Saat ini, kita sudah mempelajari karunia-karunia rohani dan prinsip-prinsip yang mendasari cara karunia itu bekerja. Kita melihat bahwa sangat penting bagi setiap orang percaya untuk melayani dengan karunia yang mereka miliki, supaya tubuh Kristus dibangun. Kalau tubuh itu dibangun, maka kesaksiannya akan menjadi efektif, karena pembangunan tubuh menghasilkan kesatuan, dan kesatuan menghasilkan satu kesaksian yang jelas bagi dunia.
Secara khusus, kita telah mulai menyusun daftar karunia rohani yang ada. Kita menemukannya dalam 1 Korintus 12 dan juga dalam Roma 12. Lalu kita gabungkan daftar itu, dan sampai pada apa yang kita sebut sebagai karunia-karunia yang tetap dan membangun. Karunia-karunia ini diberikan untuk membangun orang-orang percaya. Karunia ini dipakai di tengah sesama orang percaya, membangun mereka secara pribadi, dan dengan demikian juga membangun seluruh tubuh secara keseluruhan.
Tetapi ada juga beberapa karunia lain yang tidak dirancang untuk membangun tubuh. Karunia-karunia itu diberikan untuk meneguhkan firman kepada orang-orang yang belum percaya. Karunia-karunia ini tidak ditujukan untuk kebutuhan di dalam gereja itu sendiri, melainkan untuk orang-orang yang belum percaya. Fungsinya adalah untuk meneguhkan firman. Sebagai contoh, jika ada tiga pengkhotbah datang ke suatu kota dan ketiganya memberitakan pesan yang berbeda, sementara Anda hidup di zaman Perjanjian Baru, siapa yang akan Anda percaya? Kemungkinan besar Anda akan percaya kepada yang melakukan mukjizat. Seperti yang dikatakan Nikodemus kepada Yesus, “Kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Jelas bahwa Yesus berasal dari Allah, karena ada mukjizat-mukjizat yang meneguhkan kesaksian-Nya.
Dia menyatakan hal itu, lalu berkata, “Jika kamu tidak bisa percaya kepada apa yang Aku katakan, percayalah kepada-Ku karena,” apa? “pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” Peneguhan atas klaim Kristus adalah mukjizat. Mukjizat tidak pernah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Mukjizat selalu menjadi tanda yang menunjuk kepada apa yang Dia nyatakan.
Ketika gereja mula-mula berjalan, pada zaman para rasul, karunia-karunia ini diberikan untuk meneguhkan firman yang disampaikan oleh para rasul dan nabi. Hal ini jelas di dalam Kitab Suci. Kepada mereka diberikan karunia-karunia mukjizat tertentu. Karunia-karunia ini bukan untuk gereja, bukan untuk orang percaya, melainkan untuk orang yang belum percaya, supaya mereka diyakinkan bahwa pesan yang diberitakan oleh para rasul dan nabi benar-benar berasal dari Allah.
Nah, ada empat karunia seperti ini yang disebutkan dalam Perjanjian Baru: mukjizat, penyembuhan, bahasa lidah atau bahasa roh, dan penafsiran bahasa lidah atau roh—atau lebih tepatnya, bahasa-bahasa dan penerjemahan bahasa-bahasa. Itulah arti yang paling tepat dari bahasa Yunani aslinya. Menurut yang kita pahami dari Kitab Suci, karunia-karunia ini tidak memiliki peran yang berkelanjutan di dalam tubuh saat ini, seperti yang nanti akan kita lihat. Karunia-karunia ini ada pada zaman para rasul, dengan tujuan meneguhkan firman sebelum kanon Perjanjian Baru selesai, dan secara khusus pada masa ketika Allah masih secara langsung menyatakan tanda-tanda di hadapan Israel. Nanti kita akan membahas hal ini lebih lanjut.
Sekarang izinkan saya menjelaskan sifat dari karunia-karunia ini melalui beberapa bagian firman. Markus pasal 16, dan kita akan melihat bagian-bagian ini bersama. Sementara Anda mencari Markus 16, izinkan saya mengatakan ini terlebih dahulu. Saya berharap dan berdoa supaya Anda mendengarkan apa yang saya sampaikan pagi ini sebagaimana adanya. Saya percaya, dan saya memiliki banyak teman yang saya kasihi, yang terlibat dalam gerakan-gerakan yang meyakini bahwa karunia-karunia ini masih ada sampai hari ini. Saya pernah berkhotbah di gereja mereka. Saya juga bersekutu dengan mereka sebagai sesama orang percaya dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini, kami sepakat untuk berbeda pendapat ketika kami bertemu. Saya tidak ingin membesar-besarkan satu pandangan tertentu. Saya berharap dan berdoa kepada Tuhan supaya saya tidak bersikap seperti itu, melainkan tetap objektif terhadap Kitab Suci. Saya terbuka terhadap apa pun yang Roh Allah mau ajarkan kepada saya. Itu yang saya doakan. Saya berdoa agar Tuhan menjaga lidah saya supaya tidak mengatakan sesuatu yang bukan berasal dari-Nya. Namun di saat yang sama, saya juga menyadari bahwa bukan hal yang mudah bagi-Nya untuk menembus keterbatasan dan titik buta saya sendiri.
Namun demikian, apa yang saya sampaikan, saya sampaikan dengan kasih, tetapi juga dengan keberanian yang hanya bisa saya miliki karena saya telah mempelajari firman Tuhan. Saya berharap Anda mendengarkannya dengan cara seperti itu. Ini sama sekali bukan penilaian terhadap keselamatan atau ketulusan banyak orang yang terlibat dalam hal ini.
Baik, Markus 16:14. Tujuan kita hanyalah membawa semuanya kepada terang Kitab Suci. Markus 16:14, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.” Anda ingat bahwa kesaksian tentang kebangkitan Yesus sudah sampai kepada para murid, tetapi mereka tidak begitu yakin akan hal itu. “Lalu Ia berkata kepada mereka,” ayat 15, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya.”
Nah, Dia berkata kepada kesebelas murid bahwa yang akan menyertai pemberitaan mereka, untuk meneguhkan iman dari mereka yang percaya, adalah tanda-tanda tertentu. “Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku,” dan di sini, saya percaya, Dia berbicara secara langsung tentang kesebelas murid itu. “Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka.” Artinya, mereka bisa terkena racun tanpa mengalami dampak apa pun. “Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Nah, ada hal yang menarik di sini. Bagian firman ini memberi kita gambaran bahwa mereka yang pergi untuk memberitakan pesan itu akan disertai oleh mukjizat. Sebenarnya, keempat karunia yang kita bicarakan semuanya ada di sini. Karunia mukjizat, misalnya, terlihat dari kemampuan untuk memegang ular dan meminum sesuatu yang mematikan tanpa terluka. Itu adalah mukjizat. Karunia penyembuhan juga ditunjukkan di sini, karena dikatakan bahwa mereka akan meletakkan tangan atas orang sakit, dan mereka akan sembuh. Bahasa roh juga terlihat di sini, karena dikatakan bahwa mereka akan berbicara dengan bahasa-bahasa yang baru.
Jadi, semua karunia itu terlihat di sini, ketika Tuhan berjanji kepada kesebelas murid bahwa pelayanan mereka akan diteguhkan oleh karunia-karunia ini dan oleh mukjizat-mukjizat tersebut. Nah, jika hari ini kita menganggap bahwa masih ada orang yang memiliki semua hal ini seperti pada waktu itu, maka kita juga harus menerima praktik seperti para penangkap ular di daerah Appalachia, dan juga mereka yang, misalnya dari kelompok yang disebut Church of the Firstborn (Gereja Anak Sulung), yang minum racun, dan sebagainya. Kenyataannya, hal itu tidak sering berjalan seperti yang mereka harapkan. Namun demikian, jika kita mau mengambil sebagian, maka kita harus mengambil semuanya, karena dikatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai mereka yang percaya.” Jika ini dianggap sebagai sesuatu yang berlaku terus-menerus, maka kita harus menerima seluruhnya, tidak bisa hanya memilih sebagian saja.
2 Korintus 12:12. Kita lanjutkan melihat beberapa bagian firman ini untuk memberi kita kerangka pemahamannya. 2 Korintus 12:12. Paulus sedang berbicara tentang kerasulannya di sini, dan ia menegaskan bahwa ia benar-benar seorang rasul dengan mengatakan ini, “Tanda-tanda seorang rasul telah diperlihatkan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran,” perhatikan ini, dengan penegasan yang jelas, “melalui tanda-tanda, mukjizat-mukjizat dan kuasa-kuasa.” Ini bukan sekadar beberapa tanda, tetapi tanda-tanda yang khusus. Ada penegasan yang jelas disini tentang tanda-tanda tertentu yang diberikan kepada para rasul. “Tanda-tanda seorang rasul.” Para rasul memiliki tanda-tanda tertentu yang diberikan kepada mereka. Nah, apa saja tanda-tanda itu? Tampaknya tanda-tanda itu sudah disebutkan sebelumnya dalam Markus 16.
Nah, untuk penjelasan selanjutnya, saya ingin Anda memperhatikan Ibrani pasal 2. Ingat, kitab Ibrani ditujukan kepada siapa? Sesuai namanya: orang Ibrani, yaitu orang-orang Yahudi, dan ini sangat penting untuk dipahami. Ayat 3 pasal 2 mengatakan, “Bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan.” Tentu saja, mereka tidak mendengarnya langsung dari Tuhan, tetapi firman itu “ditegaskan kepada kita oleh mereka yang telah mendengar-Nya.”
Kata “ditegaskan” di sini berarti dibuat dapat dipercaya atau dibuktikan sebagai benar. Apa yang dinyatakan atau diberitakan itu diteguhkan, dibuat dapat dipercaya. Bagaimana caranya? Ayat 4 mengatakan, “Allah juga meneguhkan kesaksian mereka dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dan dengan berbagai-bagai penyataan kuasa dan pemberian Roh Kudus.” Jadi, karunia-karunia Roh Kudus tertentu ini diberikan untuk meneguhkan firman di hadapan orang-orang Yahudi yang mendengarnya. Itulah yang sebenarnya dikatakan oleh bagian ini. “Firman itu telah diteguhkan kepada kita.” Pemberitaan sudah dilakukan, dan peneguhannya datang melalui perbuatan-perbuatan yang terjadi oleh karunia-karunia Roh yang diberikan kepada para rasul.
Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa karunia-karunia rohani tertentu, yang disebut sebagai karunia Roh Kudus, merupakan tanda-tanda dari seorang rasul. Karena itu, karunia-karunia tersebut memiliki peran khusus dalam pelayanan para rasul, yaitu pelayanan yang menjadi dasar. Pada masa gereja mula-mula, ketika ada begitu banyak suara yang menyampaikan berbagai macam ajaran, Allah meneguhkan kebenaran melalui karunia-karunia khusus ini yang diberikan kepada para rasul, untuk meneguhkan firman di hadapan mereka yang mendengarnya.
Benjamin B. Warfield, seorang sarjana Alkitab yang mungkin belum tergantikan oleh siapa pun dalam bidangnya—dan itu bukan sekadar pujian, melainkan pernyataan fakta—pernah mengatakan demikian: “Karunia-karunia mukjizat ini merupakan bagian dari tanda pengenal para rasul sebagai utusan Allah yang berotoritas dalam mendirikan gereja. Karena itu, fungsinya terbatas pada masa gereja para rasul, dan dengan sendirinya berakhir bersama masa itu.” Jika kita percaya bahwa Efesus 2:20 mengatakan bahwa para rasul dan para nabi adalah dasar, maka tanda-tanda seorang rasul juga berakhir ketika para rasul itu tidak ada lagi. Jika tanda-tanda para rasul adalah karunia-karunia Roh Kudus yang meneguhkan, maka kita bisa melihat keterkaitannya secara utuh. Kita dapat memahami bahwa ketika para rasul tidak lagi ada, maka karunia-karunia Roh yang diberikan kepada mereka sebagai tanda peneguhan itu juga ikut berhenti bersama mereka.
Nah, beberapa bagian dalam Kisah Para Rasul secara khusus mengaitkan dan menegaskan bahwa karunia-karunia ini diberikan kepada para rasul. Salah satu contohnya, dalam Kisah Para Rasul 14:3, untuk memberi gambaran, dikatakan demikian: “Maka tinggalah mereka di situ cukup lama,” yaitu Paulus dan Barnabas di Ikonium, “Jadi Paulus dan Barnabas tinggal agak lama di situ. Mereka berbicara dengan berani untuk Tuhan yang menguatkan berita tentang anugerah-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat.”
Inilah contoh bagaimana Allah memakai karunia-karunia itu. Mereka memberitakan firman, dan pemberitaan mereka diteguhkan berasal dari Allah karena mereka melakukan mukjizat. Nah, saya tidak percaya bahwa gereja pada masa ini masih membutuhkan jenis peneguhan seperti itu. Gereja hari ini tidak memerlukan peneguhan seperti itu. Saya bisa katakan sekarang, jika ada tiga orang datang ke suatu kota dan ketiganya membawa pesan yang berbeda, saya bisa langsung mengetahui siapa yang berasal dari Allah. Standarnya bukan lagi siapa yang melakukan mukjizat. Lalu apa standarnya? Alkitab, karena di situlah standar yang Allah berikan untuk meneguhkan setiap pesan yang disampaikan.
Paulus bahkan berkata dalam 1 Korintus 14 kepada para nabi, “Ketika kamu bernubuat, pastikan bahwa nubuatmu sejalan dengan ajaran yang telah aku sampaikan kepadamu.” Jadi kita harus berhati-hati untuk menyadari bahwa yang menguji kebenaran pesan seseorang, pengalaman seseorang, atau hal-hal rohani apa pun pada masa ini adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah ujian terakhir, otoritas terakhir, dan menjadi standar bagi iman serta kehidupan kita. Karena itu, kita tidak bisa lagi menganggap bahwa karunia-karunia peneguhan seperti itu masih diperlukan untuk meneguhkan firman. Firman itu sendiri sudah ditegakkan.
Mengatakan bahwa kita masih membutuhkan tanda-tanda mukjizat hari ini, terlebih lagi di tengah masyarakat seperti di Amerika dan di gereja-gereja di mana Firman Tuhan ada di tangan setiap orang, berarti mengabaikan atau bahkan menolak finalitas dan otoritas Kitab Suci. Saya teringat Lukas 16:31 yang mengatakan, “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” Ketika kita sudah memiliki Kitab Suci, itu sudah cukup, itulah intinya. Bahkan pada saat Paulus menulis Efesus, ia mengatakan bahwa akan ada penginjil dan gembala-pengajar yang akan membangun tubuh Kristus, tetapi ia sama sekali tidak menyebutkan karunia-karunia mukjizat ini. Lalu ketika kita membaca surat-surat Paulus kepada Timotius dan Titus, kita melihat bahwa alat utamanya adalah Firman Tuhan, dan ia terus-menerus menekankan, “Ajarkanlah ajaran yang sehat. Ajarkanlah ajaran yang sehat.”
Nah, jika memang karunia-karunia peneguhan ini masih ada sampai hari ini, seperti yang dikatakan sebagian orang, maka seharusnya karunia-karunia itu menyertai para pengajar Alkitab yang besar, atau menyertai orang-orang yang memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum memiliki Alkitab, untuk meneguhkan pesan mereka. Namun, karunia-karunia itu tidak akan menyertai kelompok orang percaya yang sudah memiliki Kitab Suci di tangan mereka. Hal seperti itu sama sekali tidak memiliki arti apa pun, dan tidak ada kaitannya dengan karunia yang dimaksud di dalam Alkitab. Para pengajar Alkitab besar sepanjang sejarah juga sepakat bahwa karunia-karunia ini bukan bagian dari mereka. Jika kita menelusuri sejarah dan melihat orang-orang yang telah mewariskan kepada kita karya-karya teologi yang besar, mereka tidak terlibat dalam hal ini. Karunia-karunia ini diberikan pada masa para rasul sebagai bagian dari pelayanan yang menjadi dasar.
Sekarang, mari kita melihat karunia-karunia itu secara lebih spesifik, walaupun hanya secara singkat. Pertama, karunia mukjizat, dalam 1 Korintus 12:10. Dalam daftar karunia-karunia itu, Paulus menyebut tentang mukjizat, yaitu kemampuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Mungkin Anda bertanya, “Apakah maksudnya mukjizat sudah tidak ada lagi sekarang?” Tidak, saya tidak mengatakan bahwa mukjizat sudah berhenti. Saya tahu mukjizat masih terjadi di berbagai tempat. Saya sendiri telah melihat mukjizat terjadi berkali-kali. Allah adalah Allah yang melakukan mukjizat. Lalu Anda bertanya, “Apa sebenarnya definisi mukjizat?” Sebenarnya, mukjizat itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Banyak orang yang tidak percaya justru menjadi heboh soal mukjizat, padahal sebenarnya itu bukan sesuatu yang luar biasa seperti yang mereka bayangkan.
Izinkan saya menjelaskan maksud saya. Kita hidup di dalam dunia kecil yang alami. Anggap saja seperti sebuah kolam. Kolam kecil kita. Kita berpikir bahwa segala sesuatu di dalam kolam itu berjalan sebagaimana mestinya. Nah, jika Allah memang ada, maka mukjizat itu tidak lebih dari Allah memasukkan jari-Nya ke dalam kolam itu dan menimbulkan riak. Maksud saya, kalau memang ada Allah di atas sana, maka mukjizat bukanlah sesuatu yang besar. Itu sama seperti melempar batu ke dalam kolam, lalu timbul riak. Tidak lama kemudian, kolam itu kembali tenang dan kembali seperti semula. Coba baca buku tentang mukjizat karya C. S. Lewis. Ia membahas hal ini dengan sangat tepat. Mukjizat itu seperti Allah memasukkan jari-Nya ke dalam kolam dan menimbulkan riak. Jika memang ada Allah dan Dia yang menciptakan kolam itu, maka Dia bisa memasukkan jari-Nya kapan saja Dia mau. Jadi mukjizat bukan sesuatu yang perlu membuat kita gelisah. Bahkan, mukjizat justru membuktikan bahwa Allah itu ada. Itulah sebabnya para rasionalis Jerman sebenarnya merugikan diri mereka sendiri ketika mereka menyingkirkan semua mukjizat dari Alkitab. Mereka akhirnya hanya menghasilkan filsafat yang berpusat pada manusia. Tapi, Allah tetap melakukan mukjizat. Mukjizat terus terjadi, bahkan mukjizat kesembuhan.
Saya bahkan percaya bahwa Allah bisa memberi kepada seorang misionaris di suatu tempat kemampuan untuk berbicara dalam bahasa yang sebelumnya tidak ia ketahui. Itu adalah mukjizat. Tetapi saya tidak melihat itu sebagai karunia bahasa roh seperti yang dimaksud dalam Alkitab. Karunia itu adalah karunia pada zaman para rasul. Tapi saya percaya bahwa Allah bisa melakukan mukjizat melalui mulut seseorang sama seperti Dia bisa melakukannya melalui bagian tubuh yang lain. Allah masih melakukan mukjizat. Kita melihatnya terjadi setiap waktu. Mukjizat terbesar yang Dia lakukan adalah kelahiran baru. Saya pribadi adalah suatu mukjizat. Dibutuhkan kuasa yang besar untuk mengubah hidup saya. Seperti yang pernah dikatakan seorang anak kecil, “Bahkan itu pun belum selesai.”
Tuhan kita, ketika Dia hidup di dunia ini, melakukan banyak mukjizat. Dia selalu melakukannya untuk meneguhkan kebenaran yang Dia sampaikan. Namun pada masa sekarang, Allah mungkin melakukan mukjizat sehingga Anda dapat bersaksi, dan orang lain bisa berkata, “Kalau ada Allah yang bisa melakukan hal seperti itu, pasti Dia nyata.” Itu mungkin saja benar, tetapi bukan lagi untuk meneguhkan wahyu tertulis, karena wahyu itu sudah lengkap dan tertutup. Jadi saya tidak mengatakan bahwa mukjizat sudah berhenti. Saya hanya mengatakan bahwa mukjizat pada masa sekarang berbeda, dan bahwa karunia melakukan mukjizat sudah tidak ada lagi, karena itu merupakan karunia pada zaman para rasul.
