Kejadian 11 ketika dikatakan bahwa Allah turun dari surga untuk melihat kota itu?" Maksudnya bukan bahwa Allah harus berpindah tempat. Itu hanya berarti bahwa Allah memberikan perhatian-Nya secara khusus kepada kota tersebut. Allah tidak perlu datang ke suatu tempat, karena Dia sudah hadir di mana-mana. Dia hadir di mana-mana dalam hakikat keberadaan-Nya, dan Dia tinggal di dalam kehidupan anak-anak-Nya melalui hubungan yang khusus dengan mereka. Demikian juga ketika Perjanjian Lama mengatakan bahwa Allah berdiam di antara sayap-sayap kerubim di atas tabut perjanjian, atau bahwa Dia berdiam di dalam Bait Allah. Apa artinya? Artinya adalah, seperti yang dijelaskan Salomo, Allah menetapkan tempat-tempat tertentu sebagai lambang takhta kemuliaan-Nya. Untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia, Dia menetapkan Bait Allah sebagai lambang kehadiran -Nya.
Pada zaman sekarang, takhta Allah dinyatakan melalui gereja, yaitu kehidupan orang-orang percaya. Kelak, pada masa Kerajaan Seribu Tahun, takhta Allah akan dinyatakan melalui takhta di Yerusalem, tempat Kristus memerintah. Di surga, takhta itu digambarkan melalui takhta yang kita lihat dalam Wahyu pasal 4 dan 5. Semua itu hanyalah simbol. Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, simbol kehadiran Allah tidak pernah menjadi penjara bagi hakikat keberadaan-Nya. Allah hadir di mana-mana. Saudara, ketika kita benar-benar merenungkan bahwa Allah ada di mana-mana, itu adalah sebuah kebenaran yang sangat luar biasa. Dan Dia tidak pernah bercampur dengan apa pun. Tidak ada sesuatu yang dapat mencemarkan-Nya. Tidak ada apa pun yang dapat memengaruhi atau mengubah karakter-Nya sedikit pun. Allah menciptakan seluruh ciptaan, dan Dia hadir di tengah ciptaan-Nya tanpa sedikit pun dipengaruhi oleh ciptaan itu.
Lalu, apa arti doktrin ini jika diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Mari kita melihatnya terlebih dahulu dari sudut pandang orang percaya. Apa artinya bagi saya sebagai orang Kristen mengetahui bahwa Allah selalu hadir dalam hidup saya? Dia selalu ada—baik dalam hakikat keberadaan-Nya maupun secara pribadi melalui hubungan-Nya dengan saya. Pertama, itu memberikan penghiburan. Ketika saya menyadari bahwa Allah selalu ada, itu menjadi sumber penghiburan yang besar. Apa pun yang sedang saya alami, Allah ada di sana. Dan entah saya menyadari kehadiran-Nya atau tidak, Dia tetap ada. Saya tahu ada saat-saat dalam hidup ketika kita berseru, "Tuhan, Engkau di mana? Rasanya Engkau begitu jauh." Tetapi sebenarnya Dia tidak pernah lebih jauh daripada sebelumnya. Dia selalu ada. Dalam Ibrani 13, Dia berkata, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Jika Allah sudah mengatakan demikian, itulah yang Dia maksudkan, karena Dia tidak mungkin berdusta. Allah tidak pernah meninggalkan kita.
Dalam Filipi 4:5-6, pada akhir ayat 5 dikatakan, "Tuhan sudah dekat." Karena itu, "janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun." Jangan khawatir, karena Dia ada di sana. Itulah maksudnya. Ayat ini bukan sedang berbicara tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, melainkan tentang kenyataan bahwa Kristus, Allah, Tuhan, hadir bersama kita. Dia selalu ada. Sadarilah hal itu. Inilah salah satu atribut-Nya. Inilah karakter-Nya. Mungkinkah seorang Kristen dipisahkan dari Allah? Tidak. Tidak ada satu pun makhluk di seluruh alam semesta yang dapat dipisahkan dari Allah dalam hakikat keberadaan-Nya. Dan bagi orang percaya, ia juga tidak mungkin dipisahkan dari Allah dalam hubungan pribadinya dengan-Nya. Allah selalu hadir. Contohnya Henokh. Ia hidup dalam hadirat Allah. Suatu hari ia berjalan bersama Allah, dan mereka terus berjalan bersama, sampai akhirnya Henokh masuk ke surga. Persekutuan itu tidak pernah terputus. Itulah gambaran kehidupan orang percaya. Allah menyertai kita saat ini sama seperti Dia akan menyertai kita selama-lamanya dalam kekekalan. Dia tinggal di dalam kita. Dan itulah penghiburan yang sejati.
