Jika Saudara membawa Alkitab, mari kita buka 1 Korintus pasal 12. Judul pesan yang ingin kami sampaikan malam ini adalah “Tubuh Kristus.”
Dalam beberapa tahun terakhir, ada begitu banyak pembicaraan tentang topik ini. Saat ini, dalam lingkup Kekristenan, muncul semacam pemberontakan terhadap denominasionalisme dan terhadap gereja yang terorganisir, dengan penekanan pada tubuh Kristus yang bahkan sampai memberi tekanan berlebihan pada bentuk yang tidak terstruktur, yang tanpa organisasi sama sekali. Tentu saja, menurut saya itu sudah melangkah terlalu jauh, karena di dalam Perjanjian Baru kita melihat dengan jelas adanya struktur organisasi tertentu. Ada penatua, presbiter, dan uskup. Sebenarnya semua itu merujuk pada hal yang sama, yaitu gembala, bukan pada suatu hierarki. Ada juga diaken yang melayani. Selain itu, para penatua ini ditetapkan di setiap kota. Ada juga mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menggembalakan jemaat.
Jadi, sampai pada tingkat tertentu memang ada suatu bentuk organisasi yang diperlukan untuk memastikan bahwa setiap jemaat memiliki gembala dan ada orang-orang yang melayani di dalamnya. Jadi, ada organisasi dalam batas minimum. Karena itu, belakangan ini banyak sekali pembahasan tentang konsep tubuh Kristus. Mungkin yang paling menyedihkan dari semua diskusi itu adalah begitu banyak orang yang sebenarnya tidak memahami topik ini sama sekali, padahal sesungguhnya ini mungkin adalah salah satu hal terpenting dalam memahami hubungan kehidupan orang Kristen. Tanpa memahami konsep tubuh Kristus, kita tidak benar-benar tahu di mana posisi kita atau siapa diri kita sebenarnya. Dan ketika kita memahaminya, kita bukan hanya mengerti tanggung jawab kita kepada Allah dan hubungan kita dengan Dia melalui Kristus, tetapi juga tanggung jawab dan hubungan kita dengan setiap orang percaya di seluruh dunia, serta bagaimana kita seharusnya melayani bersama. Jadi sangat, sangat penting bagi kita untuk memahami konsep tubuh Kristus.
Saat ini ada begitu banyak organisasi dan struktur, sehingga memang benar bahwa gereja yang sejati seringkali seakan hilang di tengah kabut. Banyak denominasi besar sebenarnya hanyalah kumpulan orang yang mengurusi hal lain selain Yesus Kristus. Sangat disayangkan, tetapi itulah kenyataannya. Mereka ada hanya sebagai sebuah struktur organisasi tanpa kehidupan, tanpa fungsi yang benar dalam hubungannya dengan Yesus Kristus. Dalam banyak kasus, mereka hanya menjadi sekadar organisasi belaka. Lalu, apa sebenarnya gereja itu? Siapakah kita ini sebenarnya? Tubuh Kristus, apa artinya?
Sebelum kita melihat secara khusus tentang tubuh Kristus, saya ingin kita memahami terlebih dahulu siapa kita sebagai gereja dengan melihat beberapa gambaran yang diberikan dalam Perjanjian Baru. Beberapa gambaran ini juga berasal dari Perjanjian Lama, dan ada tiga yang sangat menonjol. Jika Saudara sedang mencatat, ini penting untuk diperhatikan. Tiga gambaran utama yang digunakan Perjanjian Baru untuk menggambarkan gereja, yang juga dipakai dalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan Israel, adalah: mempelai, kebun anggur, dan kawanan domba.
Setiap gambaran ini pada awalnya adalah sebutan bagi bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Bangsa Israel disebut sebagai mempelai Allah, kebun anggur Allah, dan kawanan domba Allah. Semua gambaran ini kembali muncul dalam Perjanjian Baru. Kita adalah mempelai Kristus. Kita adalah ranting-ranting di mana Dia adalah pokok anggurnya. Kita juga adalah kawanan domba-Nya, dan Dia adalah gembala kita. Dalam Perjanjian Lama, Allah memandang Israel seperti seorang gadis muda. Hal ini dijelaskan dalam kitab Hosea. Allah mempertunangkan Israel dengan diri-Nya. Allah mengikat perjanjian pernikahan dengan Israel. Secara rohani, bangsa Israel menjadi umat mempelai Allah. Namun setelah itu, Allah harus menghadapi ketidaksetiaan bangsa Israel yang terus-menerus, tindakan perzinahan rohani yang berulang kali ketika mereka terus mengejar allah-allah lain tanpa henti. Seperti yang dikatakan Hosea, bangsa Israel benar-benar adalah seorang istri yang tidak setia.
Dalam Perjanjian Baru, gereja juga digambarkan sebagai pokok anggur, selain sebagai mempelai. Dalam Perjanjian Lama, pokok anggur atau kebun anggur adalah gambaran yang menunjuk kepada Israel. Allah berkata bahwa Dia menanam sebuah kebun anggur. Dia berkata, “Aku menanamnya di sebuah bukit yang sangat subur.” Ini menggambarkan bagaimana Allah membawa Israel keluar dari Mesir dan menempatkan mereka di Kanaan. Allah berkata, “Aku memindahkan mereka dan menanam pokok anggur ini di bukit yang sangat subur. Di sana ia berakar dan memenuhi negeri itu.” Lalu Allah membangun menara pengawas, dan dari menara itu Allah menjaga kebun anggur-Nya. Dia juga membuat tempat pemerasan anggur untuk mempersiapkan hasil panen. Allah memperhatikan kebun anggur-Nya, seperti yang dikatakan dalam kitab Yesaya, dan Dia menginginkan kebun itu menghasilkan kebenaran. Namun yang dihasilkan justru buah anggur liar berupa ketidakadilan, kefasikan, penindasan, dan dosa. Karena itu Yesaya 51 mengatakan, “Allah menjadikan kebun anggur-Nya itu menjadi tandus,” dan memang demikian yang terjadi.
Gambaran ketiga dalam Perjanjian Lama yang Allah gunakan adalah bahwa Israel adalah kawanan domba, dan Dia adalah gembala bagi Israel. Alkitab mengatakan bahwa Dia menuntun Yusuf seperti kawanan domba. Yesaya berkata bahwa Dia telah menebus mereka dari Mesir, Dia mengangkat mereka dan menggendong mereka seperti seseorang menggendong anak domba. Setelah pembuangan ke Babel, Yesaya kembali mengatakan bahwa Dia mengumpulkan anak-anak domba dalam pelukan-Nya dan dengan lembut menuntun induk-induknya. Jadi, hubungan Allah dengan Israel digambarkan seperti seorang gembala dengan kawanan dombanya.
Di sini kita melihat tiga gambaran yang Allah gunakan untuk menunjukkan hubungan-Nya dengan Israel dalam Perjanjian Lama. Setiap gambaran itu memperlihatkan bagaimana relasi Allah dengan bangsa Israel. Perhatikan ini baik-baik, semuanya menekankan bahwa cara Allah berhubungan dengan umat-Nya bersifat langsung. Hubungan itu langsung, dan merupakan karya keselamatan yang berdaulat sekaligus pemeliharaan dari Allah. Jadi dalam Perjanjian Lama, Allah memilih Israel sebagai mempelai-Nya, menanam Israel sebagai kebun anggur-Nya, dan menggembalakan Israel sebagai kawanan domba-Nya.
Ketika kita masuk ke Perjanjian Baru, Yesus dengan berani memakai gambaran yang sama ini untuk gereja. Bahkan, Dia menekankan hubungan yang bersifat pribadi dengan lebih kuat lagi. Saya beri ilustrasi. Pertama, gambaran pernikahan dalam Perjanjian Lama diterapkan oleh Yesus kepada kita dengan mengatakan bahwa Dia adalah mempelai laki-laki, dan kita adalah apa? Mempelai perempuan. Dia berkata, “Akulah mempelai laki-laki.” Kita ingat dalam Injil bahwa ketika mempelai laki-laki datang, puasa tidak lagi diperlukan. Saatnya bersukacita, karena mempelai laki-laki sudah hadir.
Paulus menjelaskan gambaran ini dengan lebih rinci, dengan menunjuk pada kasih Kristus yang rela berkorban bagi jemaat. Ia juga berbicara tentang kepemimpinan Kristus atas gereja serta tujuan akhir-Nya bagi gereja. Kristus mengambil gereja sebagai mempelai supaya, seperti yang dijelaskan dalam kitab Efesus, Dia dapat mempersembahkan gereja itu kepada diri-Nya sendiri. Kristus mengambil kita sebagai mempelai untuk mempersembahkan kita kepada diri-Nya dalam kemuliaan, tanpa noda, tanpa kerut, tanpa cacat, atau hal-hal semacam itu. Dengan kata lain, Dia mengumpulkan kita sebagai seorang perawan yang murni dan suci.