Anda bisa mempelajari sejarah mukjizat, dan Anda akan melihat bahwa ada empat periode besar mukjizat di dalam Alkitab. Di periode-periode lain, mukjizat hampir tidak terlihat sama sekali. Pertama, pada zaman Musa, ada banyak mukjizat. Lalu pada zaman Elia dan Elisa, kembali terjadi mukjizat. Setelah itu ada periode yang panjang tanpa mukjizat, dan kemudian tiba-tiba muncul lagi pada masa kehidupan Kristus dan zaman para rasul. Mukjizat selalu memiliki tujuan yang terbatas dan waktu yang terbatas, dan tidak terjadi terus-menerus sepanjang waktu. Kita percaya karunia mukjizat pada masa sekarang sudah berhenti seiring berakhirnya zaman para rasul. Kemampuan untuk minum racun tanpa celaka, atau melakukan berbagai tanda dan perbuatan ajaib, adalah sesuatu yang memang khusus terjadi pada masa itu.
Tidak ada satu pun dalam seluruh tulisan Paulus kepada Timotius tentang menjadi seorang penginjil, maupun kepada Titus sebagai seorang gembala, yang membahas tentang mukjizat. Sama sekali tidak ada penekanan mengenai melakukan mukjizat, bahkan dalam kehidupan Paulus sendiri. Setelah ia pergi ke Filipi dan melayani di sana setidaknya selama dua tahun, tidak ada catatan tentang mukjizat. Tidak pernah ada catatan tentang mukjizat di Antiokhia, di Korintus, di Tesalonika, di Derbe, di Berea, dan seterusnya. Sangat terbatas, dan hanya untuk sementara waktu.
Suatu kali, saya berkendara menuju Danau Hume, dan saya melewati sebuah tenda besar di suatu lahan kosong. Di luarnya tertulis, “Ibadah mukjizat. Mukjizat Senin sampai Jumat.” Mukjizat Senin sampai Jumat. Seolah mukjizat yang diproduksi secara massal.
Kita percaya bahwa Firman Tuhan tidak mengatakan apa pun tentang adanya karunia mukjizat untuk zaman ini, melainkan bahwa itu adalah karunia yang diberikan kepada para rasul. Karunia-karunia itu selalu bersifat sementara dalam setiap masa, dan dengan selesainya penulisan Perjanjian Baru, pengesahan seorang utusan bukan lagi terletak pada kemampuannya melakukan mukjizat, melainkan pada kemampuannya mengajarkan Firman dengan benar. Kesetiaan pada Firman Tuhan sekarang menjadi bukti yang meneguhkan seseorang. Kita bisa membahas ini lebih jauh, tetapi mari kita lanjutkan.
Penyembuhan. Bagaimana dengan penyembuhan? Ini jelas merupakan karunia mukjizat, sebagaimana ditunjukkan dalam 1 Korintus 12, ketika disebut sebagai kemampuan untuk menyembuhkan. “Kepada yang seorang diberikan karunia untuk menyembuhkan,” demikian dikatakan dalam ayat 9. Lalu, apakah ini berarti bahwa Allah tidak lagi menyembuhkan orang sakit? Tentu tidak. Allah tetap menyembuhkan orang sakit. Dia memulihkan mereka. Namun, saat ini tidak ada orang yang berjalan ke sana kemari yang, dengan sesuka hati, dapat menyembuhkan semua orang hanya karena memiliki karunia seperti pada zaman para rasul. Saat ini Allah menyembuhkan menurut kehendak-Nya yang berdaulat dan sebagai jawaban atas doa. Anda bisa melihatnya dalam kitab Yakobus, dan mungkin kita bisa melihat sebentar pasal 5. Perlu diketahui bahwa Kitab Yakobus ini ditulis sebelum 1 Korintus. Dalam Yakobus pasal 5 ayat 13 dikatakan, “Kalau ada seseorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” Ayat 14, “Kalau ada seseorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu.” Demikian yang tertulis. “Dan Tuhan akan membangunkan dia.”
Bahkan dalam kitab Yakobus, yang kemungkinan adalah kitab paling awal dalam Perjanjian Baru dari segi kronologi, ketika ada orang yang sakit, tidak dikatakan, “Pergilah cari orang yang memiliki karunia penyembuhan.” Yang dikatakan adalah, “Doakan dia.” Allah tidak pernah merancang karunia penyembuhan untuk memiliki hubungan khusus dengan kehidupan gereja itu sendiri. Karunia ini adalah tanda untuk meneguhkan firman kepada orang-orang yang belum percaya. Anda bisa mempelajari kehidupan Yesus Kristus, dan Anda akan melihat bahwa banyak dari mereka yang disembuhkan-Nya adalah orang-orang yang belum percaya. Dia sedang meneguhkan klaim-Nya di dalam pikiran orang-orang yang belum percaya. Sementara itu, ketika jemaat mengalami sakit, mereka saling mendoakan, dan Allah menjawab doa mereka.
Saya percaya bahwa karunia penyembuhan memungkinkan seseorang yang adalah rasul atau nabi, sebagai pemberita firman, diteguhkan di dalam pikiran orang-orang yang belum percaya melalui mukjizat. Sekali lagi saya katakan, jika karunia penyembuhan itu masih ada sampai hari ini, maka itu bukan milik orang-orang yang disebut sebagai “penyembuh.” Karunia itu seharusnya ada pada para pengajar Alkitab. Karunia itu seharusnya ada pada orang-orang yang pergi memberitakan Injil, sebagai peneguhan bahwa berita itu benar, bukan pada kelompok tertentu saja, seperti para penginjil kebangunan rohani atau apa pun sebutannya.
Bahkan pada tahun-tahun terakhir pelayanan para rasul, hal ini mulai berkurang. Menarik, bukan, bahwa ketika Timotius sakit, Paulus tidak berkata, “Datanglah, aku akan menyembuhkanmu,” melainkan berkata, “Gunakan sedikit anggur untuk perutmu.” Kalau memang karunia penyembuhan itu masih aktif seperti sebelumnya, tentu ada cara yang jauh lebih mudah untuk mengatasinya daripada meminum anggur. Saya juga sering berpikir tentang 2 Timotius 4, ketika Paulus berkata, “Trofimus kutinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus.” Kalau pada saat itu Paulus masih memiliki karunia mukjizat dan karunia penyembuhan seperti sebelumnya, tentu ia bisa saja menyembuhkan Trofimus. Tapi kita tidak melihat adanya contoh dalam Perjanjian Baru di mana karunia ini digunakan untuk orang percaya.
Namun dalam semua yang disebut sebagai penyembuhan yang terjadi saat ini, sering kali yang terlihat justru orang-orang yang sejak lama sudah berada di dalam gereja, dan mereka berdiri dalam antrean panjang untuk disembuhkan. Pola seperti itu tidak sesuai dengan pola yang kita lihat di dalam Alkitab.
Minggu ini saya tertarik dengan sebuah kesaksian, dan tentu saya tidak mau langsung menggolongkan semuanya ke dalam kategori yang sama, tetapi ini kesaksian tentang Marjo Gortner. Saya tidak tahu apakah Anda pernah mendengarnya, tetapi akhirnya ia membuka semuanya. Ia adalah anak yang sejak usia empat tahun dianggap memiliki karunia penyembuhan, lalu orang tuanya menampilkannya di atas panggung, dan ia mulai menjalani pelayanan penyembuhan yang terus berlangsung. Menariknya, minggu lalu saya bersama ayah saya, dan kami sedang membicarakan hal ini. Ia berkata, “Sepertinya saya harus menonton film itu. Mereka baru saja membuat film tentangnya, karena mereka pernah menelepon saya waktu film itu dibuat,” kata ayah saya, “dan mereka meminta izin untuk menggunakan rilis berita dan wawancara yang pernah saya lakukan ketika anak itu baru berusia empat tahun. Mereka datang ke gereja saya dan menanyakan pendapat saya.” Ia berkata, “Saya menyampaikan apa pendapat saya, bahwa itu tidak asli, bahwa itu hanyalah rekayasa,” dan seterusnya.
Nah, saya tidak tahu apakah ayah saya ada di film itu atau tidak. Dia sendiri juga tidak tahu. Bagaimanapun juga, tampaknya film itu membongkar seluruh hal tersebut sebagai suatu penipuan. Ia sendiri pernah mengatakan—dan saya mendengarnya di acara Dick Cavett atau di tempat lain—bahwa selama bertahun-tahun melakukan pelayanan itu, ia tidak mengetahui satu pun penyembuhan fisik yang benar-benar nyata. Tapi, ia menyadari bahwa ada semacam “manfaat” bagi orang-orang yang memiliki masalah psikologis. Ia juga menyadari bahwa orang-orang yang datang pada hari Senin, sering kali kembali lagi pada hari Kamis dengan keluhan yang berbeda, dan hal seperti itu memang sangat umum terjadi.
Saya pernah melakukan penelitian tentang hal ini waktu di bangku kuliah, dan hal yang sama muncul berulang kali. Karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam memahami petunjuk Alkitab tentang penyembuhan. Saya percaya bahwa Allah menyembuhkan, tetapi Dia menyembuhkan sesuai dengan kedaulatan-Nya dan sebagai jawaban atas doa. Jika ada orang pada masa sekarang yang tampaknya melihat Allah menyembuhkan melalui pelayanan mereka, maka berdasarkan bukti Kitab Suci, saya melihat kemungkinan bahwa mereka memiliki karunia iman, di mana Allah merespons doa-doa mereka. Tapi, karunia penyembuhan adalah karunia pada zaman para rasul, di mana mereka dapat menyembuhkan orang-orang yang belum percaya untuk meneguhkan firman. Karena itu, ketika firman sudah dinyatakan sepenuhnya, karunia tersebut tidak lagi memiliki fungsi seperti sebelumnya.
Jangan lupa juga bahwa sebagian dari penyembuhan itu mungkin memang nyata. Allah bisa saja berkehendak untuk menyembuhkan seseorang. Tetapi Iblis juga bisa meniru hal-hal seperti itu. Dalam Matius 7 Anda bisa membacanya. Dalam Kisah Para Rasul 8 dan 13 juga disebutkan. Iblis bisa melakukan hal-hal yang tampak seperti mukjizat. Bahkan ketika Yesus Kristus melakukan mukjizat, orang-orang akhirnya menuduh bahwa Dia berasal dari Iblis, bukan? Mereka mengatakan bahwa apa yang Dia lakukan terjadi oleh kuasa Beelzebul. Mereka begitu terbiasa dengan kenyataan bahwa Iblis bisa meniru banyak hal, sehingga mereka sampai menganggap bahwa Yesus melakukan penyembuhan itu oleh kuasa Iblis. Mereka berkata, “Itu Iblis yang melakukannya. Iblis bisa melakukan hal-hal seperti itu.” Pemikiran bahwa ada orang-orang tertentu yang bisa menyembuhkan secara massal tidak sesuai dengan Alkitab. Saya sering berpikir, kalau memang mereka benar-benar memiliki karunia penyembuhan, seharusnya mereka ada di rumah sakit, bukan di tenda-tenda. Mereka seharusnya pergi kepada orang-orang yang belum percaya, memberitakan Injil kepada mereka, dan meneguhkan firman itu melalui apa yang mereka lakukan.