Kedua—dan ini adalah kebenaran yang sangat luar biasa—penerapan praktis dari kemahahadiran Allah adalah penyertaan dan dukungan. Bukan hanya penghiburan, tetapi juga dukungan. Ketika Allah memanggil Musa menjadi nabi yang Dia kehendaki, untuk menyampaikan firman-Nya dan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan, Musa berkata kepada Allah dalam Keluaran 4, "Tetapi aku tidak pandai berbicara. Aku tidak bisa berkata-kata." Saudara tentu ingat kisah itu. Lalu Allah menjawab, "Aku akan menolong lidahmu berbicara." Bukankah itu luar biasa? Itulah salah satu penerapan nyata dari kehadiran Allah. "Aku akan menolong lidahmu berbicara." Jadi, ketika kita mengatakan bahwa Allah hadir, itu bukan berarti Dia hanya berdiri mengawasi kita, lalu setiap kali kita berbuat salah, Dia langsung menghukum kita. Bukan begitu. Artinya, Dia hadir untuk mendukung kita dalam pelayanan kita. Dengarkan ini. Kita semua mengenal Matius 28 ketika Yesus berkata, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa." Tahukah Saudara, perkataan itu muncul dalam konteks apa? Dengarkan baik-baik: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil, jadikan semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka... dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa." Dalam bagian itu, penyertaan-Nya bukan terutama berbicara tentang penghiburan, tetapi tentang dukungan dalam pelayanan.
Sering kali orang berkata, "Saya tidak tahu apakah saya mampu bersaksi. Saya tidak yakin punya kemampuan untuk memberitakan Injil." Lalu mereka berharap pendeta yang melakukannya. Mereka berkata, "Pak Pendeta saja yang datang dan berbicara." Padahal kenyataannya, sering kali justru lebih sulit bagi saya. Biasanya mereka tidak mau mendengarkan saya. Howard Hendricks pernah berkata, "Perbedaan antara saya dan Saudara adalah saya seorang penjual yang dibayar, sedangkan Saudara adalah pelanggan yang puas." Dengan kata lain, saya dibayar untuk melakukan pekerjaan ini, sedangkan Saudara melakukannya karena telah mengalami sendiri kebaikan Tuhan. Intinya adalah, sumber kuasa yang saya miliki juga dimiliki oleh Saudara. Kuasa Allah tersedia bagi kita semua. Allah berkata, " Aku akan menolong lidahmu berbicara." Jadi, pergilah, beritakan Injil, jadikanlah murid, baptislah mereka, dan Aku akan menyertai kamu. Itu bukan sekadar janji penghiburan. Itu adalah janji dukungan dalam pelayanan. Saudara, doktrin tentang kemahahadiran Allah memiliki arti yang sangat penting secara praktis bagi kehidupan orang percaya.
Ketiga, kemahahadiran Allah menjadi perlindungan terhadap pencobaan. Tahukah Saudara, setiap kali Iblis ingin menyerang saya, ia harus melewati Allah terlebih dahulu? Dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan, " Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Intinya adalah, Allah berkata, "Tidak akan ada pencobaan yang datang kepadamu tanpa Aku juga memberikan kekuatan untuk menghadapinya." Dan Saudara, ukuran itu berbeda bagi setiap orang percaya, karena tingkat kedewasaan rohani setiap orang juga berbeda. Pencobaan yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda pada orang yang berbeda. Apa yang mungkin membuat orang lain jatuh, belum tentu membuat Saudara jatuh. Tetapi pada setiap tingkat pertumbuhan rohani masing-masing, Allah hadir untuk melindungi orang percaya dari pencobaan yang melampaui kemampuannya. Betapa luar biasanya janji itu. Allah hadir untuk membela kita ketika menghadapi pencobaan.
Keempat, dari sudut pandang praktis, doktrin tentang kemahahadiran Allah menjadi pendorong untuk hidup kudus. Menyadari bahwa Allah selalu hadir berarti menyadari bahwa apa pun yang kita lakukan, kita melakukannya di hadapan-Nya. Ketika Saudara berbuat dosa, baik itu dosa dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan, semuanya dilakukan di hadapan Allah. Coba renungkan dari sudut ini. Kebanyakan dari kita lebih suka berbuat dosa ketika tidak ada orang yang melihat. Mungkin kita tidak terlalu peduli jika ada anggota keluarga atau orang-orang tertentu yang sudah mengetahui kelemahan kita. Tetapi di luar itu, kita biasanya ingin melakukannya secara diam-diam. Misalnya, dalam perjalanan hidup saya, saya beberapa kali bertemu dengan orang-orang Kristen yang saya kenal, tepat ketika mereka sedang melakukan sesuatu yang membuat mereka sangat malu. Saya malah pernah melihat orang bergerak begitu cepat untuk menutupi apa yang sedang dilakukannya. Memang belum cukup cepat, tetapi tetap cepat. Lalu mereka berkata, "Oh... John... begini..." Hal seperti itu cukup sering terjadi pada saya. Sebenarnya bukan itu intinya. Bukan berarti saya menangkap basah seseorang melakukan sesuatu lalu itu menjadi persoalan besar. Siapalah saya sehingga kehadiran saya begitu penting? Tetapi coba sadari hal ini. Setiap kali Saudara berbuat dosa, seolah-olah Saudara naik menembus awan, berdiri tepat di depan takhta Allah, lalu melakukan dosa itu di hadapan-Nya. Itulah kenyataannya. Apa pun yang Saudara lakukan, Saudara melakukannya di hadapan Allah. Ini adalah pemikiran yang sangat serius.