Jadi kita sebagai gereja memiliki hubungan dengan Kristus seperti mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki. Bahkan, di bagian akhir kitab Wahyu, ketika kita bersama Yesus Kristus dalam kemuliaan, Alkitab mengatakan bahwa kita akan menikmati suatu perjamuan. Perjamuan seperti apa itu? Itu adalah perjamuan pernikahan. Bukan hanya itu, dalam 2 Korintus pasal 5 dikatakan bahwa Allah telah memberikan kepada kita arrabōn dari Roh. Kata Yunani arrabōn secara harfiah berarti “cincin pertunangan.” Alasan kita tahu bahwa kita akan dipersatukan dengan Yesus Kristus adalah karena kita telah menerima cincin pertunangan itu, yaitu Roh Kudus. Jadi gambaran pernikahan ini terus muncul di sepanjang tulisan Paulus, dan mencapai puncaknya dalam penglihatan Yohanes tentang perjamuan kawin Anak Domba di Yerusalem baru pada akhir kitab Wahyu. Dengan demikian, Yesus memakai gambaran pernikahan untuk menggambarkan gereja.
Yesus juga menggunakan gambaran kebun anggur dalam perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun yang jahat di dalam Injil Markus pasal 12. Di sana Dia mengarahkannya kepada Israel, tetapi kemudian Dia memperluas maknanya, karena dalam Yohanes pasal 15 Dia berkata, “Akulah pokok anggur yang benar dan kamu semua adalah,” apa? “ranting-rantingnya.” Gambaran yang sama dipakai di situ. Gereja adalah ranting-ranting yang bergantung pada pokok anggur. Kita harus tinggal di dalam Dia, dan kita harus bersedia mengalami pemurnian dari pengurus kebunnya. Kita adalah ranting-ranting, dan Dia adalah pokok anggurnya. Jadi Yesus menggunakan gambaran pokok anggur untuk menjelaskan hubungan itu.
Namun Yesus tidak berhenti di situ saja, Dia juga menggunakan gambaran gembala. Kita adalah kawanan domba, seperti yang tertulis dalam Yohanes pasal 10. Bukankah demikian? “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.” Yesus adalah Gembala yang baik. Da pergi ke padang belantara untuk menyelamatkan satu domba-Nya yang hilang. Dia menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba itu. Dia menuntun mereka ke padang rumput yang baik. Dia melindungi mereka dari serigala. Gambaran ini kemudian dikembangkan lebih luas di seluruh Perjanjian Baru.
Jadi, kita melihat ada tiga gambaran utama dari Perjanjian Lama yang kemudian diterapkan oleh Yesus kepada gereja. Itulah yang paling utama. Sekarang, ada empat gambaran lain. Tiga tadi adalah yang paling menonjol dalam Perjanjian Lama, tetapi ada empat lagi yang juga disinggung dalam Perjanjian Lama dan kemudian digunakan oleh Kristus atau diterapkan dalam Perjanjian Baru kepada gereja. Yaitu ini: umat Allah juga adalah sebuah kerajaan. Yang dimaksud dengan kerajaan adalah suatu wilayah kekuasaan, suatu domain di mana ada yang memerintah. Kita, sebagai anak-anak yang dikasihi Kristus, sebagai anak-anak Allah dan saudara-saudara Kristus, berada di dalam wilayah pemerintahan Allah dan Kristus. Secara rohani, saat ini kita hidup dalam kerajaan-Nya, dalam arti Dia memerintah atas kita. Kita adalah sebuah kerajaan. Sebagai contoh, Paulus mengatakan dalam Kolose pasal 1:13 bahwa Allah telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan siapa? Kerajaan Anak-Nya yang terkasih, yaitu Anak-Nya sendiri.
Kristus bahkan menjalankan pemerintahan-Nya atas kita melalui Roh Kudus. Jika kita memperhatikan dengan saksama, inilah yang sebenarnya disampaikan dalam Roma pasal 14:17, yang mengatakan bahwa “Kerajaan Allah,” tandai ini, “bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Jadi, secara nyata kita adalah sebuah kerajaan.
Selain itu, ada juga gambaran lain yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan kita, yaitu bahwa kita adalah sebuah keluarga atau rumah tangga. Kita adalah anak-anak Allah dan saudara-saudara Kristus, bukan? Kita adalah ahli waris bersama, seperti yang tertulis dalam Roma pasal 8, dan saudara-saudara menurut Ibrani pasal 2. Allah telah melahirbarukan kita ke dalam keluarga-Nya. Dia telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Dia telah mengutus Roh Kudus ke dalam hati kita, sehingga kita berseru kepada-Nya, Abba, Bapa, yang dalam bahasa Yunani berarti “papa”, sebuah ungkapan akan kedekatan dan kasih. Kita tidak perlu khawatir tentang hari esok, karena kita tahu bahwa Bapa kita sudah mengetahui kebutuhan kita bahkan sebelum kita memikirkannya. Kita dipanggil untuk memusatkan hidup kita pada kerajaan Allah, dan semua yang lain akan ditambahkan kepada kita.
Kemudian yang ketiga, kita bukan hanya sebuah kerajaan dalam pembahasan ini, dan bukan hanya sebuah keluarga atau rumah tangga; kita juga adalah sebuah bangunan. Gereja adalah sebuah bangunan. Tentu saja, bangunan ini bukan dibuat oleh tangan manusia, tetapi tetap merupakan sebuah bangunan. Siapakah dasar kita? Paulus berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Kita dibangun di atas dasar itu; para rasul adalah yang pertama berada di atas dasar tersebut, dan kita dibangun di atasnya setelah mereka. Kita adalah bangunan Allah.
Lalu yang keempat, kita adalah satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Perhatikan ini baik-baik, gambaran yang satu ini sama sekali tidak memiliki padanan dalam Perjanjian Lama, tidak ada sama sekali. Tiga yang pertama memiliki padanan yang jelas dalam Perjanjian Lama, dan tiga berikutnya dalam tingkat tertentu juga disinggung di sana. Tetapi yang satu ini tidak memiliki rujukan apa pun dalam Perjanjian Lama. Konsep ini bahkan tidak ada di Perjanjian Lama. Mungkin kita bertanya, “Lalu apa artinya?” Artinya adalah ini: inilah posisi kita yang unik di dalam Kristus. Kita adalah tubuh Kristus. Ini sesuatu yang khas, tanpa padanan dalam Perjanjian Lama. Inilah identitas kita yang utama: kita adalah tubuh Kristus. Kita bukanlah sebuah bangunan. Gedung-gedung itu sebenarnya hanyalah sarana tambahan. Kita memilikinya hanya karena kita membutuhkan tempat untuk berkumpul dan mendengarkan firman Tuhan.
Gereja bukanlah sebuah bangunan fisik. Kita adalah bangunan rohani, seperti yang sudah kita katakan, bukan bangunan secara jasmani. Ini bukan gereja; Saudara adalah gereja, saya adalah gereja. Kita bukan sebuah organisasi. Kita adalah koinōnia, yaitu persekutuan. Kita adalah persekutuan sebagai satu tubuh, yaitu tubuh Kristus. Gambaran yang unik ini akan menjadi dasar pembahasan kita malam ini dan juga dalam minggu-minggu ke depan, ketika kita mempelajari ayat demi ayat dari kitab Efesus, yang menjelaskan kepada kita doktrin tentang tubuh Kristus.
Nah, selagi kita memulainya, sebelum masuk ke kitab Efesus, kita akan melihat terlebih dahulu I Korintus 12. Saya ingin Saudara melihat tiga hal tentang tubuh, tiga hal. Kita akan menjelaskan apa arti tubuh Kristus itu. Ini sangat penting, jadi saya ingin Saudara benar-benar fokus dan berpikir dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah, mari kita benar-benar memperhatikannya. Ada tiga hal yang ingin saya tunjukkan, tiga hal yang menjadi ciri dari tubuh. Semua ini dijelaskan secara lengkap dalam pasal 12. Yang pertama adalah kesatuan, yang kedua keberagaman, dan yang ketiga keselarasan. Kesatuan, keberagaman, dan keselarasan. Kalau ingin memakai akhiran yang sama, bisa juga disebut kebersamaan atau saling keterkaitan. Kesatuan, keberagaman, dan keselarasan atau kebersamaan. Inilah hal-hal kunci yang perlu Saudara pahami.
Salah satu alasan mengapa gereja—bahkan sebenarnya alasan utama mengapa gereja menjadi lemah—adalah karena orang-orang tidak berfungsi sebagai satu tubuh. Ini hal yang sangat penting. Pertama-tama mari kita melihat tentang kesatuan. Yang pertama, dan perhatikan ini, yang paling utama dari sebuah tubuh adalah kesatuannya. Dimulai dari I Korintus 12:12: “Karena sama seperti tubuh itu satu,” di sini ia berbicara tentang tubuh jasmani, “an anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Di sini Paulus mengambil contoh tubuh fisik dan mengatakan, saudara-saudara harus mengerti bahwa tubuh jasmani itu harus menjadi satu kesatuan. Kita tidak bisa mengambil sebuah tubuh lalu menaruh tangan di satu tempat, kaki di tempat lain, kepala di tempat lain, jantung di tempat lain, dan beberapa kaki di tempat yang berbeda, lalu berkata, “Tubuh, lakukan sesuatu sekarang.”