Jadi, mengenai karunia penyembuhan—dan suatu saat kita perlu membahasnya secara khusus karena ini memang penting—karunia ini sejak awal tidak dimaksudkan untuk orang percaya, dan juga tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang bersifat permanen. Karunia ini adalah tanda dari para rasul, salah satu karunia yang diberikan kepada mereka. Sedangkan pada masa sekarang, bahkan sejak kitab paling awal dalam Perjanjian Baru, yaitu Yakobus, yang ditekankan adalah, “Doakanlah orang yang sakit.”
Baik, yang ketiga, kita masuk pada bahasa roh dan penafsirannya. Kita bahas keduanya sekaligus, karena kita tidak akan membahasnya terlalu panjang, hanya beberapa pemikiran berdasarkan Alkitab. Saya ingin Anda memperhatikan beberapa hal terkait ini. Apa sebenarnya karunia bahasa roh itu, dan apa fungsinya? Karunia bahasa roh, seperti yang dikenal dari terjemahan King James, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai karunia bahasa. Kata yang dipakai adalah glōssa, yang secara umum dan historis berarti bahasa. Jadi sebenarnya tidak berarti apa-apa selain bahasa. Karunia ini adalah kemampuan yang diberikan oleh Roh untuk berbicara dalam bahasa asing. Ini merupakan suatu mukjizat yang dipakai Allah sebagai tanda untuk meneguhkan firman.
Hal yang paling penting yang terjadi dalam Kisah Para Rasul pasal 2 adalah khotbah Petrus. Khotbah yang luar biasa itu. Dan sebagai respons terhadap khotbah itulah, tiga ribu orang bertobat. Tetapi apa yang benar-benar meneguhkan di dalam pikiran mereka bahwa khotbah Petrus itu berasal dari Allah? Apa itu? Yaitu ketika semua orang itu berbicara dalam bahasa mereka masing-masing tentang perbuatan-perbuatan besar Allah. Itu adalah karunia peneguhan. Karunia itu ditujukan bagi orang-orang yang belum percaya. Karunia itu hanya menunjuk kepada khotbah tersebut. Karunia itu tidak pernah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Karunia itu hanyalah tanda yang mengarahkan orang untuk mendengarkan khotbah. Itu adalah karunia peneguhan. Kalau tidak begitu, bagaimana mereka tahu bahwa itu berasal dari Allah? Ketika mereka melihat mukjizat itu, kepada siapa lagi mereka bisa mengaitkannya? Lalu setelah mereka melihat hal itu, dan Petrus berdiri untuk berkhotbah, seolah-olah mereka berkata, “Oh! Setelah mukjizat itu, kita harus mengakui bahwa ini adalah pesan dari Allah.” Dan setidaknya tiga ribu orang mempercayai hal itu.
Nah, mari kita melangkah sedikit lebih jauh. Selain itu, bahasa roh adalah tanda saja—saya ulangi, hanya tanda—dan itu ditujukan khusus kepada orang Yahudi. Karunia ini tidak memiliki tujuan bagi orang non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 2, yang hadir adalah orang Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul 10, dikatakan bahwa mereka dari golongan bersunat yang mendengarnya dan menjadi percaya. Sepanjang kitab Kisah Para Rasul, setiap kali bahasa roh muncul, orang Yahudi selalu hadir. Bagi orang non-Yahudi, hal itu tidak memiliki makna. Jadi kita sampai pada dua kesimpulan: karunia ini berfungsi sebagai tanda dalam konteks orang percaya tertentu, dan tidak memiliki tujuan bagi orang non-Yahudi. Karena itu, jika kita melihat praktik saat ini di mana banyak orang percaya non-Yahudi melakukannya di antara mereka sendiri, hal itu tidak sesuai dengan pola yang ditunjukkan dalam Alkitab.
Nah, ijinkan saya tunjukkan apa maksudnya. Lihat 1 Korintus 14:21. Di sana tertulis, “Dalam hukum Taurat ada tertulis.” Lalu ia mengutip Perjanjian Lama, dari Yesaya 28:11. “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini.” Frasa “bangsa ini” dalam konteks Yesaya jelas merujuk kepada Israel. Jadi Allah berkata, “Aku akan berbicara kepada Israel, tetapi Aku akan berbicara dengan bahasa lain.” Sebenarnya, dalam teks aslinya tidak secara harfiah mengatakan “orang-orang yang,” tetapi hanya “dengan bahasa lain dan bibir lain.” Artinya, “Aku akan berbicara kepada Israel melalui suatu mukjizat yang terjadi melalui mulut.” Dengan kata lain, melalui bahasa-bahasa lain, Allah akan berbicara kepada Israel.
Itulah inti dari bahasa roh. Karunia ini ditujukan kepada Israel. Frasa “bangsa ini” hanya merujuk kepada mereka. Sekarang perhatikan ayat 22, “Karena itu bahasa lidah adalah tanda.” Bahasa lidah atau bahasa roh adalah tanda. Apa fungsi sebuah tanda? Tanda selalu menunjuk kepada sesuatu yang lain. Dalam hal ini, selalu menunjuk kepada Injil, selalu kepada Injil. Sekarang perhatikan, “bukan untuk orang yang beriman.” Bahasa roh tidak pernah ditujukan bagi orang percaya. Tidak memiliki arti bagi orang percaya. Itulah masalah yang terjadi di Korintus. Mereka meninggikan hal ini secara berlebihan, menjadi tidak seimbang, bahkan mencampurnya dengan praktik-praktik dalam penyembahan berhala yang mereka kenal, di mana ada banyak ucapan yang bersifat ekstatis. Semuanya jadi kacau, dan Paulus berusaha meluruskannya tanpa langsung menghapusnya, karena masih banyak orang Yahudi di Korintus.
Paulus memahami bahwa ada saat-saat di mana hal itu bisa dipakai untuk meneguhkan firman kepada orang Yahudi yang belum percaya. Jadi ketika ia meluruskannya, ia berkata, “Pertama-tama, pahami dengan benar. Ini bukan untuk orang-orang yang percaya.” Tapi pada masa sekarang, dalam gerakan tertentu, yang sering terdengar justru bahwa seseorang belum menjadi orang Kristen yang utuh sampai ia mengalaminya. Atau setidaknya, ia belum mengalami kepenuhan seperti yang seharusnya. Akibatnya, banyak orang percaya melakukannya di antara sesama mereka sendiri, padahal tidak ada alasan untuk itu. Mereka sudah memiliki seluruh wahyu yang Allah berikan, yaitu dalam Kitab Suci ini. Ketika firman Kristus diam dengan kaya di dalam mereka—yang merupakan arti dari hidup yang dipenuhi oleh Roh—maka mereka akan mengalami seluruh pengalaman rohani yang memang Allah maksudkan untuk mereka alami. Karena itulah, semuanya harus diuji berdasarkan Kitab Suci.
Ketika Paulus mengutip dari Yesaya 28:11, ia dengan jelas mengaitkannya dengan Israel. Lalu ia melangkah lebih jauh di ayat 22, “Karunia bahasa lidah adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman.” Siapa yang dimaksud dengan “orang yang tidak beriman”? Yaitu orang Yahudi yang tidak percaya. Kemudian ia seolah berkata, “Mengapa tidak fokus saja pada pemberitaan firman? Itu baik untuk semua orang. Itu baik bagi mereka yang percaya.” Dengan kata lain, Paulus sedang mengatakan kepada jemaat di Korintus, “Kalian tidak membutuhkan pengalaman yang baru atau tambahan. Kalian membutuhkan pengajaran yang benar.” Itulah masalah utama mereka saat itu.
Sekarang perhatikan ayat 23. Bagian ini bisa membingungkan kalau tidak dipahami dengan benar. “Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama.” Inilah yang sedang terjadi di Korintus. Semua orang percaya berkumpul di satu tempat, seluruh jemaat, dan mereka semua berbicara dengan bahasa lidah. Mereka terus-menerus berbicara dengan berbagai bahasa. Mungkin sebagian besar bukan bahasa yang sebenarnya, melainkan hanya ucapan yang tidak jelas. Nanti kita akan membahas itu. Lalu dikatakan, “Lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, bukankah mereka akan katakan bahwa kamu gila?”
Sekarang mungkin Anda berkata, “Tunggu dulu, ini membingungkan.” Di ayat 22 dikatakan bahwa bahasa lidah/roh adalah tanda bagi orang yang tidak percaya. Tetapi di ayat 23 dikatakan bahwa jika orang yang tidak percaya masuk, mereka akan menganggap kamu gila kalau kamu melakukannya. Lalu apa bedanya? Perbedaannya adalah ini: bahasa lidah adalah tanda bagi orang Yahudi yang tidak percaya. Sementara Korintus bukan kota Yahudi. Kota itu adalah kota non-Yahudi, kota orang Yunani. Masalahnya adalah orang-orang non-Yahudi masuk ke dalam pertemuan itu, dan mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka menyaksikan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan Allah untuk mereka. Itulah maksud Paulus di sini. Mereka masuk ke dalam pertemuanmu, dan kamu semua melakukan hal itu, sehingga mereka menjadi bingung dan tidak mengerti.
Saya akan memberi satu ilustrasi. Saya memiliki seorang tetangga non-Yahudi yang tinggal tepat di sebelah rumah saya. Kami sudah berusaha membagikan tentang Kristus kepada dia dan suaminya. Istri saya sudah berbicara dengannya, saya juga sudah berbicara dengannya. Saya bahkan sempat mengunjunginya di rumah sakit ketika ia mengalami serangan jantung yang cukup parah, berdoa bersama dia, dan menjelaskan Injil kepadanya. Kami sudah melewati banyak hal dalam usaha untuk membawa mereka kepada Kristus. Mereka berasal dari latar belakang yang cukup sulit, yaitu latar belakang religius. Dan sering kali justru itu yang paling sulit, karena mereka adalah orang-orang yang sangat religius dan secara moral baik, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk melihat kebutuhan akan Injil.