Ketika akhirnya kehidupan Daud dipulihkan, dasar integritas hidupnya adalah keyakinan ini: "Segala jalanku ada di hadapan-Nya. Aku tidak bisa melakukan hal itu, karena Dia ada di sana." Demikian juga dengan Ayub. Apa dasar integritas hidupnya? Dalam Ayub 31:4 ia berkata, "Bukankah Allah yang melihat jalanku?" Allah melihat semuanya. Integritas saya dibangun di atas kesadaran bahwa apa pun yang saya lakukan, saya melakukannya di hadapan-Nya. Itulah maksud Amsal ketika berkata, "Akuilah Dia dalam segala lakumu." Artinya, dalam segala sesuatu yang Saudara lakukan, sadarlah bahwa Dia hadir. Kesadaran itu sendiri akan menuntun langkah-langkah Saudara. Pada dasarnya, menjalani kehidupan Kristen berarti mengatur seluruh hidup kita dengan kesadaran bahwa semuanya dilakukan di hadapan Allah, karena memang demikianlah kenyataannya. Ada banyak hal yang tidak akan kita lakukan jika ada orang jahat yang sedang memperhatikan. Ada juga banyak hal yang tidak akan kita lakukan jika ada orang saleh yang sedang melihat. Namun itu semua hanyalah permulaan. Yang seharusnya tidak pernah kita lakukan adalah apa pun yang tidak berani kita lakukan seandainya kita berdiri di hadapan Allah sendiri, di depan takhta surga. Jadi, bagi orang percaya, doktrin tentang kemahahadiran Allah memiliki arti yang sangat penting.
Lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya? Apa arti doktrin ini bagi mereka? Bagi orang yang tidak percaya, sama pentingnya untuk memahami bahwa Allah hadir di mana-mana. Mazmur 21:8 berkata, "Tangan-Mu akan menjangkau semua musuh-Mu." Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Orang yang hidup dalam kejahatan tidak memiliki tempat persembunyian. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada tempat di mana ia dapat menghindar.
Amos pasal 9 memberi kita pemahaman tentang hal ini, demikian juga kitab Obaja yang ada sesudahnya. Mari saya bacakan Amos 9:2, "Sekalipun mereka menggali sampai ke dunia orang mati, dari sana pun tangan-Ku akan mengambil mereka. Sekalipun mereka naik ke langit, dari sana juga akan Kuturunkan mereka. Sekalipun mereka bersembunyi di puncak Karmel, Aku akan melacak dan mengambil mereka dari sana. Sekalipun mereka bersembunyikan diri di dasar laut dari mata-Ku, Aku akan memerintahkan ular untuk memagut mereka di sana. Sekalipun mereka berjalan sebagai tawanan di depan musuhnya, Aku akan memerintahkan pedang untuk menewaskan mereka di sana. Aku akan mengarahkan mata-Ku kepada mereka untuk malapetaka dan bukan untuk kebaikan." Allah berkata, "Ke mana pun mereka pergi, Aku akan menemukan mereka." Demikian juga dalam Obaja ayat 4, "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sana pun Aku akan menurunkan engkau." Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Orang yang tidak mengenal Allah harus menyadari bahwa sekeras apa pun ia berusaha melarikan diri, tetap tidak ada jalan keluar. Mungkin ia memutuskan tidak mau pergi ke gereja, tidak mau membaca Alkitab, menghindari setiap pembicaraan tentang hal-hal rohani, bahkan berusaha menghapus Allah dari pikirannya. Ia mungkin tidak mau memikirkan Allah, tetapi Allah tetap memusatkan perhatian-Nya kepada dia.
Dalam Ayub pasal 26 dikatakan, "Arwah-arwah di bawah menggeletar, demikian juga air dan penghuninya. Dunia orang mati terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaan pun tidak ada tutupnya." Kehadiran Allah yang ada di mana-mana membuat segala sesuatu terbuka di hadapan-Nya. Kemudian dalam Ayub 34:21 dikatakan, "Karena mata-Nya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya. Tak ada kegelapan atau kelam pekat di mana orang yang melakukan kejahatan dapat bersembunyi." Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Amsal 15:11 berkata, "Dunia orang mati dan kebinasaan terbuka di hadapan TUHAN, terlebih lagi hati anak manusia." Jika Allah dapat melihat segala sesuatu di seluruh alam semesta, terlebih lagi Dia dapat melihat isi hati manusia. Dalam Mazmur 139, Daud berkata, "Ke mana aku dapat pergi? Jika aku terbang, jika aku pergi ke tempat yang paling jauh, Engkau tetap ada di sana." Lalu ia berkata, "Sekalipun aku terbang dengan sayap fajar..." Maksudnya, sekalipun aku melaju secepat sinar matahari, sekitar 186.000 mil per detik, dan hanya membutuhkan delapan menit untuk mencapai matahari, aku tetap tidak dapat melarikan diri dari Allah.
Seorang pencuri mencuri karena ia merasa tidak ada yang melihat. Seorang pezina berzina karena ia mengira tidak ada yang mengetahui. Seorang pendusta berdusta karena ia berpikir tidak seorang pun akan mengetahuinya. Tetapi Allah tahu. Hanya karena Allah tidak kelihatan bukan berarti Dia tidak hadir. Allah tidak pernah terlelap dan tidak pernah tidur. Dalam Ibrani 4:13 terdapat sebuah pernyataan yang sangat kuat: "Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban." Segala sesuatu terlihat oleh Allah. Dalam Yesaya 65:12 Allah berkata, "Kamu melakukan apa yang jahat di mata-Ku." Amsal 15:3 berkata, "Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik." Allah mengetahui segala sesuatu. Dia hadir di mana-mana. Allah tidak berubah, dan Allah hadir di mana-mana.