Kita tidak bisa berkata kepada anggota-anggota yang terpisah itu, “Satukan dirimu lalu berfungsilah.” Sebuah tubuh adalah satu kesatuan, kalau tidak, maka itu bukan tubuh. Tubuh harus menjadi satu. Paulus berkata bahwa tubuh itu satu dan memiliki banyak anggota yang berfungsi, yaitu tubuh jasmani. Saya tidak bisa berkata, “Tangan saya sangat berbakat, jadi saya akan memotongnya dan mengirimkannya ke tempat lain.” Tangan itu tidak akan lagi berfungsi. Setelah dipotong, tangan itu akan mati. Tangan itu harus tetap melekat pada tubuh.
Jadi inti dari suatu tubuh adalah kesatuan, kesatuan. Kita adalah satu. “Demikian juga Kristus.” Kita, saudara-saudara, adalah satu tubuh. Kristus adalah kepala. Kita adalah tubuh-Nya, semua anggotanya. Kita adalah satu. Jika kita terlepas, kita mati. Kita tidak bisa terpisah. Kita berfungsi sebagai satu kesatuan, atau kita tidak akan berfungsi sama sekali. Kita adalah satu. Kristus adalah kepala tubuh, yang dari-Nya datang semua arahan, seluruh pemikiran, seluruh energi, dan semua sumber daya yang membuat setiap bagian tubuh dapat berfungsi. Kepala adalah sumber kehidupan. Kita bisa memotong tangan atau lengan, dan kepala masih mempertahankan kehidupan. Kita bisa memotong bagian-bagian tubuh lainnya, dan kehidupan itu masih ada. Anda terus melakukannya, dan pada akhirnya akan sampai ke titik itu. Tetapi jika kepala dipotong, maka kehidupan itu hilang. Hal yang sama berlaku pada tubuh Kristus, ini adalah gambaran yang sangat tepat. Kristus, sebagai kepala kita, adalah sumber kehidupan kita.
Dalam Efesus 5:23, Paulus berkata bahwa Kristus adalah kepala jemaat. Dalam Kolose 1:18, ia juga berkata bahwa Dia adalah kepala tubuh, yaitu jemaat. Kristus adalah kepala. Kedengarannya sederhana, tetapi ada orang yang mengira bahwa merekalah kepala. Mereka berpikir bahwa mereka adalah kepala gereja. Saya bahkan tahu ada seseorang yang memiliki gelar seperti itu. Tetapi dia bukan kepala gereja. Yesus Kristuslah kepala gereja. Semua orang percaya adalah satu di dalam Dia. Satu tubuh, satu kesatuan, menerima semua sumber, semua kekuatan, semua hikmat, dan semua arahan dari satu kepala yang sama.
Sekarang perhatikan I Korintus 12:13. Di sinilah kita melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam tubuh ini, bagaimana kesatuan tubuh ini dimulai. Ayat 13 berkata, “Sebab dalam satu Roh…” dan perhatikan berapa kali kata “satu” muncul. Di ayat 12 sudah disebut, “satu tubuh, satu tubuh,” dua kali. Lalu ayat 13, “Sebab dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Ini sudah ketiga kali, bahkan keempat kalinya ia menekankan satu tubuh hanya dalam satu bagian ini. Apakah menurut Saudara, ia ingin menekankan kesatuan? “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Dengarkan ini, kita adalah satu.
Keselamatan adalah titik awal dari kesatuan kita. Kita semua masuk ke dalam tubuh oleh satu Roh. Kita semua datang melalui satu jalan yang sama. Siapakah itu? Yesus Kristus. Satu pintu, Yesus Kristus. Kita menjadi satu dalam satu tubuh karena kita semua telah dibaptis oleh satu Roh ke dalam satu tubuh, dan sekarang Roh yang sama itu diam di dalam kita. Perhatikan di ayat 13, “Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh.” Orang sering bertanya, “Apa itu baptisan Roh Kudus?” Baptisan Roh Kudus dijelaskan dengan jelas di ayat ini, yaitu ketika Roh Kudus menempatkan seorang percaya ke dalam tubuh Kristus. Itulah tepatnya yang dikatakan di sana, “dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh.”
Kita masuk ke dalam tubuh Kristus pada saat kita diselamatkan, yaitu ketika kita ditempatkan di dalamnya oleh kuasa Roh. Sejak saat kita menerima Yesus Kristus, kita sudah menjadi bagian dari satu tubuh itu, dan kita ditempatkan di sana oleh Roh yang sama. Bukan hanya ditempatkan, tetapi ayat 13 juga mengatakan bahwa kita memiliki Roh yang sama yang diam di dalam kita. Kita semua telah dibuat untuk “minum”, artinya menerima dan mengalami Roh yang satu itu di dalam diri kita.
Sekarang, perhatikan bahwa ia sedang menekankan kesatuan kita, bukan? Tentu saja, itulah inti dari semuanya. Ia sedang menegaskan kesatuan kita. Kita dilahirkan oleh Roh, bukan? Kita menaruh iman kepada Yesus Kristus, lalu kita dilahirkan oleh Roh, oleh satu Roh yang menempatkan kita ke dalam tubuh Kristus. Dengan ditempatkan di dalam tubuh Kristus, kita juga didiami oleh Roh yang sama, bukan? Jadi Roh-Allahlah yang menebus kita melalui iman kepada Kristus. Roh itu sendiri yang melakukan pekerjaan kelahiran baru, bukan? Roh Allah memperbarui kita, menempatkan kita di dalam tubuh Kristus, dan kemudian tinggal di dalam kita.
Anda mungkin bertanya, “Apakah setiap orang Kristen memiliki Roh Kudus yang diam di dalamnya?” Tentu saja. Dalam Roma 8:9 dikatakan, “Jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Tidak ada yang namanya orang percaya tanpa Roh Kudus, tidak ada sama sekali. “Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Sekarang dibalik: jika Anda adalah milik-Nya, maka Anda memiliki Roh Kudus. Anda telah menerima Roh Kudus.
Pertama-tama, Roh itu yang memperbarui kita, lalu menempatkan kita ke dalam tubuh. Kemudian kita menerima Dia; kita “minum” dari Dia; Dia datang tinggal di dalam kita. Sekarang, perhatikan bagaimana kesatuan kita semuanya terkait dengan Roh? Itulah sebabnya Paulus berkata dalam Efesus 4:3 bahwa kita memiliki “kesatuan Roh.” Karena Roh yang sama itulah yang memperbarui kita, membaptis kita ke dalam tubuh, dan tinggal di dalam kita. Jadi kesatuan kita bukan didasarkan pada hal yang dibuat-buat seperti denominasi. Bukan juga hanya karena kita sama-sama orang percaya di dalam Kristus. Kesatuan kita didasarkan pada kenyataan bahwa kita semua telah dipersatukan dalam karya satu Roh yang sama.
Itulah inti dari kesatuan kita, bukan? Kita memiliki satu Roh yang sama. Roh yang ada di dalam saya adalah Roh yang sama yang ada di dalam Anda. Saya datang kepada Yesus Kristus, percaya kepada-Nya. Saya dilahirkan kembali oleh Roh yang sama dengan cara yang sama, ditempatkan ke dalam tubuh yang sama oleh Roh yang sama dengan cara yang sama, dan didiami oleh Roh yang sama seperti Anda. Karena itu, kesatuan kita ada di dalam Roh. Itulah sebabnya ketika seorang percaya hidup menurut daging, ia bertindak bertentangan dengan fungsi tubuh, karena tubuh ini seharusnya berfungsi dalam kesatuan Roh.
Nah, tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam tubuh Kristus selain dibaptis ke dalam tubuh itu oleh Roh. Hanya ada satu cara untuk dibaptis ke dalam tubuh oleh Roh, yaitu melalui penebusan oleh Yesus Kristus. Kita semua datang melalui satu jalan, oleh satu Juruselamat, melalui satu Roh, dalam satu keselamatan, dan dari situlah kesatuan kita dimulai, bukan? Di dalam tubuh Kristus, kita semua datang melalui darah Yesus Kristus oleh Roh Allah
Jadi kita memulai dengan kesatuan yang mendasar, bukan? Menarik ya, begitu kita semua sudah memiliki kesatuan itu dan masuk ke dalam tubuh, justru kita berpencar. Kita semua datang dengan cara yang sama, mengalami Roh yang sama, memiliki Roh yang sama diam di dalam kita, lalu kita berjalan masing-masing. Kemudian kita menghabiskan seluruh pelayanan kita untuk mencoba menyatukan kembali tubuh itu supaya kita menyadari kesatuan kita. Kita ini satu, Saudara. Kita satu. Tidak ada yang namanya orang percaya super; tidak ada. Sungguh, tidak ada
Seorang pelayan pernah berkata begini, katanya, “Gereja begitu dingin dan tubuh begitu mati sampai ketika ada seseorang datang dengan suhu 37 derajat, kita mengira orang itu sakit. Kita pikir dia demam, padahal dia normal.” Suhu kita sudah begitu dingin sehingga ketika ada orang dengan suhu 37 derajat, kita anggap dia berlebihan. Kita bilang dia demam. Kita mencoba mendinginkan suhunya. Tapi sesungguhnya, hidup yang sepenuhnya berkomitmen kepada Yesus Kristus dan benar-benar tenggelam dalam pelayanan Roh itu bukan sesuatu yang luar biasa; itu justru hal yang normal.