Kami benar-benar sudah berusaha keras—berdoa, saling berbagi informasi, memberi rekaman, meminta mereka menonton program Suara Kalvari di TV—pokoknya segala cara sudah kami lakukan. Suatu hari, dia datang kepada istri saya dalam keadaan sangat tertekan dan berkata, “Saya harus tanya sesuatu.” Lalu dia bercerita, “Ada seorang wanita yang mengajak saya ke sebuah pertemuan, dan orang-orang di sana seperti tidak waras.” Istri saya kemudian mencoba menggali lebih dalam, dan ternyata wanita itu membawa dia, seorang non-Yahudi yang belum percaya, ke sebuah pertemuan yang penuh dengan praktik bahasa lidah. Dia duduk di sana, melihat semuanya, lalu menyimpulkan bahwa semuanya kacau dan tidak masuk akal. Akhirnya, hal itu justru menutup pintu bagi kami untuk kembali menyampaikan Injil kepadanya.
Ia berpikir bahwa orang-orang yang melakukan hal seperti itu tidak waras. Karena mereka menyebut nama Kristus, membawa Alkitab, dan tampak melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan, ia mengira kami juga bagian dari hal yang sama. Ia memang menyukai kami, jadi ia tidak sampai mengatakan itu secara langsung, tetapi di dalam pikirannya, itulah yang sedang terjadi. Persis seperti yang Paulus katakan, hal itu memang tidak pernah dimaksudkan untuk orang non-Yahudi. Itu adalah tanda khusus yang Allah berikan kepada orang Yahudi pada masa tertentu.
Sekarang perhatikan ini baik-baik. Dari Kitab Suci jelas bahwa hal ini ditujukan kepada orang Yahudi. Itu sangat jelas. Kita tidak bisa membantahnya. Ini bukan pendapat saya, tetapi apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. Nah, jika pada tahun 70 M Allah menghancurkan Yerusalem dan tidak lagi berurusan dengan Israel seperti sebelumnya, lalu beralih kepada bangsa-bangsa lain, maka dengan fakta itu saja, bahasa lidah seharusnya berhenti, karena Allah tidak lagi memberikan tanda-tanda khusus kepada Israel, bukan? Untuk sementara waktu, apa yang Allah lakukan terhadap Israel? Dia menyingkirkan mereka dan membuat mereka tidak melihat. Jadi tanda-tanda bagi Israel, untuk saat ini, sudah tidak berlangsung lagi. Karena itu, sebagai tanda bagi Israel, hal ini juga sudah berhenti. Jika sebagai tanda bagi Israel hal itu sudah berhenti, dan memang sejak awal hanya berfungsi sebagai tanda bagi Israel, maka dengan sendirinya hal itu juga harus berhenti.
Nah, apa yang sedang kita katakan? Kita sedang berusaha membawa semua kebenaran ini kepada kesaksian Kitab Suci. Pada masa sekarang, yang kita lihat adalah adanya pengagungan karunia ini di luar konteksnya. Dalam ayat 20 dikatakan, “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” Ketidakdewasaan adalah ketika seseorang mengambil suatu karunia tanpa memperhatikan tujuan pemberiannya, lalu memakainya untuk tujuan lain atau bahkan menyalahgunakannya. Karunia ini memiliki tujuan yang jelas dari Allah: selalu ditujukan kepada orang yang belum percaya. Karunia ini tidak pernah dimaksudkan untuk membangun tubuh jemaat, tidak pernah memiliki fungsi dalam membangun jemaat, dan selalu berkaitan dengan orang Yahudi yang belum percaya. Setiap kali bahasa lidah muncul dalam Perjanjian Baru, orang Yahudi selalu hadir. Karena dalam konteks Korintus hal itu tidak demikian, Paulus menegurnya. Tapi ia tetap mengizinkan keberadaannya, karena pada waktu itu ada banyak orang Yahudi yang keluar masuk Korintus sebagai pusat perdagangan.
Bacalah Kisah Para Rasul 18. Di sana ada orang-orang Yahudi, sehingga karunia itu memang masih diperlukan di Korintus karena banyaknya orang Yahudi, dan karunia itu bisa digunakan dengan benar untuk menjangkau mereka. Tetapi karunia itu sudah disalahgunakan dan menjadi tidak teratur, apalagi karena orang-orang Korintus ini berasal dari latar belakang penyembahan berhala, di mana ucapan-ucapan yang bersifat ekstatis memang menjadi bagian dari ibadah mereka. Ada penelitian terbaru yang menelusuri sejarah hal ini, dan ditemukan bahwa mereka memang berbicara dalam bahasa-bahasa ekstatis, yang mereka sebut sebagai “bahasa para dewa.” Lalu hal itu mereka bawa masuk ke dalam kehidupan jemaat, sehingga semuanya menjadi kacau. Dalam kasih, Paulus berusaha untuk meluruskan masalah ini.
Izinkan saya menambahkan satu hal lagi. Selain itu, bahasa lidah selalu merupakan bahasa yang nyata. Mungkin itu adalah bahasa asing bagi orang yang berbicara, tetapi tetap merupakan bahasa yang sungguh-sungguh ada. Ada banyak alasan untuk hal ini. Dalam Kisah Para Rasul 2, kata glōssa jelas berarti bahasa, dan bahkan disebutkan secara spesifik: orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Mesir, Kreta, Arab, dan seterusnya. Disebutkan dengan jelas bahasa-bahasa apa saja yang dimaksud. Bahkan dalam 1 Korintus, digunakan istilah gene glōssa, yang berarti “jenis-jenis” atau “ragam” bahasa. Kata gene berasal dari genos, yang menjadi asal kata “genus,” yaitu jenis atau kelompok bahasa. Jadi yang dimaksud adalah berbagai jenis bahasa yang nyata. Tidak mungkin ada “berbagai jenis” dari sesuatu yang tidak jelas atau tidak bermakna, karena sesuatu yang tidak bermakna tetap saja tidak bermakna. Jadi, yang dimaksud pasti adalah bahasa-bahasa yang nyata dengan berbagai ragamnya.
Kemudian ketika disebutkan “karunia menafsirkan bahasa lidah,” kata yang dipakai adalah hermēneia, yang berarti “menerjemahkan bahasa.” Jadi yang dimaksud memang bahasa yang nyata. Dalam 1 Korintus 14:7, Paulus bahkan menegaskan bahwa harus ada struktur yang jelas. Ia berkata, “alat-alat yang tidak berjiwa tetapi berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimana orang dapat mengetahui lagu apa yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda?” Artinya, harus ada kejelasan dan keteraturan. Namun yang terjadi di Korintus adalah mereka hanya berbicara tanpa arti yang jelas. Mereka telah menyimpangkan semuanya. Paulus mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak jelas, tidak asli, dan bahkan tidak bisa diterjemahkan. Karena itu, hal-hal seperti ini perlu kita perhatikan dengan serius.
Nah, menurut para ahli linguistik modern, apakah kita bisa melihat gerakan bahasa lidah saat ini dan menyimpulkan bahwa itu adalah bahasa yang nyata? Baik, saya akan memberikan kesaksian dari seorang ahli, dan sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dibahas tentang ini. Tetapi mari kita lihat satu hal ini. Ada seorang bernama William J. Samarin yang baru-baru ini menulis sebuah buku berjudul The Tongues of Men and Angels (Lidah Manusia dan Malaikat). Ia adalah seorang ahli linguistik. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk mempelajari bahasa. Ia memiliki gelar doktor di bidang linguistik dan menjadi profesor linguistik di Universitas Toronto di Kanada. Ia dibesarkan di Amerika Serikat, dalam komunitas Rusia Molokan, yang sebagian dari kelompok itu sangat terlibat dalam praktik bahasa lidah. Sejak kecil, ia hidup dalam lingkungan selalu mempraktikkan hal ini. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk meneliti hal ini secara serius, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mempelajarinya.
Ia mengatakan demikian, “Selama bertahun-tahun, saya telah ikut serta dalam pertemuan-pertemuan bahasa lidah di Italia, Belanda, Jamaika, Kanada, Amerika Serikat,” dan seterusnya. “Saya telah mengamati kelompok Pentakosta tradisional maupun neo-Pentakosta,” yaitu gerakan yang berkembang sejak tahun 1960-an di berbagai denominasi. “Saya telah menghadiri pertemuan kecil di rumah-rumah pribadi maupun pertemuan besar di tempat umum. Saya juga melihat berbagai latar belakang budaya yang berbeda, seperti komunitas Puerto Rico di Bronx, para penangkap ular di wilayah Appalachia, komunitas Rusia Molokan di Los Angeles, kelompok Pocomania di Jamaika,” dan seterusnya. Ia melanjutkan penjelasannya.
Ia berkata, “Saya telah mewawancarai para pelaku bahasa lidah, merekam, dan menganalisis banyak sekali contoh bahasa lidah. Dalam setiap kasus, dalam setiap kasus,” katanya, “glosolalia ternyata hanyalah sesuatu yang tidak memiliki makna secara linguistik. Meskipun secara permukaan tampak mirip dengan bahasa, pada dasarnya glosolalia bukanlah bahasa.” Itulah kesaksian dari seorang ahli linguistik. Dan temuan seperti ini juga didukung oleh banyak peneliti lainnya.
Nah, izinkan saya mengatakan ini. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, jika Anda bertanya, “Apakah itu berarti Allah tidak bisa melakukan hal seperti ini hari ini? Apakah tidak mungkin itu benar-benar terjadi?” Tidak. Siapa yang berani mengatakan bahwa Allah tidak bisa melakukan sesuatu? Alkitab sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan Allah, kecuali berdusta. Namun demikian, kita bisa mengatakan ini: jika Allah berkehendak memberi seorang misionaris kemampuan untuk berbicara dalam bahasa yang sebelumnya tidak ia ketahui, demi menyampaikan Injil dalam situasi yang mendesak, tentu Dia bisa melakukannya. Tetapi itu bukan karunia bahasa lidah seperti yang dimaksud dalam Alkitab. Itu hanyalah mukjizat yang Allah lakukan secara langsung pada saat itu.