Ketiga, Allah itu Mahakuasa. Ini adalah sebuah konsep yang sangat luar biasa. Allah kita adalah Allah yang Mahakuasa. Lalu, apa artinya? Artinya, sekali lagi kita harus menggunakan bentuk penjelasan yang bersifat negatif—tidak ada satu pun yang tidak dapat Dia lakukan. Kuasa-Nya tidak memiliki batas. Dalam Ayub 9:19 dikatakan, "Jika tentang kekuatan, Dialah yang paling kuat!" Allah juga disebut El Shaddai. El adalah nama Allah, sedangkan Shaddai berarti Mahakuasa. Jadi, Dia adalah Allah Yang Mahakuasa. Dalam Wahyu 19:6 dikatakan, "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi Raja." Dia penuh kuasa. Dia kuat. Pemazmur berkata, "Kuasa adalah milik TUHAN." Nah, ketika kita mengatakan bahwa Allah Mahakuasa, inilah yang kita maksud—perhatikan baik-baik. Kuasa Allah tidak memiliki batas. Dia dapat melakukan apa saja—apa saja. Dan dengarkan ini. Bagi Allah, melakukan satu hal tidak lebih sulit daripada melakukan hal yang lain. Mengerti maksudnya? Bagi Allah, menciptakan seluruh alam semesta tidak lebih sulit daripada menciptakan seekor kupu-kupu. Sama sekali tidak lebih sulit. Dia dapat melakukan apa saja, dan Dia melakukan semuanya dengan kemudahan yang sama. Mungkin Saudara bertanya, "Dari mana kesimpulan itu?" Karena Allah tidak perlu mengerahkan tenaga untuk melakukan apa pun. Mungkin Saudara berkata lagi, "Maksudnya, Allah sama sekali tidak perlu berusaha?" Benar. Sama sekali tidak.
Sebagai gambaran, setiap Minggu pagi ketika saya bangun, saya sadar bahwa hari itu saya akan mengeluarkan banyak tenaga. Saya akan berdiri di depan jemaat, bergerak ke sana kemari, mengayunkan tangan, berbicara dengan suara keras selama kira-kira tiga jam. Itu membutuhkan banyak tenaga, bahkan lebih banyak daripada yang mungkin Saudara bayangkan. Pikiran saya bekerja dengan sangat cepat, dan tubuh juga menghabiskan banyak energi. Karena itu, setiap Minggu pagi saya minum minuman berprotein, mengonsumsi vitamin, lalu bersiap memulai pelayanan. Tetapi setelah selesai, terutama setelah kebaktian ketiga, ketika saya pulang ke rumah, saya benar-benar kelelahan. Saya berkata kepada istri saya, "Patricia, saya perlu makan." Saya harus mengisi kembali tenaga saya. Mengapa? Karena energi yang saya miliki sudah terkuras dan harus dipulihkan kembali. Tetapi Allah tidak pernah perlu memulihkan tenaga-Nya. Tidak ada sumber di luar diri-Nya yang dapat memberi-Nya kekuatan. Mau ke mana Dia harus pergi untuk mendapatkannya? Dia sudah hadir di mana-mana. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar Allah.
Dalam Yesaya 40:28 dikatakan bahwa "TUHAN tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu." Artinya, Allah tidak pernah kehilangan tenaga. Kuasa-Nya tidak pernah berkurang. Karena itu, Allah dapat melakukan apa saja. Dia dapat melakukan apa pun dengan kemudahan yang sama seperti Dia melakukan hal lainnya. Dan yang ketiga, Dia dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Tahukah Saudara akan hal itu? Allah bukan hanya memiliki kuasa, tetapi juga memiliki hak untuk menggunakan kuasa itu. Dia bukan hanya sanggup melakukan apa saja, tetapi juga berhak melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Kuasa sebesar itu selalu disertai dengan otoritas untuk menggunakannya. Perhatikan baik-baik: kuasa Allah, otoritas Allah, dan kehendak Allah semuanya selalu selaras dengan natur-Nya. Allah dapat melakukan apa saja. Dia memiliki kuasa dan hak untuk melakukannya. Dan apa pun yang Dia kehendaki, Dia akan melakukannya dengan kuasa dan hak yang dimiliki-Nya. Tetapi Allah hanya menghendaki hal-hal yang sesuai dengan diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya, misalnya, Allah tidak dapat berdusta. Dia tidak dapat menerima dosa. Dia tidak dapat berkenan kepada orang berdosa yang tidak mau bertobat. Dia tidak dapat menghukum orang yang tidak bersalah. Allah tidak dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hakikat diri-Nya, karena kehendak-Nya selalu sejalan dengan siapa diri-Nya. Namun, Allah dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Mazmur 115:3 berkata, "Allah kita ada di surga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya."