Tidak ada orang hebat di dalam tubuh Kristus. Tidak ada seorang pun yang bisa datang dan berkata, “Bagaimana Anda bisa sampai di sini?” “Oh, saya melakukan ini, 49 hal itu, dan 74 hal lainnya, lalu saya sampai di sini.” Tidak, tidak begitu. Anda datang oleh satu Roh ke dalam satu tubuh, sama seperti semua orang lainnya. Itulah inti dari kesatuan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa berdiri dalam tubuh Kristus dan berkata, “Saya sampai di sini dengan cara ini, sedangkan kamu tetap di bawah sana saja.” Tidak, kita semua datang dengan cara yang sama, yaitu oleh kasih karunia, bukan? Bukan karena perbuatan, kan? Kalau karena perbuatan, kita semua pasti akan menyombongkan diri. Kita semua adalah bukti kasih karunia, yang dibawa masuk ke dalam tubuh ini dengan cara yang sama. Kita tidak punya apa pun untuk dibanggakan, tidak ada yang bisa disombongkan, tidak ada alasan untuk berdiri dan berkata, “Saya akan lebih tinggi darimu.” Pemisahan tingkat antara pemimpin gereja dan jemaat itu tidak alkitabiah. Saya tidak lebih tinggi dari Anda, kecuali karena mimbar ini, entahlah, mungkin sekitar 1 meter lebih tinggi. Itu satu-satunya “ketinggian” saya dibanding Anda, dan kalau itu mengganggu, mulai sekarang saya akan berkhotbah dari bawah saja
Saya bukan seseorang yang berada di atas Anda, dan Anda pun bukan seseorang yang berada di atas orang lain, dan Anda juga bukan seseorang yang berada di bawah orang lain. Kita ini satu. Pahami itu. Tidak ada hierarki dalam Perjanjian Baru. Ada berbagai karunia, tetapi tidak ada hierarki. Kalau Anda ingin menggambarkan struktur Kekristenan, Kristus ada sebagai kepala, lalu setelah itu hanya sebuah lingkaran besar, itu saja. Bukan seperti mengalir dari atas ke bawah. Kita semua masuk ke dalam tubuh dengan cara yang sama. Kita semua adalah bukti kasih karunia Allah. Tidak ada hierarki. Kita semua ini satu.
Coba Anda ingat kembali sekarang. Baru beberapa menit yang lalu, kami menyampaikan kepada Anda beberapa gambaran, bukan? Gambaran tentang gereja. Apakah Anda memperhatikan bahwa semuanya, tanpa terkecuali, menekankan kesatuan? Anda perhatikan itu? Lihat ini. Kita ulang: kita adalah satu istri dengan satu suami, benar? Kita adalah satu kawanan dengan berapa gembala? Satu gembala. Kita adalah satu kumpulan ranting pada satu pokok anggur. Kita adalah satu kerajaan dengan satu raja. Kita adalah satu keluarga dengan satu Bapa. Kita adalah satu bangunan dengan satu dasar. Kita adalah satu tubuh dengan satu kepala, Yesus Kristus. Kita ini satu. Alkitab tidak pernah mengatakan ada ranting yang gemuk dan yang kurus, atau domba yang lemah dan domba yang hebat.
Pesan tentang tubuh Kristus adalah pesan tentang satu. Kita ini satu. Kita satu di dalam Kristus. Tidak ada tempat untuk hierarki. Tidak ada tempat untuk kelas atas atau kelas bawah. Saya juga mau katakan satu hal lagi, tidak ada yang namanya orang percaya yang terpisah sendirian. Tidak ada orang percaya yang bukan bagian dari tubuh, yang duduk sendiri di satu sisi. Anda ada di dalam tubuh. Anda adalah bagian darinya sama seperti saya atau siapa pun yang lain. Tidak ada yang namanya orang Kristen kelas atas atau kelas bawah. Tidak ada seorang pun yang berada di luar tubuh. Kita semua ada di dalam tubuh
Untuk menegaskan lagi kesatuan kita, saya mau membacakan daftar tentang kesatuan. Nanti kita akan mempelajarinya dalam beberapa minggu ke depan, Efesus 4:4. Dengarkan ini, “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu; satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan melalui semua dan di dalam semua.” Satu, satu, satu, satu, satu, satu. Lihat? Saya suka bagian ini; dalam 1 Korintus, mundur sedikit dari bagian yang sedang kita bahas, di pasal 1, hanya untuk menggambarkan hal ini. Anda tahu apa yang terjadi dalam tubuh Kristus di Korintus? Mereka terpecah-pecah, dan mereka saling berkata, “Kamu pengikut siapa?” “Oh, saya ikut Apolos.” “Ah, Apolos sudah tidak relevan. Saya ikut Paulus.” “Kalian berdua salah. Kefas yang benar.” “Saya ikut Petrus.”
Lalu ada yang berkata, “Saya ikut Kristus.” Selalu saja ada yang seperti itu di setiap kelompok. Jadi mereka terus bersikap seperti ini dalam 1 Korintus 1:12, “Yang aku maksudkan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Lalu ayat 13 berkata, “Apakah Kristus terbagi-bagi?” Itu pemikiran seperti apa? Kenapa tubuh itu dipecah-pecah? Kamu bukan pengikut yang ini atau yang itu. “Apakah Kristus terbagi-bagi?”
Sekarang lihat pasal 3 ayat 21, “Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia.” Anda tidak perlu berkata, “Saya ikut dia, atau saya ikut dia, atau saya ikut dia.” Anda tidak memegahkan hal seperti itu, “Sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya milikmu.” Dia memasukkan semuanya di situ. “Tetapi kamu adalah milik Kristus, dan,” apa? “Kristus adalah milik Allah.” Sudahlah, tinggalkan perpecahan itu dan kembali kepada kesatuan. Lihat, bagian yang sangat kuat ini di pasal 3. Dia menyebutkan semua yang bisa Anda pikirkan: hal-hal yang akan datang, kematian, hidup, semuanya milik Anda. Anda satu. Anda satu dengan Kristus, dan Kristus satu dengan Allah
Jadi Paulus menekankan kesatuan kita. Gereja adalah umat, suatu persekutuan orang-orang yang telah ditebus yang memiliki keberadaan yang berbeda dan hidup bersama karena satu fakta, yaitu bahwa mereka oleh satu Roh dimasukkan ke dalam satu tubuh Kristus dan didiami oleh Roh yang sama itu. Kita bukan orang-orang percaya yang terpisah, Saudara. Kita ini satu. Hidup Anda tidak pernah berakhir. Anda tahu itu? Hidup Anda hanya melanjutkan di titik di mana hidup saya berjalan, dan seluruh tubuh Kristus terus berjalan seperti itu. Tidak ada jeda. Ini adalah rangkaian yang tidak pernah putus.
Kita telah dipanggil ke dalam persekutuan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita. Kita semua adalah bagian dari tubuh-Nya. Anda mungkin bertanya, “Apa yang membawa kita masuk ke dalam hal ini?” Jawabannya adalah panggilan Allah. Kita adalah ekklēsia milik Allah, dari kata ek kaleō, yang berarti dipanggil keluar. Kita adalah orang-orang yang dipanggil keluar oleh Allah, dipisahkan dari dunia untuk hidup sebagai satu kesatuan yang berbeda, yaitu tubuh-Nya dengan Dia sebagai kepala. Kita dipanggil untuk menjalani hidup yang layak bagi panggilan-Nya. Supaya dalam karakter dan tindakan, kita memang menjadi seperti status kita: dipanggil keluar, orang-orang kudus, dipisahkan bagi Dia, sebagai tubuh-Nya
Jadi gereja adalah umat Allah, yang dipanggil keluar dari dunia dan dipisahkan untuk hidup bagi Dia. Satu dalam kekudusan, satu dalam misi. Kita semua memiliki misi yang sama. Satu dalam penderitaan dan satu dalam kemuliaan. Kita ini satu. Dalam Efesus 2:12 dikatakan, dengarkan ini, “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak,” yaitu orang Yahudi dan non-Yahudi, “dan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,” perhatikan ini, “dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu,” apa? “tubuh dengan Allah melalui salib.” Lalu ia melanjutkan dengan berkata, “Karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”
Kita ini satu. “Tidak ada lagi orang Yahudi atau bukan Yahudi,” Galatia 3:28, “tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan.” Semua perbedaan itu tidak berlaku di dalam gereja dalam hal kedudukan kita dalam berkat Kristus. Inilah satu manusia baru. Itulah kita. Kita adalah manusia baru, satu tubuh yang baru, yaitu tubuh Kristus, sesuatu yang benar-benar baru. Ini belum pernah ada sebelumnya. Kristus telah menghapus semua penghalang untuk menjadikan kita satu. Dia telah menghapus batas kebangsaan, batas ras, batas kelas, batas jenis kelamin. Setiap penghalang telah disingkirkan untuk membentuk satu manusia baru, dan itu adalah hal yang mulia. Kita ini satu. Tidak peduli siapa kita, kalau kita mengasihi Yesus Kristus, kita adalah satu. Ada orang yang tidak bisa memahami hal ini. Mereka berpikir, ada orang-orang Kristen yang posisinya “di atas” sana, lalu ada yang kelas bawah. Itu tidak benar.