Karunia ini ditujukan kepada orang Yahudi. Selalu berupa bahasa yang nyata. Fungsinya bukan terutama untuk menyampaikan Injil, melainkan untuk menunjukkan suatu tindakan ilahi yang supranatural, supaya orang-orang mau mendengarkan Injil ketika diberitakan. Karunia yang sejati selalu berupa bahasa yang dikenal, selalu menjadi tanda bagi orang yang belum percaya, dan secara khusus bagi orang Yahudi yang belum percaya. Karunia ini sama sekali tidak memiliki tujuan bagi orang percaya, dan inilah yang sulit dipahami oleh banyak orang. Saat ini ada orang-orang percaya yang berkumpul dan berbicara satu sama lain dengan bahasa lidah, padahal itu bukan pola yang diajarkan dalam Alkitab.
Sekarang mungkin Anda bertanya, “Lalu bagaimana jemaat di Korintus menyalahgunakan hal ini?” Kalau kita mempelajari 1 Korintus—mungkin suatu saat nanti—kita akan melihat bahwa mereka menyalahgunakan hal ini sama seperti mereka menyalahgunakan banyak hal lainnya. Dalam segala cara yang bisa untuk disalahgunakan, mereka akan melakukannya. Jemaat itu benar-benar kacau. Ada perpecahan, kehidupan yang duniawi, penyimpangan seksual, saling menggugat di antara orang percaya, penyalahgunaan tubuh Kristus, ketidaktahuan tentang hubungan pernikahan, ketidaktahuan tentang tujuan hidup tidak menikah, penyalahgunaan kebebasan Kristen, ketidaktaatan dari para wanita, penyalahgunaan Perjamuan Kudus, ketidaktahuan tentang hal-hal rohani, bahkan sampai pada penyangkalan kebangkitan tubuh. Ini adalah jemaat yang benar-benar bermasalah.
Jadi ketika kita masuk ke pasal 14, kita memang sudah bisa menduga bahwa mereka juga kacau dalam hal karunia-karunia rohani, dan memang demikian. Karena itu Paulus menulis untuk meluruskan penyalahgunaan tersebut. Dalam pasal 14, ada beberapa hal yang ia tekankan. Dalam ayat 1 ia berkata, “Kejarlah kasih.” Semua karunia yang dipakai seharusnya dijalankan dalam kasih. Tapi yang terjadi pada mereka bukanlah dalam kasih, melainkan dalam perpecahan dan keduniawian, sehingga itu bukanlah penggunaan karunia yang benar. Lalu ia berkata, “Berusahalah memperoleh karunia-karunia Roh,” artinya ketika kamu berkumpul sebagai jemaat, rindukan supaya Allah melayani kamu melalui karunia-karunia tersebut. “Tetapi terutama supaya kamu bernubuat,” yaitu memberitakan firman. Dalam ayat 3, ia menjelaskan bahwa hal itu berarti berbicara untuk membangun, menasihati, dan menghibur.
Lalu di ayat 2 ia berkata—dan inilah yang sedang mereka lakukan—“Siapa yang berkata-kata dengan bahasa lidah, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah.” Ia berbicara hal-hal yang tidak dimengerti dalam rohnya. Maksudnya, mengapa tidak melakukan sesuatu yang bisa membangun semua orang? Seperti mengajar atau memberitakan firman, yang tentu membutuhkan belajar, dan dari situlah kebenaran rohani diperoleh, dan di situlah pertumbuhan terjadi. Dalam ayat 4 ia mengatakan bahwa orang itu hanya membangun dirinya sendiri, dan itu bersifat egois. Masalah yang sama juga terjadi sekarang, yaitu sikap mementingkan diri sendiri dalam menggunakan hal ini. Kita tidak boleh bersikap egois. Penggunaan karunia rohani yang benar seharusnya tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan untuk membangun orang lain. Bukan untuk membangun diri sendiri, bukan untuk berfokus pada diri sendiri. Mencari pengalaman rohani hanya untuk diri sendiri adalah puncak dari keegoisan. Tetapi ketika seseorang melayani untuk membangun orang lain, itu adalah sesuatu yang sangat indah.
Seperti yang saya katakan, Paulus tetap memberi ruang untuk hal ini karena masih ada orang Yahudi, sehingga ia memberikan batasan-batasan yang jelas dalam ayat 27. Di jemaat Korintus, ia berkata, Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa lidah, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang,” karena saat itu mereka melakukannya secara tidak teratur. Jadi hanya dua atau tiga orang saja, dan itu pun harus bergiliran, satu per satu, serta harus ada yang menafsirkan. Jika tidak ada yang menafsirkan, maka ayat 28 mengatakan jangan berbicara sama sekali. Lebih baik diam dan berdoa. “(Dia) hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”
Kemudian ia berkata dalam ayat 34, “Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat.” Artinya, mereka tidak diperbolehkan berbicara dalam konteks tersebut. Masalah yang terjadi saat itu adalah bahwa para perempuan mengambil hal ini dan membawanya ke arah yang tidak jelas, sehingga memperparah kekacauan yang sudah ada di dalam jemaat.
Jadi, apa yang sudah kita lihat? Kita melihat bahwa Paulus memberikan aturan yang sangat ketat mengenai penggunaannya, bahkan di Korintus, sekaligus menjelaskan maknanya. Kita tahu bahwa karunia ini ditujukan kepada orang Yahudi, khususnya orang Yahudi yang belum percaya. Karena itu, ketika Allah tidak lagi berurusan dengan Israel seperti sebelumnya, Dia juga tidak lagi memberikan tanda-tanda kepada Israel. Dengan demikian, tidak ada lagi kebutuhan akan karunia ini, karena sejak awal fungsinya memang sebagai tanda bagi Israel. Di Korintus sendiri, hal ini justru menjadi sumber kekacauan yang besar.
Nah, kita sudah membahas bagaimana kita tahu bahwa karunia ini telah berhenti. Teologi kita menunjukkan hal itu. Karunia ini memiliki tujuan yang sementara, dan itu sudah kita lihat. Tetapi mari kita lihat satu bagian lagi, yaitu 1 Korintus 13:8. Di ayat ini dikatakan, “Kasih tidak berkesudahan.” Berarti, ia akan membandingkannya dengan sesuatu yang akan berakhir. “Nubuat akan berakhir,” menggunakan kata katargeō, yang berarti menjadi tidak berlaku lagi atau digantikan. “Bahasa lidah akan berhenti,” menggunakan kata pauō, yang berarti berhenti dengan sendirinya. “Pengetahuan akan lenyap.” Kata “lenyap” untuk pengetahuan dan “berakhir” untuk nubuat menggunakan kata yang sama, yaitu katargeō, yang berarti menjadi tidak berlaku lagi atau digantikan.
Nubuat dan pengetahuan akan digantikan. Artinya, akan datang suatu saat ketika semua nubuat dan pengetahuan digantikan oleh pengenalan yang sempurna. Lalu bagaimana dengan bahasa lidah? Nah, ini menggunakan kata yang berbeda. Bahasa lidah tidak dikatakan akan digantikan seperti itu. Bahkan, bahasa lidah tidak lagi disebutkan dalam ayat 9 sampai 13 yang berbicara tentang datangnya yang sempurna. Seolah-olah bahasa lidah sudah tidak ada lagi pada titik itu. Dikatakan, “Bahasa lidah akan berhenti,” menggunakan kata pauō. Dalam bentuk aktif, kata itu berarti menghentikan sesuatu. Tetapi dalam bentuk pasif, artinya berhenti dengan sendirinya. Jadi bahasa lidah akan berhenti dengan sendirinya.
Sekarang perhatikan ini, menarik sekali. Dikatakan, “Bahasa lidah akan berhenti dengan sendirinya.” Sedangkan pengetahuan akan dibuat tidak berlaku lagi, dan nubuat juga akan dibuat tidak berlaku lagi. Lalu di ayat 9 ia melanjutkan dengan membahas dua hal itu, “Pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” Bahasa lidah sudah tidak disebut lagi, seolah-olah sudah tidak ada. Kemudian ia berbicara tentang datangnya yang sempurna, lalu kembali membahas nubuat dan pengetahuan, tetapi tidak lagi menyebut bahasa lidah.
Nah, jika kita memahami bahwa karunia ini diberikan kepada orang Yahudi, maka kita bisa menyimpulkan bahwa karunia itu setidaknya sudah berhenti sekitar tahun 70 M, bukan? Ketika Yerusalem dihancurkan dan Allah mulai berfokus kepada bangsa-bangsa lain. Jika kita memperhatikan kata Yunani yang dipakai, Paulus memilih kata yang sangat khusus. Secara sederhana, bisa kita pahami seperti ini: “bahasa lidah akan berhenti dengan sendirinya.” Artinya, karunia itu akan berhenti tanpa harus dihentikan secara langsung. Anda bisa melihat perbedaannya, bukan? Ia menggunakan kata kerja yang berbeda, bentuk yang berbeda, dan nuansa yang berbeda. Jelas ia ingin menyampaikan hal yang berbeda.
Anda mungkin bertanya, “Lalu kapan itu benar-benar berhenti?” Seperti yang sudah saya katakan, paling tidak sekitar tahun 70 M bisa menjadi titik awal yang masuk akal, ketika Yerusalem dihancurkan. Perhatikan apa yang dikatakan oleh George Dollar. Ia menulis, “Sekitar 35 tahun yang lalu, seorang pendidik terkemuka Amerika, George Barton Cutten dari Universitas Colgate, meneliti secara mendalam semua catatan sejarah tentang praktik bahasa lidah. Setelah melakukan penelitian, Cutten menyimpulkan bahwa dalam gereja mula-mula, yaitu pada masa para bapa gereja, tidak ada satu pun bukti yang benar-benar dapat dipastikan tentang seseorang yang mempraktikkan bahasa lidah, bahkan tidak ada yang mengaku melakukannya.”
“Dalam gereja mula-mula,” perhatikan lagi, “gereja dari para bapa gereja, pada abad-abad awal, tidak ada satu pun bukti yang dapat dipastikan tentang seseorang yang mempraktikkan bahasa lidah.” Jadi secara historis, tampaknya hal itu memang berhenti dengan sendirinya, seperti yang Paulus katakan. Suara sejarah gereja juga menentang gerakan modern ini dan akan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak memiliki dasar sejarah.