Kadang-kadang orang bertanya, "Mengapa Allah melakukan hal itu?" Dan sering kali saya menjawab, "Karena Dia menghendakinya." Lalu orang berkata, "Jawaban itu tidak memuaskan." Sebenarnya, itu karena mereka belum memahami siapa Allah. Allah dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Dalam Roma pasal 9, ketika Paulus membahas tentang pemilihan Allah, tentang orang-orang yang dipilih untuk menerima keselamatan, tentang Firaun, tentang Yakub dan Esau, dan berbagai hal lainnya, sering kali muncul pertanyaan, "Allah, mengapa Engkau melakukan itu?" Lalu Paulus menjawab, "Siapakah engkau? Masakan bejana akan bangkit dan bertanya kepada pembuatnya mengapa ia dibentuk seperti itu?" Itu adalah hak pembuat bejana. Karena itu, jangan mempertanyakan hak Allah. Allah dapat melakukan apa saja. Dia dapat melakukan apa pun dengan kemudahan yang sama seperti Dia melakukan hal lainnya. Dan Dia dapat melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Tetapi Dia hanya menghendaki apa yang sesuai dengan natur-Nya, dan Dia tidak pernah bertindak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Allah tidak dapat berdusta. Dia tidak dapat mengasihi dosa. Dia tidak dapat melanggar firman-Nya sendiri. Dia tidak dapat melupakan apa yang telah Dia lakukan. Kehendak Allah selalu merupakan kehendak yang layak dan sesuai dengan Pribadi-Nya.
Allah itu Mahakuasa. Ketika Saudara mulai memperhatikan kuasa Allah, ada empat bidang di mana saya melihat kuasa-Nya paling jelas. Yang pertama adalah dalam penciptaan. Alkitab mengatakan bahwa Dia berfirman, lalu semuanya jadi. Mazmur 33:9 berkata, "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada." Dia memerintah, lalu semuanya diciptakan. Coba pikirkan sejenak betapa besarnya kuasa yang ada di dalam alam semesta ini. Nah, kita tahu bahwa manusia dapat membelah atom dan menghasilkan ledakan yang sangat dahsyat. Tetapi sekalipun kita dapat memicu reaksi berantai yang menghancurkan seluruh alam semesta, itu tetap tidak akan mendekati kuasa Allah. Mengapa? Karena Allah jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah Dia ciptakan. Dan ada satu hal lagi yang sangat menakjubkan. Ketika menciptakan semuanya, Allah tidak meminta nasihat dari siapa pun. Tidak ada seorang pun yang membantu-Nya. Seandainya dipikir-pikir, mungkin kita membayangkan Allah menciptakan satu orang terlebih dahulu untuk dimintai pendapat. Lagi pula, bukankah manusia selalu begitu bersemangat memberi nasihat kepada Allah? Tetapi Yesaya 44:24 berkata—dan saya sangat menyukai ayat ini—"Akulah TUHAN yang menjadikan segala sesuatu, yang membentangkan langit seorang diri, yang menghamparkan bumi tanpa bantuan." Allah menghendaki semuanya ada, dan pada saat itu juga semuanya menjadi ada. Bahkan Roma 4:17 mengatakan bahwa Allah "menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada." Dan ketika Dia memanggilnya, semuanya benar-benar ada. Di situlah kita melihat kuasa Allah dinyatakan dalam penciptaan.
Saya juga melihat kuasa Allah dinyatakan dalam pemeliharaan-Nya atas ciptaan. Setelah Allah menciptakan dunia, Alkitab berkata bahwa "Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan." Mungkin ada yang bertanya, "Kalau Allah tidak pernah menjadi lelah, mengapa Dia beristirahat pada hari ketujuh?" Sebenarnya Allah tidak benar-benar beristirahat. Sama sekali tidak. Seandainya Allah berhenti bekerja pada hari ketujuh, tahukah Saudara apa yang akan terjadi dengan semua yang telah Dia ciptakan selama enam hari sebelumnya? Semuanya akan hancur. Lalu mungkin ada yang bertanya lagi, "Kalau begitu, apa yang sebenarnya dilakukan Allah?" Dia sedang memberikan sebuah pola bagi manusia. Kita yang menjadi lelah. Allah tidak pernah menjadi lelah. Dia sedang menetapkan teladan bahwa manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Tetapi Allah sendiri tetap bekerja sama aktifnya pada hari ketujuh seperti pada enam hari sebelumnya, karena kuasa-Nya terus bekerja menopang seluruh ciptaan-Nya. Ibrani 1:3 berkata bahwa " Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan."
Saya juga percaya, yang ketiga, bahwa kuasa Allah terlihat dengan sangat jelas dalam karya penebusan. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kuasa Allah dalam penebusan dinyatakan lebih besar daripada dalam penciptaan. Sebab pada saat penciptaan tidak ada perlawanan. Tidak ada Iblis yang harus ditaklukkan, tidak ada maut yang harus dikalahkan, tidak ada dosa yang harus diampuni dan disingkirkan, tidak ada neraka yang harus ditutup, dan tidak ada salib yang harus ditanggung. Itulah penciptaan. Tetapi dalam penebusan, semua pergumulan itu terjadi. Di atas kayu salib, kuasa Allah dinyatakan dengan sangat besar ketika Kristus mati untuk menebus manusia bagi diri-Nya. Dan yang membuatnya semakin mengagumkan adalah bahwa Allah memanggil orang-orang yang di mata dunia bukan siapa-siapa, lalu memakai mereka untuk mempermalukan orang-orang yang dianggap kuat. Bukankah demikian? Bacalah 1 Korintus pasal 1 dan 2. Allah memilih "tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang." Dia memilih orang-orang biasa, lalu mengutus mereka menghadapi dunia. Kemudian, ketika kita membaca beberapa pasal pertama kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bagaimana mereka mengguncang dunia. Itulah kuasa Allah—kuasa yang menyelamatkan dan menebus.