Jadi hari-hari diskriminasi sudah berakhir. Gereja yang Kristus dirikan, dengan Kristus sebagai kepala, tidak memberi tempat bagi perbedaan apa pun, sama sekali tidak. Ada tempat-tempat, Saudara, di mana Anda tidak bisa memberitakan pesan ini tanpa berisiko dipenjara. Dalam Roma pasal 10, pesan itu kembali ditegaskan oleh rasul Paulus di ayat 12 dan 13, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang sama adalah Tuhan dari semua orang dan bermurah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, "siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Jadi semua penghalang sudah tidak ada. Tidak ada lagi batas dalam Yesus Kristus. Kita adalah satu manusia baru. Akibatnya, semua orang Kristen, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, laki-laki maupun perempuan, hamba maupun orang merdeka, siapa pun, entah yang tidak berbudaya, yang dianggap kasar, atau orang Yunani yang terpelajar, apa pun latar belakangnya, kita semua adalah sesama warga negara Surga.
Paulus menyebut kita dengan empat istilah menggunakan kata-kata Yunani yang tidak akan saya bahas sekarang. Ia menyebut kita sesama warga, sesama ahli waris, sesama anggota, dan sesama penerima bagian. Sesama, sesama, sesama, sesama, satu, satu, satu, kesatuan. Jadi dalam semua gambaran itu, yang ditekankan adalah kesatuan. Dan inilah doa saya bagi gereja ini, supaya setidaknya bagian dari tubuh Kristus ini benar-benar merasakan kesatuan kita. Saya perlu merasakan sakit ketika Anda sakit, dan Anda perlu merasakan sakit ketika saya sakit. Saya perlu peka terhadap kebutuhan Anda, dan Anda juga perlu peka terhadap kebutuhan saya. Saya perlu mengasihi Anda ketika Anda membutuhkan kasih, dan Anda perlu mengasihi saya ketika saya membutuhkannya. Saya perlu menasihati Anda ketika Anda membutuhkan nasihat, dan Anda juga perlu menasihati saya ketika saya membutuhkannya. Ketika Anda perlu ditegur, saya harus menegur Anda; dan ketika saya perlu ditegur, Anda harus menegur saya. Itu berlaku untuk semua orang, kecuali istri saya. Saya tidak mau dia kebablasan karena dia sudah sering melakukannya.
Anda dan saya perlu berjalan bersama, saling peka satu sama lain. Anda tidak seharusnya mengasingkan diri, sebagai orang percaya. Anda perlu menempatkan diri Anda dalam arus utama kehidupan tubuh ini. Itulah yang menjadi masalah banyak orang Kristen. Mereka datang ke gereja pada hari Minggu pagi, duduk di sini, lalu berpikir, “Ya Tuhan, pasti Engkau sangat diberkati karena saya hadir.” Seolah-olah begitu, dan satu poin untuk Anda. Mereka tidak memahami bagaimana berfungsi dalam kehidupan tubuh ini, sehingga mereka menjadi anggota yang tidak berfungsi, melemahkan dan melumpuhkan tubuh Kristus. Yang lain akhirnya harus tertatih-tatih mencoba menutupi kekurangan itu. Anda perlu berada dalam arus kehidupan tubuh ini, peka terhadap saya, dan saya juga perlu peka terhadap Anda. Kita ini satu.
Yesus sangat menginginkan hal ini. Dengan kerinduan yang begitu besar, sampai dalam Yohanes pasal 17—saya sangat menyukai pasal ini, betapa dalam kita bisa melihat hati Yesus Kristus. Dengarkan Dia. Dia sedang berdoa kepada Bapa-Nya. Perhatikan apa yang Dia doakan. Dia bisa saja mendoakan banyak hal, tetapi dengarkan ini. Yohanes 17:20, “Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka.” Artinya, Aku tidak hanya berdoa untuk murid-murid-Ku sekarang, tetapi juga untuk mereka yang nanti akan percaya melalui perkataan mereka. Lalu apa yang Dia doakan? Ayat 21, “Supaya mereka semua menjadi,” apa? “satu; sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Kita melihat betapa dalamnya kepekaan satu sama lain. Indah sekali. “Supaya mereka juga menjadi satu di dalam Kita, agar dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
Anda tahu apa yang akan meyakinkan dunia tentang siapa Yesus itu? Ketika kita menjadi satu. Itulah yang akan meyakinkan dunia. Itulah kuncinya. “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Dia telah menaruh kemuliaan-Nya di dalam kita, bukan? Supaya kita menjadi satu, dan kemuliaan-Nya itu adalah Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus menjadi titik kesatuan kita. Kita semua memiliki Roh yang sama. Itulah yang mempersatukan kita. “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Anda tahu kapan kita benar-benar akan mengguncang dunia ini, kapan kita benar-benar akan menghancurkan sikap masa bodoh dunia ini? Ketika kita menjadi satu.
Saya katakan begini, kalau gereja ini benar-benar menjadi satu dalam kehidupan tubuh, dan mulai saling melayani kebutuhan rohani satu sama lain, dan memiliki kepekaan yang sangat dalam sebagai satu kesatuan, dunia tidak akan sanggup menghadapi apa yang akan terjadi di sini; karena kita akan melepaskan kesatuan dari Roh Allah dan seluruh kuasa yang terkandung di dalamnya.
Sekarang Anda mungkin bertanya, “Lalu bagaimana kesatuan ini bisa terjadi?” Baik, saya akan tunjukkan kuncinya: kesatuan ini didasarkan pada kerendahan hati; itulah kuncinya. Sekarang mari kita lihat Filipi pasal 2, karena saya ingin Anda melihatnya. Kita perhatikan ayat 2, Filipi 2:2. Tadi Yesus berdoa supaya kita menjadi satu, bukan? Paulus juga menginginkan hal yang sama. Jemaat Filipi tampaknya belum sepenuhnya hidup dalam hal ini, jadi mereka bisa menjadi contoh bagi kita tentang apa yang perlu kita pelajari. Dengarkan ayat 2. Paulus berkata kepada jemaat Filipi, “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Apa yang Paulus inginkan dari mereka? Supaya mereka menjadi satu. Jadilah satu, milikilah kasih yang sama. Ada berbagai macam bentuk kasih. Mungkin Anda sangat mengasihi seseorang, tetapi tidak terlalu mengasihi yang lain. Mungkin Anda hanya bisa menoleransi seseorang. Tetapi milikilah kasih yang sama. Jadilah satu. Sehati sepikir, memiliki satu pikiran yang sama.
Anda mungkin bertanya, “Pikiran yang seperti apa?” Saya akan beri tahu. Lihat ayat 5, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga,” apa? “dalam Kristus Yesus.” Jadi pikiran seperti apa yang harus Anda miliki? Pikiran Kristus. Lalu Anda bertanya, “Seperti apa pikiran Kristus itu?” Saya akan tunjukkan, ayat 6, “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Nah, Anda tahu pikiran seperti apa itu, Saudara? Itulah pikiran kerendahan hati yang rela merendahkan diri. Anda melihatnya di situ? Inilah pikiran Kristus. Dia ada di sana, lalu datang dan taat sampai mati. Itulah kerendahan hati. Anda tahu bagaimana kita bisa menjadi satu? Ayat 4, “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Anda tahu bagaimana kita bisa menjadi satu? Dengan menjadi seperti Yesus dan berkata, “Saya tidak memikirkan diri saya sendiri. Saya mau turun ke bawah, dan kalau itu berarti harus menderita untuk menunjukkan kasih saya kepadamu, saya siap menderita.” Kerendahan hati berkata, “Saya tidak peduli tentang diri saya. Yang saya pedulikan adalah kamu.” Bisa Anda bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita semua hidup seperti itu, tidak memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan orang lain? Dengarkan, Saudara, Anda tetap akan diperhatikan karena seluruh tubuh ini akan saling memperhatikan Anda.
Tetapi kebanyakan orang Kristen menghabiskan begitu banyak waktu untuk memikirkan diri mereka sendiri, sampai orang lain pun sulit untuk benar-benar peduli kepada mereka. Tolong dengarkan: kalau kita mau belajar—dan oleh Roh Allah kita bisa—untuk mulai saling memperhatikan satu sama lain, maka Anda akan dibanjiri perhatian dan kasih. Itulah pikiran kerendahan hati. Saya tidak memikirkan diri saya sendiri. Untuk apa saya memikirkan diri saya sendiri? Saya hanya ingin mempedulikan Anda. Tidak ada ego yang terluka, tidak ada perasaan tersinggung. Tidak ada lagi sikap seperti, “Saya tidak mau datang ke acara itu lagi; saya tidak mau bicara dengan si ini. Sudah, cukup sampai di sini saja.”