Cleon Rogers juga mengatakan, “Setelah meneliti kesaksian para pemimpin Kristen mula-mula,” dan ia menghabiskan banyak waktu sebagai sejarawan untuk mempelajari hal ini, ia menyimpulkan bahwa pelayanan mereka mencakup hampir seluruh periode Kekaisaran Romawi, dari tahun 100 sampai 400. Ia berkata bahwa karunia-karunia mukjizat pada abad pertama telah berhenti. Karunia-karunia itu tidak ditemukan dalam 400 tahun pertama sejarah gereja.”
Nah, mungkin ada yang berkata, “Tapi ada, kan? Ada Montanus dan juga Tertullian di gereja mula-mula.” Ya, itu benar. Tetapi Montanus dianggap sebagai seorang bidat, bahkan dituduh kerasukan, dan ia mengklaim bahwa Allah hanya berbicara melalui dirinya, seolah-olah hanya dia satu-satunya tempat Roh Kudus tinggal. Jelas ada masalah besar dengan orang seperti itu. Tertullian kemudian menjadi pengikutnya.
Lalu pada masa Abad Pertengahan, ada beberapa kelompok Katolik yang juga melakukan praktik bahasa lidah. Di Amerika, salah satu kelompok modern awal adalah Shakers. Mereka hidup selibat, memiliki pola hidup komunal, dan dipimpin oleh Mother Ann Lee, yang bahkan mengklaim bahwa kedatangan Kristus yang kedua sudah tergenapi dalam dirinya. Dalam Mormonism, tepatnya dalam pasal ketujuh pengakuan iman mereka, praktik bahasa lidah juga diajarkan. Sedangkan gerakan modern yang lebih luas dimulai dari kebaktian di Azusa Street Revival, yang menjadi titik awal berkembangnya gerakan ini secara global.
Sekarang, perhatikan ini. Jika bahasa lidah memang berhenti secara historis sekitar tahun 70 M atau akhir abad pertama, lalu selama lebih dari 1.800 tahun tidak muncul, apa yang membuat kita yakin bahwa apa yang terjadi sekarang itu benar? Apakah Roh Allah menarik kembali karunia yang begitu penting selama 1.800 tahun dalam sejarah gereja? Tidak ada satu pun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa karunia itu akan diberikan kembali. Kalau memang itu bagian yang sangat penting dalam kehidupan gereja, lalu ke mana karunia itu selama 1.800 tahun? Apakah Roh Allah melakukan kesalahan besar? Tentu tidak. Karena itu, kita perlu membawa apa yang terjadi hari ini kepada terang Kitab Suci dan menilainya berdasarkan firman Tuhan.
Anda mungkin bertanya, “Lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kalau begitu, itu apa?” Ada banyak penjelasan. Yang pertama, sebagian dari itu—dan saya katakan ini dengan hati-hati, karena banyak orang yang tulus, sungguh-sungguh, dan sangat rindu mengalami hal ini—saya tidak ingin merendahkan mereka sama sekali. Saya hanya ingin menilainya dengan tepat. Yang pertama, sebagian dari itu memang hanya dibuat-buat, tidak asli.
Saya tidak pernah lupa suatu kali ketika saya sedang berkhotbah, tiba-tiba seorang wanita berdiri dan mulai berbicara dengan bahasa lidah di tengah khotbah saya. Waktu itu saya masih mahasiswa seminari, dan saya benar-benar bingung harus berbuat apa. Jadi saya hanya berkata, “Saya rasa Tuhan menghendaki kita berbicara satu per satu. Karena nubuat lebih utama, mungkin Ibu bisa duduk dulu dan melakukannya nanti.” Itu saja yang terpikir saat itu. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana, tetapi yang menarik adalah, ia langsung berhenti dan duduk. Seketika saja. Langsung berhenti. Kalau itu benar-benar berasal dari Roh, saya sangat meragukan apakah saya bisa menghentikannya seperti itu, atau apakah hal itu bisa datang dan pergi dengan begitu mudah.
William J. Samarin dalam bukunya mengatakan, “Berbicara tanpa arti itu sangat mudah dilakukan, seperti permainan anak-anak.” Jika Anda membaca tulisan dari Harald Bredesen tentang bagaimana berbicara dalam bahasa lidah, ia bahkan mengatakan, “Cukup ulangi saja bunyi seperti ‘ba, ba, ba’ secepat mungkin.” Paulus berkata, “Ketika aku masih kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak. Tetapi setelah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Allah tidak menginginkan ucapan seperti itu. Ia berkata, “Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku juga akan berdoa dengan,” apa? “dengan akal budiku.” Jadi kita tidak berbicara kepada Allah dengan kata-kata yang tidak dimengerti. Allah tidak menghendaki hal seperti itu.
Jadi, sebagian dari itu menurut saya memang hanya dibuat-buat. Ada orang-orang yang begitu ingin mengalami sesuatu yang bersifat pengalaman rohani, ditambah tekanan dari lingkungan sekitar, sehingga mereka melakukannya hanya supaya terlihat ikut, dan lama-lama mereka menjadi terbiasa melakukannya. Sebagian lainnya juga tampaknya bisa dijelaskan secara psikologis. Kalau kita perhatikan, praktik seperti ini tidak hanya muncul dalam kekristenan, tetapi juga dalam berbagai kelompok lain sepanjang sejarah yang tidak ada kaitannya dengan iman Kristen. Karena itu, hal ini sering dikategorikan sebagai fenomena psikologis. Orang bisa membawa dirinya masuk ke dalam kondisi tertentu, semacam sugesti atau keadaan seperti hipnosis ringan, dan sebagainya. Jadi, banyak dari hal ini bisa dijelaskan dari sisi psikologis.
Sebagian dari itu, saya percaya, juga bisa bersifat okultis atau berkaitan dengan kuasa jahat. Saya sendiri pernah mengalami situasi di mana ada manifestasi yang tidak wajar melalui seseorang. Saya tidak akan masuk ke detailnya, tetapi hal seperti itu memang nyata. Yesaya 8:19 mengatakan, “Apabila orang berkata kepada kamu: mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan berkomat-kamit,” maka jawablah, “Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada ilahnya?” Pada waktu itu, Israel mencari pengalaman supranatural yang aneh, dan mereka mendapatkannya—tetapi bukan dari Allah, melainkan dari sumber yang salah. Dalam Septuaginta, kata Yunani eggastrimuthous diterjemahkan sebagai “perut yang berbicara,” yang sering dipahami seperti ventriloquist, seolah-olah suara itu berasal dari dalam, bukan dari orang itu sendiri. Iblis dapat menyamar. Itulah indikasi dari teks ini.
Seseorang yang saya baca di koran minggu lalu mengatakan bahwa ia baru saja berbicara dengan Dr. Pike. Kenyataannya, tidak ada yang berbicara dengan Dr. Pike. Ia sudah tidak ada, dan ada batas yang tidak bisa dilintasi. Jika ada “percakapan” seperti itu, maka yang terjadi bukanlah komunikasi dengan orang tersebut, melainkan sesuatu yang meniru. Hanya karena sesuatu terjadi, bukan berarti itu benar. Setiap pengalaman harus dibawa kepada terang Kitab Suci dan diuji di sana. Ada seorang penulis yang berkata, “Cukup diamkan diri, putuskan untuk tidak mengucapkan satu kata pun dari bahasa yang pernah kamu pelajari. Arahkan pikiranmu kepada Kristus, lalu angkat suaramu dan berbicaralah dengan keyakinan bahwa Tuhan akan mengambil bunyi yang kamu keluarkan dan membentuknya menjadi bahasa.” Apa itu? Itu bukan berbicara kepada Allah dengan pengertian kita.
Paulus berkata, “Aku akan berdoa dengan pengertianku. Aku akan menyanyi dengan pengertianku.” Lalu mungkin Anda bertanya, “Mengapa orang mencari hal ini? Mengapa mereka melakukannya?” Baik, ada beberapa alasannya. Yang pertama, ada penyimpangan dari cara menafsirkan Alkitab secara sistematis. Mereka tidak memahami bagaimana setiap bagian firman Tuhan ditempatkan dalam rencana Allah. Saya pernah berbicara dengan seseorang yang mengalami kebingungan seperti ini. Ia belum terlibat dalam gerakan tersebut, tetapi saya tahu ia bisa saja masuk ke sana, karena ia tidak memahami tentang kedatangan Kristus yang kedua, tidak mengerti perbedaan antara Israel dan gereja, dan juga bingung mengenai perjanjian lama dan perjanjian baru. Semua itu membuat pemahamannya menjadi tidak terarah.
Ia bahkan lulus dari sebuah seminari di daerah itu, tetapi tidak memiliki dasar teologi yang jelas. Pemahamannya hanya berkeliling ke sana ke mari dalam Alkitab, dan semuanya seperti disatukan secara tidak tepat menjadi satu campuran yang membingungkan. Ia pernah berkata, “Saya sudah memutuskan untuk menerapkan semua bagian Alkitab kepada semua orang.” Ia sebenarnya sudah lama merasa frustrasi. Saya lalu berkata, “Baik, kalau begitu, kapan Anda akanmulai mempersembahkan kurban?” Maksudnya, tidak semua bagian Alkitab bisa diterapkan secara langsung kepada semua orang tanpa memahami konteksnya. Itu tidak akan berhasil. Allah bekerja dalam waktu yang berbeda dan dengan cara yang berbeda, sesuai dengan rencana-Nya dan tujuan-Nya yang khusus.
Ketika seseorang tidak memahami penafsiran Alkitab secara sistematis, dan tidak mengerti bagaimana setiap bagian ditempatkan dalam kategori teologis yang tepat, maka mereka akan mudah jatuh ke dalam berbagai kebingungan. Saya yakin banyak orang yang memiliki pandangan seperti itu, tetapi tentu tidak sampai melakukan hal-hal ekstrem seperti minum racun atau bermain dengan ular. Tapi tetap saja, tanpa pemahaman yang benar, seseorang bisa tersesat. Karena itu, penafsiran Alkitab yang sistematis sangat penting. Jika hal ini tidak diajarkan, maka orang akan mudah terpengaruh dan jatuh ke dalam berbagai kesalahan.