Yang keempat, saya melihat kuasa Allah dinyatakan dalam kemampuan-Nya membangkitkan orang mati. Sadarkah Saudara bahwa Allah memiliki kuasa sedemikian besar sehingga pada akhir zaman nanti Dia akan membangkitkan setiap manusia yang pernah hidup, baik orang benar maupun orang yang tidak benar? Mungkin Saudara berkata, "Saya tahu orang-orang percaya akan dibangkitkan. Tetapi apakah benar orang-orang yang tidak percaya juga akan dibangkitkan?" Ya, benar. Bacalah Yohanes 5:28. Di sana disebutkan adanya kebangkitan untuk memperoleh hidup dan kebangkitan untuk menerima penghukuman. Lalu bacalah Wahyu pasal 20. Di sana kita melihat bahwa pada penghakiman di hadapan takhta putih yang besar, semua orang fasik dibawa menghadap Allah. Mereka semua hadir. Mereka dibangkitkan dari kubur, bahkan dari laut yang menyimpan jasad mereka. Betapa dahsyatnya kuasa kebangkitan itu. Sungguh luar biasa. Itulah Allah kita—Allah Yang Mahakuasa.
Sekarang mungkin Saudara bertanya, "Apa artinya semua ini, John?" Mari kita lihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, lalu kita akan akhiri pembahasan ini. Allah itu Mahakuasa. Tetapi apa artinya bagi orang Kristen? Pertama, kemahakuasaan Allah menjadi dasar penyembahan kita. Penerapan praktis dari doktrin ini saya rasa dapat ditemukan dalam pernyataan sederhana di 2 Raja-raja 17:36. Dengarkan apa yang dikatakan di sana: "Kamu harus erbakti kepada TUHAN, yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan besar dan tangan yang teracung. Kamu harus sujud menyembah-Nya dan mempersembahkan kurban kepada-Nya." Kita menyembah Allah karena kuasa-Nya. Kuasa-Nya menjadi dasar penyembahan kita. Kita berkumpul untuk memuji Allah karena kuasa-Nya yang luar biasa. Tidak ada seorang pun yang dapat dibandingkan dengan Dia. Kedua, bagi orang percaya, kuasa Allah bukan hanya menjadi dasar penyembahan, tetapi juga menjadi dasar keyakinan dan kepercayaan kita setiap hari. Ada kalanya saya kembali merasa tidak sanggup dan tidak mampu melakukan apa pun. Tetapi kemudian saya membaca Filipi 4:13 yang berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Dialah yang memberi kita kekuatan. Karena kuasa-Nya, kita dapat menjalani hidup hari demi hari dengan penuh keyakinan. Efesus 3:19 berkata bahwa kita "dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah." Lalu ayat 20 melanjutkan bahwa Allah "dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita." Kuasa Allah menjadi dasar bagi kehidupan kita setiap hari.
Selain itu, kuasa Allah juga menjadi dasar pengharapan kita akan kebangkitan. Sebagai orang Kristen, saya menantikan hari ketika saya akan dibangkitkan dari kematian. Saya berpikir, kalau saya tidak diangkat pada saat pengangkatan gereja, kemungkinan besar saya akan meninggal dunia. Bahkan bisa dibilang, peluangnya seratus persen—suatu hari nanti saya pasti mati. Tetapi saya juga memiliki keyakinan bahwa saya akan dibangkitkan. Lalu apa dasar keyakinan saya? Ketika menghadiri sebuah pemakaman, secara manusia semuanya tampak tidak memberi harapan. Jenazah dibaringkan, darahnya dikeluarkan, lalu tubuhnya diawetkan dengan cairan pengawet. Setelah dirias, tubuh itu diletakkan di dalam peti mati. Kalau saat itu Saudara berkata kepada petugas pemakaman, "Suatu hari nanti tubuh ini akan keluar dari kubur," mungkin ia akan memandang Saudara dengan heran sambil berpikir, "Anda tidak tahu apa yang saya tahu. Tidak mungkin tubuh itu akan bergerak lagi." Dari sudut pandang manusia, semuanya tampak mustahil. Peti mati dibiarkan terbuka, tubuh itu terbujur kaku, suasananya penuh duka. Kemudian peti itu diturunkan ke dalam liang kubur, tanah ditimbunkan, dan semuanya tampak selesai. Lalu seorang Kristen berdiri dan berkata, "Suatu hari nanti saudara kita yang terkasih ini akan bangkit keluar dari kubur." Mungkin ada beberapa orang di belakang yang tersenyum sinis. Mereka berpikir, "Bagaimana mungkin? Siapa yang sanggup melakukan itu?" Jawabannya ada dalam 1 Korintus pasal 15. Keyakinan saya akan kebangkitan didasarkan pada kuasa Allah. "Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Kemudian ayat 52 berkata, "Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah." Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena Allah yang memberikan kemenangan itu kepada kita. Kuasa Allah menjadi dasar penyembahan kita, dasar kekuatan kita setiap hari, dan dasar pengharapan kita akan kebangkitan pada masa yang akan datang.