Itu bukanlah kerendahan hati. Anda tahu itu apa? Itu ego. Itu hanya ego yang muncul ke permukaan. Pikiran yang rendah hati adalah pikiran Kristus. Dengarkan: Kristus tidak pernah berusaha mempertahankan ego-Nya ketika Dia datang ke dunia ini. Mereka memperlakukan Dia dengan semena-mena, dan Dia tetap diam. Mereka menyalibkan Dia, dan Dia tetap di sana. Dia tidak berkata, “Kalian tidak bisa melakukan ini kepada-Ku. Aku tidak akan menerimanya.” Pikiran yang rendah hati berkata, jika ini berarti keselamatan bagimu, jika ini berarti engkau bisa menerima sesuatu, jika ini berarti kebaikan dan berkat bagimu, maka aku rela menderita karena yang aku pedulikan hanyalah engkau. Ini memang terdengar asing, ya, sayangnya. Tetapi inilah inti dari konsep tubuh Kristus. Semuanya adalah tentang memperhatikan orang lain dan tidak berfokus pada diri sendiri. Itulah intinya.
Dalam Roma 12:3, dengarkan apa yang Paulus katakan, “Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan.” Sebab kita ini memiliki banyak anggota dalam satu tubuh. Kita semua ada di dalam tubuh Kristus. Bagaimana kita mendapatkan kesatuan? Dengan cara tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada orang lain. Anda tidak perlu khawatir tentang ego Anda. Anda tidak perlu sibuk dengan masalah kecil Anda sendiri. Anda tidak perlu terus-menerus berpusat pada diri sendiri dalam setiap pikiran Anda. Mulailah menjangkau dan menyentuh hidup orang lain, dan lupakan diri Anda sendiri
Kita ini satu. Titik pengikat kesatuan kita adalah kerendahan hati. Anda mungkin berkata, “Sampai sejauh mana? Nanti kita bisa diinjak-injak.” Ya, biarlah diinjak-injak. Anda pikir Tuhan tidak bisa memulihkan Anda? Bisa. 1 Korintus 6; dan ini akan cukup keras. Saya harap tidak ada di antara Anda yang sedang berperkara di pengadilan saat ini. 1 Korintus pasal 6. Bersiaplah karena ayat ini menantang sekali. 1 Korintus 6:7-8, saya suka bagian ini. Di sini Paulus menegur orang Kristen yang menggugat sesama orang Kristen, membawa perkaranya ke pengadilan dan mempermalukannya di depan umum. Dengarkan ini, 1 Korintus 6:7, “Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan?” Terima saja. Kamu mungkin berkata, “Tapi kamu tidak tahu seberapa besar kerugiannya!” Terima saja. “Mengapa kamu tidak lebih baik membiarkan dirimu dirugikan?” Membiarkan diri dirugikan? “Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan merugikan orang dengan menipu, dan hal itu bahkan kamu lakukan terhadap saudara-saudara seimanmu.”
Terima saja, terima saja. Belajarlah untuk peduli, dan peduli begitu dalam sampai Anda tidak lagi memikirkan apa yang terjadi pada diri Anda. Anda tahu sesuatu? Mungkin ada satu saudara yang merugikan Anda, tetapi akan ada saudara lain yang mengangkat Anda, karena orang yang memberi dan mengasihi akan menerima kembali apa yang ia berikan dan mendapatkan kembali kasih yang ia bagikan
Kristus adalah kepala kita. Kita adalah tubuh-Nya, dan kita dipanggil untuk saling melayani dalam kasih. Nah, kerendahan hati adalah kuncinya. Jika ada kunci kedua, yang sama pentingnya—bukan lebih rendah atau lebih tinggi, tetapi setara—maka kunci keduanya adalah kasih. Keduanya saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Ada satu ayat yang sangat kuat, Yohanes 13:34, di mana Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.” Lalu Anda mungkin bertanya, “Apa itu kasih?” Kasih bukan berarti, “Saya suka si ini selama dia tidak menyakiti saya.” Bukan, bukan begitu. Kasih tidak bergantung pada keadaan. Kasih tidak peduli apa yang terjadi. Kasih mengalir kepada siapa saja, tidak peduli bagaimana mereka bersikap. Itulah kasih. Kasih tidak memilih-milih. Kasih selalu ada, dan siapa pun yang ada di dekatnya akan menerima kasih itu
Tidak peduli bagaimana pun mereka—saya selalu ingat ini. Ada orang berkata, “Saya mengasihi dia di dalam Tuhan,” tapi sebenarnya mau mengatakan, “Saya tidak suka dia.” Sama saja, bukan? Seolah-olah Anda punya semacam katup kecil, lalu Anda bisa berkata, “Saya akan menyemprotkan delapan tetes kasih ilahi kepada Anda tanpa campuran dari diri saya,” lalu menutupnya kembali. Anda tidak bisa mengasihi seseorang “di dalam Tuhan” seperti itu. Anda hanya bisa mengasihi atau tidak mengasihi. Yesus berkata, ini bukan pilihan, Saudara. Ini adalah suatu—apa?—perintah. Anda mungkin berkata, “Bagaimana mungkin Dia memerintahkannya? Kita tidak punya kemampuan.” Oh, kita punya. “Kasih Allah telah dicurahkan,” di mana? “di dalam hati kita,” Roma 5:5
Baik, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi,” bagaimana caranya? “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Perhatikan ini, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Anda tahu bagaimana cara meyakinkan dunia bahwa Yesus itu nyata, dan bahwa kita sungguh mengasihi Dia? Mulailah dengan saling mengasihi. Dengarkan: penginjilan terbesar di dunia bukan soal pergi ke luar atau mengadakan kebaktian besar. Penginjilan terbesar adalah kasih yang begitu nyata sampai-sampai dunia tidak bisa memahaminya. Jika prinsip yang membawa kesatuan kita adalah kerendahan hati, maka tanda dari kesatuan kita adalah kasih, bukan? Kasih.
Paulus berkata kepada jemaat Tesalonika, “Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain.” Yohanes berkata, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar sejak semula, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.” Apakah Anda benar-benar mengasihi? Maksud saya, apakah Anda mengasihi seperti Kristus mengasihi, atau Anda begitu menjaga ego Anda sehingga setiap kali ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan Anda, Anda langsung bereaksi, membalas, dan menjadi kepahitan? Kalau segala sesuatu tidak seperti yang Anda mau, kalau gereja tidak seperti yang Anda inginkan, kalau si ini atau si itu tidak sesuai harapan Anda, apakah itu menjadi sikap Anda? Atau, Anda adalah pribadi yang penuh kasih, yang tidak peduli keadaan seperti apa pun, kasih Anda tetap mengalir, dan siapa pun yang ada di sekitar Anda akan merasakannya?
Dengarkan, kita ini satu. Prinsip dari kesatuan kita adalah kerendahan hati, dan tanda dari kesatuan itu adalah kasih. Kasih seperti ini adalah kasih yang merendahkan hati, kasih yang datang kepada saudaranya dan berkata, “Saudara, saya menyimpan kepahitan terhadapmu, dan saya mau minta agar engkau mengampuni saya, dan saya mau mulai mengasihimu.” Itulah jenis kasih itu. Lalu kasih itu juga berkata, “Saudara, saya mengampunimu.” Kasih itu berkata, “Saya minta maaf, saudara, sungguh saya minta maaf.” Kasih seperti ini tidak menjatuhkan orang lain untuk meninggikan diri sendiri. Kasih seperti ini tetap akan mengasihi apa pun harganya; entah itu uang, gengsi, atau posisi. Semua itu tidak menjadi masalah.
Kesatuan kita akan naik atau turun tergantung pada kerendahan hati dan kasih kita. Sekarang saya katakan begini: jika Anda tidak memiliki kasih terhadap seorang percaya, sebelum tubuh Kristus bisa menjadi sehat, Anda perlu berdoa kepada Tuhan, bertobat, mengakui, lalu datang kepada orang itu dan membereskannya. Gereja membutuhkan kasih Anda. Ya, Anda, dan setiap orang. Gereja membutuhkan kasih Anda untuk kesatuan tubuh ini. Tanpa kasih Anda, kita tidak akan pernah mengalaminya. Secara posisi kita sudah satu, tetapi kita harus mempraktikkannya, kalau tidak, dunia tidak akan pernah tahu. Kita juga tidak akan mengalami sukacita dalam kehidupan sebagai tubuh. Jadi, kita ini satu. Mari kita hidupkan kesatuan yang sudah kita miliki itu.
Hal kedua tentang tubuh ini; mari kita kembali ke 1 Korintus 12 sebentar. Jika aspek pertama dari tubuh adalah kesatuan, maka aspek kedua adalah keberagaman, keberagaman. Kita satu, tetapi sekaligus banyak. Sekarang ayat 14 dari 1 Korintus 12 berkata, “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.” Nah. Kesatuan adalah dasar kita. Keberagaman adalah cara kita berfungsi, bukan? Memang, tubuh itu satu. Namun ada lengan, jari, dan berbagai bagian lainnya, telinga, mata, dan semua anggota tubuh yang berbeda, masing-masing dengan fungsi yang unik, bekerja secara berbeda, tetapi tetap sebagai satu tubuh. Ayat 14 mengatakan bahwa tubuh memiliki banyak anggota. Ada keberagaman di dalam tubuh.