Alasan kedua, menurut saya, adalah karena banyak orang sebenarnya “lapar” akan Firman Tuhan dan juga pengalaman yang terasa nyata dan rohani. Ini sangat benar, dan saya sungguh berempati kepada mereka. Hati saya rindu supaya mereka diajar firman Tuhan, karena di situlah segala sesuatu ada. Ketika firman Kristus diam dengan kaya di dalam seseorang, maka ia memiliki kepenuhan itu, bukan? Masalahnya, banyak dari mereka tidak memiliki hal itu. Mereka kekurangan pengajaran firman Tuhan, mereka merindukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang ilahi dalam hidup mereka, sehingga mereka mencoba meraih apa pun yang bisa mereka pegang. Dan sering kali, akar masalahnya justru ada pada orang-orang yang seharusnya berdiri di depan mereka untuk mengajar firman, tetapi tidak melakukannya.
Alasan ketiga, saya melihat banyak orang mencari sensasi fisik dan pengalaman emosional karena iman mereka lemah. Mereka tidak benar-benar percaya, sehingga merasa perlu terus-menerus melihat bukti. Sebenarnya ini adalah keraguan yang mencari pembenaran. Mereka ingin mengalami sesuatu yang supranatural supaya bisa percaya, sehingga mereka terus mencari dan mengejar hal-hal seperti itu.
Alasan keempat, ada yang tertarik karena hal ini ditawarkan sebagai jalan cepat menuju kerohanian, seolah-olah seseorang bisa langsung mencapai tingkat rohani yang lebih tinggi dengan mudah. Seakan-akan mereka langsung masuk ke kelompok yang “lebih rohani.” Jadi apa yang bisa kita simpulkan? Gerakan modern ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Alkitab. Pengalaman bukanlah standar kebenaran. Daging dan bahkan kuasa jahat bisa meniru pengalaman rohani. Bahasa lidah juga bukan sesuatu yang unik hanya ada dalam kekristenan. Karena itu, pengalaman tidak bisa dijadikan sebagai bukti kebenaran.
Tahukah Anda bahwa sejak 1100 SM sudah ada laporan dari Byblos di pesisir Syro-Fenisia tentang praktik seperti ini? Mereka berbicara dalam bahasa-bahasa yang bersifat ekstatis. Dalam tulisan-tulisan Plato sekitar 429–347 SM, hal seperti ini juga disebutkan. Lalu Virgil dalam Aeneid (sekitar abad pertama SM) menggambarkan para imam perempuan di pulau Delos yang berbicara dalam bahasa-bahasa ekstatis. Praktik serupa juga dicatat oleh John Chrysostom ketika membahas praktik-praktik di Delphi. Agama-agama misteri dalam dunia Yunani-Romawi juga mengenal hal ini. Ini bukan fenomena baru. Dalam tradisi Islam tertentu pun ada praktik yang menyerupai, seperti kelompok darwis di Persia yang mengulang-ulang nama Allah, lalu masuk ke dalam kondisi tertentu dengan gerakan berputar, gemetar, dan ucapan-ucapan ekstatis. Di Greenland, masyarakat Eskimo juga memiliki praktik serupa dalam ritual keagamaan mereka, dipimpin oleh seorang dukun atau imam, dengan tarian, bahkan praktik-praktik yang ekstrem. Dalam kondisi seperti itu, mereka juga mengucapkan bunyi-bunyi yang tampak seperti bahasa, tetapi sebenarnya bukan bahasa yang bermakna. Semua ini menunjukkan bahwa fenomena seperti itu sudah ada sejak lama dan tidak unik hanya dalam kekristenan. Karena itu, kita perlu berhati-hati untuk tidak langsung menganggap bahwa setiap pengalaman seperti itu pasti berasal dari Allah, tetapi harus diuji berdasarkan kebenaran firman Tuhan.
Dalam catatan petualangan Arktik yang ditulis oleh Peter Freuchen, yang juga pernah dimuat dalam National Geographic Society, ia menceritakan pengalaman seperti ini: “Tiba-tiba salah satu pria, Krisuk, kehilangan kendali. Ia tidak lagi mengikuti ritme ibadah yang teratur, melompat berdiri, berteriak seperti burung gagak dan melolong seperti serigala. Dalam keadaan ekstasi itu, ia bersama seorang perempuan bernama Ivaloo mulai berteriak dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Jika memang ada yang disebut berbicara dalam bahasa lidah, saya mendengarnya saat itu.”
Hal seperti ini memang tidak terbatas hanya pada kekristenan. Dalam berbagai tradisi lain juga ditemukan fenomena serupa. Ada laporan tentang praktik-praktik di kalangan biksu Tibet, di mana muncul ucapan-ucapan yang tidak dipahami oleh orang yang mengucapkannya. Sebagian dari mereka berbicara bahasa Inggris tetapi sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Yang lain mengutip dalam bahasa Inggris, karya-karya hebat dari Shakespeare. Beberapa dari mereka bahkan mengutip Freud dalam bahasa Jerman, tentang aktivitas roh jahat.
Karena itu, segala sesuatu harus diuji berdasarkan Kitab Suci. Ada beberapa bahaya dalam gerakan modern ini. Pertama, sering kali terjadi kebingungan mengenai doktrin baptisan Roh Kudus. Kedua, dalam beberapa kasus, Kristus justru ditempatkan di bawah Roh Kudus, padahal seharusnya tidak demikian. Mereka menciptakan pembagian dua tingkat dalam kekristenan, yaitu mereka yang dianggap “sudah memiliki” dan yang “belum,” seolah-olah ada kelompok yang lebih tinggi dan lebih rendah. Hal ini juga bisa menciptakan kesatuan yang semu.
Alkitab memang menubuatkan dalam Kitab Wahyu pasal 17 bahwa akan ada suatu sistem keagamaan yang bersifat global. Dulu orang mungkin bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi, mengingat setiap kelompok memiliki ajaran yang berbeda-beda. Namun sekarang terlihat ada fenomena yang melintasi batas-batas denominasi, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi. Saat ini, setidaknya 30.000 umat Katolik terlibat dalam seluk-beluk gerakan karismatik. Delapan hingga 14 juta orang terlibat dalam hal ini. Gerakan ini melintasi semua batasan denominasi.
Ada kecenderungan di mana orang-orang berkumpul tanpa memperhatikan ajaran yang jelas. Seolah-olah doktrin tidak lagi penting, selama seseorang memiliki pengalaman tertentu. Bisa jadi ini yang menjadi pemicu bagi gerakan ekumenis yang menghasilkan gereja palsu dalam Kitab Wahyu.
Saya tutup dengan ini, 2 Petrus 1:3, dan ini untuk Anda renungkan. Dikatakan demikian, “Kuasa ilahi-Nya,” yaitu Kristus Yesus Tuhan kita, “telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu.” Apa yang telah Dia berikan kepada kita? Hanya sebagian? Apakah kita masih membutuhkan yang lain? “Segala sesuatu untuk hidup yang saleh.” Bagaimana kita menerimanya? “Oleh pengenalan kita akan Dia.” Ketika Anda diselamatkan, Anda sudah menerima semua yang Anda perlukan. Anda tidak perlu mencari yang lain. Yang perlu Anda lakukan adalah mengenal firman Tuhan dan semakin mengenal Kristus. Tidak ada satu pun kebutuhan rohani yang Anda perlukan yang belum Anda miliki. Yang menjadi pertanyaan hanyalah apakah Anda mau hidup dalam ketaatan penuh terhadap apa yang sudah menjadi milik Anda di dalam Kristus. Mari kita berdoa.
Bapa, kami bersyukur pagi ini karena Engkau memberi kami waktu untuk mempertimbangkan kebenaran-kebenaran ini. Kami berbicara dengan keberanian, Tuhan, karena kami berbicara dari firman-Mu. Tapi kami juga menyadari, Bapa, bahwa banyak orang yang kami kasihi, yang sangat berarti bagi kami, terlibat dalam hal ini. Kami tidak ingin bersikap tidak baik, tidak mengasihi, atau tidak adil. Terlebih lagi, ya Tuhan, kami tidak ingin menyimpang dari kebenaran firman-Mu, dan karena itu kami berusaha membagi firman dengan benar. Bapa, sebagai gembala atas jemaat ini, saya merasakan tanggung jawab untuk melindungi mereka, menjaga mereka dari siapa pun yang berusaha mengancam mereka, merusak kesatuan, dan merendahkan kepenuhan mereka di dalam Kristus.
Jadi, Bapa, kami telah menyampaikan semua, percaya bahwa Roh Allah melakukan karya-Nya. Kami berdoa agar setiap kami mau memeriksa hati kami sendiri dan menyadari bahwa segala yang kami butuhkan sudah ada di dalam Kristus, dan belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang kami miliki. Namun kami tidak berhenti sampai di situ, melainkan terus bertumbuh dalam kesetiaan, penyerahan diri, dan ketaatan. Terima kasih, Tuhan, untuk firman-Mu dan untuk setiap orang yang telah berkumpul untuk mempelajarinya. Kami berdoa dalam nama Yesus, amin.
Selagi kita menutup ibadah pagi ini, seharusnya kita semua diutus ke tempat tertentu untuk membagikan apa yang sudah kita pelajari. Mungkin Tuhan sudah menaruh tempat khusus di hati Anda untuk pergi. Mungkin juga apa yang kita bahas ini menjawab beberapa pertanyaan di dalam hati Anda. Saya ingin menekankan satu hal, bahwa ketika Anda berhadapan dengan orang-orang yang ada dalam hal ini, jangan langsung bersikap sekeras seperti apa yang saya sampaikan kepada Anda. Datanglah dengan kasih. Sampaikan prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang saya sampaikan kepada Anda, saya sampaikan karena Anda adalah tanggung jawab saya.
Ketika Anda membagikan prinsip-prinsip ini, jangan ragu untuk menyampaikannya. Pastikan semuanya disampaikan dalam kasih, supaya kita tidak jatuh dalam kesalahan yang justru ingin kita hindari, yaitu menggunakan karunia di luar konteks kasih.
Bapa, terima kasih kembali untuk pagi ini. Terima kasih untuk setiap pribadi yang berharga di tempat ini, untuk setiap jiwa yang Engkau miliki. Tuhan, kiranya Engkau melipatgandakan pelayanan mereka. Pakailah mereka semua. Satukan kami dalam kasih yang sama satu terhadap yang lain, karena kami mengasihi Engkau. Dalam nama Yesus, amin.
SELESAI
This article is also available and sold as a booklet.