Selain itu, kuasa Allah juga menjadi dasar penghiburan kita. Setiap kali saya mulai mengkhawatirkan persoalan-persoalan hidup, saya mengingat siapa Allah saya. Lalu saya menyadari bahwa tidak ada satu pun masalah yang saya hadapi yang terlalu sulit bagi-Nya. Mazmur 121 berkata, "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?" Lalu jawabannya, "Pertolonganku ialah dari TUHAN." Dan kalimat berikutnya menjadi kunci dari seluruh bagian itu: "Yang menjadikan langit dan bumi." Kalau Dia sanggup menciptakan langit dan bumi, tentu Dia sanggup menangani persoalan hidup saya. Di situlah letak keyakinan dan penghiburan kita. Jadi, doktrin tentang kemahakuasaan Allah menjadi dasar penyembahan kita, dasar kepercayaan kita setiap hari, dasar pengharapan akan kebangkitan, dasar penghiburan, dan berikutnya, dasar kemenangan kita. Dalam Efesus pasal 6 dikatakan, "Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." Jika Saudara ingin menghadapi musuh rohani, Saudara harus melakukannya dengan kekuatan-Nya, bukan dengan kekuatan sendiri. Ketika musuh datang menyerang dan Saudara sedang berjaga, bukan Saudara yang harus melawan musuh itu sendirian. Saudara melapor kepada Sang Panglima, dan Dialah yang berperang bagi Saudara. Dasar kemenangan kita adalah kenyataan bahwa Allah Mahakuasa. "Dia yang ada di dalam kamu lebih besar daripada dia yang ada di dalam dunia." Bukankah hal itu sudah kita bahas pada Minggu malam yang lalu? Iblis memang makhluk yang luar biasa dan memiliki kuasa yang sangat besar. Tetapi tahukah Saudara? Dia berada di bawah kaki saya, tepat di tempat yang Allah tetapkan baginya. Kemenangan itu menjadi milik saya di dalam Kristus. Betapa besar kuasa yang tersedia bagi saya.
Selanjutnya, bagi orang percaya, doktrin tentang kemahakuasaan Allah juga menjadi dasar kepastian keselamatan. Saya sudah diselamatkan. Dan sering kali orang bertanya kepada saya apakah saya yakin akan tetap diselamatkan sampai akhir. Jawaban saya selalu, "Ya, saya yakin." Lalu mereka bertanya, "Mengapa Anda begitu yakin?" Saya menjawab, "Karena Allah cukup berkuasa untuk memelihara saya. Satu-satunya yang bisa merebut saya dari tangan Allah adalah pribadi yang lebih berkuasa daripada Dia. Dan tidak ada pribadi seperti itu." Dalam Yohanes 10:28-29 Yesus berkata, "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." Mengapa? "Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." Tidak ada pribadi yang lebih berkuasa daripada Allah. Dan ketika Allah memegang sesuatu, tidak seorang pun dapat merebutnya dari tangan-Nya. Roma pasal 8 juga menyampaikan kebenaran yang sama. "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?" Lalu Paulus menyebutkan berbagai kemungkinan—pemerintah-pemerintah, malaikat-malaikat, dan segala sesuatu yang lain. Jawabannya tetap sama: tidak ada satu pun yang dapat melakukannya. Allah Mahakuasa. Dasar kepastian keselamatan saya adalah kuasa Allah yang mutlak dan tidak terbatas. Itulah sebabnya Paulus berkata dalam 2 Timotius 1:12, "Aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." Keyakinan Paulus lahir dari pengenalannya bahwa Allah adalah Allah Yang Mahakuasa.
Terakhir, dari sudut pandang orang percaya, doktrin tentang kemahakuasaan Allah menjadi dasar kerendahan hati. Sebenarnya sangat mudah bagi seseorang untuk menjadi sombong jika ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan Allah. Tetapi begitu kita mulai memikirkan Allah, kita segera menyadari bahwa kita bukan apa-apa. Dalam 1 Petrus 5:6 dikatakan, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat." Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang penuh kuasa. Lalu apa hasilnya? "Maka pada waktunya Ia akan meninggikan kamu." Mengapa saya harus merendahkan diri? Karena saya menyadari betapa besar kuasa Allah. Kuasa Allah menjadi dasar kerendahan hati saya. Saya sadar bahwa saya bukan apa-apa. Saya tidak dapat menjadi apa-apa. Saya tidak dapat mencapai apa pun. Saya tidak dapat melakukan apa pun tanpa Dia. Itulah kerendahan hati. Karena itu, doktrin tentang kemahakuasaan Allah memiliki penerapan yang sangat nyata dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya? Apa pengaruh doktrin ini bagi mereka? Jawabannya, pengaruhnya sangat besar.
Dalam 1 Korintus 10, Paulus menulis kepada jemaat di Korintus. Pada ayat 22 ia berkata, "Atau apakah kita mau membangkitkan kecemburuan Tuhan? Apakah kita lebih kuat daripada Dia?" Dengan kata lain, apakah Saudara sedang membuat Allah cemburu? Sebab jika demikian, Saudara perlu memikirkan pertanyaan ini: "Apakah kita lebih kuat daripada Dia?" Allah cemburu ketika manusia tidak menyembah-Nya. Dan ketika Allah cemburu, Dia akan bertindak terhadap mereka yang menolak-Nya. Ketika Allah berperang melawan seseorang, Dia pasti menang, karena Dia Mahakuasa. Sungguh merupakan kenyataan yang mengerikan bahwa orang-orang di dunia ini yang tidak mengenal Allah, yang tidak menyembah Allah, dan yang tidak mengasihi Kristus, pada akhirnya akan menghadapi penghakiman dari Allah Yang Mahakuasa. Kecuali mereka lebih kuat daripada Allah, mereka tidak memiliki pembelaan apa pun. Dan percayalah, tidak seorang pun memiliki pembelaan seperti itu, karena tidak ada manusia yang lebih kuat daripada Allah yang telah menciptakannya. Dalam Ayub 9:4 dikatakan, "Allah itu bijak dan sangat kuat. Siapakah dapat bersikeras melawan Dia dan tetap selamat?" Jawabannya, tidak seorang pun. Tidak ada seorang pun. Kemudian dalam Ayub 10:7 dikatakan, "Padahal Engkau tahu bahwa aku tidak bersalah, dan tak seorang pun dapat membebaskanku dari tangan-Mu." Ayub berkata, "Semua ini terjadi kepadaku. Aku tidak memahaminya. Tetapi aku tahu bahwa tidak seorang pun dapat melawan-Mu. Tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan aku dari tangan-Mu."