Kita semua berbeda, bukan? Dalam Roma 12 dikatakan bahwa kita telah diberi karunia yang berbeda-beda, dan ukuran iman yang sesuai dengan karunia itu. Artinya, kalau Allah memberi Anda suatu karunia rohani, Dia juga memberi ukuran iman yang tepat untuk menjalankannya. Coba bayangkan kalau Allah memberi Anda suatu karunia, tetapi tidak memberi iman untuk menggunakannya. Itu pasti akan membuat Anda frustrasi. Atau bagaimana jika Allah memberi Anda iman yang terlalu besar dibandingkan dengan karunia yang Anda miliki. Karena itulah, Allah menyelaraskan ukuran iman dengan karunia, sehingga Anda selalu memiliki iman yang tepat untuk menjalankan karunia yang benar.
Baik, ini akan kita bahas secara singkat saja. Keberagaman itu penting. Kita semua memiliki karunia yang berbeda. Nanti kita akan membahas karunia-karunia Roh saat masuk ke kitab Efesus, jadi sekarang tidak perlu panjang lebar. Perhatikan ayat 4 dalam pasal ini, saya bacakan, “Ada berbagai karunia.” Ini bukan soal bakat, Saudara. Ini bukan kemampuan alami; ini adalah karunia yang diberikan oleh Roh. Ketika Anda menjadi orang percaya, Allah melalui Roh-Nya memberikan kepada Anda karunia yang khusus. Perhatikan ini. Ini adalah karunia ilahi yang diberikan oleh Roh kepada Anda.
“Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh.” Nah, tubuh memang membutuhkan hal ini, bukan? Kita harus saling melengkapi. Kita tidak mungkin bisa melakukan semuanya, bukan? Jadi saya bisa melakukan satu hal, Anda bisa melakukan hal lain, dan orang lain bisa melakukan hal yang berbeda, lalu kita saling melayani, demi kesehatan tubuh ini. Setiap anggota yang tidak berfungsi akan melemahkan dan melumpuhkan tubuh.
Baik, jadi, “Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada pula berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah yang sama.” Lihat bagaimana ada keberagaman sekaligus kesatuan? Lalu, “Kepada yang seorang, Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,.” Itu adalah karunia; ada orang yang memiliki hikmat. “Kepada yang lain karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” Ada orang yang memiliki pemahaman dan mengenal firman Tuhan dengan baik. “Kepada yang seorang, iman.” Tahukah Anda bahwa iman juga merupakan karunia yang diberikan oleh Roh? Ada orang yang memiliki karunia itu, ada yang tidak. Memang kita semua memiliki iman untuk percaya kepada Tuhan, tetapi ada yang memiliki karunia iman, yaitu iman yang melampaui iman pada umumnya.
“Kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang, Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang, Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa lidah, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa lidah itu.” Tentu saja, kalau Anda mempelajari firman Tuhan dengan teliti, Anda akan menemukan bahwa masih ada banyak karunia lain yang disebutkan dalam Roma 12 dan Efesus 4 juga. Sebagian bersifat sementara, sebagian bersifat tetap. Ada yang diberikan sebagai tanda bagi orang yang belum percaya, ada juga yang diberikan untuk membangun tubuh Kristus. Kita tidak akan membahas semuanya sekarang.
Pada dasarnya, ada berbagai macam karunia. Ayat 11 berkata, “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” Jadi, supaya tubuh bisa berfungsi dengan baik, sehingga kita bisa saling melayani, saya bisa melengkapi Anda, dan Anda bisa melengkapi saya—saya bisa melakukan sesuatu yang mungkin Anda tidak bisa, dan Anda bisa melakukan hal lain dengan karunia yang berbeda untuk saya—kita semua bisa bekerja bersama. Roh telah membagikan karunia-karunia itu dengan keseimbangan yang indah.
Saya katakan dengan sederhana: kalau Anda tidak menggunakan karunia Anda, ada seseorang yang dirugikan. Dalam Efesus dijelaskan bahwa justru keberagaman karunia itu yang menghasilkan kesatuan. Dengarkan ini, Efesus 4:11, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,” perhatikan ini, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman.”
Keberagaman karunia justru menghasilkan kesatuan. Anda mungkin bertanya, “Bagaimana bisa?” Karena ketika kita semua saling melayani—setiap orang memberi dan juga menerima pelayanan, menggunakan karunia yang Tuhan berikan dalam pertukaran yang seimbang—kita semua bertumbuh bersama, bukan? Seluruh kelengkapan karunia itu dibagikan kepada setiap anggota tubuh. Jadi kita semakin dipersatukan, karena ketika Anda melayani saya dan saya melayani Anda, dan bersama-sama kita memakai karunia yang Tuhan berikan, kita semua sedang bertumbuh menuju satu tubuh yang dewasa dan utuh. Jadi, keberagaman itu sangat penting.
Karunia rohani Anda adalah anugerah dari Allah yang diberikan secara berdaulat, dan Anda harus menggunakannya. Anda mungkin berkata, “Saya sudah mendaftar di sekolah minggu, tapi mereka tidak butuh guru kelas tiga.” Saya tidak tahu apakah kita butuh guru kelas tiga atau tidak, tapi dalam hal ini itu bukan poin utamanya. Anda tahu kenapa? Karena Alkitab tidak pernah berkata, “Carilah satu organisasi lalu tempatkan karuniamu di sana.” Tidak begitu. Kalau Anda memiliki karunia rohani, gunakanlah itu. Anda berkata, “Tidak ada kesempatan.” Oh, ada. Kalau Anda punya karunia menolong, pergilah menolong seseorang. Anda tidak harus menunggu program gereja; lakukan saja. Kalau Anda punya karunia mengajar, carilah orang untuk diajar. Kalau perlu, walaupun hanya satu atau dua orang di sekitar Anda, carilah seseorang yang membutuhkan pengajaran.
Kalau Anda punya karunia penginjilan, carilah seseorang yang belum mengenal Yesus Kristus dan beritakan Injil kepadanya. Anda tidak perlu menunggu organisasi gereja. Banyak orang hanya duduk saja, padahal mereka memiliki karunia rohani yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tubuh Kristus, dan ada orang yang membutuhkan pelayanan Anda. Jangan menunggu organisasi menempatkan Anda di posisi tertentu. Pergilah cari seseorang dan layani dengan karunia Anda. Saya beri tahu, kalau Anda tidak bisa menemukan siapa pun untuk dilayani dengan karunia Anda, kemungkinan besar Anda memang belum berada dalam arus kehidupan tubuh itu sejak awal.
Kami membutuhkan karunia Anda untuk dipakai dalam pelayanan. Roh Allah tidak memberikannya kepada Anda untuk disimpan saja. Anda mungkin berkata, “Saya bahkan tidak tahu apa karunia saya.” Kalau begitu, cari tahulah. Bagaimana caranya? Bacalah daftar karunia dalam Roma 12, 1 Korintus 12, dan Efesus 4. Temukan mana yang menjadi karunia Anda melalui doa, dengan mempelajari karunia-karunia itu, dan memperhatikan apa yang Anda sukai untuk dilakukan, serta apa yang Anda lakukan dengan penyertaan Roh dan ada hasil yang nyata. Maksudnya, Anda tentu tahu bahwa Anda tidak memiliki karunia sebagai gembala-pengajar kalau Anda seorang perempuan, jadi itu bisa langsung dikesampingkan.
Kedua, Anda juga tahu bahwa Anda tidak memiliki karunia penginjilan jika Anda tidak tahan berdiri di depan orang banyak dan berbicara, setidaknya dalam skala besar. Kalau Anda senang bekerja dengan orang lain, mungkin Anda memiliki karunia menolong. Kalau Anda pandai mengatur, mungkin Anda memiliki karunia kepemimpinan atau pengelolaan. Apa pun itu, bacalah semuanya. Temukan karunia Anda, dan saya jamin kalau Anda jujur dan sungguh ingin tahu, Roh Kudus akan menunjukkannya kepada Anda. Lalu jangan terlalu fokus pada gereja ini saja. Jangan hanya memikirkan Gereja Komunitas Grace ini. Pergilah cari orang yang membutuhkan pelayanan dan layani mereka. Kadang ketika saya bertemu seorang Kristen dan dia mulai berbicara dengan saya, saya mungkin berkata, “Di gereja kami ada banyak kebutuhan. Maukah Anda membantu?” Lalu dia menjawab, “Wah, saya ingin sekali membantu, tapi saya sangat sibuk. Saya sudah melayani di sini dan di sana.” Anda tahu apa yang saya katakan? “Bagus sekali. Silahkan lanjutkan.”
Anda tidak membutuhkan organisasi ini untuk melayani dengan karunia Anda. Kalau Anda merasa harus, berarti Anda hanya bergantung pada penopang luar saja. Dengarkan: bagi Anda yang memang melayani di sini, berarti di sinilah Tuhan menempatkan Anda. Gunakan karunia Anda. Tetapi kalau Anda tidak menemukan kesempatan, kalau menurut Anda tidak ada tempat dalam struktur yang ada, pergilah dan layani seseorang. Pergilah mengajar seseorang. Carilah orang yang mau belajar. Anda mungkin bertanya, “Di mana mereka?” Malam ini saja, gereja ini penuh dengan orang-orang yang membutuhkan firman Tuhan. Anda bisa mulai dengan membangun relasi, pulang bersama seseorang, lalu bertemu di hari lain dan duduk bersama untuk mengajarkannya beberapa hal. Ada begitu banyak orang percaya baru di gereja ini yang perlu belajar. Temukanlah pelayanan Anda.
Kalau pelayanan Kalau pelayananmu adalah pelayanan belas kasih, yaitu peduli kepada orang lain, pergilah kunjungi orang-orang yang sakit. Kami punya daftarnya. Hubungi kantor gereja. Pergilah cari mereka. Jangan menunggu struktur. Jalankan saja karunia Anda. Seperti kata anak-anak sekarang, lakukan saja, jangan ditunda-tunda.
Poin ketiga: keselarasan. Hal terakhir yang harus dimiliki oleh suatu tubuh adalah keselarasan. Kita semua memang melayani dengan karunia masing-masing, tetapi semuanya harus menyatu, bukan? Saya suka bagian ini, sangat bagus, ayat 15. Kalau tidak ada keselarasan dalam tubuh, jadinya tidak masuk akal. “Andaikata kaki berkata, ‘Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh’, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata telinga berkata, ‘Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh’, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Tidak juga. Sebenarnya ini sedang berbicara tentang perasaan tidak berarti. “Saya ini tidak penting, jadi saya tidak termasuk dalam tubuh ini.” Itu tidak benar; Anda mempunyai fungsi dalam tubuh ini.
Ayat 17 berkata, “Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran?” Banyak orang berkata, “Kalau saja saya seperti mata, saya pasti bisa berfungsi dengan baik. Tapi saya ini cuma kaki.” Lalu Paulus berkata, “Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?” Harus ada keberagaman. Tidak ada tempat untuk iri hati atau kecemburuan karena tidak ada hierarki. Anda tidak perlu iri terhadap karunia orang lain. Tuhan sudah memberikan karunia Anda sendiri. Karunia Anda itu sama pentingnya, seratus persen penting bagi kehidupan tubuh Kristus, sama seperti karunia saya atau siapa pun yang lain.
Lalu pada ayat 18, “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.” Allah tahu apa yang Dia lakukan. Dia punya rencana besar untuk kesatuan. “Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?” Jadi, tidak mungkin semua orang melakukan hal yang sama. Temukan karunia Anda dan pakailah. Kita semua adalah bagian dari satu tubuh yang sama, tetapi kita memiliki tugas yang berbeda-beda
Jadi, kerendahan hati adalah kuncinya. Ayat 21 berkata, “Mata tidak dapat berkata kepada tangan, ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ Demikian pula kepala tidak dapat berkata kepada kaki, ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’” Ayat ini berbicara tentang sikap merasa lebih tinggi. Seolah-olah sedang berkata, “Kamu tidak penting, kamu di bawah sana. Saya ini kepala.” Lalu saya suka ayat 22, “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” Maksudnya begini, ada orang yang mungkin berkata, “Saya ini seperti hidung, indah, terlihat, membuat penampilan jadi bagus.” Padahal yang paling penting bukanlah hidungnya. Justru kaki yang membawa Anda ke suatu tempat. Lebih baik punya hidung yang terluka daripada kaki yang lumpuh. Itulah maksudnya di sini. Orang-orang yang berkata, “Kami yang terlihat di depan, kami yang dilihat semua orang,” diingatkan bahwa justru hal-hal yang terjadi di belakang layarlah yang sering kali yang paling penting. Percayalah, dalam pelayanan Anda akan belajar hal ini.
Saya melihat orang-orang datang kepada Kristus dalam ibadah kami, dan ketika saya memperhatikan lebih dekat, saya menemukan sesuatu: ada seseorang yang sudah lebih dulu melayani mereka. Ada “kaki” atau “tangan” dalam tubuh ini yang sudah bekerja keras. Hanya karena saya kebetulan menjadi “mulut” yang berdiri di depan dan terlihat menonjol, itu tidak membuktikan apa-apa. Karunia saya tidak sedikit pun lebih penting daripada karunia Anda. Bahkan, bisa jadi justru kurang diperlukan dibandingkan karunia Anda.
“Kepada anggota-anggota tubuh,” ayat 23, “yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus, dan terhadap anggota-anggota kita yang kurang layak diperlihatkan, kita berikan perhatian khusus.” Bagian-bagian yang tidak terlihat indah atau menonjol, justru itulah yang benar-benar bekerja menjalankan fungsinya. Fakta ini seharusnya meruntuhkan kesombongan siapa pun yang berdiri dan berkata, “Saya ini bagian tubuh yang paling hebat dan paling terlihat.”
Ayat 24 berkata, “Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang layak diperlihatkan.” Apa yang mereka lakukan? Hanya terlihat bagus? Tapi “Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus.” Bagian-bagian dalam tubuh yang tidak terlihat indah, bahkan tidak menarik sama sekali, justru itulah yang menjadi inti kehidupan tubuh itu. Bukan hanya yang terlihat indah di luar, tetapi bagian yang bekerja, yang mungkin tidak menarik untuk dilihat, namun merekalah yang menjaga kehidupan dalam tubuh. Kita harus berhati-hati supaya tidak memiliki cara pandang seperti ini, seolah-olah kita berkata, “Kami ini bagian yang terlihat hebat, dan kalian hanya bagian biasa.” Tidak, sama sekali tidak.
Ayat 25 mengatakan, jangan lakukan itu, “Supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh,” tidak ada perpecahan, “tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.” Tidak ada perbedaan, tidak ada. “Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Jadi Anda adalah tubuh Kristus—ada kesatuan, dan sebagai anggota-anggota, ada keberagaman. Sekarang hiduplah dalam keselarasan. Jangan malah menciptakan hierarki.
Kita harus menjadi tubuh yang sehat, Saudara. Harus. Kita perlu sehat, dan kami membutuhkan Anda. Kita tidak membutuhkan lebih banyak kesatuan secara struktur. Kita tidak membutuhkan lebih banyak organisasi. Kita membutuhkan lebih banyak kesatuan sebagai tubuh Kristus, lebih banyak pelayanan dalam tubuh ini. Itulah yang Yesus doakan. Mari kita menjawab doa-Nya. Kesatuan kita adalah kesatuan Roh, bukan kesatuan karena denominasi, gereja, atau organisasi. Kesatuan rohani yang sejati akan terjadi ketika kita merendahkan diri; ketika kita tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga orang lain; ketika kita mengasihi dengan kasih yang tidak memikirkan apa yang terjadi pada diri kita; dan ketika kita mulai melayani satu sama lain dengan selaras melalui karunia-karunia rohani kita.
Oh, saya berdoa kepada Tuhan setiap hari supaya hal ini benar-benar terjadi di sini, dan supaya dunia melihat kita lalu berkata, “Ya, Yesus itu nyata. Kami bisa melihatnya dari kasih mereka.”
Bapa, kami mengucap syukur kepada-Mu malam ini untuk firman ini. Kami mungkin telah menyampaikannya secara singkat, Tuhan, tetapi Engkau tahu. Engkau mengetahui kebenarannya, dan terima kasih karena Engkau telah mengajar kami tentang tubuh Kristus. Betapa mulianya kebenaran ini. Terima kasih untuk Yesus, yang adalah kepala kami, yang dari-Nya mengalir kuasa, sumber, hikmat, dan dorongan ke dalam tubuh ini. Ya Tuhan, ajar kami untuk bertindak. Ajar kami untuk berfungsi. Tolong kami untuk pergi dan menemukan tempat untuk melayani dengan karunia kami, supaya kami benar-benar mulai bekerja bagi-Mu, demi kesehatan tubuh ini; supaya kami dipersatukan sehingga kami bisa menyalakan api yang menyala dan menjalar ke seluruh dunia
Sementara kita semua menundukkan kepala sejenak selagi kita menutup ibadah ini, saya ingin kita mengambil waktu untuk berdoa dalam diam. Saya ingin Anda memanjatkan doa yang singkat bersama saya, kira-kira seperti ini: “Kristus, saya menyadari posisi saya dalam tubuh Kristus. Saya merindukan tiga hal. Pertama, Kristus, ajarlah saya untuk rendah hati. Kedua, ajarlah saya untuk mengasihi. Ketiga, tunjukkan kepada saya karunia saya, dan ajarlah saya untuk menggunakannya.” Maukah Anda berdoa seperti itu? Ajarlah saya untuk rendah hati, untuk mengasihi, untuk mengenal karunia saya dan menggunakannya. Anda mungkin memiliki lebih dari satu karunia, karena kebanyakan orang Kristen memang demikian. Jadi, mari, doakan itu sekarang.
Saya percaya Anda sudah melakukannya, dan saya tahu Roh Allah akan menjawab doa Anda. Kami membutuhkan Anda. Tubuh ini sangat membutuhkan Anda untuk berfungsi dan peka. Saya membutuhkan Anda. Kita harus bekerja bersama, apa pun harganya, saling memperhatikan sebagai satu tubuh. Itulah yang Yesus doakan. Itulah yang kita inginkan bagi kemuliaan-Nya
Bapa kami, kami berdoa supaya Engkau benar-benar menanamkan kebenaran ini dalam pikiran kami, sehingga kami sungguh menjadi satu. Ajar kami untuk menjadi satu. Lembutkan hati kami yang keras dan jadikan kami satu di dalam Roh. Kami berdoa dalam nama Kristus, amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