Ketika Allah memegang kehidupan seseorang, tidak ada seorang manusia pun yang dapat melepaskannya. Satu-satunya Pribadi di seluruh alam semesta yang dapat menyelamatkan seseorang dari tangan Allah yang murka adalah Yesus Kristus sendiri, yang adalah Allah. Dalam 2 Tesalonika 1:7 dikatakan, "Dan kepada kamu yang ditindas, Ia akan memberikan kelegaan bersama-sama dengan kami pada waktu Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dari surga bersama malaikat-malaikat-Nya yang penuh kuasa, dalam api yang menyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mengenal Allah dan yang tidak menaati Injil Tuhan kita Yesus. Mereka akan menjalani hukuman kebinasaan yang kekal, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kuasa-Nya." Bagi mereka yang tidak mengenal Allah dan tidak menaati Injil, Allah akan menyatakan kuasa penghakiman-Nya. Itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan untuk dipikirkan. Tidak heran penulis kitab Ibrani berkata dalam pasal 10, "Sungguh mengerikan jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup."
Mengapa kami menyampaikan semua hal ini tentang Allah kepada Saudara? Karena inilah natur Allah. Inilah yang telah Dia nyatakan kepada kita tentang diri-Nya. Kami ingin Saudara percaya kepada Allah, dan bukan sekadar percaya kepada suatu gambaran tentang Allah, tetapi percaya kepada Allah yang benar, sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya.
Sebagai penutup, perhatikan satu hal ini. Apakah Saudara menyadari bahwa kebenaran-kebenaran yang sama tentang Allah selalu menghasilkan dua respons yang berbeda? Mengetahui bahwa Allah tidak berubah, hadir di mana-mana, dan Mahakuasa merupakan sumber sukacita dan kebahagiaan bagi orang percaya. Tetapi bagi orang yang tidak percaya, kebenaran-kebenaran yang sama justru menimbulkan ketakutan. Jadi, persoalannya bukan terletak pada karakter Allah. Karakter Allah sudah tetap dan tidak berubah. Persoalannya adalah bagaimana respons Saudara terhadap Dia. Orang yang terus-menerus melawan Allah, yang bersikeras hidup menurut keinginannya sendiri tanpa memedulikan siapa Allah sebenarnya, adalah orang yang bodoh. Allah tetap adalah Allah sebagaimana adanya. Dia akan tetap melakukan apa yang sesuai dengan natur-Nya. Dan manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan Dia.
Minggu depan kita akan melihat lebih jauh bagaimana kasih karunia dan pengampunan Allah melampaui semua hal buruk yang telah kita lakukan, lalu menerima kita ketika kita datang kepada Kristus. Namun untuk pagi ini, inilah inti yang ingin saya sampaikan sebagai penutup. Inilah Allah yang sejati. Inilah Allah yang menuntut agar Saudara menyembah-Nya. Dan dengan kasih, kami mengundang Saudara untuk datang dan menyembah Dia. Sukacita terbesar yang dapat kami alami adalah melihat seseorang mengenal Allah secara pribadi. Itulah kerinduan hati Allah. Dia mengundang Saudara datang kepada-Nya dengan cara yang telah Dia tetapkan. Melalui iman kepada Yesus Kristus, Saudara diperdamaikan dengan Allah. Saudara menerima pengorbanan Kristus, dan Allah menerima Saudara. Saat itulah, segala hal tentang Allah yang sebelumnya terasa menakutkan berubah menjadi sumber sukacita dan pengharapan.
Mari kita berdoa. Bapa, kami mengucap syukur kepada-Mu pada pagi hari ini atas firman-Mu, atas kebenaran-Mu, dan atas kuasa-Mu yang bekerja dalam hidup kami. Kami berdoa agar Engkau membawa kepada-Mu mereka yang sangat membutuhkan Engkau, mereka yang hatinya telah dijamah dan dilembutkan oleh Roh Kudus. Kami juga berdoa kiranya Engkau memberkati kelas-kelas yang akan berlangsung setelah ini, juga kelas-kelas yang baru saja selesai, serta seluruh rangkaian hari ini. Berkati setiap orang yang hadir, setiap pribadi yang begitu berharga di hadapan-Mu. Kami mengucap syukur kepada-Mu. Kami menyerahkan diri kami dan firman-Mu ke dalam tangan-Mu, supaya keduanya menghasilkan buah yang nyata. Di dalam nama Kristus kami berdoa. Amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
